Cerpen #234; “Membakar Bara”

Bumi tahun 2018

Liben menggunakan sandal dengan alas yang hampir habis. Ia berjalan sepanjang tanah merah dengan jejak ban truk yang besar perkasa. Debu tanah menjadikan sekitarnya menguning. Liben, anak bungsu dari tetua desa waktu itu baru menginjak kelas satu sekolah dasar. Yang termuda dari lima bersaudara itu bisa dibilang kejutan, sebab hadir saat ibunya sudah dipertengahan 40an, saat kakak tertuanya sudah tamat kuliah dan si anak ke empat sudah kelas tiga sekolah menengah.

Liben menyipitkan mata besarnya. Debu-debu tanah membuat kedua mata anak itu perih. Hari ini, ia dan sang ibu hendak berangkat ke kota. Setelah menunggu sampai pukul Sembilan pagi di rumah, si supir antar daerah langganan ibunya menelepon bahwa kerusuhan di daerah sekitar perkebunan sawit membuat jalan ke desa mereka ditutup. Mau tak mau, Liben kecil dan ibunya harus berjalan sekitar tiga kilometer untuk sampai ke mobil sewa yang menunggui mereka.

Dengan langkah kecilnya, Liben berusaha menyusul yang ibu yang berjalan cukup cepat. Begitu melewati pigura desanya, anak lelaki itu melihat hutan yang dikenalnya dengan baik mulai kehilangan warna hijaunya.

“Ma! Disana tempat kita sering potong pohon sagu, toh?” tanya Liben. Suaranya melengking, telunjuknya menunju arah pukul tiga dengan berani.

Sang ibu berhenti. Ia berbalik ke arah telunjuk Liben. “Iya toh. Tapi sekarang itu su tra penting. Kita harus buru-buru menyusul bapak dan kakak-kakakmu di kota,” tukas sang ibu. Dengan agak tergesa-gesa, ia menarik tangan Liben.

Keduanya berjalan lebih cepat.

Sepanjang jalan Liben diliputi perasaan bingung. Anak yang baru akan naik kelas dua semester depan itu melihat kerumunan orang-orang marah saling berteriak sumpah-serapah dengan liar. Ia lalu memegang rok lusuh ibunya.

“Jalan lebih cepat, Liben,” kata ibunya dingin.

Sebaris pria hitam tinggi besar tampak menghadang puluhan warga yang dikenal Liben. Ya, mereka adalah warga kampung tempat Liben dan keluarganya tinggal. Ibu-ibu dengan kain yang dililitkan pada kepala mereka tampak putus asa, raut mata yang begitu lelah terpancar dibalik lengkingan kemarahan. Para pria bertelanjang dada, mencoba mengeluarkan rasa frustasi yang membuncah dengan tepukan-tepukan dan ancungan parang ke udara. Pria tinggi besar berkaos hitam seragam di depan mereka berbaris rapih bak pagar-pagar mati. Tidak ada gerakan sedikitpun, bahkan pandangan mereka tidak tertuju pada orang-orang frustasi itu.  Liben dan sang ibu melewati dua kubu itu dengan terburu-buru. Beberapa tetangga mereka melihat penuh tatapan tidak percaya, sebagian berkomentar kasar dengan dialek daerah. Sang ibu tidak memedulikan mereka, langkahnya justru semakin cepat hingga berlalu cukup jauh dari kerumunan itu.

Mereka berdua akhirnya sampai di tempat mobil sewa terparkir manis di akhir jalan berbeton sebelum memasuki desa. Kedua kaca depan mobil terbuka setengah, tampak sang supir tengah tertidur dengan kaki digantung di atas stir dan sandaran kursi yang diturunkan setengah.

“Hei!” Ibu Liben mengetuk kaca mobil cukup keras. Liben tahu sang ibu tengah kesal, cukup terlihat dari suaranya yang meninggi.

Sang supir bangun terkikuk. Ia buru-buru membukakan pintu untuk penumpangnya. Tak berselang lama, mobil berplat kuning itu melaju di atas jalan beton yang baru selesai pembangunannya awal tahun ini.

***

Dari desa ke kota membutuhkan waktu setidaknya tiga jam perjalanan darat. Persis ketika matahari tegak lurus dengan kapala, Liben dan ibunya tiba di rumah sederhana mereka di kota. Rumah itu jauh lebih kecil dari rumah mereka di desa. Sebuah rumah tipe 36, dua kamar tidur, ruang tamu yang sempit, cat dinding putih yang tampak asal-asalan, serta pagar rumah dari bamboo bekas pembangunan yang tampak tidak terlalu menjanjikan keamanan rumah ini.

Begitu Liben tiba, anak itu langsung berlari ke kamar kakak tertuanya Axel. Ia tahu, axel yang baru menyelesaikan kuliahnya tahun lalu itu memiliki semua hal keren di kamarnya, seperti video game, lampu dengan berbagai warna, pigura-pigura tokoh komik yang terus bertambah tiap kali Liben berkunjung kesini, juga dendang lagu-lagu dari speaker portable yang kadang duduk di pojok meja kerja kakakknya, kadang pula tergantung di besi jendela.

 “Axel!” Liben berseru senang.

Di dalam kamar kakak tertuanya, Liben mendapati sang bapak duduk di ujung ranjang sementara Axel duduk di kursi kerjanya menghadap bapak mereka. Masih tersisa raut muka kecut sang bapak saat liben berlari senang menghambur ke kamar.

“Liben! Kapan kau tiba?” tanya bapaknya.

“Baru saja. Bapak kenapa di kamar Kak Axel?”

Sang bapak sedikit kikuk, “ada yang perlu kami bicarakan, tapi dilanjut nanti saja. Mana ibu?”

“Di luar.”

Bapaknya kemudian berdiri. “Ayo Liben, bagaimana kalau kita pergi lihat ayam-ayam Bapak disini?”

Liben menggeleng. “Aku mau disini, main video game punya Kak Axel saja!”

“Ayolah,”

Liben menggeleng tegas. Ia langsung mengambil posisi duduk bersila dan menekan tombol power on pada TV Lcd besar di kamar kakak tertuanya itu.

Bapaknya diam sebentar. Ia menghela napas sebelum bergumam sembari keluar dari kamar anak tertuanya itu, “Semoga televise itu tidak mengambil rasa kemanusiaanmu suatu hari nanti, Nak.”

Liben tidak mengerti, ia lebih senang melihat tayangan gambar bergerak di dalam layar televise di depannya.

***

Malam harinya, sang bapak tampak tidak senang. Axel pamit ke kantor sejam setelah Liben dan Ibunya tiba siang ini dan belum kembali sampai sekarang. Liben masih mendekam di kamar Axel, memainkan game. Samar-samar didengarnya sang bapak dan ibu yang tampak berselisih paham dari celah pintu yang terbuka sedikit.

“Ini akibat ibu yang mengizinkan Axel sekolah sampai merantau meninggalkan desa. Lihat apa yang dia perbuat terhadap desanya sendiri!”

“Maksud Bapak apa?”

“Anakmu itu, bekerja sama dengan kontraktor kota yang hendak mengambil hutan adat kita!” bapaknya terduduk lemas.

“Bapak mungkin salah! Tidak mungkin anak kita berbuat begitu. Bapak ingat? Axel adalah anak kebanggaan mama, kebangga kita, kebanggaan kampung!”

Sepasang orang tua itu kembali berbincang dengan nada suara rendah. Keduanya duduk saling berhadapan di meja makan. Tidak sampai sepuluh menit, mesin motor Axel memasuki halaman rumah. Kakak tertua Liben itu masuk setelah berucap salam.

“Axel!” bapaknya langsung berdiri, berteriak dengan marah melihat sosok anaknya yang baru memasuki ruang tamu. sang ibu langsung menahan suaminya.

“Ada apa ini Bapak?”

“Sini kau!” ia menunjuk anaknya dengna telunjuk yang gemetar. Liben yang ketakutan langsung bersembunyi di samping ranjang. “Bagaimana bisa … bagaimana bisa anak tetua menjual hutan adat suku sendiri?”

Axel diam mematung.

“Axel! Coba kau jelaskan ke bapakmu ini. itu tidak benar, kan?” air mata menggenangi pelupuk mata ibunya.

Axel terdiam.

“Benar! Si Jordan dan Sebastian sendiri yang mengatakan hal ini! mereka menerima sejumlah uang dari anak kita untuk setuju pelepasan hak tanah selama musyawarah!”

“Kita bisa apa, Bapak? Mama?” Axel berjalan cepat, duduk di kursi meja makan menghadap bapaknya. “Tanpa saya pun, para kontraktor itu pasti akan menggunduli hutan adat! Saya hanya berusaha mendapatkan uang agar keluarga kita lebih sejahtera. Saya akan sekolahkan Liben sampai jadi orang besar yang bekerja di gedung-gedung tinggi. Mama tidak harus lelah ke kebun, Bapak juga tidak perlu lagi mencari pakan sapi dan memelihara babi!”

Axel melanjutkan lagi, “Mereka akan membangun perkebunan sawit yang luas. Warga desa juga akan dipekerjakan. Lihat? Tidak ada yang benar-benar rugi disini.”

Kedua orang tua mereka terdiam.

“Mereka tidak mengambil keseluruhan hutan adat, hanya beberapa hektar yang bersambung langsung dengan perkebunan sawit saja.”

Sang bapakmenghela napas, suaranya terdengar begetar sedih. Ia bergumam, “Seharusnya kau tidak pernah kuizinkan sekolah ke kota, anakku Axel.”

“Kau tahu, Nak? Bahwa hutan adalah ibu kita. Dari hutan orang-orang desa kita hidup selama ratusan tahun. hutan melindungi kita, mencukupkan makanan kita, dan kau membantu orang-orang serakah dari kota itu biar keluarga kita sejahterah? Bagaimana baktimu terhadap ibu yang menghidupi leluhur kita selama ratusan tahun?” air mata jatuh mengaliri pipi berkulit keriput dengan pori-pori besar bapaknya.

Sang bapak berdiri dari kursi. “Bapak sebagai tetua desa tidak akan membiarkan kau menjual tanah adat kepada orang-orang kota sok pintar itu.”

Sang bapak pun berlalu dan ibunya mulai menangis. “Anakku Axel, apa kau lupa kebahagiaan warga desa saat pesta makan tiap sabtu? Apa kau juga tidak suka masuk ke hutan dan membuat sagu bersama ibu dan sepupu-sepupumu?”

Axel terdiam.

“Ibu pikir dengan mengirimmu kuliah di kampus yang kau idam-idamkan akan berbuah baik bagi kita, tetapi ibu salah. Keserakahan orang-orang kota sepertinya sudah merasukimu, kau telah menjadi salah satu dari mereka, Nak.”

Ibunya menangis di meja makan, Axel terdiam di depannya. Tak lama, sang bapak keluar dari kamar menenteng dua tas besar.

“Liben, cepat bersiap-siap! Kita pulang ke desa malan ini juga.”

Liben tahu situasi mereka sedang tidak baik. Ia segera keluar dari persembunyiannya dan bersiap-siap. Malam itu mereka meninggalkan rumah dan Axel kurang dari 10 menit setelah pertengkaran itu. Dengan langkah besar, sang bapak menenteng dua tas berisi pakaian-pakaian mereka, sementara sang ibu sibuk menelepon supir mobil daerah yang ia tumpagi pagi tadi. Untunglah ada satu mobil sewa yang bersedia mengantar mereka kembali ke desa malam itu juga.

Di jalan, kedua orang tua Liben tidak saling bicara. Dalam pelukan ibunya, Liben bertanya pelan. “Ma, apa benar kalau hutan sudah diambil, kita tidak akan bisa bikin sagu lagi?”

Tampaknya, pertanyaan Liben terdengar di telinga ayahnya. “Tenang saja, Liben. Ayah tidak akan membiarkan orang-orang kota itu mengambil tanah dan hutan kita.”

***

Sang ayah membuktikan ucapannya. Puluhan musyawarah, konsolidasi, dan rapat terbuka dilakukan selama setengah tahun lebih. Akhirnya, para warga desa berhasil mempertahankan hutan adat mereka. tidak ada sebatangpun pohon sagu yang berganti dengan sawit. Namun, setan serakah berpakaian burjois dari kota itu adalah orang-orang kotor yang tidak punya hati. Bahkan ketika musim kemarau panjang dan daun-daun ketapang menguning, hutan gambut mereka yang lembab tidak pernah terbakar.

Namun di suatu malam, api mulai merambat di dalam hutan dengan tanah subur itu. Kebakaran hutan adat berkarakteristik gambut itu berlangsung selama hampir sebulan.  Kandungan oksigen tinggi yang terkandung pada tanah-tanah itu menjadi bahan bakar bara-bara api yang andal, sehingga hujan bautan dari atas helicopter tidak mempan membasmi sang jago merah.

Berganti-gantian warga dan aparat keamanan masuk dan memadampan api. Pihak kebencanaan pun menurunkan hujan buatan dan air yang dijatuhkan dari helikopter, tetapi sayang hasilnya nihil. Setelah sebulan, api mulai padam. Hutan hijau lebat dengan pohon-pohon besar berganti tanah hitam dengan bara-bara yang masih menyala, semua yang dijaga telah hilang.

***

Bumi tahun 2089

Liben terbangun dalam tubuh rentanya. Alih-alih segar bugar, tidur semalam justru membuat sekujur tubuhnya pegal. Ia beranjak dari ranjang denga selimut tebal dan beberapa buah bantal dengan sarung rajutan cucu-cucunya. Liben, anak lelaki yang duduk di kelas satu sekolah dasar pada tahun 2018 lalu, kini hidup cukup lama hingga umur 77 di tahun 2089. Istrinya telah meninggal dua tahun lalu. Kini, ia hidup bersama putra tertuanya di ibu kota, seorang menantu, dan lima orang cucu.

Liben memiliki tiga orang anak. Hari ini merupakan hari terakhirnya di rumah sang putra pertama sebab anak kedua yang tinggal di kampung halamannya telah datang menjemput kemarin. Setelah sarapan, Liben dalam gandengan sang anak kedua berjalan sepanjang bangunan besar bandara yang tampak tidak berujung. Pesawat yang mereka tumpangi terbang pukul Sembilan pagi, dan tiba tepat tengah hari. Begitu keluar dari bandara, menantu Liben telah menunggu mereka dengan keempat cucu yang banyak bicara.

“Kakek!” cucu termuda menyapa Liben. Anak itu berusaha menggapai kakeknya meski menempel erat di car seatnya.

“Bagaimana rasanya tinggal di ibu kota selama setengah tahun lebih, Kakek?” tanya cucu tertuanya.

Liben tersenyum saja. Ia tengah berusaha naik ke kursi penumpang di tengah dengan bantuan anak perempuannnya. Lututnya yang semakin rapuh langsung bergetar tidak karuan disertai nyeri tiap kali ia harus memanjat ke tempat yang lebih tinggi. Setelah berusaha keras, ia pun bisa duduk dengan nyaman dan mobilpun melaju.

“Tadi kamu bilang apa, Ana?”

“Bagaimana hari-hari kakek selama setenah tahun di Jakarta?”

Liben tampak berpikir. “Ya, begitu saja. Bangun saat mata hari terbit, lalu minum kopi sambil membaca koran, lalu nonton televise, begitu saja.”

“Katanya di sana semua bangunan tinggi-tinggi ya? Tempat om dan tante di Jakarta katanya juga terletak di lantai 30.”

“Benar. Di sana, kalau pagi kita harus menunduk untuk melihat jalan karena jalanan yang dilalui mobil seperti ini terletak jauh di bawah.”

“Jadi kakek melihat langit setiap hari?” tanya cucunya yang lain.

“Bisa dibilang begitu, bisa juga tidak, karena sepanjang waktu langit selalu tertutup kabut.”

“Memang disana dingin?”

Liben tertawa kecil. “Kabutnya dari asap-asap ribuan mesin di sana, Nak.”

Cucu-cucunya mengangguk mengerti. Lalu, sebagai penutup percakapan mereka sepanjang jalan menuju rumah, sang cucu kedua berkomentar, “di rumah kita juga sama, banyak debu dimana-mana, bedanya disana bangunannya tinggi-tinggi, disini hanya ada tanah dan debu.”

Cucunya benar. Tidak perlu sekolah yang tinggi untuk tahu bahwa tanah kita hari ini telah rusak serusak-rusaknya.

***

Sewaktu Liben masih kecil, orang-orang dari luar selalu mengeluhkan betapa miskin dan tertinggalnya daerah mereka. Di desa Liben, hanya ayahnya yang tamat SMA, dan kebanyakan para orang tua buta huruf. Orang-orang hidup dalam kesederhanaan, dalam harmoni dengan alam, dengan hutan sebagai ibu mereka. Dulu sewaktu Liben kecil, warga desanya rutin mengadakan makan bersama tiap sabtu. Para ibu akan bekerja seharian di dapur ditemani anak-anak perempuan yang membereskan urusan peralatan makan, sementara para ayah akan bekerja seharian mengumpulkan hasil ladang maupun buruan sementara anak laki-laki seperti Liben akan sangat senang jika menemani ayah mereka masuk kedalam hutan memunguti jamur, tanaman pakis, ataupun tanaman yang bisa dimakan lainnya, menebang batang sagu untuk di olah beberapa hari kemudian, atau berburu babi liar.

Masa itu, orang-orang kota menanggap mereka ketinggalan, terbelakang, bodoh, istilah apapun untuk mereka yang tidak termakan dinamisasi, untuk mereka yang bisa benar-benar hidup tanpa uang. Perlahan, kebutuhan meningkat. Kemudahan yang ditawarkan oleh produk-produk siap makan yang hanya bisa dibeli dengan uang, juga kebutuhan akan orang-orang yang bisa baca-tulis dan melek teknologi semakin tinggi, seiring semakin banyak orang-orang asing yang masuk ke kampung mereka.

Anak-anak bersekolah dari uang kerja keras orang tua mereka di ladang. Semakin hari, anak-anak semakin terbuka tentang kemungkinan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi di luar sana. Kemungkinan hiburan dari benda elektronik datar yang disebut TV maupun komputer, alih-alih permainan dibawah terik matahari beralaskan tanah. Kemungkinan pekerjaan yang lebih stabil di depan komputer seharian, alih-alih bekerja di ladang dengan hasil tak pasti. Semua itu, adalah perpektif kemajuan yang diidam-idamkan. Padahal, jauh sebelum itu, hutan sebagai ibu dengan kerja keras gotong-royong sudah sangat cukup menghidupi mereka.

Anak-anak kini tahu baca-tulis, kini lebih ahli dalam mengoperasikan komputer, tetapi mereka kehilangan apa yang dulu dinikmati generasi Liben kecil, makanan dari dalam hutan, permainan dibawah terik matahari, air sungai yang jernin nan segar, hal-hal yang disediakan alam sebagai ibu manusia.

***

Mobil mereka kini memasuki daerah desa. Liben melihat keluar jendela, menyaksikan tundra luas sejauh mata memandang. Dulu, jauh sebelum hamparan tanah lapang ini berganti dengan tanman-tanaman perdu dan rumput-rumput kurus, daerah ini merupakan kawasan hutan dengan aneka ragam pohon-pohon tunggang beberbatang besar, tumbuhan-tumbuhan merambat, dan tanah yang hitam legam.

Liben di usianya yang ke 77 hanya bisa memanggil ingatan akan saat-saat indah itu. Lalu, bagaimana dengan generasi setelahnya yang bahkan tidak pernah memiliki ingatan tentang hal-hal indah dan menyenangkan tentang hutang yang lebat?

“Kakek, apakah kakek pernah membuat sagu sendiri?” tanya salah seorang cucunya.

Liben berbalik, cukup kaget. “Kenapa kau bertanya tentang itu, Nak?”

“Bu guru kemarin bercerita kalau sewaktu kakek muda, di dekitar rumah ada banyak pohon sagu, dan orang-orang sering membuat sagu dari dalam hutan.”

“Betul sekali, Nak. Dulu, Kakek sering masuk hutan bersama ibu dan saudara-saudara kakek, juga warga yang lain. Kita kerja sama-sama, mulai dari merobohkan pohon sagu, lalu batangnya kita belah, semuanya dikerjakan sama-sama.”

“Wah, hebat! Sekarang pohon sagu sudah jarang sekali. Dulu kakek masuk hutan di daerah mana?”

Liben tersenyum kecut. “kalian lihat padang rumput di luar itu? Dulu semuanya adalah hutan yang lebat sekali. Dulu, sagu tumbuh liar jadi orang-orang disini tinggal potong untuk dimakan bersama.”

“Dulu disini hutan? Hutan hujan seperti Amazon, Kakek?” tanya cucu keduanya. Ia dengan bersemangat berdiri di atas kursi duduknya, menunjuk dengan semangat kearah hamparan padang rumput tandus di luar.

“Benar.” Liben menangguk.

“Lalu apa yang terjadi, Kakek?”

Liben terdiam. Faktanya, lahan tanam pohon sawit dengan ekonomi tinggi hanya ditanami dua sampai tiga kali, sebelum kehilangan kesuburannya dan ditinggalkan. Sekarang, orang dewasa sampai anak-anak sudah pandai baca tulis dan melek teknologi. Tidak ada yang mengeluhkan itu. Kini, orang-orang mengeluhkan hutan yang telah habis atau fakta bahwa generasi sekarang tidak akan pernah benar-benar mengetahui cara pembuatan sagu dan hanya melihatnya dari film-film dokumenter nyaris seratus tahun yang lalu, sebelum hutan dibakar, sebelum manusia membakar bara yang menghidupi kehidupan manusia.

-Selesai-

One thought on “Cerpen #234; “Membakar Bara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *