Cerpen #219; “SEBELUM MENYESAL”

Hari ini sangat panas, bahkan otak bisa mendidih dan tubuh dibanjiri keringat. Aku berada di barisan pembagian jatah makan siang. Entah sudah hari ke berapa aku di tempat ini, di area pengungsian korban krisis iklim. Rasanya sudah lama sekali. Aku menghitung tiap hari yang aku lewati di sini, berharap hari esok adalah hari aku kembali ke rumah. Tapi bagaimana aku bisa kembali ke rumah? Rumah kami sudah tenggelam, haha.

“Mamaa… masih lama ya? Kia laper ma…” Ucap seorang anak dengan suara melenguh padaku. Dia Zaskia, putri ku yang masih berusia 4 tahun.

“Sebentar lagi ya, sayang? Antrian nya dikit lagi kok.” Ucapku sambil memberinya senyuman.

“Yahh… hari ini ubi dan kacang panjang lagi ya ma?’ Tanya Kia protes pada ku ketika melihat kedua menu itu dituangkan ke piring.

“Iya sayang, kita makan ini lagi gapapa ya? Yang penting kita masih bisa makan, iyakan?” Aku membujuk Kia dengan senyuman dan kelembutan.

“Hmm iya mama” Sautnya dengan pelan.

Kia pun melahap makanan lewat suapanku.

Semua orang di area pengungsian menikmati makan siang nya sambil menonton layar putih lebar yang kami gunakan sebagai ‘TV’. Pekerjaan layar putih besar itu adalah memberi info terbaru tentang betapa parah nya dampak akibat krisis.

Bulan yang cantik tetap setia menemani malam hari bumi yang sedang dilanda musibah. Rasanya baru beberapa menit yang lalu Kia tertidur pulas di pelukanku dan papanya. Tiba-tiba Kia bangun dan merengek kesakitan. Akupun membangunkan mas Tommy, suamiku.

Oh tidak! Kia demam! Akupun menyuruh mas Tommy memanggil dokter yang berjaga di area pengungsian. Dokter pun datang dan mulai memeriksa Kia dan menyatakan bahwa Kia terkena penyakit demam dengue. Ya, penyakit itu sudah menjadi penyakit yang banyak diderita semenjak krisis iklim memburuk.

Entah sudah hari ke berapa semenjak Kia sakit. Belum ada perubahan dari Kia, bahkan bertambah buruk karena Kia tertular kolera. Betapa perihnya hatiku melihat putri kecilku hanya bisa terbaring lemah akibat penyakit yang menyerangnya.

Pagi harinya aku bangun dan langsung pergi mengambil air hangat karena hendak membasuh badan Kia. Aku mulai mengambil lengan putri kecil ku untuk dibasuh, tapi tunggu, kenapa rasanya tangan Kia berat dan dingin?

“Kia sayang, nak bangun nak.” Ucapku pada Kia sambil menepuk pelan lengan atasnya.

Kia tidak menyahut. Aku panggil lagi, tetap tidak menyahut. Aku mulai panik.

“Pa, pa bangun pa. Kia dipanggil ga nyaut pa.” Teriakku panik pada mas Tommy sambil menggoyang tubuhnya.

“Hah kenapa ma?” Mas Tommy terbangun karena terkejut.

“Kia, pa. Kia.” Tak bisa rasanya ku selesaikan kalimatku.

“Kia kenapa?!” Mas Tommy mulai panik juga.

Mas tommy langsung bergeser ke dekat Kia dan memanggil nama Kia, tetap saja, Kia tidak menjawab sama sekali. Air mataku mulai mengalir deras dan suaraku mulai terisak memanggil nama Kia. Pengungsi lainnya terbangun karena kehebohan keluargaku dan mulai bertanya apa yang terjadi. Aku hanya bisa diam karena terlalu khawatir pada Kia. Mas Tommy berlari memanggil dokter yang tak jauh dari tenda pengungsi.

“Permisi ibu, geser sebentar ya biar saya periksa keadaan Kia.” Kata dokter padaku.

“Ah, iya dok.” Jawabku sedikit terisak sambil mundur sedikit.

Aku dan mas Tommy menunggu dokter dengan harap-harap cemas. Tak lama dokter menghampiri kami.

“Bapak, ibu, saya tau ini berat, tapi Tuhan lebih sayang Kia. Kita ikhlas kan ya, pak, bu.”

Blaaarrrr!!!

Aku merasa seperti disambar petir. Apa  maksudnya? Ikhlas? Apa maksudnya?!

“Ap.. apa maksudnya dok? Dok tolong dok!” Suara mas Tommy bergetar.

“Kia meninggal bapak, ibu. Yang tabah ya.” Jawab dokter.

Tangis mas Tommy pecah mendengar jawaban dokter. Mas Tommy langsung memelukku. Orang-orang di tenda pengungsi mencoba menyemangati kami. Aku hanya diam, pandanganku kosong. Aku masih belum percaya ini nyata.

Pemakaman Kia langsung dilakukan pagi itu dan selesai pada siang hari. Aku dan mas Tommy baru saja kembali dari TPU yang tak jauh dari area pengungsian. Aku dan mas Tommy duduk di sebuah batang kayu besar yang sudah ambruk. Mas Tommy kembali menangis. Aku masih diam, aku masih tidak dapat menerima kenyataan ini.

Tiba-tiba ada seorang wanita yang menyodorkan kan kami teh hangat. Aku mendongak dan sangat terkejut melihat siapa wanita itu.

“Nisa, Tommy, ini minum dulu.” Katanya pada kami.

Aku dan mas Tommy bingung kenapa wanita ini ada disini.

“Aku masih menjadi bagian Walhi. Hari ini aku bertugas ke area ini dan mendapat kabar ada putri kecil yang meninggal, dan ternyata itu Kia.” Kata Santi seperti tau kebingungan dalam benakku dan mas Tommy.

“Aku turut berduka atas kehilangan kalian. Kia anak yang baik, dia pasti bahagia berada di sisi-Nya sekarang.”  Sambungnya lalu duduk di sebelah ku.

Aku dan mas Tommy hanya diam mendengar perkataan Santi. Wanita itu Santi, temanku dan mas Tommy.

“Aku kalah Sa, Tom. Aku kalah, kami kalah.” Ucapnya dengan nada kecewa.

“Kalo aja kami berhasil, pasti keadaan ga kayak gini.” Ucap Santi dengan nada bergetar.

Dadaku sesak mendengar itu, aku menangis kencang, begitu pula dengan mas Tommy.

“Aku nyesel, San. Aku nyesel. Kenapa dulu aku ga ikut kayak kamu, mikirin dampak krisis iklim. Kenapa dulu aku sepele tentang itu! Liat, sekarang aku kehilangan Kia gara-gara sikap ga peduli ku sama lingkungan. Aku merasa kalo dampak krisis iklim itu ga bakalan separah ini, bakalan bikin aku dan mas Tommy kehilangan Kia, kehilangan rumah kehilangan segala nya. Santi, aku nyesel san aku nyesel.” Air mataku mengalir deras.

“Aku juga, aku bahkan sempat ngatain kamu, San. Aku ngatain kamu pencitraan, sok peduli lingkungan. Padahal yang kamu lakukan untuk kebaikan kita semua. Kamu juga udah baik banget ngasih tau kita kalo bagus nya beli produk daging atau susu dari pertanian regeneratif, tapi apa? Aku malah ngatain kamu lebay. Aku malu ketemu kamu, San.” Kata mas Tommy dengan tangis.

“Dulu waktu semua masih berlimpah, masih berkecukupan, aku sepele sama ancaman yang mungkin terjadi…  Kita kehilangan rumah gara-gara rumah kita tenggelam karna volume air laut meningkat gara-gara es di Kutub mencair. Bencana alam, kekeringan, kehilangan sumber air bersih yang menyebabkan sanitasi buruk yang bikin orang-orang tertular penyakit, bahan pangan yang langka yang bikin malnutrisi. Padahal seperti nya peduli lingkungan itu hal sepele, tapi ternyata dampak nya separah ini.” Aku berbicara dengan tatapan kosong dan air mata yang terus mengalir.

“Udah, Sa, Tom, aku juga kalah. Kita semua kalah”

“Menyesal juga ga ada guna nya lagi kan, San? Iya ga ada, aku udah kehilangan Kia!” Aku kembali menangis kencang.

“Nisa, udah. Kamu yang sabar ya.” Kata Santi memeluk dan mengelus punggungku.

Aku merasa kepala ku mulai pusing dan pandanganku mulai kabur. Aku berkali-kali mengedip kan mataku. Sepertinya aku akan kehilangan kesadaran ku. Aku hanya mendengar suara yang memanggil-manggil namaku dan juga suara Kia yang mencariku…

Nisa

Nisa

Mama

Mama

Ma!

“Hahh ahh” Aku terbangun dengan nafas terengah-engah.

“Mama kenapa? Papa dari tadi manggilin mama loh.” Kata mas Tommy padaku.

Aku menatap mas Tommy, aku melihat sekitar. Ini kamar kami! Ini rumah kami!

“Pa, ini rumah kita?” Tanya ku pada mas Tommy.

“Loh, iya ma. Jadi ini rumah siapa kalo bukan rumah kita” Jawab mas Tommy bingung.

Aku diam mendengar jawaban mas Tommy.

“Mama kenapa? Tadi mama nangis-nangis teriak manggil-manggil Kia terus bilang nyesel-nyesel gitu, mama kenapa? Mimpi buruk ya?”

Tanpa menjawab pertanyaan mas Tommy aku langsung lari keluar kamar dan menuju kamar Kia. Kubuka pintu kamar Kia dengan kuat. Kia tampak tertidur pulas.

“Ahh jantungku, jantungku hampir copot. Kiaa, nak…” Aku menangis sambil berjalan menuju tempat tidur Kia.

Mas Tommy menyusulku ke kamar Kia. Dia kebingungan kenapa aku tadi menangis dan berlari ke kamar Kia.

“Mama ini kenapa? Bisa jelasin sama papa ga?” Tanya nya kebingungan

“Nanti mama jelasin, pa. Ayok kita lanjut tidur, di sini aja bareng kia.” Jawabku sambil berbaring di sebelah Kia dan memeluknya.

Aku mengelus lembut rambut Kia, dan beberapa kali menciumi pipi gembul putri kecil ku itu. Ternyata itu semua hanya mimpi yang terasa sangat nyata. Mungkin ini adalah teguran untuk kami. Iya, aku harus berbenah. Aku tidak ingin meninggalkan anak cucu generasi penerus ku dengan krisis iklim, krisis lingkungan yang mengancam nyawa sebagai warisan. Generasi penerus harus hidup aman sampai 1000 tahun kedepan tanpa akibat ketidak pedulian generasi sebelumnya. Ah iya, aku juga harus menyuruh mas Tommy meminta maaf kepada Santi.

Teruntuk manusia yang tinggal di bumi saat ini, mari beri perlindungan serta rasa aman dan nyaman terhadap generasi penerus kita. Jangan biarkan mereka menderita akibat sikap kita yang tidak bertanggung jawab. Mulai lah berbenah, berubah. Memang perubahan itu sulit, namun seperti kata pepatah, “alah bisa karena biasa”. Jadi, mari biasakan kebiasaan baik yang dapat melindungi generasi penerus dan bumi kita, sebelum menyesal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *