Cerpen #222; “Oksigen Rasa Apel dan Cerita Paman Ursus”

Kakiku dengan riang menyusuri jalan sambil melompat-lompat kecil di atas salju yang menutupi lapisan es tebal menuju rumah paman ursus. Sore ini aku telah membantu ibu menyingkirkan salju di pekarangan belakang dan juga merapikan halaman rumah, dengan itulah akhirnya aku mendapat sedikit uang saku tambahan dan waktu luang yang cukup untuk bermain.

Tangan kecilku mengetuk pintu rumah bercat putih milik paman ursus, kuketuk pelan, dia tidak begitu menyukai suara bising. Sambil menunggu tuan rumah, otak kecilku langsung menerka-nerka, kenapa bisa paman ursus tidak suka bunyi keras, ya?

“Sore, paman,” sapaku riang setelah dibukakan pintu dan dipersilahkan untuk masuk. Ruang tengah rumah ini sama seperti luarnya, penuh dengan banyak furnitur kayu berwarna coklat gelap. Pilihan warna yang sangat kontras dengan kulit dan rambut putih paman ursus.

“Kau tidak lupa membawa titipanku, ‘kan?” tanya paman ursus dengan antusias. Tentu saja aku ingat, bagaimana mungkin aku lupa? Nyaris setiap hari paman menghubungi ibu untuk mengingatkanku agar tidak lupa membawa pesanannya di akhir minggu ini.

“Ada, tenang saja. Ibu bilang kali ini mereka tidak begitu banyak menjualnya. Sudah tidak banyak yang membutuhkan hal seperti ini. Hanya ada rasa apel hijau,” jelasku. Sebotol oksigen dengan gambar apel di pojok kiri kemasan yang baru kusodorkan langsung membuat senyum di wajah paman ursus merekah. Tampang menyeramkannya sama sekali tidak terlihat disaat seperti ini.

Paman ursus sangat sering menitip belanjaan kepada ibu, terutama untuk berbelanja oksigen, minggu lalu rasa buah anggur dan kali ini dia meminta rasa apel. Paman satu ini memang cukup aneh, tidak hanya dari selera berbelanjanya saja, tetapi masih banyak hal janggal lain yang tak bisa kumengerti. Salah satu keanehannya adalah sebuah gambar mengerikan yang menggantung di atas perapian.

“Nah, sekarang katakan padaku! Cerita seperti apa yang akan kau minta sebagai bayaran mengantarkan belanjaan?” todong paman ursus. Sepertinya aku memang sudah sesering itu bermain ke rumah ini hingga paman ursus menghafal tingkahku.

Kekehan begitu saja meluncur sebagai tanggapan. Menghabiskan waktu di rumah kayu besar ini sangatlah menyenangkan, ini semua karena paman ursus merupakan pencerita yang sangat andal. Aku pernah bertanya pada ibu kenapa dia bisa begitu andal dan ibu bilang kalau nenek pernah menyampaikan bahwa hidup paman ursus setidaknya 3 kali lipat lebih lama dari keluarga kami. Bahkan nenek juga mengenal paman ursus dengan sangat baik, karena banyaknya pengalaman itulah cerita yang dibawakan menjadi begitu menyenangkan untuk didengar.

“Sore ini aku sudah membantu ibu dengan semua pekerjaan rumah, jadi aku akan meminta cerita yang sangat panjang sebagai bayaran.” Aku sedikit menyombongkan diri, biasanya hanya akan ada sesi cerita singkat karena aku harus segera kembali untuk membantu ibu, tetapi khusus kali ini aku sudah menyelesaikan semua itu terlebih dahulu.

“Wah, sepertinya kau memang benar-benar menyukai ceritaku, Lepo. Baiklah, bagaimana kalau sesi bercerita kali ini tentang ocean acidification?”

“Oceana aci … apa tadi?” Ugh, ini bagian yang agak menyebalkan. Cerita keren dari paman ursus selalu saja dipenuhi banyak istilah aneh yang membuat dahi berkerut.

Ocean acidification, Lepo. Maksudnya adalah lautan kita yang berubah jadi asam.” Caranya menjelaskan dengan menyelipkan namaku seperti menandakan bahwa dia sudah mulai lelah mengulang. Ide cemerlang muncul untuk memperbaiki suasana.

“Paman, sebelum bercerita bolehkah kau memasang oksigen apel tadi? Aku juga ingin merasakan wanginya.” Paman ursus dengan senang hati memasang botol oksigen rasa apel di suatu alat yang bisa memancarkannya keseluruh ruangan. Dari sofa megah berbulu ini seketika penciumanku dipenuhi bau apel. Baunya memang tidak semirip apel asli. Cukup menyegarkan walaupun tak seharum apel hijau yang kutemui saat kunjungan ke polar permaculture minggu lalu dari sekolah.

Ah, aku jadi lupa, ayo kita kembali ke cerita sore ini. Paman ursus memulai ceritanya. Dulu, saat dunia belum senyaman seperti sekarang, sebenarnya jalanan penuh dengan sebuah kendaraan yang memiliki roda. Besarnya beragam, mulai dari yang bisa di naiki oleh berdua hingga yang menampung puluhan orang. Namun, sayang sekali kendaraan itu mengeluarkan asap jahat yang membuat perairan menjadi tercemar.

Kata paman ursus, cerita ini dia dengar dari kakeknya dan sudah menjadi cerita turun-temurun di keluarga maritimus. Asap jahat itu diberi nama karbon dioksida. Masalah dimuali saat asap ini suka sekali bermain ke arah lautan, ke tempat yang mengandung banyak air. Kabar buruknya, jika dia berhasil sampai ke lautan maka akan membuat laut menjadi lebih asam.

Mendengar itu aku yang kebingungan langsung bertanya, “Memang kalau laut menjadi asam kenapa? Tidakkah paman bosan dengan air laut yang asin? Pasti akan seru kalau sesekali rasanya asam.” Kurasa air laut dengan rasa asam bukanlah ide yang buruk, selama ini aku hanya pernah mendengar tentang betapa asinnya air laut, keren sekali kalau bisa berubah jadi asam, bukan?

Tawa paman ursus langsung meledak saat aku bertanya demikian. Ah, ternyata berubahnya air laut menjadi asam sangatlah berbahaya untuk mereka yang hidup di laut. Kata paman urus, saat laut berubah menjadi terlalu asam maka akan banyak dari makhluk laut yang kesulitan membentuk ‘cangkang keras’ sehingga mereka akan dengan mudah dimangsa oleh para predator.

Sebentar, rasa penasaranku yang tidak bisa ditahan membuat sebuah pertanyaan terlontar, “Bukankah tidak semua yang di laut memiliki cangkang? Jadi itu tidak terlalu mengerikan, ‘kan?” Paman ursus dengan sabar menjelaskan bahwa cangkang keras yang dimaksud ternyata bukan hanya cangkang saja, contohnya tulang kuping pada ikan, rangka pada landak laut dan karang laut.

“Huh! Pembahasan ini tidak seru! Semua hal itu juga terlalu jauh untuk kubayangkan.” Senyum paman ursus terlihat begitu pengertian mendengar keluhanku tentang betapa membosankannya cerita kali ini. Paman ursus mengingatkan bahwa kita sekarang ini tinggal di atas banyak air, jika melubangi es tebal pasti dengan mudah melihat beberapa ikan.

Melihatku yang masih saja tak tertarik, dia kemudian menunjuk gambar mengerikan yang tergantung di atas perapian. “Kau lihat itu? Menurutmu mengapa aku memajangnya?” tanya paman ursus.

“Karena kau paman yang aneh?”

“Hahaha, mungkin aku memang paman yang aneh, tetapi tentu saja tidak ada yang lebih aneh darimu. Bagaimana bisa seekor kelinci dengan leluasa bermain ke rumah seekor beruang?”

“Hei! Aku sudah mengingatkan paman berulang kali bahwa aku ini terwelu bukan kelinci! Kami mirip, tetapi tetap saja berbeda.” Paman ursus sering sekali lupa tentang ini, apa karena dia sudah sangat tua makannya pelupa? Tidak heran sih, umurnya tahun ini mungkin sudah 20 tahun.

Tawa paman ursus kencang menggelegar, sepertinya itu tawa yang sangat memuaskan sampai-sampai matanya berair. Dengan menepukkan tangan besarnya ke atas kepalaku paman ursus meminta maaf soal perkataan tadi. Diapun kembali melanjutkan cerita.

Gambar seekor beruang putih besar yang terlihat menggigit beruang lebih kecil yang sudah berlumur darah. “Gambar itu diambil oleh seorang manusia dulu sekali, mungkin saja yang ada pada gambar adalah kakek dari kakek-kakekku.” Pengakuan itu membuatku terkesiap, bagaimana bisa itu terjadi? Bulu kudukku meremang.

Mengalirlah cerita paman ursus tentang kutub utara yang dulu sempat mencair. Paman ursus bilang bahwa kegiatan manusia yang melibatkan begitu banyak gas jahat membuat lubang pada lapisan ozon bumi, dengan begitu sinar matahari hangat yang masuk menjadi terperangkap dan tidak bisa kembali dipantulkan keluar bumi. Saking banyaknya, bumi menjadi sangat panas dan lapisan es tebal yang sekarang ini kami pijak pun mencair. Itu adalah hari-hari terburuk dimana makanan sangat sulit dicari, hingga pada suatu waktu beruang kutub yang kesulitan berburu akhirnya memakan satu sama lain, yang menjadi incaran utama tentulah anak beruang yang berukuran kecil.

“Wow, itu sangat mengerikan, beruntung sekarang ini kita tidak mengalaminya lagi.”

“Iya, kau benar, manusia sangat mengerikan.”

“Hah? Bukan itu maksudku. Lagi pula, sepupu jauhku bilang tidak begitu. Menurut cerita Orycto yang dia dapat dari kakeknya, manusia yang dulu sekali menjadi tuan dari keluarga cuniculus sangat baik kok.”

“Orycto, sepupumu Si Kelinci itu?”

“Iya, dia bilang manusia itu pernah berusaha dengan keras memperbaiki yang sudah mereka rusak sebelumnya. Mereka berhenti membuang sampah sembarangan, menghemat penggunaan energi, dan mengurangi konsumsi daging untuk menekan angka emisi karbon.”

Paman ursus nampak terkagum dengan yang kuceritakan. Dia bilang senang sekali rasanya kalau saja bisa bertemu manusia yang demikian. Mendengar itu aku juga menambahkan, “Kata Kakeknya Orycto beberapa dari mereka bahkan mencoba dengan keras untuk mengurangi asap-asap jahat yang paman sebutkan tadi. Katanya dengan begitu bisa mengurangi penipisan lapisan ozon. Apakah paman juga tahu tentang itu?”

Paman ursus langsung menyahut dengan serius kalau dirinya tentu saja tahu betul perkara penipisan lapisan ozon. Aku bahkan baru tahu darinya kalau daerah dingin kami ini jauh lebih rawan terkena penipisan lapisan ozon dibandingkan daerah lainnya. Mendengar ini aku sangatlah bersyukur, lega sekali mengingat bahwa itu semua sudah berlalu. Kalau es kembali mencair dan para beruang jadi sangat kelaparan, aku tidak akan bisa bermain ke rumah paman ursus lagi.

“Woah, cerita itu pasti akan sangat menarik. Bolehkah paman menyimpannya untuk minggu selanjutnya? Barangkali aku akan membawakan oksigen rasa lain. Oh, atau haruskah aku yang memilihkan rasanya? Semoga saja mereka masih menjual benda itu.”

“Hahaha, tentu-tentu, kau boleh memilihnya untuk minggu depan. Mungkin beri atau semangka. Kurasa kau akan menyukainya.”

Ini hal janggal lainnya dari paman ursus yang belum juga bisa kumengerti. Untuk apa membeli oksigen kalengan? Oksigen di daerah kami sangat segar, bahkan setahuku dari berita di televisi, oksigen berada pada kondisi terbaiknya setelah kepunahan manusia 100 tahun yang lalu. Ah, sudahlah, terserah dia saja. Begitulah oksigen rasa apel dan cerita sore dari paman urus. Sekarang, aku sedang melompat cepat untuk kembali kerumah sebelum langit benar-benar menggelap dan suhu menjadi sangat dingin menembus rambut tebalku.

9 thoughts on “Cerpen #222; “Oksigen Rasa Apel dan Cerita Paman Ursus”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *