Cerpen #228; “CERITA DARI MASA DEPAN”

Apakah kau baru menyadarinya sekarang? 

Penyesalan.

Padahal kau bisa melakukan sesuatu tentang itu, tapi kau memilih untuk melangkah menjauh dan menyembunyikan tangan kotormu. 

Apakah sudah terlihat jelas di matamu?

 Hasil dari perbuatan yang kau dan semua orang itu lakukan?

Kalian merusakku, mengambilku dengan paksa, mengeksploitasi ku secara gila-gilaan, mengancam keberadaanku, bahkan ikut berperan besar dalam kepunahanku sendiri.

 Di sisi lain, kalian berkata kalau aku sendiri lah yang merencanakan kehancuran bagiku?

Kalian menari-nari Bahagia dalam kabin beratapkan potongan kayu dari hutan.

Di atas perahu yang berlayar bebas dikelilingi oleh laut keruh dan tercemar.

Di atas gunungan sampah tinggi yang akan terus meninggi tiap detiknya.

Bahkan, kalian masih tertawa saat Komodo, sahabatku yang terakhir di dunia akan punah.

Aku memberi air untuk sawahmu, ladangmu,dan ternak-ternakmu.

Aku memberi kalian semua udara yang sangat kalian butuhkan itu, bahkan saat Pepohonan  mati-matian menolak permintaanku. Sesungguhnya mereka tidak sudi tunduk pada kalian, yang mereka sebut sebagai Para Perusak.

 Namun, Aku diciptakan untukmu. Berdampingan dengan miliaran versi darimu yang berbeda satu sama lain. Sejatinya hanya sedikit sekali dari kalian benar-benar peduli. Sisanya, banyak dari kalian yang mempermainkan keberadaan kami. 

Aku meminta para hewan di dalam tanah agar bekerja keras menyuburkan tanah-tanah di manapun mereka berada, agar kalian tidak kekurangan dan tetap Bahagia. Dengan begitu, kalian akan memperlakukan kami, Alam sekitar dengan penuh kasih sayang.

Kami, lebih tepatnya aku selalu memperhatikan kemana arah miliaran kaki itu melangkah, maka berhati-hatilah dengan segala Tindakan dan perbuatanmu.

Tapi,apakah kalian Para Manusia bahkan memiliki akal dalam otak yang selalu kalian banggakan itu? 

Present :

CERITA DARI MASA DEPAN

2035

A

vani pikir semua orang sama saja. Saat mereka meneriakkan kepada orang-orang agar mengurangi polusi dan pencemaran, mereka sendiri tetap memakai kendaraan pribadi dan membuang sampah sembarangan.

Saat mereka berdemo dan menginginkan agar aksi Penggundulan Hutan di wilayah manapun di Dunia ini dilarang, sesungguhnya di detik yang sama, saudara atau bahkan diri mereka sendiri juga tengah membabat hutan untuk dijadikan lahan pertanian maupun hunian, dan hal itu sangat menganggunya.

Avani tidak peduli sebenarnya, karena orang tuanya sendiri juga selalu memakai plastik untuk semua kebutuhan mereka, dan bahkan membangun rumah mereka di atas lahan yang di peruntukkan untuk konservasi binatang. Keduanya nampak tidak terlalu ambil pusing mengenai hal itu. Kata Ricky, ia terlalu terobsesi, dengan lingkungan dan segala permasalahan kompleks yang menyertainya itu. Vani tanpa sadar mengangguk mendengarnya.

Dunia telah berubah, kau tahu? Saat dirinya masih belia, ia melihat sendiri bagaimana Alam yang telah menyimpan dendam sejak kemunculan perdana homo sapiens akhirnya meluapkan segalanya, tanpa ampun pada manusia.

Biar dirinya perjelas, tahun ini adalah tahun 2035. Empat belas tahun berlalu sejak hari kehancuran Manusia dimulai.

Tahun 2021, pencarian yang dilakukan manusia untuk mencari sumber daya baru tidak berbuah manis. Hasilnya, peneliti melakukan eksperimen, yang menurutnya adalah sebuah  awal dari kecerobohan yang fatal. Tujuan percobaannya ialah untuk meningkatkan kemampuan tumbuhan agar tumbuh dan melakukan regenerasi secara cepat dan tidak membutuhkan tambahan nutrisi dari manusia. tentunya semua orang menyambut baik dan berpikir hal itu adalah  mukjizat sekaligus bukti nyata kemenangan ilmu pengetahuan.

Nyatanya, setelah bibitnya habis terjual dan telah ditanam di lebih dari empat puluh negara, tanaman tersebut malah tumbuh dengan menyerap seluruh zat hara dan air dalam tanah, mengakibatkan kekeringan massal tak berkesudahan dalam wilayah hingga jarak lima ratus meter, karena tumbuhan itu terus tumbuh lebih tinggi setiap dipotong. Buahnya juga tidak layak konsumsi, bewarna coklat dan berbau busuk.

Tahun 2025, saat Vani masih berusia sepuluh tahun, seluruh manusia kembali digampar oleh kenyataan pahit lainnya. Isu pemanasan global kembali hangat dibicarakan, curah hujan tinggi di negara-negara tropis yang membuat Para petani gagal panen, mendorong harga bahan pangan melambung tinggi. Dirinya ingat kalau ibunya bercerita bahwa Vani kecil sangat kurus dan kekurangan gizi sebab sang ayah yang hanya mampu membiayai tiga porsi makanan tiap harinya juga tidak mampu membelikan dirinya sekaleng susu.

 Sebagian wilayah dataran rendah terendam banjir. Di beberapa negara, air laut mencapai permukaan pantai, lebih tinggi dari sebelumnya. Nelayan tidak bisa melaut dan berimbas pada langkanya persediaan ikan.  Dunia dilanda kelaparan dan Vani kecil sungguh beruntung  ia bisa makan ikan setidaknya tiap dua tahun sekali.

Tahun 2029, alam perlahan iba dan meluluhkan kemarahannya. Air laut kembali mencapai batas normal, para pelaut juga petani dapat kembali menyambung hidup, ketidakstabilan dunia berubah seutuhnya. Populasi manusia diperkirakan berkurang hingga sekitar satu per limanya akibat berbagai faktor, demikian pula dengan populasi hewan, kebanyakan dari mereka tidak dapat diselamatkan. Setidaknya tahun ini, Vani kecil dapat tidur dengan nyenyak di malam hari, saat perekonomian keluarga mereka semakin membaik.

Pepohonan tumbuh lebat di berbagai tempat, udara menjadi lebih sejuk dari sebelumnya, ia bahkan bisa melihat kabut dirumahnya yang masih tergolong daerah perkotaan. Tumbuhan setan, atau begitulah ia menyebut sebuah karya gagal hasil kesombongan manusia- ikut hanyut saat banjir melanda hampir seluruh negara.  Setelah semua yang terjadi, Alam berusaha menghilangkan jejak kesalahan dan seolah menyisakan lembaran baru untuk manusia memulai semuanya kembali.

Dirinya mungkin akan menabrak pilar didepannya jika saja Ricky terlambat menarik kerah tengkuknya. “memikirkan sesuatu,eh?” Vani mengaduh akibat tarikan di kerahnya sebelum membisikkan sesuatu padanya. Pemikiran yang tersangkut dan terus berputar dikepalanya sedari tadi.

 Apakah ada seseorang di dunia ini yang benar benar menghargai alam?

” Jika maksudmu, orang itu akan selalu mengolah sampahnya sebelum dibuang, tidak memakai AC ataupun Kulkas, tidak menggunakan listrik dan hanya mengandalkan lilin juga berjalan kaki saat berpergian keluar kota, hmm.. sepertinya tidak. Tidak ada orang yang benar benar berdedikasi melakukannya kalau ia tahu semua akan sia-sia jika hanya dirinya sendirilah yang melakukan hal semacam itu. Apa kau paham maksudku?” Ujarnya sambil mengunyah permen karet kemudian menempelkannya di  bawah meja Kantin. Ricky dan penjelasannya yang berbelit bukanlah hal baru. Syukurlah setidaknya ia masih dapat mengerti maksud ucapannya.

Menjaga sesuatu bukanlah hal mudah, apalagi jika kau harus menjaganya seumur hidupmu. Manusia tidak bisa menahan diri untuk memakai, memanfaatkannya, sekaligus menghancurkannya. Apa aku salah?

Bukankah perilaku berlandaskan sebuah peribahasa lempar batu sembunyi tangan selalu lebih mudah dilakukan? 

” Manusia adalah Makhluk sosial, tentu jika ingin mencapai tujuan yang besar, akan lebih baik jika dilakukan secara bersama-sama. Namun,menjaga alam? topik itu terlalu rumit bagi sebagian orang dan terlalu abstrak bagi sebagian lainnya. Kerjasama dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama, dan dalam hal ini tidak semua orang peduli tentang Kerusakan yang mereka perbuat ataupun dampaknya bagi manusia lainnya. Mereka punya hal yang lebih penting di pikiran mereka , hal itu jugalah yang mengambil hampir sebagian besar waktu yang mereka miliki. Jika semuanya sesukses Michael Jackson, maka segala hal tentang keberlangsungan lingkungan akan menjadi prioritas utama. Bahkan promosi semudah menanam pohon sekalipun membutuhkan uang, kan?”

Pak Han berdiri dan merapikan berkas berkas mengajar tadi, Vani memperhatikannya dalam diam, hingga beliau keluar dari kelas, Vani segera mengecek tempat sampah di belakang kelas.  Benar saja, sedari tadi sewaktu mengajar Pak Han terlihat pusing sambil mencoret  coret tumpukan kertas di hadapannya. Vani mengambil salah satu gumpalan kertas lusuh itu dan mengetahui bahwa semua kertas itu adalah kertas soal ujian mereka minggu lalu yang telah dinilai dengan tinta merah. Apakah beliau lupa kertas ini dibuat dari pohon juga?

Sekolah telah usai. Aku berjalan pulang Bersama Ricky dan temannya. Saat melewati sebuah sungai, aku menyaksikan banyak orang sedang mengangkut bahan bangunan untuk perumahan yang sedang dalam tahap pembangunan.

Padahal daerah tepi sungai itu adalah tempat kesukaannya dari keseluruhan kota ini karena daerah itu masih lebat dengan pepohon tinggi. Terlihat ada banyak potongan kayu yang telah disusun rapi dalam truk, siap untuk dijual. Aku mendapati diriku membuang muka dan segera berlari dari sana dan menyusul semuanya.

 Tak berselang lama berjalan, teman Ricky yang sedari tadi bercengkrama di depan kami kemudian membuang sampah makanannya di parit, tepat dihadapanku.

“apa yang kau lakukan?! Ambil kembali sampahmu. Apa kau ingin bencana Kembali menimpa kota ini ?” Avani dengan wajah berkilat marah membentak kedua remaja laki-laki itu. Emosi sudah mencapai ubun-ubun, entah mengapa ia merasa muak dengan kelakuan orang-orang yang menyepelekan lingkungannya.

Jika merawat lingkungan sesulit memindahkan gunung dengan satu tangan, mengapa mereka malah mengotorinya.

“Orang-orang juga membuang sampahnya disini, berhenti bersikap menyebalkan. Ingatlah, kalau aku tidak akan segan berkelahi denganmu.” desis Vito, nama remaja itu, memasang wajah mengejek dan nada merendahkan yang keluar dari mulutnya. Avani melangkah maju, berniat menantangnya sebelum Ricky menariknya untuk mundur.

“ Woah, tenang. Kalian ini kenapa ?.” katanya.

“berisik sekali kalian, sudahlah aku pulang duluan. ” Rio, remaja lainnya berjalan menjauh, menyambar saat ketengangan yang terjadi semakin membuncah, tak lama kemudian Vito menyusul dibelakangnya setelah puas mengkonfrontasi lawannya.

Hening beberapa saat, Kami tenggelam dalam pemikiran masing-masing.

“ Lakukan saja. “ sahut seseorang.

“Apa?” Ricky masih mencerna keadaan.

“Kota ini tidak perlu belas kasihan kita lagi. Turunkan hujan selama seminggu, maka kota ini pasti tenggelam seutuhnya.” Gadis itu berkata dengan dingin,

 “Kau yakin? ” Bukan tanpa alasan, selama ini justru dirinya yang menghambat tugas yang diberikan pada mereka, manusia begini lah, manusia begitu lah, Gadis itu begitu berharap manusia bisa hidup berdampingan dengan alam.

“ Manusia memang sama saja.  Mereka tidak mengambil pelajaran dari masa lalu hingga  melakukan kesalahan yang persis sama.” Ujarnya kesal. Sorot matanya meredup, ia tak bisa kembali mengundur waktu lagi sekarang.

“ Baiklah, sesuai permintaan mu.” Ricky mundur dan berjalan sepuluh Langkah, ajaibnya setiap dari Langkah itu, mengeluarkan air dari tanah, perlahan hingga debit air semakin tinggi dan cukup kuat untuk menghanyutkan orang dewasa.

“Air ini akan bertambah cepat arusnya setiap detik, mungkin bisa mencapai jantung kota dalam semalam.” Ricky menoleh ke samping, ia berniat menghilangkan bukti apapun di lapangan, baik barang atau makhluk bernyawa, jadi-“ itu tidak perlu. Aku akan memastikan sendiri bahwa tidak ada orang yang bisa hidup dan menceritakan kejadian ini.” Potongnya.

Luapan air meninggi, kini telah mencapai tinggi betis Avani.

“ manusia. Lagi-lagi membunuh harapanku. Mereka tak sadar bahwa aku selalu mengawasi dari belakang, berpura-pura kalau aku adalah bagian dari mereka. Mereka melanggar janji.  Menyalah artikan kebaikanku, berpikir jika aku tidak bisa membalas satu gram pun pada mereka. manusia benar-benar pantas mendapatkan ini.”

12 bulan kemudian…

 kota itu telah tenggelam seutuhnya, hanya atap dari bangunan dan rumah warga saja yang nampak dari udara. Semua orang tewas karena tidak sempat melarikan diri ke kota lain. Hal serupa diketahui terjadi di empat kota di beberapa negara yang berbeda. Tak ada yang dapat menjelaskan apapun. Semua orang ketakutan, berpikir bahwa mereka bisa saja meninggal saat banjir datang sewaktu mereka terlelap dalam mimpi.

“ Kelas, saya minta perhatiannya sebentar. Nah,silahkan perkenalkan dirimu.” Seorang gadis maju ke depan kelas,  menyedot perhatian seisi kelas, semua penasaran dengan gadis berambut coklat itu. Ia tersenyum kearah teman-teman barunya, seraya berkata

 “ Salam kenal, nama saya Avani..” 

2 thoughts on “Cerpen #228; “CERITA DARI MASA DEPAN”

  1. ceritanya bagus, mengingatkan kita semua di Alam sudah diberikan secara gratis untuk kita manfaatkan, tapi kita tdk bs bersyukur dan ikut menjaga.

  2. keren, plotnya ga biasa,jd ngebayangin gimana kalo dimasa depan sdh ga ada kehidupan.
    sayangnya, memang bnar merawat alam itu bkn hal mudah, perlu kerjasama semua orang dan kesadaran bahwa alam itu perlu dijaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *