Cerpen #232; “Atmosfer”

“Halo, Namaku Coco dan ini adalah saudara-saudaraku, kami berasal dari hasil emisi pabrik yang bertebaran di Bumi. Oh, manusia mengenal kami sebagai gas karbon dioksida.” Sosok gempal berwarna hitam-merah yang mengenalkan diri sebagai Coco itu melambaikan tangan,  memberi salam, disusul saudara-saudara di belakangnya.

“Oh, Hai, Coco dan saudara-saudaranya, selamat datang di atmosfer! Aku Meta, asalku dari limbah indrustri dan manusia lebih mengenalku dengan gas metana.” Meta dan teman-temannya membalas lambaian rombongan Coco. Mereka bertugas menyambut kedatangan Coco dan saudara-saudaranya yang  ke Atmosfer untuk pertama kalinya. “Apa kalian satu spesies dengan Codi, Caki dan teman-temannya? Mereka bilang mereka juga gas karbon dioksida yang berasal dari asap kendaraan dan respirasi makhluk hidup.” Tanya Meta.

Coco menggaruk dagu bulatnya yang tidak gatal, “mungkin saja.” Jawabnya ragu. “Apa dia terlihat sama seperti kami?” tanya memastikan. Setiap spesies dari mereka sangat sama, bahkan jika masing-masing berasal dari tempat yang berbeda.

“Sangat.” Jawab Meta penuh keyakinan.

“Maka benar, kami satu spesies. Lalu, di mana mereka sekarang?” Tanya Coco. Ketika ia dan saudara-saudra sampai di atmosfer, ia tidak melihat kawanan lain yang satu spesies di sekitar mereka.

“Mungkin mereka sedang berkelana mencari pohon agar dimakan, jika tidak berhasil mereka akan pulang saat malam.” Jelas Meta melayang-layang di atmosfer, terlihat sangat menikmati waktunya. Sementara temannya yang lain telah pergi, tugas mereka menyambut penduduk baru telah selesai.

“Apa masih ada pohon di permukaan? Aku pikir manusia telah membakar atau menebang semuanya? Aku mendengar Oki sedang mengalami krisis hidup saat dalam perjalanan ke sini.”

“Entahlah, sobat. Sebagian dari mereka biasanya tidak akan kembali. Meski begitu, penghuni baru sepertimu tetap banyak yang datang. Dapat diduga bahwa Tuan Bumi kehilangan pohon-pohonnya sedangkan populasi kalian terus bertambah.” Jawab Meta, meletakkan kedua tangan di belakang kepala, ia benar-benar terlihat santai. “Omong-omong siapa, Oki?”

“Oh, dia dan saudara-saudaranya adalah sepupu jauh kami. Manusia mengenalnya sebagai oksigen.” Jelas Coco, ikut meletakkan kedua tangannya di belakang kepala dan melayang-layang, meniru Meta.

“Ah, Si Donat Kembar!” Serunya terpingkal. Coco yang tidak pernah mendengar istilah itu tertawa geli.

“Ya, Si Donat kembar. Spesies seperti mereka seharusnya tetap terjaga di Bumi, namun Oki bercerita bahwa populasi mereka semakin menurun setiap tahunnya.” Cerita Coco pada Meta, teman barunya. “Apa kau tahu, Meta? Bahkan ada manusia yang mati karena populasi spesies seperti Oki sangat kecil di kotanya.” Sambung Coco.

“Hah! Terdapat miliaran manusia di Bumi, kematian belasan orang di berbagai kota tidak akan membuat makhluk tanah itu serentak setuju untuk menjaga populasi spesies Oki dan mengurangi populasi spesies seperti kita.” Balas Meta, ia berbicara seakan-akan sudah ahli akan watak manusia, ‘makhluk tanah’ katanya.

 “Apa kau sudah lama tinggal di atmosfer, Meta?” Tanya Coco, matanya mengamati satu-persatu saudara yang melayang pergi, ingin segera bertemu dengan pohon selagi Tuan Matahari masih bekerja pamit mereka. Sementara itu, Coco memilih untuk tinggal sedikit lebih lama untuk melanjutkan oboralannya dengan Meta.

“Ya, sangat lama dan aku sudah berkeliling ke sana kemari untuk bisa pergi dari sini, tapi spesies kami tidak seperti spesies kalian yang bisa menjadi makanan pohon dan tumbuhan hijau. Jika kami terlepas ke sini, yang kami bisa lakukan hanya berkeliaran. Bukankah aku terlihat sangat santai?”

Coco mengangguk, meng-iyakan pertanyaan Meta.

“Hei, lihat! Bukankah mereka terlihat sepertimu, Coco?” Meta menegakkan badannya, menunjuk dua spesies yang baru saja lewat tidak jauh dari mereka. Entah spesies-spesies itu terlalu sombong atau tidak melihat keberadaan mereka, kedua spesies yang di tunjuk Meta hanya lewat tanpa menyapa atau menoleh satu senti pun.

“Karena mereka memiliki donat?” Tanya Coco balik, meminjam istilah Meta.

Meta tersenyum kecut, “Kau tersinggung?” Tanyanya.

Coco tertawa kecil, “tidak.” Ucapnya kemudian. “Dua spesies yang baru lewat tadi dikenal sebagai Nitrogen Dioksida dan Karbon Monoksida oleh manusia. Sebagai informasi, spesies Karbon Monoksida memiliki hubungan kekeluarga yang dekat dengan spesies kami.” Sambung Coco.

“Ohh, pantas mereka terlihat mirip sekali denganmu, hanya saja memiliki satu donat, jadi lebih ramping.”

“Hahahaha. Ya, mereka hanya memiliki satu donat.” Coco selalu tertawa setiap kata ‘donat’ keluar dari mulut Meta.

“Apa kalian berasal dari tempat yang sama?”

“Spesies Gas Karbon Monoksida berasal dari pembakaran yang tidak sempurna, biasanya dari pembakaran sampah atau kayu, juga kebakaran lahan dan hutan. Sementara spesies Nitrogen Dioksida berasal dari emisi kendaraan dan pabrik.” Jelas Coco.

Meta mengangguk mengerti, ia kembali meletakkan tangannya ke belakang kepala, bersantai. “Sesungguhnya aku sudah sangat muak dengan tempat ini. Apalagi ketika harus bekerja mengahalangi kumpulan Egi dari Tuan Matahari, melelahkan sekali.” Ucapnya.

“Hm? Egi?” Coco mengerutkan dahi bingung, ia baru saja sampai di atmosfer sehingga tidak terlalu tahu seperti apa di atmosfer, namun sepertinya Meta tidak terlalu memperdulikan kebingungannya. Melihat Meta yang tidak mengacuhkannya, Coco ikut bersantai seperti Meta, namun Ia segera mengurungkan niatnya saat melihat pendatang baru mendekat dari kejauhan.

“Hei, Meta kita kedatangan pendatang baru.” Ucap Coco bersemangat.

Meta membuka mata dan berdiri tegak. “Ough!” Ia mendengus kesal, membuang muka.

“Ada apa? Siapa mereka? Aku tidak pernah melihat spesies seperti mereka sebelumnya.” Coco menghujani Meta dengan berbagai pertanyaan.

“Aku tidak tau mereka memanggil diri mereka apa, tapi bisa kupastikan mereka satu spesies dengan Silfi dan gengnya. Aku sangat benci mereka.” Ucapnya, berbalik pergi. Ia tidak berniat menyambut pendatang baru tersebut.

“Kenapa?” Tanya Coco penasaran, mengekor di belakang Meta.

“Mereka adalah spesies Kloro Floro Karbon. Jika telah lepas ke sini, tingkah mereka menyebalkan sekali. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa manusia sampai melepaskan mereka!”

“Apa? Memangnya apa yang spesies itu lakukan?” Coco menyamai langkah Meta, rasa penasarannya semakin besar.

“Mereka sangat suka berkelahi dengan Si Egi kemudian melepaskan Kloro. Menariknya, setelah Kloro dilepaskan ia akan merebut satu persatu donat dari Ozon dan membuat lapisan Ozon di antara troposfer dan stratosfer menipis!.” Jelas Meta menggebu-gebu, ia hampir sama merahnya dengan Coco karena kesal.

“Aku tidak paham, Meta.  Sejak tadi kamu berbicara tentang Egi, Egi, dan Egi. Siapa sebenarnya mereka?” Tanya Coco semakin bingung.

Sebelum Meta menjawab pertanyaan Coco, suara berat tiba-tiba terdengar nyaring dan mengintrupsi mereka.

“Tuan Bumi, Tuan Bumi!” Suara berat itu menggema di seluruh atmosfer. “Aku ingin bertanya, Seberapa banyak Egiku yang bisa kau kembalikan hari ini? Bukannya aku perhitungan, namun keberadaan mereka di sana hanya akan berdampak buruk bagimu jika terlalu banyak dan lama.” Sambung suara berat tersebut.

Coco mendongak, mendapati bahwa Tuan Matahari lah yang sedang berbicara.

“Aku sudah mengembalikannya, Tuan Matahari.”

Coco menutup mulut tidak percaya, takjub karena baru saja mendengar Bumi dan Matahari sedang bercakap, ia tidak akan bisa melihat ini jika di bawah. Di sebelahnya Meta terlihat biasa saja, ia telah terbiasa.

“Kau mengembalikannya jauh lebih sedikit dari yang aku berikan, Tuan Bumi. Bisakah kau mengembalikan semuanya?” Jelas Tuan Matahari.

“Maafkan aku, Tuan Matahari. Aku tidak memiliki cukup energi untuk mengembalikan Egimu, terlebih lagi lapisan-lapisan gas ini menghalangi lemparanku.” Jawab Tuan Bumi, ada kesedihan dan penyesalan dalam suaranya.

“Hei, Kalian, tidak bisakah kalian menyingkir dari sana? Kalian sangat merepotkan.” Tegur Tuan Matahari pada Meta yang sedari tadi bersantai, tidak peduli dengan obrolan planet tua dan bola api raksasa.

“Hei, Kuning, Kau pikir aku ingin di sini? Tentu saja tidak. Kau tahu, hari ini penghuni baru bertambah dua kali lipat dari kemarin!.” Omel Meta.

“Para manusia itu bertingkah lagi? Tidak bisakah kau memperingati mereka, Tuan Bumi? Suhumu sekarang sudah meningkat tinggi karena terlalu banyak menyimpan Egi-Egiku, kau tidak akan bisa menahannya lebih lama jika terus seperti ini.” Ucap Tuan Matahari.

Tuan Matahari sungguh prihatin kepada sahabatnya, Tuan Bumi. Ia menjalin persahabatan dengan banyak planet, namun kondisi Bumi lah yang paling mengenaskan. Terkadang ia ingin memeluk Bumi ketika sahabatnya itu mengeluh sakit, namun tentu saja tidak bisa, mereka harus tetap menjaga jarak aman. Terkadang, saat Tuan Matahari melihat  Bumi semakin kesulitan menjalani hari demi harinya, memori dari ratusan tahun lalu melintas diingatannya, hari-hari itu Bumi terlihat sangat cerah dan bersemangat, ia terlihat hijau-biru yang jernih dan mengagumkan.

“Aku sudah memperingati mereka, Tuan Matahari. Bajir, longsor, angin topan, kebakaran, kematian makhluk hidup, kepunahan suatu spesies, semua sudah kulakukan. Beberapa dari mereka berusaha untuk merawatku, beberapa dari mereka hanya mengumbar janji dan sebagian besar dari mereka tidak peduli.” Ucap Tuan Bumi, menahan tangis.

“Aku mengerti, wahai temanku, Bumi. Kuharap esok egi-egiku tidak terjebak lebih banyak lagi padamu. Percayalah padaku, Kawan, tidak ada masa depan bagimu jika egiku terus tertahan di sana dan panas kulitmu terus bertambah dari waktu ke waktu.” Ucap Tuan Matahari dengan segala kekhawatirannya.

“Aku mengerti wahai teman lamaku, Matahari. Aku pun memiliki harapan yang sama denganmu.” Balas Tuan Bumi, tersentuh dengan semua kekhawatiran temannya tersebut.

Kemudian suara berat Tuan Matahari menghilang dan itu menjadi kalimat terakhir dari Tuan Bumi hari itu.

“Apa kau mengerti sekarang, Coco?” Ucap Meta merentangkan tangannya, sesekali menunjuk ke atas. Sayangnya, Coco menggeleng, ia sama sekali tidak mengerti.

Meta menarik nafas pelan sebelum menjelaskan semuanya dengan Coco, pendatang baru memang sering seperti ini. Sekali lagi, Meta telah terbiasa. “Kau tahukan bahwa Tuan Matahari adalah  bola api raksasa yang sangat panas yang tidak pernah padam? Karena itu, Bumi memilih untuk mengitari Tuan Matahari dan menjadikannya sumber energi utama untuk Bumi. Energi dari Matahari ini masuk sebagai radiasi gelombang dan membantu banyak kehidupan di Bumi. Seperti, sebagai penghangat alami Bumi, untuk fotosintesis tumbuhan,  energi yang tepat akan menghasilkan vitamin D yang baik untuk kesehatan dan lain sebagainya. Gelombang radiasi dari Matahari ke Bumi ataupun pantulannya, kami sebut dengan “Egi” sesungguhnya itu pemberian langsung dari Tuan Matahari.“

“Meski begitu, energi  dari Tuan Matahari tidak semuanya baik, Coco. Gelombang radiasi yang diberikan Matahari beragam dan semua memiliki dampak untuk makhluk hidup di Bumi. Itulah sebabnya kita membutuhkan lapisan Ozon di atas atmosfer sebagai penyaring, sebelum akhirnya Si Egi-Egi itu masuk ke Atmosfer, sayang sekali spesies dari Kloro Floro Karbon sangat gencar merusak lapisan Ozon, membuat Bumi pasrah menerima energi apapun yang diberikan Matahari. Bumi benar-benar khawatir ketika mengetahui manusia bisa terkena kanker kulit jika terpapar gelombang radiasi yang buruk, seakan-akan manusia peduli padanya yang sekarat sepuluh tahun lagi. Lucu sekali, bukan.” Jelas Meta, menatap sekilas Coco sebelum akhirnya lanjut bercerita.

“Lalu, apa tugas kita yang terlepas ke atmosfer ini? Tadi sudah aku katakana bukan bahwa energi dari Matahari dalam bentuk gelombang radiasi itu harus di pantulkan kembali dari Bumi ke Matahari. Tugas kita adalah menahan radiasi itu, kita harus menahan Eginya Matahari agar tidak terpantul keluar atmosfer, melainkan tertahan disini, Coco. Menahan Egi di atmosfer sama dengan menahan panas Matahari” Jelas Meta, merentangkan kedua tangannya.

Coco yang mendengar penjelasan Meta menunduk, tadi ia sangat bersemangat karena terlepas ke atmosfer. Setelah mendengar percapakan Tuan Matahari dan Tuan Bumi membuatnya menyesal sudah senang untuk beberapa saat.

“Apakah itu artinya kitalah yang selama ini membuat Bumi sakit? Apa kita jahat, Meta?” tanya Coco, suaranya terdengar sangat sedih.

“Tidak, tidak, Coco. Kita melakukan tersebut karena sifat alami kita seperti itu. Kita terlepas ke sini karena manusia, yang jahat itu adalah mereka. Jika suhu rata-rata Bumi meningkat setiap tahunnya, itu karena manusia. Jika, es di kutub mencari dan beruang kutub kehilangan habitatnya, itu karena mereka. Jika tumbuhan dan hewan punah bahkan sebelum diklasifikasikan, itu karena mereka. Jika, hewan-hewan sekarat akibat kebakaran hutan, ikan-ikan dan kehidupan laut terancam karena sampah, itu karena mereka. Penjahat sejati itu adalah manusia, bukan kita, Coco.” Jelas Meta. Ia mengerti perasaan Coco, itu adalah perasaan yang sama yang ia rasakan saat mendengar percakapan Tuan Matahari dan Tuan Bumi. Menyedihkan sekali, manusia yang bertanggung jawab besar malah tidak dapat mendengarnya.

“Meski begitu aku harus tetap melakukan sesuatu, Meta. Aku tidak boleh terlalu lama di sini, aku harus mencari pohon dan segera menghilang. Aku akan mencari pohon, walau akan sulit untuk mencarinya.” Ucap Coco, menghapus air mata yang hendak jatuh di ujung mata.

“Tindakan yang tepat, Kawan. Aku iri sekali pada spesies kalian yang dapat menghilang karena pohon. Walau sekarang sulit untuk mencari tumbuhan hijau itu.”

“Aku akan berusaha dengan segenap tenaga, Meta.” Ucap Coco, bertekad menemukan pohon dipermukaan.

“Tepat sekali, Coco. Dan jika begitu tekadmu, maka aku rasa inilah perpisahan bagi kita, Teman.” Ucap Meta, mentangankan kedua tangannya.

Coco tersenyum simpul, menyambut Meta ke dalam pelukannya. “Selamat tinggal, Meta.”

“Selamat tinggal, Coco.”

Tamat….

Perubahan yang besar hanya akan terjadi dalam pergerakan besar yang dilakukan dengan benar dan kontinu. Satu orang buang sampah sembarangan, “satu saja, tidak masalah.”, kemudian hal tersebut terjadi bagai efek domino dan 7,85 miliar manusia melakukannya. Ekploitasi alam, pembukaan lahan, pembebasan hutan semua dilakukan dengan serakah seakan satu meter tanah yang manusia pijak bisa melebar dua kali lipat esok paginya. Bumi semakin sakit, namun manusia semakin tamak. Jika terus seperti ini, bahkan bila manusia menemukan teknologi paling canggih dalam sejarah peradaban manusia sekalipun. Kalian tidak akan hidup lebih bahagia dari sekarang jika Bumi mati. Aku tahu kalian paham caranya. Ayo kita selamatkan, Bumi!- Coco.

_TAMAT_

6 thoughts on “Cerpen #232; “Atmosfer”

  1. Kerenn bangett, gak hanya menyajikan cerita yang menarik tapi memberikan edukasi yang mudah dipahami bagi semua kalangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *