Cerpen #224; “Bumi Bukan Tempat Sampah”

Pagi yang cerah, seperti biasanya matahari mulai mengeluarkan silaunya yang hangat. Pagi ini begitu sejuk dan ceria, sehingga membuat Asri bersemangat ke Sekolah. Asri sangat ceria pagi ini, karena ini adalah hari pertamanya sekolah setelah libur kenaikan kelas. Kini Asri telah menjadi siswi kelas 4 SD.

“Ayo Papa kita berangkat” ujar Asri sambil berlari menuju pintu mobil Papanya.

“Jangan lari sayang nanti jatuh” sahut Mama Asri dari depan teras rumah sambil menyiram bunga.

Sesampainya di Sekolah Asri langsung bergegas menuju ruang kelas 4 A. Pada saat hendak memasuki kelas Asri melihat pot bunga yang berserakan. Seperti setelah ditendang oleh seseorang, pot tersebut berserakan tananhya dan bunganya keluar dari pot. Pemandangan tersebut membuat Asri merasa iba melihat bunga yang cantik itu berserakan. Asri pun membereskan pot tersebut, memasukkan kembali tanah yang berserakan dan menanam kembali bunga di dalam pot.

“Siap, sekarang bunganya sudah cantik lagi, tidak berserakan” ucap Asri sembari menepuk tangannya yang kotor kerena tanah.

Asri memang seorang anak perempuan yang menyukai tanaman, dan sangat menjaga kebersihan. Untuk anak usia 9 tahun Asri sangat pandai merawat tanaman dan pandai menjaga kebersihan. Asri sering membatu mamanya berkebun di rumah. Mamanya pula yang mengajarkan kepadanya cara merawat tanaman.

Pagi yang cerah telah menjelma menjadi siang yang panas. Asri dan teman-temannya kini sedang istirahat. Setelah membeli makanan dari kantin sekolah, Asri dan teman-teman kembali menuju ke kelas. Ketika berjalan melewati kelas 4 B langkah Asri terhenti, karena melihat seorang siswa laki-laki membuang sampah ke selokan kelas. Ternyata anak laki-laki itu Raffa, teman sekelas Asri sewaktu kelas 3 dulu.

“Hei Raffa, jangan buang sampah sembarang begitu, di depan sana ada tempat sampah, buang ke sana” ucap Asri sembari menunjuk tempat sampah di depan.

“Halah, kamu banyak bicara. Suka-suka aku mau buang sampah dimana” balas Raffa.

“Kamu ini memang tidak bertanggung jawab, sampah kamu ini bisa merusak lingkungan tahu” jawab Asri sambil memungut sampah di dalam selokan dan membuangnya ke tempat sampah.

“Kenapa banyak sekali sampah di selokan ini?” kata Asri dengan nada terkejut.

“Iya banyak sekali, siswa-siswi kelas 4 B jorok sekali, buang sampah sembarangan” tambah Melly teman sekelas Asri.

“Apa mereka tidak piket tadi pagi? Kenapa selokan kotor dan tidak di bersihkan?” tanya Asri lagi.

“Sudahlah Asri, lebih baik kita masuk ke kelas, sebentar lagi bel berbunyi” ucap Kiky sambil menggandeng tangan Asri dan Melly.

Tak lama berselang, bel berbunyi tandanya waktu istirahat telah selesai. Terlihat para guru melangkah dari kantor ke ruang kelasnya. Pada saat ibu guru kelas 4 B hendak masuk kelas,buk guru kaget melihat begitu banyak sampah di selokan kelas.

“Anak-anak semuanya keluar!” seru buk Lina dengan tangan menunjuk keluar pintu.

“Kalian pasti yang membuang sampah sembarangan, cepat kalian bersihkan lagi selokan ini. Sudah disediakan tempat sampah masih saja buang sampah sembarangan” omel buk Lina. Beliau adalah guru IPS, masih muda dan cantik, namun cerewet.

“Baik buk” jawab anak-anak itu

Setelah selesai membersihkan sampah, anak-anak kembali masuk dan memulai pelajaran. Pelajaran IPS terkadang sedikit membosankan bagi anak-anak, namun buk Lina guru yang cerdas dan kreatif, dia selalu memberikan inovasi di setiap pelajarannya. Sehingga tidak terasa jam pelajaran sudah abis. Buk Lina menutup kelasnya dengan sedikit nasihat terkait kejadian tadi.

“Anak-anak, kalian harus ingat nasihat ibuk, jangan membuang sampah sembarangan lagi. Itu dapat mencemari lingkungan dan menimbulkan efek buruk. Kita bisa sakit apabila lingkungan sekitar kita kotor, dan dalam agama islam juga Allah menyuruh kita untuk menjaga kebersihan. Kebersihan sebagian dari iman, kalian harus ingat itu ya” kata buk Lina.

“Baik buk, kami janji tidak akan mengulanginya, kami akan ingat nasihat ibu” jawab anak-anak itu serentak.

…….

Hari demi hari berlalu begitu cepat, pagi ini adalah weekend yang Asri nantikan sejak kemarin. Hari ini keluarga Asri akan berlibur ke Pantai. Asri sudah lama ingin ke Pantai, terakhir kesana pada saat libur tahun lalu, sudah setahun lamanya tidak ke pantai. Perjalanan yang menyenangkan Asri lalui bersama Papa dan Mamanya.

Setibanya di pantai Asri yang awalnya sangat semangat menjadi lesu dan kehilangan senyuman. Hal itu di karenakan pantai yang ia kunjungi dipenuhi oleh sampah. Pemandangan ini membuat Asri sangat kecewa, mengapa pantai yang indah menjadi tempat pembuangan sampah.

“Ma.. Pa.. Kenapa pantainya sangat kotor? Berbeda sekali dengan pantai yang kita kunjungi tahun lalu” tanya Asri sedih.

“Iya sayang, sepertinya masyarakat disini membuang sampah sembaranga saja, tidak mempedulikan lingkungan sekitar. Pantai jadi tercemar seperti ini” jawab Mama Asri.

“Kalau Asri tidak suka kita pergi ke tempat lain saja ya” bujuk Papa Asri.

Tampak dari ujung sana terlihat sekelompok orang-orang sedang memungut sampah-sampah yang berserakan di pantai. Sepertinya dari kelompok peduli lingkungan, terlihat dari kaos yang mereka kenakan.

“Sepertinya ada kelompok peduli lingkungan yang sedang membersihkan pantai” ucap Papa Asri.

“Pa..Ma ayo kita ikut membersihkan pantai” kata Asri dengan penuh semangat.

“Kamu mau sayang? Ayo kalau begitu” jawab Mama.

Merekapun bergabung dengan kelompok orang-orang tersebut. Ternyata kelompok itu adalah para mahasiswa-mahasiswa pecinta lingkungan yang sedang menjalankan program kerja membersihkan pantai. Setelah berkenalan secara ringkas mereka bersama-sama membersihkan pantai dari banyaknya sampah.

Satu jam sudah berlalu, mereka telah selesai membersihkan pantai. Terkumpul 20 karung sampah, sungguh banyak sekali sampah di pantai itu.

“Adek, kamu rajin dan penuh semangat. Jarang-jarang loh anak kecil yang seperti kamu” puji ketua kelompok kepada Asri.

” Hehe terimakasih kak, Asri tidak suka melihat sampah kak” jawab Asri malu-malu.

” Kamu hebat, kakak salut sama kamu, masih kecil sudah pintar dan peduli lingkungan begini. Asri harus cepat besar ya supaya bisa jadi orang hebat” tutur Kak Fino ketua kelompok.

” Siap kak, kalau sudah besar nanti Asri mau seperti kakak. Peduli alam dan mencintai lingkungan” jawab Asri.

Kak Fino bercerita bahwa setiap dua kali sebulan mereka membersihkan pantai ini. Selalu ada banyak sampah di pantai, padahal mereka juga sudah sering memberikan arahan kepada warga setempat agar tidak lagi membuang sampah sembarangan. Namun tetap saja terulang. Mungkin tidak hanya pantai saja yang menjadi tempat pembuangan sampah. Tetapi juga sungai, jalanan, dan lainnya. Orang-orang sekarang memang lebih suka membuang sampah sembarangan. Seakan-akan bumi ini adalah tepat sampah mereka. Mereka yang membuang sampah dan mencemari lingkungan tidak berpikir jangka panjang. Sedangkan, jumlah penduduk Indonesia mencapai 270 juta jiwa. Dengan banyaknya penduduk tentu jumlah sampah yang di hasilkan juga sangat banyak. Ada sekitar 185.753 ton sampah setiap harinya dihasilkan oleh 270 juta penduduk. Dengan jumlah sebanyak apa apa jadinya bumi ini 100 tahun kedepan? Apakah bumi akan dipenuhi oleh sampah? Jangan sampai kita biarkan itu terjadi. Cerita kak Fino tersebut sangat membekas di ingatan Asri.

……

Setelah melewati weekend yang cukup melelahkan namum berkesan, Asri kembali bersekolah esok paginya. Hari Senin tepatnya hari upacara bendera.  Seperti biasa dalam upacara pembina upacara memberikan amanat upacara, pembina kali ini adalah Bapak Kepala Sekolah. Dalam amanatnya yang tidak terlalu panjang Pak Kepsek berpesan ” Sekolah kita adalah sekolah Adiwiyata, oleh sebab itu kita semua harus menjaga kebersihan dan keindahan sekolah. Jangan sampai membuang sampah sembarangan atau merusak tanaman. Kemarin saya melihat di sosial media komunitas pencinta lingkungan, ternyata salah satu dari siswa sekolah ini menjadi relawan membersihkan pantai kemarin. Saya sangat bangga sekali melihat anak muda seperti ini, kecil-kecil sudah pandai menjaga kebersihan. Bahkan membatu membersihkan sampah di pantai bersama orang dewasa. Hal ini bisa dijadikan contoh oleh murid lainnya. Jika kalian penasaran siapa orangnya, dia adalah Asri Putri Wijaya siswi kelas 4 A” tutur Pak Kepsek sambil memberikan tepuk tangah, yang kemudian di ikuti oleh seluruh peserta upacara lain. Ya, ternyata Kak Fino kemarin adalah anak Pak Kepsek. Tidak sengaja pak kepsek melihat foto Asri bersama anaknya dan anggota komunitas lain.

Setelah upacara selesai semua murid meninggalkan lapangan dan bergegas menuju kelas masing-masing. Saat sampai di tempat duduk Asri terkejut karena mejanya di corat-coret dengan tulisan “Dasar sok hebat, sok bersih, aku benci sama kamu”. Asri tidak tahu siapa yang menulis itu, sungguh jahat sekali pelakunya.

“Kenapa ada yang membenci aku? Memang aku salah apa, apa perbuatan yang aku lakukan salah?” gumam Asri dalam hati dengan perasaan yang sangat sedih.

Waktu pulang akhirnya tiba, semua murid berhamburan keluar kelas. Asri terlihat tidak bersemangat hari ini, walaupun dia tadi di puji oleh kepsek dan guru lainnya, namun hatinya tetap sedih. Asri menunggu jemputan di depan gerbang sekolah, tiba-tiba seseorang menabraknya dengan sengaja hingga ia masuk ke dalam selokan. Baju Asri kotor dan bau lumpur. Asri juga merasa kesakitan karena kakinya terluka. Asri berusaha bangkit untuk mengejar anak yang menabraknya, namun gagal karena anak itu berlari kencang setelah menabrak Asri.

“Asri… Kamu tidak apa-apa sayang?” tanya Mama Asri yang kaget melihat anaknya kotor.

“Tidak apa-apa Ma, cuma sakit sedikit tadi Asri jatuh ke selokan” jawab Asri.

“Kenapa bisa jatuh nak? Lain kali hati-hati ya kalau jalan sayang” ujar Mama.

“Iya Ma, tadi Asri lari jadi gak lihat jalan sampai masuk ke selokan. Hehe” ucap Asri berbohong. Padahal ia jatuh karena ada yang menabraknya dengan sengaja.

Malam semakin larut, sudah waktunya untuk tidur. Sekarang kita beralih ke Raffa, ternyata biang keladi dari kejadian yang menimpa Asri hari ini adalah Raffa. Raffa lah yang mencoret meja Asri, Raffa juga yang menabrak Asri. Raffa sangat kesal dengan Asri, sebenarnya dia hanya iri dengan Asri, karena Asri sangat sering di puji oleh semua guru. Tentu saja, Asri kan anak yang pintar, baik, sopan, dan sangat rajin. Wajar ada yang iri padanya.

“Hmm.. Apa aku tadi berlebihan pada Asri? Sudahlah, tidak usah aku pikirkan. Yang penting sekarang aku sudah puas menjahili dia. Hahaha” ucap Raffa di dalam kamarnya. Raffa membaringkan tubuhnya di ranjang yang empuk, dan segera tidur.

Keesokan harinya Raffa bangun, saat membuka mata Raffa terkejut melihat seisi kamarnya di penuhi oleh sampah, bahkan baju yang ia kenakan juga sampah.

“Mama Mama..kenapa ini” teriak Raffa. Namun tidak ada jawaban. Rumahnya sunyi dan sepi sekali. Raffa berlari keluar dan dia sangat kaget melihat sekeliling rumahnya sampah, sampa, dam sampah.

“Kenapa bagini, kenapa kotor sekali banyak sampah?” tanya Raffa. Raffa berlari ke jalan mobil melintas dengan cepat menerbangkan sampah-sampah ke muka Raffa. Kemudian seseorang menghampiri Raffa, laki-laki dengan pakaian sampah seperti dia, sangat kumal dan jorok, Raffa jijik melihatnya.

“Jangan mendekat kamu jorok” ucap Raffa kepada orang itu.

“Hei Raffa, kamu juga jorok, lihatlah bajumu, kita ini sama Raffa” ucap orang itu.

“Tidak, aku tidak sama dengan kamu, siapa kamu? Dimana aku? Mana orang tuaku, kenapa tempat ini kotor sekali” tanya Raffa dengan nada  panik.

“Aku ini teman kamu, kita itu sama, si pembuang sampah sembarangan. Ini adalah bumi kita tempat tinggal kita. Orang seperti kita memang tinggal di bumi yang jorok seperti ini, karena kita juga suka kotor kan” ucap orang itu sambil tertawa terbahak-bahak.

“Tkdakkk… Aku tidak mau tinggal di tempat jorok begini, aku tidak mau. Aku mau tempat tinggal ku uang dulu bersih dan nyaman, aku tidak mau tinggal di bumi seperti ini” tutur Raffa yang sudah menangis tersedu-sedu.

Raffa berlari kencang berharap bisa menemukan jalan pulang, tiba-tiba dibelakangnya ada yang mengejar, seperti ombak namun itu sampah. Sampah sampah itu mengalir deras seperti mengejar untuk menangkap Raffa. Raffa sangat takut dan berlari semakin kencang.

“Ampun jangan makan aku sampah. Ampun ampun.. Aku masih mau hidup” jerit Raffa sambil berlari.

“Kamu pantas mendapatkan ini Raffa, kamu jorok dan suka buang sampah sembarangan. Bumi ini marah padamu karena kamu telah mencemari bumi ini”. Ucap orang aneh tadi.

“Tidak tidak tidak, maafkan aku, aku minta maaf” ucap Raffa

…..

“Raffa, bangun sayang, kamu kenapa berkeringat dingin begini nak?” ujar Mama Raffa.

“Haahh…”  Raffa terbangun dengan sangat kaget.

“Ada apa ini Raffa, sudah pagi begini kamu baru bangun, nanti terlambat sekolah” ucap Mama Raffa.

“Mama.. Tadi Raffa mimpi buruk. Seperti kenyataan mimpinya, Raffa takut sekali” ucap Raffa.

“Ya ampun, kasihan anak mama mimpi buruk, sudah sekarang sudah bangun ayok kesekolah ya sayang” bujuk Mama.

Diperjalanan ke sekolah Raffa masih mengingat mimpi buruknya tadi. Raffa tersadar sepertinya itu teguran baginya karena telah jahat pada anak baik seperti Asri. Sedangkan dia anak nakal yang suka buang sampah sembarangan. Raffa bertekad untuk memperbaiki diri dan meminta maaf pada Asri nanti.

“Hai Asri, aku mau minta maaf sama kamu, aku jahat sama kamu kemarin. Aku yang sudah mencoret mejamu, dan aku yang menabrak kamu hingga jatuh ke selokan” kata Raffa dengan kepala menunduk. Raffa terlihat sangat menyesal.

“Raffa… Tidak apa-apa, Asri sudah maafkan Raffa. Terimakasih ya sudah mau jujur dan minta maaf” ucap Asri tulus.

“Terimakasih Asri, kamu memang sangat baik, aku mau jadi teman kamu. Ajari aku cara menjaga kebersihan ya Asri” tambah Raffa.

“Iya Raffa, aku senang mendengarnya” balas Asri.

…..

Kini Raffa dan Asri menjadi teman baik. Saling membantu dan saling mendukung. Keduanya menjadi akrab, mereka sekarang sudah sama. Sama-sama menjadi anak baik dan menjaga kebersihan. Mereka sadar, jika mereka menjaga kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya dan merawat tanaman adalah hal yang bumi ini butuhkan. Jika terus menjaga bumi dari sekarang, hingga 100 tahun kedepan bumi ini akan tetap bersih dan indah. Begitu pula sebaliknya, jika mencemari bumi dan merusak bumi dari sekarang, maka 100 tahun kemudian bumi akan hancur seperti di dalam mimpi Raffa. Bumi menjadi lautan sampah.

Asri dan Raffa  mengerjakan kita semua untuk tetap menjaga kebersihan, dan jangan membuang sampah sembarangan. Jaga bumi ini, lindungi bumi ini, karena bumi adalah tempat tinggal kita semua. Mulailah memperbaiki diri dari sekarang, jika masih sering membuang sampah sembarangan, maka jangan lakukan lagi. Rawat tanaman dan pepohonan, rawat dan lindungi hutan, sungai dan laut. Itu semua adalah milik kita, yang akan membatu kita selama kita hidup di bumi ini.

Selesai….

44 thoughts on “Cerpen #224; “Bumi Bukan Tempat Sampah”

  1. Cerpennya bagus kak, berisikan tentang dan mengajarkan kita untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, dimanapun kita berada.

  2. Wahh cerpen nya sangat menarik dan bagus kak. Pesan yang ada dalam cerpen nya sangat penting untuk masa depan bumi nanti nya👍👍

  3. cerpennya menarik kak, sekaligus mengajarkan kita pentingnya membuang sampah pada tempatnya. semangat terus kak😍🖤

  4. Cerpen yang amat sangat menarik dengan pengemasan kata motivasi untuk menjaga dan selalu peduli akan lingkungan..semoga dengan cerpen ini bisa menyadar kan kita sesadar sadar nya seperti Rafa dalam cerita ini.👏👏

  5. Cerpen di atas tergolong ke dalam cerita anak karena membuat diksi yang sederhana yang mudah dicerna. Kemudian tema yang diangkat merupakan tema lingkungan yang dapat dianalisis menggunakan teori ekologi sastra yang menekankan pendekatan sastra dan ilmu lingkungan terutaman kaitan antara manusia yang lingkungannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *