Cerpen #210; “Bumi Kami Nanti”

Jakarta, 2021. 23:30 WIB

Sebagai salah satu pengusaha sawit terbesar di Indonesia, Bobby harus melewati begitu banyak agenda rapat dan lobi untuk memastikan usahanya bebas dari gangguan. Tak terkecuali hari ini, waktu menunjukkan hampir tengah malam kala Bobby meninggalkan kantor notaris andalannya dengan wajah semringah.

Senyum itu dia bawa ketika memasuki mobil mewahnya, “Ah, capeknya sampai ke sumsum tulang, tapi gak apa-apalah. Yang penting kita menang Ri, kontrak eksklusif pembiakan sawit sudah kita menangkan! Ayo kita pulang Ri!” perintah Bobby kepada sopir setianya di ujung malam itu.

Biasanya, Ari akan langsung menjawab seruan majikannya itu dengan sapaan khas, “Siap Pak Bos!” Tetapi kini tidak ada sepatah kata pun yang terdengar dari kursi pengemudi, namun Bobby tidak mau ambil pusing, “Ah mungkin dia kelelahan gara-gara menungguku hingga larut begini,” asumsinya dalam.

Mobil mewah itu menyusuri jalan Jakarta yang mulai lengang ketika Bobby asyik mengecek ponselnya, tidak sabar untuk membagikan kabar bahagia itu kepada setiap kenalannya, “Pasti mereka kaget nih kalau tahu aku bisa dapatkan kontrak ini! Bener gak Ri?” tanya Bobby kepada sopirnya, mencoba sekali lagi mencari tahu apa yang berbeda dari Ari malam ini. Alih-alih menjawab, Ari hanya mengangguk-angguk, tanpa suara.

Rasa curiga Bobby bahwa ada hal yang tidak beres dengan sopirnya makin menebal saat dia menyadari Ari yang sama sekali tidak melepas maskernya, bahkan setelah mereka telah masuk ke jalan tol yang begitu sepi.

“Ri, tumben kamu pakai masker terus, biasanya masker itu kamu lepas kalau kita sudah masuk jalan tol, kan?” Tidak ada jawaban dari Ari kecuali batuk yang keras sekali. “Oh, kamu lagi gak enak badan ya?” duga Bobby, mencoba menutupi kecurigaannya. Sayang sekali, perasaan tenang itu hanya hinggap beberapa saat saja, Bobby mengenali jalan yang mereka sedang lalui, jalan ini tidak menuju rumahnya.

“Ari, ini kita lewat mana? Kok kita ambil arah Tanjung Priok?” selidik Bobby sambil diiringi degup jantungnya yang makin hebat. “Maaf Bob, sekarang Ari pasti sedang tidur nyenyak di gudang berkas, di kantor notarismu tadi,” Akhirnya sosok yang duduk di kursi pengemudi itu mengeluarkan suaranya, dan suara itu jelas bukan suara Ari.

Tiba-tiba rasa takut menggenggam jantung Bobby, keringat dingin mengucur deras dari kepala hingga tengkuknya, “Ka.. Kamu.. Siapa?”

“Masa gak kenal?” jawab sosok itu dengan suara yang sama sekali tak bisa Bobby kenali.

“Jangan macam-macam, telepon dan mobil ini tersambung ke GPS tracker tim keamananku. Pasti mereka tahu kamu bawa aku ke mana!” ujar Bobby histeris.

Tawa sosok sopir itu meledak, “Haha, ya, teknologi itu mungkin yang terbaru di masa kini. Tetapi, mainanmu itu sama sekali gak terpakai di masa kami. Coba lihat ponsel rongsokmu itu, apa ada sinyalnya?”

“Rongsok? Masa kami? Sinyal?” Kepala Bobby tiba-tiba penuh dengan berbagai pertanyaan yang tak dapat dimengertinya. Akhirnya dia menuruti permintaan sopir tersebut, “Kok bisa?”

Bobby terkejut bukan main saat dia menemukan ponsel seri terbarunya itu sama sekali tidak ada jaringan seluler. Bahkan, baterai yang semula penuh, secara tiba-tiba habis dalam hitungan detik. “Biasa aja, jangan kaget-kaget bangetlah, di masa kami, ini teknologi buat remaja menjahili teman-temannya!” Sosok misterius itu terdengar begitu bangga dengan apa yang ditunjukkannya kepada Bobby.

Bobby merasakan tubuhnya semakin lemas karena memikirkan hal terburuk yang dapat terjadi kepadanya, “Kamu belum jawab, kamu siapa?”

Alih-alih mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, Bobby menyadari bahwa tiba-tiba mobil mewah itu keluar dari jalan tol yang langsung mengarahkan mereka ke sebuah komplek gudang tua di area pelabuhan. Area yang begitu gelap dan sepi, bahkan tak ditemuinya satu pun orang yang melintas.

“Kita ada di mana?” tanya Bobby pasrah. Miliuner itu menyadari bahwa siapa pun laki-laki ini, dia telah merencanakan sebuah penculikan dengan baik. Lampu mobilnya telah dimatikan, untuk memastikan tidak ada orang yang menyadari keberadaan mereka atau mengikuti langkah mobil itu, “Kamu mau apa? Uang? Berapa banyak? Aku bisa atur itu sekarang!” rengek Bobby.

Cih! Uang? Gak semua orang mau jadi budak duit kaya kamu!” umpat penculik itu dengan suara yang paling keras yang bisa Bobby dengar.

“Diam dulu, jangan banyak bicara. Kamu tahu secanggih apa alat yang aku punya, kan? Tidak hanya mematikan sinyal dan ponsel, aku juga punya alat canggih untuk mematikan manusia dalam satu sentuhan,” ancam laki-laki itu.

Bobby tahu dia tak punya banyak pilihan, dia menuruti syarat penculiknya. Sosok itu akhirnya memarkirkan mobil mewah itu di sebuah gudang yang memiliki sudut gelap, seperti garasi bekas.

Kali ini laki-laki itu turun dari kabin pengemudi dan pindah ke sisi Bobby, “Sebelum aku jawab semua pertanyaanmu, aku ingin kamu menonton ini. Sesudah itu, aku akan tentukan, apa yang akan aku lakukan kepadamu.”

Laki-laki misterius itu tampak begitu muda untuk Bobby yang berusia di akhir tiga puluhan. Dia membentangkan sebuah kain putih yang tiba-tiba berfungsi sebagai layar tanpa proyeksi dari benda apa pun.

Takjub dengan teknologi yang dilihatnya, Bobby tak dapat menahan diri untuk bertanya, “Kamu, datang dari masa depan?” Sosok itu hanya tersenyum, merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah alat kendali sebesar kunci mobil, “Kamu masih ingat tentang ‘mati dalam satu sentuhan..’, bukan?”

Nafas Bobby tiba-tiba tertahan, rasa horor memeluk dirinya. Tak disangkanya sama sekali, bahwa laki-laki ini benar-benar akan membunuhnya dengan satu sentuhan di alat kecil itu. “Ampun, maaf, tadi aku tidak tahan untuk bertanya.”

“Santai saja, Bos, alat ini untuk memutar film. Bukan untuk mengambil nyawamu. Aduh-aduh, untuk ukuran seorang penjahat kemanusiaan, kamu sama sekali bukan seorang yang bernyali. Payah,” ledek laki-laki itu puas saat menatap wajah pucat Bobby.

Tidak berapa lama, kain itu pun memutarkan sebuah rekaman, dimulai dengan sebuah tulisan besar, “Jakarta 2121, Bumi Kami Sekarang.”

****

Jakarta, 2121. 6:30 WIB

Gak bisa! Yang kemarin saja kamu belum bayar!” bentak penjaga toko oksigen kalengan di Pondok Labu, sebuah tempat di pesisir utara Jakarta kepada Imka, seorang anak laki-laki berusia dua puluh satu tahun yang berupaya memenuhi kebutuhan dasar ibunya, oksigen.

Cepetan dong! Kalau gak punya duit, minggir! Kami keburu mati nih kehabisan oksigen!” teriak antrean di belakang Imka. Setiap pagi Toko Oksigen Giyo memang selalu dipenuhi pelanggannya yang tak mampu berlangganan oksigen secara reguler lewat perusahaan negara.

Seolah tak peduli dengan teriakan orang-orang di antrean itu, Imka terus memohon,  “Tolonglah Bang Giyo, ibuku cuma punya oksigen sampai sore nanti. Oksigenku tinggal buat siang ini. Abang tahu aku sedang melamar kerja, kan? Nanti kalau sudah ada uang, aku bayar pasti, Bang!”

Giyo yang berteman sejak kecil dengan Imka, tahu pasti cerita nestapa keluarga Imka merasakan sedikit getir di hatinya. Ada rasa iba yang membara, namun ayahnya telah mendidik Giyo untuk mampu berbisnis oksigen dengan keras, “Yo, kalau kamu selalu kasihan sama orang dan memberikan oksigen gratis terus-menerus, nanti kamu yang gak akan bisa bernafas!”

“Maafkan aku Imka, tolong minggir. Lihat ke belakangmu itu, bukan cuma kamu dan ibumu yang perlu oksigen. Orang-orang di belakangmu dan aku juga perlu oksigen.” ujar Giyo lirih, ada rasa bersalah yang harus ditekannya.

Imka menoleh ke belakang, dilihatnya puluhan orang berbaris dengan wajah resah. Mereka berkejaran dengan waktu, begitu khawatir kalau oksigen yang tersimpan di punggung mereka dan terhubung ke masker di wajah mereka akan habis sebelum mereka mendapatkan yang baru.

Mau tidak mau dia harus mengalah dan menepi, “Aku ngerti, makasih Bang Giyo.”

Dengan ribuan kalut dan resah, langkah gontainya meninggalkan toko oksigen itu, “Ke mana lagi aku harus cari oksigen?”

Sebuah mobil layang tiba-tiba muncul secara vertikal di depan Imka, seseorang dengan pakaian berbahan baja dan helm yang menutupi tubuhnya rapat keluar dari kendaraan itu, “Imka Soliyawan?”

“Ya, saya Imka Soliyawan, dan kalian adalah…,” Imka mengenali akronim yang ada di sisi mobil layang itu, A.I.R (Aliansi Induk Respisparatis), dia kerap mendengar nama mereka disebut di berita sebagai kelompok ekstrimis yang selalu ingin menghukum korporat besar dan pemerintah dengan kekerasan karena terus memperburuk hak bernafas masyarakat.

Salah satu dari mereka sigap menjawab rasa ingin tahu Imka, “Ya, kami adalah agen dari A.I.R, kami tahu ibumu perlu oksigen, dan kalau kami lihat, di punggungmu itu… kamu tidak punya banyak waktu juga. Ikutlah dengan kami… Paling tidak kami bisa memberikanmu dan ibumu oksigen selama satu minggu!”

Meskipun separuh wajahnya tertutup masker oksigen paling buruk, karena paling murah, Imka memperlihatkan antusiasmenya, “Satu minggu?! Betulkah!?”

Tiba-tiba Imka mendengar suara Giyo memanggil namanya, “Imka! Jangan pergi dengan mereka! Ingat mereka adalah target pemerintah! Nanti kamu juga jadi target!”

Imka menyadari bahwa dia ada di sebuah ruang terbuka yang membuatnya mudah diperhatikan oleh orang-orang di sekitarnya yang mungkin berpikiran sama dengan Giyo. Rasa khawatir mulai memasuki ruang pertimbangannya.

Menyadari orang yang mereka cari kini meragu, salah satu agen dari A.I.R bertindak lebih cepat, “Imka, yang benar saja? Kamu lebih mengkhawatirkan reputasimu daripada oksigen untuk ibumu? Tidakkah kamu ingin menghukum orang-orang yang mengambil oksigen ini darimu dan ibumu?”

Kata-kata mereka sungguh akurat dan tepat mengenai pikiran Imka, “Ya, aku ingin memastikan ibuku dapat oksigennya. Aku tidak peduli dengan orang yang mengambilnya. Itu saja.”

Sebuah suara yang lebih berat terdengar dari dalam mobil itu, “Sedikit perbedaan pandangan tidak akan menjadi soal. Masuklah Imka, paling tidak nikmati oksigen gratis di dalam mobil ini. Kalau kamu tidak setuju dengan apa yang akan kami katakan, kamu boleh pulang membawa dua tabung oksigen sebagai permintaan maaf kami karena telah menghabiskan waktumu.”

Imka ingin mempercayai suara berat nan teduh itu, tetapi dia sendiri pun tidak tahu pilihan mana yang harus diambilnya. “Imka, lari! Jangan ikut mereka! Aku sudah telepon polisi, mereka sedang dalam perjalanan,” Giyo tampak begitu peduli dengan teman masa kecilnya itu.

Mendengar kata “polisi”, seketika salah satu dari orang yang berada di dalam mobil layang itu keluar dan menodongkan sebuah senapan besar yang menyembulkan cahaya diujungnya, “Jangan ikut campur, kamu dan bisnis kecil oksigen ini tidak ada bedanya dengan kapitalis yang mengacak-acak hak bernafas masyarakat!”

Dari ujung senapan itu meluncur cahaya biru yang menghantam tembok Toko Oksigen Giyo, “Dhaar!” Lubang tercipta di samping toko itu, menunjukkan ratusan tabung oksigen yang Giyo simpan untuk dijual. “Oksigen gratis untuk semua orang! Ambil oksigen itu!” seru Agen yang menembakkan senapan laser.

Masyarakat pun merangsek maju berebut oksigen itu, tubuh Giyo terdorong jatuh, menatap orang-orang yang mengambil tabung-tabung oksigennya dengan mata nanar.

“Imke, kita tidak punya waktu, kamu ikut kami atau tidak? Kerumunan ini, hanya akan bertahan untuk menghalau polisi mengejar kita sementara.” ujar Agen yang membuat kekacauan itu.

“Aku ikut,” jawab Imka yang masih menatap wajah Giyo dengan iba. “Jangan khawatirkan dia, kalau kamu perlu objek untuk dikhawatirkan, khawatirkanlah nafasmu dan nafas ibumu.”

Imka memasuki mobil layang itu, saat semua pintu telah tertutup rapat, mobil itu melakukan pertukaran udara secara otomatis, “Oksigen 100%,” begitu bunyi suara robot wanita yang merepresentasikan kecerdasan buatan di dalam mobil itu.

Tepat saat Imka ingin mematikan oksigennya dan membuka masker bernafasnya, tangan seorang agen di sebelahnya menahan, “Jangan, tunggu sampai kita semua selesai disinfektasi.”

Tangan agen itu menunjuk sebuah lampu berpendar merah yang menjadi simbol bahwa ruangan itu masih belum selesai dibersihkan dari berbagai karbon yang kotor dari udara luar.

“Kabin telah didisinfektasi” Suara robot yang sama menjadi aba-aba bagi setiap orang di dalam kabin itu untuk melepas masker dan helm mereka. Imka pun mengikutinya, “Halo semua, aku Imka.”

Perkenalan yang canggung dari Imka tentu meledakkan tawa setiap orang yang ada di dalam kabin mobil itu, Imka menatap setiap wajah laki-laki yang menertawakannya, semuanya laki-laki dan beragam usianya.

“Haha, tentu saja kami tahu siapa kamu!” ujar seorang agen yang tampak paling tua di antara empat orang lainnya, “Aku Reki, kapten tim ini. Yang berbadan besar dan meledakkan toko temanmu itu, nama dia Bikar. Orang yang menyapamu pertama kali adalah Mahra, dia anggota termuda di tim ini. Midan adalah orang yang selama ini mencari tahu siapa dirimu..”

Tiba-tiba Imka teringat wajah orang yang diperkenalkan sebagai Midan itu, “Ah iya, kamu adalah mahasiswa yang tinggal di flat Bu Honna, bukan? Ternyata kamu selama ini tinggal di sana untuk mengintaiku?”

Ada rasa khawatir di kepala Imka seketika mengetahui penjemputannya hari ini ternyata sudah direncanakan jauh-jauh hari. “Bukan mengintai, meriset. Semua ada alasannya Imka…” bela Midan.

“Cukup Midan! Imka, semua yang terjadi hari ini adalah hasil dari pemikiran yang dalam dan panjang,” sergah Reki. “Orang yang duduk di seberangmu itu, Profesor Giwo. Dia adalah ahli fisika kuantum…”

“Yang menemukan perjalanan waktu antar generasi,” Imka melengkapi penjelasan Reki.

Seisi kabin mobil itu kaget terhadap pengenalan Imka dan Prof Giwo, “Wah kamu membaca jurnalku, Imka? Aku merasa terhormat!” seru laki-laki muda yang memang tampak jenius itu.

“Aku bukan mahasiswa Prof, untuk membayar oksigen saja tidak mampu. Tapi, aku senang membaca!” Imka senang sekali mendapat pujian seorang jenius seperti Prof Giwo.

“Apa yang kamu baca adalah alasan mengapa kami memerlukanmu untuk ada di sini, kami perlu mengirimmu ke salah satu leluluhurmu!” ujar Kapten Reki.

“Kap, tidakkah terlalu dini untuk menjelaskannya di sini?” tanya Midan.

“Kita tidak punya banyak waktu,” sebut Reki dengan muramnya, “Persediaan oksigen negara mulai menipis, akan makin banyak orang yang mati karena tak dapat bernafas. Kita tidak bisa berbuat apa-apa pada masa kini, tapi kita bisa mengubahnya di masa lalu dan berharap efeknya berubah hingga masa kini.”

“Apa hubungannya antara perubahan itu dan keluargaku?” Imka begitu resah, kenyataan berputar begitu cepat di sekitarnya dan membuatnya tidak dapat memahami satu hal pun dengan mudah.

“Kami menemukan siapa yang bertanggung jawab terhadap kerusakan ekosistem hingga hilangnya oksigen, leluhurmu, orang yang mendapat kontrak perdana pengembangan perkebunan sawit pada tahun 2021. Bobby Soliyawan. Teknologi perjalanan waktu antar generasi hanya mengizinkan keturunan langsung dari seseorang di masa lalu untuk dapat menemuinya. Jadi hanya kamulah yang dapat menghentikan Bobby Soliyawan melaksanakan proyek sawitnya,” jelas Prof Giwo.

“Tidak mungkin, leluhurku yang menyebabkan semua ini?” tanya Imka tidak percaya.

“Lihat ke luar jendela itu Imka!” perintah Reki. Menuruti perintah itu Imka melihat lautan luas yang dulunya adalah kotamadya Jakarta Utara dan Barat. “Pasti kamu tahu kan kenapa air laut menutup daerah ini? Aku harap kamu tahu karena kalau tidak ya kami terpaksa memberimu pelajaran sejarah geografi Jakarta.”

“Aku paham, pemanasan global, karbon emisi berlebihan, tidak seimbangnya ekosistem di hutan tropis. Ya, aku ingat, perkebunan sawit menyumbang bagian besar pada kekacuan itu, jadi… “ lirih Imka berkata, menerima kesalahan leluhurnya yang ternyata adalah seorang pelopor eksploitasi sawit. Bahkan kini, ironisnya, ibunya sulit bernafas karena tidak memiliki oksigen yang cukup, karena leluhurnya.

Reki membentangkan lengannya, merangkul Imka, “Tidak perlu menyesal, kamu belum melakukan satu kesalahan pun, yang melakukan itu semua adalah leluhurmu, tapi kamu bisa mengubah semuanya.”

“Dengan perjalanan waktu antar generasi?” tanya Imka, suara lirihnya tidak dapat menutup bahwa dia begitu khawatir tentang misi ini. Kesuksesan atau kegagalan misi perjalanan ini tidak pernah diberitakan.

“Aku akan memastikan misi kita sukses Imka,” janji Prof Giwo.

Imka menarik nafas dalam, lebih tenang, meskipun ada satu hal lainnya yang meresahkannya, “Bagaimana dengan..”

“Ibumu? Aku yang akan mengurus,” janji Midan. Senyum laki-laki muda itu begitu tulus, “Imka, aku ingin kamu tahu. Aku kehilangan ibu karena tidak mampu menyediakan cukup oksigen untuknya. Jadi aku mau misi ini berhasil supaya tidak ada anak lain yang kehilangan ibunya hanya karena hak bernafasnya tercerabut oleh para kapitalis itu.”

Kini senyum tersungging dari bibir Imka, pandangan alam yang rusak tepampang nyata di luar jendela mobil layang itu. Air laut yang menguning akibat asam yang mendominasi, udara yang berwarna terakota dan tak dapat dihirup. “Aku harus berhasil, aku mau mengubah Bumi kita sekarang yang seperti neraka ini menjadi tempat yang selayaknya.”

“Kami akan melatihmu sebelum mengirimmu kembali ke tahun 2021, menemui leluhurmu dan memastikan dia tidak melaksanakan proyek pengembangan perkebunan sawit.”

“Aku siap, demi bumi kita yang lebih baik”, ujar Imka yakin.

“Demi nafas untuk ibumu, dan ibu jutaan anak yang lain,” tegas Kapten Reki.

****

Jakarta, 2021. 00:30 WIB

Mata Bobby Soliyawan terbelalak menyaksikan kehancuran alam yang hebat, jika teknologi yang ditunjukkan dihadapannya tidak menjadi bukti bahwa apa yang ditontonnya adalah nyata, mungkin dia akan berkata, “Ah ini pasti dibuat dengan komputer grafis yang canggih, CGI!”

“Sudah kau lihat semua Bob? Sadar apa yang akan terjadi kalau kau teruskan proyek sawitmu itu?” ancam Imka.

“I.. itu, benar-benar terjadi? Di sini? Di Jakarta? Karena sawit?” tembakan pertanyaan Bobby berlangsung tanpa jeda dan arah, jantungnya masih sulit mengatur ritme yang tepat untuk berdetak.

“Apakah itu semua terjadi? Lihat ini!” Imka mengangkat bagian bawah celana panjangnya dan menunjukkan bekas luka pada tulang kering kakinya yang hampir merenggut bagian besar daging di sana. “Waktu umurku lima tahun, tak sengaja aku terkena banjir rob dari laut yang penuh asam itu. Ini oleh-oleh dari industri tak tahu diri kalian itu.”

Bobby tertegun, dia tak pernah menyadari tentang kerusakan alam. Selama ini dia selalu menuduh bahwa teori kerusakan alam adalah komoditas para organisasi pecinta lingkungan untuk mencari keuntungan. “Kamu belum menjawab, siapa kamu? Kenapa kamu yang mendatangiku?” tanya Bobby ketika dia teringat pertanyaannya yang belum terjawab.

“Aku cucumu Bob, aku hanya bisa datang ke waktu ini menemui sekali dalam seumur hidupku. Perjalanan waktu antar generasi. Hanya keturunan langsung yang dapat menemui leluhurnya. Namaku Imka, ibuku, cucumu juga, hampir mati karena tidak mampu membeli oksigen… Kamu sudah lihat di dalam video itu.”

Imka mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan perkataannya, “Tidak seperti masamu ini, yang masih mengizinkan kalian bernafas dengan gratis, tanpa masker dan tabung oksigen di punggungmu, kami tidak seberuntung kalian.”

Tanpa sadar, Bobby yang selalu melihat dirinya sebagai seorang pengusaha tangguh yang kadang-kadang tidak berhati, menitikkan air mata, “Maafkan aku, aku sama sekali tidak menyadari akibatnya.”

Imka merangkul leluhurnya itu, “Tidak perlu minta maaf, kamu belum melakukan kesalahan itu. Batalkan persetujuan itu, kembali ke bisnismu yang lain. Kalau perlu bantu kami menjadi pencegah, supaya pebisnis lain tidak melakukan kesalahan ini.”

Bobby mengangkat kepalanya, “Ya! Aku akan melakukannya! Demi kalian!”

Imka mengambil sebuah alat di sakunya, Bobby yang melihatnya tentu saja panik, “Itu alat untuk membunuhku?”

“Aduh, tenang saja, di 2121 pun alat seperti itu tidak ada. Terlalu berbahaya, aku hanya bercanda. Alat ini untuk mengaktifkan ponselmu. Sebelum aku kembali ke masa depan, aku mau memastikan bahwa kamu membatalkan proyek sawitmu itu!” tegas Imka.

“Baiklah!” sambut Bobby semangat. Tepat saat Bobby hendak menekan nomor pertama untuk diteleponnya, Imka memberikan sebuah peringatan yang keras, “Bob, jalanmu tidak akan mudah. Mungkin kamu berhenti mengembangkan sawit secara gila-gilaan, tetapi pasti ada teman-temanmu nanti yang akan tergiur dan tidak peduli dengan dampaknya.”

“Aku mengerti Imka, aku pun tahu apa saja konsekuensinya. Mungkin aku akan disingkirkan oleh mereka dari dunia bisnis ini. Tapi, siapa peduli? Aku cuma peduli warisanku untuk keturunanku. Untukmu..” jawab Bobby, menyisakan haru di hati Imka.

Imka memeluk leluhurnya sekali lagi, sebelum membiarkan Bobby menjauhi mobil untuk melakukan panggilan yang penting bagi masa depan bumi mereka.

Bobby melakukan sebuah panggilan, tak mampu menghadapi wajah Imka, dia membalikkan badannya saat melakukan setiap panggilan yang diperlukannya. Dengan suara yang menggebu-gebu, dia meminta setiap orang yang dipanggilnya lewat telepon itu membatalkan proyek pengembangan bibit dan perkebunan sawitnya.

Sesaat sesudah panggilan kelima selesai dilakukannya, Bobby membalik badannya dan siap menghibur keturunannya dari masa depan, “Lihat, kan? Untuk seorang kakek moyang aku bukan orang yang…”

Tidak ada satu pun tanda kehadiran Imka, Bobby mencari laki-laki muda itu, “Imka… Imka..” Saat dia kembali ke mobilnya, ada secarik kertas yang Imka tinggalkan untuk Bobby.

“Kami bangga padamu, Kek.

Terima kasih atas apa yang telah kau lakukan untuk bumi kami nanti.

Aku harus pulang untuk melihat hasil kerja keras kita berdua.

Salam,

Imka.

Ps: Aku sudah menelepon polisi, melaporkan ada sebuah penculikan di tempat ini. Mereka akan datang sebentar lagi.”

“Aku pun bangga padamu, Imka!” teriak Bobby tanpa sadar.

****

Jakarta, 2121

“Imka! Bangun! Mau tidur sampai jam berapa kamu? Kamu harus kuliah!” jerit pagi yang belum pernah Imka dengar dari ibunya. Biasanya, demi menghemat oksigen, ibunya hanya menepuk-nepuk tangannya untuk membangunkan.

“Bu, tumben ko teri…”, Imka tak dapat memercayai apa yang dilihatnya. Dia bangun di atas sebuah kasur yang nyaman, jendela kamarnya terbuka dan pemandangan luar kamarnya adalah laut biru yang indah.

“Tumben apa!? Ayo cepat, kamu harus berangkat kuliah!” seru sang ibu sambil meninggalkan kamar Imka.

“Bu, tabung oksigen kita kemana!?” Imka masih belum mampu memercayai apa yang dilihatnya. “Tabung oksigen? Memangnya kamu sakit asma? Atau kesulitan bernafas! Ngaco aja!”

Imka tak lagi mencoba menolak pengalaman barunya, jelas ini bumi yang begitu berbeda dengan apa yang dilihatnya terakhir kali di tahun 2121. Kalender di samping pintu kamarnya menunjukkan angka digital 2, 1, 2, dan 1, jelas dia ada di lini masa yang sama, dengan bumi yang luar biasa berbeda kondisinya.

“Hebat betul kau Bob!” ujar Imka memuji leluhurnya. Dengan girang, Imka meninggalkan kamarnya dan melihat foto wajah yang rasanya belum lama dia temui, “Itu siapa Bu?”

Memang betul, bahwa Bobby Soliyawan adalah leluhurnya, tetapi Imka ingat bahwa sampai A.I.R menemuinya di tahun 2121 yang lalu, keluarganya sama sekali tidak mengenal orang itu.

Mendengar pertanyaan itu, Ibu Imka marah bukan main, “Heh! Kok begitu! Itu leluhurmu, pahlawan dunia! Dia terbunuh saat mencoba membuka rahasia korporasi-korporasi raksasa yang ingin menggalakkan perkebunan sawit! Masa kamu lupa! Setiap tahun kita merayakan hari kematiannya dia sebagai Hari Cinta Bumi!”

Air mata Imka menetes perlahan, ternyata Bobby betul-betul memenuhi janjinya untuk melindungi buminya, “Terima kasih telah menyelamatkan bumi kami, Bob. Bukan, bukan, bukan bumi kami Bob, tetapi Bumi kita!” 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *