Cerpen #199; “NEXT TRY”

         Rintik hujan dan desir angin mewarnai suasana pagi. Langit terlihat murung. Transportasi terlihat berlalu lalang memadati langit. Agatha berjalan santai menuju kelasnya, menempelkan kartu hologram pengenal pada akses absensi hologram kelasnya.

“Pagi Agatha..” sapa Tecno Academy-H (nama akses absensi hologram).

“Pagi tecno akademi-H.” Jawab Agatha.

“Apa kau tau berita tentang iklim tak menentu yang di alami kota Hellios, Agatha?” tanya Tecno Academy-H . Sejenak Agatha mengingat tentang berita hangat beberapa bulan ini.

“ya, sepertinya cuaca sering berubah-ubah.” Jawab Agatha sekenanya.

“Terima kasih telah menjawab pertanyaanku, semoga harimu menyenangkan!” Agatha tersenyum. Kemudian berlalu masuk ke dalam kelasnya. Tiba-tiba terdengar suara tak asing, memanggil Agatha.

“Agatha come here.. ada info baru!” Kata seorang gadis berambut pirang yang melambaikan tangan pada Agatha. Gadis itu mengetuk meja hologram di depannya. Kemudian, muncul sebuah kursi hologram untuk tempat duduk Agatha. Agatha pun duduk di sebelah gadis itu.

“Kenapa El?” Tanya Agatha. Gadis bernama Ellina itu mengetuk lagi meja hologram di depan mereka, kemudian membuka situs yang memuat tentang info mading akademi.

“Lihat nih…” Ellina menunjukkan sebuah brosur hologram.

“Beberapa bulan ini cuaca jadi nggak menentu, terus diadakan sayembara teknologi buat menanggulangi krisis iklim.” Jelas Ellina. Agatha mengangkat satu alisnya,

“Jadi?” tanya Agatha.

 “Kita bakal ikut sayembara ini, buat mengatasi krisis iklim di kota kita tersayang.” Ucap Ellina iba menatap rintikan hujan yang masih membasahi kota Hellios. Agatha terlihat berfikir sejenak.

“Ikut ya Tha…” pinta Ellina. “Oke.. emang kamu udah ada konsepnya?” Tanya Agatha.

“Tentu!” jawab Ellina enteng.

“Nanti akan kukirim filenya.” Agataha sedang menunggu Air car (transportasi mobil udara) sambil memandangi file yang dikirim Ellina. Rintik hujan sudah berganti sinar hangat matahari sore. “Thats good idea, tapi ini tak terlihat mudah.” Agatha bergumam sambil menggeser-geser hologram yang ia bawa. Beberapa saat kemudian, Agatha dihampiri sebuah Air car. Agatha masuk tak memperhatikan apapun, tetap fokus pada hologramnya. Seorang laki-laki merasa tak asing dengan Agatha.

“Hai… Agatha, sepertinya kau terlihat sibuk.” Sapa lelaki itu. Agatha menoleh, mendapati teman masa kecilnya duduk di sampingnya.

“Oh hai Yanz! Bagaimana kabarmu? Sepertinya kita lama tak bertemu..” ucap Agatha, sesekali melirik hologramnya. Yanz tersenyum.

“Bagaimana kita bertemu jika nona Agatha sedang sibuk dengan academinya.” Yanz kembali tersenyum.

“Aku tidak sesibuk itu Yanz.” Agatha menyeringai. “Em.. Yanz apakah kau tau tentang sayembara krisis iklim?” Agatha bertanya.

“Tentu aku tau, akhir-akhir ini cuaca sering berubah-ubah. Banyak solusi sedang di cari, lalu diadakan  sayembara untuk itu. Ya.. mungkin aku akan ikut berpastisipasi!” jawab Yanz.

“Aku juga ikut! Kau akan menjadi lawan yang sulit.” Agatha menatap Yanz.

“Kita akan menjadi rival yang baik nanti..” kata Yanz sambil berlalu turun dari air car . “Semoga begitu..” batin Agatha. Agatha dan Ellina sibuk berkutat dengan alat teknologi yang akan mereka persembahkan saat sayembara nanti.

“Sepertinya kalian terlihat lelah.. aku membawakan minuman untuk kalian.” Ciro (robot pembantu di rumah Ellina) mendekati Agatha dan Ellina.

“Hai Ciro, Agatha ayo kita istirahat dulu.” Ellina dan Agatha meneguk minuman sambil sesekali bercanda.

“Semoga ini bisa membantu semua orang..” harap Ellina, menatap suasana cerah keluar jendela.

“Tentu akan begitu El!” Agatha meyakinkan.  Ellina memandang alat yang ia dan Agataha buat. Tersenyum.

“ Terima kasih Agatha.”

Ellina dan Agatha baru saja turun dari sebuah air car. Mereka berjalan beriringan menuju ruang peserta. Di sana terlihat banyak peserta lain sedang bersiap-siap. Banyak alat-alat unik terbang berlalu lalang.

“Hai Agatha .. oh, hai Ellina.” Sapa Yanz.

“Hai Yanz. Kau juga ikut? Dengan siapa?” tanya Ellina.

“Tentu aku ikut, El.. karna Zack yang memintanya.” (Zack: sepupu Ellina) Yanz terkekeh, disusul munculnya Zack.

“Kalian juga ikut rupanya.” Sapa Zack. “Tentu aku  ikut.” Ellina memasang wajah datar. “Kita akan menjadi rival yang baik El..” Zack menepuk bahu Ellina. “Tentu.” Balas Ellina.

Sayembara krisis iklim sudah dimulai. Satu-persatu peserta telah tampil dengan alat-alat unik nan canggih. Sampai tibalah giliran Agatha dan Ellina.

“Tak perlu lama-lama mari kita panggil peserta terakhir.. Agatha dan Ellina.” Suara narator bergema keras. Tepuk tangan para penonton meriah terdengar seantero kota.

“Selamat pagi semuanya.. perkenalkan.. saya Agatha dan ini Ellina.. kami dari Techno Academy.” Agatha menjeda perkataannya.

“Kami akan menunjukkan sebuah robot yang akan membantu kita semua dalam masalah krisis iklim saat ini.” Ucapan Agatha berakhir dengan mengambangnya sebuah robot kecil berbentuk bola.

“Hai semuanya.. saya Elthabot.” Elthabot mengenalkan diri.

“Elthabot mempunyai sebuah sensor layar yang berada di bagian belakang robot.” Ucap Agatha mengawali cara penggunaan Elthabot. Elthabot berbalik menunjukkan sebuah sensor layarnya.” Menggunakan sumber energi yang terbarukan dan ramah lingkungan.” Agatha mulai mengetuk layar elthabot. Agatha dan Ellina terus memberi penjelasan seiring dengan yang Elthabot tampilkan. “Kita dapat memasangkan elthabot untuk mengurangi penggunaan dan beban listrik pada tempat tinggal kita.” Elthabot mulai melekat pada sebuah properti yang sudah disediakan. Elthabot mengubah energi matahari menjadi energi yang lebih ramah lingkungan untuk berbagai macam kebutuhan. “Tak hanya rumah, namun dapat juga untuk transportasi.” Elthabot berganti melekat pada sebuah alat transportasi listrik dan dengan cepat mengubah energi untuk menjalankan transportasi itu. “Elthabot megalihkan sumber energi yang digunakan agar menjadi lebih ramah lingkungan dan tidak menghasilkan emisi gas buang yang berbahaya bagi lingkungan.” Ucapan terakhir Agatha diikuti Elthabot yang mendesing pelan ke arah Agatha dan Ellina. Para penonton bersorak kagum. Tepuk tangan para penonton terdengar meriah.  Ketiga juri pun ikut berdiri bertepuk tangan.

Suasana acara sayembara krisis iklim sedang riuh. Para juri sibuk menentukan alat yang akan dipilih untuk penanggulangan krisis iklim, sementara para peserta menanti hasil tentang alat siapa yang akan dipilih kantor New Technology. Agatha menghembuskan nafas kasar. Ellina memegang tangan Agatha, tersenyum. Agatha mengangguk. Kemudian, tibalah pengumuman alat yang akan dipilih kantor New Technology.

“Selamat siang, penduduk kota Hellios, sebelumnya saya sebagai narator mengucapkan terima kasih atas semua yang mau berpartisipasi untuk penanggulangan krisis iklim saat ini.. semua yang ditampilkan sungguh membuat kami merasa sulit menentukan teknologi yang akan dipilih sebagai alat utama yang akan dikembangkan di kantor New Technology dalam masalah ini. Tak lupa tentunya pencipta alat yang dipilih akan mendapat sebuah penghargaan..” Jelas narator panjang. Narator menarik nafas panjang. “Karena sulitnya menentukan alat yang akan dipilih maka kami mengadakan voting..” Suasana kembali riuh saat narator mengumumkan adanya voting. Para peserta dan penonton segera membuka handphone hologram yang mereka bawa. Link voting tersebar cepat seantero kota Hellios. Narator menyediakan sebuah hologram besar berisikan nama peserta dan alat yang diciptakan. Suasana menjadi tengang diselimuti rintikan hujan dengan angin yang berhembus pelan. Papan nama pada hologram terlihat saling berkejaran untuk mencapai posisi yang diinginkan.

“Kami memberikan waktu lima menit lagi hingga voting ditutup.” Narator memberi arahan. Lima menit terasa begitu cepat. “Mari kita hitung mundur dari 10..” suasana tegang menyelimuti para peserta yang ingin alatnya terpilih. “10.. 9.. 8.. 7.. 6.. 5.. 4.. 3.. 2.. 1.. ALAT YANG AKAN DIPILIH ADALAH ELTHABOT KARYA AGATHA DAN ELLINA DARI TEKNO ACADEMI…” Suara narator bergema keras di tengah derasnya hujan di Kota Hellios. Ellina bersorak riang, sambil memeluk Agatha. Suara riuh sorakan para penonton terdengar keras. Ellina dan Agatha naik ke atas panggung. Agatha dan Ellina menerima sebuah penghargaan dan akan ikut mengembangkan Elthabot di kantor New Technology.

“Apakah ada yang ingin kalian sampaikan?” Narator memasangkan sebuah alat pada Agatha agar dia mudah bersuara keras. Agatha menarik nafas panjang, tenang.

“Kita sebagai generasi penerus harus memiliki ketertarikan untuk sebuah teknologi. Mencoba adalah sebuah kunci di mana kita akan menemukan sebuah solusi. Jika ada yang bertanya mengapa kami begitu yakin mengikuti sayembara krisis iklim ini? Karena kami tau kami punya potensi.. bukan hanya karena dasar suka kepada teknologi. Tapi, bagaimana pengembangan potensinya. Kami mengetahuinya, maka kami mencoba. Kami tak peduli jikalapun alat kami tidak terpilih, yang kami harap alat kami bisa baerguna untuk semuanya.” Agatha menarik nafas. “semua itu benar, kita harus terus mencoba untuk mendapatkan segalanya.”

-Bersambung….-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *