Cerpen #237; “Gadis dengan Seratus Lentera di Kepala”

Negeri keringat. Begitulah orang-orang menyebutnya. Para penduduk di sana setiap waktu selalu berkeringat. Keringat seolah tak mampu lepas dari mereka. Keringat itu melebur di dahi, kepala, leher, punggung dan sisi mana saja dari bagian tubuh mereka. Di negeri itu, para lelaki suka melepas bajunya, para perempuan seringkali mengenakan kaus pendek semata. Sebab terlalu gerah dengan tubuh, dengan lengket keringat di baju.

Di dalam negeri itu, betapa keringat begitu sukar dihilangkan. Sebanyak apapun orang-orang mandi, mengguyur tubuh dengan air utuh, keringat kembali lagi ke tubuh mereka. Bahkan serupa air kran, begitu deras alirnya. Konon hal itu berawal dari pepohonan yang menghilang dan banyak mesin yang tumbuh di negeri tersebut.

Sampai di suatu masa, berita tentang negeri keringat sudah sampai di negeri pengetahuan. Seorang gadis bernama Nabila ingin mengetahui sebab negeri tersebut menjadi seperti itu. Dia pergi ke negeri keringat, dengan membawa ragam buku pengetahuan miliknya. Mencari apa yang sebenarnya terjadi di sana. Betapa dia menyaksikan di pertengahan siang, di jalan-jalan, banyak orang berlarian. Keringat dan matahari seolah bekerja sama, membuat gerah. Nabila sendiri sudah penuh dengan bulir keringat yang tak lekas.

“Mengapa semua orang terlihat tak nyaman? Bahkan aku sendiri merasa di sini gerah dan berkeringat?” gumam Nabila.

Nabila memilih untuk mengontrak di suatu tempat di negeri keringat. Ia menyewa satu rumah di mana dia merasa banyak barang-barang yang tak pernah dia gunakan. Kulkas, pendingin udara, dan banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu dia butuhkan di sini. Namun dia tampak acuh dengan fasilitas itu. Pikirannya fokus pada masalah yang ingin segera dia pecahkan. Malam itu, dia memutuskan beristirahat dan melanjutkan penelitian di hari selanjutnya.

***

Pagi ini, Nabila telah bangun. Dia menyiapkan banyak hal untuk menggali informasi tentang negeri keringat. Dia ingin mewawancarai para penduduk bagaimana seluk-beluk tentang negeri ini. Rencananya, dia akan mendatangi taman kota, pusat di mana banyak orang biasa berkumpul. Selepas mandi dan sarapan, dia menuju taman kota yang dekat dengan penginapannya. Baru melangkah beberapa meter, wajah dan tubuh Nabila sudah dikepung asap dari ragam kendaraan. Di sisi kanan jalan, dia menyaksikan situasi macet yang begitu membosankan. Suara klakson ditambah kepulan asap hitam makin bertebaran. Mengikuti jalan kecil khusus pejalan kaki, dia tetap berjalan mengikuti arah dari papan informasi kota. Namun setengah jam mencari, dia masih belum tampak di mana taman itu berada. Sampai pada suatu titik, dia menemukan tembok putih yang dindingnya tertutup papan reklame bertuliskan taman kota. Tempat yang hanya berisi deretan tempat duduk dan meja yang mustahil dinamakan sebuah taman, bahkan untuk terkesan rindang. Sebab tak ada satupun tumbuhan yang ada di sana.

“Betapa malangnya taman kota di negeri ini. Begitu tak terurus bahkan bukan seperti taman. Tak ada satupun pepohonan di sini,’’ ujar Nabila.

Taman kota begitu kosong dan tak ada yang menempati. Orang-orang juga tak ada yang mampir di sana, seolah taman ini tak pernah digunakan lagi.

“Ah, padahal di negeri pengetahuan taman kota begitu disukai banyak orang. Di sore hari usai kegiatan yang padat merayap atau di pagi hari ketika hari libur, taman kota begitu banyak menarik minat orang-orang. Ada yang sekadar rehat sambil menuntaskan buku bacaan, ada yang berjalan-jalan sederhana dengan keluarga, dan lain-lain. Di sini ternyata sungguh berbeda. Mereka menghabiskan waktu di mana ya?’’ ucap Nabila.

Lalu tanpa pikir panjang, Nabila menuju pusat perbelanjaan dan hiburan kota. Ternyata benar, di sana begitu ramai orang berkumpul. Walau badan begitu gerah, mereka tampak asyik saja seolah keringat yang mengguyur sudah biasa, menjadi bagian dari mereka. Nabila mendekati seorang orang tua, mencoba mewawancarai.

“Permisi Pak, saya Nabila. Mau izin wawancara sebentar ya, Pak?” tanya Nabila.

“Iya mbak. Mau tanya apa?” jawab Bapak.

“Jadi gini Pak, saya mau tanya seputar negeri keringat ini. Mengapa ya pak negeri ini bisa dikatakan keringat? Mengapa hal itu bisa terjadi?” ucap Nabila dengan penuh antusias.

“Halah mbak. Kau ini siapa? Kau pendatang baru? Pendatang baru kok udah sok benahi negeri. Di negeri kami keringat itu sudah seperti baju. Selalu melekat di tubuh kami. Ya memang dulu ga nyaman, tetapi sekarang udah terbiasa. Kau tak usah ikut-ikut ngurusi hal beginian,’’ balas Bapak tua tersebut seraya meninggalkan Nabila.

Nabila agak sedih namun dia tak gentar diperlakukan demikian. Dia merasa ini bukan hanya masalah tentang keringat saja, namun ada masalah yang lebih besar. Dia bertekad menemukannya. Dia akan mencari tempat lain, pusat perbelanjaan dan hiburan bukan tempat yang pas untuk mencari informasi seperti ini.

***

Sore ini, Nabila berencana mewawancarai dan mencari informasi di orang-orang jalanan. Dia mencari orang yang sedang duduk santai dan tidak memiliki kesibukan apapun. Lama mencari, dia menemukan seorang kakek penyapu jalanan yang sedang santai di tepi jalan. Kali ini, Nabila mendekati dengan pelan-pelan.

“Permisi Kakek, perkenalkan nama saya Nabila,” Berucap dengan pelan.

Menatap dengan sendu “Iya Cu, ada apa Cu?” jawab Kakek.

“Saya mau tanya-tanya sedikit boleh ya Kek, tentang negeri ini?” tanya Nabila.

“Iya, boleh. Mau tanya apa Cu?” Kakek menjawab sambil memandang pelan ke arah Nabila.

“Jadi gini, Kakek kan pasti sudah lama tinggal di negeri ini. Menurut Kakek, perubahan apa yang begitu mencolok di negeri ini? Lalu kejadian-kejadian yang sebelumnya tidak pernah terjadi dan sekarang sering terjadi?’’ tanya Nabila.

Kakek itu menatap langit, seolah menerawang masa lampau yang pernah terjadi di hidupnya. Betapa ekspresi Kakek itu begitu cepat berubah. Beberapa menit pertama Kakek itu menyunggingkan senyuman, lalu di menit berikutnya Kakek itu menuangkan sedih yang begitu menderu. Membuat suasana bahkan Nabila sendiri ikut sedih melihatnya.

“Kakek? Kakek mengapa?” tanya Nabila.

‘’Ah, Cu. Kakek teringat masa lalu Kakek. Masa kecil yang begitu indah. Hamparan sawah, tumbuhan hijau dan pepohonan ada di mana-mana. Dunia Kakek begitu indah, semua ada di alam. Buah, Sayur, dan apapun semua ada di alam. Kakek tidak merasakan panas y ang teramat sangat seperti sekarang. Betapa indah kehidupan pada saat itu,” Kakek bercerita dengan seulas senyuman.

“Lalu apa yang membuat Kakek menangis tersedu-sedu?’’ tanya Nabila hati-hati.

“Kenangan itu, kenangan buruk yang membuat Kakek begitu sedih untuk mengingatnya. Kenangan ketika mesin-mesin itu datang dan merusak kehidupan. Sejak saat itu, semua berubah. Betapa banyak lahan hutan di sekitar rumah Kakek dibakar, digunakan untuk bercocok tanam. Lalu ditinggal begitu saja. Tahun berikutnya, mesin-mesin yang dikatakan canggih itu berdatangan  entah dari mana asalnya. Menciptakan uap putih seperti kabut pagi namun tak menyegarkan, justru berbau tak sedap dan banyak membuat orang batuk. Semua orang menaiki mesin itu. Mereka menamakannya sepeda motor, mobil, dan lain sebagainya. Lalu orang-orang juga mulai bersaing menciptakan mesin. Mesin tak bergerak. Mesin dengan kabut yang sama, kabut putih hitam keluar dari cerobong lalu mengepul ke udara dengan bau yang begitu menyengat, tak sedap. Sejak saat itu banyak hal berubah. Musim hujan dan panas tak bergerak sesuai waktunya. Orang tua Kakek dulu seorang petani sampai bingung memprediksi musim tanam, karena cuaca yang tidak dapat dikira seperti dulu dan dampaknya waktu panen kurang maksimal. Air sungai yang awalnya jenih berangsur-angsur keruh dan gatal-gatal ketika dipakai mandi. Kebakaran di hutan, kekeringan, dan angin topan sering terjadi tanpa sebab. Terkadang, jika hujan begitu lama, air meluap sampai ke lantai rumah Kakek. Betapa kakek dan orang tua Kakek sedih kala itu, kejadian-kejadian tak terduga dan aneh selalu terjadi,” kenang Kakek sambil mengusap matanya yang berlinang.

Nabila kini menangkap sebuah hal. Ya, sesuatu yang pernah dia baca di salah satu buku miliknya. Namun dia lupa, buku apa yang pernah dia baca.

“Ah, nanti sajalah aku cari buku itu. Setidaknya sejumlah informasi telah aku dapatkan hari ini,” gumam Nabila.

Setelah berbincang lama dengan si Kakek. Nabila mengucapkan terima kasih dan berpamitan pulang. Dia ingin segera mencari teka-teki dari sejumlah informasi yang telah diberikan oleh si Kakek.

***

Waktu demi waktu makin dinamis, bergerak maju di setiap detiknya. Pada pucuk laju kehidupan, yang bergerak akan berinovasi dan yang hanya diam akan tertinggal dan tenggelam. Dini hari, Nabila memilih menghabiskan waktu dengan membuka dan membaca satu persatu buku di kontrakan miliknya. Semalam penuh telah dia habiskan untuk beristirahat dari hiruk-pikuk perjalanan panjang. Kini Dia membaca berbagai macam buku yang dia bawa dari negeri pengetahuan, satu tas buku yang kemarin telah dibawa namun belum sempat terbaca sebelumnya.

‘’Oh ternyata kejadian yang dialami Kakek itu disebut pemanasan global. Ekosistem di bumi tidak seimbang karena suhu atmosfer, darat, dan laut makin meningkat, dan ini ternyata sudah terjadi seratus tahun terakhir. Kalau ini terus-menerus terjadi, dampaknya bukan hanya panas. Namun lebih dari itu. Sungai bisa kering, hewan dan tumbuhan punah, permukaan air laut makin meningkat daripada daratan, cuaca ekstrem seperti yang Kakek ceritakan tadi, orang jadi ga bisa memprediksi waktu yang pas buat menanam, bertani, bahkan juga buat berkebun. Kalau ini berlangsung terus-menerus bahkan untuk seratus tahun ke depan, ini bisa bikin manusia kehilangan pekerjaan dan sumber makanan, bahkan parahnya lagi manusia sendiri akan punah,’’ ucap Nabila.

“Ini ga bisa dibiarin. Ini harus segera dicegah, sebelum berdampak lebih banyak. Tetapi bagaimana caranya ya?’’ tambah Nabila.

Ide Nabila bermunculan. Dia membuat banyak kertas informasi bergambar dan berwarna-warni serupa brosur untuk disebarluaskan. Dia berencana membagi brosur itu di setiap orang yang dia temui di jalan dan memberikan mereka brosur informasi untuk menjaga lingkungan.

“Semoga rencanaku ini berhasil membuka mata banyak orang,’’ harap Nabila.

Titik di mana dia berdiri untuk membagikan brosur sudah direncanakan. Dia berdiri di sekitar tempat parkir di pusat perbelanjaan, di jalan tempat orang-orang simpang siur berjalan hingga di sekitar pintu masuk pusat belanja. Namun respons yang diharapkan Nabila justru berbeda. Hanya sedikit yang menerima kertas pengumuman tersebut, bahkan tidak sedikit yang membuangnya ke tempat sampah dekat dengan Nabila berdiri.

Nabila mulai putus asa, badannya lunglai dan lesu. Dia tak menyangka membuat gerakan perubahan ternyata sesulit ini. Di sekitar tempat itu dia duduk, seraya memandangi brosur yang masih menumpuk di tangannya. Lama dia terdiam, tiba-tiba seorang lelaki datang kepadanya.

“Kak, permisi aku mau tanya. Kakak ini yang tadi ngasih aku brosur menjaga alam ya?” tanya seorang pemuda yang mengenakan kaus pendek dan celana panjang.

“Iya kak, benar. Itu saya. Kalau boleh tau siapa namamu?” Wajah Nabila terlukis bahagia kala itu juga.

“Aku Rayhan. Kamu pasti Nabila, kan? Aku baca dari brosur itu,” ucap Rayhan.

‘’Iya Rayhan, aku Nabila,” jawab Nabila.

“Jujur sebenarnya aku sering memikirkan ini, Nabila. Entah mengapa aku sebagai penduduk negeri keringat ini juga ingin sekali negeriku berubah seperti dahulu semasa aku kecil. Menurutku negeri ini sungguh beda dari apa yang aku rasakan. Aku jadi tahu kini apa penyebabnya sejak membaca brosur yang kau kemas dengan sederhana dan membuatku paham dengan situasi yang terjadi,” ucap Rayhan.

“Wah, aku salut ke kamu Rayhan. Ternyata masih ada penduduk negeri ini yang peduli dengan lingkungannya sendiri. Kukira sudah tidak ada,” ujar Nabila.

“Sebenarnya aku peduli dengan negeriku, Nabila. Namun aku juga bingung mau berbuat apa, aku juga kurang paham tentang ilmu pengetahuan begitu, sebab di negeri ini jarang menemukan orang menyukai ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, ketika dapat dan membaca brosur yang kau sebarkan, mungkin itu gerbang untuk menyelamatkan negeriku. Mungkin sedikit banyak tenaga atau hal lain, aku bisa membantumu,” ujar Rayhan.

Menatap Rayhan dengan tersenyum. “Terima kasih ya Rayhan sebelumnya. Sebenarnya setelah kuamati respon orang-orang ketika aku mulai nyebar brosur, ternyata dampak usahaku ini kurang maksimal buat bikin banyak orang sadar dan terpengaruh. Bahkan orang-orang yang sudah membaca brosur yang udah kuberi bisa diperkirakan satu banding sepuluh.”

Rayhan tampak berpikir. “Mempengaruhi ya? Bagaimana kalau kamu jadi tukang ramal aja? Di negeri ini, orang-orang bahkan lebihh percaya kepada tukang ramal daripada ilmu pengetahuan. Bahkan para pemimpin di negeri ini juga lebih percaya kep ada tukang ramal daripada ilmu pengetahuan,” usul Rayhan.

Nabila mendelik melihat Rayhan. “Tukang ramal katamu? Aku tak mau jadi pembual, Rayhan. Aku mengetahui sesuai ilmu pengetahuan yang aku pelajari. Aku hanya ingin menyampaikan fakta yang ada, Rayhan,” balas Nabila.

“Bukan Nabila, aku tak menyuruhmu untuk membual. Aku hanya ingin kamu dapat menyampaikan masa depan mereka lewat teropong ilmu pengetahuanmu saat ini. Sebutan tukang ramal itu hanya untuk membungkus ilmu pengetahuanmu agar lebih menarik,” ucap Rayhan.

“Wah, benar juga kamu Rayhan. Aku belum sampai berpikiran sejauh itu. Lalu, jika ada yang mereka tanyakan dan aku benar-benar tidak tahu, bagaimana menjawabnya?” jawab Nabila.

“Bilang saja ada bagian semesta yang tidak dapat kita terka. Tujuan kita kan agar mendapat perhatian dan dapat memengaruhi mereka terlebih dahulu,” balas Rayhan.

“Mengapa tidak kamu saja Rayhan yang melakukannya? Kamu yang menjadi tukang ramal itu?” ungkap Nabila.

“Karena aku selalu gugup Nabila jika berbicara kepada banyak orang, juga ilmu pengetahuanku yang kurang luas sepertimu. Jadi aku serahkan hal ini ke kamu,” balas Rayhan.

Nabila mengangguk. Dia mulai merencanakan apa yang harus dia lakukan. Berbagai properti disiapkan. Berbagai buku tentang membaca karakter orang telah dia pelajari sebelumnya. Di sela kesibukan, Rayhan menemani Nabila membaca buku, mencari hal-hal yang dibutuhkan untuk menjadi seolah tukang ramal dan berbagai macam alatnya. Tujuan besar mereka semakin di depan mata.

***

Pukul tiga sore ialah ranah bersantai banyak orang dari segenap penjuru kota. Kali ini Nabila dan Rayhan sudah siap dengan papan reklame dan tulisan besar yang bertuliskan mengajak meramal masa depan. Nabila sudah siap di dalam ruangan tertutup sederhana dengan sebuah meja dan topi budar. Rayhan bertugas menyebar informasi. Pertama kali, Rayhan mencoba memberi informasi lewat brosur yang mereka buat. Namun ketika tak ada tanggapan, Rayhan mencoba cara lain. Entah keberanian dari mana, dia berteriak dengan suara yang lantang.

“Marilah! Marilah mencoba ramalan masa depan. Jawaban yang kau inginkan segera datang. Ramalan ini tidak dipungut biaya. Gratis!” teriak Rayhan dengan lantang.

Membludak. Banyak orang berkerumun dan mengantre sepanjang jalan. Orang-orang banyak bertanya tentang hal sederhana hingga hal rumit dalam hidup, selain itu mereka juga bertanya tentang masa depan mereka. Nabila bisa merangkum jawaban-jawaban logika ilmu pengetahuan seolah satu saran jitu seorang peramal. Pertanyaan orang bermacam-macam, seperti apakah jika saya malas-malasan, di masa depan saya bisa sukses? Mengapa ada pelangi setelah hujan? Mengapa makanan basah makin lama makin membusuk jika dibiarkan begitu saja? Mengapa sapi melahirkan dan ayam bertelur? Mengapa ketika menunda tugas kuliah hari pengumpulan terasa begitu terburu-buru serta ragam pertanyaan lainnya. Namun dengan mudah dan tepat dijawab oleh Nabila.

***

Dengan waktu singkat, nama Nabila dan Rayhan melesat dengan cepat seantero negeri, bahkan nama mereka telah sampai juga ke telinga pemimpin negeri keringat. Pemimpin negeri itu ingin dengan sendiri melihat ramalan yang ingin dia tanyakan langsung kepada Nabila. Di sisi lain, Nabila menuju ke pemimpin negeri. Dia datang bersama Rayhan.

“Selamat datang Nabila, Rayhan. Terutama untuk kamu Nabila. Saya sudah sering mendengar namamu dibincangkan di mana-mana. Seorang peramal masa depan di negeri keringat ini. Tanpa berlama-lama saya ingin menyampaikan maksud saya. Saya ingin kamu meramalkan nasib negeri ini untuk satu tahun, sepuluh tahun, bahkan seratus tahun mendatang.”

Nabila melirik Rayhan sebentar, Rayhan mengangguk dengan yakin.

“Baiklah, terima kasih sebelumnya Bapak pemimpin berkenan untuk bertanya kepada saya. Saya akan meramalkan masa depan negeri ini. Namun sebelumnya, apapun yang keluar dari ucapan saya, jangan sekalipun anda memotong ketika saya mengurai benar ramalan negeri anda. Apapun itu. Biarkan saya mengurai negeri anda sampai selesai, baru setelah itu anda bebas menguraikan pendapat anda selanjutnya,’’ucap Nabila.

Pemimpin negeri itu tampak berpikir. Dia memegang dagu dengan tangan kirinya sambil berkata, “Baiklah, aku ikuti maumu.”

Nabila dan Rayhan duduk di ruang tamu dan berhadapan langsung dengan pemimpin negeri tersebut. Mula-mula Nabila seolah menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan sembari menutup kedua matanya. Dia mulai adegan seolah bermembaca ramalan tentang negeri tersebut, seperti yang diinginkan pemimpin itu. Nabila telah menyiapkan dengan matang kemungkinan-kemungkinan itu.

“Pak pemimpin yang terhormat. Negerimu di hari ini telah mengalami kenyataan panas yang amat sangat. Satu tahun selanjutnya, di negerimu ini sungai-sungai mulai mengering. Suhu panas negerimu satu tingkat lebih tinggi daripada sebelumnya. Sepuluh tahun selanjutnya, negerimu ini akan mengalami hal yang parah. Suhu panas di sini lima tingkat lebih tinggi daripada sebelumnya. Barangkali nama negerimu bukan lagi negeri keringat, namun sudah menjadi negeri uap atau negeri panas. Di tahun itu, cuaca berubah dengan sangat ekstrem. Tidak ada yang memahami mana musim tanam dan panen. Orang-orang yang pekerjaannya petani, pekebun, dan seluk-beluknya di dunia tumbuhan satu persatu kehilangan pekerjaannya. Di sebagian besar kota di negerimu ini mulai terendam banjir dari air kutub yang sudah mencair di belahan negeri lain. Penduduk di negerimu sepuluh tahun mendatang banyak sekali yang mencari tabung-tabung oksigen, sebab mereka kesulitan untuk bernapas. Oksigen dari pepohonan sudah jarang sekali terlihat dan didapat. Tanah-tanah semakin tandus. Kentut-kentut dari cerobong pabrik, mobil, dan motor akan semakin menggila. Laut-laut tak ada lagi sumber kehidupan. Semua telah mati, hanya tersisa air saja. Dunia tumbuhan dan hewan juga mati. Tak mampu lagi menyeimbangi ekosistem pada saat itu. Lalu yang engkau tunggu-tunggu, seratus tahun kemudian. Negerimu sudah tak berbentuk negeri, sebab negerimu telah punah. Tak ada kehidupan lagi di sana,” ucap Nabila.

“Bagaimana aku bisa mempercayai ucapanmu, wahai peramal?” Pemimpin itu memastikan.

“Kau akan mempercayai ucapanku, wahai pemimpin. Jika aku berkata bohong, nyawaku taruhannya,” jawab Nabila.

“Oke, baiklah. Jika memang kau tahu hal itu yang akan terjadi, aku harus bagaimana peramal? Masihkah bisa negeri berubah menjadi lebih baik? Setidaknya dalam seratus tahun ke depan negeriku ini masih ada kehidupan?” Pemimpin itu bertanya.

“Oh tentu bisa. Tentu bisa pemimpin. Bahkan negerimu akan lebih sejahtera sentosa daripada sekarang,” ucap Nabila dengan senyuman tipisnya.

“Bagaimana itu? Tunjukkan padaku bagaimana caranya!” Pemimpin itu bertanya lagi.

“Aku akan menunjukkannya. Namun berjanjilah padaku, kau akan melakukan apa yang nanti telah kusebutkan. Ini demi negerimu sendiri,” Nabila meyakinkan.

Setelah itu, dengan bahasa sederhana Nabila mulai menguraikan satu persatu hal yang dapat negeri itu lakukan. Mulai dari melakukan gerakan menanam satu trilliun pohon, gerakan tanpa asap kendaraan, penutupan pabrik-pabrik berasap, dan gerakan tanpa pendingin ruangan dan makanan. Pemimpin negeri tersebut awalnya kurang menyetujui, namun karena keyakinan kuat terlihat dari ucapan Nabila, dia sepakat melakukannya. Maka digalakkan gerakan massal tersebut. Dengan pendekatan ke perasaan, masyarakat diingatkan menjaga lingkungan untuk 100 tahun ke depan, untuk kehidupan anak cucu nanti. Rakyat mulai luluh dan mengikuti. Mereka mulai menanam berbagai jenis sayur, buah dan ragam pepohonan, terutama pohon-pohon yang berpeluang tumbuh besar. Tak ada yang menggunakan sepeda motor, mobil, bahkan bus serta kendaraan lain. Mereka memilih menggunakan sepeda. Kreativitas bermunculan, banyak sepatu roda dan sepeda model baru berkeliaran. Bahkan mobil cas-casan bermunculan, sejak Nabila mengenalkan energi baru terbarukan dari panas matahari yang diubah menjadi tenaga listrik dan panas. Energi fosil yang berdampak pada pemanasan global tergantikan. Pabrik-pabrik pun berinovasi menjadi produk ramah lingkungan dan berpeluang banyak membuka tenaga kerja. Tak perlu menunggu satu abad, baru setengah abad berjalan, negeri itu sudah merasakan dampak yang begitu besar. Negeri yang begitu nyaman dihuni. Nabila dan Rayhan diangkat sebagai menteri lingkungan di negeri tersebut. Satu abad berjalan, Negeri keringat berangsur-angsur berganti nama negeri rindang, hijau dan nyaman dengan segala keadaan. Rakyat selalu mengucapkan terima kasih kepada Nabila hingga mengenang seorang Nabila sejak mula sebagai gadis peramal yang cerdas. Gadis dengan seratus lentera di kepala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *