Cerpen #221; “Bumi, 2100”

Bumi semakin tua, terlihat semakin cantik tetapi sekaligus tidak baik-baik saja. Mengapa demikian? Energi semakin menipis, lapisan ozon di angkasa dengan lubang yang menganga seakan tidak dipedulikan lagi oleh para penghuni bumi, siapakah mereka? Alien? Bukan, mereka adalah manusia. Mereka adalah sebagian dari kita.

Di berbagai tempat terlihat beberapa lahan hijau kini menjadi lahan kering dan tandus. Entah itu karena ulah dari tangan nakal manusia yang tak bertanggung jawab atau akibat dari pemanasan global. Sayangnya hanya sebagian dari mereka saja yang menyadari akan hal tersebut, sebagian masa bodoh dan sisanya pasrah serta tidak mau tahu.

Bukit sampah sisa industri rumah tangga dan berbagai industri lainnya seakan sudah menjadi masalah kehidupan yang tidak perlu dipikirkan lagi, meskipun mereka sadar suatu saat nanti akan hidup dan mati di atas sampah mereka sendiri.

Hari ini, di tahun 2099, seorang pemuda asal Indonesia baru pulang dari Planet Mars. Dengan langkah gontai ia mencoba menuruni anak tangga pesawat yang berhasil mendaratkannya kembali ke bumi.

“Selamat datang kembali Aryo, terima kasih sudah mau kembali ke bumi.” ucap Ragiel.

Aryo, pemuda yang merupakan anggota LAPAN yang juga merupakan seorang penjelajah ruang angkasa hanya bisa tersenyum datar. Ia terlihat cukup lelah.

“Di mana keluargaku?” tanyanya.

“Mereka aman, nanti aku bawa kamu ke kawasan Bromo. Beristirahatlah dahulu, kamu pasti masih terlalu lelah jika harus berangkat sekarang.”

Pemuda itu hanya mengangguk pelan. Ia segera mengikuti langkah Ragiel yang merupakan sahabat lamanya, mereka menuju sebuah apartemen dengan menggunakan taksi terbang. Jakarta semakin canggih, bahkan di tengah lautan bisa dilihat dari kejauhan beberapa gedung pencakar langit seakan mengambang di atas laut.

“Kamu tahu, Ragiel? Tim peneliti internasional kini telah melihat ratusan catatan paleontologis tentang bagaimana ekosistem terestrial menanggapi perubahan iklim sekitar 20.000 tahun lalu. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana planet kita ini akan menyesuaikan diri dengan pemanasan serupa yang terjadi 100 hingga 150 tahun mendatang.” ujar Aryo.

Ragiel mendesah, ia mulai menyetir dan beberapa saat mereka kembali melayang di udara menuju apartemen di mana Ragiel tinggal saat ini. Hunian tersebut berada di daerah Bogor.

“Ngomong-ngomong, jika memang demikian, akan ada pula ekosistem yang hilang. Puluhan tahun yang lalu daerah ini pun mulai tenggelam, bukan?” ujar Ragiel.

Ya, Jakarta di beberapa bagian memang tenggelam. Cikal bakal lahirnya teknologi di mana hunian melayang diciptakan.

Ragiel segera menghidupkan pendingin ruangan, pemanasan global membuat bumi lebih panas dari biasanya. Meskipun demikian, lahirnya teknologi tenaga surya yang cukup menguntungkan tentu sangat membantu manusia yang hidup di akhir zaman ini.

Masih jelas diingatannya ketika beberapa puluh tahun yang lalu Aryo sempat mengajaknya untuk ikut ke Planet Mars. “Kita harus melanjutkan eksplorasi menuju planet baru demi masa depan kemanusiaan,” ujar Aryo kala itu. Namun kecintaan Ragiel akan Planet Bumi membuat ia memilih untuk bertahan.

Sejak saat itu mereka jadi jarang berkomunikasi, sampai ketika Aryo harus kembali ke bumi, barulah komunikasi mereka mulai lancar.

***

Sebelum berangkat ke Kota Bromo, mereka terlebih dahulu singgah di sebuah restoran di mana para pramusaji di restoran tersebut merupakan robot canggih yang siap melayani kebutuhan para tamu. Mereka tidak ubahnya manusia yang juga bisa tersenyum bahkan siap mengucapkan terima kasih atau meminta maaf jika melakukan kesalahan.

Setelah selesai makan mereka segera pergi menuju lantai paling atas dari gedung tersebut di mana letak taksi terbang milik Ragiel berada. Menjadi sopir taksi terbang merupakan pekerjaan yang menyenangkan serta beresiko tinggi dibanding dengan sarana transportasi darat lainnya. Tidak jarang ia nyaris terjatuh ketika tiba-tiba terjadi kerusakan di badan kendaraan tersebut.

Ragiel segera melepas kabel yang menghubungkan energi listrik dengan baterai yang terpasang di bagian belakang kendaraan canggih tersebut. Kini mereka siap menuju Jawa Timur untuk menuju Kota Bromo di mana keluarga Argo berada.

Membutuhkan waktu tiga jam untuk segera tiba di kota tujuan. Bromo yang dahulu merupakan destinasi wisata alam terkenal hingga ke segala penjuru dunia kini menjelma menjadi sebuah kota yang maju dengan gedung-gedung pencakar langit terlihat di berbagai sudut kota. Uniknya dari kota tersebut ialah seakan berada dalam kubah kasatmata yang menjadi semacam pelindung bagi kota tersebut. Sementara ciri khas dari rumah para penduduk kotanya ialah kubah kaca yang besar.

“Selamat datang di Kota Bromo, Aryo, beberapa menit lagi kita akan segera tiba.” ucap Ragiel dengan wajah semringah.

“Wah, keren banget ya. Tidak kalah dengan perkotaan yang ada di Mars.”

Pemuda itu terus berdecak kagum.

Ragiel mengajaknya segera menuju sebuah rumah berbentuk kubah kaca raksasa. Di dalamnya ternyata terdapat beberapa hunian yang dihuni oleh lebih dari sepuluh kepala rumah tangga.

“Kak Aryo, Bu Kak Aryo sudah datang.” pekik Chika.

“Aryo anakku..”

Tanpa pikir panjang lagi, pemuda itu segera berlari kecil lalu memeluk erat tubuh sang ibu yang terlihat semakin tua.

“Ibu..”

Ragiel hanya bisa tersenyum melihat pemandangan itu. Beberapa saat kemudian anggota keluarga lainnya turut menyambut pemuda itu.

“Apa kabar keluarga kamu di Kota Nuwa?” tanya sang ibu.

“Mereka sehat dan baik-baik saja Bu. Anak-istriku titip salam buat Ayah dan Ibu. Kota Nuwa semakin aman. Layaknya planet ini.”

“Tidak Nak, Planet Bumi tidak baik-baik saja. Pemanasan global, gemba bumi, banjir serta bencana alam mengerikan lainnya cukup mengancam kehidupan manusia di planet ini.”

“Sabar Bu, nanti akan kubawa kalian ke Kota Nuwa, di Planet Mars.” bisik Aryo.

Kota Nuwa di Mars merupakan kota pertama yang dibangun bangsa manusia di planet merah itu, kota tersebut dibangun di sepanjang tebing kolosal. sengaja dipilih agar orang yang tinggal di Mars nantinya dapat memiliki akses ke sinar matahari tanpa mengambil risiko paparan berlebihan terhadap ancaman mematikan radiasi kosmik. Sementara di sisi lain, telah dibangun khusus untuk akses pertanian dan perkebunan serta industri lainnya.

“Ibu mau ‘kan, ikut Aryo ke Kota Nuwa?”

“Tentu saja kami mau dan bersedia ikut denganmu, Nak.” sambung sang ayah yang langsung mendekati tubuh pemuda itu. Aryo segera memeluk sosok yang juga ia rindukan selama ini.

Mereka masih berada di Kota Bromo yang sejuk itu, tetapi beberapa saat kemudian bumi mulai terguncang. Mereka terkejut dan segera keluar dari area kubah kaca itu. Mereka tentu merasakan perbedaan suhu seketika pada saat berada di alam bebas. Namun tidak ada pilihan lain, mereka harus keluar dan menjauhi area perumahan atau gedung pencakar langit.

“Inilah saat yang tepat untuk meninggalkan planet ini. Ikutlah denganku, Bu, Ayah.” pinta Aryo.

“Aku juga ikut, Yo.” ujar Ragiel.

Mereka pun segera menuju lapangan terbang di mana terletak pesawat ulang alik yang bisa membawa puluhan manusia menuju planet lain. Pesawat penjelajah antariksa itu memang didesain lebih besar dan lebih kuat dibanding pesawat lainnya.

“Sepertinya planet ini akan segera binasa.” ucap sang ayah.

Di kejauhan terlihat jelas beberapa gedung pencakar langit mulai runtuh. Seakan bumi sedang menyambut kiamat.

***SELESAI***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *