Cerpen #227; “Tinggal Kenangan”

Kalimantan Timur, 17 Agustus 2073

 “Dengan diresmikan dan dibukanya Museum Samudra Angkasa ini, saya harap kenangan indah tentang bumi kita dapat membangkitkan semangat kita untuk mencoba kembali bekerja sama membenahi kondisi bumi yang sudah terlanjur rusak,” ujar Pak Presiden kemarin saat diwawancari oleh sejumlah wartawan.

***

Hari ini masyarakat berbondong-bondong datang mengunjungi museum yang baru diresmikan kemarin. Beruntung sekali cuaca hari ini cukup bersahabat. Matahari tidak sepanas biasanya dan tidak ada hujan asam yang turun hari ini, sehingga masyarakat berani untuk keluar rumah.

Dari luar, museum tersebut tampak sangat megah. Museum tersebut didominasi oleh warna putih. Pengunjung harus menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam museum.

Ruang pertama yang dimasuki oleh pengunjung adalah Ruang Cakrawala Nusantara. Dinding dan atap ruangan tersebut dilukis langit biru cerah lengkap dengan mentari pagi dan awan putihnya. Di sana juga dipajang foto-foto keluarga pada tahun 2020-an berlatar langit biru cerah serta foto-foto langit berhias pelangi. Dalam foto-foto tersebut, semua orang tampak tersenyum cerah. Dalam ruangan tersebut juga disediakan sepeda statis yang dilengkapi dengan teknologi virtual reality, sehingga pengunjung dapat bersepeda sambil menikmati keindahan alam berupa jalan di daerah pematang sawah yang hijau yang beratapkan langit biru cerah.

Setelah puas menikmati langit biru, pengunjung memasuki ruang kedua yaitu Ruang Awang Senja. Konsepnya hampir sama dengan ruangan sebelumnya, namun ruangan kali ini dapat dijadikan studio foto. Dinding dan atap tersebut dilukis langit senja lengkap dengan matahari yang akan terbenam. Warna merah, jingga, kuning keemasan serta ungu bersatu padu menghiasi ruangan tersebut. Di sana juga dilengkapi dengan dua buah sofa dan meja kecil berbentuk lingkaran berwarna putih. Para pengunjung bebas mengambil foto di ruangan tersebut.

Ruang ketiga adalah Ruang Bumantara Pertiwi. Ruang ini dikhususkan untuk anak-anak. Ruangan tersebut dibuat menyerupai taman bermain yang berhiaskan pelangi dan langit biru yang cerah. Rumput sintetis hijau, bunga-bunga artificial yang berwarna-warni, pepohonan hijau artificial, ayunan, perosotan, jungkat-jungkit serta awan-awan putih buatan yang dapat menurunkan hujan buatan yang tidak bersifat asam setiap 30 menit sekali membuat suasana taman seperti taman asli pada tahun 2020-an.

Ruang keempat merupakan Ruang Flora dan Fauna Khatulistiwa. Jika ketiga ruangan sebelumnya ingin menyuguhkan kenangan tentang langit dengan udaranya yang bersih, pada ruangan ini pengunjung akan mengenang tentang keindahan hutan yang dulu membuat Indonesia mendapat julukan “Paru-Paru Dunia”.  Hutan Indonesia yang beriklim tropis yang jumlahnya sangat banyak dan luas sangat cocok menjadi rumah bagi berbagai macam flora dan fauna. Namun, sayangnya semua itu tinggal kenangan. Kini, flora-flora tersebut hanya dapat dilihat melalui foto, flora awetan dalam kotak kaca serta flora artificial. Begitu pula dengan faunanya. Singa, harimau, rusa, gajah, zebra, komodo, buaya, otang utan, burung cenderawasih, burung merak dan masih banyak lainnya hanya dapat dilihat dalam bentuk awetannya saja dan suaranya juga dapat didengar dalam bentuk rekaman suara saja. Pengunjung seperti ada di kebun binatang, namun sayangnya semua binatangnya telah mati.

Masuk ke ruangan yang terakhir sekaligus bagian terbesar dalam museum tersebut, Ruang Permata Bahari. Lagi-lagi para pengunjung akan disambut terlebih dahulu dengan potret liburan keluarga pada tahun 2020-an di sejumlah pantai elok di Indonesia yang terbingkai manis dalam pigura berwarna emas. Selanjutnya, pengunjung akan melihat satwa-satwa laut yang hanya dapat bertahan hidup sampai tahun 2050-an, seperti paus, lumba-lumba, kepiting, ubur-ubur, udang, kerang, kuda laut, kura-kura dan lain-lain yang telah diawetkan dan disimpan dalam kotak kaca.

Pemberhentian terakhir para pengunjung adalah di pantai buatan sederhana yang terletak di halaman belakang museum. Pantai jernih yang dihiasi dengan pasir putih, beberapa terumbu karang serta deburan ombak buatan, benar-benar terlihat seperti pantai aslinya. Sayangnya pengunjung hanya dapat menikmati keindahan pantai tersebut dari kejauhan saja.

Suara isak tangis para pengunjung memenuhi seluruh isi gedung. Meski sebagian besar wajah mereka tertutup oleh masker, potret wajah muram tetap dapat terlihat dari sorot mata mereka. Perasaan sesak memenuhi dada mereka. Mereka sangat sedih karena lingkungan mereka saat ini telah rusak parah dan berbeda sekali dengan lingkungan pada zaman dahulu. Anak-anak pun merengek tak mau diajak pulang. Mereka masih ingin bermain di taman bermain buatan museum tersebut.

“Apakah zaman dahulu lingkungan kita benar-benar seindah ini? Apakah yang baru saja kita lihat benar-benar pernah ada? Mengapa kakek nenek tidak menjaga lingkungan dengan baik? Mengapa mereka melakukan kerusakan dan dampaknya harus kita yang merasakannya?” tanya salah satu pengunjung wanita yang bernama Marina.

“Iya, benar. Menurut risetku dan ayahku, semua ini memang pernah ada pada zaman dahulu. Dulu, langitnya masih biru dan bersih, sumber-sumber airnya jernih dan bersih, hutannya banyak dan asri dan tanahnya juga subur. Bencana alam, terutama banjir tidak terjadi sesering sekarang. Intinya berbeda sekali dengan kondisi lingkungan kita saat ini,” jawab Radian, seorang aktivis lingkungan muda.

“Aku sangat iri dengan generasi mereka. Mereka masih sempat menghirup dan menikmati udara yang bersih, piknik di taman yang hijau, jalan-jalan ke pantai, menyelam bebas di laut dan bermain di bawah hujan. Mereka juga masih sempat melihat flora dan fauna yang tidak bisa kita lihat sekarang. Sungguh bahagia jika kita bisa melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti itu. Seharusnya mereka tidak merusak lingkungan sampai separah itu. Hmmm, apakah kita bisa memperbaiki lingkungan kita seperti sedia kala seperti kata Pak Presiden kemarin?” tanya Marina lebih lanjut sambil menunduk.

“Mungkin saja. Namun, memang masalah yang kita hadapi sangat banyak dan rumit. Kita harus dapat memusnahkan semua sampah yang ada dengan teknologi yang ramah lingkungan pula. Kita juga harus berhasil menanam banyak pohon di tengah keadaan tanah dan udara kita yang telah rusak dan tercemar. Belum lagi masalah sumber-sumber air yang tidak kalah tercemarnya. Kelompok kami masih berusaha untuk menjernihkan kembali perairan di sekitar sini terlebih dahulu dengan beberapa teknologi,” jelas Radian.

“Tapi, aku yakin. Setelah berkunjung ke museum ini, masyarakat pasti mau berjuang bersama untuk memperbaiki lingkungan ini dengan cara apapun.” Radian menepuk pundak Marina, ia mencoba untuk menguatkan temannya itu.

Tiba-tiba langit berubah menjadi gelap.

“Ayo, kita pulang! Sepertinya sudah mau turun hujan,” ajak Radian.

Marina mengangguk dan mengikuti langkah Radian dari belakang.

“Aku harap, pelangi akan muncul setelah hujan nanti,” batin Marina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *