Cerpen #231; “Maafkan Kami”

Solo, tahun 2121. Anak Kali Bengawan Solo.

Cahyo dan Wawa sedang berlibur di rumah kakek. Hari ini mereka berdua senang sekali untuk mengajak kakek mereka untuk memancing ikan sapu-sapu yang kini adalah spesies ikan terakhir yang dapat bertahan hidup di sungai tersebut.

“Kek, saya dapat satu ikan sapu-sapu lagi.”, cengir Cahyo kepada kakek.

“Wah, kakak hebat. Habis ini kita buat sapu-sapu bakar ya, kek.”, Wawa terkagum melihat kakaknya mendapatkan ikan sapu-sapu. Ia baru kali ini melihat ikan semacam itu. Selama ini Wawa enggan untuk ikut memancing sebab tidak tahan akan bau sungai bengawan itu. Namun, Cahyo, kakaknya, menyuapnya dengan membelikan minuman boba setelah memancing. Minuman tradisional yang sudah berusia seratus tahunan itu.

Mboten pareng, Wa. Tidak baik.”, kakeknya tersenyum lembut kepadanya.

“Kenapa kek? Kata Ayah, orang-orang dahulu suka memancing di kali, membakarnya dengan tusuk bambu kemudian di makan dengan..”, perkataannya terhenti dan terlihat mengingat-ingat.

“Nasi.”, Cahyo sembari melemparkan jorannya lagi.

“Iya itu, kek.”

“Iya benar. Jaman ayahnya kakek dulu memang masih ada orang-orang yang cari makan di kali ini. Sungainya coklat, tidak sehitam seperti sekarang. Kata ayahnya kakek, ada ikan yang punya kumis, namanya lele. Ada lagi sepat yang punya tahi lalat dan ikan cethol yang besarnya cuman se-kuku kakek.”, Kakek sembari menunjukkan kuku telunjuknya.

“Kok, lucu banget kek. Memang ikan yang lain pada kemana kek?”, pipi tembemnya ditopang dengan telunjuk mungilnya. Ia memang masih menginjak sekolah dasar. Namun pendidikan pada waktu ini sudah mengajarkan para siswa untuk berpikir kritis. Bukan belajar baca tulis saja.

“Sudah punah pada jaman ayahnya kakek dulu. Begitu juga dengan beras yang kata orang-orang adalah produk sebelum nasi.” Kakek tersenyum mengamati cucunya yang haus akan rasa ingin tahu.

“Kakek pernah makan nasi? Rasanya gimana kek? Cahyo pernah lihat video lama di platform youtube yang sekarang sudah tidak ada, kek. Warnanya putih kecil-kecil tapi banyak gitu. Terus, kok orang dahulu makannya bisa banyak ya, kek? Mukbang atau apa gitu. Cahyo lupa. Sedang, kita sekarang makan suplemen yang kalo Cahyo sendiri kurang kenyang makan 3 biji doang.”, Cahyo menggerutu kesal. Ia seperti ingin hidup di jaman itu.

“Iya pernah. Itu warisan ayahnya kakek dulu.”, kakek mengingat-ingat.

“Gimana kek rasanya”, serempak bertanya.

“Enak. Kakek tidak pernah lupa suapan demi suapannya. Belum juga lauk pauk seperti ayam, telur, kangkung, lodeh, gori dan sebagainya. Yang dahulu masih mudah dan murah didapatkan.”

Mereka berdua menelan ludah. Perut mereka mulai keroncongan meski sudah sarapan dengan beberapa butir suplemen nutrisi. Yang mana pada era peradaban manusia yang sudah maju ini dapat menggantikan kebutuhuan gizi dari nasi, lauk pauk dan sebagainya yang telah dijelaskan oleh Kakek.

“Kek, ada botol hanyut kek.”, Wawa menunjukkan sebuah botol plastik yang mengapung di pinggir kali.

Tidak butuh waktu lama, Kakek sigap dan mengambil botol itu menggunakan jaring dengan ganggang panjang yang telah disiapkan oleh Cahyo sebelum berangkat.

“Inilah salah satu kesalahan dari orang jaman dulu. Tidak bisa membedakan mana tempat sampah dan mana sungai. Sering menggunakan plastik dari pada bahan lain yang mudah terurai.”, Kakek terlihat geram dan marah.

“Memang itu botol apa kek?”, Cahyo memberanikan diri bertanya.

“Ini botol plastik untuk air minum pada jaman kakek. Kata orang, butuh 450 tahun untuk bahan plastik dapat terurai dengan sendirinya.” Kakek mengatur intonasi nadanya.

“Kalian tahu apa maksudnya”, sambungnya.

“Tidak tahu, kek.” Cucu mereka bersungut-sungut ingin tahu.

“Bila kakek tidak mengambil botol plastik ini, masih butuh beberapa ratus tahun lagi untuk botol ini, dapat membaur dengan lingkungan.”

“Ooooh.” Mulut mereka melingkar.

“Salah satu alasan kenapa Jakarta yang dulu adalah ibukota kita menjadi tenggelam. Jaman dahulu orang suka membuang sampah sembarangan atau membakarnya. Banyak orang yang suka bikin polusi. Krisis menjadi melanda dimana-mana”.

“Hubungannya polusi dengan krisis apa kek? Cahyo masih belum ngerti”.

“Jadi gini. Ada kendaraan yang namanya motor dan mobil. Tidak seperti sekarang yang sudah menggunakan energi cahaya matahari, dahulu masih menggunakan bahan bakar yang menimbulkan polusi udara. Belum lagi diperparah dengan ditebangnya pohon-pohon. Kalian tahu, rumah kalian di Kalimantan sana dahulu masih banyak hutan. Bukan seperti sekarang yang sudah menjadi ibukota besar dan maju.”, kakek menjelaskan dengan cara sesederhana mungkin.

“Kalian tahu, kenapa disini bisa melihat bintang sedang dirumah kalian sudah sulit bahkan tidak bisa?”

Mereka saling bersitatap. Beberapa detik kemudian menggeleng bersamaan.

“Jadi ada yang namanya atmosfir dan lapisan ozon yang melindungi bumi. Kalian sudah pernah dengar bukan?”

Mereka mengangguk.

“Nah, populasi penduduk di negara kita itu semakin banyak tiap tahunnya. Tidak sebanding dengan tingkat kematiannya. Setiap orang membuat polusi tiap harinya. Bayangkan saja satu keluarga memiliki satu motor, satu mobil. Bayangkan setiap orang membakar sampah yang tidak dapat terurai atau membuangnya sembarangan. Betapa banyak polusi yang akan timbul. Nah, lapisan tersebut menjadi tipis dan membuat langit menjadi kotor sebab zat kimia yang terkumpul itu.”

“Lalu kek?” Wawa menunjukkan ekspresi serius meski terlihat menggemaskan.

“Nah, jaman kakek dahulu terdapat krisis energi. Belum ada yang bisa menjawab persoalan akan energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Maka, iklim menjadi berubah drastis. Alam menjadi murka. Pulau jawa semakin tenggelam namun air laut semakin naik. Kutub utara dan selatan yang kalian tahu itu mencair dan berbagai kota menjadi tenggelam”.

Kakek mengambil napas. Membenarkan duduknya. Cucu mereka juga ikut-ikutan mencari posisi duduk yang nyaman.

“Kalian tahu, kenapa rumput yang kita duduki ini adalah rumput sintetis atau buatan?”

“Mungkin sebab ada polusi lagi kek?”, Wawa menebak-nebak.

“Iya, Wawa pintar, nggih. Alasan yang sama mengapa tanaman padi, yang mana adalah produk sebelum beras sudah tidak dapat ditanami. Penggunaan zat kimia seperti pestisida dan pupuk yang tidak ramah lingkungan adalah penyebabnya. Tanah menjadi keras, tidak subur, dan sudah tidak ada kandungan nutrisi untuk pertumbuhan padi. Maka dari itu, pemerintah mengakalinya dengan mengganti bahan pokok makanan menjadi suplemen bernutrisi tinggi.”

Cahyo mengambil botol plastik yang sudah berwarna coklat itu. Melihatnya dan membuka botol tersebut.

“Ada isinya, kek.”, ia terkejut.

Diambilnya botol itu oleh kakek dan mengambil isi di dalamnya. Sebuah kertas berwarna cokelat yang sudah rapuh namun masih jelas. Terdapat sebuah tulisan. Kakek membacakannya:

Kepada generasi yang akan datang.

Entah itu beberapa ratus tahun kemudian sejak surat ini ditulis.

Kami minta maaf. Mewakili generasi gagal sebelumnya. Kami minta maaf. Meski permintaan maaf ini hanya berani dan sekedar dengan media surat botol. Ini menunjukkan betapa dungunya kami. Yang sudah tidak tahu-menahu bahwa alam dapat murka. Kemudian hari, kalian generasi selanjutnya terkena imbasnya pula. Maafkan kami.

Atas panasnya udara, tercemarnya sungai, punahnya fauna, hilangnya flora hingga akarnya. Kami tidak dapat menunjukkan betapa indahnya dunia bahkan kepada cucu-cucu kami sendiri. Kami minta maaf.

Mungkin sudah terlambat. Tetapi, kami mohon, untuk tidak melakukan kesalahan kami di masa sebelumnya. Mengulangi kedunguan yang terus menerus dilakukan. Kertas buku dari pohon yang kemudian dibuat buku dan berisi bahwa pohon itu berarti. Kami tidak cukup memiliki pengetahuan untuk mencari energi yang terbaharukan, mengakali krisis yang sudah tidak berkesudahan serta berbagai masalah yang timbul oleh orang-orang generasi kami sendiri. Maafkan kami.

Akhir kata, titipkan permintaan maaf kami kepada alam di masa yang akan datang, kami minta maaf.

 Jakarta, ketika kota kami tenggelam

Kakek menunduk. Ia terlihat menyesal dan berurai air mata. “Maafkan kami”. Cucu mereka bingung. “Untuk apa?”.

2 thoughts on “Cerpen #231; “Maafkan Kami”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *