Cerpen #233; “Obrolan di Geladak”

Langit sudah mulai menghitam. Sesaat setelah selesai memasukkan kembali kamera ke dalam tasnya, Johan bergegas membantu menarik pukat yang sudah ditebar di laut, berbarengan dengan semua orang yang ada di perahu. Suara aba-aba dari Pak Yani si pemilik perahu, bersahutan dengan lima orang lainnya. Para lelaki dewasa itu mengangkat pukat yang kini dipenuhi oleh ikan, semakin menuju permukaan, tenaga yang diperlukan pun semakin besar, pun suara sahutan yang semakin kencang.

“Bagaimana tangkapan hari ini, Pak?” Johan bertanya pada Pak Yani, sang nelayan yang merangkap nakhoda perahu.

“Lumayan lah, dibanding kalau tidak ada sama sekali.” jawabnya.

Johan melirik sekilas jam tangannya. “Apa sekarang waktunya kita pulang?”

“Iya, sebentar lagi hujan. Angin juga sedang tidak bersahabat.” Ujar Pak Yani.

Selepas menarik pukat, memindahkan ikan ke wadah-wadah yang sudah dibawa, Pak Yani langsung memutar perahu kembali ke arah pantai. Perahu akhirnya terarah sempurna menuju pantai.

Johan merogoh sakunya, mengambil pemutar musik kecil. Lalu sambil memasang earphone, Johan berjalan ke bagian depan, duduk di bagian sisi perahu. Johan memainkan lagu pertama yang ada di playlist-nya, kemudian sejenak menikmati angin laut yang menimpa wajahnya.

Seseorang dari belakang mengikutinya tanpa sepengetahuan Johan, kemudian duduk di seberangnya. Dia adalah Dian, salah satu nelayan yang sekarang ikut melaut.

“Hai, Mas Johan, lagi dengerin apa?” tanya Dian sambil menepuk pundak Johan.

“Oh Dian. Ini, saya lagi dengerin The Cranberries.” jawab Johan sambil sedikit menurunkan volume musiknya.

“Saya enggak pernah dengar namanya, tuh.” ujar Dian.

“Itu band tahun 90-an, dari luar negeri. Kamu mau ikut dengar?” tanya Johan sambil menyodorkan sebelah earphone-nya.

“Oh. Saya enggak paham lagu begitu. Enggak bisa bahasa Inggris.”

“Enggak mesti bisa bahasa Inggris, kan lagu ada buat didengarkan, enggak wajib dipahami artinya.”

“Tapi kan kalau mengerti artinya bisa lebih menjiwai lagunya, gitu lho Mas. Memangnya Mas paham artinya?”

“Ya paham, sih.”

“Memangnya lagunya menceritakan tentang apa?”

“Tentang Bumi yang sudah kehabisan waktu. Persis seperti keadaan sekarang.”

“Apanya yang kehabisan waktu?” Dian kemudian penasaran.

“Bumi kehabisan waktu untuk mengatasi krisis iklim. Kamu tahu kan krisis iklim itu seperti apa?”

Dian memiringkan kepalanya. “Pernah dengar, tapi enggak paham maksudnya apa.”

“Oke saya akan jelaskan dengan sederhana.”

Johan lalu mematikan pemutar musiknya sambil melepas sebelah earphone yang masih menepel di daun telinganya.

“Kamu pasti sering dengar cerita dari orang tua mengenai keadaan lingkungan sewaktu mereka masih kecil? Mereka sering mendongengkan bahwa zaman mereka dulu lingkungan masih asri, langit lebih cerah, udara lebih bersih, hasil tangkapan ikan selalu memuaskan. Mungkin kamu bosan dengar cerita semacam itu, seolah zaman dulu kondisi lingkungan kita lebih baik dari sekarang. Nyatanya memang begitu, Dian. Iklim dunia saat ini sedang dalam kondisi krisis.”

Dian menggeleng. “Tapi saya nggak begitu mengerti apa yang dipermasalahkan, Mas.”

“Begini. Kamu tentu masih ingat bagaimana kelangkaan bahan bakar yang beberapa tahun lalu kita alami, bukan? Saat itu diberitakan bahwa Indonesia sedang krisis bahan bakar. Harga solar saat itu melonjak tinggi, disebabkan oleh pasokan minyak bumi sudah menipis. Imbasnya, nelayan terpaksa tidak melaut karena tidak mampu membeli solar untuk mesin perahu. Nah, coba kamu ibaratkan kualitas lingkungan kita seperti halnya solar itu. Semakin hari iklim dunia semakin memburuk, hingga pada akhirnya kita mengalimi krisis iklim.”

“Tapi kan Mas, kelangkaan solar waktu itu terjadi bisa saja karena orang-orang kaya yang punya uang lebih yang bisa membelinya, terus mereka menimbunnya, bahkan menjualnya dengan harga yang enggak masuk akal.”

“Benar Dian, kamu benar. Tapi sayangnya iklim bumi bukan sesuatu yang bisa dibeli seperti halnya solar tadi. Sekali terjadi krisis iklim, mau orang kaya, orang miskin, presiden, nelayan, seluruh manusia di bumi merasakan akibatnya. Kita tidak bisa membeli kualitas udara, kita tidak bisa membeli hujan, atau kita tidak bisa membayar supaya tidak hujan. Krisis iklim tidak seperti krisis moneter yang dalam semalam harga kebutuhan pokok bisa tiba-tiba melonjak naik. Krisis iklim berbeda. Krisis iklim terjadi perlahan, sampai akhirnya kita tidak sadar kita tidak mampu lagi membalikkan situasi krisis itu. Maka, seperti lagu yang saya dengarkan tadi, kalau kita terus-terusan seperti ini, Bumi ini tinggal menghitung waktu mundur menuju kerusakannya.”

“Apa itu artinya kita sedang menuju kiamat, Mas?”

“Entahlah, saya tidak tahu. Yang pasti, Bumi sedang tidak baik-baik saja saat ini. Krisis iklim ini punya dampak yang besar bagi kondisi lingkungan kita. Salah satunya kondisi saat ini. Cuaca ekstrem yang bisa menyebabkan banjir. Intensitas hujan yang tinggi bukanlah sebuah hal alami yang terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir kita merasakan dampak dari perubahan iklim. Gelombang panas terjadi, suhu bumi meningkat, gas rumah kaca semakin menumpuk di atmosfer bumi. Pada akhirnya, es di kutub mencair, permukaan air laut naik, beberapa kota terendam, banjir di mana-mana, ekonomi terhambat, hutan menjadi rusak, situs bersejarah hancur. Entah kata apa yang pantas untuk mewakili kondisi tersebut, tapi jika kiamat adalah kata yang menjelaskan hal itu, setidaknya itu mendekati, Dian.”

Dian bergeleng-geleng, membayangkan yang Johan ucapkan akan menjadi kejadian nyata.

“Saya berkata seperti itu bukan untuk menakut-nakuti, Dian. Tapi sudah sewajarnya kita tidak diam dalam kondisi ini. Krisis ini bukanlah sekadar teori konspirasi yang jadi bahan obrolan ringan di rumah makan. Ini adalah hal yang sedang terjadi. Maka, krisis ini tidak akan berkesudahan jika kita tidak melakukan perubahan.”

“Berarti nelayan juga akan merasakan dampaknya, Mas?

“Bukankah sudah saya bilang, siapapun di dunia ini akan merasakan dampaknya. Tadi saya dengar Pak Yani bilang, setiap bulan tangkapan ikan semakin menurun. Itu baru dari hasil tangkapan ikan, belum lagi bahan bakar solar yang tadi saya ceritakan. Itu adalah energi fosil yang kotor, yang kalau kita eksploitasi terus menerus, itu akan merusak lingkungan dan juga menyumbang emisi karbon di udara.”

“Benar juga Mas. Jadi seserius itu ya?”

Johan mengangguk kecil.

Tetesan hujan menghentikan obrolan Johan dan Dani. Membuat mereka menepi ke bagian perahu yang teduh agar tidak basah kuyup. Beberapa minggu terakhir cuaca di kawasan pesisir utara Jawa memang tidak bisa diprediksi lagi. Angin bisa berubah cepat menjadi badai. Membuat para nelayan tidak jadi melaut berkali-kali.

Untuk kali ini, Pak Yani terpaksa melaut karena sudah dua minggu dia tidak melaut. Beberapa nelayan lain ada yang sudah berbulan-bulan enggan menurunkan perahu ke laut, karena tidak mau mengambil risiko karena cuaca ekstrem. Bahkan beberapa nelayan lainnya sudah banting profesi menjadi petani, buruh pabrik, ataupun pergi ke kota untuk mencari peruntungan di pekerjaan lain.

Sebenarnya Pak Yani memiliki tambak di dekat pantai, tapi nasib nahas menimpanya tiga hari lalu. Banjir rob menghanyutkan semua ikan di tambaknya. Termasuk juga belasan tambak lainnya milik nelayan di kampung Pak Yani. Tidak ada lagi penghasilan sampingan, membuatnya memaksakan diri untuk menurunkan perahu, kembali melaut.

***

“Lalu, Mas kenapa pulang ke kampung? Sampai ikut melaut pula? Bukankah Mas dan keluarga sudah menetap di kota dan punya pekerjaan bagus?” Dian bertanya tiba-tiba.

“Sebenarnya tidak ada alasan khusus. Kebetulan saja saya sedang ingin ke sini. Melihat kampung pesisir tempat tinggal saya waktu kecil dulu. Tapi setelah melihat-lihat, sepertinya kampung nelayan di sini cocok untuk jadi bahan untuk proyek film dokumenter saya. Akhirnya saya minta ke Pak Yani buat ikut melaut, walau sambil sedikit memaksa. Karena cuaca yang tidak jelas, sangat berisiko kalau bawa orang yang tidak berpengalaman melaut, katanya. Walaupun akhirnya beliau menyerah juga.” Johan menimpali sambil tertawa.

“Oh, jadi Mas Johan mau bikin film di sini?” Dian mulai tertarik proyek fim dokumenter Johan.

“Enggak tahu juga. Masih dipertimbangkan, nanti kalau masalah di kampung sini representatif untuk studi kasusnya, mungkin beberapa waktu ke depan, saya akan datang lagi dengan kawan-kawan saya yang juga mengerjakan proyek ini.”

“Memangnya masalah apa yang Mas Johan angkat di filmnya?”

“Tentang kondisi nelayan tradisional zaman sekarang”

Dian lalu tersenyum sambil menaikkan alisnya. “Kalau Mas Johan mau memakai saya sebagai aktornya boleh sekali Mas. Saya enggak usah dibayar juga enggak apa-apa.”

Johan tertawa, lalu menimpali, “nanti saya pikir-pikir ya.”

“Eh, kebetulan juga!” Johan tetiba teringat sesuatu. “Salah satu topik yang saya ambil di film dokumenter saya yaitu tentang profesi nelayan muda saat ini. Kamu sepertinya anak muda yang masih melaut di kampung, melihat pemuda di kampung tidak banyak yang menjadi nelayan.”

“Tentu saja Mas, saya salah satu dari sedikit pemuda di kampung yang masih melaut. Entah generasi di bawah saya apakah ada yang akan melanjutkan pekerjaan ini, ataukah profesi nelayan akan mati pada akhirnya.”

“Kamu tahu kenapa pemuda di kampung tidak banyak lagi yang melaut?”

“Wah, banyak sebabnya Mas. Mas tahu sendiri kan, pemuda saat ini tidak tertarik dengan pekerjaan yang semacam ini, mereka lebih memilih pekerjaan yang pasti. Nelayan itu pekerjaan yang tidak pasti Mas. Nelayan sangat tergantung pada cuaca. Belum lagi hasil tangkapan yang tidak selalu pasti, uang hasil penjualan ikan pun kadang tidak bisa menambal ongkos melaut yang kian hari kian mahal. Mas Johan juga tadi sudah menyinggung masalah harga solar yang semakin mahal. Mungkin saja di masa depan nelayan harus kembali memakai layar, kembali bergantung pada angin untuk melaut, padahal nelayan-nelayan di kampung juga mungkin tidak ada yang bisa menaikkan layar ke perahu, apalagi nelayan muda seperti saya”

Dian menghela napas sebentar. “Belum lagi, kami terpaksa menangkap ikan ke tengah laut. Karena ikan di dekat pantai sudah jarang ditemukan.”

“Apakah itu karena adanya PLTU?” Johan bertanya.

“Tentu saja itu masalah terbesarnya Mas. Mas lihat sendiri kan, dari tadi kapal-kapal tongkang lalu-lalang, sudah merasa yang punya laut saja. Mereka memaksa kami untuk melaut lebih jauh, seperti sekarang. Di laut lepas pun kami tidak bisa berbuat banyak. Kami kalah dengan kapal-kapal besar penangkap ikan milik perusahaan.”

“Mas juga mungkin ingat berita beberapa bulan lalu. Salah satu tongkang terguling di dekat pesisir, membuat laut tercemar. Saat kondisi normal saja, batu bara yang diangkut banyak yang berjatuhan mencemari laut, apa lagi ketika terguling seperti waktu itu. Keberadaan PLTU memang mengancam kami Mas.”

Johan mengangguki jawaban Dian. Memang benar PLTU mengancam nelayan tradisonal seperti Dian. Beberapa tahun terakhir Indonesia menjadi perhatian dunia karena tidak menepati target untuk menutup operasional PLTU. Janji menutup setidaknya 40%-50% PLTU dalam 10 tahun setidaknya menjadikan Indonesia menjadi sorotan utama negara-negara di dunia.

“Tapi, dilema juga Mas. Soalnya kan, PLTU yang menjadi penghasil listrik untuk negara kita. Toh, saya juga bisa menikmati listrik karena adanya PLTU. Di satu sisi saya mengutuk keberadaan PLTU karena mengancam kehidupan kami sebagai nelayan, tapi di sisi lain, kami juga menikmati listriknya.” kata Dian.

“Sebenarnya sumber pembangkit listrik tidak hanya PLTU, ada banyak sumber pembangkit listrik terbarukan, lebih bersih, lebih ramah lingkungan. Tapi tentu saja, ada harga ada kualitas. Sejauh ini PLTU itu ongkosnya yang paling murah”

Dian mengangguk, mafhum dengan tabiat negeri ini yang selalu menekankan prinsip ekonomi ‘mengambil keuntungan sebesar-besarnya dengan modal seminimal mungkin’.

***

Pesisir pantai sudah terlihat dari kejauhan. Tinggal beberapa menit untuk menepi ke pantai, mesin perahu diatur ke kecepatan tinggi. Hujan menderas perlahan. Seluruh manusia yang berada di perahu itu meneduh agar tidak terkena hujan, termasuk Johan dan Dian.

“Omong-omong, Mas, setelah saya pikir-pikir, krisis iklim yang tadi Mas bilang sepertinya bukan salah kita juga, sih.” Dian memulai kembali percakapan setelah beberapa menit lengang.

Johan menoleh ke arah Dian. “Maksudnya bagaimana?”

“Maksud saya obrolan kita tentang krisis iklim tadi, sering jadi bahan berita, tapi seolah-olah media menyalahkan negara kita sebagai penyebab krisis iklim yang terjadi, jadi seolah yang menanggung semua dosa krisis iklim itu. Padahal kan, negara-negara lain juga pasti jadi penyebab krisis iklim. Kalau negara kita kan dari dulu begitu-begitu saja, tidak pernah ada masalah iklim. Ini pasti akibat perusahaan-perusahaan besar dari luar negeri membuat pabrik di Indonesia, pada akhirnya kita lah yang seolah menanggung dosanya.” Dian menjelaskan. “Apa negara-negara di dunia tutup mata soal itu?” Dian lanjut bertanya.

“Negara lain tidak tutup mata. Sebabnya ada konferensi internasional tentang iklim dunia diadakan, karena dunia memang tidak tutup mata. Negara-negara yang mencetuskan perbaikan iklim dunia adalah negara-negara yang sudah lebih dulu ‘merusak alam’ dengan memulai industrialiasasi. Justru mereka sedang ‘cuci dosa’ dengan upaya-upaya terbaik yang bisa mereka lakukan. Tapi saya juga setuju, kalau pada akhirnya perusahaan-perusahaan besar itu punya andil dalam eksploitasi alam  Coba kamu lihat saja, berapa banyak pabrik yang didirikan perusahaan besar dunia yang melakukan produksi di Indonesia? Banyak sekali, Jika tidak dipantau dengan aturan yang baik, maka ekspoitasi alam makin menjadi-jadi.”

Dian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Pada akhirnya penyebab kerusakan alam ini adalah orang kaya, ya.”

“Tidak juga, kadang kala kemiskinan malah menjadi alasan pembenaran untuk eksploitasi alam”

“Memangnya begitu ya?”

“Kalau semua diukur dalam skema ekonomi atau bisnis, krisis ini tidak akan ada akhirnya. Saatnya kita membenahi diri untuk kesadaran lingkungan, bukan hanya untuk kita lho,tapi juga untuk anak-cucu kita nanti. Kasihan generasi penerus kita diwarisi lingkungan yang rusak. Kalau kita sayang dengan keturunan kita, tentu saja kita harus mewariskan segala hal yang terbaik, termasuk lingkungan kita.”

***

Beruntungnya hujan perlahan mereda. Perahu mendekati pantai tepat sebelum hujan secara sempurna berhenti. Para lelaki nelayan yang di perahu mulai turun sebelum perahu menyentuh pasir. Membuat Pakaian mereka yang sedari tadi menghindari hujan akhirnya basah juga. Johan, Dian, Pak Yani dan nelayan lainnya mulai mendorong perahu mendekat ke area yang lebih tinggi.

Ikan hasil tangkapan tadi mulai diturunkan dari perahu, lalu dipindahkan ke tempat pengolahan ikan, diikuti ramainya Ibu-ibu di perkampungan yang sudah menunggu dan siap mengolah ikan hasil tangkapan.

Johan meneruskan membawa ikan bersama Dian karena wadah-wadah bekas drum itu tidak mungkin untuk diangkat oleh seorang saja. Mereka berjalan seperti kepiting menuju tempat pengolahan ikan.

Aktivitas kampung menjadi lengang seketika tatkala pengeras suara dari masjid terdekat mengumumkan kematian salah satu warga yang ada di kampung sebelah. Ucapan ‘inalillahi’ terdengar setelah warga mengetahui nama orang yang meninggal itu.

“Siapa yang meninggal, Pak Yani?” Johan bertanya pada Pak Yani yang saat itu juga menghentikan aktivitasnya untuk mendengar pengumuman kematian.

“Bu Lisda, warga kampung sebelah. Beliau dirawat di rumah sakit di kota.” Jawab Pak Yani.

“Saya dengar sih beliau terkena kanker paru-paru. Mungkin karena asap batu bara, soalnya rumah beliau dekat dengan PLTU. Bulan ini saja sudah ada lima pengumuman warga yang meninggal.” timpal nelayan yang juga ikut mengangkut drum bersama Pak Yani.

“Hus! Pak Koes, tidak baik membicarakan orang yang meninggal.” Ujar Pak Yani sambil mengangkat kembali drum wadah ikan.

“Mas Johan benar.” Tiba-tiba Dian berbicara pada Johan. “Kita tidak bisa mewariskan alam seperti ini ke anak-cucu kita nanti.”

Tanpa menjawab Johan mengangguk lalu kembali mengangkat drumnya.

“Omong-onong Mas, semoga sukses film dokumenternya.”

“Amin, terima kasih Dian.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *