Cerpen #196; “Malaikat Telaga Sunyi”

Sang surya kini pelan-pelan bersembunyi di balik gumpalan putih langit, membiarkan warnanya membias. Telukis biasan warna sang surya di tubuh awan nan elok. Seperti karya pelukis eropa. Namun, ini lukisan semesta yang selalu Tirta kagumi bersama kakeknya.

“Ayo bertaruh Nak, warna apa yang dihidangkan alam pada kita sore ini?” Kakek sambil menarik bibirnya ke atas, tanda senyum sembari menepuk punggung Tirta. Cucu satu-satunya.

“Cukup. aku selalu kalah denganmu, Kakek.” Bocah berumur 8 tahun ini menggulung bibirnya bak telur goreng. Alisnya mengkerut dan bibirnya komat-kamit. Kakek hanya bisa tertawa.

Raut wajah Kakek tetiba serius, ia memandang tanda-tanda sengkolo di langit. Mendadak warna merah saga memayungi wajah langit tempat mereka berdiri. Kakek lalu menatap Tirta. Sebuah tatapan yang mengunci mata Tirta. Memaksa saling beradu pandang. Relung hati Kakek mendadak sesak. Ia tak tega menyampaikan sebuah konflik alam yang akan datang. Mungkinkah ia memberikan sebuah dongeng baru pada cucunya tentang perbuatan para raseksa yang akan membumihanguskan alam manusia karena keserakahannya? Kakek hanya termenung sembari memandangi cucunya.

“Kakek memikirkan apa?” Tirta menaikkan alisnya. “Aku sedang memikirkan sebuah dongeng untukmu” senyum kakeknya.

“Wah, ayo kek, ceritakan lagi dongeng tentang danau yang indah.”

“Tirta, bagaimana, kalau danau indah ini diserang kawanan raksasa?” Tirta bingung akan pertanyaan yang diarahkan kepadanya. “Mengapa para raksasa menyerang danau ini?” Tirta  terus bertanya dengan polosnya. “Para raksasa ingin merusak danau dan keindahan alam.”

“Kalau begitu Tirta akan menjadi Abimanyu melawan para raksasa.” kata Tirta.

Jawaban yang diberikan Tirta membuat kakek tersenyum. Ia lega mendengar ucapan cucunya yang amat mencintai lingkungan dan alam. Kakek merasa amat bersyukur memiliki cucu pemberani seperti Tirta. Setidaknya, apabila dia meninggal nanti, telaga sunyi tempat mereka berdua duduk bercerita tetap menjadi telaga yang sunyi. Sunyi karena hanya terdengar percik air yang mengaliri sawah dan kehidupan penduduk. Sunyi karena hanya terdengar kepakan burung tanpa suara mengitari pepohonan di sekitar telaga. Sunyi karena hening damai dan sejuk udara terhampar memeluk segala resah para pengunjung telaga.

Sudah empat belas tahun cerita tentang Abimanyu dan para raseksa berlalu. Selama empat belas tahun itu pula, Tirta mengalami banyak pasang surut kehidupan. Kakeknya telah meninggal, kedua orang tuanya tak pernah ia kenal sejak kecil. Untungnya, selepas kakeknya meninggal, Pak Kades bersedia mengambil Tirta sebagai anak pungut. Selama belasan tahun itu pula, Pak Kades merawat dan menyekolahkan Tirta secara cuma-cuma. Tirta tergolong anak cerdas dan mudah diatur. Walaupun menumpang hidup bersama Pak Kades, Tirta tak pernah

merepotkan untuk urusan uang sekolah. Ia selalu lolos beasiswa. Bahkan, ia kini telah lulus dengan gelar cumlaude di bidang ilmu lingkungan hidup di salah satu universitas negeri ternama.

“Apa rencanamu setelah lulus?” tanya Pak Kades pada Tirta. “Saya ingin mengabdikan ilmu bagi desa saya.” jawab Tirta. “Bagus sekali dan mulianya idemu itu.” kata Pak Kades gembira.

“Saya ingin mengembangkan pertanian organik bagi warga.” kata Tirta.

“Pikiran yang bijaksana, tapi ada yang lebih penting dari itu.” kata Pak Kades. “Apa maksud Pak Kades?” tanya Tirta.

Pak Kades hanya tersenyum misterius lalu berjalan keluar ruangan. Tirta pulang dengan sedikit gundah. Ia tahu bahwa selama ini Pak Kades adalah orang yang memelihara hidupnya. Setiap hari makanan silih berganti mengenyangkan laparnya.

Tak hanya itu, Pak Kades juga mengurusi kebutuhan sandang pangannya. Namun, sejak awal Tirta mencium banyak gelagat janggal dari perilaku Pak Kades. Saban tanggal tertentu, banyak pengusaha menyetorkan uang dan barang-barang pada Pak Kades. Tirta sering mendengar percakapan Pak Kades tentang nota palsu, buat laporan gelap, kwitansi pesanan dan sebagainya.

Kali ini, ia merasa janggal dengan ajakan untuk mengikuti rapat esok hari.

…..

Malam hari, Tirta susah memejamkan mata. Padahal, bulan Purnama utuh menggantung di langit gelap malam. Udara dingin menyempurnakan suasana malam hari. Namun tetap saja, ia dilanda rasa gelisah. Matanya yang hendak terpejam terasa amat susah dikatupkan.

Dalam cengkeraman gelisahnya, ia mendadak teringat wajah kakek. Entah mengapa bayangan kakek muncul dan membuatnya rindu. Ia berpikir seandainya kakek masih hidup pasti ia akan bahagia melihat dirinya berhasil menjadi seorang sarjana. Lebih-lebih, bila kakek mendengar janjinya bekerja untuk desanya niscaya kakek makin bahagia. Bayangan  kakek makin kuat di benak Tirta. Ia terngiang percakapan-percakapan di tepi telaga.

“Bagaimana bila raksasa menyerang telaga ini?” tanya Kakek.

“Aku akan menjadi Abimanyu untuk melawan raksasa itu.” jawab Tirta.

Malam yang kian larut meniupkan angin peristirahatan bagi siapa saja. Lambat laun, Tirta memejamkan mata. Dekapan dingin, langit yang hitam pekat, dan desau angin di kala purnama berhasil meredakan rasa gelisah yang menghinggapi Tirta.

Keesokan harinya di balai desa, Tirta sudah ditunggu Pak Kades dan tiga orang tak dikenal yang mengenakan setelan dasi dan jas lengkap. Pak Kades memperkenalkan Tirta pada ketiga orang tersebut. “Ini Tirta, ahli lingkungan hidup.” kata Pak Kades. Ketiga orang

tersebut mengangguk. Tirta bingung dan bertanya-tanya siapakah mereka. Pak Kades kemudian membuka dialog pagi itu.

“Bapak-bapak sekalian, mari kita mulai saja rapat pagi ini” kata Pak Kades kepada orang-orang berdasi yang ada di hadapannya. “Bolehkah, saya langsung membuka penawaran dari kami?” kata salah seorang. “Oh, boleh, lebih cepat  lebih  baik” Pak Kades tersenyum. “Baik, kami ingin mendirikan pabrik tekstil di sini, mohon bujuk warga dan urus izinnya, nanti ada dua milyar untuk Pak Kades dan Tirta” .

“Saya tidak setuju rencana gila ini” jawab Tirta. Pak Kades memandangi Tirta dengan tatapan amarah yang memburu. “Bapak dan ibu sekalian yang terhormat, pembangun industri akan merusak mata air telaga dan menimbulkan pencemaran iklim dan cuaca” kata Tirta.

“Maaf sebelumnya, kami tak ingin membahas itu” kata seorang berdasi hitam.

“Benar, kami datang untuk berbisnis “ sambung yang lainnya. “Apakah uang pelicin kami kurang?” imbuh orang berdasi merah. “Beri kami empat milyar, maka akan beres” Perkataan Pak Kades sukses membuat Tirta menganga tak percaya.

“Oh, baiklah kalau begitu kami setuju” kata orang berdasi biru. Belum sempat Tirta membantah, sebuah koper hitam sudah di atas meja. “Uang ini dua milyar, saya harap beberapa bulan lagi warga sudah sepakat untuk pendirian industri tekstil di sini” katanya orang berdasi merah.

“Kalian semua sudah gila dan kacau! Apakah Anda pikir kertas-kertas ini bisa memulihkan kerusakan lingkungan!” kata Tirta.

“Lebih baik kau diam Tirta, bicarakan itu nanti.” Pak Kades membungkam mulut Tirta. Setelah Pak Kades menerima uang yang berjumlah besar itu, rapat segera berakhir. Ketiga orang tersebut meninggalkan ruangan. Hanya tersisa Pak Kades dan Tirta yang saling berhadapan. Asap rokok mulai merebak.

“Siapa yang selama ini merawat dan membiayai hidupmu?” Tanya Pak Kades penuh kemenangan

“Siapa yang selama ini memberikan udara segar, cuaca yang sehat, air dan bersih?” Tirta kembali melempar pertanyaan, membuat Pak Kades naik pitam.

“Dasar anak tidak tahu berterima kasih!”

“Anda tidak pernah berterima kasih pada alam!” Pak Kades dibuat terkejut oleh Tirta dan mulai melancarkan ancaman. “Jaga mulutmu!”

“Saya akan menjaga ucapan saya, bila Bapak menjaga keutuhan alam desa” Mata Pak Kades sukses melotot merah dan wajahnya yang gembung tampak semakin menggembung.

“Saya tak mau tahu, minggu depan kamu harus menyampaikan pidato yang membujuk warga untuk pendirian industri di sekitar telaga!” ancam Pak Kades.

Tirta tersenyum tenang.

“Saya tidak takut ancaman apapun dari Bapak, karena saya kan terus berpihak pada iklim dan alam sampai akhir hidup saya!”

Pak Kades hanya terdiam, badannya gemetar. Menyaksikan bocah ingusan yang ia kira bisa menjadi sapi perahan untuknya, yang ia kira dirinya bisa mengeksploitasi segalanya dengan tangan bocah yang ada di hadapannya ini. Sekarang, yang ia anggap bocah ingusan itu tumbuh menjadi pemuda yang sadar akan iklim dan alam. Kembali berbalik mengacungkan pedang ke arahnya.

Tirta beranjak dari ruangan tersebut, meninggalkan Pak Kades yang membeku kaku, bisu tak bersuara. Tirta kemudian meihat indahnya langit biru hari itu lalu tersenyum.

“Kakek, lihat saja. Aku akan menjadi Abimanyu untuk telaga sunyi kita, demi iklim kita, demi masa depan bumi 100 tahun setelahnya. Restui aku selalu, kakek.”

One thought on “Cerpen #196; “Malaikat Telaga Sunyi”

  1. Cerita yang menggugah kesadaran nurani. Faktor utama yang membuat alam tetap utuh adalah tentang bagaimana ego manusia terhadap alam bisa terjaga. Masalah klasik persoalan alam selalu karena adanya transaksi keuntungan pihak tertentu. Terima kasih sudah menyajikan cerita penuh fakta hari ini… .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *