Cerpen #229; “KETIKA BUMI BERHENTI BERPUTAR”

Air keran mengucur deras. Kutampung alirannya dalam gelas kaca. Minum setelah bangun tidur itu seperti berbuka puasa. Rasanya tiap sel tubuhku menjerit senang karena siraman air dingin. Belum puas aku meneguk, tiba-tiba terdengar suara nyaring,

“Berhentilah minum terlalu banyak, Ana. Lebih baik segera tampung air di tandon. Sebentar lagi jatah air untuk rumah kita berhenti.”

“Ya, Bu.”

Dengan langkah ringan, aku melompat ke sudut ruangan dapur. Mengambil selang karet panjang dan gelang besi kecil untuk mengeratkan selang ke pancuran keran. Pagi ini begitu temaram. Hanya secercah cahaya matahari masuk lewat jendela dapur. Lumayan untuk penerangan memasang selang itu. Aku tak berniat menghidupkan lampu. Sama seperti air, listrik pun mendapat jatah pemadaman tiap dua hari sekali. Tepat saat Ibu masuk ruangan, air mengucur ke dalam tandon besar dengan suara gemuruh.  Ibu menggunakan piama tebal sama sepertiku. Musim panas bukan berarti menggerahkan malah membawa hawa sejuk cenderung dingin. Tetapi walaupun sama denganku menggunakan piama, penampilan Ibu saat ini seperti model yang baru bangun tidur. Dia sangat memperhatikan apa yang dipakai. Piamanya harus dari wool berkelas, bahkan penutup matanya berenda. Maklum dia seorang mantan desainer kenamaan ibu kota. Karya-karyanya bertebaran di butik-butik mewah.

Sebelum butik-butik mewah itu terendam air… 

Berbeda denganku yang bisa tidur dengan cahaya terang benderang, Ibu harus menggunakan penutup mata. Benda itu sekarang bertengger cantik di kepalanya menahan rambut putih yang berantakan. Ibu sudah bangun sedari tadi dan mempersiapkan sarapanku dan ayah. Aku dapat mencium bau telur goreng di piamanya. Ibu belum terlalu tua. Wajahnya masih menampakkan kulit kencang dan rahang tanpa gelambir. Hanya berkas uban yang membuatnya terlihat beberapa tahun di atas usia sebenarnya.

“Kau akan bekerja?”

Aku menggelengkan kepala. Sejak sekolah menengah, aku bekerja menjadi barista di kedai kopi. Tapi sudah beberapa hari kedai menutup gerainya. Alasannya karena kehabisan stok kopi dan air bersih. Daerah penghasil kopi, terutama dari dataran rendah, terendam air laut. Biji hijau kopi menjadi rebutan dengan harga melonjak tinggi. Sebenarnya tidak hanya kopi, semenjak air laut mulai menggenangi daratan, hampir semua barang menjadi langka di pasar. Kami sulit mendapatkan barang – barang kebutuhan sehari-hari. Seringkali Ibu harus membeli dengan harga mahal untuk sekilo gula, dan sekarung beras. Harganya bisa berlipat-lipat. Tumpahan air laut menghancurkan segalanya.

Seperti saat ini, bila aku memandang keluar dari jendela dapur. Terlihat laut membentang luas. Air nampak kelam memantulkan cahaya langit. Tanpa gelombang, dengan bayangan sinar matahari terbit atau pantulan matahari tenggelam yang indah saat sore hari. Harap jangan menyangka kami bertempat tinggal di villa pinggir pantai atau kawasan elit semacam apartemen di perkotaan dengan pemandangan ala river side. Rumahku ada di kawasan pegunungan. Sejuk dan indah pada zamannya. Letaknya tepat di lereng gunung menyebabkannya berposisi lebih tinggi daripada wilayah ibu kota, sehingga hujan yang datang terus menerus di kota kami sering dianggap sumber banjir bagi ibu kota negara. Mestinya air hanya akan menggenangi ibu kota, tapi ternyata dia tak pernah puas. Maka air menenggelamkan ibu kota dan menuju ke kota kami dengan mendaki lereng gunung.

Tiba-tiba suara alarm menggema. Tidak nyaring seperti suara peluit melengking, tetapi seperti suara kicauan burung murai di pagi hari. Lampu sinyal yang ditaruh di setiap ruang pun berkedip kedip. Langit yang telah kelam perlahan semakin menghitam. Gumpalan awan bergulung-gulung menimbulkan semilir angin yang makin lama makin menderu. Permukaan air tampak meninggi dan bergelombang. Getaran di lantai dapur tempat kami berpijak terasa tapi tak keras. Bila mendengar alarm ini, aku bergegas melihat keluar rumah dari balik jendela. Berharap melihat Tonggak Mega Tera memutar bumi. Tapi tentu saja itu hanya khayalanku. Poros bumi tak terlihat. Dia hanya berupa poros yang melayang dan bukan statis. Semestinya Tonggak Mega Tera demikian pula. Ibu menggumam,

“Aku harus menyuruh ayahmu untuk menaikkan rumah kita paling tidak dua meter lagi. Air ini naik lebih cepat dari yang kita duga.”

“Bukankah maksimum eskalasi hanya satu meter tiap bulan, Bu?”

“Bahkan rumah Perdana Menteri pun di ibu kota saat ini telah naik berpuluh meter dan tak ada yang mencegahnya.”

Hening. Hanya suara angin yang terus berdesing. Pemerintah telah memberi bantuan dengan membangun rumah kuat tahan angin dan gempa. Sebenarnya desain awal adalah rumah apung, karena kami tak perlu khawatir rumah kebanjiran dan penopang aus karena tergerus air laut yang terus meninggi dari tahun ke tahun. Hanya perlu penambat di dasar laut. Tapi rumah memerlukan kestabilan, dan hanya rumah besar mirip kapal pesiar saja yang dapat melakukannya. Jadi rumah kami bertopang poros dari baja anti karat yang ditanam dalam di dasar lautan. Poros ini bisa terus dinaikkan setinggi permukaan laut. Tentu ada batas maksimumnya. Tapi bila itu terjadi, air akan kembali surut. Pindah kembali ke area dimana air itu berasal.

“Kata orang di zaman Ibu masih kecil dulu. Putarannya begitu halus tak terlihat. Menimbulkan suara desing yang tak terlalu mengganggu. Bahkan lebih rendah daripada suara lebah. Tetapi dampaknya lebih dahsyat daripada saat ini. Air bah macam tsunami menerjang kota. Topan badai mencabut  pohon dan apa pun yang dapat diangkat. Langit hitam kelam dan petir menyambar-nyambar. Kau jauh lebih beruntung.”

Jauh lebih beruntung? Lalu bagaimana dengan gambar di kalender tahun 2021 yang dipajang Ibu di ruang tamu? Seorang petani membajak sawah yang luas dengan kerbaunya dan tersenyum hangat  bermandikan matahari. Dia jauh lebih beruntung daripada kami.

“Lebih baik jangan menengok ke belakang lagi. Masa depanmu lebih penting.”
Ibu berkata seperti itu sambil mengaduk kopinya, sementara tangan yang satu lagi berpegangan pada meja dapur. Suara burung murai berhenti berkicau. Meninggalkan jejak keonaran kaleng daging kemasan yang berjatuhan. Segera kupungut dan kukembalikan ke lemari seperti semula.

“Sampai kapan, Bu?”

Ibu, yang masih mengaduk kopinya, hanya diam. Lalu setelah puas mengaduk, menyeruput kopinya perlahan. Tatapannya kosong.

“Apa?”

“Sampai kapan bumi berhenti berputar?”

“Aku tak tahu, Nak. Tetapi bukankah secara mekanis, dia berotasi? Tonggak Mega Tera itu yang menggerakkannya.”

Aku mendengus. Ibu menutup mata tentang fakta bahwa dampak negatif mesin raksasa itu menyedot energi begitu besar sehingga kami harus berbagi listrik dan air bersih. Mesin itu begitu rakus bahkan saat ilmuwan penciptanya menemukan cara mengkonversi energi sinar matahari menjadi bahan bakarnya, Mega Tera terus menghisapnya. Sama seperti bayi yang menetek ibunya. Dan sebelum matahari meredup kehabisan gas, ilmuwan itu menghentikannya. Dia mencari sumber energi dari tata surya lain, dan menemukannya. Walaupun begitu tak semudah itu mengumpulkan energi dari dimensi lain. Diperlukan perpindahan massa yang cukup kuat dan cepat untuk mengalahkan jarak berapa ribu tahun cahaya. Tetapi sebelum itu terlaksana, kami harus mengorbankan sumber energi yang semestinya untuk kebutuhan hidup. Panas bumi, angin, minyak bumi, biodiesel, gelombang air. Semuanya habis terserap, dan kami penduduk bumi mendapatkan sisanya.  Memang masalahnya tak sesederhana giliran mati listrik atau air. Energi bumi pun akan habis. Lalu apakah kami akan membiarkan bumi berhenti berotasi?

“Tenanglah. Secara teori ada inersia. Hukum kelembaman. Benda akan berusaha mempertahankan kondisinya. Geraknya.”

Ibu mulai memakan telur ceploknya. Telur terakhir  jatah dari pemerintah. Lebih mudah mendapatkan ikan, atau sesuatu yang hidup di air daripada bahan makanan yang ada di daratan.

“Maksud Ibu?”

“Pada suatu saat kita akan melepas mesin Mega Tera. Bumi akan berputar sendiri sesuai hukum inersia.”

Tapi bukan itu yang seharusnya kita khawatirkan, Nak. Penyebab bumi berhenti berputar itu yang lebih menakutkan. Kita terlalu lama bertindak sehingga semuanya terlambat. Perubahan iklim menyebabkan gletser mencair dan menggeser sumbu poros bumi. Dari selatan ke timur, Sampai akhirnya pergerseran tersebut terlalu jauh, dan lambat laun menghentikan perputaran bumi. Tonggak Mega Tera dapat kembali menggerakkan bumi dan gerak inersia melanjutkannya. Tetapi bila permasalahan utama tidak ditanggulangi, maka semua yang buruk akan kembali terjadi. Dan seluruh makhluk hidup akan menderita.

“Aku akan membuang sampah, Bu.”

“Bukankah sudah kukatakan padamu, untuk tidak memakai kantung plastik sebagai pembungkus sampah?”

“Tidak ada plastik di rumah kita, Bu. Kantung ini berbahan biologis yang mudah terdegradasi.”

Ibu mengacungkan jempol. Paling tidak ini sedikit sumbangsih kami untuk mendukung bumi menyembuhkan dirinya sendiri.

-Selesai-

8 thoughts on “Cerpen #229; “KETIKA BUMI BERHENTI BERPUTAR”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *