Cerpen #204; “Aksi Terkahir”

Brak!! Kepalaku pusing, seorang polisi mendekat lalu menghantamkan tameng anti huru-hara padaku. Tubuhku terhuyung jatuh, mata sebagian tertutup darah yang mengalir dari pelipis. Satu polisi lainnya mencoba mendekat, mengarahkan pentungan hitam siap menghantam kepalaku. Pasrah, kututup mata menunggu datangnya hantaman.

***

Suasana di kampus sedang memanas, untuk kesekian kalinya rapat BEM seluruh Indonesia diadakan. Rencana untuk menyeruduk ke Istana Negara telah ditentukan, besok pagi. Untuk pertama kalinya setelah tahun 1998, tepat seratus tahun yang lalu, mahasiswa di seluruh Indonesia bersatu dalam satu suara. Kali ini yang dituntut bukanlah perihal tidak stabilnya ekonomi, lonjakan harga yang tak terkendali, atau kasus korupsi yang telah mengakar dan usang. Tapi jauh lebih penting, kami menuntut untuk keselamatan Bumi.

Aksi serupa juga sudah terjadi di seluruh belahan dunia. Mahasiswa dan masyarakat saling padu turun ke jalan menentang kebijakan yang ditetapkan beberapa tahun yang lalu. Kebijakan bertajuk “Demi Kemajuan Manusia.” Kebijakan yang terdengar heroik, namun seperti lupa bahwa kita tidak hidup sendirian di planet ini.

Penduduk Bumi yang sudah membengkak mencapai 20 miliyar lebih sudah membuat kita menjelma menjadi hama. Ya, hama! Seperti wereng yang merusak padi ketika hampir panen, membuat batang padi menguning, layu lalu mati. Seperti itu pulalah manusia menghancurkan Bumi. Tidak ada lagi tempat tersisa bagi mahkluk lain seperti hewan dan tumbuhan. Bumi penuh sesak dengan manusia. Ruang terbuka? Apa itu? Aku sudah tidak pernah mendengar lagi sejak lama. Pohon terakhir ditebang 10 tahun yang lalu.

Kita semua bertahan hidup menghirup oksigen yang tersisa dari rumput-rumput yang dianggap sekadar gulma. Dengan dipandang sebelah mata, sebenarnya mereka beruntung tak dijadikan manusia sebagai pemuas nafsu yang dibalut topeng kebutuhan.

“Kali ini kita harus berhasil masuk ke dalam!!” tegas Raka yang memimpin rapat kali ini. Semua yang hadir mengangguk setuju.

“Tapi, bagaimana caranya, puluhan personel polisi pasti dikerahkan untuk mengagalkan aksi kita. Apalagi kita tidak bisa mengeluarkan energi semaunya, sementara mereka mesin yang tak butuh asupan oksigen.” Timpalku. Aku setuju dengan gagasan Raka, tapi apa rencananya?

Raka menggenggam dagunya sambil sedikit menunduk. Cukup lama dia merenung. “Tidak ada rencana, ini operasi bunuh diri, kita adalah Kamikaze.”

Mendengar apa yang diucapkan Raka suasana ruangan bergemuruh. Suara peserta rapat yang lain saling tindih satu sama lain. Menanyakan apakah Raka sudah gila? Apa otaknya sudah tidak berfungsi karena kekurangan oksigen?

“Kau biacara apa bangsat!!” Kugenggam kerah jaket biru Raka “kalau tidak punya rencana jangan sok jadi ketua. Kau mau mengirim kita menemui maut?”

Raka sedikit mendorong badanku lalu balik mencengkram kerahku “Kau berharap aku mengatakan apa? Kau perlu ingat, yang kita benci itu manusia, dan ingat sekali lagi kita juga manusia, kita juga hama bagi bumi ini. Satu manusia gugur berarti satu langkah bumi menuju keselamatan.” Nyalang matanya menatapku. Kulihat pancaran amarah di dalam pupil hitamnya yang mengkilat.

“Kau gila!! Lalu jika kita semua mati siapa yang akan melanjutkan perjuangan?” Sanggah Mawar yang sedari tadi diam saja.

“Bukankah kalian sudah tau apa yang kita hadapi saat ini? mereka adalah manusia-manusia berkuasa yang tidak segan menghilangkan nyawa seseorang. Kita hanya segerombolan kecoak bagi mereka. Kata-kata tentang hak asasi manusia hanya bualan belaka. Cuih.. Mereka sebenarnya yang berada di balik tambang-tambang dan pabrik-pabrik pencemar itu. Meskipun Bumi sudah di ujung titik nadir, mereka tidak peduli. Mereka bisa saja terbang ke koloni baru di Mars dengan harta dan kuasa. Apa yang kalian harapkan?”

Rentetan kalimat yang keluar dari mulut raka seperti petir yang menyambar hati bagian terdalam. Semua termenung, dalam hati mereka sebenarnya sudah tau akan menjadi seperti apa akhir dari aksi ini. Mayat manusia bergelimpangan di jalanan Berlin saat terjadi protes yang sama. Di negeri tetangga pun tak jauh berbeda. Para pemimpin dunia sudah mencapai kesepakatan bersama. Mengeruk Bumi hingga tak bersisa lalu pindah ke koloni baru di Mars yang sejak 30 tahun yang lalu mulai dibangun setelah ditemukan sumber air.

Para konglomerat juga sama. Mereka bisa membayar berapapun untuk pindah. Bahkan kabarnya, aktris Hollywood terkanal peraih banyak penghargaan yang selama ini lantang mengkampanyekan keselamatan Bumi, sudah terbang minggu lalu dan menjadi penghuni Mars ke-seribu. Semua tentang uang. Siapa yang memiliki uang, dia bisa hidup dengan tenang.

Sementara kami para kaum akar rumput yang jumlahnya paling banyak, hanya bisa melakukan protes agar mereka menghentikan eksploitasi Bumi. Silakan tinggalkan Bumi, biarkan Bumi menjadi tempat kami hidup. Namun sepertinya mereka hanya mengganggap kami sebagai hama yang harus ditumpas. Dengan berbagai macam dalih, nyawa kawan-kawan kami melayang.

***

Brak!! Kepalaku pusing, seorang polisi mendekat lalu menghantamkan tameng anti huru-hara padaku. Tubuhku terhuyung jatuh, mata sebagian tertutup darah yang mengair dari pelipis. Satu polisi lainnya mencoba mendekat, mengarahkan pentungan hitam siap menghantam kepalaku. Pasrah, kututup mata menunggu datangnya hantaman. Namun sebelum hantaman mendarat, Raka memasang badan untuk menyelamatkanku.

Tubuh Raka lagsung ambruk tak sadarkan diri. Tak ada yang bisa menolong, semua sibuk dengan pertikaian masing-masing. Akupun menggotong sendirian tubuh Raka yang terkulai seperti kain basah. Kawan-kawan semua terdesak. Wajar, mereka hanya melengkapi diri dengan senjata seadanya. Sedangkan para aparat dibekali dengan senajat lengkap, terlebih lagi mereka tak merasakan sakit. Bahkan mereka dilengkapi dengan senjata api yang sewaktu-waktu bisa diletuskan saat sudah muak meladeni perlawanan kami yang percuma.

Dekat saja aku bisa menggotong tubuh Raka, punggung sebelah kiriku terasa panas dan perih. Sepertinya sebuah benda menusuk dari belakang. Darah berceceran, tubuh Raka kujatuhkan dengan kasar sebelum akupun juga ikut terjerembab.

Dengan mata yang mulai samar-samar, aku lihat satu polisi mendekat. Dia menodongkan sebuah pistol dengan peredam tepat di dahiku. Dor!! Dahiku berlubang, tubuhku terguncang mengelepar. Darah hangat dan segar mengucur deras hingga bisa kurasakan menggenang di belakang kepala.

Sebelum hitam, ingatanku melayang ke masa lalu, entah ingatan siapa, tapi dalam ingatan ini tergambar suasana Bumi yang masih hijau. Burung-burung berkicau, kupu-kupu dan capung beterbangan. Air mengalir dengan jernihnya. Suasana yang tak pernah aku bayangkan sejak aku lahir. Semua hewan yang kutemui hanya bisa kulihat dalam layar kaca, buku, dan cerita dari nenek.

Air jernih hanyalah mitos di sepanjang hidupku. Mitos layaknya cawan penampung darah Yesus, atau peti berisi 10 perintah Tuhan milik Musa.

Samar-samar aku mendengar bisikan. Awalnya lirih, kamudian semakin jelas.

“Perjuanganmu telah usai, waktunya pulang.” Aku tergagap mencari sumber suara.

Ternyata Izrail datang menjemputku dengan tersenyum ramah.

“Mari, kuantar kau memasuki dunia yang kau inginkan.” Katanya sambil bergegas mengepak sayapnya yang sangat lebar sampai menutupi sebagian sinar matahari. Angin bergemuruh, kami memasuki gerbang cahaya putih, seputih kapas.

9 thoughts on “Cerpen #204; “Aksi Terkahir”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *