Cerpen #238; “REFOREST”

Langit di permulaan hari tampak megah dengan jejak matahari yang malu-malu, namun hamparan Bumi di bawah langit biru tidak lebih menyedihkan dari luka borok yang sepertinya sulit disembuhkan. Seorang pemuda berdarah Sunda memotret lahan kerontang akibat terlahap api ganas yang meninggalkan bekas sayatan membentang dalam sanubari yang masih melunak.

“Siapa yang melakukan ini?” Gertak Dalfon emosional. Pemuda itu mengepalkan tangan, menaruh atensi lebih pada pemandangan asing yang melukai matanya.

Hurricane berhenti dari aktivitasnya dengan kamera yang mengalungi lehernya, pemuda itu beralih menatap teman-teman satu forumnya yang rela terbang dari Bandung ke Kalimantan untuk melakukan riset kebakaran hutan yang telah merenggut paksa paru-paru dunia.

“Oknum-oknum nakal yang gila dengan uang.” Sahut Nalengga menyentuh serpihan kayu yang telah berubah hitam.

“Selalu tersedia karpet merah untuk kaum kapitalisme, haruskah kita ucapkan selamat tinggal dan meroket ke Mars?” Ujar Brisa seraya membenarkan letak maskernya. Athena mendesah kasar, Brisa satu-satunya di antara mereka yang bercita-cita menjadi manusia penghuni Mars.

Mereka berlima mewakili forum peduli iklim untuk terjun langsung ke tanah Kalimantan, mahasiswa dari jurusan Meteorologi dan Klimatologi di sebuah institut terkenal di Bandung itu tak berbalik badan meski si jago merah masih kelaparan merayapi bagian lahan. Setelah sebelumnya ribuan personil diterjunkan untuk bergerak memadamkan api, namun titik panas belum juga sepenuhnya raib dari radar hutan yang luasnya berhektar-hektar.

Hurricane menatap sendu ke arah tanah yang berubah warna menjadi kelabu dengan partikel abu dari terbakarnya ranting-ranting tak bersalah. Ke mana larinya hewan-hewan yang kehilangan habitatnya? Bagaimana nasib anak bangsa yang menghirup Karbon Dioksida hampir setiap harinya?

“Fakultas kita sudah mulai open donasi?” Hurricane mengecek agenda riset karhutla di ponselnya. Athena yang mendengar itu menjawab sambil menunjukan ponselnya yang berisi pesan dari salah satu mahasiswa. “Mereka gerak cepat dan sekarang pundinya mulai terkumpul banyak.”

Hurricane mengangguk lega.

Tidak hanya hutan berharga yang  kini dijajah kelembutannya oleh jiwa-jiwa haus memanjakan korporasi demi keuntungannya sendiri, dampaknya pun tak berkelakar dengan adanya data rumah sakit yang intensitasnya melambung tinggi, sebab kualitas udara menurun sejalan dengan kabut asap menyelubungi langit pulau seribu sungai.

“Bagaimana cara menghentikan mimpi buruk ini?” Brisa berjongkok lalu menyentuh pohon yang sudah tidak berbentuk dan kehilangan perannya sebagai pemasok Oksigen.

“Dengan curah hujan yang cukup tinggi agar setidaknya pergerakan api itu jadi melambat atau bahkan benar-benar berhenti mengecap lahan.” Jawab Hurricane kembali memotret bagian detil setiap inci yang ia rasa penting untuk didokumentasikan.

“Jika tidak ada hujan sama sekali, kita bisa menerapkan modifikasi cuaca yaitu dengan membuat hujan buatan.” Sambung Athena.

“Ya ampun, bukankah masalah Bumi sudah terlalu banyak? Persoalan krisis air di Jawa Timur, degradasi lingkungan yang terus meningkat, gagal panen di Nusa Tenggara, belum lagi kutub es yang semakin mencair. Apa masalah kita gak cukup hingga berani menambah beban dengan membakar hutan?” Keluh Dalfon mengamati bagian langit yang terlukis asap mengepul dari wilayah yang lumayan jauh dari lokasi mereka.

Athena, Brisa dan Nalengga saling mengangkat bahu tanda tak tahu. Mereka pun tidak habis pikir dengan cara yang dilakukan oleh tangan kaki korporasi yang sepertinya mengabaikan akibat dari eksploitasi hutan besar-besaran.

Asap kebakaran mengandung Sulfur Dioksida yang berisiko membuat iritasi selaput lendir pernapasan. Jarak pandang juga menjadi terbatas sehingga menyulitkan saat berkendara.  Berbeda dengan pelaku yang menyalakan sumbu api tanpa belas kasihan, para pemain di balik karhutla itu berusaha membatasi sudut pandangnya demi cuan-cuan yang menyegarkan mata. Hurricane diam-diam mengkhawatirkan ayahnya.

Yang merupakan pemegang kekuasaan tertinggi di perusahaan besar miliknya.

Cukup masuk akal jika ia berpikir mengarah ke sana, namun pemuda itu segera menepis pikiran buruk yang menggerayangi kepalanya.

“Ayo, bereskan sekarang! Setelah itu kita pulang ke penginapan buat istirahat.” Usul Nalengga disetujui oleh Hurricane sebagai ketua forum peduli iklim.

//

Jadwal interview telah tiba sehingga anggota forum peduli iklim sudah bersiap sejak matahari mulai merangkak naik. Detik ini mereka tengah berbincang dengan seorang pria jangkung yang memiliki ketersediaan menjadi narasumber setelah sebelumnya beberapa orang hadir memberikan keterangan seputar karhutla.

Ponsel Hurricane berdering bertepatan saat ia tengah merekam lewat kamera yang berdiri memakai tripod. Pemuda itu memberi kode pada Dalfon untuk mengangkat panggilan lalu kemudian beralih ke tempat lain.

“Hallo, Ma.”

“Hallo, kamu baik-baik saja di sana?”

Alhamdulillah, Ma.”

Percakapan melalui telepon seluler itu berlangsung beberapa menit hingga akhirnya Hurricane terbesit untuk menyuarakan kegelisahan yang dirasakannya sejak semalam.

“Ma, Papa sekarang di rumah atau di Kalimantan?” Tanyanya hati-hati.

“Papa di rumah, Nak. Kenapa?”

Hurricane bergeming sejenak. “Papa bolak-balik Kalimantan buat ngurusin bisnis kelapa sawitnya?”

Ada jeda beberapa saat setelah Hurricane mengatakan itu, seolah dugaan laki-laki itu kini diperkuat oleh diamnya sang mama, namun Hurricane tak ingin orang penting di hidupnya merupakan bagian villain di balik kasus yang ia usut sekarang.

“Papa bukan bagian dari orang-orang korporasi yang menyiram bensin di lahan gambut demi kepentingan usahanya ‘kan?” Hurricane kembali bertanya dengan nada mendesak, tersirat nada kekhawatiran yang tampak semakin nyata. Ia menahan napas sebentar sebelum suara wanita itu kembali terdengar.

“Bukan.”

Hurricane kembali bergeming, tak lama kemudian mengembuskan napas pelan. Tahu jika ibunya tidak mungkin berbohong, maka laki-laki itu percaya dan mulai bertekad membuang prasangka-prasangka buruknya. Telepon berakhir setelah wanita itu mengucapkan kalimat yang lazim dikatakan oleh para ibu di dunia, Hurricane hanya mengangguk meski ibunya tidak bisa melihatnya langsung selain mendengar suaranya.

Hurricane kembali untuk ikut menyelesaikan pekerjaannya, dilihatnya mereka yang tampak serius mendengarkan pria tersebut berbicara lugas. Dengan wajah yang menerawang jauh, tanpa sadar mereka pun ikut membayangkan kejadian yang tengah pria itu paparkan.

“Saya sempat melihat sejumlah mobil yang berisi beberapa pria menyusuri jalan hutan yang saat itu saya dan rekan sedang latihan survival.” Ungkap pria yang berprofesi sebagai tour guide yang memandu pendaki gunung pemula itu.

Hurricane menatap lurus pada layar kamera yang tengah menyorot pria tersebut, bisa ia rasakan rona pilu yang tersimpul melalui matanya, pria itu merasa terluka dengan rusaknya kawasan tempat ia berpetualang.

“Harusnya kami memberhentikan mobil-mobil itu karena mereka datang tepat sebelum kebakaran itu terjadi, entah kenapa saat itu kami sama sekali tidak menaruh curiga.” Jawabnya dengan raut wajah penuh penyesalan.

“Apakah Anda yakin orang-orang tersebut adalah pelakunya?”

Pria itu mengangguk penuh keyakinan. Ia menduga orang-orang itu adalah pemilik perusahaan yang sengaja membakar lahan untuk membangun kontruksi jika lahan itu telah ‘dibersihkan’ dengan cara mereka.

“Informasi yang menarik.” Bisik Brisa pada Nalengga.

“Apa yang Anda lakukan untuk memeraangi karhutla?” Athena kembali mengajukan pertanyaan yang ke sekian kalinya.

Pria bernama Danum itu mengela napas pelan, “Tentu saja kami ikut membantu Damkar memadamkan api. Secuil pun kami tak rela kehilangan jumpun yang sudah lama dijuluki sebagai paru-paru dunia.”

Para anggota forum peduli iklim mengangguk paham. Tak hanya warga sana, seluruh masyarakat Indonesia pun turut berduka atas berpijarnya luapan api yang menelan kapasitas lahan.

Mereka mengakhiri sesi interview setelah adzan duhur berkumandang. Cuaca Kalimantan cukup panas meski mega bergumul  mendung dengan sedikit menggelapkan suasana. Brisa yang non-muslim menunggu di luar masjid seraya merapalkan doa agar hujan turun lebat tanpa harus memikirkan jalan becek yang tidak ia sukai. Demikian dengan tiap insan yang meletakkan dahinya di atas tanah, mengadu pada Tuhannya yang maha mendengar, berharap doanya menembus langit untuk kemudian dikabul. Barangkali dosa mereka melebihi tebalnya kabut asap hingga Tuhan menghukum dengan cara-Nya, mereka sedang tak ingin berharap yang lain kecuali semuanya selamat.

Kalimantan tengah terjerat kelumpuhan yang siapapun ingin memeluknya untuk bergerak menenangkan. Mereka menjaga hati yang tidak berhenti melangitkan doa untuk negerinya yang malang.

Anggota forum peduli iklim beristirahat di serambi masjid seraya menunggu baterai ponsel dan kamera terisi penuh.

“Ya Tuhan, hujannya mulai turun!” Pekik Brisa memeluk Athena dengan semringah.

Air yang mengandung H2O berjatuhan dari awan yang merayap di bawah lapisan troposfer, mereka  menerbitkan senyum dengan rasa syukur yang terus menerus menyebar menyelimuti perasaaan haru. Rasa takut Hurricane juga sedikit terkikis seiring air asam nitrat itu membasahi Bumi. Setidaknya karhutla bisa reda oleh dinginnya hujan yang kini semakin deras.

//

Masa penelitian berlanjut ke hari berikutnya, kali ini mereka bergabung dengan masyarakat yang berpartisipasi memadamkan lautan api. Dengan semangat yang menggelora, Pak Muh, seorang pria tua berteriak nyaring memberi aba untuk menyiramkan air yang diperoleh dari sungai terdekat, mereka mendapatkannya dengan cara mengangkut air menggunakan ember dan drum besar.

Meski menyedihkan karena kehilangan sumber kehidupan, mereka tetap bisa tersenyum di hadapan luapan benda merah yang apabila kecil menjadi kawan besar menjadi lawan.

“Ayo, Nak! Jangan terpuruk dengan kesedihan yang tidak ada habisnya, kita orang yang harus bangkit tanpa pandang bulu untuk memerangi penjajah Bumi!” Ujar Pak Muh terdengar seperti narasi epos.

Hurricane terbawa suasana hingga tak sadar kakinya yang beralas sepatu kanvas telah menjorok ke dalam kubangan rawa-rawa yang tertutupi dedaunan kering. Ia terperanjat saat tubuhnya sedikit merosot, Athena yang menyadari itu segera menarik lengannya cepat, namun usahanya hanya sebatas menarik lengan tanpa keluar hasil.

“Hurr, kamu kenapa berat banget!” Keluh gadis itu dengan wajah menahan beban.

“Tenaga kamu yang kurang kuat, bukan aku yang berat.” Hurricane berusaha keras untuk menggapai permukaan tanah yang bidang, laki-laki itu akhirnya berhasil mengeluarkan tubuh bagian kakinya yang telah terlumuri tanah basah dari rawa-rawa.

“Astaga, apa jadinya kalau kamu tenggelam? Berubah jadi monster rawa yang suka nakut-nakutin warga!”

“Na, itu gak bakal terjadi. Kubangannya ternyata cuma tiga puluh senti dan kalau kamu gak narik pun gak bakal bikin aku tenggelam.” Tutur Hurricane dibalas tatapan maut dari Athena yang menyesal telah panik karena masalah kecil di tengah-tengah mereka berlarian memadamkan api.

Sesuatu terdengar seperti suara mendecit mengalihkan perhatian mereka, Hurricane sempat mengira itu suara burung terjepit, maka ia menyapu pandang ke sekeliling udara, namun ternyata tak ditemukan apa-apa.

“Hurr, sini!” Panggil Athena yang sudah berlutut di dekat sumber suara yang letaknya tak jauh dari kubangan rawa-rawa. Hurricane mendekat dan melihat seekor burung dara yang sebelah sayapnya menjuntai layaknya bunga layu, sorot burung itu kentara menahan pedih dilihat dari luka bakar yang tercetak pada sayap yang telah kehilangan fungsinya.

“Burungnya harus diobati sekarang, Na.”

Athena mengangguk cepat lalu mengais burung tersebut kemudian berlari kecil menuju jalan raya sekitar bibir hutan untuk memberhentikan tranportasi umum. Hurricane pergi menyusul setelah sebelumnya meminta izin pada teman-temannya untuk mengurusi hewan naas yang membutuhkan pertolongan itu.

“Baguslah kalian menemukannya sebelum terlambat, mungkin burung ini akan mati jika lukanya dibiarkan sampai infeksi.”

Hurricane dan Athena saling bertukar pandang mendengar pemaparan dokter hewan yang telah selesai membereskan luka bakar burung dara itu, sebelumnya mereka sempat khawatir lukanya akan semakin parah karena jarak klinik dokter hewan harus ditempuh hampir empat puluh lima menit dari lokasi hutan.  Namun, mereka bersyukur burung itu bisa diobati meski nantinya membutuhkan waktu cukup lama untuk benar-benar sembuh.

“Terima kasih, dok!” Ujar Athena seraya memerhatikan gerak kecil burung dara di atas meja pemeriksaan.

“Belakangan ini, klinik saya dikunjungi pasien-pasien special yang telah berjuang dari kejaran api, tetapi sebagian dari mereka tidak sempat menghindar sepenuhnya.” Dokter Yongki berujar seraya mengarahkan mereka ke jajaran kandang hewan yang disimpan di ruangan lain, hewan-hewan itu dibawa oleh relawan ataupun petugas Damkar untuk dirawat di klinik ini.

Athena meringis nyeri saat seekor anjing berusaha bergerak dengan satu kakinya yang pincang, lalu seekor bayi koala bertubuh kurus dijelaskan oleh Dokter Yongki bahwa hewan malas itu baru saja kehilangan induknya yang diduga telah mati di saat pohon tempat mereka tinggal ludes terbakar.

“Apakah hewan-hewan ini akan dikembalikan setelah mereka pulih, dok?” Tanya Hurricane.

“Saya tidak yakin mereka akan kembali ke habitat asli, andai hutan itu tidak juga pulih dari kebakaran, mungkin mereka akan ditampung di karantina hewan.” Balas Dokter Yongki.

Dari sini lensa Hurricane menjadi terbuka lebar untuk lebih peka pada lingkungan, terlebih pada kasus-kasus yang terjadi di sekitarnya. Bukan lagi soal siapa yang mengaku akan menjadi pahlawan, namun siapa saja yang rela mengorbankan dirinya untuk keselamatan bersama. Hurricane sadar ia telah terlampau jauh dari nuraninya sendiri, bayi harimau yang tertidur dengan kondisi sebagian bulu rontok itu menggugah hatinya bahwa karhutla benar-benar terlalu kejam untuk mereka.

Tidak seharusnya hewan-hewan tak berdosa itu juga ikut merasakan akibat ulah dari tangan manusia.

Sekembalinya Hurricane dan Athena ke penginapan, Dalfon, Nalengga dan Brisa tengah berkumpul sambil menyantap makan malam. Cerita mengalir tentang apa saja yang telah mereka lalui hari ini. Rentetan kejadian yang membawa perubahan besar pada diri mereka yang mendapat ilmu baru dalam rentang kisah yang tersusun apik dalam skenario semesta.

“Pak Muh orang yang kuat, beliau masih berusaha keras ikut memadamkan api di sela-sela merawat anaknya yang mengidap ISPA.” Tutur Brisa sedikit menunduk.

“Dan Theo putus sekolah karena ikut bekerja untuk membiayai ibunya yang sakit pneumonia sejak kebakaran itu terjadi.” Sambung Nalengga di tengah senyapnya ruang yang terisi lima orang itu, namun senyap itu buyar ketika isak tangis menyeruak dari seorang Brisa yang tidak dapat menahan getir.

“Lihat, berapa banyak yang sudah nelangsa menanggung dampaknya krisis iklim?” Tutur Hurricane serius, “Kalau kita apatis, bakal serongsok apa planet yang kita tinggali ini?”

Seketika atmosfer ruangan itu berubah sedikit panas, masing-masing terbayang oleh elemen-elemen yang bisa membumihanguskan dunia tempat mereka tinggal, salah satunya adalah emisi gas yang dihasilkan dari kebakaran lahan. Jika dibayangkan dengan erat, krisis iklim memang sangat mengerikan. Apalagi kabar benua akan tenggelam pada seratus tahun mendatang dan hanya menyisakan satu benua.

Athena bergidik ngeri. Gadis paling penakut yang tidak boleh diperlihatkan padanya kabut tebal secara jelas karena menderita homichlophobia. Hurricane sudah memberinya ultimatum agar ia tidak ikut kegiatan riset ini, tetapi Athena memang keras kepala. Gadis itu justru berjalan mendongak menghadapi ketakutannya.

“Kita perlu melakukan sesuatu.” Tegas Dalfon.

//

Hurricane memandang kosong dari balik jendela pesawat yang meyuguhkan pemandangan memukau dari wajah daratan. Satu hal yang membuatnya merasa pilu, sejumlah titik pada suatu wilayah tampak gersang dan itu tak lain adalah daerah hutan yang mereka kunjungi tempo hari.

Perpisahan itu terasa sangat berat saat mereka melambai dengan senyum berbaur cemas pada warga yang ikut mengantarnya sampai ke perbatasan kota. Kini tidak ada yang bicara banyak selain karena menahan sesak sebab meninggalkan tempat penuh makna yang memberinya ruang kesadaran diri.

Penerbangan mereka berjalan lancar hingga mendarat mulus di Bandung, setelah sebelumnya saling berpamitan untuk kembali ke rumah masing-masing, hanya tersisa Hurricane yang sedang berada di ruang tunggu. Laki-laki itu menunggu kedatangan sang ibu yang sedang dalam perjalanan menjemputnya.

“Gila sih, ada penangkapan pelaku kejahatan di bandara gini.” Tutur seseorang pada temannya yang tidak sengaja terdengar oleh Hurricane.

Hurricane mendongak penasaran, ia menoleh pada kerumunan yang tercipta tidak jauh darinya. Tampak seorang pria dengan jas biru langit tengah ditahan oleh orang-orang berjaket kulit, barangkali para polisi itu awalnya melakukan penyamaran sebelum menangkap targetnya.  Hurricane perlahan mendekat untuk mengetahui apa yang tengah terjadi, matanya membulat sempurna saat pria itu mulai digiring keluar. Seperkian detik laki-laki itu tak bisa melancarkan detak jantungnya dengan normal.

Kejadian itu menyedot banyak perhatian dari orang-orang di bandara, tangan pria itu dalam keadaan diborgol dan polisi menyeretnya menuju kantor polisi.

“Benarkah itu Anda?” Hurricane nekat menahan mereka di dekat pintu keluar. Ia sedikit meringsek saat seorang pengayom masyarakat itu menjauhkan tubuhnya agar tidak medekat.

“Ini tidak seburuk yang kamu pikirkan.” Balas pria itu menatap lurus.

Hurricane tersenyum masam, mungkin tidak buruk bagi sudut pandangnya, namun Hurricane lebih khawatir dampak dari perbuatan pria itu. “Bagaimana Anda bisa melakukan ini, sedang anak Anda sangat sibuk menghadapi kebakaran hutan yang membuatnya menangis semalaman saat di Kalimantan?”

Pria itu terdiam. Keterkejutan di matanya tampak jelas bahwa itu menggambarkan ia belum sepenuhnya kehilangan simpati.

“Anda bisa melakukan apa pun, tetapi tidak boleh melukai orang lain yang berimbas buruk pada Anda sendiri.” Hurricane kepalang sentimen, ia menyesali siapa yang kini tengah menatapnya nyalang di antara orang-orang yang menunggunya selesai.

“Bisakah kamu diam? Sebaiknya kamu pulang karena ibumu sudah menunggu lama.” Matanya mengarah pada sosok wanita yang membeku di seberang sana.

Pria itu kembali melanjutkan langkahnya bersama polisi yang merasa memberinya waktu terlalu banyak dan meninggalkan Hurricane yang termenung di tempat. Wanita yang berjanji mejemputnya beralih menghampirinya.

Puteranya pasti terluka.

Apalagi belakangan ini ia dikelilingi pikiran buruk yang menyangkut karhutla.

Rasanya kepala Hurricane akan meledak tak lama lagi, ia menatap sayu pada wanita yang melihatnya khawatir, kemudian puncak kepalanya bertengger di pundak sang mama.

“Mama tahu kamu kecewa, tapi mungkin dia lebih kecewa.” Mama mengusap lengan puteranya pelan.

Beberapa hari setelah itu sangat melelahkan dengan segala hal yang berkecamuk di kepala, entah mengapa semuanya jadi terlihat membuatnya kesal hingga Hurricane kehilangan selera makan meski di atas mejanya terhidang cumi saus tiram kesukaannya.

Hurricane tak tahan untuk tidak pergi ke rumah Dalfon. Ia beringsut bangun lalu menyambar jaketnya asal, melenggang pergi di tengah teriakan mama yang menyuruhnya untuk kembali makan.

Hurricane tidak berbohong jika ia mengaku turut menjadi zombie setelah melihat Dalfon yang dengan santainya meneguk minuman soda sambil menonton tv.

“Kamu gak tidur sejak kemarin? Kusut sekali.” Komentar Hurricane membuka obrolan.

Dalfon mengembuskan napas lelah. Laki-laki itu menyeka sekitar mulutnya yang basah oleh cairan soda. “Ayah masih proses pemeriksaan, minggu depan ia sidang di pengadilan.”

 Hurricane mengangguk.

“Kenapa harus Ayah?” Sesalnya di sela-sela kemarahan yang tersirat.

Hurricane terdiam kaku. Kalau ia berada di posisi Dalfon, mungkin ia akan mengamuk dan menuntut Buminya kembali ke semula pada korporasi-korporasi yang di dalamnya termasuk pria yang disebutnya ayah.

“Aku gak menyesal punya ayah. Cuma sedikit malu oleh orang-orang di kampus, seorang aktivis lingkungan yang justru ayahnya adalah pelaku dari karhutla itu sendiri.”

Kabar penangkapan ayah Dalfon memang belum menyebar dan tidak banyak orang tahu. Namun tetap saja itu membuat Dalfon kehilangan kepercayaan dirinya, ia yang paling antusias jika membicarakan Bumi, maka hal seperti ini cukup membuat hatinya tergorok.

“Kita tahu ini berat, Dal. Tapi siapa pun dan bagaimana pun orang-orang terkasih di sekitar kita, itu gak boleh jadi alasan berhenti peduli pada Bumi.”

Dalfon mengangguk mengerti. Karena kecintaannya pada alam yang menemaninya sedari kecil, Dalfon tak ingin kehilangan hobinya yang berpetualang dengan mengeksplore hutan-hutan lindung.

“Ayah dan aku bertolak belakang. Memang sangat disayangkan karena kami jarang sejalan.”

//

Suasana kampus menyala dengan meriahnya acara di hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diselenggarakan tanggal lima Juni. Ratusan mahasiswa turut berpartisipasi untuk menghidupkan acara ini, termasuk Dalfon yang kini berhasil melepas kesedihan soal ayahnya. Mereka kompak berbaur satu sama lain, dengan tema yang menyenangkan dan kode kostum yang unik, lautan manusia di bawah deretan bendera kertas warna-warni yang membentang sana sini tampak lucu dengan berbagai kostum yang mereka pakai.

Hurricane memberi arahan sebagai ketua forum peduli iklim yang mewakili panitia untuk mengarahkan mereka ke belakang kampus, di lahan yang masih kosong, masing-masing jurusan mendapat satu bibit tanaman untuk ditanam di sana.

“Ih, jorok tahu!” Sentak Athena yang ditodong cacing oleh Hurricane. “Taruh cacingnya atau aku pukul nih pake sekop?” Ancam Athena yang justru dibalas kekehan geli dari Hurricane.

“Bercanda mulu ini orang berdua.” Tegur Dalfon diikuti Nalengga dan Brisa yang telah selesai menanam bibit jambu kristal yang rencananya jika tanaman itu sudah tumbuh besar, mereka akan kembali untuk memetik buahnya.

“Gimana rencana kita selanjutnya buat karhutla?” Tanya Nalengga.

“Kayaknya, donasi bakal terus diadakan secara rutin dalam tempo waktu yang lama. Kampanye peduli lingkungan juga bakal terus kita galakkan di dunia nyata mau pun media sosial.” Jelas Hurricane.

Suhu tinggi dari pemanasan global bisa membakar ranting kering dan curah hujan yang rendah menyebabkan kebakaran sulit untuk diberhentikan secara keseluruhan. Pilihan masyarakat di sekitar hutan yang menggunakan api untuk membuka lahan juga masih eksis meski mereka tahu dampaknya seperti apa.

Hurricane mengambil jepretan foto dari bibit tanaman tabebuya yang telah ia tanam di tanah gembur. Brisa ikut menyembulkan wajahnya pada lensa kamera disusul Athena seraya memamerkan barisan giginya. Akhirnya sesi potret terjadi dengan saling berebut ruang untuk tampil pada hasil foto. Mereka tertawa, berbagi secercah senyum dibalik lara yang terbungkus rapi. Karhutla mungkin memberi efek perih di sisi benak. Namun, mereka tak ingin perhatiannya hilang, apalagi lupa jika Bumi tengah merongrong ketakutan bersama berubahnya iklim.

Reforest.

Penanaman kembali agar hutan menjadi hijau. Agar Bumi kembali berseri, tidak seharusnya kita membunuhnya dengan terus melukai miliaran makhluk hijau yang sangat berperan penting bagi kehidupan.

4 thoughts on “Cerpen #238; “REFOREST”

  1. Cukup menarik, karena dalam ceritanya masalah yang dibawakan hanya instrumen alam bagi kebutuhan hidup manusia, tetapi Saya membaca ini dari awal sampai akhir merasa diajak untuk tertawa sepanjang ceritanya meskipun bukan dibagian lucunya, tetap lucu deh. Untuk kualitas penulisan sudah cukup baik, enak dibaca deh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *