Cerpen #220; “JEJAK KAKI BUMI”

Namaku Terra, Setiap kali ada yang acuh tak acuh dengan Krisis iklim yang tengah merebah, Aku dan Kai sahabatku yang bobrok itu pasti menentang kalau bumi harus disakiti, melainkan harus dipulihkan. Apalagi kami yang notabene anak desa merasa risih dengan keadaan ibukota yang semakin hari mengonsumsi bumi hingga malang.

  Sejak pertama Aku dan Kai menjadi mahasiswa disalah satu universitas Jakarta, Kami sangat aktif dalam kegiatan cinta lingkungan, sehingga aku dengannya memiliki kesukaan yang sama, sangat mencintai bumi dan keindahannya. Namun, sepertinya keadaan bertolak belakang dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Alih-alih mewujudkan bumi yang bebas pencemaran. Kenyataannya membuat bumi menjadi panas oleh suhu temperatur yang tinggi karena pemakaian gas karbon berlebihan. Sehingga, apabila tidak ditindaklanjuti akan memungkinkan Krisis iklim yang berdampak pada bumi 100 tahun mendatang.

“kayaknya pemakaian kendaraan berlebihan bikin emisi gas karbon jadi Krisis iklim nih, Ter.”

“tidak salah lagi, masyarakat kurang peduli, ditambah pemasokan bensin yang terus masuk, kita enggak bisa salahi konsumen aja, tapi juga dengan produksinya.” Jawabku dengan tegas.

  Sangat tidak bersahabat untuk aku dan Kai yang bertentangan dengan itu. Tetapi hal ini sudah lumrah melekat pada kebutuhan. Aku mengeluarkan gawai yang canggih dari kantung celanaku yang sempit, mengingat teknologi sudah berkembang pesat hingga tenaga manusia bisa tergantikan oleh tenaga mesin. Rupanya banyak notifikasi tentang krisis  yang bergejolak, tetapi tidak ada tindakan satu pun yang menyelubungi krisis iklim.

  Di teriknya mentari, padatnya lalu lintas, dan keringnya dahaga. Aku dan Kai membagi tugas untuk menyebarkan poster buatanku mengenai kepedulian terhadap iklim ke berbagai tempat. Aku membagikan poster-poster ini ke kalangan remaja maupun dewasa, namun dari mereka tidak ada yang tertarik, bahkan ada yang membuang, menginjak, merobek, bahkan dijadikan mainan terbang, sedihnya mereka melakukan nya tepat di depan kacamataku. Begitu pun Kai yang tiba di depanku dengan raut wajah sedih dan lemas sambil menggelengkan kepala seakan usaha kami ditentang oleh masyarakat kebanyakan.

  Aku dan Kai bergegas pergi ke suatu tempat yang tinggi, padat akan penglihatan, dan menunggu terbenamnya fajar. Berbincang tentang bagaimana keadaan bumi kelak, bila saat ini matahari yang terbenam tidak tampak oleh asap-asap yang menutupi. Aku menyaksikan dari ketinggian, lalu lalang kendaraan yang berasap, hingga terlihat cerobong pabrik yang mengirim asap hitam.

“Kai, entah apa yang dirasakan bumi hari ini, esok, lusa, hingga kedepan nya. Aku merasa kasihan pada bumi yang tak bersalah diserang oleh orang-orang sembrono.” Kataku menghardik masyarakat yang tak peduli bumi.

“Ya begitulah Ter, Bukan hanya masalah emisi energi fosil yang berlebih, namun juga teknologi yang semakin update. Negara maju berlomba-lomba buat produk yang canggih untuk dipasarkan di negara-negara berkembang, salah satunya elektronik yang menyebar di negara kita.” Jawab Kai melas

“Apa yang terjadi ya dengan bumi 10 tahun kemudian atau 100 tahun mendatang?”

“Ah, kamu terlalu mikir jauh Ter, menurutku mungkin aja si manusia bisa bermigrasi ke mars, lalu bikin gedung-gedung tinggi seperti di ibukota ini,” Ledek Kai

“Hahaha, seiring berkembangnya zaman yang dipadukan teknologi, pasti akan ada Krisis iklim yang tidak diperhatikan.”

  Aku dan Kai terdiam seketika, memikirkan pernyataan ku yang belum menemukan secercah jawaban bahkan harapan. Iklim akan berubah sesuai keputusan saat ini untuk tahun mendatang, dan tidak boleh bergantung pada kepastian yang bisa saja hanyut di ambang keputusasaan. karena kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan yang dampaknya pada konsumsi peralatan listrik dan elektronik meningkat, mengingat meningkatkan kualitas hidup modern serta gaya hidup berkontribusi pada laju perubahan iklim.

“Kita bisa menjadi penopang nya”. Ketusku spontan.

“Hah, gimana caranya? Kita hanya secuil semut merah yang akan terabaikan oleh dunia.” Jawab Kai

“Mudah saja, kita anggota komunitas cinta lingkungan di kampus, lalu kita suarakan misi kemanusiaan kita untuk bumi, dengan begitu ide ini akan bergerak ke masyarakat.”

“Brilian!” Teriak Kau penuh semangat.

  Jam menunjukkan malam hari, aku dan Kai bergegas pulang ke rumah kost kami di Jakarta Utara, tepatnya di Tanjung Priok. Sesampainya di rumah satu petak ini, aku menyusun kata-kata untuk di sampaikan ke teman-teman komunitas, karena suara Kai yang paling lantang dan cempreng, ia ditugaskan olehku untuk berdiri menyuarakan misi ini.

  Seminggu kemudian di halaman kampus, berdiri 30 mahasiswa komunitas cinta lingkungan di hadapan kami. Aku dan Kai mengemukakan misi kemanusiaan kami terhadap bumi. “Kita tidak tahu, bumi 100 tahun mendatang akan seperti apa dan bagaimana. Dengan secuil pergerakan akan tumbuh kemajuan yang sinkronisasi. Apalagi dengan mengedepankan sikap kooperatif, akan lebih mudah untuk kita menyebarluaskan hal-hal sederhana yang harus di perhatikan oleh masyarakat, salah satunya menghemat energi, seperti mematikan lampu saat siang hari, mencabut colokan poksel saat sudah terisi, membawa tas sendiri ketimbang plastik agar tidak mengakibatkan sampah bertaburan. Hal sederhana inilah yang tidak boleh diabaikan, karena aku yakin dengan langkah kecilku mencintai bumi, kecemasan terhadap bumi 100 tahun mendatang bisa terobati.” Kata-kata yang aku buat seakan tersampaikan dengan lancar oleh suara lantang Kai yang lugas. serentak teman-teman komunitas cinta lingkungan mendukung dan akan turut andil untuk menciptakan bumi yang diinginkan 100 tahun mendatang.

  Selepas dari kampus, aku dan Kai kembali ke rumah kost sepetak, dengan perasaan lega dan senang akan misi kemanusiaan kami yang mempunyai dukungan. Pada dasarnya, aku pun tidak luput dari kehidupan yang membuat krisis iklim merajak. Pelan aku berjalan, menyelinap di antara kerumunan orang. Semakin dalam, aku mulai mengerti, betapa susahnya manusia mengurangi kebiasaan ini, kebiasaan yang membuat bumi terdempak krisis iklim, dan terciptalah bencana alam yang bertebaran. Aku sebagai manusia emosi, sebaliknya bumi juga, ia emosi lalu mengeluarkan amarahnya lewat tindakan yang menakutkan.

  Tanjung Priok, di atas batu besar berbarisan kapal-kapal. Kala ombak mengguyur selalu membawa pemahaman tersendiri bagiku, dalam naiknya air laut yang kian terus menyedot permukaan tanah. Aku membenarkan posisi duduk begitu seorang berbadan tinggi menepuk badanku, rupanya itu Kai, dia selalu saja mengganggu lamunanku. Sialnya dia membawa dua balon dan sebuah kertas kosong beserta pena nya. Rupanya Kai mengajakku menuliskan pesan untuk bumi.

“Ayo kita tuliskan pesan kita untuk bumi, siapa tahu generasi 100 tahun mendatang akan membacanya, dan dia yang akan menilai sendiri keadaan bumi kala itu.” Kata Kai penuh antusias.

“Pesan apa tapi ya? Yang menunjukkan pentingnya peduli akan krisis iklim.”

“Ya udah tulis aja, ga boleh nyontek.”

Aku dan Kai sudah selesai menulis, lalu kami masukan kertas itu ke dalam balon yang menyerupai karakter anime. Aku dan Kai sama-sama terdiam, sampai kami akhirnya menoleh dan memberitahu isi kertas masing-masing bersamaan melepas balon-balon itu ke udara dengan raut penuh semangat api.

“untuk bumi, gimana kabarmu di 100 tahun dari sekarang? “

Teriak kami bersamaan diiringi dengan tawa kami yang mengalahi suara ombak di udara pagi yang penuh kesejukan, untuk meninggalkan jejak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *