Cerpen #215; “Jaga Tanah dengan Amanah”

Hampir empat bulan terakhir di desa kami belum juga turun hujan, tanah begitu kering dan berdebu. Setiap pagi kami harus pergi ke hulu sungai untuk mencari sumber air. Tetapi di bagian hulu sudah terlihat bangkai-bangkai ikan yang dikerumuni lalat. Beberapa warga mencoba untuk menggali sumur dengan harapan memancarkan sumber mata air. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena sumur ini untuk umum dua sampai tiga hari air sudah mengering. Jalan alternatif mendapatkan air adalah dengan menyeberang ke desa sebelah yang dekat dengan bukit. Jarak yang jauh mengakibatkan air yang kami bawa hanya untuk kebutuhan rumah tangga seperti minum dan MCK. Kami biasanya memanfaatkan air bekas mandi untuk mencuci pakaian, kemudian air cuci pakaian tersebut digunakan untuk menyiram tanaman. Sehingga tanaman tidak tumbuh dengan sempurna. Hewan ternak kami banyak yang kurus dan bahkan ada yang mati karena kekurangan pakan akibat kekeringan. Hewan ternak hanya kami beri makan dari daun pepohonan yang masih hidup.

Tanaman jagung kami telah mengering dan dapat dipastikan gagal panen. Tanah kering dan pecah-pecah, nampak sudah tidak ada lagi kesuburan. Dulunya pertanian kami menggunakan pupuk kimia sintesis dan pestisida yang berlebihan. Warga belum mengerti akan bahaya penggunaan pupuk kimia sintesis dan pestisida. Akibatnya setelah musim kemarau tanah tidak dapat mengikat air. Meskipun hasil begitu cepat tapi berdampak pada lingkungan dan juga kesehatan pangan.

Akibat lahan yang sudah tidak produktif banyak warga yang meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan ke kota dengan harapan mendapat penghidupan yang lebih baik. Lahan-lahan banyak yang dijual belikan kepada para pemilik modal. Untuk mendapatkan uang warga juga rela menjual pohon-pohon di sekitar kebun untuk ditebang. Banyak penentangan dari beberapa warga atas penebangan pohon tersebut tetapi warga tidak berdaya karena mengakibatkan permusuhan antar sesama. Sementara kami hanya mengandalkan suplai makanan dari hasil panen tahun lalu yang tinggal sedikit.

Pemerintah juga sudah berusaha membantu warga dengan adanya suplai bantuan air bersih setiap minggunya. Tetapi tidak semua warga mendapatkannya karena akses ke desa kami begitu sulit. Begitu mobil tangki datang warga langsung menggeruduk hingga berdesakan. Jika telat jerigen-jerigen air tidak akan terisi. Bantuan pangan berupa beras juga sudah diberikan hanya saja cukup untuk seminggu makan. Sehingga kami harus menghemat makan hanya sekali dalam sehari. Saat ini memang masa-masa sulit untuk desa kami.

Harapan dan doa senantiasa kami panjatkan kepada Tuhan yang maha esa. Kami percaya keadaan ini bukanlah azab untuk umat manusia tetapi merupakan peringatan agar manusia senantiasa bersyukur dengan memperlakukan alam dengan bijaksana. Pak ustadz di desa kami menyuruh warga desa untuk melaksanakan sholat meminta hujan. Karena hanya yang maha kuasa yang dapat menurunkan hujan ke desa kami. Setelah lima hari melaksanakan sholat meminta hujan, Tuhan mengabulkan doa-doa kami. Hujan turun membasahi tanah-tanah yang kering dan berdebu. Seluruh warga begitu senang, hingga mereka keluar rumah untuk menikmati turunnya air hujan. Warga menyiapkan ember-ember untuk menampung air hujan. Suasana malam hari yang diguyur hujan gerimis, suara katak saling bersahutan silih berganti. Para petani sudah menyiapkan rencana untuk menanam benih-benih padi mereka di esok hari. Pagi hari yang begitu sejuk, para warga mulai beraktifitas. Para petani membajak sawah dan ladang-ladang mereka. Anak-anak pergi ke sekolah dengan menenteng sepatu mereka karena jalan begitu basah dan becek. Tunas-tunas rumput yang kemarin kering kini tumbuh menghijau.

Setelah itu hujan hampir setiap hari turun. Dampak yang ditumbulkan adalah terjadi tanah longsor di sekitar desa kami akibat pohon – pohon yang sudah ditebang. Warga berkumpul di balai desa untuk mendiskusikan hal tersebut, banyak terjadi perselisihan antara warga yang saling menyalahkan karena sebelumnya sudah diperingatkan untuk tidak menjual dan menebangi pohon. Kepala adat desa melerai pertikaian dan segera mencari solusi untuk hal tersebut dan warga desa sekarang harus saling bekerja sama untuk membantu warga yang terkena longsor.

Sementara itu tanaman para petani sudah memasuki musim pemupukan, petani yang sudah terbiasa menggunakan pupuk sintesis kesulitan dalam mendapatkannya, jikapun ada harganya sangat mahal. Para petani harus hutang terlebih dahulu untuk mendapatkan pupuk dan dibayar ketika panen. Mungkin karena kurang edukasi dari dinas pertanian setempat petani menganggap semakin banyak pupuk yang diberi ke tanaman maka tanaman semakin subur. Padahal hal tersebut dapat merusak tanah untuk ke depannya. Penggunaan pestisida juga begitu banyak dilakukan oleh petani di desa. Hal ini dapat mengganggu ekosistem alam yang ada.

Beberapa hari yang lalu desa kami kedatangan tamu dari mahasiswa yang mengadakan kuliah kerja nyata dari sebuah universitas pertanian di Indonesia. Bersama dengan kelompok tani setempat mengadakan sebuah sosialisasi mengenai pertanian ramah lingkungan. Materi sosialisasi tersebut adalah mengenai dampak penggunaan pupuk kimia sintesis dan pestisida terhadap perubahan iklim dan lingkungan. Para petani begitu antusias dengan kegiatan tersebut bahkan para pemuda desa juga hadir. Salah satu materi yang disampaikan yaitu pupuk kimia sintesis merupakan sumber emisi gas N2O yang merupakan salah satu faktor penyebab efek rumah kaca yang mengakibatkan perubahan cuaca yang tidak menentu. Lepasnya gas Nitrogen ke udara akibat pengaplikasian pupuk kimia sintetis tidak dilakukan secara benar. Para petani biasanya menggunakan pupuk kimia sintetis dengan cara disebar, hal ini justru memungkinkan sebagian unsur kimia tersapu air, mengalami penguapan, dan bereaksi dengan oksigen sehingga menghasilkan nitrat yang berlebihan. Dampak lain adalah menurunnya tingkat kesuburan tanah akibat rusaknya mikroorganisme dalam tanah, sehingga tanah menjadi keras dan gersang. Para petani yang hadir mencoba untuk memahami setiap materi yang disampaikan oleh mahasiswa dan penyuluh pertanian.

Para mahasiswa dan kelompok tani juga menyarankan kepada para petani untuk mencoba beralih ke penggunaan pupuk alami yang mudah didapatkan dari hewan-hewan ternak mereka. Salah satu petani bertanya bagaimana jika tanah sudah terbiasa dengan penggunaan pupuk kimia sintesis, apakah bisa diperbaiki? Memerlukan waktu yang cukup lama untuk memperbaiki tanah yang mengalami kerusakan, saat mulai dengan penggunaan pupuk alami maka tanaman akan tumbuh tidak normal akibat penyesuaian dan perbaikan tanah. Tanaman sudah terbiasa dengan nutrisi yang ada dalam pupuk kimia sintesis. Sehingga hal utama yang harus kita lakukan adalah mengembalikan dulu tingkat kesuburan tanah dengan tidak menanam terlebih dahulu. Jawab seorang dari dinas pertanian. Bagaimana mungkin kami tidak menanam sedangkan musim sudah mendukung untuk melakukan cocok tanam? Untuk mengembalikan kesuburan tanah adalah dengan membiarkan tanah tersebut selama satu hingga dua bulan sembari diberi pupuk alami, biarkan rumput-rumput tumbuh sehingga mikroorganisme dalam tanah dapat pulih kembali. Memang sangat sulit untuk kita lakukan membiarkan lahan kita mengganggur, tetapi ini juga untuk masa depan anak cucu kita supaya tetap terjaga tanah pertanian kita.

Setelah kegiatan tersebut menimbulkan pro dan kontra di antara petani, ada petani yang ingin cepat-cepat menanam dan panen ada juga petani yang ingin memperbaiki kesuburan tanah dengan membiarkannya ditumbuhi rumput dan diberi pupuk kotoran hewan. Mahasiswa dan kelompok tani setempat juga memberikan edukasi dalam pembuatan pupuk alami yang dibuat dari kotoran hewan ternak dan rumput-rumput liar. Warga desa juga melakukan penanaman bibit pohon di sekitar bukit yang dibantu mahasiswa untuk mencegah terjadinya tanah longsor.

Petani yang mengurangi penggunaan pupuk kimia sintesis mulai merasakan dampaknya, mereka jauh lebih hemat karena tidak membeli pupuk kimia yang mahal dan lebih mudah dalam mendapatkan kebutuhan pupuk alami. Ketua adat desa berpesan kepada para warga untuk senantiasa menjaga alam dan lingkungan di desanya. Perlakukan  alam dengan bijak supaya tanah-tanah dan alam di desa kita tetap terjaga hingga sampai anak cucu kita kelak. Jangan serakah terhadap alam, bijak dalam mengambil hasil alam jangan lebih dan juga jangan kurang. Bumi ini dititipkan Tuhan kepada manusia. Kerusakan alam terjadi akibat ulah manusia, alam tidak akan marah jika manusia tidak serakah. Pesan yang menyadarkan manusia setelah alam sering marah, kini manusia mulai meminta maaf kepada alam dengan memperbaiki kerusakan-kerusakan yang diperbuatnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *