Cerpen #223; “Perubahan yang tidak diinginkan”

Saat ini aku termenung, menatap langit biru yang cerah menuju mendung. Tiap kali menatap langit, dapat ditebak aku sedang berpikir. Memang sedari kecil aku orangnya pemikir.Namunm, kali ini yg aku pikirkan tidak seperti biasanya. Mungkin orang lain kebanyakan tidak memikirkan ini. Aku berpikir akankah langit ini akan sama 10 bahkan 100 tahun mendatang?

Melihat berita banyaknya sampah plastik yang menggunung bahkan sampai menyakiti hewan-hewan di laut seperti penyu yang terjerat sampah plastik membuatku makin yakin bumi sedang tidak baik-baik saja. Iklim yang mudah berubah, suhu yang begitu panasnya luar biasa, tidak seperti masa kecilku dulu. Hanya dalam waktu tidak sampai 20 tahun, aku sudah merasakan perubahan yang begitu besar di bumi ini. Aku bahkan merindukan hari sejuk di siang hari yang tidak menyengat, angin sepoi-sepoi yang membuatku nyaman bersantai di teras dan juga hujan rintik-rintik yang membuatku tidak takut untuk bermain bersamanya. Namun, kini hal itu semua sudah berubah. Ya, aku memang sudah besar tapi perubahan bumi jauh lebih besar daripada perubahan dalam diriku. Aku tidak menyangka akan sampai seperti ini.

Sedari kecil, aku diajarkan dan sampai tertanam di otakku pelajaran bahwa musing penghujan dimulai dari bulan Oktober-April. Tetapi, saat ini aku merasa hal tersebut sudah tidak berlaku lagi. Bahkan, di bulan Juli ada beberapa hujan lebat tak henti-henti di daerahku. Belum lagi jikalau tidak hujan selama berhari-hari, aku dan keluarga menjadi khawatir akan air PDAM yang akan mati padahal sedari kecil keluargaku tidak pernah mengkhawatirkannya.

Perubahan ini bukanlah perubahan yang aku inginkan. Siapapun pasti tidak ingin bumi berubah begitu cepat. Okelah kalau perubahannya banyak sisi positif namun yang aku temui hanya sisi negatif. Tidak ada lagi musim yang pasti yang ada hanya musim pancaroba.

Begitu masuk musim hujan, daerah ibukota harus bersiap-siap akan kemungkinan terburuk yaitu siklus banjir 5 tahunan. Bahkan banjir parah terjadi tahun 2013 dimana Istana Negara sampai selutut orang dewasa dan Bundaran HI yang tahun-tahun sebelumnya tidak pernah kebanjiran. Yang lebih aku pikirkan ketika itu adalah begitu banyaknya sampah yang menyumbat saluran air sehingga itulah yang memperparah keadaan. Daerah sungai yang tidak teratur membuat pemandangan kumuh saluran air pun runtuh.

Siapa yang harus disalahkan atas semua ini? Siapa yang harus aku tuntut agar semua ini berakhir? Siapa yang dapat mewujudkan keinginkanku menginginkan suasana bumi yang dulu? Mungkin dengan tertidur hal itu aku bisa impikan namun tetap saja aku akan  terbangun.

Sungguh ironi ketika teknologi di ibukota sudah semakin canggih namun tidak dibarengi dengan perubahan penduduknya. Agak kasar namun harus kubilang orang-orang primitif yang tidak mengerti lingkungan tersebut pindah dari ibukota bukan malah ibukotanya yang pindah. Memanmg, mereka ingin mencari nafkah. Namun, apa susahnya sih membuang sampah. Nggak ada susahnya kok meluangkan waktu tidak sampai 1 menit untuk memberaskan plastik-plastik yang sudah digunakan malah lebih bagus lagi kalau tanpa plastik.

Hari itu aku beli lontong. Rumah Lenggek tempat aku biasa beli lontong sedari kecil memang tidak pernah berubah dalam menyajikan lontong yang akan dibawa pulang oleh pembeli. Ya, dibungkus plastik dan luarannya juga ada plastik untuk membawanya. Namun, aku berbeda. Bukan karena jarak rumahku yang dekat tapi juga karena kesadaranku tidak seperti ‘orang primitif’ lainnya. Ya, aku membawa rantang untuk membungkusnya. Ibunya bilang “Wah pakai rantang kali ini.” “Iya bu, hehe itung-itung ngurangin sampah plastik.” Jawabku. “Wah mama kamu kerja di dinas kehutanan ya?” Tanya Ibu itu kembali. “ Bukan Bu, malah mamaku seorang dosen namun.” Jawabku kembali. “Dosen yang luar biasa ya ini.” Pungkas Ibu penjual itu kembali.

Hal tersebut adalah sebagian kecil dari langkahku dalam menyelamatkan bumi tercinta. Meskipun tidak berpengaruh banyak , setidaknya sudah mengurangi beban bumi agar tidak berubah lebih cepat lagi. Bumi, aku rindu dirimu yang dulu. Aku mohon jangan berubah lagi kearah yang tidak aku mau. Aku hanya ingin kamu yang dulu. Untuk para pembaca yang sekiranya masih belum ada kontribusinya untuk bisa meringankan beban bumi dan mewujudkan keinginanku, mari bersamaku kita mulai lakukan hal-hal yang sederhana namun berguna dan mulia. Buang sampah pada tempatnya, sebisa mungkin hindari pemakaian plastik seperti aku tadi menggunakan rantang pengganti plastik, aku bisa melakukannya kamupun juga bisa. Tidak ada yang namanya malu, gengsi dalam melakukan hal mulia. Malah ketika semua sudah mulai membawa rantang maka akan menjadi tren suatu saat dan kita yang menjadi trendsetter-nya. Semoga tren itu akan segera terjadi dan cukup dengan itu saja aku sudah bahagia. Walaupun bumi tidak akan seperti dulu, namun bumi tidak akan berubah lebih buruk lagi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *