Cerpen #242; “Masalah Pak Eman”

Para wisatawan berkunjung ke pantai bahkan di siang hari yang sangat panas.  Mereka bersenang-senang dan tak ada kesedihan yang terlihat dari wajah mereka. Lain halnya jika melihat pria berkumis hitam tebal bertopi caping yang sedang duduk merenung di atas sebuah batu karang besar. Pria itu bernama Eman dan biasa dipanggil ‘Pak Eman’ . Raut wajahnya terlihat sangat gelisah.

“ Bagaimana ini? Kenapa semakin hari semakin sedikit hasil tangkapannya?”, gumam Pak Eman dalam hati. Ditengah perenungannya itu, tiba-tiba saja langit berubah menjadi gelap. Awan hitam bermunculan dan angin laut yang tadinya sepoi-sepoi berubah menjadi angin ribut. Tetes demi tetes air berjatuhan dari langit, tanda hujan akan datang. Terlihat para wisatawan mulai berhamburan masuk ke dalam hotel. “ Hujan lagi?”, ucap Pak Eman sambil membuang napas.

Angin bertambah kencang, Pak Eman bergegas pulang ke rumah. Di rumah, istri Pak Eman menggerutu karena beberapa bulan ini hasil tangkapan ikan Pak Eman selalu sedikit. Istri Pak Eman selalu mengungkit tentang bagaimana mereka bisa bertahan hidup dan membiayai sekolah anak mereka jika Pak Eman hanya membawa sedikit uang setiap harinya. Di malam hari, hujan masih saja turun dengan deras. Angin begitu kencang menerjang pepohonan. Pak Eman menjadi tidak bisa melaut di malam hari.

Matahari belum terbangun, Pak Eman dan beberapa nelayan yang lain berangkat untuk melaut. Walaupun masih sangat pagi, sudah banyak wisatawan yang datang ke pantai untuk menikmati pemandangan matahari terbit. “ Orang-orang makin ramai, tapi ikan-ikan makin sedikit ,ck”, Ucap Pak Eman merasa heran.

 Hari ini, hasil tangkapan ikan sama sedikitnya dengan hari kemarin. Di tempat lelang ikan, tersebar kabar bahwa desa yang ditinggali oleh Pak Eman akan tenggelam beberapa tahun lagi. Pak Eman dan warga desa sangat terkejut mendengar berita itu. Selesai dari tempat pelelangan, Pak Eman kembali duduk merenung di atas sebuah batu karang besar.

“ Apa ikan-ikan di laut ini sudah hampir habis? Kenapa makin hari makin sedikit ikan yang tertangkap? Atau karena jala yang digunakan sudah tua? Apa persembahan yang kami berikan pada laut itu tidak cukup? Mengapa cuaca menjadi sangat labil? Dan kenapa desa ini akan tenggelam? Apa dewa laut marah pada penduduk desa? Atau ada hal lain yang tidak kami tahu?”, Pak Eman bertanya pada dirinya sendiri.

 “ Bukannya laut tenggelam itu fenomena alam? Kalau begitu kenapa tidak tanya saja pada orang yang paham tentang fenomena alam?”. Tiba-tiba terbesit dalam ide benak Pak Eman untuk bertanya pada para wisatawan yang berkunjung ke pantai. “ Mereka berkunjung ke sini siang dan malam, datang pagi-pagi buta hanya untuk melihat matahari terbit. Mereka menyukai hal seperti itu. Mereka pasti tahu tentang hal ini”, gumam Pak Eman sambil tersenyum karena merasa mulai menemukan cahaya dari gelapnya masalah yang dia hadapi.

Menjelang sore hari, banyak wisatawan yang datang menunggu pemandangan matahari terbenam. Pak Eman memanfaatkan kesempatan itu untuk menanyai satu persatu wisatawan. Setelah bertanya pada para wisatawan, Pak Eman merasa bimbang karena ternyata orang-orang itu tidak tahu sama sekali tentang masalah yang Pak Eman hadapi. “ Ternyata mereka tidak tahu apa-apa”, Pak Eman menghela napas panjang merasa sudah kehilangan harapan. Lalu, secara tiba-tiba “Pak?!”, ada seseorang yang menepuk bahu Pak Eman dari belakang. Pak Eman terkejut dan langsung membalikkan badan. Dijumpainya seorang pemuda yang berpawakan tinggi.

Pemuda itu memperkenalkan diri. Rizky adalah namanya. Rizky dan Pak Eman saling berkenalan. Pak Eman kemudian bertanya ada keperluan apa Rizky dengan dirinya. “ Saya tertarik untuk menjawab pertanyaan yang bapak ajukan pada beberapa wisatawan di disini”,  kata Rizky. Pak Eman merasa antusias, dia mempersilahkan Rizky untuk menjawab pertanyaannya. Rizky tersenyum lalu mengarahkan Pak Eman agar mengikutinya. “ Kemana anak ini akan membawa saya?”, tanya Pak Eman dalam hati. “Baik Pak, kita sudah sampai”, Rizky menghentikan langkahnya setelah lima menit berjalan.

“Wah, baru kali ini saya masuk ke dalam hotel”, ucap Pak Eman saat menginjakkan kakinya ke dalam hotel. Ternyata Rizky membawa Pak Eman ke dalam hotel yang ada di sekitar pantai. “ Apa yang sekarang bapak rasakan?”, Rizky bertanya. “ Hurff! Dingin! Ini jauh berbeda dengan udara di luar sana” Pak Eman menggigil. Rizky berjalan keluar dari hotel dan mengisyaratkan pada Pak Eman untuk mengikutinya lagi. Pak Eman yang bingung hanya mengikuti Rizky dari belakang.

“PARKIRAN?!”, Pak Eman bingung. “ Ya, benar”, ujar Rizky. “ Saya tidak mengerti. Jawaban seperti apa yang sebenarnya ingin kau utarakan?”, Pak Eman tidak paham. “ Apa bapak mencium bau sesuatu?”, tanya Rizky. “ Bau? Tidak ada bau lain yang bisa tercium di sini kecuali bau asap kendaraan”, Pak Eman menjawab sambil mengendus-endus. Rizky dan Pak Eman kembali berjalan dengan Pak Eman yang merasa bingung.

Sekarang, Rizky dan Pak Eman sedang berdiri di atas sebuah batu karang besar  tempat dimana Pak Eman sering merenung. “ Semua masalah yang bapak sedang hadapi ini adalah dampak dari krisis iklim,”. Ucap Rizky dengan tiba-tiba.  “ Krisis iklim?”, Pak Eman baru pertama kali mendengarnya. “ Ya, krisis iklim sebenarnya adalah istilah untuk menggambarkan tentang suhu bumi yang semakin panas dan juga dampak yang ditimbulkan. Baik, pertama-tama yang perlu bapak ketahui adalah bahwa ada gas-gas di atmosfer yang bisa menangkap panas. Jika jumlah gas-gas ini terlalu banyak atau berlebihan, maka suhu bumi akan meningkat dan menjadi lebih panas. Gas-gas ini dinamakan gas rumah kaca”, Rizky mulai menjelaskan. “ Baik, lalu apa hubungannya dengan hotel dan parkiran?”, Pak Eman masih bingung.

“ Hubungannya dengan hotel adalah, AC. AC adalah alat pendingin yang menggunakan senyawa kimia CFC pendingin yang dapat memperkuat gas rumah kaca dan merusak lapisan ozon bumi. Bapak tau kan apa itu lapisan ozon bumi?” Rizky bertanya takut Pak Eman tidak tahu. “ Ya, saya tau. Bukankah itu semacam lapisan yang melindungi bumi dari sinar matahari?” ternyata Pak Eman tahu. “ Ya, kira-kira seperti itu. Jika lapisan ozon rusak, maka akan lebih banyak sinar matahari yang masuk ke bumi dan membuat bumi semakin panas. Kira-kira ada berapa AC yang terpasang di dalam hotel itu? Pasti banyak. Itu baru satu hotel, di dunia ini ada banyak sekali hotel. Dan bukan cuma hotel yang memasang AC. Perumahan, vila, tempat ibadah, dan banyak tempat lain juga menggunakan AC.”, jelas Rizky. “ Hmm…bukan hanya AC yang merupakan alat pendingin. Bagaimana dengan kulkas? Apa itu juga bisa merusak ozon?”, Pak Eman penasaran. “ Ya, semua alat pendingin terutama yang menggunakan CFC sangat bisa merusak ozon”, jawab Rizky lembut.

Pak Eman mengangguk-angguk tanda paham dengan masalah hotel dan ingin segera mengetahui tentang parkiran. “ Sebenarnya yang ingin saya tunjukkan tentang parkiran adalah kendaraan bermotor yang ada di sana, bukan tempat parkirnya. Asap kendaraan bermotor adalah hasil dari pembakaran bahan bakar fosil. Asap ini merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Sebenarnya bukan hanya asap kendaraan, asap pembakaran sampah, pembukaan lahan baru, dan asap-asap yang lain juga menyumbang emisi gas rumah kaca. Ini benar-benar menyebabkan polusi udara yang parah”. “ Saya paham, tentang gas rumah kaca yang bisa membuat bumi semakin panas. Tapi, apa hubungannya itu dengan masalah yang sedang saya hadapi?”, Pak Eman bertanya sambil mengernyitkan dahi.

“ Dari sini kita mulai. Tentang desa bapak yang akan tenggelam, bumi yang semakin panas menyebabkan es di daerah kutub meleleh. Sehingga, air di dunia ini bertambah banyak dan dapat menenggelamkan daratan”, Rizky memulai dari masalah tentang desa Pak Eman yang akan tenggelam. “ Lalu tentang ikan-ikan disini yang mulai hilang. Sebagian besar kelebihan panas di atmosfer itu diserap oleh lautan, Pak. Lautan menjadi lebih panas dan asam. Lautan yang panas memiliki lebih sedikit kandungan oksigen daripada lautan yang dingin. Karena itu, makhluk-makhluk laut terutama ikan akan bermigrasi mendekati kutub ke perairan yang lebih dingin. Dan lagi, lihat disebelah sana”, Rizky menjelaskan lalu menunjuk kearah sesuatu yang berwarna putih didalam laut.

“ Itu adalah terumbu karang yang memutih. Sebenarnya saya dan beberapa nelayan yang lain juga sudah menyadari itu. Apa itu masalah besar?”, Pak Eman merasa khawatir. “ Ya, itu masalah besar. Terumbu karang adalah tempat berlindung dan berkembangnya makhluk-makhluk laut yang kecil. Laut yang hangat dan asam membuat terumbu karang memutih yang lama-kelamaan akan membuat terumbu karang mati. Tak ada terumbu karang, tak ada hewan-hewan kecil. Tak ada hewan-hewan kecil, maka hewan-hewan yang lebih besar akan berpindah ke tempat dengan sumber makanan yang lebih banyak”, ujar Rizky. “ Baik, saya mengerti. Ternyata ini adalah masalah yang besar. Bagaimana kalau semua ikan disini hilang? Dan desa ini benar-benar tenggelam? Saya tidak mau itu terjadi”, Pak Eman gelisah.

“ Krisis iklim semakin parah karena masih banyak orang yang tidak menyadari betapa kacaunya dunia saat ini. Kita harus menyadarkan mereka. Mungkin sudah sedikit terlambat, tapi jika kita tidak juga bergerak…bagaimana anak-anak kita dan cucu-cucu kita akan bertahan dengan ancaman dari berbagai macam bencana yang bisa terjadi karena krisis iklim dimasa depan?”, Rizky berbicara dengan wajah serius. Pak Eman terdiam, bayangan tentang masa depan yang kacau muncul dalam pikiran Pak Eman. “ Kau benar wahai anak muda, kita harus bergerak cepat. Apa yang bisa kita lakukan sekarang?”, Pak Eman gelisah, ingin segera bergerak mengatasi masalah.

“ Kita bisa mulai….dari mereka”, Rizky menunjuk ke arah para wisatawan yang sedang menunggu matahari terbenam. “ Kita beritahu mereka, juga warga desa dan seluruh warga pantai yang masih awam tentang hal ini. Sehingga mereka sadar dan mau bersama-sama bergerak mengurangi emisi gas rumah kaca untuk menyelamatkan bumi”, kata Rizky dengan yakin dan semangat. “ Bukankah tidak cukup jika hanya warga pantai ini yang sadar?”, Pak Eman masih gelisah.

“ Kita mulai dari yang kecil dahulu, Pak. Setelah itu, kita bergerak bersama untuk menyadarkan lebih banyak orang dan lebih banyak lagi”, Rizky tersenyum optimis. Rizky yang semangat membuat Pak Eman juga merasa semangat. Senyum mereka menghiasi matahari yang sedang terbenam. Kini mereka berdua berjanji untuk bersama-sama menyadarkan orang-orang tentang bagaimana banyaknya masalah yang terjadi akibat krisis iklim dan menyelamatkan bumi. Selesai.

One thought on “Cerpen #242; “Masalah Pak Eman”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *