Cerpen #207; “MANUSIA YANG MENCARI DARATAN”

Hujan turun dengan deras ketika kapal itu berlabuh di sebuah pulau yang tampak tak berpenghuni. Setelah menambatkan tali di bebatuan dan menurunkan jangkar, orang-orang dari kapal itu turun secara bergantian. Tampak empat orang berjalan beriringan dengan setelan jas hujan lengkap. Dua orang pria dan dua orang wanita. Seorang pria berumur 36 tahun dan tiga orang lainnya berumur hampir tiga puluh tahun.

Pria paling tua dengan kumis tipis tampak melihat sekeliling dan berkata, “Akhirnya kita menemukan daratan,” katanya dengan suara keras, mencoba menyaingi suara hujan. “Kita akan mencari tempat bermalam dan menyalakan api unggun.”

“Kurasa kita akan kesulitan mencari tempat bermalam, Kapten! Mengingat hujan cukup deras dan tidak adanya tempat untuk bernaung selain di kapal,” kata wanita berambut pendek itu di samping Kapten Joko.

“Menurutmu kita harus ke mana, Maya?”

“Entahlah, Kapten.”

“Bagaimana kalau kita berjalan ke atas bukit. Mungkin di sana ada gua atau semacamnya,” ujar pria botak bernama Hans sambil menuding bukit bebatuan di depan mereka.

“Semoga kau tidak menyesatkan kami, seperti kau membawa kami ke segitiga bermuda. Karena ulahmu, kompas kita hanya berputar-putar saja,” timpal wanita berambut panjang.

Hans mendelik ke arah Vena yang ada di belakangnya, “Kau ada masalah denganku? Dasar perempuan usil.”

“Kau ingin berkelahi denganku! Dasar botak!”

Kapten Joko menoleh ke arah teman-temannya. “Sudah, jangan bertengkar! Ingat, tugas kita mencari daratan dan melakukan observasi.”

Mereka bertiga membisu.

Kapten Joko melihat Maya dan berkata, “Maya, kau catat kata-kataku nanti, bahwa hari ini tanggal 04 November 2121, kita telah menemukan daratan. Tanpa nama. Dan juga daratan ini belum terlihat adanya tanda-tanda kehidupan. Ditambah hujan turun dengan deras.”

“Ada lagi, Kapten?”

“Kurasa itu saja dulu.”

“Baik, Kapten. Akan saya catat untuk laporan ekspedisi kita.”

Kapten Joko pun melihat dataran yang lebih tinggi, ia pun berjalan ke arah sana. Ketiga orang tersebut mengikuti Kapten Joko.

***

Sudah tiga hari mereka tinggal di gua dan selama itu pula hujan tidak pernah berhenti. Hujan selalu turun tanpa kenal waktu dan membasahi pulau itu tanpa ampun. Pulau yang baru saja mereka temukan setelah sekian bulan purnama mencari. Empat orang tersebut merupakan orang-orang pilihan yang ditugaskan untuk mencari daratan yang masih tersisa di Bumi. Ya, mencari daratan. Karena pemanasan global dan akibat efek rumah kaca, menyebabkan es di Kutub Utara dan Kutub Selatan mencair dan menaikan volume air di Bumi. Tak ada lagi es abadi, yang ada hanya cairan yang menyelimuti planet Bumi.

Ketika orang-orang merasakan bahwa Bumi tidak baik-baik saja, sebagian orang membuat bahtera. Sebagian lagi menganggapnya sebagai angin lalu. Pada tahun 2067, pemanasan global semakin parah. Pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batubara tetap merajalela meskipun sudah dilarang, dan banyaknya kendaraan mengeluarkan gas karbon monoksida, hal ini menyebabkan efek rumah kaca dan mencairkan es-es di muka bumi. Selain itu juga, akibat pemanasan global dan efek rumah kaca, membuat perubahan iklim dan cuaca di berbagai tempat. Suatu kali, gelombang air besar pun datang dan menghanyutkan orang-orang, hewan-hewan, dan bangunan. Orang-orang pun selamat karena percaya dan menaiki bahtera yang telah dibangunnya. Diketahui terdapat tujuh bahtera di Dunia, dengan masing-masing diisi oleh 50.000-100.000 orang per bahtera. Masing-masing bahtera juga membawa hewan ternak dan bijian-bijian untuk dikonsumsi.

Mereka berempat duduk melingkar di dalam gua. Sebuah api unggun dari briket kotoran sapi menyala di sana.

“Aku ingin pulang,” protes Vena. “Aku tidak tahan ada di sini. Hujan terus turun dan makanan kita menipis. Di bahtera, meskipun hujan jarang turun, setidaknya kita masih bisa hidup.”

“Bersabarlah. Mungkin beberapa jam lagi hujan akan berhenti,” ungkap Hans sambil merapatkan tubuhnya di api unggun.

Kapten Joko melihat ke luar gua. Malam atau siang sama saja baginya, matahari tidak benar-benar terlihat. Kapten Joko pun memegang cincin di jari manisnya. Sebuah cincin pernikahan. Sekilas, kenangan akan istrinya, Jihan, dan anaknya, Yuni, melintas di benaknya. Kapten Joko juga ingin pulang. Kapten Joko juga ingin menemui keluarganya. Namun, tugas yang diemban olehnya tidak dapat dibiarkan begitu saja. Ia harus memastikan apakah daratan ini dapat ditinggali atau tidak. Setelah itu, mereka akan kembali ke kapal dan kembali ke bahtera.

Maya melihat Kapten Joko, “Kita harus bagaimana Kapten? Kita belum melakukan observasi sama sekali di sini. Jika begini terus, kita tidak akan membuahkan hasil apa pun.”

Kapten Joko melihat Maya, “Untuk berapa lama makanan kita?”

“Masing-masing orang sekitar tiga hari lagi.”

Kapten Joko berpikir sesaat. Raut mukanya tampak serius disinari cahaya api unggun. Semua orang menunggu keputusan apa yang akan Kapten Joko ambil.

“Baiklah, kita harus melakukan obesrvasi di pulau ini. Kita catat berapa luas dan apa saja yang ada di sini. Untuk mempercepat pencarian, kita bagi menjadi dua tim. Aku dan Maya akan berjalan ke arah barat, kalian berdua berjalan ke arah timur. Dua hari lagi kita kembali ke gua ini. Esoknya kita pulang ke kapal.”

“Tapi Kapten, kurasa sebaiknya kita bersama-sama. Agar bisa saling menjaga,” ujar Vena sambil melirik Hans. Gagasan Kapten Joko adalah sebuah penyiksaan bagi Vena, karena dirinya sangat membenci Hans dan harus satu tim dengannya.

“Makanya, kau dan Hans bersama. Kalian harus saling menjaga. Jangan terpisah.”

Hans tertawa kecil, “Kenapa? Apakah kau takut bersama denganku?”

“Hiii… jijik….” ujar Vena sambil melengos.

“Ingat! Kita melakukan observasi seperlunya dan kembali ke sini. Apakah ada pertanyaan?”

Mereka bertiga tidak menjawab, tapi raut mukanya tampak setuju, karena tidak ada pilihan yang lain.

“Baiklah, mari kita beristirahat. Karena besok adalah hari yang melelahkan.”

***

Hans dan Vena sudah berjalan hampir seharian hingga mereka menemukan sebuah gua di ujung daratan. Mereka berdua masuk dan melihat ke dalam gua. Mereka berdua saling berpandangan, karena mereka melihat adanya tanda-tanda kehidupan di dalam gua. Mereka pun menyalakan obor yang ada di dalam gua. Terlihat pula bekas abu pembakaran yang sudah cukup lama di sana. Di dekat abu tersebut terdapat sebuah buku catatan. Hans pun mengambilnya dan melihat sekilas tulisan di sana. Vena berjalan menyusuri gua tersebut lebih dalam. Ia berjalan dengan perlahan dalam remang-remang. Sekonyong-konyong Vena berteriak kencang. Hans pun terloncat dan segera menyusulnya.

“Ada apa?”

“Itu, ada tulang manusia di sana.” Vena pun menuding tulang-tulang yang berserakan di sudut gua.

“Sepertinya beberapa orang sudah melakukan observasi, tetapi mereka tidak selamat.”

“Kau benar. Mungkin saja mereka adalah orang-orang yang pergi sebelum kita.”

Hans pun menunjukkan sebuah buku catatan yang ia temukan di dekat abu pembakaran. Vena pun melihatnya, lalu mengambilnya.

“Apa ini?”

“Kurasa buku ini adalah buku milik salah seorang dari mereka.” Hans pun menuding tulang-tulang di depannya.

Vena pun memperhatikan dengan saksama, kemudian ia membacanya sekilas. Ia pun membuka halaman terakhir dari buku itu. Mungkin tulisan ini adalah pesan terakhir dari mereka, pikir Vena.

8 Agustus 2101

Aku menulis pesan ini sebagai catatan terkahir kami. Kami sudah melakukan penelitian dan observasi di pulau ini. Semua tertulis di catatan ini. Namun, ketika kami ingin pulang, kapal kami hancur dihantam badai. Satu-satunya cara untuk selamat adalah bertahan hidup di pulau ini. Tapi, dengan tidak adanya makanan dan hujan yang turun terus-menerus, ditambah beberapa dari kami demam parah, membuat kami tidak bisa apa-apa.

Aku menuliskan surat ini sebagai pengingat. Bahwa ini adalah kesalahan orang-orang masa lalu. Jika saja mereka tidak melakukan hal bodoh, mungkin manusia bisa hidup bahagia di daratan dan tidak tinggal di bahtera.

Semoga kalian yang membaca catatan ini pulang dengan selamat ke bahtera kalian. Jika kalian selamat, sampaikan salam sayangku untuk keluarga kecilku di bahtera. Untuk anak-anakku dan istriku yang tercinta, maaf, Ayah tidak bisa pulang.

Salam.

Witan Kosasih

Hans dan Vena saling berpandangan. Apa yang mereka temukan mungkin berita baik, tetapi juga berita duka bagi mereka. Hans pun mengambil sekop kecil dari ranselnya. Ia pun menggali dan menguburkan tulang-tulang itu. Lalu, Hans dan Vena pun berdoa bersama di depan kuburan itu. Setelah berdoa, Hans melihat Vena. Ia tahu, air muka Vena tampak tidak siap menghadapi kejadian yang baru saja ia alami. Hans pun mencoba menenangkannya dan berkata, “Kita bermalam dulu di sini. Esok kita pulang dan menunggu Kapten Joko di gua.”

“Kau benar. Mungkin buku ini cukup untuk memberikan petunjuk tentang pulau ini.”

***

Kapten Joko dan Maya menemukan sesuatu di ujung daratan. Sebuah sekoci penyelamat untuk satu orang. Dengan keadaan lusuh tetapi dapat digunakan jika diperlukan.

“Sepertinya ada orang yang pernah ke sini, Kapten.”

“Ya, kau benar. Orang-orang tersebut meninggalkan kapal, kemudian kapalnya hancur karena badai. Dan hanya sekoci ini yang tersisa,” ungkap Kapten Joko sambil melihat puing-puing kapal di dekat sekoci.

“Kau lihat sekeliling tempat ini,” lanjut Kapten Joko sambil menuding ke arah sekeliling. “Sepertinya tempat ini adalah perairan. Kemungkinan besar daratan yang kita injak sekarang pernah di selimuti air setinggi beberapa meter.”

“Artinya, kapal ini hancur di perarian dan tenggelam. Namun, karena air menyusut, kapal ini dapat kita temukan.”

“Kurasa begitu.”

“Bagaimana tempat gua kita Kapten? Apakah air akan sampai ke sana? “

“Sepertinya tidak. Hanya saja, tempat ini lebih rendah dari daerah timur.”

Maya mengamati sekoci tersebut di bawah guyuran hujan. Ia memeriksa perlengkapan makan, mencari makanan yang mungkin bisa di makan, tapi sebagian besar makanan tersebut sudah kedaluwarsa. Hanya beberapa yang dapat dimakan.

“Sekarang bagiamana Kapten?”

“Aku akan membawa sekoci ini. Mungkin saja berguna. Untuk malam ini, kita bermalam di sana, di bawah bebatuan bukit itu. Esok hari, kita akan kembali ke gua.”

“Apakah Kapten benar-benar ingin membawa sekoci ini? Bukankah sekoci ini tidak berguna?”

“Entahlah, aku merasa harus membawa sekoci ini.”

Maya pun tidak memprotes lagi. Ia pun mengikuti perintah Kapten Joko.

***

Hans dan Vena menuruni bukit dengan perlahan. Hujan mengguyur mereka meskipun tidak sederas hari-hari sebelumnya. Hans dan Maya tidak banyak bicara setelah kejadian di gua. Kejadian itu benar-benar mengguncang mereka. Mereka sadar, apa pun yang terjadi di sini dapat dengan mudah membunuh mereka.

Vena pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, “Botak, apakah kita akan selamat di pulau ini?”

“Tentu saja. Kita pasti akan pulang dengan selamat.”

“Semoga saja kita akan pulang dengan selamat. Karena aku tidak mau mati di pulau ini.”

“Kenapa kau takut mati di sini? Bukankah mati di sini atau di bahtera sama saja. Sama-sama mati. Sama-sama koit.”

“Entahlah. Kurasa mati di sini bukanlah pilihan bagiku.”

“Ya, kau benar. Mungkin mati di sini adalah pilihan terburuk yang harus kita terima. Mau tak mau, seandainya kita harus mati di sini, kita hanya bisa menerimanya dengan terpaksa.”

Vena pun sesaat teringat akan keluarga dan tunangannya di bahtera. Mengikuti ekspedisi ini adalah impiannya untuk melihat dunia. Impiannya untuk merasakan kehidupan di luar bahtera. Namun, setelah sampai di pulau ini dan melihat kejadian kemarin, membuat tekad dan mimpinya goyah. Ia ingin pulang agar bisa berkumpul bersama keluarga. Ia juga ingin menemui kekasihnya, Pongky, dan menikahinya. Hanya itu yang ada di benaknya saat ini. Namun, takdir juga tidak bisa ditolak. Jika dia harus mati di sini, dia harus siap. Karena dia tidak punya pilihan lagi.

“Hei, Hans, maukah kau berjanji.”

“Janji apa?”

“Jika aku mati di sini, kau akan menemaniku.”

“Kau bercanda?”

“Aku serius. Maukah kau menemaniku?”

“Tentu saja. Tapi aku pastikan kau dan aku tidak akan mati di sini.”

Mereka pun melanjutkan perjalanan. Mereka pun berjalan di sisi jurang sambil berpegangan pada bebatuan. Mereka pun melangkah dengan hati-hati agar tidak tergelincir. Seketika, tempat pijakan Vena terasa licin, ia pun tergelincir dan jatuh ke jurang. Hans mencoba menangkap Vena sebelum jatuh, tapi sia-sia saja. Tubuh Vena meluncur deras menggesek bebatuan bukit. Jas hujannya pun robek sebagian dan kaki kanannya pun patah. Vena pun pingsan di dasar jurang yang tingginya hampir sepuluh meter.

Hans dengan sigap mengeluarkan tali dan menambatkannya di sebuah batuan. Lalu, ia mengikat tali terebut di tubuhnya. Tanpa ragu-ragu Hans pun turun ke dasar jurang. Tubuh Vena terbujur kaku. Luka lecet membekas di tangan dan kakinya. Hans pun langsung memeriksa Vena dengan saksama. Hans masih dapat merasakan napas dan denyut jantungnya. Segera Hans membebat kaki Vena yang patah tadi, lalu mengikat Vena di tubuhnya. Hans pun naik ke atas jurang dengan membawa Vena di punggungnya. Dengan susah payah, Hans pun sampai di atas. Kemudian, ia membaringkan Vena dan berusaha menyadarkan Vena.

“Hei, bangun! Bangun!” ucap Hans sambil mengguncang-guncang tubuh Vena.

Tak berapa lama, Vena pun sadar. Ia merasakan nyeri di kaki kanannya dan memar di rusuknya. Hans segera mengambil jas hujan cadangannya untuk menyelimuti Vena.

“Apa… Apa yang terjadi Hans?”

“Kau jatuh dari jurang dan kakimu patah.”

Air mata Vena pun meleleh di bawah hujan. Mungkin ini sudah takdirnya untuk mati di sini, pikirnya.

“Hei jangan menangis. Aku akan menggendongmu sampai ke gua. Tinggal beberapa puluh kilometer lagi kita akan sampai. Kau bertahanlah.”

“Tidak Hans! Tinggalkan saja aku di sini. Aku hanya akan menghambatmu saja. Lagi pula, kau harus hidup.”

“Kau bicara apa? Kau masih bernapas. Artinya kau masih hidup. Aku akan membawamu ke gua. Kau diam saja.”

Vena pun pasrah. Hans pun menaruh ranselnya di depan dan menggendong Vena di punggungnya. Mereka pun berjalan menembus hujan yang tampak semakin menderas.

***

Maya menulis sesuatu di buku catatan dan Kapten Joko melihat arang yang dimakan api di depannya. Api unggun itu tidak terlalu besar, tapi cukup menghangatkan mereka berdua. Tampak hujan tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Mereka hanya terdiam sambil menghabiskan malam.

Sekilas Kapten Joko melihat Maya. Maya adalah adik temannya, Herman, yang tewas karena sakit kanker. Ibu Maya meninggal karena sakit demam parah ketika umur Maya sepuluh tahun. Ayah Maya tak pernah kembali ketika ia menjadi peserta ekspedisi pertama. Saat itu umur Maya baru delapan tahun. Maya pun hidup sebatang kara. Di mata Kapten Joko, Maya adalah sosok perempuan yang keras dan pembelajar. Ia berusaha untuk ikut pelatihan dan lolos menjadi peserta ekpedisi dengan nilai terbaik.

Maya yang tahu diperhatikan oleh Kapten Joko pun bertanya, “Ada apa Kapten? Apakah ada yang aneh?”

“Tidak. Hanya saja aku teringat Herman, temanku, wajahnya mirip sekali denganmu.”

Maya menutup bukunya. Tampak air mukanya bersedih. Memang, Maya adalah orang yang tampak keras dari luar, tapi jika orang membahas keluarganya, ia pun mengharu.

“Oh, maaf jika itu membuatmu sedih.”

“Tidak apa-apa, Kapten. Mungkin aku harus belajar lagi untuk menerima kenyataan bahwa aku hidup sebatang kara.”

Kapten Joko terdiam sejenak. Ia berusaha mencari pertanyaan untuk mencairkan suasana.

“Hei, jujur saja, tidak banyak orang yang bersedia melakukan ekspedisi ini. Dari 12 ekspedisi, tidak ada satu pun yang kembali. Orang-orang bilang ekspedisi-ekspedisi ini adalah misi bunuh diri. Apalagi orang-orang berpikir, ekspedisi saat ini, yang ke-13, adalah ekspedisi yang benar-benar sial. Ekspedisi terkutuk. Tapi, kenapa kau ingin sekali ikut ekspedisi ini. Bukankah lebih enak tinggal di bahtera? Makanan dan kehidupan tercukupi. Semuanya ada. Jadi untuk apa kau ikut ekspedisi ini?”

Maya membuang napasnya dengan berat. Ia pun menatap Kapten Joko dan bersiap mencurahkan perasaanya, “Sebenarnya ini semua takdir yang yang harus aku jalani. Kapten tahu kan, aku ini hidup sebatang kara. Ayahku pergi dan ibuku telah wafat. Setelah kakakku meninggal lima tahun lalu, tidak ada lagi yang tersisa dari hidupku. Semua terasa hampa. Ketika orang-orang mengumumkan untuk melakukan ekspedisi mencari daratan, itu memberikan harapan bagiku. Harapan untuk mencari ayahku.”

“Mencari ayahmu?”

“Ya, untuk mencari ayahku. Entah dia hidup atau mati, tapi hanya itulah harapanku. Aku yakin dia masih hidup. Aku yakin hanya dia keluargaku yang masih hidup.”

“Jadi, kau bersungguh-sungguh mengikuti ekspedisi ini untuk mencari keberadaan ayahmu.”

“Ya, Kapten!”

“Tapi sekian lama kita mencari daratan, apakah kau yakin ayahmu masih hidup?”

“Ya, harapan itu tidak pernah mati.”

“Semoga kau menemukan ayahmu.” ujar Kapten tanpa keraguan. “Dan juga, kau harus ingat. Kami semua adalah keluargamu. Jangan sungkan untuk meminta tolong atau apa pun itu. Kami adalah keluarga kecilmu yang siap menemanimu.”

“Terima kasih, Kapten.” Maya tahu ucapan Kapten Joko hanyalah upaya untuk menghiburnya. Maya pun hanya bisa tersenyum simpul menerima kebaikan hati Kapten Joko.

***

Hans menggendong Vena menuruni bukit dengan perlahan. Dia tidak ingin kejadian Vena jatuh ke jurang menimpa mereka. Hujan membuat semuanya menjadi serba sulit begi mereka. Namun, Hans tetap yakin kalau mereka akan sampai ke gua. Hans melihat jalanan di depannya. Sesekali dia memanggil Vena, untuk memastikan Vena masih dalam keadaan sadar atau masih hidup. Hans melihat sebuah tempat untuk beristirahat, yaitu sebuah cekungan bukit. Hans pun berjalan ke sana.

“Kita istirahat sebentar di sini.” Hans menurunkan Vena dengan perlahan dan melepaskan tasnya.

Hans membaringkan Vena dan memberikan minuman kepadanya. Vena pun meminum sedikit air tersebut.

“Terima kasih,” ujar Vena dengan nada perlahan.

Hans pun membuat api unggun di sana, hanya untuk sekedar memberikan kehangatan. Setelah api menyala, Hans pun duduk di samping Vena dan melihat wajahnya yang sedang tertidur. Wajah orang yang dia cintai secara diam-diam sejak lama.

***

Ketika orang-orang mengumumkan tentang ekspedisi mencari daratan, Hans sangat tidak tertarik, meskipun imbalannya cukup besar bagi orang yang berhasil menemukan daratan.

“Hanya orang bodoh yang ikut ekspedisi itu,” kata Hans suatu hari pada temannya, Barry.

“Kenapa kau bilang begitu?” tanya Barry.

“Ya, dari sekian banyak ekspedisi, tidak ada yang pernah kembali. Artinya, ekspedisi itu sama saja dengan misi bunuh diri.”

“Kau benar. Hanya orang bodoh yang ikut itu. Tapi, apakah kau tahu? Vena juga ikut seleksi ekspedisi bodoh itu.”

Hans mendelik ke Barry, sesaat ia mencerna apa yang barusan Barry katakan, “Tidak mungkin! Kau pasti bercanda? Tidak mungkin Vena ikut seleksi bodoh itu. Dia itu orang rumahan, apalagi dia sudah tunangan dengan Pongky. Jadi, tidak mungkin dia pergi untuk bunuh diri.”

“Aku tidak bercanda. Vena ikut mendaftar di depanku. Dia dengan lantang menyebut namanya di depan panitia.”

“Kau pasti berbohong. Pasti ini akal-akalanmu saja supaya aku ikut mendaftar.”

“Yah, terserah kau saja. Lagi pula apa untungnya bagiku jika aku berbohong. Dan kau harus ingat, setiap ekspedisi pasti diperlukan seorang dokter. Dan Vena adalah seorang dokter, pastilah dia menjadi prioritas untuk lolos dalam ekspedisi.”

Hans pun terdiam sesaat. Ia tidak bisa membayangkan wanita yang dicintainya sejak SMA mengikuti misi bunuh diri. Meskipun Hans mencintainya, tapi Hans tidak pernah mengungkapkan perasaanya. Ia biarkan saja perasaan itu tumbuh dengan liar. Ia biarkan dirinya menjadi pengagum rahasia yang melihat dari kejauhan, seperti bulan yang menatap bumi dari kejauhan.

Hans pun mulai mencari informasi dari teman-teman dekat Vena. Akhirnya, Hans pun yakin, bahwa Barry tidak berbohong. Vena benar-benar mendaftar atas kemauannya sendiri, meskipun orang-orang terdekatnya melarangnya. Jika Vena benar-benar ikut dan lolos, artinya dia mempertaruhkan hidupnya dan selalu dalam keadaan bahaya. Hans tidak ingin hal buruk terjadi pada Vena. Hans ingin menjadi malaikat pelindung bagi Vena, meskipun Vena tidak tahu.

“Aku harus melindungi Vena, bagaimanapun caranya. Mungkin itu kesempatanku untuk lebih dekat dengan Vena.”

Esoknya, tanpa ragu, Hans pun mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi itu.

***

Kapten Joko melihat awan dari kejauhan. Meskipun dalam hujan, Kapten Joko dapat merasakan bahwa badai akan segera datang. Sekian tahun berlayar di kapal patroli dan hidup di laut, memberikan kemampuan Kapten Joko untuk membaca pertanda alam. Ia tahu, badai yang sangat dahsyat akan menghampiri pulau itu.

Maya melihat gelagat Kapten Joko dan bertanya, “Ada apa Kapten?”

“Sepertinya akan ada badai. Badai yang sangat besar. Kita harus bergegas kembali ke gua.”

***

Hans dan Vena sampai di gua. Hans segera membaringkan Vena dan melepaskan ranselnya. Wajah Vena tampak pucat pasi. Hans pun meraba kening Vena. Panas. Hans pun mencari obat-obatan di ransel Vena, tapi semuanya basah. Segera Hans mencari kain untuk menjaram kepala Vena.

“Hans, aku kedinginan! Kurasa aku tidak akan bertahan lebih lama,” ujar Vena dengan nada mengigil.

“Kau masih bisa bertahan. Pasti kau bisa. Kita akan pulang dan kau akan menikah dengan Pongky. Kau harus bisa dan bertahanlah.”

“Kau tahu kan, aku seorang dokter, dan aku juga tahu akan kemampuan tubuhku,” ujarnya pelan. “Kurasa aku tidak akan bertahan lama karena memar dalam yang kuterima, ditambah tubuhku yang mulai mengigil.”

“Hei, kau jangan mati. Kau harus bertahan.”

Vena hanya tersenyum simpul, ia tahu ajalnya sudah mendekat. Napasnya pun mulai tersengal-sengal. Matanya pula mulai merabun. Ia tahu, mungkin ini batasnya. Batas hidupnya.

“Hans, sebaiknya… kita lupakan saja… janji kita tadi… aku hanya bercanda….”

“Kau bilang apa? Bercanda? Kau serius atau bercanda, aku akan tetap menemanimu. Percayalah, kita masih bisa pulang ke bahtera.”

“Aku sudah tidak sanggup lagi, Hans.”

“Hei…! Jangan mati!”

“Terima kasih… Sudah menemaniku di sisa hidupku, Hans…”

“….”

“Kuharap kau pulang dengan selamat….”

Vena pun mengembuskan napas terakhirnya. Hans memanggil Vena dengan kencang. Ia pun menguncang-guncangkan tubuh Vena, tapi tidak ada respon. Ia pun mencoba melakukan resusitasi jantung dan paru beberapa kali, tapi semuanya tidak ada hasil. Tubuh Vena tidak bergerak sama sekali. Seketika hening dirasakan Hans. Air mata Hans pun meleleh di pipinya. Air mata tersebut hanyut membawa rasa kehilangan dan penyesalan atas kepergian Vena. Ia sudah berusaha semampunya, tapi takdir berkata berbeda.

“Kau tidak boleh mati di sini sendirian. Aku akan menepati janjiku. Aku akan menemanimu, Ven. Aku akan selalu bersamamu.”

Hans segera mengambil belati dari ranselnya, dan tanpa ragu-ragu dia menyayat pergelangan tangan kirinya. Dia biarkan darah yang merah itu mengucur deras di sana. Hans pun membaringkan tubuhnya di samping Vena. Matanya menatap langit-langit gua. Ia mencoba menahan rasa perih di pergelangan tangannya. Lama-kelamaan pandangannya semakin kabur. Kesadarannya mulai hilang. Mungkin ini saat yang tepat untuk menyatakan perasaanya yang sudah ia pendam sejak lama, pikir Hans.

Dalam kekaburan itu, Hans pun berkata, “Aku mencintaimu, Ven. Maukah kau hidup bersamaku?”

***

Kapten Joko dan Maya sampai di dalam gua, betapa terkejutnya mereka ketika mereka mendapati Vena dan Hans yang tergeletak di dalam gua. Maya segera mengecek keadaan mereka.

“Bagaimana?”

“Mereka semua sudah meninggal. Hans sepertinya karena kehabisan darah, dan Vena, sepertinya karena luka dalam dan demam. Kakinya juga patah. Kurasa Vena tubuhnya tidak bisa bertahan dengan apa yang dialaminya.”

Kapten Joko melihat sekeliling, dia menemukan buku catatan dari tas Hans. Kapten Joko pun mengambil buku catatan itu dan membacanya sekilas.

“Sepertinya mereka menemukan sebuah buku catatan. Sebaiknya kita pergi dari sini. Ambil makanan dan barang seperlunya yang bisa kita bawa. Kita akan kembali ke kapal.”

“Tapi, mereka bagaimana Kapten?”

“Kita tidak bisa membawanya, kita tinggalkan saja di sini.”

“Kapten, kita tidak bisa meninggalkan mereka di sini. Kita pergi bersama, harus pulang bersama juga. Bukankah kita adalah keluarga?”

“Ya, kau benar. Tapi kita tidak bisa membawa mereka. Jika kita membawa mereka, itu akan menghambat langkah kita. Lagi pula ini sudah konsekuensi dari ekspedisi ini. Jika mati, artinya semuanya telah berakhir.”

“Tapi, Kapten….”

“Tidak ada tapi-tapi… kita harus meninggalkan mereka dan kembali ke kapal. Ini perintah!”

Kaki Maya terasa lemas. Maya merasa apa yang dilakukannya adalah benar, tapi hati kecilnya tampak setuju dengan kata-kata Kapten Joko. Maya pun mendoakan mereka sesaat.

Setelah membawa apa yang diperlukan, Kapten Joko dan Maya bergegas meninggalkan gua. Mereka berlomba dengan badai menuju kapal yang berada di bawah bukit. Namun, mereka terlambat, badai sudah lebih dulu menghampiri mereka. Mereka pun berusaha melangkahkan kaki untuk sampai ke kaki bukit. Ketika langkah mereka hampir sampai, mereka pun terkejut, kapal mereka telah karam karena hantaman badai dan volume air mulai naik ke atas bukit. Mereka pun saling berpandangan, memikirkan nasib malang yang mereka terima.

“Kita harus bagimana, Kapten?”

“Entahlah.”

Tiba-tiba Kapten Joko teringat dengan sekoci yang dia bawa. Segera Kapten Joko menghamparkan sekoci dan membukanya. Maya pun membantu Kapten Joko. Setelah sekoci terbuka, Kapten Joko menyuruh Maya untuk masuk. Maya pun menolak, tapi Kapten Joko memaksa.

“Maya, naiklah ke sekoci! Ini perintah.”

“Tidak, Kapten! Anda lebih berhak untuk selamat. Anda ada keluarga yang menunggu di bahtera. Aku tidak ada yang menunggu. Aku hidup sebatang kara. Jadi, tak seorang pun yang akan menangisi kepergianku nantinya.”

“Baiklah kalau itu maumu.”

Kapten pun berpura-pura naik ke sekoci, tapi diam-diam tangan kanannya mengambil batu di dekat kakinya. Ketika Maya berusaha membantu, dengan cepat Kapten Joko menokok punggung Maya dengan batu yang ia genggam. Pukulan itu terarah dan tidak mengenai organ vital Maya. Maya pun pingsan. Segera Kapten Joko memasukkan Maya dan ransel-ransel mereka ke dalam sekoci. Setelah menutup reseleting sekoci, Kapten Joko mendorong sekoci ke arah lautan. Ia berusaha keras melawan hujan badai di hadapannya. Sekoci pun terombang-ambing di lautan, hingga hilang di dari pandangannya. Kapten Joko melepas sekoci itu dengan sebuah doa agar sekoci itu selamat sampai ke tujuan. Tak lama, sebuah ombak besar menghantam tubuhnya. Kapten Joko terombang-ambing di dalam ombak, lalu menghilang di lautan.

***

Maya pun terbangun dari pingsannya. Punggungnya terasa sedikit nyeri. Butuh berapa detik hingga kesadarannya kembali. Maya mulai mengingat-ingat apa yang dia alami. Hal terakhir yang dia ingat adalah membantu Kapten Joko masuk ke sekoci, setelah itu dia lupa apa yang terjadi.

Sekoci itu perlahan tapi pasti menjauhi daratan yang mulai diselimuti air laut. Beberapa bulan kemudian, sebuah kapal patroli dari bahtera menemukan sekoci Maya. Ia pun segera diberikan pertolongan. Ketika orang-orang bertanya bagaimana ia dapat bertahan hidup, Maya pun menjawab, “Entahlah, kurasa makanan kedaluwarsa dan air embun yang membuatku bertahan.”

Beberapa hari kemudian, Maya kembali ke bahtera. Ia pun dirawat beberapa hari di klinik. Maya pun menceritakan apa yang dialaminya kepada pihak yang berwenang di bahtera. Cerita Maya yang selamat pun sampai ke telinga orang-orang. Semua orang merasa iba sekaligus bangga dengan apa yang telah Maya alami. Akhirnya, pihak berwenang membuat kesimpulan bahwa mencari daratan hanyalah usaha yang sia-sia. Karena daratan tidak lagi aman untuk mereka.

Suatu kali, Maya pun membaca buku catatan yang diberikan Kapten Joko. Maya pun terkejut saat mengetahui ternyata catatan tersebut milik ayahnya, Witan Kosasih. Ayahnya meninggalkan catatan berharga tentang perjalanan hidupnya. Beberapa halaman menceritakan kerinduannya akan keluarga. Setiap Maya membaca halaman tersebut, air matanya selalu meleleh. Di salah satu halaman, Maya menemukan potret keluarganya. Tampak Maya digendong ayahnya di punggung, dan kakaknya Herman, memeluk ibunya.

“Akhirnya aku hampir menemukanmu, Ayah. Tapi maaf, aku tidak bisa membawamu pulang ke sini,” ujar Maya dengan suara lirih.

Beberapa saat Maya termenung. Betapa harapan akan ayahnya masih hidup telah sirna. Namun, itu tidak menyurutkan dirinya untuk terus hidup. Ia pun menatap ke luar jendela, yang ada hanya hamparan biru dari lautan. Ia merasa beruntung bisa kembali ke bahtera dengan apa yang telah ia lalui. Ia merasa diberikan kesempatan kedua oleh orang-orang terdekatnya. Namun, di dalam hatinya, di bawah ingatan tentang hujan dan badai, dia baru saja merasakan kehilangan keluarga kecilnya. []

Palembang, 04 November 2021

2 thoughts on “Cerpen #207; “MANUSIA YANG MENCARI DARATAN”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *