Cerpen #209; “Cepatlah Pulih, Bumi”

Hidup di kota membuatku merasa jenuh. Udara yang kotor, jalanan yang padat, sampah berserakan, polusi, membuatku ingin pindah ke mana saja yang nyaman dan tak membuatku jenuh. Kota, yang menurut orang- orang nyaman nan indah, namun bagiku tidak. Kota yang indah hanya gambar yang tak asli. Penuh rekayasa. Taman kota? Iya hanya taman kota yang menarik di kotaku, namun di beberapa pojokan masih terlihat sampah berserakan disana.

Di pagi hari, ku bangunkan tubuh yang sudah semalaman terbaring di tempat yang sangat aku senangi. Ku memandangi seluruh penjuru ruangan di tempat ini. “kapan bumiku akan pulih?” batinku. Di setiap pagi, aku berdoa semoga bumiku cepat pulih dan asri. Seperti biasa, aku memulai aktivitas pagi dengan menyiram tanaman di depan rumah ku, tepatnya di halaman rumah. Aku adalah salah satu mahasiswa pecinta alam. Kenapa aku harus menyiramnya? Ya, karena hujan tak kunjung datang. Tanaman- tanaman itu layu, tak berdaya. Menangis, menahan kehausan. Aku bisa apa? Aku hanya bisa mengurangi rasa haus mereka akan air.

Mandi, sarapan, lalu bersiap berjalan menyusuri kota ini.

Aku berjalan menyusuri trotoar. Ku amati seluruh jalanan ini. Kusam, tampak tak terawat. Miris. Bumiku tak sehat. Asap kendaraan dimana-mana. Dadaku sesak. Langkahku terhenti. Aku menatap langit. “kapan kau akan menyirami bumi?” batinku.

Tanah di bumi gersang, kering, serasa kurang mendapatkan perhatian dari orang-orang. Bumi menanti setetes kasih sayang dari langit.

Aku kembali melanjutkan perjalanan. Tiba- tiba, setetes air terjatuh tepat diatas kepalaku. Aku  menoleh ke atas. Tanpa aba-aba, mereka serentak menjatuhkan diri ke bumi. Semakin banyak tetesan yang terjatuh. Tanganku menyambut tetesan itu. Bunga- bunga tersenyum, menyambut tetesan air. Pohon-pohon menari. Aku tak berteduh. Ini adalah impianku. Aku menikmati hujan dan menari di bawah hujan. Perasaan bahagia berkecamuk dalam diriku. Aku menikmati setiap tetesan hujan yang jatuh. Kegelisahanku selama ini telah teratasi. Aku tertawa kegirangan bak anak kecil yang baru mendapat mainan baru. Aku terus berjalan di bawah hujan. Aku menyapa setiap pepohonan yang ada di pinggir jalan. Mereka tampak gembira.

Aku terus berjalan. Menatap langit yang sama. Berjalan di bawah hujan yang kian menderas. Langkahku terhenti. Ketika ada sebuah mobil yangmengklaksonku.

Kikikikkkkkkkkk……..

Astaga , kakiku hampir saja terperosok ke selokan. Aku ingin mengumpat. Namun, mulutku ini masih bisa kutahan. aku menoleh ke arah mobil yang berisik itu. Melihat siapa yang ada di balik mobil itu.

“Ran, cepet naik. Hujannya deres, lhoo” ucap seseorang di mobil itu.

“ Dia siapa? Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Kacamata ku berembun” batinku.

Aku terdiam. Dan mencoba mengenali suara itu. Kak Adam. Ya, aku mengenali suara itu. Aku tetap berjalan tak menghiraukan dia. Ada rasa kesal di lubuk hatiku. Kak Adam terus mengklaksoniku. Aku mulai merasa jengkel. Aku berhenti, dan menghampirinya.

“Ada apa?” jawabku ketus.

Seseorang dalam mobil itu hanya tertawa dan malah membuatku semakin jengkel kepadanya.

“ Ayo masuk. Hujan, lhoo.  Nanti sakit. Kalo kamu sakit siapa yang repot?” ucapnya.

Akhirnya dengan sangat terpaksa, aku masuk ke mobil itu.

“ Tapi gak papa ya, aku basah, lhoo” tanyaku.

Ia hanya mengangguk, dan mempersilahkan ku masuk. He treat me like a queen. 

Selama perjalanan aku hanya diam. Tak berkata sepatah kata pun.

“ Aku tau, kamu marah sama kakak”

Aku hanya diam, dan menatap ke jalanan. Hujan belum reda, namun suasananya terasa panas.

Aku sangat marah pada kak Adam, karena ia tak menyukai jika aku dekat dengan tanaman.. Aku tak tahu apa alasannya, tapi aku sangat marah kepadanya. Tapi kenapa aku harus izin kepadanya?

“ Aku berhenti di depan” ucapku, setelah melihat tulisan toko tanaman untuk penghijauan. Aku berniat membeli beberapa tanaman untuk di tanam di depan rumah ku. Karena menurutku, jika kita ingin melakukan perubahan pada dunia, kita harus memulai dari diri kita sendiri dan lingkungan sekitar.

Kami berhenti tepat di depan toko tersebut. Kak Adam pun ikut turun. Aku mengernyitkan alis. “ Kenapa dia ikut turun? Bukankah dia tidak menyukai tanaman? Melihatnya saja kadag membuatnya jijik.” Batinku.

“ Kenapa?”

Aku hanya melihatnya, tak menjawabnya. Aku tak mempedulikannya. Aku memilih-milih tanaman yang bagus dan cantik.  Aku memilih beberapa pohon untuk aku beli. Aku memilih pohon damar, angasana dan mahoni. Aku memberikan alamatku kepada kurir yang akan mengirimkan pesananku.

Rupanya kak Adam juga membeli tanaman. Aku hanya melirik dan berkata “Aku sudah selesai, jadi aku pulang duluan” ucapku.

Namun kak Adam menahan tanganku. “ Apa ini? Kenapa jantungku berdetak sangat cepat?”

“Kakak ingin menitipkan bunga peony ini. Aku tahu kamu pasti bisa merawatnya, dan kamu adalah orang yang tepat untuk merawatnya” jelasnya sambil menyerahkan bunga peony.

Bunga peony? Kenapa harus bunga peony? Bunga peony merupakan salah satu bunga paling populer yang dipakai sebagai lambang cinta.

“Apakah Kak Adam memiliki perasaan untukku?” batinku.

“ Ayo pulang. Aku antar”

Aku hanya mengangguk dan berjalan di belakangnya. Jantungku masih belum tenang. Aku mencoba mengatur detak jantungku. Tak berhasil. Sepanjang perjalanan jantungku berdetak dengan sangat kencang.

Sesampainya dirumah, rupanya tanaman yang aku beli tadi, sudah ada di depan rumahku. Aku sangat senang, aku langsung mengambil peralatan berkebunku. Sampai kak Adam aku hiraukan.

Kak Adam tertawa melihat tingkahku yang kegirangan. Aku menanam semua pohon yang aku beli tadi. Aku menaruh harapan pada setiap pohon yang aku tanam, agar dapat tumbuh dengan baik. Aku berharap dengan tumbuhnya pohon-pohon yang aku tanam, bisa mengurangi udara buruk dan mencegah banjir yang hampir terjadi di setiap musim penghujan di kota ku.

“Kakak juga ingin ikut berpartisipasi dalam perubahan yang kau lakukan” ucapnya.

“Maaf kalo selama ini kakak gak ngebolehin kamu merawat tanaman. Karena kakak memiliki trauma tentang tanaman. Adik perempuan kakak dulu meninggal karena menelan tanaman kuping gajah yang ada di teras rumah. Saat itu, dia tidak ada yang mendampingi” jelasnya.

Pantas saja selama ini ia menyuruhku untuk jauh-jauh dari tanaman. Rupanya ia memiliki alasan.

“ Namun berkatmu. Aku kembali mecintai tanaman dan menyukai tanaman” lanjutnya.

Aku hanya tersenyum.

Nenekku yang berada di desa menelepon. Ia mengatakan kalau di desa sekarang musim hujan. Di desa semakin hijau katanya. Aku tak sabar ingin mengunjungi desa. Biasanya disana sangat asri dan sejuk. Namun liburanku belum tiba, jadi aku harus bersabar menanti libur tiba.

Kali ini aku tak perlu menyiram tanamanku, karena sudah musim penghujan. Namun, miris di musim ini banyak terjadi banjir dan longsor. Untunglah di kawasanku yang masih agak hijau, banjirnya hanya sedikit tak sampai mengganggu aktivitas kami. Aku mendengar di berita, bahwa di pusat kota sedang terjadi banjir yang sangat tinggi, maklumlah di pusat kota hanya ada beberapa pepohonan yang tertanam disana. Bahkan bisa ku hitung jumlah pepohonan di perkotaan. Pengguna kendaraan yang padat membuat polusi udara semakin meningkat dan memperburuk oksigen yang kami hirup.

Aku berharap, semoga para pihak berwajib sadar akan pentingnya reboisasi. Kita seharusnya mencintai bumi. Bukan malah merusaknya. Aku berharap dengan adanya perubahan kecil yang aku lakukan dapat menginspirasi orang lain, untuk ikut melalukan peubahan terhadap bumi tercinta. Ayo lakukan perubahan untuk bumi.

12 thoughts on “Cerpen #209; “Cepatlah Pulih, Bumi”

  1. Sangat bagus dan mampu menghidupkan minat baca yang tinggi, karena di lihat dari judulnya saja sudah sangat mewakili keadaan kehidupan saat ini.

  2. Ceritanya bagus. Bisa menginspirasi aku untuk mulai menulis lagi. Aku juga berharap orang-orang yang membaca cerpen ini mencintai bumi tercinta kita.

  3. Penyampaian cerita yang cukup bagus.Namun masih terdapat beberapa aspek yang bisa lebih di improvisasi seperti pengurangan intonasi yang terkesan formal.overall bagus

  4. Plot twistnya keren pas di prolog ada sedikit argumen tentang situasi bumi yang sebenarnya,tapi semakin dibaca lebih lanjut mengarah ke genre romance,bahasa yang digunakan juga mudah dimengerti,nice pat :v

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *