Cerpen #239; “Seberapa Pedulikah Kalian Dengan Bumi Ini Dimasa Yang Akan datang?”

Suatu hari ada sekumpulan kelompok remaja yang sedang merencanakan sebuah strategi untuk nasib bumi mereka kedepannya. Hal ini merupakan sesuatu yang sedikit dirasa aneh dan jarang ditemui oleh kalangan remaja seumuran mereka. Tujuan mereka merancang strategi ini ialah mereka ingin tahu dan ingin menggali informasi lebih dalam lagi tentang bagaimana keadaan bumi mereka 100 tahun mendatang. Merupakan suatu hal yang terkadang menurut sebagian orang dirasa sia – sia, sebab kebanyakan orang lain berpendapat mengapa kita harus membebani pikiran kita untuk memikirkan bumi ini 100 tahun mendatang sedangkan umur kita saja kecil kemungkinan hingga 100 tahun. Tetapi pendapat itu justru lebih akan menarik perhatian kita bukan? tentang bagaimana sebenarnya nasib bumi kita ini, rusakkah? atau bahkan menjadi lebih baik dari sebelumnya?. Strategi dan ide ini muncul ketika salah seorang anggota kelompok mereka menemui kerusakan pada alam yang kemungkinan akan berdampak buruk pada bumi ini kedepannya. Kerusakan yang ia maksud salah satunya adalah seperti penebangan pohon tanpa memakai sistem tebang pilih, membakar hutan yang menyebabkan udara kotor dan lain sebagainya.

Kelompok remaja ini terdiri dari 2 orang perempuan dan 2 orang laki – laki. Mereka berempat berasal dari kota yang berbeda dan kebetulan dipertemukan pada suatu kampus yang sama yaitu tempat mereka menuntut ilmu. Keempat remaja ini sama – sama memiliki sikap yang amat sangat peduli pada lingkungan sekitar, tipe orang yang pemikir dan suka berpikir kritis. Namun, ada salah satu diantara mereka yang memiliki keajaiban yaitu sedikit lemot dan ragu ketika ia hendak akan menjalankan sebuah misi. Kelemotannya itulah yang membuat misi mereka terkadang tidak terselesaikan sesuai rencana atau bahkan sampai gagal. Mereka berempat sebut saja Ira, Erigo, Magdania, dan Reno. Ira memiliki sifat yang sedikit tomboy, pemberani, cekatan dan memiliki rasa empati yang tinggi. Erigo adalah salah satu seorang laki – laki diantara mereka ganteng, cuek, baik hati, dan membuat Magdania tergila – gila. Magdania sendiri adalah teman atau sahabat karib Ira yang otaknya agak sedikit lemot, sangat tergila – gila dengan Erigo, otaknya mendadak pintar jika dekat dengan Erigo. Nah si Reno ini adalah tipe orang yang bodoamat tetapi peduli, ia sangat bersikeras jika ia mendapati suatu konflik yang berhubungan dengan alam, dikarenakan ia adalah seorang jones yang berulang kali disakiti perempuan dan akhirnya ia sering melampiaskan kesedihannya dengan menyatu dengan alam seperti mendaki gunung, melewati lembah, menyeberangi lautan dan lain sebagainya. Oh iya satu lagi! Si Reno ini adalah salah satu remaja terfavorit dikampusnya soalnya ia juga seorang Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam).

Suatu malam ketika Magdania pulang dari rumahnya Ira, tiba – tiba muncul didalam otaknya tentang bagaimana kehidupan bumi ini 100 tahun kedepannya. Hal ini selalu menghantui pikiran Magdania sepanjang jalan, ia sangat bingung sekali tetapi suatu sisi ia ingin tahu bagaimana keadaan buminya ini. Sampai – sampai ia berpikir jika bumi ini 100 tahun mendatang akan mengalami kerusakan bagaimana dengan nasib anak cucunya. Permasalahan ini tak henti – henti hilang dari pikiran Magdania, hingga akhirnya ia menelpon sahabatnya Ira.

Kring kring kring kring (telepon Ira berbunyi keras). Ira mengangkatnya sambal berbicara di dalam hati “Ngapain ni bocah malem – malem telepon, tugasnya kan udah selesai semua. Jangan – jangan ia tersesat lagi.” (Sambil sedikit tertawa)

Ira :”Ada apa sih Magdania Prihastanta yang cantik kok malem – malem

                           telepon kangen yaaaaa haa?.”

Magdania :”Ih apaan sih ra nggak jelas deh. Aku tuh mau curhat sama kamu, siapa

                            tahu kamu bisa bantuin selesain masalah aku ini.”

Ira :”Yaaa emang gini ya kalau punya sahabat bandar masalah. Tiap hari

                            suruh selesaiin masalahnya.”

Magdania :”Ih ya elu mau nggak? kalau nggak mau sih yaudah nggak papa gua cerita

                           aja sama Erigo pasti dia langsung bantuin gua hahahah.”

Ira :”Nah loh coba aja kalau berani, Orang Erigo cueknya udah ngalah –

                           ngalahin ngomong sama batu. Nggak ada responnya sama sekali.”

Magdania :”Ish nggak papa batu yang penting ganteng.”

Ira :”Ah nggak penting lah. Cepat cerita cantik utututu sayangku cintaku cepat

                           cerita jangan bahas Erigo mulu. Ini Ira bukan Erigo inget I-R-A bukan

                            E-R-I-G-O.”

Magdania :”Jadi gini, tadi itu waktu aku pulang dari rumah kamu aku tuh kepikiran

                           tentang bagaimana nasib bumi kita 100 tahun kedepan, rusak atau justru

                           malah lebih baik dibandingkan sekarang.”

Ira :”Kalau lo tanya gue, gue tanya siapa sis?”

Magdania :”Ih Ra gua mah beneran nggak bercanda. Ah elu mah gitu.”

Ira :” Iya iya…… Kalau menurut gue pribadi sih kayaknya keadaan bumi kita

                           ini tergantung bagaimana generasi penerus kita saat ini. Jika mereka

   peduli dengan bumi pastinya bumi kita ini akan lebih baik dibandingkan

  sekarang begitu juga sebaliknya.”

Magdania :”Nah gua kepikirannya itu tuh gimana kalau generasi penerus kita itu

                           bener – bener nggak peduli sama sekali dengan bumi ini, secara

                           kebanyakan mereka itu udah lebih peduli dengan teknologi modern yang

                           mereka miliki tanpa mempedulikan keadaan alamnya.”

Ira :”Kita tidak bisa langsung menyimpulkan seperti itu Nia. Inget kata

pepatah bahwa kita itu tidak bisa melihat buku dari sampulnya saja. Sehingga kita tidak bisa menilai generasi penerus kita seperti itu, siapa tahu dibalik teknologi modern yang mereka gunakan terdapat rasa peduli pada alam dan bumi kita yang sangat tinggi melebihi kita. Sebelum kita tahu fakta dan kejelasannya kita tidak bisa menyimpulkan dan menilai apa yang orang lain lakukan.”

Magdania :”Benar juga sih katamu ra. Tapi gue itu amat sangat khawatir ra akan

                          keadaan bumi kita ini dimasa yang akan datang.”

Ira :”Hmmmmm gini aja, gimana kalau besok kita kumpulin Erigo dan Reno,

                           kita ajak mereka untuk menyelesaikan masalah ini. Siapa tahu dengan

                           dibantu mereka kita bisa menemukan solusi dari konflik yang ada

                           dipikiran lo ini.”

Magdania :”Boleh juga ide lo. Apalagi si Reno, dia pasti semangat banget buat bahas

                           masalah ini, dia kan jones pecinta alam, alam adalah ibarat pacarnya dia.

                           Yaudah sekarang gua kabarin mereka biar besok sepulang ngampus jam

                           4 sorean bisa kumpul ditempat seperti biasa.”

Ira :”Oke siap…. Eh besok kita boncengan aja ya.”

Magdania :”Iya ra…. makasih yaaa udah mau nemenin hehehehe selamat malam.”

Ira :”Malam juga….”

    (Ira mematikan teleponnya dan bergegas untuk tidur)

Magdania yang benar – benar ingin tahu tentang keadaan bumi 100 tahun mendatang dan mengingat kata Ira agar mengajak teman – temannya ia segera menghubungi Erigo dan Reno dengan ponselnya agar besok bisa berkumpul bersama untuk membahas masalah tersebut. Setelah menghubungi Erigo dan Reno, Magdania langsung siap – siap untuk tidur karena ia tidak sabar untuk menunggu hari esok tiba.

Keesokan harinya, seperti biasa Magdania membersihkan kamarnya dan bersiap untuk berangkat kuliah. Dengan perasaan yang sedikit lega dan bahagia sebab apa yang menghantui pikirannya semalam akan segera terpecahkan. Setelah jam mata kuliah Magdania selesai, ia langsung pulang untuk makan dan istirahat sebentar. Terlihat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, ia segera berangkat menjemput Ira untuk berkumpul di tempat biasanya sesuai dengan perjanjiannya dengan Erigo dan Reno semalam. Setelah sampai di suatu cafe, yaitu cafe dimana biasa mereka berkumpul terlihat Reno si anak pecinta alam sudah datang terlebih dahulu dan duduk dimeja cafe lengkap dengan makanan dan minuman yang menemaninya. Reno memanglah sangat suka bahkan sangat cinta dengan alam, sehingga ketika ada suatu konflik atau misi yang membahas tentang alam ia pasti bersemangat seakan akan alam adalah makanan sehari – harinya. Magdania dan Ira langsung menghampiri Reno, setelah menunggu beberapa menit Erigo datang. Magdania yang terkagum – kagum dengan Erigo, matanya langsung terbelalak melihat ketampanan Erigo yang tidak terdapat pada laki – laki lain. Magdania semakin bersemangat untuk menyelesaikan misi ini ketika Erigo datang. Tanpa menunggu lama setelah mereka berempat sudah berkumpul semua, Magdania langsung menceritakan tentang apa yang menghantui pikirannya semalam.

Magdania :”Jadi gini gais, kemarin itu waktu aku pulang dari rumahnya Ira di

   sepanjang jalan aku tuh kepikiran tentang bagaimana keadaan bumi kita

   ini 100 tahun mendatang.”

Reno :”Hah? apa lu bilang? Gue nggak salah denger nih…… Tumben otak lu

                           bisa mikir kayak gituan.”

Magdania :”Yeeeeee emang lu doang yang cinta sama alam.”

Erigo :”Ya keadaan bumi kita dimasa yang akan mendatang ya tergantung

                           dengan bagaimana sikap generasi penerus kita.” (Jawab Erigo dengan

                           santainya)

Ira :”Nahhhh gue sepemikiran sama Erigo.”

Reno :”Ya yang dibilang Erigo sih ada benarnya juga, jadi sekarang itu

                          masalahnya bagaimana caranya untuk membuat generasi muda penerus

                          kita itu bisa mencintai alam dan peduli terhadap bumi kita.”

Magdania :”Tapi Ren bukankah itu suatu hal yang sulit? secara bumi kita luas,

                          generasi penerus kita aja juga banyak nggak hanya yang ada disekitar

                          kita aja.”

Ira :”Apa gunanya teknologi? bukankah kemarin kamu sendiri yang bilang

                           kalau generasi muda penerus kita saat ini sudah banyak yang

                           menggunakan teknologi.”

Erigo :”Yaudah kalau begitu apa rencana kita selanjutnya untuk menjalankan

                          misi ini?.”

Reno :”Dalam menjalankan suatu misi sebelum kita melakukan penelitian

                           gimana kalau misi kita itu direncanakan sesuai dengan apa yang ada

                            pada diri kita?.”

Magdania :”Maksudnya gimana Ren?.”

Reno :”Kita kan mau mengajak generasi muda penerus kita untuk melakuka

                           budaya mencintai bumi kita demi nasib bumi kita 100 tahun mendatang.

                           Gimana kalau kita mengadakan event – event yang berbau alam, secara

                           gue sendiri kan suka sekali tuh hadir di event – event kayak gituan, nah

                           siapa tahu dari kesukaan gue ini ada orang lain yang juga tertarik sama

                           seperti gue. Kalian paham nggak?.”

Ira :”Oooooo iya iya Ren gue paham. Magdania, Erigo paham nggak?.”

Erigo :”Gue sih paham aja. Elu Da paham nggak?”

Magdania :”Paham lah wkwkwkwk.”

Reno :”Yaudah sekarang kita keluarin pendapat kita masing – masing lalu kita

                          rencanain tahap berikutnya. Dimulai dari Magdania, Ira, Erigo dan yang

                          terakhir gue.”

Magdania :” Kalau gue pribadi sih sukanya ikut – ikut seminar baik secara online

                          maupun offline. Menurut aku sih dari seminar itu selain kita bisa kenal

                          banyak teman kita juga bisa dapet ilmu, bahkan ada juga seminar yang

                          ngasih sertifikat ke kita sehingga sertifikat itu bisa kita gunakan untuk

                          keperluan pendukung pekerjaan atau yang lainnya.”

Reno :”Boleh juga sih, nanti seminar onlinenya bisa kita promosiin lewat sosial

                           media.”

Erigo :”Iya selain seminar online kan kita bisa juga ngadain seminar offline, ya

                           untuk langkah awalnya kita nggak perlu lah ngedatengin pembicara

                           ternama, pembicaranya bisa berasal dari kita atau minta bantuan dosen

                           kita pasti mereka mendukung.”

Ira :”Iya nanti seminar offlinenya kita adainnya yang berbeda dengan yang

                           lain. Seminar pada umumnya kan biasanya di gedung, nah kita di kayak

                          suatu tempat yang berbau alam atau kita adain di alam aja. Selain kita

                           nggak ngeluarin banyak biaya buat sewa gedung kita juga bisa

                           menjelaskan langsung kepada peserta seminar apa tujuan kita untuk

                            peduli dan cinta terhadap bumi kita ini. Gimana kalian setuju nggak?.”

Magdania :” Gue setuju Ra.”

Erigo :”Setuju  dengan ide kalian.”

Reno :”Kalau semua udah setuju, ayo kita lanjutin yang tadi. Dilanjut elu Ra?.”

Ira :”Kalau gue itu lebih suka ke kayak pementasan, jadi menurut aku gimana

                           kalau kita minta bantuan kampus kita untuk adain pementasan seperti

                           drama yang berisi suatu nasihat agar kita tetap peduli terhadap alam,

                           pentingnya nasib bumi kita 100 tahun mendatang. Nanti biayanya kita

                           open donasi di teman – teman sekampus, kira – kira cukuplah.”

Erigo :”Ide bagus. Pementasannya bisa kita share lewat sosial media jadi bagi

                           mereka – mereka yang tidak bisa datang tetap bisa nonton.”

Reno :”Nggak nyangka ternyata otak kalian cemerlang sekali ya sahabat.”

Magdani :”Seharusnya kan lu bangga punya temen kayak kita kita ini, ya nggak

                           Ra? wkwkwk”

Ira :”Tau tuh si Reno pinter salah bodoh salah maunya apa sih lo hahahahha.”

Erigo :”Udah – udah ayo dilanjutin biar cepet kelar nih misi.”

Reno :”Hahahaha kena lu berdua sama bang Erigo. Yok lanjut yok, giliran elu

   go gimana pendapat elu?”

Erigo :”Gue sukanya lihat – lihat pameran barang – barang unik dan antik.”

Magdania :”Dari kesukaan Erigo gue bisa simpulin gimana kalau kita daur ulang

                           sampah terutama sampah plastik. Kan banyak tuh anak jurusan prakarya

                           kalau nggak salah mereka jago banget buat kerajinannya kita bisa minta

                           bantuan mereka.”

Ira :”Yaudah berarti dari rapat kita hari ini untuk memecahkan masalah dan

                           menyelesaikan misi kita tentang bagaimana keadaan bumi kita 100 tahun

                           mendatang kita bisa adain seminar online yang masing-masing

                           pesertanya bisa dapat sertifikat, kita adain suatu acara atau event yang

                           didalamnya terdapat seminar offline, pementasan, dan pameran –

                           pameran menarik.”

Reno :”Good friend. Yaudah nanti malem aku buatin brosurnya, untuk Erigo, Magdania dan Ira kalian hubungi dosen kita dan temen – temen ya buat minta bantuan. Untuk masalah tempat yang strategis biar gue yang handle.”

Magdania :”Oke teman – teman gue sangat berterima kasih sekali pada kalian.”

Ira :”Iya sama – sama ra.”

Erigo :”Iya Da ini kan bukan hanya buat lo doing tapi buat kita semua yang ada di bumi ini.”

Reno :”Udah malem nih pulang yuk.”

(Akhirnya mereka berempat pulang ke rumah masing – masing dan menjalankan tugas yang telah dibagi oleh Reno tadi saat berkumpul)

Tidak lama kemudian hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan untuk mempersiapkan semuanya, akhirnya mereka bisa mengadakan acara seminar offline yang diikuti serangkaian acara yang lain. Acara yang mereka adakan telah banyak menarik perhatian para generasi muda. Sesuai kesepakatan sebelumnya, Reno mengadakan acara tersebut di suatu tempat yang sejuk yang dekat dengan sungai dan jalannya pun juga mudah dijangkau. Di dalam acara ini terdapat seminar offline yang dipandu oleh salah satu dosen mata kuliah ilmu pengetahuan alam, pementasan drama yang dipentaskan oleh anak jurusan kesenian dan pameran atau bazzar barang – barang hasil daur ulang yang dibuat oleh anak  jurusan prakarya. Acara ini dibuka untuk umum dan untuk segala jenis umur, yang lebih menarik lagi selain meriah acara ini tidak dipungut biaya. Seminar ini dihadiri oleh kurang lebih 1500 peserta yang mayoritasnya adalah para kalangan remaja. Tak hanya itu para peserta yang datang juga banyak sekali yang mau merogoh sakunya untuk membeli barang – barang prakarya hasil dari bahan daur ulang seperti tas, dompet yang ada pada bazzar kami. Ada juga sekelompok remaja yang ingin belajar mengenai bagaimana cara membuat barang – barang tersebut. Yang tak kalah menarik lagi menurut mereka adalah drama yang dipentaskan diatas panggung. Drama yang memang dari awal direncanakan untuk tidak terlalu mewah justru malah membuat para peserta sangat terkagum dan ingin menjaga dan peduli terhadap bumi kita ini. Magdania, Ira, Erigo dan Reno berharap setelah diadakannya acara ini generasi muda selanjutnya bisa memberikan rasa peduli yang tinggi pada bumi kita ini. Magdania yang sebelumnya sangat khawatir, ia takut jika acaranya ini gagal setelah melihat acara selesai ia sangat senang sekali. Ia sangat berterima kasih pada pihak – pihak yang telah membantunya terkhusus untuk sahabatnya. Memang pada awalnya Magdania adalah orang yang sangat takut acara ini gagal namun justru acara ini berjalan lancer diluar pikiran Magdania.

Oleh karena itu, pentingnya bagi kita para generasi muda untuk tetap melestarikan kekayaan alam kita, menjaga alam dan bumi kita agar anak cucu kita bisa iku menikmatinya. Memang kita sebagai manusia kecil kemungkinan untuk memiliki umur 100 tahun, tetapi jika kita sudah tidak ada kita pastinya akan meninggalkan anak cucu kita. Mereka berhak menikmati kekayaan alam kita. Kita tidak bisa untuk egois atau berpikiran “ngapain dijaga orang aku aja nggak mungkin sampai 100 tahun.” Kita buang jauh – jauh anggapan seperti itu, mari kita rubah pola pikir kita menjadi “Ayo jaga bumi kita, jangan sampai anak cucu kita merasakan ketidak nyamanan pada bumi kita ini.” Jika bukan kita yang menjaga siapa lagi? Pantaskah anak cucu kita merasakan sengsara akibat ulah kita? Pantaskah anak cucu kita sengsaranya melebihi kita? Coba renungkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *