Cerpen #211; (Tanpa Judul)

“Aw! Panas! Panas!”

  “Eh…? Aduh! Hati-hati, dong—kamu baik-baik saja, Wilda?”

  Jika perasaanku sedang benar-benar berada di dasar, akan kujawab pertanyaan retoris itu dengan jawaban paling menusuk yang pernah ia dengar. Tapi tidak. Tidak, terima kasih banyak atas pemikirannya. Perasaanku sekarang sedang tidak begitu ingin melakukan hal sekejam itu.

  Kugosok pelan buku-buku telapak tangan—mereka merah. Hampir sama dengan garis kemerahan pada arang-arang yang membakar kulitku.

  “Sini… Biar aku saja, yang mengipasnya.”

  Aku tidak menolak tawaran temanku. Kuberikan kipas rotan yang kupegang lemah, dan segera pergi, sedikit menjauh dari sana. Asapnya mengebul, membuatku terbatuk jengkel.

  Hari ini kami mengadakan acara bakar-bakar makanan. Acara mingguan yang selalu diadakan teman-teman dari kelas. Ada banyak makanan yang tersedia; ada sosis, bakso, usus, aneka minuman, juga tak luput dari makanan-makanan manis, untuk penutup nanti.

  Asap panas semakin mengebul ketika televisi dikeluarkan, lantas temanku sudah mengolesi sosis dengan bumbu pedas ketika televisi dinyalakan.

  “Eh! Tunggu sebentar!” aku mengangkat tangan separo, menahan gerakan temanku yang hendak mengganti saluran televisi.

  “Biarkan, sebentar saja,” lanjutku, meski aku sendiri sudah kehilangan fokus dan kendali atas ucapanku. Berita yang tertampak di televisi sudah menghipnotisku.

  “…tercatat, dalam dua minggu terakhir, ada lebih dari satu kawasan yang tersapu badai ekstrem. Sementara di kawasan lain, kekeringan melanda, membuat para petani lokal tercekik melihat hasil panen…”

  Aku menelan ludah. Kawasan kekeringan itu salah satunya adalah kawasan di pedesaanku.

  Ketika berita selesai dilaporkan, berita berikutnya membuat pandanganku semakin terpaku menatap layar.

  “Aparat kepolisian telah menetapkan kelima tersangka, kasus kebakaran hutan, pada Jumat, lusa lalu. Puluhan hektar lahan sengaja dibakar untuk dijadikan lahan perkebunan. Kelima tersangka itu akhirnya mengaku kalau mereka adalah suruhan dari seorang juragan buah. Sampai kini aparat kepolisian masih terus menyelidik—”

  “Tanpa disadari orang-orang itu telah membantai ratusan ciptaan Tuhan yang tak bersalah…”

  Aku mengindahkan pandangan dari televisi, menoleh ke temanku, yang kehilangan separo kefokusannya mengipasi arang.

  “Mereka juga makhluk hidup,” lanjutnya, “makhluk tanpa salah. Makhluk yang kita khianati karena keegoisan kita. Hutan berkurang, lapisan ozon menipis, dan es di kutub mencair lebih cepat belakangan ini.”

  “Iya… tapi kalau hutan tidak ditebang juga, kita mau tinggal di mana?” temanku yang lain membalas. Aku menelan ludah, nada bicara yang digunakannya tidak dalam waktu yang tepat.

  “Hei, jangan-jangan kau yang membakar hutan itu?!” temanku sebelumnya berkata jengkel. “Apa kau harus menyapu habis satu kawasan, lantas tidak menyisakan sebagian? Memangnya di bumi ini kita tinggal sendirian?!”

  Suasana hening, aku menatapnya lama. Aku bisa memahami mengapa dia bisa begitu marah. Kedua orangtua kami sama-sama petani, yang tercekik karena hasil panen tahun ini. Itu mungkin sebabnya mengapa kemarin-kemarin dia mengatakan padaku kalau dia ingin fokus belajar, lantas lulus nanti ingin mengambil jurusan botani atau geofisika.

  Wajahku kemudian kembali fokus ke layar, tepat ketika sebuah video amatir kebakaran tertampak. Dan pandanganku kembali beralih, menatap asap-asap hasil pembakaran arang.

  Aneh kalau kuperhatikan lama-lama. Semakin lama kuperhatikan, maka semakin mirip pula asap tipis itu dengan asap kebakaran di televisi.

  “Lalu… lantas apa yang kemudian akan terjadi kalau-kalau lapisan ozon menghilang keseluruhan?” salah satu temanku bertanya. Ada rasa ragu, bingung, yang menumpang baik di kedua bola mata maupun nada bicara.

  Namun tak ada satu pun dari kami yang dapat menjawab. Tuan rumah sudah datang dari dalam, membawa nampan makanan lainnya.

*

Pertanyaan seperti itu sebenarnya termasuk ke dalam pertanyaan retoris juga.

  Secara teknis, kalau-kalau lapisan ozon pada akhirnya raib menyelimuti bumi, tentu suhu di permukaan bumi akan melonjak naik, dan benda-benda luar angkasa akan dengan mudah menyelinap masuk, bagaikan rumah tanpa pintu dan jendela. Namun secara harfiah, aku tidak mempunyai pengetahuan atau pun dapat membayangkan saat itu benar-benar terjadi. Tak akan ada yang pernah benar-benar mengatahui secara pasti apa yang akan terjadi pada bumi esok hari, seminggu lagi, dua tahun, satu windu, atau mungkin satu abad ke depan. Semua yang diberitakan masih berupa teori di secarik kertas, atau pun prakiraan belaka. Selebihnya, manusia hanya bisa bergantung pada harapan bahwa bumi kita masih baik-baik saja untuk generasi selanjutnya.

  Rok biru yang kugunakan melambai-lambai disapu angin. Di jalan setapak yang terasa senyap, terlepas dari suara merdu pungguk-pungguk yang mulai menampakkan diri, dan gesekan hutan bambu di kedua sisi, membuat sebuah melodi merdu di hati. Simfoni alam adalah salah satu dari jutaan karya seni yang dihasilkan bumi. Alam adalah seniman terbaik, kanvas terindah, yang Tuhan pernah ciptakan. Alam pun adalah salah satu guru terbaik. Karya seninya selalu ditiru oleh manusia, dan mampu membuat manusia merasakan sensasi menenangkan menggagahi alam bawah sadar, ketika memandangi gunung-gunung yang menjulang tinggi, fauna-fauna warna-warni, dan hutan-hutan tinggi, dengan kanopi yang tampak berseri. Apa pun karya seni yang ditampakkan alam, manusia akan membuat tiruannya demi menjaga kelangsungan hidup. Secara tidak langsung alam mengajarkan manusia bahwa mereka harus saling bergotong royong, belajar dari satu orang ke orang lain, dan membagikannya ke generasi selanjutnya. Seperti saat ini, alam tampaknya hendak memberiku satu buah pelajaran berharga.

  Asap tebal mendadak muncul begitu saja. Aku yang panik, cepat-cepat memanaskan otot-otot tungkai. Jantungku terpacu lebih cepat dari biasanya; darah panas teredarkan ke seluruh tubuh, membuat pasokan energiku mencair, lantas tanpa sadar aku sudah berlari lebih cepat daripada seekor kucing yang berlari sebab mencuri secuil ikan.

  Kepala dan mulutku tidak dapat berhenti bekerja. Mereka sama-sama sepakat berpikir dan berbisik bahwa asap tebal itu datang dari seseorang yang membakar gabah. Meskipun itu juga sama tidak baiknya, dapat menghilangkan zat hara pada tanah, dan mencemari lingkungan, tapi paling tidak itu lebih baik daripada kebakaran yang kutakutkan. Sudah cukup dengan kekeringan yang kami hadapi. Aku tidak tega kalau-kalau kebakaran benar dan terlanjur terjadi.

  Sayang tidak sayang, apa yang kuinginkan tidak dikabulkan Tuhan. Kebakaran benar-benar terjadi—paling tidak beberapa menit lalu. Para warga sekitar tampaknya mengaktifkan kepekaan dan kelincahan mereka dua kali lebih cepat dan kuat daripada aku. Tak heran. Mengurus sawah setiap hari paling tidak sudah menjadi semacam latihan pribadi.

  Saat aku tiba, api sudah padam. Tapi hawa panasnya masih terasa, dan menjalar ke sebagian orang—membuat wajah mereka berkerut-marah. Api itu menjalar nyaris ke separo besar petak-petak sawah. Tanahnya yang sudah kering, dibuat tandus dan gosong oleh si jago merah. Hutan yang dibakar adalah hutan-hutan perkebunan, tempat beberapa warga mencari pundi-pundi demi mengikat perut yang lapar.

  Aku lantas menoleh ke arah hutan. Sebagian kawasan hangus, dan sebagian pohon tampak runtuh, beberapa menjadi abu, tersapu angin yang menderu kencang. Aku mencoba mencapai titik terdekat, demi meluaskan lagi pandanganku ke dalam sana. Tepat sekali! Di dalam sana, aku dapat melihat pohon besar itu, nyaris runtuh. Batang bagian bawah terlihat gosong sebelah. Aku ingin, mendekat, tapi tertahan oleh suara keributan itu.

  Kepalaku sigap berdongak, bergerak tak beraturan, layaknya burung hantu yang beruhu-uhu di siang buta. Pandanganku tak tanggung-tanggung langsung mengunci sosok Abi, dengan peci dan sarung khasnya, berdiri di tengah-tengah kerumunan, menenangkan sebagian warga yang tampak marah.

  “Permisi… maaf… permisi…” aku mencoba menyeruak dari kerumunan, lebih mendekatkan diri pada Abi.

  “Ini pasti ulah juragan itu!” kata salah satu warga dengan emosi di puncak-puncak, nada bicaranya membuat emosi warga lain tersulut.

  “Bawa saja dia ke sini. Interogasi!” sahut yang lain.

  “Sekalian bakar saja dia di sini!” sahut warga lain, yang tampaknya benar-benar sudah kehilangan batas emosinya.

  “Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, tenang dulu. Jangan main hakim sendiri.” Abi dengan sabar berusaha mencegah emosi warga setempat kian memanas.

  “Kami tidak bisa tenang! Anda mungkin bisa! Anda tidak perlu mikir hari ini makan apa! Kami bergantung pada sawah-sawah dan hutan itu! Atau mungkin, jangan-jangan Anda yang membakar sendiri hutan ini?!”

  Aku mungkin bisa mentoleransi bapak itu memarahi Abi—aku tahu kalau keadaan desa sekarang sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak punya masalah kalau mereka marah. Tapi aku sama sekali tidak bisa mentoleransi bapak itu yang baru saja menuduh Abi melakukannya. Dan tak tanggung-tanggung, aku maju ke dalam perdebatan, menatap tajam dengan wajah tersinggung.

  “Pak, kalau marah yang benar saja. Kalau mau nuduh, juga yang benar. Ada bukti, tidak? Jangan asal tuduh saja. Bapak saya juga sama, berpikir keras, jangan asal lompat ke kesimpulan kalau bapak saya sengaja melakukannya. Memangnya dasar bapak menuduh bapak saya kenapa?”

  “Hei. Anak kecil diam saja. Tidak perlu ikut campur urusan yang tua. Belajar dulu saja!” tapi bapak itu malah ngotot pada pendapatnya.

  “Wah… mulai ageisme—oh? bapak tidak tahu apa itu ageisme? Makanya belajar—”

  “Sudah, sudah, hentikan itu, Wilda,” Abi dengan cepat memotong perdebatan. Kepekaannya menyadari kalau ia harus menghentikanku mengucapkan kalimat yang seharusnya tak terucap. “Saya sudah menghubungi polisi—mereka akan tiba lima belas menit lagi. Ada baiknya kita semua bubar. Biar saya yang mengurusnya.”

  Walau para warga tampak enggan, Abi akhirnya berhasil meluluhkan hati mereka untuk kedua kalinya, dan mereka pun bubar, dengan masih membawa ratusan emosi di pundak. Aku tidak ikut pergi. Aku menunggu Abi berbincang dengan pegawainya, lantas berbincang dengan kepolisian beberapa menit kemudian.

  Abi mungkin jarang kerja langsung di sawah. Sawah-sawah di desaku semuanya nyaris punya Abi. Jadi tidak mungkin ia mengerjakannya seorang diri. Ia mempekerjakan orang-orang di desa, dengan gaji yang lumayan banyak untuk ukuran petani. Itulah sifat Abi. Ia bahkan tidak pernah mau menyebut pegawainya dengan sebutan anak buah, atau menyebut dirinya sebagai juragan. Menurutnya, tanpa orang-orang di desa, ia tidak akan bisa mempunyai sawah sebanyak ini. Orang-orang di desa adalah rekan kerjanya—saling gotong royong, menanam padi bersama. Walau terkadang beberapa orang mencemooh, Abi adalah orang yang supersabar.

  Beberapa menit usai sudah, mataku sudah mengerjap-ngerjap, dan langit sudah merubah spektrum cahaya menjadi sedikit jingga ketika Abi menepuk pundakku.

  “Ayo,” ajak Abi. Aku mengangguk, segera bangkit, membersihkan rokku. Kami berjalan bersama, pulang ke rumah.

  “Abi?” aku memulai.

  “Iya?” balas Abi, melirik sedikit.

  “Apa yang membakarnya, sudah ketemu?”

  Abi tertawa. “Tentu belum. Motifnya pun masih belum begitu jelas. Padahal ini sudah jadi lahan perkebunan. Tapi kamu tetap harus hati-hati, tadi Abi lihat ada pohon yang mau rubuh—gosong sebelah. Kayaknya besok harus ditebang. Tapi tidak tahu juga. Tadi Abi bicara dengan Kepala Desa dan kepolisian, kami masih harus waspada. Kita tidak tahu, kan, kapan mereka akan membakar hutan lagi? Areanya luas lho, sampai sawah. Abi beranggapan kalau ini karena semacam dendam atau uang. Jadi kamu harus hati-hati. Desa kita sedang tidak baik-baik saja akhir-akhir ini.”

  Usai mengangguk, aku diam beberapa saat.

  Lagi-lagi, uang, uang, uang.

  “Abi…?”

  “Iya?”

  “Er… nanti, kalau aku lulus SMA, aku mau masuk jurusan kriminalogi.”

  “Lho, kenapa?” Abi menoleh. “Bukannya kamu ingin jadi sejarahwan?”

  Aku bergeleng, sempat membalikkan kepala, melihat petak sawah yang mulai menjauh.

  “Ah, tidak. Aku hanya ingin menangkap para penjahat saja—faktor drakor.”

  Abi kini benar-benar menoleh sempurna. “Kamu mau membicarakan apa sebenarnya, Nak?”

  Aku tidak membalasnya. Halaman  rumah kami telah tertampak, dan Abi melupakan ucapan-ucapanku.

*

Aku tak mungkin diam begitu saja. Kekeringan sudah terjadi di mana-mana, aku tidak mau kebakaran ini justru menambah keadaan yang sudah buruk jadi bertambah buruk. Jika tahun depan kekeringan masih terjadi, maka aku tidak akan tahu apa akibatnya bila kebakaran ini terjadi kembali. Iklim dunia sedang tidak baik. Bumi sedang tidak benar baik-baik saja. setidaknya, aku perlu membantu bumi, aku perlu membantu rumah tempatku tinggal mengusir hama-hama pengganggu.

  Malam hari itu juga, aku pergi keluar. Itu bukan kalimat retoris. Yang kumaksud keluar adalah keluar dari lingkaran yang dapat membuatku menyesal di kemudian hari. Diam memperhatikan saja tidak akan membantuku keluar dari sini walau satu centi sekalipun. Aku mungkin bisa diam memperhatikan dan mengawasi, tetapi jikalau aku tetap saja diam dan tidak menggunakan informasi yang sudah kupetik susah payah, itu tidak ada bedanya dengan diam tanpa melakukan usaha sama sekali.

  Jadi… aku keluar.

  Aku mungkin hanya menyelamatkan satu kawasan saja. Dan aku rasa aku sangat tahu lagi paham betul bahwa tindakanku sangat sembrono lagi tidak dapat masuk di akal. Tindakan tanpa pikiran, memang betul. Karena pikiranku sudah penuh dengan tekad melindungi rumahku, melindungi desa, melindungi bumi. Aku mungkin seorang gadis enam belas tahun bernama Wilda Azzahra Handayani, namun itu bukan berarti statusku sebagai seorang gadis remaja sama sekali tidak bisa menunjukkan pada dunia kalau aku juga mampu melakukannya, melindungi rumahku. Hanya satu kawasan, satu kawasan, yang siapa tahu bisa membantu bumi pulih untuk seratus tahun ke depan.

  Siapa yang tahu?

  Pukul delapan malam, aku bergegas berangkat. Dan aku berani bertaruh kalau aku tidak pernah memalsukan izin kepada Abi dan Umi setiap kali hendak pergi ke mana-mana—bahkan untuk sekarang. Aku izin pada mereka kalau aku hendak pergi ke Balai Desa—dan aku benar-benar pergi ke Balai Desa.

  Kedua kakiku mampu menopang bobot tubuhku hingga Balai Desa kurang dari lima menit.  Sesuai dugaan, Balai Desa selalu ramai dengan orang-orang—setiap malam selalu demikian. Halaman Balai Desa ramai oleh kalangan muda dan tua. Semuanya berkumpul untuk merehatkan pikiran dan jiwa, menghabiskan hari terakhir dengan bermain bagi anak-anak, membahas entertaiment, teknologi, acara-acara seru bagi para remaja, dan membahas hal-hal ringan bagi para orangtua. Pengecualian untuk malam ini, obrolan-obrolan itu tampak lebih berat dari biasanya—inilah tujuanku.

  Aku berpura-pura memperhatikan anak-anak bermain. Spot mereka bermain sangat strategis, dekat sekali dengan para orangtua. Kupasang kupingku kuat-kuat, dan sekali-sekali, kukendurkan pandanganku menatap anak-anak bermain, demi melirik, mendengar beberapa poin-poin percakapan penting seperti,

  “Memang sengaja dibakar, tadi, ada yang menemukan jirigen—sudah pecah.”

  Lantas setelah beberapa saat, ibu-ibu lain turut berkata, “Motifnya juga kurang begitu jelas. Padahal hutan itu sudah jadi lahan perkebunan. Apa mungkin karena seseorang dendam dengan pemiliknya?”

  Dan seorang ibu lain juga turut serta menyampaikan gagasan pendapatnya. Katanya, “Atau…” ia berdeham sejenak, menyadari kalau aku tampak mencurigakan, bagai seorang mata-mata yang hendak mencuri informasi dari perusahaan lain, ia harus memelankan suara, “Boleh jadi ini karena taktik licik.”

  Aku bergeming. Taktik licik? Apa maksudnya itu?

  “Maksudnya bagaimana, Bu?” sahut ibu lain, ada sedikit nada senewen menumpangi kalimat yang dilontarkannya. Jelas, aku saja ragu dan tak begitu paham kenapa ibu ini berkata demikian.

  Ibu itu pun mengangguk, gerakannya tampak seperti seorang ibu yang mengangguk setuju membiarkan anak-anaknya bermain hujan-hujanan.

  “Ini semua tentang uang, tentang ambisi.” Ibu itu mengangguk sekali lagi. “Mungkin ada orang ‘berduit’ yang dengan sengaja membakar, dan menghilangkan kesuburan tanah di sini. Lantas orang-orang itu datang seperti pahlawan kesiangan. Menggunakan topeng, dan melambaikan tongkat sihir yang mampu bicara ribuan janji-janji manis. Investos-investor kota. Menjanjikan hal-hal fantastis!”

  Kali ini aku terdiam, tak bergeming walau satu centi.

  Aku tahu bagaimana epilognya jika jalan ceritanya demikian. Pada akhirnya, sosok “pahlawan kesiangan” itu akan melepaskan topeng-topeng mereka secara rakus, serakus diri mereka yang akan mengeruk lahan-lahan hutan, memaksa bumi menelan ribuan ton bahan kimia, mencekik bumi dengan aspal-aspal, tanpa memberi daerah resapan bagi bumi untuk bernapas.

  Sampai pada akhirnya, tidak akan pernah ada sequel dari cerita ini.

 Yang ada hanyalah epilog tak berujung.

  Aku mendadak seolah dapat memutar waktu, kembali ke beberapa jam sebelumnya. Suara-suara ibu-ibu itu terdengar berat, dan beralih menjadi berbisik, seperti suara lebah. Beberapa detik kemudian, suara ibu-ibu menghilang, tergantikan oleh suara serak Abi. Pemandangan Balai Desa menghilang, tergantikan oleh pemandangan jalan setapak, tepat di sebelah sawah, sore tadi.

   “Abi beranggapan kalau ini karena semacam dendam atau uang. Jadi kamu harus hati-hati. Desa kita sedang tidak baik-baik saja akhir-akhir ini.”

  Iya. Ini semua tentang uang. Uang, dan ambisi. Kedua subjek itu sama sekali tidaklah berbahaya. Tetapi jika tidak ditangani dengan benar, kedua subjek itu bisa menggagahi pikiran bawah sadar seorang manusia, melupakan jati diri mereka, tidak takut mengambil keputusan yang dapat mencelakai, menyakiti, menyengsarakan orang-orang di sekitar.

  Oh. Ralat.

  Makhluk hidup, di sekitar.

  Percakapanku dengan Abi terhenti, suasana jalan setapak menghilang ketika suara guntur terdengar keras. Aku bergeleng-geleng, menatap langit malam. Langit tampak muram, lebih muram dari hatiku. Suara guntur terdengar saling susul menyusul. Suaranya seakan menyampaikan kepada siapa pun kalau alam benar-benar terluka, dan langit melampiaskan kemarahannya dengan guntur-guntur menggelegar.

  “Bersyukurlah,” kata seorang ibu-ibu, aku kembali menguping. “Sebentar lagi akan hujan. Kabar angin itu mungkin tidak akan terjadi. Jelas, pacuan seperti ini tidak akan mereka lakukan begitu saja. Hujan sebentar lagi, mereka hanya akan membuang banyak sekali minyak tanah.”

  Kemudian, aku bergegas pergi. Bukan ke rumah, tetapi ke hutan itu.

  Hujan mungkin akan segera datang. Dan aku yakin betul kalau pada akhirnya mereka tetap akan menggunakan berliter-liter minyak tanah itu untuk membakar hutan, sebelum hujan itu terjadi.

  Kedua kakiku telah naik level. Berkat pengalaman siang tadi, mereka berdua lebih mampu membawa tubuhku ke hutan itu kurang dari tiga menit. Hutan tampak sunyi, tidak ada suara kecuali suara desir angin, dan ansambel malam oleh lusinan jangkrik dan tokek.

 Kusegerakan masuk ke area hutan, dan kuperlambat laju kaki, sebisa mungkin agar tidak membuat atau menimbulkan suara. Jalan sekitar tampak aneh struktur tanahnya. Tampaknya faktor kebakaran sore tadi.

  Kilat guntur menerangi langkahku, dan suaranya menemani kesuyian ini. Tak jauh, aku dapat melihat pohon separo gosong itu. Kasihan nasibnya. Ia sedang ditebang.

  Tunggu… ditebang?

  Dari jauh, kulihat tiga orang, melirik kiri-kanan, sementara aku bersembunyi di balik semak belukar. Mereka bertiga tampak hendak menebang pohon itu—tidak, tidak. tunggu. Mereka tidak menebang. Mereka menyiram. Tampaknya itu di masing-masing tangan mereka. Mereka tidak hanya akan membakar habis tempat ini, tapi juga menghancurkannya! Tanganku tergelincir, dan menyentuh tanah. Aku terdiam, beberapa detik kemudian tereperanjat ragu. Kutarik tanganku, dan kuciumi tangan ini.

  Benar saja, keraguanku terbukti lagi. Aku kenal betul bau ini. Ini minyak tanah. kusentuh lagi bagian-bagian yang lain, dan aku kembali menemukan beberapa bagian yang dilapisi minyak tanah.

  “Memang sengaja dibakar, tadi, ada yang menemukan jirigen—sudah pecah.”

  Pecah. Iya. Itu berarti, siang tadi rencana membakar hutan ini memang terus berlanjut.

  Ini gila. Sebab uang, mereka rela membuat iklim dunia semakin buruk. Sebab uang, mereka rela mengurangi satu persen lagi hutan-hutan yang ada di bumi. Sebab uang, mereka rela membuat anak-cucu menderita, di masa mendatang, mereka sangat rela melakukannya.

  Demi uang.

  Aku harus bergegas. Balai Desa tidak jauh dari sini—

  “Hei! Siapa kamu?!”

  Seluruh badanku melemas. Aku nyaris tak dapat bergerak, jika saja desir angin tidak mendorongku, seolah mengatakan langsung kepadaku untuk lari dari hutan.

  Usai guntur menggumuruh sekali lagi, ketiga orang itu lantas mengejarku habis-habisan. Aku pun berlari, tapi tanpa arah. Rasa takut ini, membuatku lupa jalan keluar. Hujan rintik-rintik dimulai, dan mereka tampak marah karenanya.

  “Ya tuhan! Tolong aku,” bisikku. Aku benar-benar berharap—lebih berharap dari siang tadi kalau asap kebakaran hanyalah asap dari gabah yang dibakar.

  Itu dia! Asap! Aku menoleh ke belakang, melihat pohon separo gosong itu.

  Ini satu-satunya jalan yang ada.

  Jika aku mau menangkap orang-orang gila ini, aku harus melakukanya.

  Aku harus menebang pohon itu, menghidupkannya di luar area hutan.

  Dan cuma ada satu cara melakukannya.

  Di ujung depan, aku mengambil satu belokan tajam, tak peduli licinnya jalan, aku berbalik, menukik cepat, melewati orang-orang itu dengan lebih cepat pula.

  Yes. Mereka tidak menangkapku. Mereka tidak begitu gesit, rupanya. Namun ketika aku berbalik, aku menyadari justru bahwa rencanaku sudah terbaca sejak awal. Sejak awal sendiri, niat mereka bukanlah menangkapku.

  Sudah jelas bukan?  Mereka sudah seperti robot. Diperalat uang, untuk mengangkat tangan, menghidupkan korek.

  “Tidak!” seruku, berbalik loncat, mendorong telak tubuh orang itu.

  Kotak korek terlempar, aku berdongak, gesit sekali kuraih kotak korek itu.

  “Gadis sialan! Kemari kau!”

  Salah satu dari mereka berhasil menangkapku, aku berontak, tapi sia-sia. Kekuatan orang dewasa tentu tidak dapat diremehkan.

  “Lepaskan!” jeritku, refleks mengangkat kaki, menendang area vitalnya, membuatnya menjerit lebih-lebih. Kugigit tangannya kuat-kuat, dan dia melepaskannya, sambil menjerit, ia berteriak, “SIALAN KAU! SIALAN! SAKIT BODOH!”

  Aku tak peduli lagi, aku sudah berlari ke pohon itu. Kedua kakiku telah banyak pengalaman soal kegiatan berlari ini. Sekali lagi, mereka berdua naik ke tingkatan terakhir. Mampu membawaku ke pohon itu, kurang dari tiga puluh detik.

  “Pohon,” bisikku, menoleh orang-orang itu, menoleh korek api di tangan. “Maafkan aku…”

  Segera kuhidupkan korek di tangan, api kecil menjalar, sambil mendesah, aku melempar korek itu tepat ke bagian yang gosong, bagian yang dilumuri minyak tanah sebelumnya.

  Si jago merah dengan cepat merambat marah. Kulit pohon itu tampak rapuh. Bagian-bagiannya terkelupas, dan aku lari. Menjauh sebelum tertimpa pohon paling tinggi di sini.

   “GADIS SIALAN! JANGAN KABUR!”

  Terlambat, aku sudah berlari menjauh. Tapi juga terlambat bagiku, si jago merah merusak jaringan pohon lebih cepat dari yang dapat kukira.

  Tepat sebelum aku bisa mengira apa yang sedang terjadi, pohon itu ambruk, menimpa kami semua. Menimbulkan suara dentuman yang sangat keras.

  “Tuhan, tolong…” bisikku pelan. Pelan sekali. Mataku mengantuk, kepalaku terjatuh, tidur menghadap tanah.

*

Aku terengah-engah, napasku berat.

  Mataku terbuka ketika cahaya bintang terlukiskan di langit. Spektrum cahayanya tampak cerah, menenangkan hati. Dengan susah payah, aku bangkit, menghalau ranting-ranting dan sekumpulan daun di badan.

  Keadaan di sini ramai. Para warga berdatangan, ketiga orang itu ditangkap. Beberapa orang hendak memukulnya geram, tapi Abi, seperti biasa, beliau sigap menghalangi, dengan wajah… sedih?

  Kenapa dia sedih?

  Kepalaku langsung beralih ketika mendengar isak tangis sendu, membuat telingaku tak sanggup mendengarnya. Tangisan yang begitu sedih. Rasa tangis yang tak terbendungi. Rasa tangis, yang mampu membuatku bergetar ketakutan.

  Umi, di sana, menangisi, tubuh kakuku.

  Aku bernapas sengal, pandanganku tak dapat berkedip, aku ketakutan.

  “A-apa yang terjadi?” aku berteriak parau.

  Seketika, sebuah tangan halus, bersih, menggenggam tanganku. Tangannya mampu menenangkan hati, rasa lembutnya membuatku mengantuk, ingin kembali tertidur.

  Kepalaku menoleh, melihat gadis sepantaranku, dengan mahkota dari teratai.

  “Ayo, Wilda,” ucap gadis itu. “Terimakasih, sudah menyelamatkan tempat ini.”

  Aku tak pernah menyadari, sejak kapan ia sudah menarikku pergi dari sana, mengajakku ke tempat baru, pemandangan baru, suasana baru.

*

Tak perlu waktu lama, polisi dan ambulans telah tiba. Salah satu dari ketiga orang itu tersadarkan, dan berontak, meminta pengacara.

  Mayat seorang pahlawan muda, Wilda Azzahra Handayani, telah dikebumikan keesokan harinya, tepat ketika wartawan berdatangan, meminta keterangan lebih lanjut, soal gadis heroik ini.

  Berita soalnya tersebar ke mana-mana, tindakan heroiknya mampu membuka mata hati sebagian pemuda-pemudi di luar sana. Berbagai komunitas terbentuk,

meminta keadilan atas kematian gadis heroik ini. kampanye-kampanye penghijauan mulai dilakukan. Dan pelbagai gerakan-gerakan penghijauan kota telah terbentuk satu bulan kemudian. Keberanian Wilda, menginspirasi wanita lain di luar sana, untuk lebih berani melindungi rumah mereka.

  Pada akhirnya, alam,  sebagai guru terbaik, telah mengajarkan kepada orang-orang, bahwa satu kawasan yang gadis kita ini, gadis penuh dengan kesadaran atas lingkungan tinggi, satu kawasan yang ia lindungi, berdampak pada kawasan-kawasan lain, jauh darinya, ratusan kilometer jaraknya. Satu tindakan sederhana, yang mampu menimbulkam dampak luar biasa.

  Untuk saat ini, setidaknya Wilda dapat beristirahat dengan tenang di atas sana. Kepeduliannya telah membuka mata hati para pemuda-pemudi di negeri ini, untuk mau memperhatikan lingkungan mereka.

  Paling tidak, generasi selanjutnya punya suatu pegangan, suatu cerita menarik, yang dapat menginspirasi mereka untuk peduli pada lingkungan. Lantas cerita itu dikirimkan ke generasi berikut, generasi berikut, dan generasi berikut, menyadarkan lusinan generasi, kalau mereka semua tinggal di suatu tempat, dengan sebutan bumi. Sebuah rumah, yang harus mereka lindungi, hingga ke generasi terjauh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *