Cerpen #240; “LEMBAH HITAM”

Malam ini begitu sunyi dan gulita yang menghanyutkan semua orang ke alam ke dua yaitu Mimpi. Semua orang pernah bermimpi. Diselimuti angin malam aku hanya bisa meratapi. Presepsi tentang mimpi akan lain jikalau kalian menjadi diriku semalam saja. Aku menderita Dream Anxiety Disorder. Yaitu gangguan psikologis yang membuatku setiap terpejam dihantui oleh mimpi buruk yang begitu mengerikan. Bahkan bukan hanya di mimpi, aku juga sering berhalusinasi dan selalu merasa takut yang entah apa sebabnya.

Namaku Gilbertkris Gentasius. Kerap dipanggil Genta. Aku seorang mahasiswa semester 4 jurusan Geofisika di salah satu universitas di Indonesia. Ya, aku suka seputar alam. Aku tinggal sendirian di sebuah apartemen dekat kampusku. Orangtuaku sedang ke luar negeri untuk beberapa bulan karena ada urusan bisnis.

Kampus adalah neraka bagiku. Memiliki kepribadian pendiam dan introvert membuat sedikit orang yang mau berteman denganku. Karena halusinasiku banyak orang juga yang menganggapku troublemaker (pengacau). Namun itu bukan masalah besar. Pada dasarnya aku juga benci keramaian. Aku punya 1 teman, namanya Eline dari jurusan Geomatika. Dia sosok yang manis dan cerdas. Karena jurusan kita saling berkesinambungan membuatku dan Eline menjadi teman.

Pagi buta aku terbangun karena ada pengumuman dari kampus yang meminta semua mahasiswa dari jurusan Geofisika, Geomatika dan Geodesi untuk berkumpul di aula fakultas teknik karena ada beberapa hal penting mengenai studi praktikum. Di kampus Aku bertemu Eline.

“ Genta?” sapa Eline dengan senyumnya yang sangat manis. “ Oh hai Eline!, aku mencarimu dari tadi, kamu baru sampai?” tanyaku. “Iya Ta, duduk di sana yuk?” ajak Eline. “ Okey Lin.” Jawabku sambil berjalan menuju kursi maksut Eline. “Ngomong ngomong ada apa ya, jarang banget kita kumpul bareng kayak gini,” tanyaku. “Tadi sih katanya mau ada studi praktikum gitu Ta, tapi aku juga belum tau pastinya sih.” Jawab Eline. Benar saja, pengumuman hari ini tentang studi praktikum semester 4, yang akan dilaksanakan lusa.. Lokasinya berada di Desa Sugih Waras, Jawa Tengah. Desa yang jauh dari perkotaan. Itu merupakan kabar baik untuku dan Eline yang sama sama sangat mengagumi segala hal tentang alam.

“Genta! Akhirnya yang kita tunggu tunggu,” ucap Eline begitu riang. “Pasti seru nih..” Jawabku. Usai pertemua kala itu, aku pulang ke apartemenku. Mulai  packing barang yang akan kubawa selama seminggu di sana. Setelah lelah aku beristirahat.

Saat mulai mata ini terpejam, aku kembali bermimpi. Aku melihat dengan jelas dimimpiku bahwa tempat yang kampus kami kunjungi terjadi gempa hebat. Anehnya mimpi kali ini sangat jelas, dimana aku bisa melihat dengan detil semua kejadian disitu. Aku ingat bahwa gempa itu terjadi pada hari Kamis, tanggal 23 November 2021, dengan kekuatan 6,8 SR, memakan 74 korban jiwa dan 246 luka luka. Saat bangun aku termenung. Firasatku mengatakan kalau itu akan benar benar terjadi. Karena tidak biasanya aku bermimpi sejelas dan sedetil ini. Namun aku mencoba berpikir positif, bahwa itu hanyalah penyakitku yang kambuh karena pikiranku sendiri. Keesokan harinya, aku menemui Eline untuk menceritakan mimpiku padanya. Meski aku akan tahu jawabanya, namun setidaknya aku merasa sedikit lega.

“Eline! Maaf  telat, udah lama nunggunya?” tanyaku. “Emm enggak kok Ta, aku juga baru aja sampai,” jawab Eline. “Jadi kamu mau cerita apa Ta?” tanya Eline. “Gini Lin, ini terserah aja kamu mau percaya apa enggak, aku bakal tetep cerita biar aku merasa lega, tadi malam itu aku mimpi buruk lagi Lin, aku mimpi bakalan ada gempa di tempat studi praktikum kita nanti , tapi kali ini aku ngerasa beda banget, karena mimpi ini benar benar detil dan jelas banget, bener bener kaya nyata Lin. Aku sampai inget tanggal , kekuatan, sampai jumlah korbannya juga.” Jelasku padanya. “Mungkin kamu kecapean Ta, udah kamu nggak usah mikir aneh aneh ya,” jawab Eline yang tidak percaya akan mimpiku, karena dia tahu bahwa aku ada gangguan psikologis dan sering mimpi buruk. “Tadi kamu bilang, kamu ingat secara detil Ta? Aku boleh tau?” tanya Eline. “Kamis, 23 November 2021, 6,8 SR, 74 korban jiwa, 246 luka luka.” Jawabku. Aku melihat Eline mencatat mimpiku itu. “Kita hati hati ya nanti pas di sana, semoga nggak terjadi apa apa.” Jawab Eline menenangkanku.

Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Kita semua berkumpul di kampus. Melakukan absensi sebelum naik ke bus lalu berangkat menuju tempat studi praktikum yaitu Desa Sugih Waras, Jawa Tengah. Aku duduk dekat Eline. Kita mulai meninggalkan daerah perkotaan yang metropolitan. Penuh dengan asap polusi. Kita mulai disambut dengan sepoi sepoi angin pedesaan yang mengelus pipi. Sepanjang perjalanan diiringi nyanyian para mahasiswa dengan suguhan hamparan sawah yang elok di pandang. Semua tampak sangat bahagia. Namun tidak untukku, benakku begitu khawatir, dan terus memikirkan mimpiku. Sesekali Eline mengusik lamunanku. “Hei Ta! Are you okey?” sambil melewatkan tanganya didepan pandanganku. “Em ya, im okey Lin,” jawabku. “Jangan terlalu dipikir ya, nggak akan terjadi apa apa kok.” Sahut Eline menenangkan.

Pukul 8 malam kita sampai di Desa Sugih Waras. Kita berhenti di Balai Desa Sugih Waras dan disambut beberapa warga. Kita diarahkan menuju penginapan masing masing. Kita semua beristirahat untuk persiapan hari pertama studi praktikum besok. Saat mulai melepas lelah, tiba tiba beredar berita di internet akan ada gempa bumi di daerah Jawa Tengah. Mendengar kabar itu aku hanya membisu. Aku sendiri tidak percaya tentang mimpi itu, namun apakah semua ini kebetulan? akupun tak mengerti.

Eline datang menghampiriku. “Genta, kamu udah dengar beritanya kan?” Tanya Eline panik. “Iya tau, tapi aku masih nggak bisa percaya.” Jawabku. “Sekarang aku percaya sama mimpimu Ta, ini pasti ada kaitanya sama itu,” kata Eline. “Terus sekarang kamu mau apa?” tanyaku. “Ya, kita bilang sama semuanya biar mereka jaga jaga, sebelum semua terlambat Ta,” sambil menariku menuju penginapan. “Tapi, emang mereka bakal percaya?” sahutku menghentikan. “Udahlah, nggak ada salahnya nyoba Ta!” jawab Eline sambil menariku.

Aku dan Eline menuju ke penginapan utama untuk mengingatkan semua orang disana agar berhati hati. Namun tidak ada satupun yang menggubris. “Hallo teman teman! Minta perhatianya sebentar! Saya Eline dari jurusan Geomatika, sebelumya maaf mengganggu waktu istirahat kalian. Saya dan teman saya hanya mau bilang agar kalian semua hati hati, apabila ada gempa, secepatnya mencari tempat yang aman ya! Alangkah lebih baiknnya kalau kalian terjaga malam ini, sambil waspada.” Ujar Eline kepada seluruh mahasiswa. “Ehh! Kalian berdua tau apa sih? BMKG aja belum mastiin, udan sana tidur! Ganggu aja!” jawab salah satu mahasiswa dengan nada tinggi. Kita akhirnya pergi tak berdaya. Saat melangkah pergi tiba tiba ada yang memanggil kita. Dia adalah Profesor Wingten, salah satu dosen senior di kampus kita, umurnya hampir kepala 6, sekaligus ilmuwan hebat dan terkenal di Indonesia.

“Tunggu dulu!” Prof. Wingten memanggil kita. “Iya Prof?” jawabku dan Eline. “Kalian sebenarnya ada apa? Sebaiknya kalian tidur, jangan mikir berlebihan dan jangan sampai kegiatan praktik kalian besok terganggu.” Ujar Prof. Wingten. Akhirnya kita memutuskan untuk bercerita semua pada Prof. Wingten mengenai mimpiku. Usai bercerita padanya secara detil, Prof. Wingten juga sulit percaya. “Sudah, kalian jangan mikir macam macam, sebaiknya kalin segera istirahat, ini sudah larut.” Ujar Prof. Wingten. Mungkin semua orang menganggapku dan Eline gila. Kita pasrah lalu menuju  penginapan dan memutuskan untuk tidur bergantian malam ini, agar kita bisa bergantian untuk berjaga.

Waktu menunjukan pukul 1, Kamis dini hari. Saat semua sedang terlelap dalam mimpi, tiba tiba aku merasa bumi ini bergetar dengan sangat kuat. Seketika aku membangunkan Eline dan segera keluar dari penginapan.”Eline!! cepat bangun!! Semuanya ayo segera keluar sekarang!!” Teriakku. Goncangan itu sangat kuat sekitar 3 menit. Beberapa dari kita yang tidak tidur malam itu, berhasil untuk keluar dari penginapan, dan ada juga yang terlambat keluar tertimpa reruntuhan bangunan yang rata dengan tanah. Kita semua masih syok akan kejadian itu. Semua orang menangis, jeritan minta tolong terdengar dimana mana. Kita yang masih selamat segera diungsikan ke tempat yang lebih aman. Sebelum pergi, aku melihat Prof. Wingten dari kejauhan menatap tajam kearahku, kemudian ia pergi. Aku berpikir mungkin ia sadar bahwasanya mimpiku itu bukanlah sekadar mimpi.

Keesokan harinya, para korban mulai di evakuasi.  Kita yang selamat segera dipulangkan kembali. Sepanjang perjalanan pulang, aku dan Eline hanya termenung karena BMKG juga telah menggumumkan bahwa kekuatan gempa semalam adalah 6,8 SR. Sangat tepat dan tidak meleset sama sekali dengan mimpiku. Hal itulah yang menjadi pertanyaan besar untuku yang aku sendiri sulit untuk mengerti.

Selang beberapa hari dari kejadian gempa itu, kampusku mengadakan doa bersama untuk para mahasiswa yang tidak selamat. Hari itu Eline memberi tahuku bahwa korban yang meninggal dan luka luka telah di beritakan. Jumlahnya sama persis dengan mimpiku. “Sebenarnya apa yang terjadi denganku Lin?” tanyaku sambil meratapi keadaan. “Semua itu memang nggak masuk akal Ta, tapi semua itu nyata, apa yang ada di mimpi kamu, semua terjadi Ta, nggak mungkin sebuah kebetulan. Udah kamu anggap aja itu adalah kelebihan yang diberikan Tuhan khusus buat kamu.” Eline menenangkanku. Setelah kejadian kemarin, aku merasa ada yang aneh dengan Prof. Wingten. Karena aku sering melihat ia mengawasiku dari kejauhan.

Belakangan ini, selain mimpi mimpi mengerikan, aku juga sering mimpi tentang petunjuk sebuah peristiwa yang akan terjadi dalam waktu dekat ataupun lama. Aku benar benar stress, mengapa aku harus hanyut dalam lembah hitam ini. Atau memang, benar seperti apa yang dibilang Eline, bahwa aku adalah orang yang dipilih Tuhan untuk mendapat kelebihan ini? Ah sudahlah. Intinya aku cukup stress untuk memikirkan semua ini.

Suatu malam aku kembali bermimpi yang menurut diriku pribadi ini adalah isyarat. Aku belum menceritakan mimpi ini pada siapapun, termasuk Eline. Karena aku berpikir mimpi ini adalah petunjuk besar yang diberikan Tuhan melalui aku. Dalam mimpi itu, aku melihat keadaan bumi sudah rancu. Semua terbengkalai. Bencana alam merajalela. Kekeringan, air laut yang mulai surut karena pemanasan global yang menyebabkan krisis air, polusi, hingga krisis oksigen. Kejahatan sewenang wenang. Semua manusia menjadi tak beradap, tidak berperi kemanusiaan dan tingkat kebodohan sangat tinggi. Semua itu jelas di mimpiku, namun aku masih belum tahu kapan itu terjadi.

Aku tak tau harus bertindak apa. Akhirnya aku bercerita pada Eline dan meminta saran padanya. Aku menghampirinya saat di perpustakaan. “Lin, lagi sibuk nggak?” tanyaku enggan. “Emm enggak nih Ta ada apa emangnya?” jawab Eline. “Aku mau cerita tentang mimpiku yang aku rasa lumayan jadi beban pikiranku nih, mau dengerin nggak?” tanyaku memastikan. “Alah Ta kamu kaya sama siapa aja, buruan cerita, kepo nih aku.” Jawab Eline. Aku menceritakan semua pada Eline. Eline pun bingung harus melangkah seperti apa. Namun Eline menyarankan untuk menceritakan ini pada Prof, Wingten. Aku pun mengiyakan saran Eline. Karena aku berpikir bahwa Prof. Wingten adalah Profesor terkenal dan mungkin mengerti dan punya saran.

Keesokan harinya aku dan Eline memutuskan untuk menemuni Prof. Wingten di ruanganya untuk menceritakan mimpiku. “Permisi Prof. Wingten, saya mau bicara dengan anda, apakah ada waktu?” tanyaku. “Ya, silakan masuk, ada perlu apa?” Prof. Wingten kembali Tanya padaku. “Saya mau cerita tentang mimpi saya lagi Prof, yang menurut saya agak sulit apabila saya sendiri yang menganalisisnya. Apakah Profesor berkenan untuk saya ceritakan?” tanyaku memastikan. “Of course, silakan dengan senang hati.” Jawab Prof. Wingten. Aku ceritakan semua mimpiku padanya. Anehnya usai aku cerita, ekspresi Prof. Wingten tiba tiba berubah, yang semula dia sangat ramah padaku dan Eline, tiba tiba menjadi murung dan tatapanya kosong. Dia hanya mengatakan, “Jadi kamu sudah mengetahuinya, mungkin ini sudah waktunya. Besok saya tunggu di ruang laboratorium fakultas teknik pukul 7 pagi, saya akan memberi tahu kalian sesuatu.” Ujarnya. Aku dan Eline hanya mengangguk, dan segera meninggalkan ruangan Prof. Wingten dengan hati gundah yang menyimpan sejuta pertanyaan belum terjawab.

Tibalah hari ini,aku dibangunkan oleh siluet mentari menembus jendelaku. Aku dan Eline akan menemui Prof. Wingten pukul 7 pagi. Setelah aku menjemput Eline dirumahnya kita segera meluncur ke kampus. Sampai di kampus kita segera menuju ke ruang laboratorium, yang disana sudah ada Prof. Wingten dengan ke 4 rekan ilmuwan senior lainya. Aku dan Elin disambut dengan ramah bak tamu undangan dan dipersilahkan duduk. “Ada apa ya Lin sebenarnya?” bisik lirihku di telinganya. “Sepertinya mereka mau menunjukan hal besar deh Ta.” Jawab Eline enggan. Memang sangat aneh. Mereka seperti akan melakukan presentasi besar. Sedangkan ini hanyalah padaku dan Eline dan tentang mimpiku.

“Baik, kami ucapkan terimakasih karena kalian sudah datang. Di sini, di hari ini, saya dan rekan rekan saya akan memberi tahu pada kalian tentang proyek dari para Profesor, Ilmuwan di bidang Statistik Data dan seluruh pakar Sains di dunia. Proyek itu tentang populasi manusia yang semakin tidak bisa dikondisikan pada masa yang akan datang, tepatnya pada titik puncak 100 tahun dari sekarang yaitu pada tahun 2121. Sangat dikhawatirkan oleh kami yaitu para ahli, tentang dampaknya ketika semua itu terjadi. Populasi manusia saat ini sekitar 7,8 milyar jiwa, dan diperkirakan pada tahun 2121 mendatang populasinya akan meningkat 5 kali lipat atau mecapai 39 milyar jiwa, yang tentunya bisa kita bayangkan bagaimana keaadaan bumi dimasa itu. Dampak yang bisa terjadi karena populasi manusia abnormal yang paling utama adalah kemiskinan, dan kami juga telah menganalisis bahwa di masa itu kadar oksigen akan sangat menipis, kekeringan karena pemanasan global, tidak ada pohon sama sekali, bencana alam karena ulah manusia sendiri, dan kebodohan karena minimnya pengetahuan yang menyebabkan tingkat kriminalitas dimasa itu merajalela dan sangat tidak bisa dikondisikan. Tentu saja kita semua sangat ingin bukan untuk menyelamatkan keadaan bumi dimasa itu? Oleh karena itu, kami para ahli di dunia telah memutuskan secara rahasia dan telah di setujui oleh Presiden masing masing Negara untuk melakukan metode ilmiah yaitu Long Sleep To Survive (Tidur Panjang Untuk Berjuang), dimana akan ada perwakilan orang yang telah diberi tanggungjawab dan kepercayaan untuk menjadi penyelamat wilayahnya. Tak lain tak bukan kami telah mempercayakan itu pada kalian yaitu Gilbertkris Gentasius dan Eline Fatmawati. Ketika kalian bertanya, kenapa harus kalian? Karena kami tidak asal menunjuk orang untuk terlibat dalam proyek besar dunia ini. Kamu Genta, kami memilih kamu karena kami tahu kamu memiliki kemampuam mengetahui nasib atau apa yang akan terjadi di masa depan, kami yakin hal ini bukanlah hal baru buat kamu. Karena kamu sudah tahu lebih awal melalui mimpimu. Kamu Eline, kami memilih kamu karena kamu pintar, dan sangat cerdas. Tentu saja hal itu sangat berpengaruh positif pada proyek ini, dan kami juga telah tau latar belakang kamu. ” Ujar penjelasan panjang dari Prof. Wingten. “Kita masih belum mengerti, Long Sleep To Survive?” tanyaku. “Tidur panjang untuk berjuang? Apa maksutnya?” sahut Eline menambah pertanyaanku. “Pertanyaan yang bagus. Kami para ahli telah berhasil menciptakan alat yang dirancang khusus. Telah dikerjakan hampir 12 tahun untuk proyek ini. Dimana kalian nanti akan dimasukan ke dalam Sleep Box atau sebuah ruang yang sempit untuk kalian tidur disana selama 100 tahun tanpa terbangun juga tanpa ada perubahan fisik. Kalian tidak akan berubah menjadi tua, tidak lapar, haus ataupun merasakan hal hal lainya. Kita sudah memasang alarm dan mempersiapkan 2 generasi penerus untuk proyek ini ketika nanti kami para senior telah meninggal. Jadi, kalian jangan khawatir. Tujuanya agar ketika kalian nanti terbangun dari tidur panjang, dengan bekal pengetahuan yang kalian punya sekarang, kalian dapat memberikan perubahan pada dunia yang sudah kacau ini, dan perlu kalian ingat, kalian tidaklah hanya berdua saja. Melainkan ada ribuan perwakilan lainya yang terbagi di seluruh penjuru dunia, dengan misi yang sama.” Jawab Prof. Wingten.

Setelah penjelasan  itu, aku dan Eline diberi beri kesempatan untuk berpikir selama 2 hari. Kita memutuskan untuk mengikutinya. Karena aku dan Eline ingin menyelamatkan bumi ini. Disisa waktu 48 jam ini, aku dan Eline menghabiskan waktu untuk bersenang senang, memuaskan hati melakukan hal hal yang kami inginkan, sebelum kami akan tidur sangat lama.

2 haripun berlalu. Aku dan Eline bergegas menemui Prof. Wingten. Kami dibawa menuju sebuah ruangan yang di dalam ruangan itu ada ruang bawah tanah. Di ruang bawah itu benar benar menakjubkan. Membuatku tercengang. Sangat canggih dan benar benar di desain khusus. Selain canggih ruang bawah tanah itu juga anti gempa. Aku dan  Eline diminta untuk masuk ke sebuh box yang ukuranya tidak terlalu besar. Namun didalamya sudah sangat nyaman dan ada persediaan oksigen untuk 100 tahun. Aku dan Eline tempatnya terpisah. Kita akhirnya masuk kedalam Sleep box itu. Di dalam Sleep Box itu juga ada beberapa tanaman dan seperti benih benih tumbuhan, entah untuk apa. Tiba tiba ada seperti gas keluar memenuhi box yang aku tempati. Tak lain gas itu adalah bius untuk menidurkanku selama 100 tahun lamanya. Akhirnya aku dan Eline tertidur. Bukan tidur biasa, melainkan tidur yang sangat panjang dengan misi membawa perubahan untuk dunia ini. Aku sendiri tidak yakin, apakah aku akan bertahan dan berhasil tuk mengubah kalut menjadi senja kelak. Aku hanya berpasrah dan melakukanya sebaik mungkin ketika aku masih ada kesempatan terbangun nanti.

1 abad telah berlalu. Tiba tiba aku merasakan ada getaran hebat ditubuhku, hingga aku terbangun. Aku merasa aneh, aku ingat bahwa aku tidur selama 100 tahun lamanya. Namun aku merasa seperti hanya 1 minggu, terasa sangat cepat. Aku juga tak menyangka, saat melihat kalender hari ini benar benar tahun 2121, dan wujudku masih remaja berumur kepala 2. Sungguh sebuah keajaiban, namun inilah kenyataanya. Saat keluar dari Sleep Box aku melihat Eline sudah duduk dan berbincang dengan beberapa orang yang tak ku kenal. Mereka bukanlah Prof. Wingten dan para rekanya yang aku kenal. Aku disambut oleh mereka, dan berbincang sebentar.

“Hallo Genta, kamu sudah bangun dari tidur panjangmu yang sangat nikmat? Mari sini kita mengobrol sebentar sebelum kalian melihat dunia luar.” Ucap salah satu dari orang yang asing itu. Akupun duduk mendekati Eline. “Hai Ta, are you okey?” sapa Eline padaku. “Hai Line, aku sangat baik, kamu sendiri?” tanyaku pada Eline. “Im okey Ta, oh ya kenalin ini Profesor  Jeason, cucu dari Prof. Wingten. Dia juga pakar sains seperti kakeknya loh.” Eline mengenalkanya padaku. “Salam kenal pak, saya Genta, oh iya, dimana Prof. Wingten?” tanyaku begitu bodoh tak sadara kalau sudah tidur 1 abad lamanya. “Kakek saya sudah meninggal 82 tahun yang lalu. Sebelum dia meninggal, dia menitipkan tanggung jawab ini pada ayah saya. Kemudian ayah saya meninggal 22 tahun yang lalu, ayah saya menitipkan kalian pada saya. Dan sekarang saya yang mendapat tanggungjawab untuk menjaga kalian sampai kalian bangun.” Jawab Prof. Jeason. Aku masih tak percaya kalau aku benar benar tertidur selama itu.“Baiklah, sekarang kalian silakan menyiapkan diri untuk keluar dari sini, dan mewujudkan misi kalian.” Ujar Prof. Jeason. “Baik Prof.” Jawabku dan Elina bersama sama.

Setelah bersiap siap aku dan Eline beranjak melangkahkan kaki keluar bersama sama. Saat mata ini memandang keaadan, hatiku dan Eline terguncang hebat menoreh luka yang dalam, saat sejauh mata memandang hanyalah ada kekalutan. Sang baskara seperti diatas kepala, paru paru ini terasa berdebu sesak tak karuan. Tidak ada pohon sama sekali. Orang orang yang berlalu lalang sangat lah ramai. Bumi seperti sudah renta. Saat mulai melangkahkan kaki semua orang menatapku dan Elin seperti aneh karena aku dan Eline memakai baju serba panjang dan tebal. Sedangkan cuaca di sini sangat panas, mayoritas masyarakat memakai baju terbuka. Aku dan Eline mengelilingi kota dengan berjalan kaki dan mencoba memahami dunia. Benar benar sama sekali tidak ada pohon satupun. Hanya ada gedung gedung mencakar langit berkaca yang menyebabkan pemanasan global. Sesekali aku melihat ada masyarakat yang mencoba menanam tanaman namun tidak ada satupun tanaman yang hidup. Karena mereka begitu aneh. Menyiram tanaman itu dengan minyak, bukan dengan air. Aku berpikir, mengapa tidak dengan air laut yang tersisa? Karena aku dan Eline melihat ada laut yang masih ada airnya meskipun sedikit. mungkin mereka memilih sisa air laut itu diminum karena sayang apabila dibuat untuk menyiram tanaman. Namun kenyataanya tidak seperti itu. Mereka menganggap bahwa air laut itu beracun. Entah itu presepsi dari mana. Setelah mengetahui fakta itu, aku dan Elina kembali ke rumah Prof. Jeason untuk merencanakan  tindakan apa yang akan kita ambil.

Aku juga menyimpan sejuta pertanyaan pada Prof. Jeason. “Prof, apakah disini tidak ada orang kaya satupun?” tanyaku. Karena aku bingung disekitar sini tidak ada satupun orang yang terlihat kaya. Semua miskin dan serba berkekurangan. “Mereka yang kaya telah membeli sebuah pulau untuk ditinggali. Nama pulau itu Pulau Lapunde. Hanya para Pejabat dan orang bergelimpahan harta saja yang mampu berpijak disana. Disana seperti surga, udaranya bersih dan tanahnya bisa ditumbuhi tanaman. Hanya kurang dari 1000 orang di Indonesia yang mampu tinggal disana. Masyarakat miskin hanya bisa menerima keadaan, dan menunggu ajal menjemput. Ketika mereka ingin menghirup oksigen yang bersih, mereka harus membelinya, dan harganya cukup mahal. Masyarakat disini lebih memilih uang mereka untuk makan daripada untuk membeli oksigen. Disini juga tidak ada Rumah Sakit. Ketika ada yang sakit, mereka hanya pasrah dan menunggu kematian itu datang.” Prof. Jeason menjelaskan padaku. “Lalu kenapa mereka menyiram tanamanya dengan minyak? Sedangkan aku dan Eline sempat melihat ada laut yang masih ada airnya?” tanyaku. “Mereka percaya, bahwa air laut itu beracun dan hanya akan membunuh tanaman. Karena pernah kejadian ada salah satu penduduk yang mencoba meminum air laut itu, dan ia meninggal dunia. Menurut pimpinan dari Pulau Lapunde, air laut itu beracun. Sehingga sejak saat itu mereka tidak pernah lagi menyentuhnya.” Jawab Prof. Jeason. “Apa? Beracun? Presepsi macam ini? Sejak kapan air laut beracun? Ini pembodohan!” sahut Eline.

Keesokan harinya aku dan Eline mencoba menanam tanaman dengan air laut. Kita menuju ke pantai dengan membawa beberapa ember untuk diisi air. Semua orang tampak bingung, dan menganggap kita aneh. “Heii anak muda, apakah kalian mau mati?” Tegur salah satu warga. “Maaf pak tapi kami hanya mau membuktikan kalau sebenarnya air laut ini tidak beracun. Kita lihat saja nanti.” Jawabku. Kita juga sudah menyiapkan lahan untuk ditanami. Dengan bekal biji bijian dan tumbuhan dari Prof. Wingten yang dibawakanya untuk kita dulu. Ternyata itu sangat berguna. Aku dan Eline mulai menanamnya biji bijian itu dan disaksikan oleh banyak warga. “Bapak bapak Ibu ibu sekalian! Disini saya dan teman saya mencoba untu menanam tumbuhan dan biji bijian ini. Ketika mereka tumbuh, maka terbukti bahwa air laut tidaklah beracun. Bahkan sebaliknya, ketika kalian menyiram tanaman tanaman itu dengan minyak, justru itu akan membuat tanaman itu mati. Karena tumbuhan butuh air, bukan minyak.” Ucapku pada seluruh warga yang menyaksikan aksiku dan Eline.

Satu pekan kemudian, tanaman yang aku dan Eline tanam sudah tumbuh sehat. Disekitar lahan sudah banyak warga yang kagum tak percaya, namun mereka terlihat sangat bahagia. Mungkin mereka berpikir bahwa masih ada harapan untuk merasakan hidup kembali.

“Bapak Ibu sekalian, sekarang kalian sudah bisa melihat sendiri bahwa tanaman yang kita tanam tumbuh dengan subur. Hal ini mengartikan bahwa air laut itu tidaklah beracun. Kalian hanyalah ditipu dan dibodohi oleh warga Pulau Lapunde. Mereka hanya tidak ingin kalian memanfaatkan air laut itu, dan membuat persediaan air mereka menipis. Sekarang saya minta pada kalian semua untuk mengambil benih yang ada diatas meja itu. Silakan kalian tanam di sekitar rumah kalian masing masing dan siramlah dengan air laut.” Ucapku. “Heii anak muda! Sebenarnya kalian siapa? Kenapa kalian sangat cerdas?” Tanya salah satu warga padaku dan Eline. “Kita datang untuk membawa perubahan dan menyelamatkan bumi yang sudah kacau ini. Apakah kalian juga ingin bersama kami untuk mewujudkan perubahan itu? Agar hidup kita semua menjadi lebih layak.” Ujarku. “Kita tidak bisa pasrah seperti ini terus. Mau sampai kapan kalian menderita? Menghirup udara kotor, cuaca yang semakin panas, krisis air hingga kalian dehidrasi, bahkan mati? Mau sampai kapan kalian bergantung pada warga Pulau Lapunde yang sebenarnya membodohi kalian semua demi kepentingan mereka pribadi? Apa kalian mau seperti ini terus?” sahut Eline meyakinkan warga. “TIDAK!!” mereka menjawab kompak lalu memberi tepuk tangan padaku dan Eline.

Sejak saat itu aku dan Eline dianggap oleh mereka sebagai pemimpim daerahnya. Mereka sangat patuh dan melaksanakan semua arahan arahan kita. Hal itu ternyata semakin mempermudahku dan Eline untuk mewujudkan misi kita. Kita meminta pada warga untuk mengurangi bangunan bangunan untuk dirobohkan agar mengurangi evek rumah kaca penyebab pemanasan global dan digunakan sebagai lahan untuk menanam pepohonan dan bahan bahan makanan. Kita juga meminta pada warga membuat bendungan untuk berjaga jaga ketika nanti akan turun hujan, membuat penampungan air untuk diisi air laut dan sudah mulai membangun sumur. Tak kalah penting, sedikit demi sedikit aku dan Eline memberi edukasi untuk stop memiliki anak  dengan jumlah yang banyak. Kita menekankan bahwa dalam 1 keluarga sebaiknya hanya memiliki 1 buah hati, untuk mengurangi populasi manusia yang berlebihan.

Tak terasa 2 tahun telah berlalu. Sudah sangat banyak perubahan yang terjadi. Semua orang mulai merasakan udara segar secara gratis. Senyuman itu kembali terukir di wajah mereka. Panas matahari sudah mulai menurun, pepohonan dan lahan pertanian sudah mulai subur, populasi manusia yang sedikit demi sedikit mulai stabil, dan yang paling menggembirakan hujan mulai turun. Prof. Jeason juga mengabarkan padaku dan Eline bahwa keadaan di daerah lain juga mulai membaik, berkat perwakilan mereka masing masing dengan misi yang sama ini sudah mulai sukses.

Suatu hari pemimpin dari Pulau Lapunde datang menghampiriku. Dia mulai sadar bahwa keadaan sudah diluar Kendalinya. Ia datang kerumah Prof. jeason. Anehnya bagaimana dia tahu keberadaanku dan Eline. Dia bernama Singto pimpinan dari Pulau Lapunde. “Jadi kalian yang sudah merubah cara pandang warga disini ya? Kalian sudah merasa sangat pintar? Sebenarnya siapa kalian? Dari mana asal kalian?” Tanya Singto padaku dan Eline. “Kita datang untuk menyelamatkan dunia ini, dunia yang sudah kalian rusak karena dipegang oleh orang orang yang jahat seperti kalian yang tega membodohi warga demi kepentingan kalian pribadi.” Jawabku. “Jaga bicara kalian!” ucap Singto dengan nada kesal. Tiba tiba Prof. Jeason memukulku dari belakang hingga aku pingsan. Elina bingung melihat kejadian itu. Ada apa dengan Prof. Jeason, apa yang dia lakukan? Kenapa dia menyerangku. Tak pikir panjang Elina segera keluar dan meminta tolong warga untuk mengamankan Singto, Prof. Jeason dan beberapa teman singto, sempat terjadi perkelahian, namun singto kalah karena hanya membawa sedikit teman. Setelah aku sadar Eline menceritakan padaku semuanya. Akhirnya Singto dan Prof. Jeason dibuat jera oleh warga dan meminta maaf pada semua warga akan kesalahanya, mereka juga berjanji tidak akan mengusik lagi. Setelah sekian lama, aku dan Eline baru menyadari Bahwa Prof. Jeason adalah tangan kanan Singto untuk menginformasikan segala hal tentangku dan Eline padanya. Dia mau karena Singto menjanjikan bayaran yang besar dan tinggal di Pulau Lapunde secara gratis.

Setelah semua ini terjadi, kehidupan warga semakin membaik. Aku dan Eline juga mulai membuka sekolah. Mereka sangat awam akan apa itu sekolah. Tapi aku dan Eline yakin, seiring berjalanya waktu, semua akan menjadi lebih baik lagi. Kondisi alam yang mulai kembali membaik adalah salah satu hal yang membuatku dan Eline merasa berarti dan puas, karena telah menyelesaikan misi dari para ahli 100 tahun yang lalu. Aku masih tak menyangka bertahan di titik ini. Presepsiku tentang penyakitku dimasalalu yang aku kira tuhan menghukumku dan menghanyutkanku dalam lembah hitam itu ternyata sebaliknya. Semua itu merubah malam kembali senja. Tuhan telah memberiku sebuah keistimewaan dengan kelebihan itu agar dapat menyelamatkan dunia yang sudah renta.

SELESAI

2 thoughts on “Cerpen #240; “LEMBAH HITAM”

  1. Ceritanya bagus dan menarik bangett. Penulisnya pintar buat cerpennya. Semoga lebih baik lagi kedepannya ya..:))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *