Cerpen #205; “Pohon Berdoa dengan Kerimbunan”

Sekeliling kebunku ini tertancap kokoh pohon kelapa, memagari bermacam tanaman buah di tengah-tengahnya, yakni beberapa pohon mangga, kelengkeng, alpukat, pisang, dan singkong. Mungkin pohon kelapa itu sudah seusiaku meski telah sangat melebihi tinggi tubuhku.

Di pojok kebun Bapak membuat cangkruk, di mana biasanya aku atau siapapun duduk lesehan menikmati tarian daun kelapa dalam iringan irama semilir.

Pernah kutanya Bapak, siapa yang menanam pohon kelapa itu. Bapak menjawab, “Kakekmu, setahun sebelum beliau meninggal di usianya yang ke-75.”

“Jadi Kakek tidak sempat menikmati buahnya?”

Bapak tak menyahuti pertanyaanku, tapi kalian tahu jawabannya.

Seperti tak sengaja aku mendesiskan kata, “Kerja yang percuma…”

Tiba-tiba Bapak menoleh dan menyorotkan matanya, persis menghunjam ke biji mataku. Ke keduanya! Namun aku tak merasa ada kebencian atau ancaman, malah menyiratkan rasa kasihan. Meski begitu aku tidak menyesal. Bukankah benar, Kakek melakukan hal sia-sia karena dia seharusnya tahu bahwa dia tidak akan sempat menikmati apa yang diusahakannya. Pohon kelapa baru berbuah minimal di usia enam tahun, bisa hingga sepuluh tahun.

“Kamu akan tahu jawabannya,” ujar Bapak.

Esok kami berdua akan mengunjungi kebun jagung di kaki bukit, berjarak hampir satu kilometer dari rumah. Selain untuk melihat perkembangan tanaman, Bapak juga ingin menyampaikan sesuatu di sana.

Ketika masih di sekolah dasar, aku sering diajak ke kebun itu. Tapi sejak menginjak sekolah lanjutan pertama, aku tidak pernah ikut lagi, meskipun kadang diajak. Dan aku akan melakukannya lagi _untuk pertama kalinya_ setelah hampir lima belas tahun.

__________

Selesai berkeliling memeriksa tanaman jagung, kami beristirahat di sebuah dangau yang memang dibuat sebagai tempat merontokkan lelah, persis di pertengahan kebun. Tingginya sekitar dua meter, terbuat dari dahan-dahan kayu kuat. Dari sana kami bisa melihat lebih luas ke sekeliling. Di antara tanaman jagung, dengan jarak tertentu, diselipi pohon jati yang kini usianya sekitar lima tahun.

“Dulu kakekmu bercerita bahwa pada masa remajanya tempat ini banyak pohon dan semak liar. Dari kaki bukit ini hingga ke puncak itu masih berupa hutan. Merak, ayam alas dan kijang berlalu lalang di sini. Saat itu kakekmu bisa bertemu trenggiling, musang, dan babi hutan setiap harinya.”

Nama-nama hewan yang disebutkan ayah hanya pernah kulihat gambarnya di internet. Itu pun aku sudah lupa bentuknya, kecuali burung merak.

“Kakek dan buyutmu, mereka adalah manusia-manusia hutan. Sumber hidup mereka di antaranya ada di sini. Mencari dahan kayu dan berburu hewan hutan. Bahkan hingga Bapak masih anak-anak, Kakekmu sering pulang dari sini membawa tangkapan belalang, yang jika kamu tahu, rasanya lebih gurih dari ikan laut. Sekali-kali ketika beruntung, Kakekmu pulang membawa bekisar. Dia mahir membuat perangkap berbagai jenis burung. Kakekmu adalah salah satu pembabat sebagian hutan di sini.”

“Jika mereka adalah manusia-manusia hutan, maka di masaku kanak-kanakku, Bapak adalah manusia-manusia bukit. Aku dengan teman sebaya biasa bermain hingga ke puncak itu,” wajah Bapak menunjuk ke arah ketinggian.

“Dulu di situ masih menyisakan pohon-pohon rindang dan semak belukar, kami mempunyai tempat bermain petak umpet.”

“Seperti kamu lihat sekarang, di puncak itu sudah kerontang tersisa batu-batu. Itu mungkin terlihat seperti hantu sehingga sumber-sumber mata air berlari ketakutan.”

“Aku kuatir kelak kalian akan menjadi manusia-manusia padang yang hanya menikmati pasir, tanah kering dan bebatuan sebagai pemandangan.”

“Kakekmu insyaf ketika hampir menjelang memasuki pintu terakhirnya _tetapi itu lebih baik dari pada terlambat lalu mengabaikan_ ketika kakakmu yang masih bayi selalu merengek menjelang tidur karena Ibu tidak menyalakan kipas angin.”

“Beliau mulai berpikir tentang masa depan, ketika Ibumu kekurangan air di puncak kemarau. Padahal kami sudah menghunjamkan pipa-pipa paralon ke perut bumi untuk mengisapnya. Hal itu jauh berbeda dengan masa kecilnya, air datang sendiri mengikuti sunnatullah. Hutan mempersembahkan kejernihan dan kesegaran yang tak pernah kamu temui.”

“Kakekmu mulai menyadari perubahan cuaca yang sudah berubah tak menentu. Beliau yang mengajak Bapak untuk melakukan sesuatu, mengupayakan sebuah tindakan untuk hal-hal yang dampaknya sudah kita rasakan, padahal ia belum benar-benar datang.”

“Kamu mendengar berita tentang kekurangan air di suatu tempat, sementara di tempat lain di waktu yang sama, banjir melahap rumah-rumah.”

“Permukaan bumi yang berupa daratan hanyalah sepertiga, lebih banyak air. Lalu kenapa suatu tempat menjadi kekurangan air? Andai itu terjadi di daerah gurun, wajar! Ini terjadi di Indonesia, paru-paru dunia!”

“Tempat yang harusnya mengenalkan kita pada sifat air yang ‘mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah’. Daerah yang kualitas musimnya lebih baik dari negara-negara lain. Daerah yang oksigen dan ion-ion negatifnya seharusnya mampu menggusur keberadaan kipas angin dan AC!”

Aku teringat pada keseharianku, begitu masuk ke rumah langsung menyalakan kipas listrik yang menggantung di atap ruang tengah. Ia hanya santai beristirahat jika di dalam rumah tak ada siapa pun. Bahkan kebiasaan tidur malamku, membuka jendela kamar agar udara bisa menyelinap, sebab kipas angin saja tidak cukup membasmi gerah.

“Aku dan kakekmu bersepakat dan berjanji untuk melakukan hal sekecil apa pun demi melambatnya perubahan ekstrim cuaca Bumi. Kami tidak peduli apakah orang lain ikut melakukannya atau tidak, yang jelas kami memulai dari diri kami sendiri.”

“Kami tidak muluk-muluk dengan harapan akan bisa mengembalikan keadaan seperti masa lampau, tapi jika tindakan kami bisa menginspirasimu, juga cucu-cucuku, bahkan menular berantai ke teman-teman mereka, ke orang-orang sekitar mereka, meluas hingga ke wilayah, diikuti warga senegara, mengajak bangsa-bangsa… Air laut pasti kembali susut karena sebagian akan membeku di Antartika, putihnya salju akan kembali menutup puncak Jayawijaya.”

Apakah kalian mulai memahami di mana letak kesalahanku ketika mengeluhkan kesia-siaan Kakek menanam pohon kelapanya? Ternyata beliau menanam memang bukan untuk dirinya, melainkan untuk cucu-cicitnya. Untuk kami. Bahkan _jika dilihat dari segi inspirasi_ juga untuk kalian!

Kita tak bisa merubah keadaan saat ini sekarang juga. Sebab tindakan kita hari ini hanya akan mengubah keadaan setidaknya puluhan tahun mendatang. Mungkin seratus tahun lagi!

Kakek menanam pohonnya untuk kami. Dan kita akan menanam pohon kita sendiri, untuk anak cucu kita.

TUING … TING!

Notifikasi whatsappku berbunyi. Salah satu teman dalam grup membagikan chat; Jabir menyampaikan bahwa Rasulullah bersabda, “Seorang muslim yang menanam dan buah tanamannya dimakan, maka menjadi sedekah. Ketika buah itu dicuri, juga bernilai sedekah. Seseorang yang menebar benih juga bernilai sedekah”, (HR. Imam Muslim). Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang menanam dan hasil tanamannya dimakan oleh manusia, binatang melata atau binatang terbang akan bernilai sedekah sampai hari kiamat”.

Dulu, kata Bapak, jangankan menebang balok, memungut ranting pun jika ketahuan mantri hutan, itu akan menjadi awal hukuman. Tapi sekarang … Hingga ke akar-akarnya kita satroni. Kita pindahkan ke atas pot-pot hiasan dengan dalih keindahan. Padahal di balik itu balawana bertangisan.

Kita berharap hujan, dikirimlah badai. Kita merindukan gemercik air, diutuslah banjir bandang. Itu bukan karena Tuhan memberi kita berlebihan, semata-mata karena balasan dari perlakuan kita.

Hidup kita menjadi membingungkan. Kita merindukan hujan ketika kekeringan, penantian itu berakhir dengan bonus longsoran. Lalu kita lebih menginginkan musim kemarau. Keinginan itu pun terwujud lengkap dengan asap tebal kebakaran padang rumput dan hutan.

Kita berdebat tentang global warming hingga berkarat. Kemudian muncul resolusi setengah hati, diikuti aksi menanam sejuta pohon sekali-kali. Menyelingi penebangan pohon ratusan hektar dari hutan yang disulap menjadi lahan-lahan industri pertanian. Kita asyik mencumbui alam, merobek-robek keperawanannya yang hijau setiap kali. Berkali-kali! Tak menawarkan kepastian kapan akan terakhir kali.

Yang tumbuh kita potong, yang terpendam kita gali. Lalu kita pertanyakan kebaikan alam?

Seratus tahun lagi, atau separuhnya, atau seperempatnya, jika tak ada lagi pohon-pohon yang mengembangkan tangannya untuk berdoa, maka batu-batu akan kehilangan kekuatan berpijak. Saat itu, jangan menanyakan tentang air pada hutan, karena pastilah ia telah menyimpan dendam. Jika kita mengabaikan kelestarian, maka alam akan melupakan persahabatan. Tanah-tanah di atas bukit akan semakin berat, kemudian kita harus bersiap untuk dilumat.

Hari ini, tanpa perlu menunggu lahirnya anak-cucu, aku akan mengikuti keteladanan Bapak dan Kakek, bertindak lebih cepat untuk mengatasi bencana masa depan yang belum benar-benar datang tetapi sudah menampakkan bukti keberadaannya di saat ini.

15 thoughts on “Cerpen #205; “Pohon Berdoa dengan Kerimbunan”

  1. Sungguh tulisan yg berisi pesan yg bijak, pesan yg mengajarkan bahwa apapun yg kita perbuat jgnlah kita mengharap imbalan karena kerja keras kita asal itu bermanfaat bagi anak cucu kita ,kita harusnya sudah lega dan bahagia…..

  2. Saya ingin seperti kakek, ingin menanam hutan kita dgn pohon pohon yg bisa bermanfaat utk semuanya. Yg bisa memperbanyak sumber mata air yg akan mengalir ke sungai sungai tak pernah lagi penuh airnya.

  3. Sangat menginspirasi, menggugah kesadaran akan pentingnya melestarikan lingkungan , dikemas dengan epic dalam bahasa sastra yang memikat.
    Sukses selalu

  4. Walah, kemarin aku kirim komen ternyata belum masuk. Semoga komenku ini masih diperhitungkan panitia ya.

    Pada dasarnya, semua harus dimulai dari diri sendiri dan tidak tunggu-tungguan ya kak. Kita ndak bisa menuntut orang lain untuk berbuat ini dan itu.

    Semangat ya kak!

  5. Menjalani kehidupan bila didasari akan ketundukpatuhan akan perintahNya, niscaya tertoreh nilai disisiNya… Kolaborasi realita dg agama antarkan qt, bahwa islam sungguh agama yg betul2 “PENGERTIAN” akan ingin manusia

  6. Langkah kecil yangmampu menggerakkan hati ..itulah yang bisa saya rasakan setelah membaca cerpen ini ..semangat pak untuk karya- karya selanjutnya..

  7. Tulisan yang mengInspirasi anak muda untuk selalu bisa berkarya, di kala gencar – gencar nya Teknologi yang memaksa kita untuk berlari mengejarnya….Mantapn Sukses selalu

  8. Tidak ada pekerjaan ygq sia2 jika d lakukan dg sepenuh hati.. semua akan membuahkan hasil sesuai dg ygbd kerjakan pd saatnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *