Cerpen #212; “Junaedi Naik Level”

Junaedi asik nonton FTV. Sejak diputusin Eva jadi sering di rumah. Melakukan hal yang monoton. Menonton televisi dari pagi hingga menutup mata.

Sering hatinya berkata atas nasibnya yang menyedihkan menurutnya. Kisah cintaku gak seindah FTV. Lalu, tersenyum getir.

Plok!

Ibu Juned memukul lengan atas dengan lap meja yang dibawanya.

“Napa sih, Mak?” Tanya Junaedi kesal.

“Eh, ada juga emak yang tanya. Elu kenapa? Senyum-senyum sendiri. Mana tuh, senyum kagak lepas. Timbang senyum aja, pelit banget, ” Kata ibunya sambil jalan menuju teras depan.

Melihat ibunya begitu, Juned ikut santai juga. Dia kembali nonton.

Kangkung belum diambil ada di dapur. Jadi, Ibu Juned masuk lagi ke dalam rumah. Dia jualan gado-gado. Sejak ayahny mulai sakit-sakitan karena TBC, ibunya menjadi tulang punggung keluarga. Untungnya, sudah 4 tahun belakangan ini, Juned sudah bekerja di perusahaan kapas.

Kesal juga ibu Juned melihat anaknya yang diam saja di depan TV. Sudah 1 minggu tidak ada semangat hidup.

“Juned!”

“Juned!”

“Juned!”

Junaedi diam. Tidak mendengar panggilan ibunya. Kesal pula ibunya.

Plok!

“Napa sih, Mak? Dari tadi, dipukulin mulu!”

“Elu juga! Ngapain bengong di depan tivi! Emang gak ada kerjaan lain yang bisa lu lakuin?”

“Juned kan, lagi patah hati,”

“Emang trus napa kalo lu patah hati? Gua juga sedih ditinggal bapak lu. Trus, gua patah hati terus?”

Mendengar ucapan ibunya, Juned merasa tidak enak hati. Langsung salah tingkah. Kemudian, ibunya meneruskan kerjaan dengan membawa kangkung ke teras.

“Ape tuh, kata orang-orang? Muph on, yak? Iye deh, kalo gak salah… “

Juned tersenyum lebar.

“Gaya banget ngomong bule! Iya, muv on. Tahu artinya?”

“Tahu, lah! Lupain. Cari yang lain. “

“Susah, Mak. Riri tuh, cantik, pintar, dan baik… “

Eh, cewek cantik tuh, banyak! Cewek pintar lebih banyak. Kalo baik, napa tinggalin lu?”

Juned hanya bisa terdiam. Ucapan ibunya ada benarnya juga.

“Cari kerjaan, kek! Apa aja. Lagi korona begini makin susah cari duit. Sekarang, jualan gado-gado sering gak habis,”

Sudah 2 bulan, Juned dipecat dari kantornya. Bukan karena dia yang gak mampu buat kerja. Tapi, perusahaannya bangkrut karena kena imbas korona. Kepalanya yang tidak gatal digaruk-garuk. Bingung juga. Juned berjalan masuk kembali ke dalam rumah.  Diikuti ibunya. Yang masih tertinggal bayam di dapur.

“Kalo lu diem aja, makin susah tuh cewek lu lupain!”

“Trus, Juned ngapain dong?”

“Pikir ndiri! Lu tanya gua. Gua jawab pertanyaan hidup gua aja udah susah. Jawab pertanyaan lu lagi,”

Televisi sedang menayangkan program berita. Saat ini, membahas tentang krisis alam. Di berbagai tempat mengalami panas yang berlebihan. Hujan yang deras disertai angin puting beliung. Tak luput dari badai juga. Akibatnya, tanaman kering. Hewan banyak yang mati. Banjir di mana-mana. Diperkirakan tahun 2050, Jakarta akan tenggelam.

“Tuh, denger! Jakarta tenggelam! Hidup makin susah. Gimana caranya kamu gak tenggelam… “

“Kok, kamu, Mak?”

“Paling tahun ntu, Emak dah meninggal.”

“Hush,jangan ngomong, gitu! Apa ya, Mak?! Bantuin dong, Mak.”

“Hadeh! Lu tanya lagi ma gua!”

Diam sejenak ibunya. Tetap bantu mikir. Dia lihat wajah anaknya tampak serius. Mungkin pikirannya mulai teralih. Pikirnya.

“Ambil sikat gigi… “

“Buat apaan?” Sela Juned

“Bersihin jalan tol…”

Bruk!

Juned memeluk ibunya. Sebenarnya, dia masih kesal dengan becandaan ibunya. Tapi, mau gimana lagi. Itulah ibunya suka becanda.

“Ada lagi!”

Juned melepaskan pelukan dan bertanya, “Apaan lagi?”

“Ambil sapu lidi. Trus, lu ke kalimantan… “

“Ngapain? Jauh, amat!”

“Sapuin hutan yang semek, noh!” Kata ibunya sambil ngeloyor pergi.

Ujung bibir saling menarik. Sedikit terlupakan masalah percintaan. Begitu meneruskan liat berita di TV, Juned kembali duduk manis.

Berita di TV mengatakan hutan Kalimantan banyak yang digunduli. Dimanfaatkan lahannya untuk pihak Swasta. Sehingga mengakibatkan hewan hutan jadi tergeser habitatnya. Dan bahkan ada yang mati. Tak biasa dengan perubahan yang drastis. Membuat para makhluk hidup yang dilindungi jadi stres. Jumlah kematian meningkat.

Serem juga. 2050 aja, Jakarta tenggelam. Hutan sedikit. Artinya, banjir. Panas meningkat. Sedikit jumlah oksigen. Hewan mati. Gak lama manusia pasti ikutan…Kalau 100 tahun kemudian dari sekarang, kiamat! Udah gak jelas bentuknya dunia ini. Bukan tempat yang layak untuk ditempati. Ujar Juned dalam hati.

Eeeh, dia nonton lagi! Keluh ibunya. Kemudian, dia mengambil sapu lidi dan kresek. Dibawa ke hadapan Juned.

“Astaga, Mak! Mau ngapain?”

“Mak mau nyuruh lu, lupain Riri. Lakukan hal yang berguna!”

“Emang kalo nyapu bisa lupain Riri?”

“Bisa! Lu kan lagi sibuk nyapu mana kepikiran cewek. Lha, otak lu lagi fokus beresin sampah.”

Diam sejenak sambil mendekatkan sapu dan kresek ke Juned.

 “Sapuin tuh, halaman! Jangan lupain pisahin sampah plastiknya. Jangan dicampur ma daun. Daun bisa jadi kompos. Ingat, plastik sendiri!” Lanjutnya.

Kembali Juned diam untuk berpikir.

“Tungguin jualan Emak ya..! Mau anter pesenan dulu ke Mpok Arpah, “

“Mmm, ” Respon Juned.

Juned duduk di dekat meja jualan gado-gado. Memandangi sekeliling rumahnya. Bangun  dari kursinya. Melihat halaman rumah. Hanya ada sampah daun. Tapi, begitu keluar rumah. Di selokan, sekumpulan sampah plastik berserakan di mana-mana. Seperti ada artis k-pop yang datang. Dan semua fans datang hanya untuk sekedar melihat.

Apa mungkin ngumpulin sampah ada ngaruh ma hidup? Bisa dapat cewek cantik-pintar-baik-solehah. Bisa bikin lupain Riri. Tidak usah cari kerja lagi?! Katanya dalam hati.

Semoga bisa berubah. Harus dimulai. Kita gak akan pernah tahu jika belum mencoba. Semangat!

Plastik kresek yang sudah disiapkan oleh ibunya diambil. Mulai dari halaman rumahnya. Masih ada tertinggal beberapa sampah plastik. Mungkin hasil dari tiupan angin. Yang membawa terbang ke rumahnya.

Selangkah demi selangkah diambil sampah plastik. Terus berlanjut hingga tanpa sadar Juned sudah berada di luar rumahnya. Seiring itu juga rasa semua beban di hati berangsur hilang. Kesal. Sedih. Sepi. Bosan.

Terus tanpa henti. Keringat yang mengucur dari kulit kepala membawa rasa penat di kepala hilang. Pergi bersamaan dengan tiap tetesan air yang turun

Saat ini, Juned sudah berada di selokan. Di RT sebelah. Sudah lumayan jauh dari rumahnya.

“Juned, ngapain?” Tanya seorang pria paruh baya.

“Biasa, Pak, ” jawab Juned singkat.

Juned meneruskan perjalanannya. Saat itu sudah kantong kresek yang ke 4 di tangannya. Jika kresek yang diisi sampah sudah penuh, kemudian ditinggalkan di tong sampah terdekat.

Aksi pahlawan lingkungannya berakhir ketika terdengar nanyian merdu di lambungnya. Juned pun sadar. Bergegas pulang.

Keesokan pagi, dengan semangat yang menggebu meneruskan misinya sambil lari pagi. Sebelum aksinya, di sempat kan mampir ke pasar. Mencari karung bekas untuk mengumpulkan sampah. Mulai dipilah sampah yang berupa botol dengan sampah plastik biasa. Hal itu terus berlanjut di hari-hari berikutnya.

Beberapa tetangga sedang kumpul membeli sayuran di tukang sayur keliling. Membawa sayur dengan kendaraan motor yang telah dipasangkan kotak di belakangnya.

“Juned kasihan sekarang… “

“Iya, semenjak putus jadi aneh kelakuannya,”

“Ibunya juga aneh! Dikasih tahu gimana anaknya di luaran, malah diam aja!”

“Iya, anak udh kayak orang gila gitu,”

“Tiap hari, cuma cari sampah!”

“Ada juga cari kerja, “

Para ibu saling bersahutan. Menanggapi dengan nyinyir. Sesekali, Juned mendengar. Berusaha tidak mendengar. Biar tidak ada konflik dalam dirinya.

Beda dengan apa yang dilihat para Bapak. Apalagi pengurus RT. Mereka merasa apa yang dilakukan Juned sungguh luar biasa. Ada anak muda mau melakukan pekerjaan yang bikin tangan kotor. Bukan duduk menghadapi komputer.

Pak Mulyono juga berpikir hal yang sama. Melihat lingkungan beberapa minggu ini terlihat luar biasa. Tidak ada sampah plastik sedikit pun. Dia cuma bisa bilang “Woow!”

Terpikir di benaknya ikut berpartisipasi dalam kebersihan lingkungan. Sampah plastik sudah menjadi momok di seluruh dunia. Apalagi kalau sudah masuk ke selokan air. Ilmu apapun sulit menyelesaikan. Cukup ada yang mau ubek-ubek selokan untuk ambil plastik.

Beberapa penelitian juga sudah banyak yang membahas kemungkinan kerusakan yang terjadi saat plastik masuk ke dalam lautan. Korban paling pertama adalah hewan laut. Banyak yang masuk ke dalam plastik.

“Jun!” Panggil Pak Mulyono

Juned yang sedang ambil sampah langsung menghampiri. “Ada apa, Pak?”

“Saya mau minta tolong kamu untuk menggerakkan orang kampung sadar lingkungan. Kalau kita gak peduli sama lingkungan akan jadi seperti apa. Mungkin di 20 tahun mendatang isinya cuma sampah semua. Makhluk hidup gak ada yang bertahan.” Cerocos Pak Mulyono.

Juned paham akan maksud Sang Ketua RW. Dia mengangguk-angguk sebagai tanda paham.

“Oh, bisa banget! Saya ingin, rumah saya jadi Bank Sampah. Tempat pengumpulan sampah plastik, kertas, kardus, dan sampah organik juga. Tujuannya kita daur ulang semua. Sampah organik dijadikan kompos. Sampah plastik dijual buat daur ulang. Sampah bungkus sabun atau minuman  didaur ulang jadi tas atau dompet. Minyak jelantah pun harus kita terima. Kita kirim ke lembaga tertentu yang khusus mengolah sampah-sampah itu. Kalau perlu, ada anak bawa sampah botol atau kardus, kita terima dan mereka dapat bayaran yang sesuai.” Memandang ke langit dan melanjutkan. “Pasti semua akan tergerak, ” Respon Juned panjang dan lebar.

“Setuju!” Katanya Pak Rw sambil memberi 2 jempol tangan pada mereka.

Dengan bantuan RW-RT dan seluruh staf-nya, apa yang diingankan Juned berjalan. Duit yang didapat Juned gak seberapa. Namun, dia berhasil hidup tanpa Riri di kepala dan hatinya. Yang dipikirkan dia hanya warga sekitar harus mau bergerak bersama.

Minggu pertama, sangat rame. Bahkan dagangan ibunya jadi lebih rame. Banyak orang tua yang memang niat mengajarkan anaknya peduli lingkungan. Liburan mereka bukan Mall lagi. Secara tempat itu belum bisa semua masuk. Masih korona. Bank Sampah menjadi solusi liburan plus-plus. Gratis dan ilmu bertambah. Jika, membawa barang bekas atau sampah, uang di kantong pun ikut bertambah. It’s amazing!

Bank sampah didatangi 5 orang ibu yang julid-julid dulu.

“Jun-Bu, kami ke sini, mau minta maaf!” Kata mereka bersamaan.

“Untuk apa?” Tanya ibu Juned.

Juned yang sedang membereskan sampah datang. Mencoba perhatian dan mendengarkan dengan seksama.

“Kami sering membicarakan ibu yang gak bisa mengurus anak. Dan Juned dibilang orang gila yang kerjannya hanya memungut sampah,” Kata salah satu ibu yang lebih tinggi dan memakai baju berwarna coklat.

Ibu dan anak tersenyum lebar. Dan Juned berkata, “Gak papa!” Juned mendekati mereka. “Yang penting bantu saya kumpulkan sampah yang banyak! Kita bikin lingkungan jadi sehat. Buat generasi penerus nanti,” lanjutnya.

Ibu Juned semakin tersenyum lebar dan lama. Bahagia dia karena anaknya sudah hebat dalam pemikiran.

***

3 bulan kemudian.

“Jun!” Teriak Pak Mulyono

“Jun!”

Juned dan ibunya mendengar. Mereka keluar.

Pak Mulyono menghampiri. Langsung masuk di teras rumah.

“Besok, Lurah dan Camat akan ke sini. Mereka akan bersama orang Walhi pusat juga!” Penjelasan Pak RW.

Pikiran Juned langsung melayang jauh. Pasti ada yang baik dengan didatangi orang Walhi. Namanya akan semakin harum.

***

Walhi datang dengan tujuan memberikan jabatan pada Juned sebagai Duta Iklim. Sekarang, dia berdiri di sini. Di depan bangku jati yang indah akan ukirannya Jeparanya. Melihat Presiden memasuki ruangan.

Sebelah kanannya salah dua artis muda yang paling berpengaruh di dunia internasional. Yaitu Agnes Mo dan Cinta Laura. Dirinya berdiri sejajar dengan mereka. Memang sebelumnya, diberitakan diangkat menjadi Duta Iklim juga. Sedangkan yang di luar negeri  yang diangkat adalah Blackpink.

Acara hari ini, Presiden sengaja dibuat untuk meminta bantuan mereka menyelamatkan Indonesia di masa yang akan datang.

Acara berjalan sempurna. Tanpa hambatan. Merasa jadi manusia. Presiden memperlakukan manusia sama. Juned pun bisa ngobrol banyak dengan Agnes Monica dan Cinta Laura. Riri mah, lewat ini! Gumamnya dalam hati.

Sepulang dari Istana, senyum lebar tidak hilang dari wajah Juned. Bahagia menyertai perjalanannya hingga menu…

“Bang Juned!” Teriak seseorang dari belakang sambil membawa kertas yang wujudnya mirip seperti undangan pernikahan.

Juned merasa kenal dengan suaranya. Suara dari masa lalu. Perlahan, kepalanya menoleh. Seketika senyum yang menghiasi wajahnya hilang. Entah kemana. Sangat cepat! Dia berusaha mendekat. Begitu juga dengan Riri.

“Bang, Babeh udah setuju ma hubungan kita! Abang sudah bisa menaikan level agar ditrima babeh,”

“Tapi… Rasa di hati abang buat Eneng udah gak ada. Maaf ya, Neng!” Kata Juned sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya.

“Abang gak bisa coba belajar mencintai Eneng kayak dulu lagi? Kita coba semua dari awal, Bang,” ujar Riri dengan wajah memelas.

Juned dengan yakin. Menggeleng mantap.

“Bang!”

“Bang!”

“Bang!” Seru Riri sambil menjentikan jari di depan mata Juned. Pandangan matanya masih kosong. Bingung juga Riri. Bagaimana menyadarkan Juned.

Dan kemudian, kertas yang dipegang Riri untuk memukul lengan atas Juned. Plok! Plok! Plok!

Juned tersadar. Wajah gelagepan yang terlihat.

Dan kemudian berkata, “Apaan sih, Di! Kayak emak gua lu! Seneng banget liat orang menderita!”

“Elu dari tadi bengong gak jelas. Yaudah, gua pukul. Eh, baru sadar!” Respon Riri.

Cara bicara Riri masih begitu menarik buat Juned. Manja Riri masih jadi hal yang membuat Juned kangen.

“Eh, ada ape ke sini?”

Riri senyum malu-malu. Dia tahu sebesar apa cinta Juned pada dirinya. Rasa tidak enak hati tetap harus dikatakan.

“Ini… Mau….mmm…” Kertas yang di tangannya diangkat. “Bapak ma ibu nyuruh aku antarkan undangan pernikahan ini untuk emak dan Juned. Maaf ya, Juned! Aku pribadi tidak memaksa kalian untuk datang. Sekali lagi, maaf ya!” Lanjutnya sambil memegang tangan Juned.

Hanya air liur yang bisa ditelan. Pandangan kosong. Dada terasa sesak. Masih memandangi undangan. Tak berani membukannya.

Tiba-tiba, wajah sedihnya berganti. Senyum indah… Dilihat sekitar rumahnya. Masih sama sebelum jadi Bank Sampah. Kosong. Dilihat dirinya masih memakai kaos rumah. Bukan batik dan celana panjang. Bukan kayak orang pulang dari Istana. Dilihat kresek dan sapu lidi yang diberikan ibunya masih ada di sampingnya.

“Ada yang beli gak Jun selama ibu pergi anter pesenan tadi? Maaf, emak kelamaan. Diajak ngobrol dulu ma Mpo Arpah.”

Pertanyaan Emaknya membuat Juned tersadar kalau dari tadi dan semua gambar indah itu hanya ada di kepalanya. Demi menghilangkan rasa keanehan dalam dirinya, dia mengambil kresek dan sapu lidi. Mulai membereskan sampah. Semoga ini bisa jadi awal untuk naikin level!

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *