Cerpen #218; “Saksi Mata Tiga Zaman”

Di hari-hari ini, tak ada musim yang jelas. Gemuruh perasaan mengisi sesuatu yang selama ini kosong dalam rongga dadanya. Diisap habis kegamangan untuk menentukan langkah setelahnya. Dia mafhum, tak ada gunanya lagi menentang. Tak ada juga harapan, tak perlu erat-erat menahan. Segala kenangan di masa silam yang menancap dan melekat akan segera lenyap. Bayang-bayang tinggal kenangan telah mengambang di awang-awang.

Rayap-rayap pemakan kayu yang menyangga rumah itu saksinya. Para elit di lahan konsesi silih berganti datang dan pergi, rayap-rayap itu masih tetap ada—dengan setia membuat lubang di rumah Alfredo. Kini, seberkas penyesalan yang berusaha dipendamnya, lamat-lamat muncul.

“Kulihat, kemiringan tiang di halaman Balai Layung sudah tinggal empat lima derajat untuk menyentuh tanah,” ucap Alfredo kepada istrinya yang sedang memasak di dapur.

“Lembar pertama buku milik Tambi juga sudah sobek,” sahut istrinya.

“Isyarat. Kita tinggal punya sekali sempat sebelum berjumpa dengan kiamat, Mahiang.”

Di sela desah napasnya pagi itu, bayangan masa kecil rimbun di dalam dirinya. Rumah kayu yang lapuk dan rayap-rayap yang senantiasa mengisi lubang kayu adalah yang masih bertahan, berdampingan dengan tembok perusahaan. Meski berulang kali perusahaan sawit itu menawar tanah dan rumah dengan harga yang tak realistis, Alfredo tetap tak melepasnya.

“Selama Tambi masih di sini, tanah dan rumah ini tak boleh ada yang menggusur. Biar kita perlahan dibunuh lewat racun di udara, kita akan tetap di sini,” tegas Alfredo pada istrinya.

“Kau lelaki rumit dan aku wanita penurut yang jatuh cinta kepadamu, Alfredo. Kerumitanmu itu niscaya yang membelenggu keluarga ini.”

Dari tempatnya berdiri, Mahiang melihat anak lelaki sebelas tahun yang hanya bisa telentang di kasur lantai yang tipis. Hatinya mencelis. Terkadang dia jemu dengan sikap suaminya yang tak pernah ingin pindah dari rumah itu meski tahu keadaannya menjadi sulit. Suar, anak mereka yang lahir terbentur alam, sebab semasa hamil, ibunya hidup berkawan dengan asap dari kebakaran hutan saat pembukaan lahan perkebunan.

Bunyi ekskavator penebang pohon, asap dari cerobong pabrik, air yang tercemar limbah, udara yang bercampur karbon, dan makanan-makanan mengandung mikroplastik, semua adalah seni tinggal di wilayah itu. Perusahaan telah merampas tanah dan ruang hidup mereka yang indah. Namun, demi menjaga tambi yang amat dicintai suaminya, Mahiang menjadi istri yang patuh dan penurut. Bahkan setelah Suar lahir dengan keterbatasannya, mereka hanya bisa menerima dan berpasrah. Lagi-lagi, karena mereka percaya tambi sebenarnya tahu obatnya.

Belasan tahun silam, Mahiang pernah mencoba membujuk Alfredo agar paham bahwa kondisi akan semakin berat jika mereka memilih menetap. Dia membayangkan tak lama lagi pohon-pohon akan dirobohkan. Akan ada ekspansi dan pembalakan. Para tetangganya pun—yang puluhan tahun silam keras bicara menentang perusahaan—memilih mengambil uang ganti rugi dan berpindah ke tempat lebih aman. Namun, Alfredo memang seorang ulin yang sengaja ditanam bue untuk menjaga tambi. Alfredo adalah satu-satunya ulin yang masih tegak dan tersisa di wilayah itu, wilayah yang puluhan tahun silam masih rimbun pohon endemik hutan dan berbagai tanaman kebun warga. Sekarang semua telah berganti rupa menjadi perkebunan sawit.

Apa yang menjadi bayangan Mahiang, tak membias sedikit pun. Wilayah itu terus dikonversi. Pohon di hutan mulai ditebangi. Kebun-kebun warga yang dianggap sebagai anak dan memberikan kehidupan juga telah dibunuh oleh perusahaan sawit. Sungguh, tak ada yang tersisa di wilayah itu kecuali keluarga Alfredo.

Alfredo hanya terdiam melihat istrinya. Di depan sana terbujur lemah anak lelakinya yang dahulu digadang-gadang akan menjadi pewaris keperkasaan seorang bue atau pewaris kelembutan tambi lewat sastra. Alih-alih menjadi pewaris, belajar untuk dirinya sendiri saja, Suar tak mampu. Dari dalam rumah, Alfredo melihat tambi yang masih senantiasa membaca buku-buku sastra dari abad 21 di teras rumah. Tambi penggemar berat seorang penyair asal kota Gudeg, JokPin. Katanya, JokPin itu serupa suaminya, jenaka dalam bahasa, tetapi teguh pemaknaannya. Di lemari kamar tambi, buku-buku sastra tersusun berdasarkan warna. Buku-buku itu tak boleh dipindah ke mana-mana, pesannya. Alfredo menuruti. Sesekali Mahiang menyapu debu-debu yang menempel di buku itu dengan hati-hati. Saking lamanya buku-buku itu ada, barangkali sudah bisa disebut naskah kuno. Orang-orang di kota besar bahkan tak lagi memiliki buku-buku semacam itu. Penerbitan buku adalah cerita lama yang sudah tutup usia. Tak ada lagi percetakan. Bukan lagi zamannya. Mereka membaca apa saja lewat teknologi canggih yang tentunya tak dimiliki—atau sengaja tidak dimiliki, oleh keluarga Alfredo.

Mahiang meninggalkan masakannya sebentar. Dia berlalu ke kamar dan mengambil sebuah amplop. Didekatinya kembali suaminya yang ada di meja makan rumah itu.

“Kemarin sore, manajer perusahaan datang lagi. Namun, dia hanya menitipkan ini untukmu,” diulurkannya amplop itu ke tangan suaminya.

“Surat penggusuran lagi? Berapa milyar lagi yang mereka tawarkan?”

Sebelum korporasi sawit masuk dan porak-porandakan segalanya, rata-rata masyarakat hidup dari kebun. Hasilnya bisa untuk kehidupan dapur dan biaya sekolah anak cucu mereka. Sekarang, tinggal Alfredo yang dengan setia menolak untuk menukar kebun harapannya dengan jumlah milyaran yang ditawarkan perusahaan.

“Tak tahu. Aku belum membukanya. Kemarin dia juga menyapa Tambi dan mendoakan agar Tambi sehat selalu dan panjang umur. Kurang ajar lelaki itu! Mengapa dia bilang begitu! Apa dia tak tahu rasanya menjadi manula dan hidup dengan penuh sengsara? Air bersih susah didapat, minum pun susah, udara kotor macam knalpot, cuaca begitu ekstrem. Hah!” Mahiang menceracau.

“Eh? Surat penawaran kerja sama dengan perusahaan? Untuk-memasok-sayur?” Alfredo mengeja sebuah kalimat lalu menyeringai. “Seumur-umur ide seperti ini tak pernah dipikirkan mereka. Kalau oke, kita akan disediakan tanah khusus untuk berkebun dan bisa tinggal di dalam kompleks perumahan perusahaan.” Alfredo menunjukkan isi amplop kepada istrinya.

Mata Mahiang berbinar mengetahui isi surat itu. Sebenarnya dia sudah hampir putus asa tinggal di rumah kecil yang menempel langsung dengan tembok perusahaan. Suara bising dari pabrik, bau limbah olahan produk yang mengalir di sungai, itulah pemandangan harian mereka yang tak pernah berubah warna.

“Kau tertarik? Kita pindah?” tanya Mahiang semringah.

“Cih! Licik mereka! Hei, Mahiang, kau lupa? Masih ada Tambi di sini.” Alfredo menggeletakkan amplop sekenanya kemudian berlalu ke kebun.

Alfredo masih setia berkebun. Hasilnya dijual ke beberapa buruh yang tinggal di mes perusahaan. Para buruh perusahaan sangat menyukai hasil kebun milik Alfredo. Dengan memakan sayur, paling tidak mereka mengurangi pangan hewani yang sudah terkontaminasi plastik di tubuhnya. Tak bisa disangkal, bahan pangan di hari-hari ini semuanya perlu disangsikan kesehatannya. Sayur menjadi menu wah di kalangan buruh karena termasuk dalam makanan mahal. Terkadang Alfredo menjemput bola dengan mengantarkan hasil panen kebun ke dalam perusahaan. Di lain waktu, buruh pekerja itu yang mendatangi kebun Alfredo. Mereka memuji-muji kebun milik Alfredo karena merasa sayur-mayur itu sangat sehat untuk tubuh mereka. Tidak tahu saja mereka, Alfredo juga menyemprotkan obat-obat kimia ke tanaman itu agar tumbuh subur dan laku dijual. Dengan perubahan iklim yang sangat mengancam, Alfredo dan bahkan petani-petani lain tak akan bisa mengandalkan dengan apa yang mereka sebut organik itu. Bahkan, hewan-hewan yang semasa Alfredo kecil masih ditemuinya di wilayah itu, sekarang tinggal cerita yang selalu didongengkannya kepada Suar setiap malam menjelang tidur.

“Belalang hijau adalah musuh petani sayur saat itu, Suar. Aba dulu sering menangkap belalang lalu memakannya. Lezat. Kemudian, Bue menanam bunga matahari untuk menghalau belalang agar tidak memakan sayur. Belalang pada akhirnya terpincut dengan bunga matahari dan tak lagi mengganggu sayuran milik Bue.” Alfredo mengenang.

Dengan terbata-bata, Suar bertanya pada Abanya. “Bela…lang tu a..pa?”

Alfredo yang jago menggambar pun, akhirnya menggambarkan belalang di sebuah kertas. Dia mengorek ingatan tentang belalang. Rasanya sudah lama sekali dia tak melihat belalang. Dia tak tahu apakah spesies belalang hampir punah atau sudah benar-benar punah. Tak berapa lama, gambar itu jadi dan diperlihatkan kepada Suar pada suatu malam. Hal itu yang bisa dilakukan Alfredo untuk mengajari anak satu-satunya.

Sepulangnya dari kebun di sore hari, Alfredo mulai bersih-bersih badan. Dilihatinya tambi duduk di ruang tengah sambil memegang foto mendiang suaminya. Alfredo pun mendekat. Mengelus pundaknya.

Tambi rindu Bue? Aku juga. Andai saja makam-makam leluhur yang ada di kampung ini tidak turut digusur perusahaan, kita bisa menjenguk Bue kalau Tambi kangen begini,” Alfredo menepis air mata yang hampir jatuh ke pipinya.

“Kalau Tambi mati, di mana akan dimakamkan?” Tambi menatap wajah Alfredo.

Alfredo terhenyak mendengar pertanyaan tambi. Dia merasa tubuhnya dilanda panas dingin. “Jangan bilang begitu. Aku belum ingin kehilangan Tambi. Tambi juga belum berhasil menemukan obat untuk Suar. Jangan pergi dulu. Ai!” Alfredo sesenggukan tiba-tiba.

Dia menyungkur. Kepalanya asup di pangkuan tambi. Dilahapnya ingatan masa kecil ketika tinggal di rumah kayu itu. Teman-teman sepermainannya yang suka mengajaknya mengambil kelapa lalu memakannya di pinggir sungai, bekas jahitan di pelipis ayahnya sebab terkena pasak saat demonstrasi mengutuki perusahaan perampas hutan alam, kebun warga yang seketika jadi lahan kosong, kayu yang habis ditebang, semua berkelebat di kepalanya saat itu. Tangisnya menjadi. Tambi mengelus mukanya dengan lembut.

“Alfredo, tiang di Balai yang tinggal empat lima derajat bersatu dengan tanah itu, berkat adanya dirimu. Hanya kamu sisa orang baik yang dapat membuat tiang itu masih berdiri, meskipun saban hari semakin miring.” Ucap tambi dengan suara parau. Dia menghela napas sejenak.

“Jika tiang itu ambruk ke tanah, berarti tak ada kebaikan di tempat ini. Semua adalah bentuk kerusakan. Bencana datang tak henti-hentinya.” Lanjut tambi dengan napas tak beraturan.

Alfredo mengangkat kepalanya dari pangkuan tambi. “Tambi, apa obat untuk Suar? Katakan! Katakan sebelum kau tinggalkan kami!” Tangan Alfredo gemetaran, menggoyang-goyangkan badan tambi. 

“Jangan gemetar. Aku baik-baik saja. Tua cuma perasaan.” Tambi merapal mantra dari salah satu puisi JokPin. Berkali-kali.

“Aku baik saja. Tua peras …,” suaranya berhenti.

Alfredo menatap jauh ke dalam mata tambi. Ada yang ditunggu keluar dari sana.

“I…kut Ma…hiang. Pindah.” Tambi mulai menyederhankaan kata-kata.
“Maksud Tambi, kita tinggalkan rumah dan tanah ini? Kalau kita pindah, Suar sembuh?”

Tambi menggeleng, “Dulu.” Tambi menjeda karena terengah.

Di dalam desah napasnya, Alfredo memahami betul apa yang dikatakan tambi. Seharusnya dahulu dia mengikuti perkataan Mahiang untuk pindah dari tempat itu. Ada bias penyesalan yang menyeruak di kepalanya. Lantas, dia merasakan ada getar aneh yang membuat kuduknya meremang. Dari jawaban tambi mengisyaratkan bahwa Suar tak akan sembuh. Alfredo yang selama ini percaya bahwa suatu hari tambi akan memberikan obat untuk Suar, ternyata keliru.

Selama ini, tambi justru mengikuti keputusan Alfredo, seperti tetap tinggal di rumah kayu itu dan tak mengambil uang ganti rugi untuk berpindah. Itu semua bukan keinginan tambi. Di alam bawah sadarnya, dia justru tak ingin di situ. Dia ingin lekas-lekas pergi. Sekarang Bumi adalah tempat berbahaya, kata tambi suatu hari. Perubahan iklim turut membunuh anak dan menantu perempuannya lewat polusi udara. Gangguan kesehatan paru-paru dan aliran darah sudah menjadi biasa, penyakit menular yang disebabkan banjir dan badai tropis sudah menjadi tradisi tahunan, kenaikan suhu yang mendorong penyebaran patogen berbahaya bagi manusia bukan lagi mitos. Kondisi yang terangkum dalam slogan dunia “krisis iklim” itu memperburuk kesehatan seluruh manusia di dunia. Kematian kedua anaknya membuat tambi berpikir bahwa rumah yang mereka tinggali sangat berbahaya. Dia juga tak ingin mati sia-sia hanya karena cerobong asap.

Tambi ingin mati dengan puisi, katanya suatu hari. Lantas sejak sepeninggalan kedua anaknya, dia selalu menulis puisi di sebuah buku yang dibelikan Alfredo. Di muka buku itu, dipasangnya foto suaminya yang katanya mirip JokPin, penyair kenamaan abad 21. Di bawah foto itu, dituliskan sebait puisi dari penyair kegemarannya itu.

Kuhitung berapa tanggal telah tanggal, berapa pula

tinggal tangkai. Sambil menggigil kalenderku berpesan,

“Jangan mau dipermainkan angka. Tua cuma pikiran”

Saat itu, buku puisi milik tambi diletakkan di meja samping kursi yang tambi duduki. Alfredo pun mengingat apa yang dikatakan Mahiang pagi tadi. Dia langsung membuka buku itu. Benar. Lembar pertama buku puisi tambi sudah sobek. Tambi yang begitu hati-hati dan lembut dalam segala hal tak mungkin dengan sengaja menyobek lembaran itu. Jika tambi tahu lembar pertamanya itu sobek, pasti dia akan meminta siapa pun untuk mengelemnya lagi. Namun, kali itu, tambi tak meminta siapa pun untuk memperbaiki lembaran itu. Artinya, tambi bahkan tak menyadari bahwa buku puisinya sudah sobek. Artinya lagi, tambi sudah kehilangan respon-respon tubuh secara normal. Arti lainnya, tambi mungkin tak lama lagi akan pergi, menyobekkan hati yang ditinggalkan. Gemetaran Alfredo menutup buku itu dan lekas tangkas meletakkannya ke meja itu lagi. Dia beralih memandang tambi. Sungguh, tak ada sempat.

“Tambiiiiii…….” Jerit Alfredo memecah keheningan senja yang berwarna kelabu.

Di zaman ini, senja tak seperti yang digambarkan Seno G.A., penulis cerpen abad 21 favorit tambi—penuh cahaya keemasan dengan langit kemerah-merahan. Sebab matahari yang warnanya merah itu kini terbiaskan oleh karbon-karbon dan polusi yang mengudara di angkasa. Dari Bumi, senja itu berwarna kelabu. Senja yang indah hanya ada di naskah kuno karangan Seno G.A.

Mahiang yang baru berjalan pulang dari mengantarkan sayur ke buruh perusahaan itu lari terbirit-birit mendengar jeritan Alfredo dari dalam rumah. Pikirannya sudah ke mana-mana. Suar yang telentang di atas kasur lantai yang tipis pun terkaget-kaget mendengar suara abanya.

“Ada apa? Kenapa Tambi?” Mahiang berlari mendekati dua orang yang ada di ruang tengah rumah kayu yang dengan masih setia memelihara rayap-rayap yang suka memakan kayu yang membuat rumah itu semakin hari terlihat semakin harus dimuseumkan sebab pada zaman ini tak ada lagi rumah jenis kayu seperti itu. Semua bangunan sudah didesain dengan semen bercahaya. Bangunan-bangunan dengan semen bercahaya akan nampak gemerlapan di malam hari sehingga tak perlu lagi penerangan dari lampu. Menurut kepala negara, penggunaan semen bercahaya akan mengurangi emisi karbon di dunia. Ide cemerlang itu harus dilakukan berkelanjutan, katanya.

Alfredo dan Mahiang kemudian saling tatap. Mereka tahu apa yang sedang terjadi. Tangis Mahiang pun pecah. Sekelebat pikir di kepalanya, apakah suaminya sudah berhasil mendapatkan obat penyembuh Suar sebelum tambi tiada? Tanpa banyak bicara, Alfredo segera berlalu. Dia mengambil cangkul. Dengan tangkas, dibuatnya makam di kebun mereka untuk menguburkan tambi. Dia membabat beberapa sayur yang tumbuh di atas bedeng. Bedeng itu diubah wujud menjadi makam tambi. Malam hari itu, Alfredo menggali lahad sendirian. Cuaca sore yang cerah seketika berubah. Hujan badai diselimuti angin kencang menyapu habis sayuran di kebun Alfredo. Awalnya dia tak peduli. Namun, tanah yang dicangkulnya sia-sia juga. Lubang galiannya justru dipenuhi oleh air hujan. Tanah lengser kembali ke dalam lubang. Akhirnya, suami istri itu pun memutuskan bahwa tambi akan menginap semalam di rumah duka. Mereka dengungkan doa-doa semalaman tanpa henti. Tangisan hilang timbul menyelimuti rumah lembap penuh rayap itu.

Tambi adalah saksi mata tiga zaman. Mulai dari hidup di negeri dua musim, hidup pada musim yang selalu berganti tak pernah tepat waktu, dan hidup pada musim yang tak pernah berganti sama sekali. Tambi merasakan itu semua. Dia selalu berkata bahwa dunia ini banyak sekali tipu daya dan yang membuatnya bertahan adalah sastra. Di dalam sastra, manusia akan temukan air bening mengalir laiknya di surga.

Hujan lebat semalam meninggalkan dingin dan lembap di rumah kayu Alfredo. Rayap-rayap tak tampak. Entah ke mana. Dilihatnya sayuran di kebun ambruk semua. Tak bersisa. Nyanyian burung, hanya legenda. Alfredo telah menyelesaikan lahad untuk tambi, juga telah meminta bantuan beberapa buruh perusahaan untuk membantu mengantarkan tambi ke hadirat alam. Saat Alfredo melihat tambi berbaring kaku di ruang tengah rumah itu, saat itulah dengan perlahan, di dalam kesengsaraan yang melampaui ruang dan waktu, dia mulai mendengar bisik bening. Pagi itu tambi diantar dengan penuh keikhlasan dari Alfredo, Mahiang, dan juga Suar. Alfredo menggendong Suar di punggung. Anak lelaki itu terlihat menitihkan air mata. Dalam tarikan napas senyap, cinta Suar kepada nenek buyutnya menyeru, begitu pula sebaliknya.

Tak ada musim yang jelas di hari-hari ini. Semua musim adalah murung. Hitam-kelabu. Setelah pemakaman itu, Alfredo sengaja berjalan melewati Balai Layung. Dia terperanjat dengan apa yang dilihatnya. Tiang yang menancap ratusan tahun di tanah, pagi itu sudah ambruk. Alfredo meremang. Dia lalu terdiam, membiarkan puisi-puisi tambi berbicara nantinya.

110 thoughts on “Cerpen #218; “Saksi Mata Tiga Zaman”

  1. Penyajian cerita pendek yang berbeda, bermakna, dan semoga memang berdampak pada pola pikir kita untuk sama-sama menjaga yang masih tersisa 😭😭😭🤍

    1. Seluruh isi mengandung makna yang sakral. Makna yang sebenarnya biasa namun tersajikan dengan menarik. Membuat bayang cerita yang mendalam, seakan turut serta memahami keadaan dalam kehidupan nyata. Biar sebuah cerita pendek, terlalu kacau hati ini bila dihadapkan pada hal yang sebenarnya, karena ini bisa benar terjadi adanya.

  2. cerita nya bagus, pemilihan kata” juga penuh dengan teka-teki yg harus dibaca sampai selesai. top sekali lah cerpen ini..

  3. setuju gak kalau cerpen yang baik itu adalah yang memiliki alur rumit dan memiliki kekayaan diksi? cerpen ini memang alurnya ribet, banyak mengingat kenangan. salut sama cerpen satu ini, bisa menyajikan diksi yang sudah lama tak dipakai lagi. oh iya, selain itu cerita alfredo yg termuat didalamnya sangat terlihat miris. perjuangannya tetap tinggal untuk menyelamatkan alam akan kandas. jarang ada orang seperti alfredo. kuat pendiriannya untuk menolak segala hal yang membuat alam rusak. serius cerpen ini bagus banget. jarang saya menemukan cerpen seperti ini. kaya dengan diksi dan isinya yang menyayat hati.

  4. Cerita yang menarik banyak sekali kritik lingkungan di dalamnya. Alurnya juga cukup dekat dengan kehidupan hari-hari ini. 🥰

  5. Ceritanya berasa nyata banget 😢
    Kalau ditempatku kebanyakan sawah & tegal dibeli terus dibangun perumahan 😪
    Sukses terus Nadda 🤗
    Ditunggu cerpen keren lainnya wkwkwkw

  6. Cerpennya sangat bagus, perbedaan watak tokoh dalam cerpen tersebut bermacam2 sehingga membuat cerita menarik untuk dibaca. Semoga penulis dapat membuat cerpen2 yang dapat menginspirasi banyak orang.

  7. MasyaAllah keren :”, dari awal membaca sudah dibuat kagum dengan gaya bahasa dan pemilhan kata-katanya yang MasyaAllah, alur cerita yang jelas dan masalah yg disinggung tidak biasa dan berani, suka banget… keren sih ini, banget! MasyaAllah

  8. Benar-benar cerpen yang menggugah dan mengingatkan kita akan realita yg terjadi di Kalimantan saat ini. Sungguh hal yang menyesakkan dada. Terima kasih untuk setiap coretan yang penuh makna ini.

  9. Wah cerpen ini sangat menarik, menambah kosa kata baru, dan sangat inovatif. Sukses selalu untuk penulis 👍

  10. Keseluruhan cerita bisa dibilang cukup unik terutama karakter Alfredo yang bisa dibilang di akhir cerita cukup menyesal dengan keputusannya. Pesan yang ingin disampaikan penulis cukup dengan mudah dipahami. Good Job.

  11. Merindinggg bacanyaaaa… Endingnya haru sekalii..Alfredo ngeyel banget ya. Alfredo itu sosok orang yang merasa benar tanpa pegangan atau ilmu yang kuat. Dia kekeuh mempertahankan sesuatu tapi kurang ilmu atas efek apa yang akan terjadi kedepannya. Akibatnya, tambi dan suar lah yang jadi korbannya. Kasian suar yang hidup tidak sempurna. Begitupun tambi yang selama ini hidup bersama alfredo dengan batin tidak ikhlas sebenarnya. Ak salut juga sama Wahiang yang nurut sekali sama suami. Dia contoh istri yang berbakti kpd suam. Waaahhh keren banget ceritanya. Banyak bagian yang nyebutin penyair2 dahulu dan itu menandakan kalo penulis ini jangkauan literasinya luas banget. Masyaallah kerenn sekalii.

  12. Situasi saat ini dapat tergambarkan dengan baik dimana rakyat kecil lah yang akhirnya terkena dampak terbesar dari kepentingan pihak korporasi. Pesan yang ingin disampaikan pun jelas tersirat & terbalut kisah yang dramatis.

  13. Cerita yang menarik dengan penggambaran kisah yang dapat mengajarkan kita pada nilai kehidupan serta lingkungan.

  14. Ceritanya sangat bagus, pembaca soelah-olah diajak untuk turut merasakan kesedihan dan kesengsaraan dalam cerita tersebut, sehingga ceritanya langsung mengena dalam perasaan si pembaca, bagus alur ceritanya. Mantap dan lanjutkan.

  15. Saya sangat menyukai cerpen ini. Topik yg dibahas dalam cerpen ini sangat dekat dg kehidupan saat ini. Krisis Iklim tengah menjadi perbincangan yg begitu hangat sekaligus penuh kekhawatiran. Orang-orang ramai membicarakan masa depan, apakah keindahan dunia ini masih bisa dinikmati oleh anak cucu atau berakhir sbg dongeng masa lalu yg indah. Orang-orang yang tdk paham dg polemik ini hrs diingatkan. Sastra dlm hal ini adalah cerpen merupakan karangan yg mudah dinikmati. Untuk memberi pemahaman pd orang2 awam bahwa dunia sedang tdk baik-baik saja, penulis membawa pembaca pada sebuah kisah yg begitu dekat. Bukan dg bahasa njlimet yg sulit dipahami. Alur yg disajikan jg indah, dg pemilihan diksi yg indah pula. Sehingga pembaca begitu menikmati isi dalam cerita ini. Analogi-analogi yg diberikan jg apik.

  16. Cerita yang disajikan sangat menyentuh hati dengan alur cerita yang menceritakan zaman dahulu masih dapat kita ambil hikmahnya. Seperti puisi-puisi Tambi yang dapat diwariskan ke anak-anak dan cucu-cucu dimasa yang akan datang. Terus semangat untuk selalu menjaga kelestarian alam. Kita tak akan pernah tahu kapan alam ini akan digoyangkan oleh Sang Ilahi. Lakukan yang terbaik untuk selalu menjaga kelestarian alam sebagai bekal dimasa-masa yang akan datang.

  17. Saya suka cerita pendek di atas, karna menurut saya mudah dipahami dan dicerna. Semoga lebih banyak lagi cerita pendek yang seperti ini. Untuk penulis, kami akan tetap baca cerita anda. Tetaplah berkarya, penulis Indonesia.

  18. Terima kasih atas karyanya. Merinding juga dibuatnya. Semoga karya ini bisa menjadi salah satu penyentil para pembaca untuk lebih memperhatikan usaha-usaha yang bisa kita lakukan dalam menjaga lingkungan hidup.

  19. Dilihat dari aspek mana pun cerpen ini seperti tanpa cela. Unsur kebahasaan dan gaya kepenulisan sangat mencerminkan kepiawaian pengarangnya. Penggunaan kosakata arkais menambah syahdu dan membawa emosi pembaca untuk larut ke dalam alur cerita. Selain itu pesan yang terkandung di dalamnya juga sangat dalam dan mengena. Sebuah pengingat untuk siapa saja agar lebih peduli dengan alam yang dikemas dengan apik tanpa terkesan menggurui karena bermedia cerita. Sastra adalah cerminan fakta, Alfredo dan keluarganya boleh jadi tidak nyata, tetapi perubahan iklim, kerusakan alam, serta bencana dan penyakit menular yang timbul sebab sakitnya bumi kita adalah benar adanya. Salut untuk penulisnya!

  20. Selamat istirahat, Tambi. Kita semua akan menyusulmu. Terlebih jika kapitalis itu terus meracuni alam, bisa lebih cepat kita dibuatnya sesak. Kesadaran merawat alam perlu digaungkan agar generasi sekarang dan selanjutnya bisa bernapas lebih tenang.

    Okey, juga jngan lupa merawat tubuh dengan menjaga asupan nutrisi ya. Terinsipirasi dari Alfredo, setelah ini saya mau ke warung sebelah beli makanan yang wahh, sayur, kuy! 🙂

  21. Pemilihan kata yang unik. Tokoh yang begitu hidup dengan tema yang kekinian. Bikin cerpen ini terasa begitu epik.

    1. Pertama baca judulnya, yang terbesit adalah “menarik” and yes dibuat penasaran sampai pengen cepet2 selesai bacanya. Keren sekali 👏 Semangat terus menelurkan cerita2 keren !!

  22. Tema yang disajikan sangat menarik karena sesuai dengan kondisi sekarang, pengemasan ceritanya bagus bisa membuat karakter lebih hidup.

  23. kerennn bangett kak, Kalo aja boleh egois pengen bangett baca ini didalam lembaran kertas tebal sampai akhirnya aku bisa menyaksikan Suar sehat dirumah yang layak, huhuhu ibunya sabar bangettt
    bener-bener jatuh cinta banget sama karakter para tokoh. Good luck kak

  24. Cerpennya bagus sekalii. Bacanya sambil membayangkan kondisi lingkungan dan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh keluarga Alfredo. Udara sekitar yang merupakan kebutuhan pokok dari makhluk hidup, malah perlahan mengakibatkan gangguan pernafasan 🙁

  25. Terkadang perubahan itu juga tidak bagus, perubahan iklim contohnya. Dicerita pendek ini, sangat digambarkan bagaimana perubahan iklim sangat menggangu kehidupan manusia. Cerita pendek yang sangat bagus sekali dari Nada, semoga sukses.

  26. Terkadang perubahan itu juga tidak bagus, perubahan iklim contohnya. Dicerita pendek ini, sangat digambarkan bagaimana perubahan iklim sangat menggangu kehidupan manusia. Cerita pendek yang sangat bagus sekali dari Nada, semoga sukses.

  27. “Jangan mau dipermainkan angka. Tua cuma pikiran.”

    Wah kata katanya bikin aku merinding sih. Quotes nya bagus.

  28. Terbawa ke suatu ruang, di mana Alfredo, Mahiang, Suar, dan Tambi berada. Rasanya penuh, resah, dan gelisah.

  29. konflik yang disajikan benar-benar dekat dan bisa membawa pembaca ke ruang sunyi. pembaca akan memikirkan bagaimana cara bertahan hidup jika menjadi anggota keluarga Alfredo. ia pemimpin keluarga yang lebih mempertahankan tanah daripada kesehatan diri dan keluarganya. keputusan itu diambil karena Alfredo meyakini kalau ibunya tidak ingin pergi dari tanah itu, dan ternyata justru ibunya tidak betah lagi setelah kehadiran proyek perusak alam. selain itu, pembaca jadi berpikir betapa pentingnya pengarsipan foto-foto binatang dan tumbuhan. terakhir, cerpen ini bikin pembaca duduk lebih lama.

  30. Awal baca cerpen, kepala terbayang kemana arah cerita sambil mencari benang merah atas judul cerpen yang dibuat penulis. Membuat pembaca penasaran hingga menikmati alurnya dan menemukan bagian akhirnya. Ternyata maknanya begitu dalam. Mungkin inilah gambaran masa depan. Benar saja jika sastrawan disebut sebagai “peramal masa depan”. Semoga cerpen ini memberi “penyucian” agar banyak orang yang sadar sebelum semua “kehilangan” itu terjadi.

  31. Pemilihan katanya sangat indah nan cantik di setiap kalimat yang menghubungkan paragraf demi paragraf. Pemilihan alur cerita relate banget dengan keresahan bumi saat ini. Semoga pesan yang ingin disampaikan bisa diterima si pembaca. Dan bisa jadi pengingat juga untuk kita.
    Terimakasih atas karya indahnya nad!

  32. Keluarga yang hangat bersama lingkungan yang telah dingin. Akankah bumi akan kembali menjadi tempat yang hangat seperti dahulu? Kisahmu sungguh membuka pandangan mereka yang haus akan ‘kekuasaan’. Teruslah berkaya ♥️

  33. Pas baca cerpen ini yang di pikiranku cuma “ini mah Nada banget!” Memadukan unsur lingkungan dan sastra. Seno G.A dan Jokpin juga turut jadi figuran hahaha. Semoga menang ya, Nad. Terus berkarya, jangan kayak aku yang mandeg.

  34. luar biasa banget, saya membacanya sambil membayangkan bagaimana kondisinya.
    saya sangat terbawa kedalam alur ceritanya.
    cerita yang menggambarkan dalam kondisi nyata yang dihadapi masyarakat adat khususnya yang semakin tergusur dari tanah nenek moyangnya sendiri.

    Semoga dari kisah ini kita dapat mengambil banyak pelajaran agar alam ini menjadi lebih baik lagi.

  35. “Dia selalu berkata bahwa dunia ini banyak sekali tipu daya dan yang membuatnya bertahan adalah sastra.”

    Saya suka Tambi. 🙂

  36. 🔥🔥🔥 keren! Literasiku minim bgt, udh jarang baca buku atau cerita, skrng jd nambah abis baca ceritanya 👍👏
    Semangat dan selamat berkarya nad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *