Cerpen #241; “MENGINTIP BUMI YANG LAIN”

“Psst… pssstt…”

Sagar menggosok kupingnya dengan gusar. Mimpinya kali ini aneh sekali, dia tengah berada di hamparan gurun yang anginnya sangat kencang. Badannya terombang-ambing ke kanan dan ke kiri, belum lagi percikan air yang terbawa bersama angin mulai membasahi lubang telinganya. Beberapa kaktus berkaki berlarian di sebelahnya.

“Psst… psssssssssst…”

Kali ini, Sagar yakin telinganya sudah hampir basah kuyup. Dia bergerak menggeser badannya menjauhi angin, melindungi agar badannya yang tengah tertiup angin itu tetap kering. Mendadak sebuah roket meluncur di depannya, mengaburkan pasir dan menyelubungi matanya. Kemudian kelokan pasir yang berhambur itu berubah menjadi ular yang lidahnya menyeburkan ludah.

“Pssstttttttttttttt!!!!!!!!!”

Sagar terbangun kaget. Badannya mengejang dan matanya terbelalak. Belum habis dia mengatur napas, dia kembali dikejutkan dengan sesuatu yang aneh yang berada di dalam kamarnya.

Sebuah cahaya putih keperakan menempel pada dinding kosong di sebelah meja belajarnya. Kamarnya yang gelap kini menjadi seterang siang. Cahaya itu membentuk sebuah lubang tak simetris yang pinggir-pinggirnya berwarna agak keemasan. Lubang itu menampilkan sebuah ruangan lapang penuh benda-benda asing yang sebenarnya sudah menjadi tidak begitu asing lagi bagi Sagar.

Seakan tak habis dibuat terpana, sesosok remaja laki-laki dengan wajah bundar dan mata sebulat kelereng yang entah sejak kapan ada di kamar Sagar, duduk sangat dekat dengan lubang telinga Sagar. Dia memakai kaus polos putih dengan celana jeans berwarna hitam dan memakai kacamata bening aneh mirip seperti kacamata laboratorium, namun dengan ukuran yang lebih kecil lagi dan kacamata itu menyala-nyala setiap dia berkedip.

Sagar sempat berpikir dia masih sedang bermimpi, namun segera sadar bahwa hal-hal aneh yang tengah terjadi adalah sebuah kenyataan saat remaja laki-laki itu nyengir canggung dan menarik badan Sagar agar segera bangun.

“Mimpi buruk, ya?” tanya remaja laki-laki itu yang kemudian kembali mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, seperti tidak puas meneliti setiap jengkal kamar Sagar.

Sagar hanya bisa mengeluarkan gumaman tidak jelas, karena gumpalan ludah terasa mengganjal di tenggorokannya. Dia masih bersusah payah mengatur nafasnya, merasa lelah karena baru saja mengalami petualangan yang mendebarkan di gurun pasir.

“Apa disini sudah masuk musim panas? Aku agak berkeringat, nih di ketiak,” remaja laki-laki itu mengibas-ngibaskan tangan di bawah ketiaknya. Mungkin maksudnya agar ketiaknya bisa mengering karena kibasan tangannya yang sebenarnya tidak bertenaga sama sekali.

“K-k-ka-ka …”

“Bernapas yang betul dulu dong, Sobat,”

“….”

“Itu bajumu yang digantung-gantung? Warnanya heboh sekali… eh−sorry−menurutku seleramu norak sekali,”

Sagar yang sudah bisa bernafas dengan benar, langsung menendang tubuh remaja laki-laki itu hingga terjungkal dari kasur dengan kaki kirinya. Masih dengan sebal, Sagar berusaha mendorong remaja laki-laki itu untuk kembali masuk ke dalam lubang putih silau bercahaya yang terus berpendar-pendar di salah satu tembok kamarnya.

“Pergi! Mengganggu sekali! Pergi!” geram Sagar sambil masih menggulingkan badan remaja laki-laki itu yang kini sudah menggulung seperti luing dengan susah payah.

“Stop! Stop! Aku−kau−aku−HEY! TOLONG RUSUKKU SEPERTINYA BERGESER! Sagar berhent−AW! Tidak perlu melakukan sejauh ini, kan?!”

Sagar berhenti. Nafasnya kembali terengah-engah. Dia duduk di atas kasurnya sambil memandang remaja laki-laki di depannya dengan gusar.

“Sekali lagi kau masuk seenaknya ke kamarku, akan ku jebol tembok itu,” ancam Sagar dengan sungguh-sungguh.

“Oke, maaf, tidak akan ku ulangi,” jawab remaja laki-laki itu, sama terengahnya dengan Sagar, “tapi boleh ambilkan aku air? Aku−sepertinya aku hampir mati,”

“Lebih bagus seperti itu,”

Remaja laki-laki itu tidak menjawab lagi, dadanya naik-turun dengan berat. Namun tidak lama sebuah cengiran kembali muncul di wajah bundarnya saat Sagar bangkit dari kasurnya, keluar dari kamar dan kembali dengan segelas air dingin.

“Terimakasih karena telah menunda kematianku,” kata remaja laki-laki itu setelah meneguk habis air minumnya, membuat Sagar rasanya semakin ingin mencekik lehernya hingga putus.

Ini bukanlah kali pertama mereka bertemu. Mungkin sudah ke dua belas kali? Atau lima belas? Sejujurnya Sagar juga tidak mau repot menghitungnya. Hanya saja, Sagar merasa remaja laki-laki itu terlalu sering keluar masuk ke kamarnya, sesering manusia buang air kecil dalam sehari.

Sebenarnya tengah terjadi sebuah hal besar yang sangat tidak masuk akal. Sagar pun masih bingung, kenapa dia bisa mempercayai situasi janggal yang hampir selalu terjadi di kamarnya akhir-akhir ini. Identitas remaja laki-laki itu hampir membuat kepala Sagar pecah saking tidak masuk akalnya. Dia mengaku bernama Baron−bahkan mendengar namanya saja, Sagar berpikir nama Baron sejuta kali lebih norak daripada topi jerami milik neneknya−dan menurut pengakuan Baron, secara tidak sengaja ia membuka portal yang menghubungkan kamar Sagar dengan kamar Baron. Informasi lainnya, Baron adalah remaja berusia 15 tahun−usia yang sama dengan Sagar−yang hidup di tahun 2130.

Ya. 2130. Dua ribu seratus tiga puluh. Apakah sampai disini, ada orang yang lebih berhak gila daripada Sagar?

“Aku sudah mengecek portal itu,” mendadak suara Baron memecah keheningan, membuat Sagar mau tak mau menoleh ke arahnya, “dan sepertinya tidak masalah kalau kau mau mampir sebentar ke kamarku.”

“Katamu, kalau aku kesana, aku bisa saja tidak bisa kembali ke sini?” tanya Sagar heran. Alisnya menyatu, namun dadanya bergemuruh karena bersemangat.

“Yah… saat aku disini, kemungkinan itu juga berlaku untukku, kan? Setelah lima belas−err−sepertinya… dua puluh kali aku bolak-balik−et−sorry, kadang-kadang aku memang kesini tanpa sepengetahuanmu, hehe.”

Sagar mendelik galak. Baron memang berbakat membuat orang terkena stroke dan kalau dia bertindak lebih jauh lagi, dia bisa membuat orang meninggal karena serangan jantung.

“−tapi, tidak terjadi apa-apa, kan? Rasanya, kau pun akan aman−maksudku, kau ingin bermain ke tempatku, kan?” lanjut Baron yang kini semakin berhati-hati agar tidak keceplosan telah melakukan hal-hal aneh lainnya seperti mencuri makanan ringan dari dalam toples milik Sagar kemarin malam.

“Jadi, kapan aku boleh mampir?” mendadak dada Sagar kembali bergemuruh, badannya bergetar menahan aliran adrenalin yang menggebu-gebu.

Melihat dunia masa depan, Sagar penasaran bagaimana bumi pada saat itu. Apakah akan lebih nyaman? Melihat bagaimana penampilan Baron, rasanya tidak akan jauh berbeda dengan masa kini, kecuali model kacamata Baron yang paling mencolok.

“Tapi kau tidak bisa berpakaian yang norak−“

“Kaos putih dan jeans? Aku punya banyak,” timpal Sagar dengan mantap.

Baron mengangguk pelan, namun wajahnya kini terlihat begitu ragu-ragu.

“Kau… yakin?” Baron bertanya dengan pelan, seperti tengah bertanya apakah Sagar betul bersedia jadi pakan buaya.

“Yakin,”

“Kau ingat apa kataku saat pertama kali kesini?”

“ADUH KAGET! MONSTER MACAM APA KAU!”

“Bukan yang itu!”

“Katamu kata pertama saat pertama kali kesini,”

“Betul, tapi bukan yang ituu!”

“Yang mana? Kau terlalu banyak omong, jadi aku tidak bisa mengingat apapun.”

Baron memonyongkan bibirnya, merasa tersinggung, namun tetap melanjutkan percakapan mereka.

“Aku bilang, tempat ini seribu kali lebih segar daripada seisi duniaku, ingat?”

“Dan kau bersedia menukar segalanya agar bisa hidup di tahun ini?”

“Dan aku bersedia menukar segalanya agar bisa hidup di tahun ini−nah! Tuh, kau ingat, kan?”

“Kau kan bilang begitu sampai seratus kali setiap datang kesini,” dengus Sagar, “jadi? Kapan aku boleh mampir kesana?” Sagar menunjuk kamar Baron dengan dagunya.

“Sebaiknya kau bersiap-siap. Sepertinya, kita bisa pergi secepatnya.”

Setelah Baron berkata seperti itu, Sagar bersumpah, ini adalah saat paling mendebarkan sepanjang hidupnya. Bermain dengan teknologi berbahaya ke dunia masa depan, dengan nyawamu sebagai taruhan dan Sagar merasa keberaniannya sudah melonjak tinggi hingga berada di atas langit.

Dengan sekejap Sagar telah berpakaian hampir mirip seperti Baron, yang kelihatan tidak suka karena mereka berdua kini terlihat seperti sepasang anak kembar.

“Pakai baju hitam juga tidak apa-apa, sih,” bujuk Baron, masih dengan mata yang menyipit sebal.

Namun Sagar tidak mengacuhkan ucapan Baron, dia kelewat semangat hingga kakinya bergedebug terus-menerus menunggu instruksi dari Baron agar mereka segera bisa berangkat. Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau Baron mendahului Sagar untuk masuk ke dalam lubang yang nyala berpendar-pendar dan warnanya sempat berubah menjadi biru neon saat Baron melangkahinya.

“Ayo!” teriak Baron.

Sagar berderap ke depan dengan mantap, tanpa kekhawatiran, hanya semangat yang berapi-api. Jantungnya berdegup cepat, lebih cepat dari bunyi tik-tok jarum jam di dinding kamarnya. Kakinya masuk ke dalam lubang itu dan nyala cahaya biru neon kembali berpendar selama sedetik kemudian padam saat kaki Sagar sepenuhnya masuk ke dalam lubang.

Udara yang dirasakan oleh Sagar pertama kali dia menjejakkan kaki di tempat asing itu adalah “dingin”. Dingin yang suram, seperti ada sepuluh AC yang terpasang secara sembunyi di balik tembok-temboknya. Sagar menoleh ke belakang, lubang itu masih bolong, menyala dan berpendar-pendar.

“Lubangnya?”

“Masih ada? Ya. Tentu, kan kau ada disini. Tidak akan menutup sampai kau kembali,” kata Baron yang cukup menjelaskan segalanya dan membuat Sagar terdiam paham.

“Aku tak bisa ajak kau keliling terlalu jauh. Hanya sekitaran sini, jangan minta yang lebih, ya?”

“Ini sudah lebih dari cukup, Baron,”

“Kau… mungkin butuh ini.” Baron menyerahkan sebuah baju trendi bertudung, desainnya sangat mengagumkan dan juga.. keren. Sagar tidak bisa memikirkan kata lain selain… keren.

“Apa ini?” tanya Sagar, tangannya menerima baju atasan itu dengan bingung.

“Agar tidak kebasahan?”

Sagar terkikik mendengar Baron meragukan ucapannya sendiri. Tapi tanpa bantahan, Sagar memasangkannya ke dalam badannya. Baron juga memakai baju yang senada, tentu dengan motif berbeda. Dia masih enggan dikira anak kembar dengan Sagar.

Pas, ukuran yang sangat pas. Bahan baju itu ternyata sangat nyaman dan permukaannya seperti dilapisi silikon. Tidak heran kalau Baron mengatakan bahwa baju ini tidak akan basah, karena sepertinya memang sengaja dibuat agar tahan air.

Mereka akhirnya berjalan keluar, Sagar memakai sendal yang dipinjamkan oleh Baron, empuk dan nyaman. Mereka melewati pintu samping kamar Baron yang bergeser sendiri. Pepohonan begitu rimbun terlihat saat mereka baru keluar dari rumah, udara di luar sangat hangat,  pohon-pohon itu bergerombol di halaman rumah dan di sepanjang jalan perumahan ini. 2031, peradaban benar-benar menjadi lebih baik, pikir Sagar. Benda-benda terbang berlalu-lalang seperti lalat, apa itu? Kendaraan? Kepala Sagar berputar-putar saking terkejutnya.

“Pepohonannya rimbun, ya? Beruntung kau melihatnya, karena ini awal bulan Juli, bulan depan tidak akan ada lagi yang seperti ini−ah! Atau bahkan tidak akan sampai bulan depan,” jelas Baron.

“Kenapa?” tanya Sagar.

Namun pertanyaan itu menguap begitu saja, Baron sepertinya tidak berniat membalasnya karena dia terus melangkah memimpin jalan.

Jalan-jalan beraspal bertingkat-tingkat, mobil-mobil tanpa kemudi berjalan hilir mudik seperti hantu. Sagar melihat beberapa orang memakai kacamata yang mirip seperti milik Baron, tapi tidak semuanya.

Mereka berdua masih berjalan tanpa bersusah-payah saling bicara. Sagar terlalu terlena dan terkagum-kagum dengan situasi janggal dan begitu asing di depannya, sedangkan Baron terlihat sepuluh kali lebih murung daripada biasanya. Gedung-gedung menjulang hingga tidak bisa terlihat oleh mata, dan kendaraan sepertinya tidak lagi dapat mengeluarkan asap. Segalanya terlihat bersih, sehat dan ramai. Meski Sagar pasti akan selalu tersesat jika ia tinggal di peradaban ini.

“Mau beristirahat sebentar?” tawar Baron. Mereka kini berada di jembatan yang dibawahnya bukan aliran sungai, melainkan jalan raya yang kecil.

“Wah, luar biasa!”

“Aku tahu kau akan bereaksi seperti itu…”

“Kau sinting, ya? Hidup enak begini tapi mau tinggal di duniaku?”

Baron hanya tersenyum getir, dia memandang langit yang tidak bisa dilihat lagi, tertutup oleh bangunan-bangunan tinggi menjulang seperti menembus langit.

“Kau dari negara apa?” tanya Baron tiba-tiba.

“Apa?”

“Negaramu, apa namanya?”

“Indonesia,”

“Namanya bagus.”

Ada jeda mendadak diantara mereka. Sagar membuka-tutup mulutnya, ingin bersuara tapi tidak tahu akan berkata apa.

“Ini bukan Indonesia, kalau kau mau tahu,” kata Baron.

“Lalu ini dimana? Malaysia?”

Dan betapa mengejutkannya bagi Sagar, Baron terlihat seperti baru pertama kali mendengar nama negara itu.

“Ini dimana, Baron?” Sagar kembali bertanya.

“Area 32, Blok Nomor 5A,”

“Lalu Indonesia ada dimana?”

Baron terdiam sebentar, lalu menunjuk ke jalan raya yang kini penuh oleh mobil-mobil berkursi satu yang meliuk-liuk dengan pengendara yang tidur di dalamnya, “di bawah sana… mungkin?”

“Maksudmu?”

“Terkubur, bepuluh-puluh mil di bawah sana, di bawah beton dan plastik,”

“Plastik?”

“Tidak ada hal lain yang bisa dimanfaatkan dari triliunan ton plastik kan, Sagar? Kau sedang menginjak beton dan plastik.”

Sagar melongo, sangat lama. Jantungnya berdetak melemah secara mendadak.

“Ah, ya… dan pohon itu.. tidak sepenuhnya buatan, tapi secara teknis adalah buatan. Mereka tumbuh dengan macam-macam suntikan kimia−sudah mulai gerah, Sagar?”

Seperti seperti terbangun dari mimpi, tiba-tiba Sagar menyadari keringat besar-besar menetes dari dahinya, dan punggungnya terasa basah penuh keringat. Meski matahari tidak terlihat sejelas itu karena tertutupi gedung, namun panas yang luar biasa tidak bisa terelakkan.

“Yah… ini kan, Juli?” Sagar masih tidak cukup mengerti tentang apa masalah dari udara yang begitu panas sekarang. Bukankah wajar, udara panas begini ada di kota besar seperti… area… blok… yang Sagar sudah lupa angkanya.

“Kau akan terkejut sebentar lagi,” terang Baron, dan benar saja, rintik-rintik gerimis mulai turun, semakin lama semakin banyak dan menjadi hujan lebat.

Sagar menutupi kepalanya dengan tudung, ikut berlari menyebrang jembatan menuju tempat berteduh bersama dengan Baron. Baju anti-air ini memang berguna, benar-benar tidak basah hingga ke dalam.

“Hujan di bulan Juli, kemarau di bulan November bahkan salju di bulan Desember pun sangat sedikit, kami tidak lagi punya kalender seperti itu, sayang sekali bukan?” terang Baron, matanya kini menatap jauh ke depan, ke arah pepohonan−semi−buatan yang terhuyung-huyung ditiup angin. Beberapa sudah tumbang ke jalanan.

“Kenapa−?”

“Menjadi seperti ini?” Baron menjawab dengan terlalu cepat, “kejadiannya lebih dari 100 tahun yang lalu, kau tahu? Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lagi dari masamu. Yah… krisis iklim, efek rumah kaca, pohon-pohon yang habis, kebakaran hutan di musim kemarau, dan banjir bandang di musim penghujan. Suhu memanas, es di kutub mencair dan permukaan laut terus naik, reklamasi terjadi dimana-mana, kau tahu? Pengerukan tanah berlebihan. Segalanya menjadi sempurna untuk menghasilkan kehancuran. Negaramu, yang namanya bagus sekali itu, akhirnya tenggelam, atau kebakaran atau hancur terkena gempa? Aku juga tidak terlalu mengerti, hanya… kau tahu? Yah, dia terpendam…”

Sagar masih bergeming, membeku di tempatnya, jantungnya serasa dihantam tepat di pusatnya.

“…yang tersisa hanya plastik, sampah, dan beberapa orang beruntung yang selamat−termasuk kakekku−yang kebetulan mereka semua adalah ilmuwan, mereka sudah memprediksi kehancuran, membuat tempat penyelamatan, tapi toh tidak semua manusia percaya pada omong kosong para ilmuwan, bukan? Mereka binasa, yang tidak percaya pada kakekku, mereka binasa. Dan dunia kembali dihidupkan dari plastik-plastik bekas bencana, sampah, di bangun di atas para jasad yang dipendam seadanya. Menjijikkan, ya? Dan kau masih terkagum-kagum dengan semua teknologi yang menggiurkan ini? Kau keterlaluan, Sobat,” kata Baron.

“Aku serius. Aku sejuta kali ingin hidup di duniamu, masih dapat menghirup oksigen yang bersih di udara, disini kami harus rutin cek paru-paru kami. Kau tahu? Yah, memang bisa berharap apa pada pohon suntikan dan ganggang laut yang tinggal sedikit itu?” Baron terkekeh dan semakin membuat Sagar sakit hati.

“Memetik buah dari pohon tanpa suntikkan penumbuh, buah asli yang rasanya agak masam bukannya kebanyakan pemanis, dan tanah yang bisa ditumbuhi banyak rerumputan. Tapi tidak ada yang bisa diubah, kan? Bahkan kau pun tak akan bisa.” Baron masih terus mengoceh dan Sagar semakin tenggelam ke dalam jurang. Perasaan gembiranya dalam sekejap tergantikan oleh ngilu yang menusuk-nusuk badannya, sangat sakit hingga genangan air mata mulai keluar memenuhi kantung matanya.

“Kuharap kau tidak akan terlalu merasa bersalah, Sagar, inilah bayaran untuk sebuah kemajuan. Kecuali manusia mau sadar sedikit lebih cepat, sedikit saja, setidaknya mereka sadar sebelum bencana tanpa henti menghantam terus menerus seperti ini…”

“…waktunya ku antar kau pulang, Sagar. Ini mungkin pertemuan terakhir kita, terlalu berisiko bagi keselamatanku untuk terus menerus berganti waktu dengan ekstrim, mimpikan aku kalau kau merasa rindu, ya? Hahaha…”

Bahkan candaan Baron tidak bisa mengembalikan minat Sagar untuk tertawa. Hingga ia telah kembali duduk di atas kasur di kamarnya tanpa mengenakan baju-anti-air yang sudah dikembalikan sebelumnya. Sagar menyaksikan badan Baron di dalam lubang itu sedang melambaikan tangan dengan wajah bulatnya yang berhias tangis dan ingus berlebihan. Perlahan lubang itu mengecil, membuat cahayanya semakin silau dan perlahan menyusut menyisakan satu kilatan cahaya oranye amat terang dan tergantikan oleh dinding kosong yang sudah menguning seperti tembok itu sudah sangat tua dan digunakan secara berlebihan.

Setelah tak ada cahaya yang tersisa, ruangannya menjadi padam, segelap malam. Sagar masih terduduk diam hingga beberapa jam ke depan. Matanya yang lelah perlahan menutup, membawanya pada petualangan di padang pasir berikutnya. Kali ini bukan angin ataupun kaktus berkaki yang ada di mimpinya, melainkan segunung sampah plastik, hujan badai dan zombie yang mukanya mirip seperti Baron. Dia melawan zombie itu dengan tanaman padi yang dia tanam di atas pasir. Berkali-kali ia mencoba menanamnya, namun ia tetap gagal. Hingga dia akhirnya dikejar oleh zombie. Sagar terbangun dengan nafas yang menderu. Berbeda dari saat ia terakhir kali terbangun dari petualangan di gurun pasir yang lalu,  ternyata kamarnya masih tetap gelap, segelap sebelum ia tertidur.

Tanpa diduga, hujan juga turun di luar kamar Sagar. Turun di awal bulan Juli, dan seharusnya tidak boleh turun hujan di bulan ini. Sagar merenung, sudahkah sangat dekat dengan kehancuran itu? Apakah memang… ini semua sebenarnya sudah dimulai? Mendadak Sagar merasa takut, sangat takut dan badannya mulai menggigil kedinginan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *