Cerpen #236; “Lily”

“Tidak. Tidak boleh, Ma. Mama tidak boleh membuang kulit pisang di tempat yang sama dengan botol sampo.”

Aku memandang gadis kecil setinggi pinggang di sampingku dengan pandangan curiga. Aku menelan sisa pisang di dalam mulutku kemudian berkata, “Biar Mama tebak, Nona Rita lagi?”

Putriku mengangguk mantap. Rambutnya yang dikuncir dua bergoyang-goyang dalam semangat yang sama. “Nona Rita bilang kita harus memisahkan sampah-sampah makanan dan sampah plastik,” katanya. “Botol sampo itu plastik.” Dia dengan sigap mengambil botol sampo kosong yang baru kubuang ke dalam tempat sampah tanpa ragu. “Bisakah kita punya tempat sampah baru?” tanyanya dengan mata berbinar-binar.

Aku mengembuskan napas letih. “Tentu saja, Kapten Kecil.”

Gadisku bertepuk tangan senang dan dengan inisiatif sendiri mengambil kantong plastik besar lalu memasukkan botol sampo kosong ke dalamnya dengan hati-hati.

Aku tidak bisa menolak permintaan kecilnya.

Belakangan ini antusiasme putriku terhadap lingkungan berada di tingkat yang tak pernah kuduga sebelumnya. Sudah pasti ini karena Nona Rita yang sering disebut-sebutnya itu.

Putri kecilku baru menginjakkan kaki di sebuah kelas yang bertuliskan angka satu di atas pintunya dua bulan lalu. Sekolah yang menarik. Mereka tidak memberikan pekerjaan rumah pada murid kelas satu sampai tiga—yang mana menjadi alasan utamaku mendaftarkannya ke sana. Aku tidak mau anakku yang masih terlalu kecil dibebankan pada tugas-tugas yang berat. Untuk kami, orang dewasa, tentu saja soal tiga satuan ditambah dua puluhan bukan perkara yang begitu rumit. Namun bagi anak-anak? Orang dewasa sering kali tidak memahaminya sebaik itu.

Sekolahnya berjalan dengan baik. Putriku senang dengan kehidupan barunya, dengan teman-teman baru dan aktivitas baru. Tapi kemudian datanglah masalah ini (sebenarnya ini juga tidak bisa dikategorikan sebagai masalah). Sekolahnya memiliki Jam Mencintai Lingkungan yang diadakan dua atau tiga kali seminggu. Pada jam itu anak-anak akan dikenalkan dengan lingkungan mereka dan diajarkan bagaimana caranya agar mereka bisa berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan. Tentu saja dengan cara-cara mudah yang ramah bagi anak muda berusia enam tahun.

Awalnya kupikir, ‘Oke, itu bagus‘. Namun belakangan kusadari bahwa putriku terlalu mendalami perannya sebagai Pelindung Bumi (sebutan yang dia tujukan untuk dirinya sendiri dan pasti ada kaitannya dengan Nona Rita itu).

Tampaknya putriku menerapkan semua arahan yang diberikan Nona Rita pada Jam Mencintai Lingkungan di setiap aktivitasnya. Dia mulai membuang sampah-sampah secara terpisah, sisa makanan, plastik, kaleng susu, sisa krayon dan kertas bekas coretan gambar yang gagal, masing-masing dibuang di tempat terpisah (dan ini membuatku harus menyediakan lebih banyak tempat sampah). Dia mulai belajar mengurangi penggunaan air—yang sayangnya pernah disalahtafsirkan dengan mengurangi pasokan air minum dan kebersihan diri. Dia menolak mandi selama tiga hari dan aku harus bersusah payah menjelaskannya tentang penggunaan air yang benar tanpa harus menyiksa diri dan orang sekitar. Dia mulai belajar menghemat energi, yang mana ini sangat membantuku. Beberapa kali aku mendapatinya mematikan lampu-lampu yang tidak digunakan dan dia mulai berani tidur dengan lampu tidurnya yang bercahaya kecil. Di minggu pertama sekolah dia juga mengajariku cara mencuci tangan yang benar. Akibatnya aktivitas cuci tanganku yang biasanya kurang dari sepuluh detik harus berlipat ganda hingga hampir empat menit.

Secara keseluruhan pengaruh Jam Mencintai Lingkungan dari Nona Rita memang sangat baik. Jadi aku tidak sampai hati menolak permintaannya jika itu akan membentuk gadisku menjadi wanita pecinta lingkungan di masa depan. Tapi tetap saja, kadang rasanya kelakuannya terlalu berlebihan. Maksudku, jika pun kami memisahkan sampah-sampah apakah pengolahannya akan disesuaikan juga? Di sini? Di salah satu kota kecil Indonesia yang bahkan tidak pernah memiliki kejadian menarik di dalamnya? Di sini? Di mana bahkan petugas kebersihan hanya mengambil sampah sekali seminggu?

Kurasa tidak.

“Ma, kenapa Mama harus memakai mobil?” Gadisku bertanya dengan wajah polosnya yang biasa. Dia mendongak padaku yang baru keluar dari mobil. Cahaya di langit kembali ditutupi awan kelabu. Gerimis tipis yang ditiup angin mulai turun dalam titik-titik yang sangat kecil.

Aku mengusap kepalanya sambil menuntunnya berjalan pelan masuk ke dalam rumah. “Karena Mama harus pergi bekerja.”

“Kenapa Mama tidak memakai bus seperti aku dan teman-teman? Kami diantar bus saat pergi dan pulang sekolah.”

Aku tertawa. Membiarkan putriku masuk duluan ke dalam rumah yang temaram. Dia masih berusaha menghemat penggunaan listrik. “Itu ide yang menarik, tapi sayangnya kantor Mama tidak menyediakan bus kantor untuk karyawan,” jawabku.

Putriku membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku. “Mama bisa naik bus yang ada di pasar,” sarannya lugu. Bus yang dia maksud pastilah bus antarkota yang selalu terparkir beberapa kilometer dari sekolahnya.

“Bus itu tidak menuju ke kantor Mama,” aku mengingatkan. “Dan lagi, memakai mobil sendiri bisa lebih cepat dan nyaman. Tidakkah menurutmu mobil kita nyaman?”

“Ya.” Gadis kecil itu mengangguk namun aku masih bisa melihat pertanyaan yang menggantung di bola matanya yang besar. “Tapi Nona Rita bilang terlalu banyak kendaraan bisa membuat polusi.”

“Kita hanya punya satu mobil dan Mama tidak berniat menambah satu lagi,” ucapku santai. Bayangkan saja berapa pajak yang harus dibayar jika ada lebih dari satu mobil. “Lagipula, kendaraan di sini tidak sebanyak itu. Kota kita hanya kota kecil.”

Putriku mengusap-usap dagu dengan jari telunjuknya. Aku menunggu. Jelas sekali dia masih ingin berusaha menghentikanku menggunakan kendaraan yang sudah kudapatkan dengan susah payah. Aku tidak bisa membayangkan membiarkan benda itu berdebu di dalam garasi setelah semua usaha yang telah kulakukan.

“Bagaimana dengan sepeda? Mama suka naik sepeda, kan?”

“Naik sepeda ke kantor?” tanyaku pura-pura terkejut. Dia benar-benar belum mengerti kehidupan dewasa yang sebenarnya. Saat waktu menjadi hal penting untuk mencapai kesuksesan. “Kantor terlalu jauh untuk ditempuh dengan sepeda,” terangku dengan sabar, “dan Mama harus selalu datang tepat waktu ke kantor. Kalau tidak, Mama bisa dipecat.”

Aku selalu berusaha mencari alasan yang tepat untuk membuat putri kecilku mengerti tentang kehidupan orang dewasa yang super sibuk. Dan sayangnya, sering kali kami, orang dewasa, tidak punya cukup waktu untuk turut serta memberikan perhatian besar pada lingkungan sekitar kecuali hal-hal kecil. Karena ada banyak hal penting lainnya yang menuntut perhatian kami, seperti pekerjaan, anak-anak, keluarga, menu sarapan besok, pertemuan antarwarga, dan liburan.

Orang-orang seperti Nona Rita mungkin pengecualian. Dia mendedikasikan hidupnya penuh untuk memperhatikan lingkungan. Mungkin juga itu adalah pekerjaannya.

Aku mengempaskan tubuh ke sofa empuk di bawahku dan menyalakan TV. Itu tadi hari yang berat di kantor. Sedikit bersantai sebelum makan malam adalah hal yang kubutuhkan sekarang. Aku baru saja memesan makanan lewat layanan pesan-antar favoritku. Sepotong besar ayam mentega untuk putriku dan iga bakar super pedas untukku.

Layar TV sekali lagi menampilkan berita banjir. Ini sudah yang kelima kalinya terjadi banjir dalam minggu ini. Dan yang ini cukup buruk. Banjir bandang. Air keruh berwarna kecokelatan menyapu lingkungan warga, pohon-pohon dan harta benda milik mereka bercampur baur di dalam air keruh.

“Kenapa sekarang sering sekali banjir, Ma?”

Aku menurunkan pandanganku pada putriku yang tadinya sibuk mewarnai kertasnya di depan TV. Dia tidur tengkurap di lantai dan si Kucing menemani dengan tenang di sampingnya. Agak mengejutkan kalau ternyata selama ini putriku ikut memperhatikan berita.

“Karena sekarang sudah masuk musim hujan.”

“Di sini juga?”

“Ya.”

“Lalu kenapa di sini tidak banjir?” tanyanya penasaran.

“Kota kita tidak pernah banjir bahkan sejak Mama seumurmu. Di kota besar seperti ibu kota,” kataku sambil menunjuk layar dengan pandanganku, “yang sering terjadi banjir. Hampir setiap tahun.”

Gadisku mendongak menatap layar TV selama beberapa saat kemudian kembali beralih padaku. “Waktu Mama kecil dulu kota kita seperti apa?”

Aku mencoba mengingat. “Waktu Mama kecil di sini belum terlalu ramai, rumah-rumah masih sedikit dan belum banyak yang memakai lampu seperti sekarang. Di rumah nenek dulu hanya ada lampu yang cahayanya sebesar lampu tidur milikmu.”

Gadis kecilku mengernyit. Dia mendorong tubuhnya hingga duduk bersimpuh di lantai yang ditutupi karpet viscose. “Pasti sulit mewarnai kalau lampunya sekecil itu.”

“Memang.” Aku mengakui. “Karena itulah kami mewarnai saat siang. Tapi karena belum banyak cahaya lampu, sewaktu malam selalu ada kunang-kunang di luar.”

“Kunang-kunang?”

Oh. Aku baru sadar kalau ternyata putriku belum pernah melihat kunang-kunang seumur hidupnya. “Itu adalah hewan kecil terbang yang bercahaya. Jadi kalau kita lihat itu seperti bintang-bintang yang sangat dekat, bahkan sampai bisa diraih dengan tangan.” Aku menangkupkan tangan di depan wajah seolah-olah sedang menangkap kunang-kunang.

“Oh, aku mau. Aku mau melihat kunang-kunang.”

“Mama juga. Tapi sayangnya sudah lama kunang-kunang tidak terlihat di sini. Lapangan tempat Mama bermain dulu sudah menjadi ruko-ruko. Dulu di sana ada banyak kunang-kunang.”

Putriku tampak agak kecewa menyadari kemungkinan dia tidak bisa melihat bintang yang bisa disentuh itu. Setelah kerutan tanda berpikir di dahinya hilang, dia kembali pada aktivitas mewarnainya.

Samar-samar, di antara suara pembaca berita, aku mendengarnya bergumam pada si Kucing. “Apa kau juga akan punah saat aku sudah besar nanti, Kucing?”

Punah.

Kata itu pasti didapatnya saat sesi belajar bersama Nona Rita.

Itu membuatku agak tercenung. Bagaimana mungkin dia berpikir kucing akan punah di masa depan? Dengan populasi yang begitu besar nyaris tak terkendali. Kucing ada di mana-mana di seluruh dunia. Memusnahkan seluruh populasi kucing di muka bumi adalah tindakan yang memerlukan usaha besar.

Diam-diam aku tersenyum kecil lalu kembali fokus pada layar TV berukuran empat puluh inci di hadapanku. Air bah cokelat kusam masih tampak menyapu rumah-rumah dengan kecepatan dan kekuatan besar.

Lalu, seperti mendapatkan kilatan pencerahan, pikiran itu muncul.

Kenapa kota besar seperti ibu kota selalu menjadi langganan banjir setiap tahunya sedangkan kota kecil kami nyaris tidak pernah merasakan banjir? Padahal intensitas hujan di sini lebih besar daripada yang terjadi di ibu kota. Dengan hujan seharian pun, yang ada hanya genangan setinggi mata kaki dan lebih tepat disebut sebagai kubangan daripada banjir.

Kami selalu dapat menikmati hujan dengan lancar setiap tahunnya. Bahkan di saat musim kemarau. Tidak ada yang namanya banjir atau kekeringan. Kota kecil kami benar-benar diberkahi. Hanya ada sedikit peningkatan suhu dibanding beberapa dekade lalu.

Aku ingat saat masih kecil, aku akan keluar dari rumah setiap pagi hanya untuk melihat uap panas yang muncul ketika aku bernapas. Persis seperti uap yang mengepul dari teh manis panas. Setiap pagi, butiran embun selalu tampak menempel di rumput-rumput liar dan menghilang saat matahari sudah berada cukup tinggi di langit. Dan orang-orang keluar rumah dengan balutan sarung yang menutupi tubuh dan kepala akibat udara yang terlalu sejuk.

Aku baru menyadari bahwa detail kecil itu sudah tak kutemukan lagi sekarang. Ke mana semua itu pergi? Embun, uap, kunang-kunang, mata air sedingin es yang muncul di pekarangan rumah….

Perlahan tapi pasti, semuanya menghilang.

Bencana banjir yang melanda berbagai wilayah negara sudah menjadi masalah berkepanjangan. Penyebabnya pun sudah bisa ditebak. Kebanyakan kota besar sudah banyak kehilangan lahan hijau. Digantikan dengan bangunan-bangunan pencakar langit, jalan-jalan besar, perumahan, tempat wisata dan berbagai macam fasilitas futuristis lain.

Dulu, kota besar pun pasti memiliki cukup banyak lahan hijau, pohon rindang dan sungai yang bersih dari sampah. Namun sekarang semuanya semakin berkurang dari hari ke hari. Sungai dicemari, bukit diratakan, hutan dibakar. Semua itu dengan dalih mempermudah hidup manusia.

Apakah pohon mulai berada diambang kepunahan?

Sama seperti pemikiranku tentang kucing, yang tidak akan mungkin punah dalam beberapa dekade. Mungkin seperti itulah pemikiran orang-orang di masa lalu—dan masa sekarang—yang dengan semena-mena memangkas pohon-pohon dan lahan hijau tanpa perhitungan. Masih ada banyak pohon. Tak akan ada hal buruk yang terjadi.

Begitu, mungkin.

Bukan salahku jika lahan-lahan semakin banyak yang rusak, sungai tercemar dan suhu meningkat ke titik mematikan. Aku tidak pernah merusak hutan atau menebang pohon sembarangan. Sebaliknya, aku membuang sampah pada tempatnya, mencoba menghemat pemakaian air dan listrik. Bukankah itu cukup membantu melindungi bumi ini?

Selama ini aku berada dalam keyakinan bahwa aku bukanlah faktor yang ikut bertanggung jawab atas terjadinya banjir dan angin puting beliung di berbagai wilayah negara. Itu, atau aku hanya mencoba melarikan diri dari fakta yang ada. Bahwa setiap kita bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi di bumi ini. Bahwa sudah tugas kita semua sebagai manusia merawat tanah, laut dan udara yang telah menopang hidup kita dulu, kini dan di masa depan nanti.

Aku mungkin tidak menebang hutan, tapi aku menggunakan kendaraan pribadi setiap hari, menggunakan AC di kantor dan di rumah, serta masih membakar dedaunan kering di halaman. Bahkan air bekas cucian piring masih mengalir ke sungai.

Aku mungkin bukan pihak yang mengizinkan penghancuran bukit demi pembuatan jalan baru, namun aku menjadi orang yang menggunakan jalan tersebut. Aku juga mungkin tidak membuat langit biru cerah tertutup asap hitam pabrik, tetapi setiap hari aku menggunakan banyak produksi pabrik tersebut.

Tanpa kusadari hal-hal sepele itu ikut mendorong keadaan bumi menjadi semakin buruk. Dan sekarang dampaknya terasa semakin nyata. Udara semakin panas, berbagai wilayah terendam banjir bahkan hanya karena hujan singkat, badai dan angin kencang semakin sering terjadi.

Pasti inilah yang coba Nona Rita peringatkan kepada anak-anak.

Aku menatap putriku lamat-lamat. Putri kecilku yang paling berharga, sedang mengajari si Kucing mewarnai. Kakinya yang ditekuk ke atas bergoyang-goyang dalam ritme yang tenang.

Aku menginginkan masa depan yang baik untuknya. Aku akan memberinya pendidikan terbaik, makanan enak untuk dimakan setiap hari, tempat tinggal yang nyaman dan ikatan keluarga yang hangat. Aku mengharapkan saat dewasa nanti dia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak hingga dia bisa membangun masa depan yang cerah sesuai harapannya.

Namun, itu tidak akan ada gunanya jika nanti dia tidak lagi memiliki tanah untuk dipijak, udara segar dan air bersih untuk diminum. Jika kondisi planet semakin memburuk setiap saat, putriku dan generasi muda lainnya akan hidup di dunia yang kejam. Saat dunia terasa seperti musuh manusia.

Membayangkan bocah mungil yang saat ini kujaga dengan baik, melindunginya dengan pelukanku sendiri, harus menghadapi lebih banyak bencana nantinya adalah bayangan yang membuatku merinding. Aku benar-benar tidak ingin itu terjadi.

Sungguh tidak adil bagi anak-anak jika harus menerima konsekuensi dari apa yang kita perbuat saat ini. Apa yang seharusnya dapat kita ubah bersama. Mereka pantas mendapatkan kehidupan yang penuh dengan rasa aman di masa depan. Jauh dari ketakutan akan cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, kebakaran dan bencana lain.

Aku mematikan TV.

“Lily,” panggilku.

“Ya, Mama,” jawabnya, dengan pandangan masih tertuju pada kertas mewarnai.

“Kau masih ingin menanam pohon di halaman seperti yang kau bilang waktu itu?”

Kali ini Lily mendongak. Lalu menjawab dengan gumam antusiasme yang sangat kentara. Itu artinya ‘ya’.

Sebelumnya Lily pernah memintaku membelikan pohon untuk di tanam di halaman belakang. Dengan pertimbangan halaman yang kecil aku menolak permintaannya yang satu itu, digantikan dengan beberapa bibit bunga yang senama dengan namanya.

“Mama melihat bibit pohon pucuk merah saat di perjalanan pulang tadi. Mau pergi membelinya besok?”

“Yey!” Lily bersorak, melompat bangkit dari duduknya. “Aku ikut!” Dia berlari dan memelukku kuat-kuat.

Dia mungkin tidak ada di masa laluku yang menyenangkan. Namun akan kuberikan masa depan yang penuh dengan kebahagiaan untuknya. Dan itu dimulai dari saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *