Cerpen #208; “KEMBALI KE MASA LALU”

Bumi, 25 Desember 2115. Tepat hari ini natal kembali datang ke planet kecil di Tata Surya, Bumi. Namun, yang membedakan natal kali dengan natal-natal sebelumnya adalah apa yang turun dari langit di malam natal. 50 tahun yang lalu pada tanggal yang sama adalah hari di mana manusia mengalami kiamat iklim untuk pertama kalinya. Langit di hari natal yang biasanya menurunkan salju di belahan bumi utara, kini menurunkan hujan hitam yang disebut Black Rain, tidak ada lagi salju turun semenjak hari itu hingga sekarang. Black Rain terjadi akibat tingginya tingkat konsentrasi debu dan gas rumah kaca di atmosfer yang turun melalui air hujan.

Di belahan Bumi lainnya, tepatnya di Australia dan Selandia Baru, tidak ada yang namanya perayaan natal. Bukan karena tidak ada lagi yang memercayainya, bukan pula karena aturan pemerintah, tapi karena sudah tidak adanya lagi manusia yang tinggal di Australia. Benua Australia kini sepenuhnya menjadi daratan yang tandus, berpasir, dan dipenuhi air asin. Hanya sebagian kecil tumbuh-tumbuhan dan serangga kecil yang hidup di lingkungan yang sangat ekstrem ini. Di Selandia Baru sekalipun hanya beberapa peneliti yang menempati sebagian besar wilayah utara untuk mempelajari iklim lebih lanjut.

Beberapa hari sebelumnya di 100 tahun yang lalu, umat manusia mendeklarasikan Persetujuan Paris 2015 yang berisi tujuan manusia untuk mencegah krisis iklim dengan menahan laju peningkatan suhu global di bawah 1,5 ̊ C. Namun, pada kenyataannya hal tersebut tidak dilakukan sama sekali. Suhu global naik sebesar 3 ̊ C pada tahun 2030, 2× lipat dari standar Perjanjian Paris pada 15 tahun sebelumnya. Negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat dan Jepang serta negara-negara besar lainnya seperti Indonesia, Cina mengangkat tangan mereka dan menyatakan bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas kenaikan suhu global, padahal mereka-mereka adalah negara-negara yang punya andil besar dalam menyebabkan pemanasan global.

Pada Desember 2050, PBB menggelar pertemuan besarnya dengan tujuan untuk mengendalikan krisis iklim yang dihadiri oleh seluruh negara anggotanya kecuali, Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Indonesia. Pertemuan dimulai dengan pembacaan negara-negara yang telah dinyatakan hilang atau hancur, baik karena krisis lingkungan maupun negara yang tenggelam akibat kenaikan muka air laut yang didominasi oleh negara-negara yang justru mempunyai tingkat emisi dan pencemaran rendah seperti negara-negara di Afrika dan negara-negara di Samudra Pasifik.

Kala itu, pertemuan diakhiri dengan kesepakatan bahwa semua negara harus memaksimalkan pembangunan berkelanjutan baik dari sektor energi sampai ekstraksi sumber daya alam serta meminimalkan, bahkan menghilangkan jika mampu hal-hal yang terkait dengan pencemaran dan keluaran emisi karbon. Tentu saja hal tersebut tidak dipatuhi oleh negara-negara yang tidak mengikuti pertemuan tersebut seperti Cina, Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia yang justru terus menaikkan keluaran emisi dengan dalih pembangunan, energi, produksi, dan kebutuhan penduduk.

Dalam 100 tahun berikutnya selepas Perjanjian Paris, Bumi menjadi semakin rusak dan tercemar. Banyak negara yang tidak mampu mengendalikan kondisi negaranya sendiri akibat masalah lingkungan yang menimbulkan kelaparan di segala tempat. Belahan Bumi bagian Selatan, terutama Australia dan Afrika Selatan tidak lagi bisa ditempati oleh manusia. Es Kutub kini hanya ada di Pegunungan Antartika dan Kutub Utara telah sepenuhnya mencair. Maladewa, Kepulauan di Pasifik, Belanda, Italia, Inggris, serta Negara-negara di perairan Karibia telah tenggelam oleh air laut dan dinyatakan telah hilang selamanya. Krisis lingkungan kini tidak lagi dapat diubah atau dikendalikan, semua negara telah pasrah akan kondisi Bumi dan tinggal menunggu kiamat terjadi.

Berangkat dari kondisi Bumi yang sudah tidak tertolong lagi. PBB menyetujui penggunaan mesin waktu yang hanya ada satu di dunia untuk membawa seseorang ke dunia modern. Pada awal penemuannya di Jerman, keberadaan mesin waktu langsung dijaga ketat oleh pemerintah setempat dan segera diambil alih kepemilikannya oleh PBB karena dinilai dapat merusak sejarah manusia, serta hanya diizinkan untuk digunakan ke masa-masa manusia belum ada di Bumi, yaitu masa pra-sejarah dengan prosedur dan tujuan ketat hanya untuk ilmu pengetahuan.

Pada Januari 2120, mesin waktu akhirnya digunakan oleh seorang diplomat PBB yang mewakili Bumi dan dia dibawa ke tahun 2013, 2 tahun sebelum Perjanjian Paris dilaksanakan. Misinya adalah untuk berkunjung secara rahasia ke berbagai negara dan memengaruhi banyak kepala negara dan politisi lainnya untuk berkomitmen menjaga Bumi dan membawa komitmen tersebut ke Pertemuan Paris pada 2015.

Pada awalnya, misinya menemui banyak kendala, dia diincar oleh banyak organisasi dan intel-intel banyak negara karena teknologinya, bahwa dia hampir terbunuh pada saat berada di Rusia. Perjalanan pertamanya adalah berkunjung ke negara tempat mesin waktu itu dibuat, Jerman. Dia menyampaikan pesan dari penduduk Bumi tahun 2116. Pesannya diterima dan disambut baik oleh Jerman yang langsung mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk menanggulangi krisis iklim 3 bulan pesan tersebut sampai, Jerman juga terus mendorong perkembangan teknologi bersih dan efisien beberapa tahun setelahnya dan terbukti dengan Jerman menjadi salah satu suaka pengungsian penduduk Bumi ketika bencana banjir global akibat krisis iklim terjadi di tahun 2075.

Perjalanan keduanya adalah menuju negara Jepang. Pada mulanya, dia mengira Jepang dengan kemajuan teknologinya akan menerima pesannya dengan baik. Namun, hal yang terjadi adalah sebaliknya. Dia diusir dari Jepang 3 hari setelah menyampaikan pesannya dan Jepang justru malah semakin bersikukuh dengan keputusannya dalam memburu mamalia laut dan predator lainnya yang membuat keseimbangan ekosistem laut menjadi terganggu dan banyak karang-karang hancur di banyak tempat akibat kegiatan perikanannya tersebut.

Setelah dia menerima pemberitahuan pengusiran dari Jepang, dia justru langsung dijemput oleh India dan dijamu sedemikian rupa baiknya. Berbeda dengan yang dialaminya di Jepang, dia justru diterima dengan baik di India, bahkan banyak ilmuwan-ilmuwan India yang dengan rahasia diundang untuk bertemu dengan penjelajah waktu tersebut untuk mengambil banyak ilmunya mengenai teknologi pertanian dan energi terbarukan. Hal ini terbukti dengan India menjadi salah satu negara penyumbang bahan pangan terbesar di dunia pada 2050 sampai 2100 dengan memberikan sebanyak 100 juta ton pangan ke berbagai negara dunia yang terdampak krisis iklim. Bahkan pasokan listriknya diekspor ke negara-negara tetangganya dan menjadikan India sebagai negara paling terang di Bumi pada tahun 2115.

Sehabis dari India, dia pergi ke banyak negara-negara di Belahan Bumi Selatan, seperti Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan. Dia mengingatkan negara-negara tersebut untuk menggunakan air tanahnya sebijak mungkin karena di 100 tahun yang akan datang, negara-negara tersebut akan menjadi negara yang tandus dengan minim air untuk menyokong kehidupan manusia, terutama Australia yang menggunakan banyak airnya untuk kegiatan pertanian dan peternakan.

Kunjungan selanjutnya adalah ke Asia Tenggara, yang mana pada 100 tahun ke depan akan menjadi negara dengan krisis lingkungan tertinggi, mulai dari pencemaran air, polusi, pencemaran tanah, limbah yang bersamalah, degradasi pesisir pantai, penggundulan hutan, banjir, longsor, krisis air bersih, hingga krisis kelautan dengan hilangnya banyak terumbu karang. Pertemuan dilakukan di Singapura dengan dihadiri oleh seluruh negara ASEAN, kecuali Indonesia yang berhalangan hadir dengan alasan sedang diadakan Pemilihan Presiden di negara tersebut. Hal ini cukup disayangkan, karena baik saat ini maupun 100 tahun mendatang, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil limbah dan emisi terbesar di dunia, tidak ada langkah konkrit baik dari pemerintah maupun masyarakatnya yang menjamin perlindungan lingkungan.

Setelah hasil pertemuan diterima baik oleh para anggota ASEAN, kecuali Indonesia. Penjelajah waktu tersebut melanjutkan perjalanan ke Amerika Selatan, tepatnya adalah Brazil yang pada 100 tahun ke depan menjadi negara dengan tingkat deforestasi tertinggi di dunia dan menjadikannya sebagai satu-satunya negara bergurun pasir di Amerika Selatan. Pertemuan dengan pemimpin pemerintahan Brazil membuahkan hasil berupa kebijakan kehutanan yang pro-rakyat terutama bagi masyarakat pedalaman Amazon, banyak perusahaan yang dicabut izin menebangnya setelah pertemuan tersebut dilakukan.

Tahun 2014, 1 tahun sebelum pertemuan Paris dilaksanakan. Dia, penjelajah waktu tersebut melakukan kunjungan terakhirnya ke Cina dan Amerika pada bulan Maret dan Juli. Dia menyampaikan pesan kepada kedua negara adidaya tersebut tentang keadaan Bumi yang luluh lantah pada 100 tahun mendatang dan kedua negara tersebut adalah penyebab sekaligus korbannya sendiri. Proyek Transfer Air Selatan-Utara Cina yang diyakini dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya di utara justru malah membuat sungai utama di wilayah selatan menjadi mengering dan membuat wilayah selatan menjadi kekeringan yang mengakibatkan bencana kelaparan secara berkepanjangan di Cina.

Di Amerika Serikat sendiri yang terlalu bergantung pada sumber daya tak terbarukan, seperti minyak dan gas akan mengalami krisis energi pada 5-10 tahun ke depan dan menjadi berhenti total keseluruhan industri negara tersebut pada tahun 2075 yang berakibat pada demonstrasi besar-besaran di seluruh negara bagian. Banyak fasilitas publik hancur dan Amerika Serikat akan menjadi salah satu negara termiskin di Dunia pada tahun 2110.

Dengan pertimbangan keadaan di masa depan masing-masing negara tersebut, pada akhirnya kedua negara tersebut sepakat untuk dengan segera mengubah kebijakan lingkungan dan energinya serta mendorong industri bersih beremisi rendah sebagai penyokong ekonomi negaranya. Kedua negara besar yang menjadi faktor penyebab terbesar pula pada 100 tahun mendatang mulai melunak dan berubah haluan untuk mendukung upaya pencegahan bencana iklim global di masa depan.

Semoga dengan berubahnya kedua negara tersebut 

akan menjadi titik perubahan sejarah dalam penanganan krisis”

Begitu pertemuan ke berbagai negara selesai, dia berangkat ke Afrika untuk menjadi aktivis lingkungan di sana, sekaligus mengobservasi lingkungan Afrika yang berubah drastis pada 100 tahun yang akan datang. Sebagian Sahara menjadi Hutan, bagian selatan Afrika mengering, dan banyak hewan-hewan layaknya Badak Afrika dan Gajah Afrika telah punah.

7 Hari sebelum pertemuan Paris dimulai, dia diundang oleh pemimpin PBB saat itu untuk menyampaikan pesannya kepada penduduk Bumi saat ini akan kondisi Bumi 100 tahun yang akan datang. Demi menunaikan misinya dari masa depan, akhirnya dia memutuskan untuk melakukan pidato di depan seluruh pemimpin dunia serta disiarkan secara langsung ke seluruh siaran televisi di seluruh Dunia. Dia menyampaikan pesan dari masa depan bagaimana bentuk muka Bumi berubah sedemikian rupa rusaknya akibat ulah dari manusia. Dia berharap agar seluruh masyarakat Bumi saat itu dapat menyadari bencana krisis iklim yang akan terjadi di masa depan.

Seminggu pasca Perjanjian Paris 2015, penjelajah waktu tersebut akhirnya memutuskan untuk kembali ke masa depan dan terus mengingatkan penduduk Bumi untuk konsisten dan berkomitmen terhadap penanganan lingkungan. Dia berharap bahwa apa yang telah dilakukannya di masa lalu dapat mengubah keadaan di masa depan. Di dalam perjalanannya dia melihat sebuah percabangan ruang dan waktu. Dia melihat bahwa terdapat kemungkinan bahwa kondisi Bumi akan berubah di masa depan.

Sesampainya di tahun 2116, dia malah menemui kekecewaan yang tertanam di wajah para ilmuwan dan para pemimpin dunia. Bumi tidak menjadi lebih baik sama sekali, bahkan hampir tidak ada perubahan sama sekali di permukaan Bumi, selain fakta bahwa krisis iklim tetap terjadi.

Apa yang telah dilakukan oleh penduduk Bumi 100 tahun yang lalu?”

“Apakah mereka tidak ada niatan untuk berubah sama sekali?”

“Apakah mereka mengabaikan pesan yang telah disampaikan?”

Dan seribu pertanyaan lainnya. Hingga pada akhirnya umat manusia terus berjalan menuju ke arah kehancuran dan kiamat yang telah dibuatnya sendiri. Manusia tidak pernah belajar atas apa yang akan ditimbulkan oleh perilakunya, manusia baru menyesal setelah apa yang ditakutkannya telah terjadi dan tidak dapat diperbaiki kembali. Kini hanya tinggal menghitung tahun demi tahun untuk manusia mencapai periode kepunahannya yang diakibatkan oleh dirinya sendiri.

Pesan dari umat manusia tahun 2115

Kami, anak-cucumu berharap yang terbaik darimu.”

“Kami, tidak dapat memperbaiki kerusakan ini sendiri.”

“Kami, butuh bantuan kalian untuk mengatasi hal ini.”

“Tolong kami menangani hal ini, agar tidak makin meluas.”

“Krisis iklim ini tidak dapat kami hindarkan.” 

“Tidak ada lagi masa depan.”

“Tidak ada lagi harapan.”

“Selamat tinggal umat manusia.”

~ TAMAT ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *