Cerpen #217 :”LIBURAN BENCANA”

 Hutan. Salah satu maha karya tuhan yang masih belum terjajah dengan tangan manusia, udara yang menyejukkan serta bebas dari polusi alam. Sering kali hutan menjadi sarana liburan atau sekedar menenangkan pikiran.

Seperti sekarang ini. Setelah mencapai puncak akhir semester yang disibukkan oleh ujian-ujian menegangkan, pihak sekolah akan mengadakan semacam refreshing untuk kelas dua belas, angkatan terakhir masa SMA.

“Anak-anak, untuk acara perpisahan, kita mengadakan kemah di hutan. Jadi mulai dari nanti, kalian bisa langsung persiapkan apa saja yang kita butuhkan,” jelas bu Nadin, kepala sekolah SMA.

“Ada yang ditanyakan?” sambungnya dengan menatap semua muridnya.

Salah satu murid laki-laki mengacungkan tangan, “Bu, kenapa harus di hutan? Kenapa nggak ngadain semacam konser aja Bu, untuk merayakan acara perpisahan?”

Kerumunan murid menjadi berisik seketika, ada yang menyetujuinya dan ada yang marah karena terlalu ramai.

“Tenang anak-anak! Kita, pihak sekolah sudah merapatkan hal ini.”

Semua murid langsung terdiam menunggu penjelasan selanjutnya.

“Pihak sekolah ingin kalian menikmati liburan bersama alam, bersama kekayaan Indonesia yang kita miliki sendiri, tanpa ada hingar bingar gaya hidup modern. Kalian pernah nggak ke hutan? Belum pernah kan. Di hutan juga berbahaya bila sendirian, jadi kita bisa beramai-ramai pergi dan menikmati hutan alam Indonesia.”

“Ada api unggun kan Bu?”

“Iya, tentu. Kita akan mempelajari banyak hal di sana, tentu pengalaman seperti ini sangat luar biasa. Jarang banget kan kita liburan ke hutan,” sambung bu Nadin penuh semangat.

Kring … kring … bel pulang berbunyi membuat para murid tak bisa diam.

“Sudah, tidak ada yang ditanyakan? Kalau begitu, kalian bersiap pulang. Jangan lupa! Minggu besok kita berkemah di hutan.”

“IYA BU,” jawab murid serempak.

Masing-masing murid segera merapikan bukunya, bersiap pulang setelah berdoa selesai.

“Gue jadi nggak sabar lihat pemandangan hutan, huuh,” seru Karla bersemangat seraya berjalan bertiga.

“Gue malah nggak sabar jalan tengah malem bersama Dendy, owhh,” ucap Myla bucin.

“Ish, lo bucin mulu. Lo jangan aneh-aneh Myl, ini acara sekolah,” saran Salsa memperingati, hanya dia yang tidak memiliki pasangan diantara dua sahabatnya.

“Hahaha … lo sih jomblo Sa,” ledek Myla yang dibalas dengusan oleh Salsa.

Mereka bertiga pulang dengan berjalan kaki, karena jarak rumah dan sekolah tak begitu jauh.

***

         Minggu, hari yang ditunggu-tunggu oleh murid angkatan kelas dua belas. Setelah diperiksa seluruh bawaan mereka oleh guru panitia, mereka langsung menuju bus untuk segera berangkat ke hutan Swasta, hutan yang masih asri dan indah. Dimulai pemberangkatan siang hari dan tiba diperkirakan sampai malam hari.

Beberapa jam berlalu, mereka semua tertidur setelah bernyanyi dan berkaraoke bersama. Suasana di bus menjadi tenang dan damai.

“Pasti seru yah di sana, nanti kita nyanyi-nyanyi dekat api unggun, main-main bareng, terus bakar-bakar. Huft, gue jadi nggak sabar,” ucap Karla heboh, setelah terbagun dari tidurnya dan tengah memakan camilan yang ia bawa.

“Kalau gue tambahin daftar list, jalan berdua sama pacar,” sahut Myla dengan bucinnya.

“Iya, itu jelas masuk lah.”

“Heran dah gue sama kalian berdua. Kalo gue yang paling penting nih, bisa bobo dengan tenang dan nyaman,” ucap Salsa dengan wajah songong.

“Ish, lo mah kasur aja dipikirin,” ledek Myla.

“Ya iyalah, ngapain mikirin pacar yang belum tentu jodoh masa depan,” sindir Salsa menjahili Myla.

“Masih mending, berarti gue punya calon suami masa depan. Daripada lo, mau jadi perawan tua?” balasnya dengan terkekeh, membuat Salsa kesal dan memasang earphone di telinganya.

“Lah? Jadi ngambek tukang sindirnya.”

Kebetulan, mereka memilih bangku bertiga sehingga bisa saling bercanda bersama. Kini, Myla berusaha mengambil earphone Salsa yang ada di telinganya, namun intruksi panitia mengurungkan niat jahilnya.

“Anak-anak, silahkan bersiap-siap. Sebentar lagi kita akan sampai, harap nanti turun dengan tenang dan hati-hati.”

Mereka saling membangunkan teman sebelahnya yang masih tidur atau saling menggebrak agar cepat bersiap-siap.

Tak sampai lima belas menit setelah intruksi, bus telah berhenti di tepi jalan dekat hutan Swasta. Karena hutannya rimbun dan pohonnya berdempetan, bus tidak dapat masuk ke tempat berkemah.

Lokasi kemah tidak begitu jauh dari tepi hutan, sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki. Mereka jalan beriringan, membawa tas masing-masing di pundak dan peralatan kemah dari pihak sekolah.

“Huft, kasihan sekali Dendy disuruh bawa yang berat,” gumam Myla lirih melihat kekasihnya membawa lima pasang tenda. Cowok lain sebenarnya, juga sama membawa peralatan sekolah lainnya, kecuali cewek hanya membawa bawaannya sendiri.

“Sana bantuin kalau kasihan,” balas Salsa.

“Mana boleh? Cewek ke barisan cowok, nanti gue dihukum ditinggal di hutan kan bahaya,” balasnya kesal karena Salsa tertawa lirih saat dirinya merasa susah.

Sebelum langit mulai gelap, mereka saling bahu membahu untuk memasang tenda, dibimbing dan juga dibantu oleh panitia. Masing-masing tenda hanya muat tiga orang ditambah dengan bawaan mereka. Salsa, Karla, dan Myla memilih satu tenda bersama. Akan lebih baik, jika kita bermalaman dengan orang yang saling kenal, bukan? Maksudnya saling gosip dulu mungkin, wkwkwk.

     Tepat pukul sebelas malam, semua dibangunkan untuk memulai kegiatan, yah acara kegiatannya pada tengah malam.

Panitia sudah menyiapkan beberapa pasang kamera di sekitar tenda, juga di hutan yang akan menjadi kegiatan acara nanti.

“BANGUN!!” teriakan panitia dengan suara lantangnya. Barisan cowok dibangunin dengan cepat, ada yang disiram karena sulit bangun. Sedangkan cewek ditarik selimutnya dan tangannya jika kesulitan.

Dengan mata sedikit terpejam, semuanya berjalan dan duduk melingkar di sekitar api unggun yang sudah panitia nyalakan.

“Buka mata! Kita tidak akan mentolerir hal apapun! Tugas pertama, kalian harus mencari.” Dhani, ketua panitia itu menghentikan ucapannya.

Huss … angin kencang menerpa membuat api unggun padam seketika.

“Kalian per kelompok cari tiga kayu dan sesuatu yang bisa dimakan, kelompok disesuaikan dengan penghuni satu tenda,” jelas Dhani tegas, tak menerima protes atau usulan.

Semua murid berpencar, Salsa, Karla, dan Myla pergi ke arah timur. Cukup mudah untuk menemukan kayu, karena ranting pohon di sekitar itu kering, jadi tak butuh waktu lama untuk membawa tiga kayu. Tinggal sesuatu yang bisa dimakan ….

“Kenapa nggak disebutin aja yah, apa makanan yang kita cari?”

“Iya, mana nggak tahu lagi, makanan yang bahaya atau enggak.”

“Udah ah jangan ribut mulu.”

Ketiganya masih mencari terus dengan berbekal senter, mencoba secepatnya menemukan agar tak berlama-lama dalam hutan. Tak lupa mereka meninggalkan jejak biar tak kehilangan arah pulang.

“E,eh coba lihat kecil-kecil merah itu,” ucap Karla menunjukkan pohon yang tak cukup jauh jaraknya, pada dua sahabatnya.

“Itu kayak … hm, sebentar gue lupa namanya,” pikir Salsa lupa.

“Buah Murbey, ‘kan?” tanya Myla lirih, takut salah.

“MURBEY!” teriak keduanya serempak.

“Sip, ayo kita ambil!”

“Beneran nggak apa-apa, bukannya merusak lingkungan atau kelestarian alam?” tanya Myla sekali lagi.

“Tumben lo Myl, ngomongin gini, biasanya bucin mulu sama Dendy,” singgung Salsa.

“Gue juga generasi anak muda kali, jadi dengerin ceramah panitia kemarin, gue khawatir lah kalau sampai terjadi kerusakan alam. Masa mau rusak alamnya, belum nikah sama Dendy,” sambungnya polos.

“Hhh … kembali lagi bucinnya. Kita mengambil buah ini bukan merusak kelestarian alam, tapi lebih pada bertahan hidup dengan memetik buah yang bisa dimakan. Gimana kalau populasi hutannya bagus tapi manusianya punah, kan nggak etis,” jelas Salsa seraya memetik buah murbey.

Sekitar satu jam, akhirnya ketiganya berhasil kembali ke tenda. Mereka mengambil posisi duduk sebelumnya, dan menunggu teman selanjutnya sampai tak tersisa.

Hasil yang diperoleh beragam, ada yang membawa murbey, alang-alang, bahkan hewan kecil yang bisa dimasak.

“Bagus, sekarang kita masak semuanya.” Panitia mengambil alih, diikuti murid cowok, memasang kayu untuk membuat api memasak, dan menyiapkan bumbu sederhana dengan alat yang sudah tersedia.

Dengan teknik cepat dan lihai, sajian makan malam sudah siap. Mata mereka benar-benar terbuka lebar melihat hasilnya, mereka makan malam bersama dengan satu api unggun di tengah.

“Okey, kita lanjutkan sekarang. Acara perpisahan.” Panitia mempersilahkan yang bertugas untuk tampil di tengah.

Tidak semua kelas dua belas, ini hanya acara kecil saja. Iyah drama, menampilkan drama singkat tentang tujuan dan impian sejak kecil.

“Saat aku kecil, berita di televisi selalu memaparkan berita pencuri sampai-sampai aku ingin menjadi pencuri karena selalu ada dan terkenal di layar televisi.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Aku nggak peduli awalnya, meski kerap diejek, dicela, bahkan dibully karena kata mama, aku tidak boleh menyerah. Baru saat aku besar, aku sadar, betapa bodohnya aku saat kecil.”

Semua yang menonton tertawa terbahak-bahak, kelucuan pengalaman masa kecil memang tentu sangat menggelikan.

Myla sampai berurai air mata karena kelamaannya tertawa, ia tak bisa membayangkan gimana respon orang tuanya saat bilang impiannya menjadi pencuri.

Karla dan Salsa, juga tak jauh beda dengan Myla. Drama itu bertemakan pendidikan, tapi bisa juga menyangkut humor. Tak menyangka dramanya mejadi titik minat penonton.

Huss … huss …

Angin bertiup kencang, bahkan lebih kencang dari biasanya. Api unggun padam, ujung tenda ikut tergoyang bersama angin, dan jauh lebih menusuk kulit dengan hawa dingin malam.

Tak ada kekhawatiran yang kuat untuk sekedar angin, namun  semua ternyata berujung petaka. Gesekan beberapa ranting yang kering, akibat angin yang kencang dari gejala global warming menimbulkan percik-percikan api yang sedikit menjadi besar karena merambat dari ranting pohon yang kering menuju yang lain.

Dalam sekejap, api itu seolah melahap hutan. Sudah hampir separuh hutan, namun tidak ada intruksi panitia untuk menyelamatkan diri.

“Kabur Pak!”

Keadaan yang tegang dan secara mendadak, seolah menghanguskan kesadarannya. Salsa tak habis pikir, apa yang dipikirkan ketua panitia itu, ia segera memberanikan diri, menarik tubuhnya dan menyuruhnya minum.

Selepas itu, seolah dia menyadari apa yang terjadi. “Kita harus segera mengosongkan tempat ini.”

Itulah, kalimat yang ditunggu-tunggu, beruntung saja angin dan api belum merambat ke tempat berkemah, arah anginnya terlihat berlawanan sehingga ada waktu sebentar untuk mengemas barang-barang.

Satu persatu panitia membantu keluar, berakhir dengan kepulan debu dan asap api yang terus menjulang. Tak sedikit yang terbatuk dan tersengal-sengal napasnya. Api itu malah semakin membesar, hampir seluruh hutan dilahapnya. Terakhir, hanya sisa satu orang terakhir.

Huss ….

“Tidak!!! Tolongin dia!” ucap Salsa melihat salah satu sahabatnya, terjebak dengan ranting terbakar yang berjatuhan.

Semua kalang kabut, warga desa setempat juga ikut membantu namun, kobaran api semakin merajalela.

“Myla … lo jangan pingsan! Tahan sebentar!” seru Salsa dan Karla.

Dendy, kekasihnya yang mendengar jeritan Salsa, berlari menerobos barisan cewek. Tak peduli jika nanti harus dihukum karena melanggar aturan sekolah, yang penting Myla harus selamat.

Panitia sudah menghubungi pemadam kebakaran, namun karena ini ada berada di hutan, tentu saja tidak semudah jalan raya.

“Aaakkh! Gue nggak kuat,” ucap Myla melemah, terlalu banyak menghirup asap membuatnya sulit bernapas, kepalanya juga sudah pusing, dan tubuhnya mulai merasakan panas yang menjalar, ia seolah terbakar.

Sedetik lagi, tubuh Myla limbung ke tanah membuat suara pekikan menggema di tepi hutan, namun ada yang menangkapnya, Dendy.

Dendy berhasil menyelamatkan Myla dengan ikut merasakan panas di tubuhnya. Kini, ia harus membawa Myla dalam pelukannya untuk keluar. Kalau tidak! berarti keduanya bisa meninggal dalam hitungan beberapa menit saja.

Sirine berbunyi ….

Pemadam kebakaran datang tepat waktu, mereka bergerak cepat, berpencar menjadi dua bagian, ada yang menenangkan korban yang selamat dan satunya, menangani korban yang terjebak.

Sekitar lima belas menit, Dendy berhasil membawa Myla keluar dengan bantuan pemadam kebakaran. Ia menidurkan Myla dengan posisi miring, Salsa dan Karla segera mendekat untuk mengecek aluran pernapasannnya.

Beruntung saja, warga setempat telah memanggil dokter desa di puskesmas terdekat.

***

    Acara perpisahan benar-benar sangat mengharukan, karena kejadian kemarin membuat kata perpisahan itu terasa melekat dan dekat dengan kematian.

“Anak-anak, kalian adalah generasi masa depan kami. Kebakaran hutan yang terjadi kemarin, disebabkan adanya pemanasan global. Peningkatan konsentrasi gas karbondioksida dan gas lainnya, seperti asap kendaraan, asap kebakaran, itu membuat atmosfer bumi menahan lebih banyak panas matahari.”

“Karena itulah kehidupan di bumi semakin panas dan hutan-hutan menjadi kering, gesekan yang terjadi membuat percikan air dan mudah menjalar ke pohon lainnya. Jadi, kalian sebagai penerus harus ikut serta dalam menyeimbangkan semesta, yakni dengan mengurangi berbagai polusi dan rajin menanam pohon atau melakukan reboisasi, paham anak-anak?” jelas Nadin, kepala sekolah selaku penanggung jawab.

Semuanya mengangguk paham, contoh nyata kemarin sudah membuat mereka lebih sadar, kalau dunia ini sudah semakin tua dan perlu dijaga. Sebagai generasi penerus, mereka lah yang akan menentukan bagaimana keseimbangan alam untuk menuju lebih baik.

Salsa dan Karla hanya bisa menahan air mata, karena sahabatnya, Myla masih terbaring lemah di rumah sakit selepas kejadian kemarin.

Pihak sekolah pun tak menghukum Dendy karena itu darurat bukan asal melanggar aturan sekolah. Selain kata lulus dalam sekolah, mereka satu angkatan mendapat kesan yang sungguh mendalam dan meyakini dengan penuh penekatan, bahwa mereka akan menjadi generasi masa depan yang menyehatkan dunia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *