Cerpen #206; “Teknologi Rumah Sandy”

Sepanjang laluan jalan beraspal, Nyotto berjalan pelan mendorong troli miliknya menyusuri punggung aspal. Ditujunya toko semi digital demi belanja vitamin dan bahan-bahan pembersih rumahnya. Ia tak akan lari dengan baju itu, khawatir kandungan oksigen di bajunya habis sia-sia. Bak astronot yang menggendong tabungnya, tabung yang menyatu dengan bajunya itu sebetulnya melelahkan. Orang-orang yang tersisa di muka bumi terpaksa memakai baju khusus itu bila keluar rumah. Lantaran udara kering, debu beterbangan bercampur karbon dioksida dan sedikit oksigen. Tak ada pohon mahoni yang tumbuh berjejer di pinggir aspal seperti zaman seabad yang lalu, yang meringankan hawa panas siang hari. Pohon-pohon itu telah lama mati dan kini semua pohon melangka.

Toko itu satu-satunya toko semi digital di desanya. Di mana kiri kanannya bangunan tak berpenghuni. Gedung-gedung pinggir jalan yang sebagian hampir roboh itu lama ditinggalkan. Pemilik aslinya telah lama tiada, dan tak punya generasi penerus untuk mengurus gedung itu. Sampai kini, belum ada tindakan yang nyata dari pemerintah, gedung-gedung kosong akan dibuat apa.

Seperti yang diceritakan di media digital, seabad lalu dunia tak seperti sekarang ini. Dunia seabad lalu cerah. Tak sesuram dan pekat dengan udara kering bertaburan debu. Seperti yang beredar pula, tak sedikit media mengusung artikel konspirasi yang menyesatkan tapi laris. Penulis di media digital membumbui bahwa peradaban seabad lalu lebih canggih daripada abad sekarang, terbukti dengan keberadaan para alien yang turut campur. Penulis hanya sekadar bercuan dari karyanya. Tanpa menyebutkan bahwa alien itu khayalan dan seenaknya mengkonsolidasikan bahwa alien penyebab musnahnya hutan-hutan. Para penggiat media itu, seolah tak mau tahu realita masa lampau. Bila para penggiat media sudi membuka dan membaca, sekilas saja arsip kepustakaan digital tentang sejarah negeri. Maka, mereka tahu penyebab asli punahnya separuh populasi bumi. Punahnya hewan-hewan, tinggal sedikitnya manusia dan langkanya pepohonan. Entahlah kenapa pegiat literasi itu, enggan mengintip literasi yang benar. Sampai membawa Thanos sebagai biang keladi. Seolah musuh besar Avengers di komik Marvel 102 tahun lalu itu adalah sejarah yang diceritakan dalam bentuk komik. Saking nirmalanya mengeksekusi tulisan, mengaburkan fakta-fakta tentang alien dan tentang Thanos yang hanya rekaan. Kecamuk dalam pikiran Nyotto tentang mereka, membuatnya muak baca berita dan artikel. Sehingga ia jarang duduk di hadapan layar sentuh seukuran televisi di rumahnya itu. Dalam keadaan mendorong troli, dalam benak Nyotto muncul pertanyaan.

“Apakah hanya di negeri ini, penulis-penulis itu enggan dikatai minim literasi? Mungkinkah manca negara memang semuanya begitu? Merasa pintar, bodoh saja tak punya? Ah, aku tak habis pikir.” Gerutu Nyotto.

Gerutunya itu bukan tanpa alasan. Orang-orang berlomba-lomba membuat artikel cara menciptakan gedung kaya oksigen, keindahan bangunan beserta kelebihannya. Tulisan tentang formula nutrisi dari kapsul baru bermunculan di internet. Produk terbaru dalam negeri, gencar promosi. Juga laporan cara ilmuwan membantu agar wanita cepat hamil, berharap anaknya lahir selamat hingga dewasa. Liputan khusus keluarga yang baru saja memiliki anak juga bertebaran di laman-laman. Tujuan para ilmuwan dan pemerintah agar manusia tak punah juga diungkapkan. Sebab selain penduduk negeri tak sampai satu juta jiwa, jarang juga keluarga yang memiliki keturunan. Ada yang punya anak, tapi usia anak tak bertahan lama. Nyotto juga menyayangkan proyek Rumah Sandy karya ayahnya itu mangkrak. Bahkan di media, hanya ada cibiran kalua tinggal di Rumah Sandy layaknya berada di dunia Bikini Bottom. Hanya Nyotto yang menempati rumah seperti itu. Orang-orang termakan hasutan media. Terpalingkan gengsinya sendiri untk tinggal di Rumah Sandy, lebih memilih untuk tinggal di apartemen mewah lantai tujuh, di masing-masing desa. Itu semua jasa pegiat artikel. Membiarkan puluhan Rumah Sandy di beberapa titik ditinggalkan, tanpa sempat menanam pohon di tamannya.

Tinggal seratus meter lagi Nyotto sampai ke rumahnya. Rumah dan taman yang di tutup mangkok kaca. Dikelilingi ban karet penghalang banjir yang dikempiskan. Nanti pada musim hujan, ban bak pelampung besar itu akan diisi angin. Bila banjir datang, maka rumah akan aman.

Rumah itu warisan orang tuanya. Ayahnya seorang ilmuwan kurang beruntung. Tak seperti ilmuwan lainnya yang tinggal di apartemen mewah, dilengkapi alat penghasil oksigen di setiap penjuru rumahnya. Di zaman sekarang, ilmuwan amat dihargai dan kaya raya. Nahasnya, Rumah Sandy– rumah temuan ayah Nyotto- tak diminati pemerintah. Dianggapnya temuan itu seperti kerikil, sehingga tiada yang mendanai penelitiannya. Pemerintah sendiri sedang gencar-gencarnya mempropagandakan bangunan jenis baru dengan penyaring udara terbaik. Pemerintah mengupayakan makanan yang mengenyangkan dan bergizi lengkap dalam satu kapsul, dari dulu hingga berpuluh tahun sekarang. Rasa sayur juga bisa didapat beserta manfaatnya dengan merebus kapsul buatan pemerintah dan para ilmuwan itu. Kapsul pengganti buah-buahan, beserta sensasi rasanya juga terjual di toko serba ada. Selain itu, yang paling penting dan ilmuwan belum menemukan, adalah bagaimana pasangan suami istri punya anak. Pemerintah akan mendanai besar-besaran untuk proyek ini. Bahkan pasangan yang memiliki keturunan akan dielu-elukan dan diberi hadiah yang besar. Lalu penulis digital akan memberitakan dan memviralkan kelahiran di media. Sayangnya, tak ada anak-anak yang bertahan hidup, lebih dari dua tahun usianya.

Nyotto sendiri, termasuk anak yang mampu bertahan hidup. Ia pernah dibesarkan ayahnya sampai usia 10 tahun sebelum ayahnya wafat. Nyotto tinggal sebatang kara di Rumah Sandy sepeninggal ayahnya.  Nyotto adalah contoh nyata, anak lahir tanpa cacat dan non sesar. Hidup sehat di rumah itu, meski ibunya meregang nyawa setelah bersalin. Hingga usia 25 tahun, media tetap tak melirik kehidupan Nyotto. Lantaran bentuknya mirip rumah si tokoh kartun Sandy, tokoh kartun legendaris Spongebob, peninggalan manusia seabad lalu. Teknologi itu dicibir dengan sebutan Rumah Sandy padahal semula namanya adalah As-RI. Jadilah orang-orang gengsi memakai Rumah Sandy, meskipun pohon dan bunga di tamannya, palawija dan buah-buahan menghasilkan oksigen alami. Terdapat penyaring udara yang berkualitas pula di sana.  Media sibuk dengan keturunan yang lahir di apartemen atau rumah elit pemerintah, yang ruangannya kaya akan oksigen. Hanya saja, sebagus apapun teknologi rumahnya, bayi mereka meninggal pula.

Hari itu ketika berkebun, ada seseorang mengetuk pintu masuk taman. Seorang perempuan berbaju bak astronot tampak lunglai. Wanita itu terkulai dan Nyotto segera menyelamatkannya. Perempuan itu amat menarik hati Nyotto. Dia kabur dari apartemen lima kilometer di sebelah utara rumahnya. Tanpa pikir panjang, Nyotto merawatnya. Tiga hari kemudian, perempuan itu siuman.

Diajaknya sarapan oleh Nyotto. Perempuan itu mengenalkan diri. “Namaku El Ouk.”

“Namamu sebagus parasnya.”

“Aku tak pernah sarapan sayur asli sepanjang hidupku seperti sekarang ini. Aku tak yakin bisa menyantapnya, dan meminum jus jeruk perasaan itu.”

“Kau akan terbiasa. Mohon maaf aku tak menyediakan kapsul-kapsul buatan ilmuwan. Kau bisa siuman, bukan karena kapsul-kapsul itu. Selama tiga hari terkapar, kau minum jus jeruk seperti ini. Media melebih-lebihkan manfaat kapsul yang terus diperbarui dan diminimkan efek sampingnya itu. Sedangkan aku orang yang tak suka dibodoh-bodohi media dan kapsul-kapsul. Satu-satunya yang kupercaya adalah kapsul vitamin dan teknologi Rumah Sandy ini.”

El Ouk menyantap sayur dengan yakin akhirnya. Ternyata enak juga. Diteguknya pula minuman jeruknya. Sungguh manis dan segar. Ia sadar dan heran, kenapa tubuhnya membaik. Ia telah divonis segera meninggal oleh Badan Kesehatan Pemerintah (BKP). Makanya ia akan dikirim ke salah satu rumah jompo bersama orang-orang tua pesakitan. Rumah yang disediakan pemerintah untuk menjemput kematian. Ia kabur, dan menemukan Rumah Sandy ini. El Ouk juga heran, ia baru melihat wujud buku-buku di rak belakang punggungnya. Selama ini, ia hanya baca buku elektronik lantaran langkanya pepohonan yang bisa diolah jadi kertas.

“Engkau menyimpan buku-buku yang dicetak menggunakan kertas?” Tanya El Ouk terhadap rak buku yang penuh buku-buku dari seabad lalu.

“Adalah tradisi keluarga kami menjaga buku-buku berumur seabad lebih itu. Dari buku inilah, kuhabiskan masa remaja dan akhirnya tahu tata cara berkebun. Kutahu macam sayuran yang menyehatkan. Juga apa gunanya pohon bagi kehidupan. Lalu mengindahkan peringatan mendiang ayah, efek dari kapsul-kapsul pengenyang. Itulah alasannya aku tak pernah membeli kapsul-kapsul pengenyang.”

***

Terus menerus makan sayur saban hari, tubuh El Ouk membaik. Ia juga terbiasa makan sayur-sayuran dan buah yang dipetik dari halaman belakang rumah Nyotto. Atas keramahan dan perhatian Nyotto kepadanya, ia pun jatuh hati pada Nyotto dan menikahlah keduanya. Pernikahan yang diliput media, lantaran El Ouk yang divonis mati oleh BKP dalam beberapa minggu dan terbuang dari apartemen, ternyata hidup sehat sampai delapan bulan. Keajaiban lain terjadi, El Ouk hamil setelah tiga bulan pernikahan. Pemerintah mulai menyoroti keluarga ini. Pemerintah memberikan bantuan pangan berupa kapsul-kapsul penyehat janin, tapi Nyotto tak menyentuhnya. Ia jual lagi bantuan itu untuk mendapatkan pupuk, bahan-bahan mencuci pakaian, dan pakaian bayi. Mulai dari tujuh bulan hingga melahirkan non sesar, media gencar meliputnya. Saban hari ada saja yang datang sekadar wawancara omong kosong, demi viral dan cuan. Sampai anak pertama Nyotto itu berusia dua tahun, media mulai merenggang datang. Dikiranya anak Nyotto akan meninggal di usia dua tahun. Realitanya, media kembali meliput keluarga mereka ketika setahun kemudian El Ouk hamil lagi. Kembar pula. Tak dinyana, tiga anak Nyotto dan El Ouk hidup sehat, hingga melebihi usia dua tahun. Terus membaik tumbuh kembangnya di usia-usia berikutnya. Gemparlah negeri ini. Solusi berkembang biak di saat darurat populasi, telah ditemukan. Kesuburan pria dan wanita, serta anak-anak yang tumbuh sehat disebabkan oleh teknologi Rumah Sandy yang efektif. Media sampai mengadakan jumpa pers, mengundang dua nara sumber yakni Nyotto dan El Ouk.  Jumpa pers ini disokong oleh pemerintah. Media dan pemerintah bertanya-tanya, apa gerangan yang membuat keluarga El Ouk dan Nyotto punya anak sehat. Sedangkan para ilmuwan meracik kapsul-kapsul penyubur kandungan yang terus dikembangkan berpuluh tahun, tapi tetap saja banyak bayi-bayi hidup sebatas dua tahun.

“Saudara Nyotto, keluarga anda mengklaim bahwa kesuburan El Ouk ada kaitannya dengan teknologi Rumah Sandy? Apa kaitannya menurut anda dilihat dari kacamata ilmiah?” tanya seorang wartawan di ruangan pers itu.

“Syaratnya harus ada pohon yang ditanam di taman. Sebetulnya yang kita butuhkan adalah pohon. Bila boleh mengulik sejarah seabad lalu, tercatat hutan yang akhirnya menjadi sabana terluas pertama kalinya. Ialah hutan Amazon. Akibat kebakaran hebat dan peralihan pemanfaatan lahan untuk persawahan atau perumahan. Hutan-hutan di penjuru bumi lainnya juga terbakar, diganti lahan-lahan pertanian dan semacamnya. Hingga ada wabah yang mematikan. Udara kering dimana-mana, meningkatnya karbon dioksida, minimnya oksigen dan kemandulan.” Jawab Nyotto.

“Sayur mayur asli dan buah-buahan adalah cara kami mengatasi cara berkembang biak. Kami meninggalkan kapsul-kapsul yang disuplai pemerintah. Kami menukarnya ke toko dengan barang lain seperti pupuk, popok bayi ramah lingkungan dan peralatan mencuci.” El Ouk menimpali.

“Pada intinya, kami mencoba lagi memakan sayuran asli dan buah yang dipetik tangan sendiri. Kami menghindari bangunan yang ruangannya tinggi oksigen dan memilih hidup di Rumah Sandy. Rumah dengan tiga pohon penghasil oksigen alami di halaman kami.”

***

Selama dasawarsa kemudian, bumi ini kian memulihkan dirinya dengan bertambahnya jumlah pohon yang sehat dan subur, tumbuh di atasnya. Anak-anak penerus bangsa terlahir secara sehat dan non sesar dari ibunya. Pemerintah tampak semringah bertambahnya populasi. Tak hanya itu, kini masalah kesehatan juga teratasi. Banyak rumah-rumah jompo, hunian terakhir menuju kematian orang-orang sakit, telah ditutup pemerintah. Menurut data BKP, jarang ada orang-orang yang sakit. Orang-orang banyak meninggalkan asupan kapsul dan memakan sayuran asli sebagai makanan pokok. Pemerintah telah mendanai dirombaknya gedung-gedung tak berpenghuni, menjadi hunian dengan teknologi Rumah Sandy berikutnya.

9 thoughts on “Cerpen #206; “Teknologi Rumah Sandy”

  1. Seketika membayangkan, kondisi peradaban seabad dari sekarang saat membaca cerpen diatas. Memang tidak ada yang lebih baik, dibandingkan kembali ke makanan organik dan kembali ke alam. Dikarenakan alam terkembang lah yang seharusnya dijadikan guru bagi umat manusia, bukan sebaliknya alam dirusak seperti saat ini demi cuan (baca: keuntungan ekonomi). Salut untuk sang penulis cerpennya 😊🙏

  2. Ya, faktanya bukan cuma amazon.
    Hutan negeri ini tergerus juga.
    Nasib orang-orang akar rumput di ujung tanduk.
    Benar juga kalau 100 tahun matahari sangat panas di bumi, populasi manusia sedikit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *