Cerpen #226; “Ajal Sebatang Pohon Tua”

Saat ini aku hidup hanya untuk menanti kapan ajalku tiba, sambil berharap ada yang masih bisa kulakukan untuk dunia – untuk manusia.

Apa yang kau rasakan seandainya kau tahu bagaimana caramu mati? Itu yang sedang aku rasakan – tahu bagimana maut menjemput. Seandainya kau tahu bahwa kau akan mati tertimbun longsor atau hanyut karena banjir, kau tentu tak akan pernah menebangi pohon atau membuang sampah di sembarang tempat. Aku jadi berpikir betapa beruntungnya teman-temanku yang hanya diberi jatah hidup barang satu atau dua tahun. Mereka tak akan pernah merasakan betapa tersiksanya menanti ajal.

Sekarang aku merasa, mempunyai umur panjang adalah sebuah kesialan. Aku sudah melihat banyak perubahan di sini, dan kini saatnya aku yang harus mati, menuruti nafsu perubahan itu. Biar aku sudah tua, ingatanku masih cukup kuat dan aku mampu menceritakan padamu beberapa kisah yang layak untuk kau dengar.

Teman-temanku sudah mati sekira seratus tahun yang lalu dan entah mengapa hanya aku yang diijinkan untuk hidup. Saat mereka mati, aku sebenarnya sudah cukup besar  dan menurut orang-orang yang saat itu mencari teman-temanku, aku belum layak untuk mereka bunuh.

“Yang ini biarkan saja,” kata salah seorang di antara mereka sambil menepuk-nepukku, “Sepertinya akan bisa tambah besar. Lagi pula yang ini tak kena penyakit.”

Tentunya aku ngeri melihat teman-temanku tidur satu per satu, tak lagi tegak menantang langit. Mereka kini menengadah, persis seperti makhluk-makhluk yang kalah. Brung, brak, krak –  mereka saling bertubrukan karena mereka rebah ke arah mata angin yang sama. Waktu itu ukuran mereka memang sudah cukup besar (tapi akulah yang paling besar di antara mereka), dan saat mereka roboh, sudah lebih dari cukup untuk menggetarkanku sehingga aku cukup lemas dan rasanya aku ingin turut serta rebah seperti mereka, daripada berdiri sendiri tanpa teman yang biasanya kuajak bercengkerama.

Saat angin bertiup adalah saat yang paling menyenangkan karena, angin adalah tetabuhan gamelan yang menyihir kami menjadi penari yang lemah gemulai. Kami akan melenggak-lenggok ke manapun musik itu membelai kami, dan tentu saja musik itu begitu membius, oleh karenanya ada beberapa di antara kami yang harus sampai rebah karena ia sudah larut terlalu dalam pada pelukan alam. Mereka tumbang dengan bangga.

Dan hujan adalah saat ketika kami semua harus merasakan damai yang tiada tara. Ada getaran-getaran kecil yang membelai kaki kami dan kami biarkan saja getaran itu. Kami juga merasakan panas. Rambut-rambut kami banyak yang rontok, seperti rintik hujan yang turun dari langit. Berulang kami merasakan itu semua dan kami sudah paham betul bahwa itulah takdir kami yang sesungguhnya.

Saat aku pertama kali menginjakkan kaki di tanah ini, sekelilingku adalah semak yang menjadi tempat terbaik bagi para pencari rumput. Di antara teman-temanku, akulah yang berada di tempat paling tinggi. Teman-temanku berada satu atau dua kali pelemparan batu dari tempatku menginjakkan kaki. Dari tempatku berpijak, seperti yang sudah kau lihat sendiri, kau bisa melihat di bawah sana ada sungai yang mengalir – seperti gambaran surga, bukan?

Aliran sungai itu sempat berpindah. Di sana, di timbunan pasir-pasir dan batu-batu yang diangkut truk-truk berwarna kuning – yang mengingatkanku pada segerumbul semut yang kadang melintasiku – nah, di situlah dulu aliran sungai berada. Suatu kali terjadi banjir besar. Waktu itu aku masih kecil. Suara banjir itu luar biasa menakutkan. Batu-batu sebesar rumah hanyut. Batu membentur batu. Dor, jedum, brak. Gemuruhnya membuat kaki-kakiku ngilu. Banjir itu membuat jalur aliran baru yang bertahan sampai sekarang.  Tapi, jangan bayangkan banjir jaman dahulu sama dengan banjir jaman sekarang. Dulu, kalau banjir, airnya tetap jernih dan, setelah air surut, banyak orang yang datang ke pinggiran sungai untuk mencari ikan atau udang. Sekarang, sedang tak banjir saja airnya keruh. Sehabis banjir bukan ikan atau udang yang didapat, tapi jutaan plastik dan kaleng, serta sesekali mayat sapi atau manusia. Menjijikan.

Tanpa kusadari, aku tumbuh besar juga. Aku jadi sering dikunjungi siapa saja yang kebetulan lewat atau mencari rumput di daerah sini. Mereka biasanya duduk sembari menghisap tembakau, dan melihat-lihat pemandangan. Aku menari untuknya karena, aku tahu, siapa saja yang datang ke sini merindukan kesunyian. Sunyi, bukan sepi. Kami mempunyai kesunyian yang mereka butuhkan, dan kami memberikannya secara cuma-cuma.

Aku hafal betul siapa saja yang datang ke tempatku. Namun, kalau harus menyebut satu nama, aku akan menyebut Samin. Kami pertama kali bertemu saat sama-sama masih kecil. Ia sering ikut bapaknya ke tempat ini untuk mencari rumput. Samin sangat suka duduk di dekatku. Dulu, karena kami masih sama-sama kecil, kami suka saling usil. Ia kadang menjambak-jambak rambutku sampai banyak rambutku yang rontok. Tapi, ia juga tak tahu kalau ada temanku yang, jika kau menyentuhnya, kau akan merasakan gatal. Ya, Samin sering menyentuhnya tanpa sadar.

Samin pulalah orang yang pertama kali menjamah tubuhku, saat aku sudah cukup kuat dan ia beranjak menjadi remaja yang gagah. Ia begitu lincah menjelajahi setiap jengkal tubuhku tanpa takut, dengan bertelanjang dada dan menggunakan cawat yang tak pernah ia ganti. Kami mulai sama-sama mengerti dan saling memahami.

Suatu kali, kupikir ia hendak menyakitiku. Ia membawa sebilah parang yang cukup tajam. Awalnya ia menyandarkan tubuhnya. Lalu, ia berdiri dan kami saling berhadap-hadapan. Ia mengangkat parangnya dan mulai mengiris-ngiris kulitku. Yang aneh, ia melakukannya dengan tersenyum gembira, seperti seorang ibu yang sedang memotong daging untuk anak-anaknya. Keanehan itu membuatku bisa mengabaikan rasa sakit yang kurasakan. Ternyata, ia sedang mengguratkan nama kekasihnya di tubuhku. Oh, Semesta, betapa beruntungnya diriku ini, bisa menjadi saksi seorang pemuda yang sedang jatuh hati. Aku lalu menari-nari karena mendadak ada musik yang mengiringiku. Kugerakkan tubuhku, menuruti ke mana musik menuntunku. Samin tersenyum malu dan ia menciumku, tepat di atas tulisan nama kekasihnya.

Setiap kali Samin datang, ia pasti mengusap-usap nama kekasihnya. Kalau dirasanya tulisan itu sudah tak jelas, ia akan mengguratkannya lagi. Kau tentu tak akan bisa melihat tulisan itu lagi karena, tulisan itu sudah kusimpan rapat di dalam tubuhku. Tulisan itu masih ada, berkilau-kilau seperti mega.

Samin pun mengenalkan anaknya padaku. Aku sangat suka melihatnya duduk sembari memakan kudapan yang dibawanya dari rumah. Ia selalu terpesona dengan aliran sungai di bawah sana. Aku terakhir kali melihat anak Samin saat ia masih remaja. Itu juga terakhir kali aku melihat Samin dan anaknya. Setelah itu, banyak yang datang ke tempat ini untuk beristirahat dan aku dengan senang hati menerima mereka.

Lambat laun aku makin berubah, sebagaimana manusia. Aku makin besar, sebagaimana jumlah manusia. Dulu, dari tempatku berdiri, aku tak bisa melihat rumah-rumah manusia – yang bisa kulihat adalah pohon-pohon dan ladang yang dirawat dengan sangat tekun. Kini, seratus meter dari tempatku berdiri adalah rumah-rumah mewah yang tak akan pernah dibayangkan oleh Samin atau anak cucunya, dan lurus ke arah utara dari rumah-rumah itu adalah kota yang kini mengepulkan berbagai asap pabrik, yang juga dipenuhi gedung-gedung tinggi – aku dan gedung-gedung itu sama-sama menyangga langit. Aku bisa melihat dan merasakannya. Dulu, aku melihat orang datang ke sungai hanya untuk memancing atau menjala, kini mereka mengambil semua yang ada, dan entah mau dibawa ke mana batu dan pasir itu.

Tiap pagi, aku dipandang dengan rasa takjub yang tak pernah kudapatkan sebelumnya. Wajar belaka, karena aku adalah satu-satunya makhluk dari sebangsaku yang tersisa di wilayah ini. Aku ini hidup di atas tebing. Di sekitarku sudah tak ada lagi semak-semak. Kini aku ditemani beton-beton yang membuat tebing ini tak akan rebah, pikir manusia. Aku tertawa getir. Aku sebenarnya sudah sangat ingin mati saat ada segerombol orang yang datang ke sini dan membuat tempat ini berubah. Tak ada lagi burung yang jadi teman akrabku. Aku dipaksa akrab dengan suara mesin-mesin yang mulai kukenali saat mereka meratakan tanah-tanah sebelum ditanami tembok rumah. Sudah tak ada lagi musik yang mendamaikan, yang ada adalah musik yang membawa kerumitan.

Suara gergaji mesin memekakkanku. Aku akan dirobohkan. Aku sudah diikat dengan sebuah kawat besi besar, di mana ujungnya sudah ditambatkan ke sebuah tiang pancang besar, yang mirip sebuah paku, dan sudah ditancapkan ke tanah. Aku tak akan rebah meski aku sudah mati. Mereka ingin memotong-motongku tanpa harus menjungkalkanku. Sebelum nyawaku diakhiri karena mereka menganggapku sebagai bahaya – kau tahu, sebentar lagi musim angin tiba – aku berpesan padamu bahwa entah di bagian bumi yang mana, banyak sekali teman-temanku yang nasibnya juga berada di ujung tanduk sepertiku. Dan, aku mohon, tolong katakanlah apa yang aku rasakan saat ini hanyalah mimpi buruk, dan aku ingin terbangun lagi – entah di bagian bumi yang mana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *