Cerpen #216; “Bumi dan Penderitaan Terran Masa Depan”

Di suatu masa, ketika bumi sedang kritis. Ketika bumi tak lagi disapa dengan hangat oleh sang mentari. Bumi dengan hamparan tanahnya yang tandus. Dengan air lautnya yang kian meluap-luap dan tingkat keasamannya yang tinggi. Yang bahkan para ikan pun tak ingin hidup di dalamnya. Begitu juga dengan sang rembulan, yang terasa semakin jauh dari pandangan bumi.

Aku memerhatikan layar monitor di hadapanku. Layar yang menampakkan rekaman dari berbagai penampakan di muka bumi. Memantau perkembangan masalah yang menyelimuti bumi, kemudian melaporkannya jika masalah itu naik ke level darurat.

Alat komunikasi di telingaku berbunyi. Suara alat itu sedikit mengejutkanku walaupun sudah kugunakan selama bertahun-tahun. Aku pun menekan tombol di sana, menjawab panggilan dari Profesor Alan.

“Leo, apakah kau masih melakukan pemantauan di sana? Ini darurat, aku memerlukan bantuanmu di sini.”

“Iya benar, Profesor. Tapi jika itu hal yang darurat, aku bisa meminta Azura untuk menggantikanku di sini,” jawabku. Ucapanku barusan membuat seorang gadis di sampingku menoleh. Menatap ke arahku dengan wajah datar dan sedikit garang. Namun aku tidak peduli.

Setelah menutup panggilan dari Profesor, aku pun bergegas mengganti pakaian. Membawa tabung oksigen di punggung dan sebuah tas yang kuikatkan di pinggang. “Aku pergi dulu, Azura. Tolong bantu pekerjaanku sebentar, aku pasti akan kembali. Aku tak akan lama”.

“Siap, bos!” ucapnya lantang dengan senyuman yang terlihat benar-benar terpaksa.

Aku menutup pintu setelah melambaikan tanganku padanya. Kemudian berjalan di koridor menuju rel kapsul bawah tanah. Sesampainya di stasiun aku langsung memasang selang oksigen, lalu masuk ke dalam kapsul.

Kapsul ini berwarna putih dan tak tembus pandang. Bagian dalamnya hanya berisi kursi penumpang tanpa kemudi. Hal ini karena kapsul dijalankan secara otomatis dengan kecerdasan buatan dan hanya mengarah pada satu jalur. Tak lama kemudian kapsul melambat dan berhenti di tempat tujuan. Dan secara otomatis pula kendaraan itu membuka pintunya.

“LEO! DI MANA KAU?! CEP–”

Aku memegang telinga kiriku, menekan tombol, dan melepas alat komunikasi yang berada di sana. Aku tak ingin gendang telingaku rusak sebelah karena teriakan dari Bos Besar. Dari teriakannya yang bercampur kecemasan, aku tahu bahwa masalah kali ini lebih buruk dari masalah-masalah sebelumnya.

Aku pun mempercepat langkahku.

Sesampainya di ruangan penelitian, aku tak disambut sama sekali. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Rasa lelah terpapar jelas di raut wajah mereka. Rambut putih pun sudah mulai terlihat di usia mereka yang baru menginjak 20 tahun. Seusia denganku.

Aku melanjutkan langkahku menuju ruangan Profesor Alan. Di sana sudah ada Profesor dan Bos Besar yang menungguku sambil memerhatikan layar monitor. “Aku sudah sampai, Profesor,” ucapku menghampiri kedua pria paruh baya itu.

Kulihat Profesor Alan memegang bahu Bos Besar, menghentikan niat beliau untuk memarahiku. Bos Besar mencoba bersabar, karena saat ini sedang dalam masalah darurat. Mungkin beliau marah karena aku hanya menyapa Profesor. Atau karena aku datang terlalu lama. Atau mungkin juga keduanya.

“Lihat ini, Leo,” ucap Profesor sambil menunjukkan sebuah rekaman yang terpampang di layar. “Mungkin ini tak terlihat dari monitormu karena keterbatasan pengetahuan pada Altatele–alat pemantau seperti drone namun bekerja dengan artificial intelligence (AI), sehingga dia melaporkan ke pusat mengenai hal ini. Setelah kami analisis laporannya, ternyata alat itu mendeteksi aktivitas magma di pegunungan yang hampir keluar melalui retakan kulit bumi,” lanjutnya menjelaskan.

Aku sedikit terkejut mendengarnya. “Profesor, apakah kau ada laporan mengenai gempa bumi yang terjadi di daerah retakan itu?”

Profesor mengangguk, membuka sebuah dokumen di layar lebar yang berada di hadapannya. “Dilaporkan terjadi gempa bumi sekitar lima menit sekali. Aktivitas gempa tersebut masih berlangsung hingga kini,” ucapnya membaca laporan tersebut.

“Ini gawat. Jika gempa terus terjadi, retakan di sana akan semakin terbuka dan cairan api itu cepat atau lambat akan keluar tanpa bisa kita prediksi. Bahkan kita pun tidak tahu kapan gunung-gunung itu akan meletus. Jika hal itu terjadi, kita akan kesulitan untuk membekukan cairan api itu dengan suhu bumi yang semakin panas ini,” terang Bos Besar dengan raut wajah yang serius.

Lima jam kami mencari jalan keluar dari masalah ini, namun tidak dapat kami temukan solusinya.

Sang surya mulai meredup, angin membawa hawa dingin yang begitu menusuk kulit. Jika siang hari suhu bumi sekitar 45°C, maka malam hari menjadi -5° C. Tepat tengah malam nanti hujan es disertai badai salju akan turun, kemudian mencair kembali di pagi harinya. Pergantian iklim yang sangat cepat, bukan?

Karena perintah dari Bos Besar, aku pun terpaksa menginap di tempat penelitian itu. Tidak untuk istirahat, namun melanjutkan mencari jalan keluar untuk masalah ini. Aku kembali memasang alat komunikasiku di telinga, kemudian menghubungi Azura.

“Azura, ma–“

“Kak! Ke-ke-nap-kau-dasar! Ak-ini-penti. A-kau-deng–”

“Azura! Apa yang terjadi? Suaramu putus-putus!”

Aku menoleh ke arah pintu masuk. Bos Besar dan Profesor kembali dari ruang penelitian, membuka pintu dan berjalan ke mari dengan tergesa-gesa. Aku masih mendengar suara Azura yang tidak terdengar dengan jelas, namun aku tahu maksudnya kalau ini adalah keadaan darurat bahkan sinyal komunikasi menjadi bermasalah.

“Profesor, sepertinya sinyal–“

“Saya tahu, Leo!” ucap Profesor memotong ucapanku dengan sedikit membentak. Sepertinya suasana hatinya sedang buruk. “Shin, tolong arahkan semua warga menuju ke kapsul. Pindahkan semuanya ke mari. Ambil persediaan oksigen di tempat penyimpanan dan pastikan semua orang mendapatkannya.”

“Baik, Profesor Alan. Eh, maaf Profesor. Lapor, kapsul tidak bisa beroperasi karena gempa tadi membuat rel bawah tanah terhalang batu-batu yang jatuh,” ucap Profesor Lio dari sambungan komunikasi.

Aku melihat Profesor mengentakkan kepalan tangannya ke meja setelah mematikan sambungan itu. “Profesor, apakah di sana terjadi gempa? Apakah semua orang selamat?”

“Mereka semua selamat. Namun ada kemungkinan gempa vulkanik tadi membuka retakan dan membuat jalur bagi cairan api dari gunung menuju ke sana,” terang Bos Besar.

“Apakah kita tak punya cara lain selain memindahkan mereka ke mari?”

“Bangunan penduduk lain terletak sangat jauh dari sini. Bahkan jika mereka berniat untuk ke sana, mereka harus melewati ruang penelitian ini dulu. Karena kita hanya memiliki satu jalur transportasi, Leo.”

“Bagaimana jika mereka berjalan menuju ke sini? Kita siapkan tabung oksigen lebih banyak dan persediaan lampu untuk menerangi jalan,” ujarku memberi saran.

Kedua pria paruh baya itu menggeleng. “Tidak bisa, Leo. Ketika mereka memasuki jalur rel kereta bawah tanah, suhu panas akan menyelimuti tubuh mereka. Seketika tubuh akan menjadi lemas, belum lagi mereka juga harus melewati batu-batu yang jatuh sewaktu gempa. Itu akan menguras tenaga, dan tubuh membutuhkan oksigen lebih banyak. Dua atau tiga tabung oksigen mungkin tidak akan cukup untuk perjalanan panjang yang mereka lalui,” jelas Profesor Alan.

“Benar. Jika saja kita melakukannya, hanya 10% dari mereka yang mungkin bisa selamat sampai tujuan. Dengan banyaknya orang yang sakit, terpapar virus, lumpuh, bahkan orang yang mentalnya terganggu karena penderitaan tak berkesudahan ini, tidak mungkin mereka bisa melakukan perjalanan itu, Leo”.

Benar saja, aku tak memikirkannya sampai ke sana.

Dan pada akhirnya, kami lagi-lagi kehabisan ide untuk menyelesaikan masalah ini. Aku kembali mencoba menghubungi Azura. Berkali-kali tidak tersambung, aku pun khawatir akan keadaannya dan semua penduduk di sana. Jika saja kami memiliki peralatan yang lebih canggih, mungkin kami bisa mendeteksi datangnya gempa dan memindahkan seluruh penduduk ke mari.

Sambungan komunikasi kami pun akhirnya terhubung. “AZURA! Apakah kau baik-baik saja? Bagaimana keadaan di sana sekarang?”

“Kami tidak apa-apa. Cairan panas itu berhenti sekitar sepuluh kilometer dari sini. Syukurlah cairan itu keluar malam hari, jadi hujan es dan badai salju bisa membekukannya. Mungkin besok pagi cairan itu sudah bercampur dengan abu vulkanik,” terang Azura. Aku menghela napas pelan, menyingkirkan rasa cemasku.

“Namun kau harus tetap waspada, Zura. Gempa susulan bisa terjadi kapan saja,” ucap Bos Besar memperingati.

Kami bercakap-cakap selama beberapa menit. Khawatir jika ini adalah kali terakhir kami bisa berkomunikasi. “Azura, maafkan aku karena tidak bisa kembali untuk saat ini. Jika masalah ini terselesaikan aku pasti langsung pulang”.

“Selalu saja begitu.”

***

Perbaikan jalur kapsul sukses terselesaikan. Aku pun kembali ke tempat asalku. Menemui Azura yang menyambutku dengan pidato nasihat selama setengah jam. Aku hanya mendengarkannya tanpa protes. Ketika itu juga rasa khawatirku hilang, bersyukur karena dia baik-baik saja.

Aku kembali menjalankan tugasku, memantau perkembangan masalah yang menyelimuti bumi. Untuk masalah abu vulkanik kemarin, kami memutuskan untuk mengambil dan membawanya ke atap gedung. Menjadikan tanah itu penyubur tanaman di sana. Dan hasilnya pun tak begitu mengecewakan.

Sebagian abu vulkanik kami gunakan untuk pohon di ruang penyimpanan oksigen. Menyuburkan tanah di sana, juga menanam benih-benih pohon. Setelah semua usaha itu, kami hanya bisa berharap pohon-pohon di sana bisa kembali hidup dengan subur dan membangkitkan buminya kembali.

Inilah yang terjadi jika kita tinggal di lereng gunung, sewaktu-waktu pasti akan meletus. Lalu di mana lagi kami harus tinggal? Di pesisir pantai, di tenggelamkan lautan. Di daratan rendah juga kehabisan persediaan air tanah. Dan saat ini, daratan rendah pun sudah ditenggelamkan oleh lautan. Tidak hanya karena volume air laut yang naik, tapi juga menurunnya daratan karena air tanah yang semakin terkuras.

Rasanya, bumi tak lagi sudi ditempati oleh anak cucu perusak tanah kelahirannya sendiri.

Setelah menyelesaikan pekerjaan, aku pun pergi mandi. Karena langkanya air tanah saat ini, kami pun hanya diizinkan mandi sebulan sekali, bahkan itu pun menggunakan air yang dijadikan gelembung-gelembung udara.

Aku kembali ke ruang kerjaku, namun mataku tak menangkap sosok Azura di sana. Suara pintu yang terbuka sedikit mengejutkanku. “Azura! Kau mengagetkanku. Dari mana kamu barusan?”

Dia tak menjawab. Langsung duduk di kursi kerjaku tanpa izin seolah yang punya sedang tidak ada di sana. Mengotak-atik komputerku dan mengarahkan Altatele untuk terbang lebih tinggi. Aku mendekat, memperhatikan monitor di hadapan kami. Sontak mataku melebar, tak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Aku benar-benar terkejut.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” ujarnya lirih.

“Apakah kau bodoh? Di bumi yang sedang kritis ini, semua bencana yang mustahil bisa saja terjadi”.

“Kau yang bodoh! Kita tidak pernah bersekolah karena tak ada yang bisa mengajari kita. Semua orang sibuk, bahkan kita harus belajar sendiri. Berani-beraninya kau bilang aku–”

Aku menutup mulutnya, menghentikan ocehan dari argumen yang berupa fakta itu. Tangan kiriku menekan alat komunikasi di telingaku untuk menghubungi Profesor. Memberitahukannya bahwa saat ini 30% air laut mengering seketika. Dan itu terjadi tepat setelah gempa berkuatan 9 Skala Richter terjadi. Aku juga melaporkan potensi adanya gempa susulan dan tsunami.

“Ini bahaya! Kita harus segera mengungsi ke bangunan yang lebih tinggi!” ujar Profesor Alan dengan volume suara yang agak tinggi dari biasanya.

Sirene darurat pun berbunyi. Menandakan bencana akan datang. Kami semua di arahkan menuju kapsul, diberitahukan untuk tetap tenang dan beratur. Berselang waktu setengah jam, 70% penduduk sukses dipindahkan ke bangunan di lereng atas.

Namun 10% dari penduduk di sini memilih untuk berhenti ruang penelitian, setelah para Profesor memberitahukan bahwa gunung tempat kami singgah akan kembali meletus. Kali ini letusannya akan lebih parah dari pada hari lalu, dan kemungkinan besar bangunan di tingkat atas kami akan terkena cairan panas yang dikeluarkan gunung itu.

Seperti tiada lagi harapan untuk hidup, pilihan kematian yang akan mengambil nyawa kami hanya ada dua. Mati tersapu ombak, atau mati terkena lahar panas.

Azura memegang tanganku dengan erat, menghentikan langkahku menaiki kapsul. Aku menoleh ke arahnya, melihat dirinya tertunduk dengan air mata yang mengalir. “Ra? Kenapa?”

“Ikut aku!”

Ia menarik tanganku kembali masuk ke bangunan itu. Tadinya kukira dia ingin kembali ke ruang kerja kami, ternyata dugaanku salah. Dia menuju ke ruang penyimpanan tabung oksigen. Melewati koridor, kami pun sampai di ruangan itu.

“Kenapa ke sini?” tanyaku.

Azura melepas cekalan tangannya. Melangkah maju menuju dua pohon besar yang ditanam dengan mesin super canggih agar tetap hidup. “Ini adalah mesin yang dibuat oleh ayah dan Profesor Lio. Mereka menemukan pohon ini ketika keduanya seusia kita. Tadinya hanya ada satu pohon, tapi kemudian Profesor Lio mencoba menanam biji pohon itu di sampingnya. Dan kini ada dua pohon di sana. Bersama-sama berbagi tempat untuk hidup. Bersama-sama berjuang untuk hidup,” ucap Azura dengan mata yang masih setia menatap kedua pohon itu.

Dari kalimat itu aku sedikit kagum dengan Bos Besar, rupanya dia adalah seseorang yang mencintai lingkungan. Mungkin kecintaannya pada lingkungan lebih besar dari pada ke anaknya sendiri. Jika waktu bisa berhenti sebentar saja, aku ingin mengucapkan terima kasihku padanya. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku untuk berbincang layaknya ayah dan anak dengannya. Bahkan aku pun rela gendang telingaku rusak hanya untuk mendengarkan omelannya.

Tak lama kemudian gempa dengan kekuatan besar pun terjadi. Menggetarkan ruangan tempat kami berdiri. Aku tak punya waktu untuk meratapi semuanya. Melangkah maju, aku langsung menyeret tangan Azura untuk mundur agar tidak tertimpa tabung-tabung oksigen yang berjatuhan. Aku menarik tangannya, berlari menuju pintu keluar.

“Tidak! Tunggu! Jangan dibuka!” teriaknya, menghentikanku untuk membuka pintu itu.

Suara gemuruh air yang bergelombang datang dengan cepat. Suaranya mendominasi di sela-sela teriakan orang-orang di stasiun kapsul bawah tanah. Aku melangkah mundur, menjauhi pintu setelah sukses menguncinya dengan keamanan tinggi. Menguncinya rapat-rapat yang bahkan karbon dioksida sekali pun tidak dapat keluar dari ruangan ini. Kami mengambil tabung oksigen dan memakainya di punggung. Setidaknya jika pintu itu rusak, kami dapat mengulur waktu sebelum malaikat maut menjemput kami.

Dan benar saja, takdir baik sedang tak memihak pada kami. Pintu itu rusak seketika setelah air bah yang kencang menerjangnya. Tak butuh waktu lama kami pun tenggelam. Aku terus menggenggam tangan Azura, berenang menuju dahan pohon. Salah satu tangan kami berpegangan pada dahan pohon, berusaha untuk tidak terseret arus yang deras dan terantuk ke dinding.

Beberapa menit telah berlalu, namun air laut ini sepertinya masih tidak ingin menyurut. Oksigen dalam tabung kian menipis, begitu pun dengan sisa tenaga kami. Aku memandang wajah Azura yang sedang menangis di dalam air. Ini adalah hari terburuk dalam hidupku. Merasa bahwa diri ini adalah kakak yang paling tidak berguna sejagat raya.

Kakak yang tidak bisa melihat air mata adiknya, kakak yang tidak bisa menghentikan tangisan tanpa suara itu. Kakak yang tidak bisa menyelamatkannya, bahkan ketika bencana itu tepat di depan matanya.

Jemariku yang mengeriput karena air masih menggenggam tangan Azura. Rasa sesak mulai menyelimuti dada, detak jantungku berdetak dengan amat cepat. Rasa pusing pun ikut menyerang kepalaku. Seakan menyuruhku untuk menutup kedua mata yang mulai terasa sakit terkena air garam ini. Sedetik kemudian, hampir seluruh tubuhku tak bisa digerakkan.

Aku pun menutup mata, membiarkan air itu menghanyutkan tubuh ini.

Pikirku mulai berkelana. Andai aku bisa bereinkarnasi, aku ingin kembali hidup di bumi yang sehat. Bumi tanpa penghuni yang merusak tanah kelahirannya. Penghuni yang melindungi hak asasi lingkungannya. Penghuni yang bersama-sama menjaga kelestarian buminya.

Penghuni yang melarang pembuangan sampah ke laut, menebang dan membakar seluruh pohon, membangun pabrik-pabrik yang mencemari lingkungan, juga penggunaan mesin pendingin yang merusak lapisan ozon itu.

Kami penduduk masa depan menginginkan bumi yang sehat. Jagalah bumi ini, sembuhkanlah dia selagi masih sempat. Karena bumi, bukanlah warisan dari nenek moyang, tapi titipan dari generasi terran yang akan datang.

Napasku pun terhenti. Bersamaan dengan detak jantung yang tak bisa lagi kurasakan detakannya. 

4 thoughts on “Cerpen #216; “Bumi dan Penderitaan Terran Masa Depan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *