Cerpen #198; “ONE LAST TIME”

“Val! Menjauh dari sana!” Teriak kak Nel dari jauh memecah lamunanku. Aku menatap seorang pria tua rapuh yang ada di depanku, tubuhnya hancur, terbelah-belah menjadi partikel kecil.

“Jangan hirup partikel kecil itu Val! Itu virus Dandelion Composure!” Aku menoleh ke arah kak Nel,  tidak terlalu mendengar apa yang baru saja kak Nel katakan. Dari jauh aku melihat kak Nel berlari ke arahku dengan wajah yang di penuhi ketakutan.

Namun, seketika saja darah segar keluar dari hidungku, pandanganku menjadi buram dan rasa sakit menyerang kepalaku hingga aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Val!!! Bertahanlah! Kakak ada di sini untukmu!” Kak Nel merengkuhku dalam dekapannya, aku mencoba untuk bertahan dari rasa sakit yang teramat ini.

 Seorang gadis mendekatiku dan kak Nel, wajahnya penuh kekhawatiran padaku.”Kak Nel! Apa yang terjadi pada Val?” Aku menatapnya, dia menangis sambil memegang tanganku erat.

“Snowy! Ini salahku! Val telah menghirup partikel kecil virus DC! Rambutnya perlahan berubah menjadi putih! Jika dibiarkan, Val akan berakhir seperti mereka yang sudah terjangkit!” Kak Nel, orang yang merawatku dari kecil, ia memelukku erat, air matanya jatuh tepat di pipiku.

Virus Dandelion Composure ya? Orang-orang biasa menyebutnya DC. Virus mematikan yang disebabkan oleh ketiadaan pohon di bumi. Sudah sejak tahun 2042 atau 103 tahun lalu, muncul sebuah organisasi besar yaitu AXE-Corp dan Conium yang mencoba untuk memusnahkan pohon di dunia ini dan menggantikannya dengan teknologi canggih buatan mereka, hingga saat ini tepatnya tahun 2145 yang tersisa hanyalah 1 bibit terakhir di dunia yang kini sedang kubawa. Akibatnya iklim di dunia ini menjadi sulit diprediksi dan sering sekali berubah-ubah, membuat banyak penyakit muncul di mana-mana, salah satunya adalah virus ini, Dandelion Composure.

Orang yang telah terjangkit virus ini akan merasakan pusing yang teramat sakit, namun itu hanya sementara. Mula-mula rambut dan kulit mereka perlahan akan berubah menjadi putih, dan tubuh mereka akan muncul retakan-retakan seperti sebuah kaca yang retak hingga retakan itu merambat ke sekujur tubuh mereka dari ujung jari sampai seluruh tubuh, dan pada akhirnya mereka perlahan hancur terurai dengan sendirinya, sampai mati tak tersisa. Apakah aku juga akan seperti itu?

“Kak Nel! Kita harus segera membawa Val ke dokter Fassa! Val adalah harapan terakhir kita untuk menghentikan virus ini!” Ujar Snowy yang masih menangis terisak.

“Tidak bisa Snowy! Aku tahu Val adalah harapan terakhir kita! Tapi Ace dan anggota Conium yang lain sudah mengepung gedung ini. Mereka datang untuk menangkap kita para manusia Hyacinth dan memusnahkan bibit pohon terakhir yang Val bawa!” Sangkal kak Nel sambil mencoba membantuku bangkit.

Hyacinth,  sebutan untuk mereka yang berbola mata ungu. Pintar, rupawan, kuat dan sempurna. Namun, sebenarnya jauh dari kata sempurna. Semua itu hanyalah kata-kata manis yang keluar dari mulut orang iri. Kami para Hyacinth hanya dipandang sebelah mata. Ejekan, penghinaan, merendahkan, semua tertuju pada kami. Kami ini hanyalah sebuah alat yang mereka ciptakan, hanya sebuah alasan untuk manusia hidup.

“Tapi kak… Bagaimana dengan kondisi Val?” Tanya Snowy yang masih menggenggam erat tanganku.

“Tidak apa Snowy. Aku masih bisa bertahan, tenang saja Snowy, aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir…” Ucapku menenangkan Snowy yang masih terlihat panik. Aku mencoba bangkit sambil membersihkan darah yang keluar dari hidungku.

“Snowy! Kau tahu kan, kita para manusia Hyacinth tidak bisa terjangkit virus DC? Tapi berbeda dengan Val! Val hanya setengah Hyacinth yang membuatnya bisa terjangkit! Namun, ayahku dulu memberikan kunci yang dapat menghentikan virus ini pada Val, dengan warna mata Val yang aneh, hanya Val yang bisa menghentikan virus ini!” Jelas kak Nel meyakinkan Snowy.

Benar, aku ini setengah Hyacinth. Mata unguku hanya sebelah saja, sedangkan mataku yang lain berwarna kuning. Setengah Hyacinth memiliki fisik yang lebih lemah dari Hyacinth murni. Itu menjadi subuah alasan aku disebut cacat.

Snowy menghela nafas kasar sambil menyeka air matanya.”Baiklah.” Ia membuka-bukatasnya kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah botol obat kecil bening.

“Minumlah ini Val! Ini adalah obat Hyacinth tears, yang terbuat dari air mata perasaan manusia Hyacinth. Meski tidak dapat menyembuhkan, tapi ini dapat memperlambat penyebaran virus dalam dirimu.” Ujar Snowy meberikan botol kecil itu padaku. Aku mengangguk untuk mengiyakan Snowy, kemudian aku menerima obat itu dan meminumnya.

Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari luar ruangan.”Hei kalian para Hyacinth! Kami dari Conium divisi 1, ditugaskan untuk menangkap kalian! Serahkan diri kalian dan berikan bibit pohon terakhir yang kalian bawa pada kami! Kalau tidak, kami akan merusak pintu otomic akses-cip ini dan masuk dengan paksa!”

“Gawat! Itu adalah Ace! Dia telah berhasil melewati semua perangkap otomatis yang kupasang dan dia telah berhasil masuk!” Ucap kak Nel yang mulai panik.

“Bagaimana ini kak?” Tanyaku yang juga mulai panik.

Sejenak Kak Nel termenung menatapku lekat, kemudian pandangannya beralih ke arah pojok ruangan menatap sesuatu entah apa itu. Kak Nel melangkah cepat ke arah yang ia tuju, melakukan sesuatu pada tembok pojokan itu yang aku tidak tahu.

Tiba-tiba, entah apa yang kak Nel lakukan, tembok itu terbuka dengan sendirinya dan muncul sebuah ruangan kecil di dalamnya.

“Val, kemarilah!” Panggil Kak Nel padaku, kemudian aku melangkah cepat, bergegas menuju kak Nel. “Dengar Val! Kau adalah harapan terakhirku dan ayah! Masuklah ke sini! Teleport Room ini akan membawamu keluar dari gedung ini. Pergilah dan carilah tempat yang dulu ayah pernah beri tahu pada kita. Tanamlah bibit pohon terakhir ini di sana. Aku akan di sini bersama Snowy untuk menghadang Ace dan anggota Conium yang lain. Pergilah dan selamatkan segalanya!” Kak Nel menatapku dengan penuh keyakinan di matanya.

Aku tertegun dengan ucapan yang baru saja kak Nel ucapkan. ”Apa? Kenapa Kakak tidak ikut?” Aku menatap Kak Nel dengan penuh tanda tanya dalam benakku.

Teleport Room ini hanya dapat digunakan untuk satu orang saja. Jadi hanya kamu saja yang harus pergi. Aku dan Snowy akan di sini!” Ucap Kak Nel lirih sambil masih menatapku.

Lagi-lagi aku tertegun dengan semua ucapan Kak Nel. “Tidak! Aku akan di sini bersama kalian! Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang kusayang lagi Kak!”

Kak Nel menatapku sendu. Senyum lembut terukir di wajahnya, tangannya membelai lembut kepalaku. “Val, kau adalah harapan terakhirku, Snowy, semua orang, dan juga ayah…”

~~~***~~~

Aku melangkahkan kakiku cepat, berlari di antara derasnya hujan, menerobos ribuan orang yang berlalu lalang. Aku berlari di tengah-tengah kota yang setiap penjuruya dibangun gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Aku menatap ke arah salah satu gedung yang di atasnya terpampang sebuah hologram yang begitu besar. “Era baru di tahun 2145 TANPA POHON!”

Dunia ini begitu menyedihkan, dulu ayahku pernah bilang bahwa 103 tahun yang lalu bumi ini masih terlihat begitu hijau dan segar. Namun, sekarang itu tidak ada lagi.

Sekarang cuaca iklim berubah menjadi hujan yang tiada henti, turun membasahi beberapa belahan bumi dengan derasnya. Demi menggantikan pohon, mereka menciptakan sebuah alat penemuan baru yaitu alat canggih penyerap air G-Cans dan Thames Barrier, yang sekarang mulai beroprasi di mana-mana, untuk mencegah banjir.

Namun, kali ini adalah hujan asam yang sangat deras yang membuat dadaku menjadi sangat sesak, seperti ditindih oleh sebuah barbel yang besar. Semua orang menggunakan masker untuk menghindari jangkitan virus berbahaya dan untuk menghindari tekanan hujan asam yang membuat paru-paru menjadi kering.

Aku berlari hingga tanpa sadar kakiku tersandung dan aku jatuh tersungkur ke dalam genangan air. Aku mencoba untuk berdiri namun kakiku terasa sangat sakit, kakiku terkilir. “Maaf, bisa bantu saya berdiri? Kaki saya terkilir…” Harapku pada orang sekitar. Namun tak ada satu pun yang  peduli dan hanya menggunjingku sambil menatapku jijik.

Hujan semakin deras, jatuh membasahiku yang masih terpuruk. Sejak kapan semua menjadi serapuh ini? Semua yang tersisa hanyalah bayangan. Kak Nel dan Snowy, mereka sudah di tangkap. Kini, hanya tersisa aku seorang saja.

 Aku menatap pantulan diriku di genangan air. Rambutku seluruhnya sudah berubah menjadi putih. Aku beralih menatap kedua tanganku. Tubuhku sudah mulai rapuh dan retak. Aku mencoba untuk kembali berdiri tanpa mengharap simpati ataupun empati dari orang lain, berjalan tertatih di bawah tirai hujan, dengan masih membawa bibit pohon terakhir di tanganku.

Aku harus pergi ke tempat itu. Tempat terlarang yang belum pernah terjarah oleh manusia. Tempat awal lahirnya virus DC. Kata ayahku dulu, hanya seorang setengah Hyacinth yang bisa ke sana, yaitu hanya aku, hanya dengan mata anehku yang dapat ke sana. Tempat yang terletak di ujung utara kota ini.

Maka dari itu, aku harus ke sana, mewujudkan harapan terakhir kakak dan ayah. Meski letih dan rasa sakit menerjangku, aku harus menananam bibit pohon terakhir ini dan menyelamatkan segalanya.

Aku berjalan sampai tak menyadari bahwa Conium telah berhasi menemukan keberadaanku. Aku berbalik ke belakang, dari jauh terlihat Ace dan anggota Conium lain sedang menuju ke arahku. Aku berlari sekuat tenaga menerjang ribuan orang, kemudian berlari di jalan lorong kecil antara 2 gedung tinggi yang sangat sepi.

Aku berlari begitu lama hingga Conium tak terlihat lagi di belakangku. Aku memperlambat langkahku, rasanya sangat letih. Namun, aku tetap melanjutkan langkahku di derasnya hujan.

Tapi, tiba-tiba saja…”Val! Berhenti di sana! Serahkan dirimu dan berikan bibit terakhir yang kau bawa itu pada Conium!” Tanpa terduga, salah seorang anggota Conium berhasil mengejarku. Aku langsung mempercepat langkahku, berlari menjauh agar tidak tertangkap olehnya.

 “Comander! I`am Leviathan, Conium division 2 leader! To report! I found him! Located: District Nova Xilenic 024, coordinat  x: 2.702, y: 41.059, z: -17” Orang Conium itu yang tak lain  Leviathan, kapten divisi 2 Conium, menghubungi Ace dan memberikan informasi keberadaanku padanya.

Orang itu, Leviathan mengejar di belakangku sambil membawa sebuah senapan laser M4Z8 type-x riffle dan mengarahkannya padaku. “Val! Jika kamu seperti itu, maka kami terpaksa harus menggunakan cara kasar!” DOR!!! Leviathan melepaskan tembakan lasernya tepat mengenai kakiku. Aku jatuh tersungkur sampai bibit terakhir yang ada di tanganku terlempar jatuh dari tanganku. Sakit, kakiku mati rasa. Pandanganku buram dan semua menjadi gelap.

Saat tersadar aku berada di sebuah tempat yang sangat asing. Tubuhku rasanya sangat sakit seperti hancur. Aku menatap tanganku, sepertinya tubuhku dipenuhi dengan balutan perban, rasanya sesak. Kemudian aku telah menyadari, bahwa retakannya sudah mencapai leherku.

“Selamat pagi Val! Apakah tidurmu nyenyak?” Alpha, ketua pimpinan Conium, sedang duduk di kursi hologram tepat di depanku sambil membawa bibit pohon terakhir yang kini ada di tangannya, dan disampingnya, berdiri Ace, tangan kanannya, yang sedang bersiaga.

“Alpha! Dimana kakakku dan Snowy?” Itu adalah pertanyaan yang pertama kali ku lontarkan padanya. “Tenang saja Val. Kakakmu dan temanmu aman di tanganku. “Jawab Alpha sambil menunjukkan senyum khasnya yang membuatku bergidik.

“Alpha! Kembalikan bibit pohon terakhir padaku!” Pintaku dengan nada sedikit meninggi. Aku menatap mata ungu Alpha, dia hanya diam, dia juga seorang Hyacinth, tapi ada yang aneh. Aku melihat dari sorot mata Alpha, seperti dipenuhi kesedihan yang mendalam.

“Val, memangnya sepenting apa benda ini bagimu?” Alpha, kata-katamya seperti ingin menghujamku. Aku terdiam menatapnya tajam. “Bukan aku yang membutuhkan itu, tapi semua makhluk dan bumi ini yang membutuhkannya!” Jawabku menangkis pertanyaan Alpha.

“Alpha, ini adalah kata kata yang sering ayahku dulu ucapkan. Apa kau tahu, saat dedaunan pahon bergerak lembut ketika terkena angin? Bukankah itu sangat indah dan menenangkan. Dan apa kau tahu, betapa segarnya udara saat di dekat pepohonan? Rasanya sangat berbeda dengan oksigen buatan mesin, lebih segar dan bersih…”aku menatap Alpha tajam. Ia terdiam, matanya terbelak terkejud dengan semua kata-kataku. Kemudian ia menyeringai dan menatapku balik dengan tatapan sinis. “Kau ini sangat menyebalkan! Kau mengucapkan kata-kata yang ayahku dulu juga pernah ucapkan kepadaku.”

“Kalau memang benar begitu, Alpha, apa alasanmu menangkap para Hyacinth dan ingin memusnahkan bibit pohon terakhir?” Tanyaku penuh selidik, mencoba mencari tahu apa yang sedang ia sembunyikan di balik mata ungunya itu.

Alpha menghela nafas panjang sambil tertunduk.”Aku menangkap para Hyacinth untuk ku ambil air mata emosinya dan ku produksi menjadi obat virus DC. Tapi obat itu tidak bisa menyembuhkan dan hanya bisa memperlambat penyebaran virus dalam tubuh. Pada akhirnya mereka yang terjangkit akan perlahan mati.”

“Tidak!” sangkalku cepat. “Mereka bisa kembali sembuh! Hanya dengan satu bibit pohon yang ada di tanganmu itu, mereka bisa selamat! Sampai akhir, meski waktuku hanya tinggal sedikit, aku akan menanam bibit pohon terakhir itu dan menyelamatkan segalanya!”

Alpha, ia diam tak berkutik sambil menatapku dalam.”Sebenarnya, aku melakukan semua ini dengan terpaksa. Semua ini karena AXE-Corp memaksaku untuk memanfaatkan virus DC sebagai ladang penghasil uang, tidak peduli dengan cara apapun, bahkan telah banyak nyawa yang telah kurenggut dengan tangan ini, mereka tidak peduli, yang terpenting hanyalah uang di mata mereka. AXE-Corp, di bawah kendali ibuku yang haus akan harta dan kekuasaan. Aku ini hanyalah alat yang  jika sudah tidak berguna maka akan dibuang.” Ungkapan Alpha yang baru saja ia lontarkan membuatku dan Ace tersentak kaget.

“Apa yang baru saja tuan katakan? Tuan telah membocorkan semua rahasia mengenai AXE-Corp! Tuan akan dihukum berat oleh atasan AXE-Corp! Semua perkataan Anda tadi telah didengar oleh AXE-Corp karena alat pengintai yang dipasang di tubuh Anda!” Ace terlihat sangat panik sambil memegangi bahu Alpha.

Alpha memegangi tangan Ace yang ada di bahunya. “Ace apa kau ingat saat kita masih kecil? Aku punya sebuah mimpi yang sama dengan Val. Aku tersadar setelah melihat keteguhannya. Aku dulu juga seperti Val. Namun , aku malah berhenti di tengah. Val itu berbeda, dia memiliki pendirian yang tangguh.” “Tapi Tuan Alpha, Anda akan…” “Tidak apa Ace, dari awalpun aku memang sudah menyerah.”

Apa yang baru saja Alpha katakan? AXE-Corp? Alat pengintai? Mimpi? Hukuman? Menyerah? Aku tak percaya dengan semua yang kudengar. Siapa Alpha itu sebenarnya?

Tiba-tiba pintu otomic akses-CR cip Conium ruangan ini terbuka. Dari balik pintu itu muncul seorang laki-laki yang tidak asing bagiku, berdiri di sana sambil sedang membawa sebilah pisau elektrik di tangannya.

“Tuan Alpha, saya Leviathan, kapten divisi 2 Conium. Robot pengawas Anda dari AXE-Corp. Mendapat tuga dari Nyonya Besar AXE-Corp untuk menghukum Anda. Karena Anda sudah mengingkari perjanjian!”  Levithan melangkahkan kakinya, berjalan masuk ke dalam ruangan dan dia berhenti tepat di belakang Alpha.

Ace langsung bergerak cepat menghadang Leviathan dan menodongkan pistol Eanggle type-s ke kepala Leviathan “Jangan bergerak sedikitpun mendekati Tuan Alpha!”

Aku diam membeku, tak percaya dengan semua ini. Robot pengintai? Pisau? Semua ini bohong kan?

“Ace! Turunkan pistolmu dan menjauhlah!” Perintah Alpha tegas pada Ace “Tapi Tuan…” “Ace! Menjauh!” Ace terdiam, tak berani berkata lagi. tangannya bergetar hebat. Kemudian ia menurunkan pistolnya dan pergi menjauh dari hadapan Leviathan.

“Leviathan, meski kau robot ciptaan ayahku, kau sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Aku sudah menyerah. Terima kasih atas semua kerja kerasmu untukku” Ucap Alpha lirih yang sedari tadi masih duduk membelakangi Leviathan. “Sama-sama Tuan…” Jawab Leviathan singkat.

“Leviathan… Laksanakan!” “Siap laksanakan Tuan!” Langsung saja, Leviathan mengayunkan pisaunya dengan cepat, menusuk punggung Alpha dari belakang tepat di jantungnnya.

Darah keluar dari tusukan itu. Leviathan menarik kembali pisaunya. Dari mulut Alpha keluar darah yang begitu banyak. Aku terbelak menatap Alpha. Ia memejamkan matanya, begitu tenang seperti tidak merasakan sakit sama sekali.

Kursi hologram yang Alpha duduki, tiba-tiba menghilang. Tidak! Alpha akan terjatuh. Aku spontan bergerak cepat mencoba menangkap Alpha agar tidak terjatuh. Tapi Ace juga Leviathan lebih dahulu menangkap tubuh Alpha yang terkulai tak berdaya.

“Ace… Leviathan… Terima kasih atas segalanya…” ucap Alpha lirih, menatap Ace dan Leviathan. Mereka hanya diam membeku, tidak tahu ingin berkata apa.

Kemudian Alpha beralih menatapku, memberikan kembali bibit pohon terakhir yang  ia ambil tadi dariku. “Val, kita memiliki mimpi dan harapan yang sama. Aku mohon padamu, wujudkan harapan terakhir itu untuk semua orang. Aku sangat berterima kasih kepadamu. Kau telah menyadarkanku dan melepaskanku dari semua kekangan ini. Aku telah bebas. Dengan ini Conium dibubarkan dan Hyacinth bebas…”

~~~***~~~

Aku mempercepat langkahku, sedikit lagi, hampir sampai. Langkahku kemudian terhenti di depan sesuatu, sebuah tembok barrier kuning bercahaya terang yang sangat besar hingga menembus langit, yang aku tidak tahu apa yang ada di baliknya. Warna tembok itu, persis dengan warna salah satu mataku. “Jadi ini ujung utara kota.”

Tubuhku telah dipenuhi dengan balutan perban yang berguna untuk menahan retakan di tubuhku sementara. Virus yang ada dalam tubuhku telah mencapai stadium akhir. Waktuku hanya tinggal sedikit lagi.

Aku menatap tembok besar itu, melangkahkan kakiku pelan mendekati tembok itu. Menyentuhnya dan meletakkan telapak tanganku di sana. Aku memejamkan mataku. Inilah saatnya.

Perlahan tembok itu memudar dan hancur. Saat aku membuka mataku kembali, aku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Jadi ini, tempat yang dulu ayah maksud. Tempat yang bisa ditanami oleh pohon.

Di depanku, kini terpampang dengan jelas, sebuah padang bunga Dandelion yang sangat luas dan begitu luar biasa indahnya.

Kubuka seluruh perban yang melilit tubuhku, menggenggam erat bibit pohon terakhir juga sebotol air di tanganku dengan erat.

Aku melangkahkan kaki telanjangku di rerumputan hijau, berjalan di antara ribuan bunga Dandelion, menuju ke tengah-tengah tempat itu. Setiap bunga Dandelion yang kulewati, berhamburan menjadi kecil dan terbang terbawa oleh angin.

Hingga aku telah berada di tengahnya. Aku langsung menggali sebuah lubang tanah di sana, meletakkan bibit pohon terakhir di dalamnya, kemudian menguburnya kembali. Aku menuangkan air dari botol yang kubawa sedari tadi tepat di atasnya.

Dari tempat yang kutanami bibit tadi, muncul tunas kecil dari dalamnya yang kemudian secara ajaib berubah menjadi pohon yang sangat besar.

Angin berhembus kencang, membawa terbang ribuan Dandelion kecil, mengelilingi pohon itu. Pohon itu menyerap virus Dandelon Composure, hingga akhirnya virus itu musnah dan menghilang dari bumi ini.

Aku berhasil, tepat di saat waktu terakhirku. Tiba-tiba tubuhku terasa sangat ringan. Aku berbaring di antara bunga Dandelion. Sepertinya, waktuku telah habis dan aku akan pergi.

Seseorang mendekatiku. Kak Nel, ia duduk di sampingku, mengangkat pelan tubuhku dan merengkuhku dalam dekapannya. Hangat. Andaikan waktu dapat berhenti, aku ingin membalas pelukan kakak.

“Kakak, aku berhasil…” ucapku lirih menatap Kak Nel. “Benar adikku, benar… Kau telah berhasil melakukannya…” jawab Kak Nel terbata dengan air mata berlinang membasahi pipinya.

“Apakah sekarang aku boleh tidur kak? Aku sangat lelah dan mengantuk…”  Keluhku pada kak Nel sambil sebelah tanganku menyentuh pipi Kak Nel, mengusap air matanya.

“Boleh, kau boleh beristirahat sekarang.” Jawab Kak Nel dengan suara lirih dan berat mencoba menahan tangis.

“Terima kasih Kak… Aku sangat sayang Kakak…”

“Aku juga menyayangimu, Val…”

Aku memejamkan mataku. Perlahan, tubuhku mulai terbelah-belah, terurai menjadi partikel kecil. Aku bisa mendengarnya, suara isak tangis kakaku yang sebenarnya tak rela aku pergi. Hingga sampai akhir kakak memeluk erat diriku yang seluruhnya telah melebur, menjadi butiran bunga kecil Dandelion yang dibawa terbang oleh angin.

Kini, aku telah selesai. Bumi telah kembali memiliki pohon dan aku telah berhasil menyelamatkan segalanya dengan sisa waktu terakhirku.

~THE END~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *