Cerpen #195 Di Balik Tembok

Pagi telah tiba, orang-orang di pinggir jalan terbangun dari tidurnya. Sinar matahari adalah alarm alami bagi tunawisma, termasuk bagiku. Sisa-sisa mimpi buruk masih melayang dipikiranku. Tetapi aku tidak peduli, karena kenyataan hidup sudah lebih buruk dari mimpi terburuk sekalipun.

Ketika pandanganku mulai jelas, aku menatap sekitarku. Rumah-rumah reot yang kumuh, bau, ditambah udaranya yang menyesakkan sama seperti hari-hari biasanya. Yap.. aku yakin aku telah terbangun dari tidurku.

Aku beranjak bangun dari trotoar tempatku tertidur dan menggosok gigi dengan air di toilet umum, rasa payau dari air seketika mengembalikan sisa-sisa jiwaku yang belum terkumpul, aku tidak pernah terbiasa dengan rasa ini.

Aku pernah mendengar suatu cerita bahwa pada masa lalu orang-orang menyikat gigi dengan air tawar, tidak ada orang yang menggosok gigi menggunakan air payau. Tentu saja aku tidak percaya, sebab hanya orang-orang kaya yang mampu menggunakan air tawar sesuka hati, menggunakan air tawar untuk sekadar menggosok gigi adalah pemborosan dan aku sangat miskin untuk menggunakan air tawar seperti itu.

Kedua orangtuaku sudah meninggal akibat gangguan saluran pernafasan, penyakit yang normal bagi orang-orang yang tinggal di daerah pinggiran. Hanya daerah pusat yang mempunyai kualitas udara baik, karena hanya mereka yang mampu membeli udara bersih. Sebagian besar hanya dapat menunggu pemerintah berbaik hati membagikan bantuan sosial berupa udara dan air bersih ke masyarakat. Tetapi jangan berlalu berharap, barang mewah seperti itu hanya dibagikan menjelang pemilihan kepala daerah saja, bahkan kualitasnya hanya sedikit lebih baik dari udara yang tercemar, udara yang kita hirup sehari-hari di daerah pinggiran.

Orang-orang selalu menutup rapat pintu dan jendela agar udara diluar tidak memasuki rumah mereka. Sebagian penduduk memiliki penyaring udara dan dihidupkan pada waktu-waktu tertentu, sementara sebagian lagi terpaksa menghirup udara kotor di kota. Kota ini terlalu kecil untuk menampung penduduk yang terlalu banyak, menyebabkan buruknya kualitas udara dikota.

Kruukk.. Perutku berteriak memintaku segera mengisinya. Kuberanjak pergi ke pabrik makanan buatan tempatku bekerja, seperti pabrik pada umumnya yang memiliki jadwal kerja sangat padat. Para buruh dibayar berdasarkan jumlah makanan yang dapat mereka kemas selama sehari mereka bekerja.

Buruh di perusahaan pada umumnya adalah anak muda, mereka dapat menghasilkan cukup makanan karena staminanya yang berlimpah, tetapi seiring bertambahnya usia, stamina mereka akan berkurang dan dipecat oleh perusahaan.

Tidak ada tunjangan hari tua, buruh hanyalah alat yang dipakai selama mereka masih bermanfaat dan dibuang begitu saja ketika tidak bisa dimanfaatkan lagi oleh perusahaan. Tidak terkecuali bagiku, tinggal menunggu waktu sampai aku dibuang oleh perusahaan.

Kupikir aku akan terus seperti ini hingga akhir hidupku, hidup hanya untuk bekerja tiada henti sampai akhirnya mati. Impian? Hanya orang-orang kaya yang boleh memilikinya.

Hari ini sama seperti hari-hari biasanya, harusnya seperti itu. Tetapi satu kejadian kecil mengubah hidupku.

Seperti biasanya, aku bangun dan bergegas ke pabrik setelah mendapat protes dari perutku. Sesampainya dijembatan yang biasa aku lalui, aku mematung ketika melihat sesosok wanita berdiri di pinggir jembatan dengan pagar jembatan yang terbuka.

Dia menatap ke bawah, tampak seperti orang yang ingin melompat. Sebelum otakku selesai mencerna apa yang sedang terjadi, aku spontan berlari kearahnya. Kasus bunuh diri sangat normal terjadi didaerah pinggiran, aku harus mencegahnya apapun yang terjadi!

Aku berhasil sampai tepat dibelakangnya sebelum dia sempat melompat. Aku sedang mengatur nafasku yang terengah-engah, ketika ia berbalik menghadapku.

“Apa kau ingin melihat apa yang ada dibalik tembok?” ucapnya.

Sebelum aku sempat mencerna kalimatnya, dia sudah lompat sambil memegang erat tanganku. Menarik diriku ikut jatuh bersamanya. Jantungku seakan berhenti berdetak, rasa takut, marah, bingung, cemas, seketika menyelinap kedalam pikiranku. Apakah aku berbuat hal yang tidak perlu? Mengapa dia mengajakku mati bersamanya? Apa bunuh diri bersama sedang populer saat ini? Sekte macam apa yang mempraktikkan ajaran seperti ini? Dan mengapa aku mencoba menyelamatkan orang lain ketika aku sendiri tidak mempunyai keinginan ataupun tujuan hidup?

Aku belum selesai mengutuk diriku, ketika terdengar suara brukk bersamaan dengan tangan dan pahaku yang terasa panas. Kubuka mataku yang sebelumnya kututup rapat-rapat, hal yang pertama kali kulihat adalah wajahnya yang menatapku sambil menahan tawa. Tawanya pecah ketika aku meraba-raba tubuhku, memastikan semua anggota tubuhku masih ditempatnya.

AKU MASIH HIDUP! Itu pertama kalinya aku bersyukur mengetahui aku masih hidup.  Kulihat apa yang ada dibawahku, ternyata ini adalah gerbong kereta yang penuh dengan bola-bola hitam, aku pernah melihatnya memenuhi sebuah bendungan. Tampaknya sedang ada proyek pembangunan besar-besaran di pusat kota. Entah apa fungsinya, yang pasti bola-bola ini telah menyelamatkanku dari kematian yang konyol.

“Latifa” ucapnya sambil menyodorkan tangannya kepadaku setelah ia puas tertawa. Dengan rasa kesal dan bingung, aku menjabat tangannya. Kereta terus berjalan, kemudian kereta menanjak naik hingga mencapai ketinggian di mana kita dapat melihat pemandangan kota dari atas. Kutebak kota ini menuju utara, ke arah pusat kota. Baru pertama kali aku melihat pemandangan kota kelahiranku dari atas.

Kota ini mirip seperti sangkar burung dan dibangun di atas laut, begitulah yang dikatakan orang-orang. Aku sendiri belum pernah melihat seperti apa bentuk sangkar burung. Alasan mengapa negara ini dapat berdiri adalah karena di bangun di atas daratan yang sudah ada sejak bumi terbentuk.

Tembok-tembok tinggi berdiri kokoh mengelilingi seluruh daratan, tembok-tembok itu adalah batas dunia kita, tidak ada penduduk yang boleh mendekati tembok demi alasan keamanan. Karena fungsi dari tembok tersebut dalam menghalau air laut yang asam memasuki kota, tembok itu menjaga kita semua.

Di atas tembok ada atap yang berlapis-lapis dan berbentuk cekung menyelimuti seluruh kota, orang-orang menyebutnya atmosfer. Kita dapat melihat bola-bola raksasa yang terus-menerus memancarkan cahaya panas dilangit-langit kota, cahaya yang dipancarkan semakin redup seiring mendekati waktu malam. Di pagi hari bola-bola raksasa itu dinamakan matahari, sedangkan pada malam hari dinamakan bulan.

Kota ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu daerah pinggiran yang dihuni penduduk miskin, daerah tengah yang dihuni oleh penduduk yang mempunyai ekonomi lebih baik, dan daerah pusat yang dihuni oleh orang-orang kaya dan tersohor. Masing-masing daerah di pisahkan oleh tembok yang tinggi, serta jurang yang sangat lebar dan terjal. Penghubung satu-satunya tiap daerah adalah jembatan kereta api yang sedang kami naiki. Jurang itu berfungsi untuk mencegah penduduk dari suatu daerah menyusup ke daerah lain. Hampir mustahil bagi orang miskin sepertiku tinggal didaerah pusat, seseorang yang terlahir miskin akan meninggal dalam keadaan miskin.

“Apa kau ingin tau rahasia terbesar dari kota ini?” ucapnya.

“Sebenarnya matahari bukan bola-bola besi yang memancarkan cahaya, tetapi sebuah bintang besar yang memancarkan cahaya panas hingga sampai ke Bumi. Bulan bukanlah bola raksasa yang redup, tetapi satelit alami yang mengorbit bumi.” Aku belum sempat menjawab ketika dia melanjutkan kalimatnya.

Aku terdiam mendengar ucapannya yang tidak masuk akal itu. Dia meneruskan kalimatnya tanpa peduli dengan wajahku yang bingung.

“Atap di atas kita bertujuan untuk melindungi orang-orang dari cahaya matahari. Beberapa dekade lalu, ada lapisan atmosfer yang salah satu fungsinya untuk menyaring efek negatif dari cahaya matahari. Tetapi semenjak atmosfer itu rusak, panas matahari menjadi sangat berbahaya sehingga membunuh banyak orang. Orang-orang kaya berlindung di dalam bungker pribadi mereka, sedangkan mereka yang tidak memiliki akses harus pasrah menanti kematian datang. Tetapi tidak sampai disitu, cuaca yang tidak menentu dan mencairnya seluruh es di kutub utara dan selatan menyebabkan daratan dipesisir serta pulau yang tak terhitung jumlahnya tenggelam. Milyaran orang telah mati, ketika akhirnya manusia memutuskan membangun tembok, atmosfer dan benda-benda angkasa buatan untuk mengatasi bencana kepunahan yang didepan mata.” Sambungnya.

Sepertinya aku telah bertemu orang aneh, aku terlalu malas menanggapinya dan memutuskan pasrah mendengarkan khayalannya yang tidak masuk akal. Waktu tidurku yang berharga terbuang percuma karena keputusan konyolku menyelamatkannya. Ketika kereta ini berbalik arah, aku akan turun dan tidak perlu lagi mendengarkan khayalannya. Aku tidak akan pernah naik kereta ini lagi. Begitulah skenario yang telah kususun rapi dikepalaku.

Kereta memasuki terowongan yang gelap, aku tidak bisa melihat apapun untuk beberapa saat. Dia sudah berhenti bercerita sejak kereta memasuki terowongan. Terlihat secercah cahaya setelah beberapa lama, sepertinya itu ujung dari terowongan. Saat di mana kereta keluar dari terowongan, saat itu pula sebuah cahaya menyinari wajahku.

Sebuah pemandangan yang tidak dapat digambarkan oleh pelukis terhebat mana pun, dan tidak dapat diceritakan penyair terkenal sekalipun. Sebuah bola yang bercahaya kemerah-merahan dan air sejauh mata memandang, dari situlah cahaya ini berasal. Bola itu mengeluarkan cahaya yang menciptakan garis-garis cahaya merah memanajang kesekitarnya. Aku mematung melihat pemandangan menakjubkan itu, pemandangan yang tidak dapat kalian lihat bahkan dalam mimpi paling indah sekalipun. Waktu berlalu, bola merah itu telah hilang sepenuhnya berganti dengan bola berwarna putih ditemani titik-titik bercahaya disekitarnya.

Suasana terasa sangat sunyi, tidak terasa berapa lama waktu telah berlalu. Seolah tersihir, mataku tidak bisa berhenti menatap pemandangan didepanku.

“Ini adalah tempat rahasia sekaligus hartaku yang paling berharga” ucapnya pelan.

Setiap akhir pekan aku selalu pergi ke jembatan untuk bertemu dengannya. Aku bekerja ekstra demi mendapatkan gaji lebih, agar tidak perlu bekerja setiap hari. Setiap akhir pekan, aku mendengarkan berbagai hal-hal menakjubkan darinya, tentu saja sambil memandang matahari terbenam dengan bulan dan bintang di malam harinya.

Tidak seperti daerah lainnya yang tertutup tembok dan atmosfer. Jembatan kereta yang menghubungkan daerah pinggir dan tengah tidak tertutup apapun, sehingga kita dapat melihat dengan mata telanjang pemandangan laut di sore dan malam hari. Matahari dan Bulan buatan di kota tidak bisa dibandingkan dengan yang aslinya.

Dia selalu memakai liontin berbentuk pohon, aku tahu dia tinggal di pusat kota hanya dengan melihat pakaian dan liontin miliknya yang terlihat sangat mahal. Bentuk liontin yang ia kenakan terasa tidak asing, tetapi aku tidak bisa mengingat di mana aku pernah melihatnya.

Dia memberitahuku bahwa beberapa dekade lalu, kota ini adalah daratan yang didominasi oleh pepohonan yang disebut hutan. Kadangkala aku merasa ceritanya terlalu dilebih-lebihkan, mustahil ada wilayah yang ditumbuhi pepohonan tak terhitung jumlahnya dengan luas hingga puluhan juta hektare. Bahkan menumbuhkan sebuah pohon saja sangat sulit, hanya orang super kaya dan negara yang sanggup memiliki pohon, bahkan total semua pohon di daratan ini tidak lebih dari hitungan jari. Aku tidak bisa membayangkan akan semenakjubkan apa wilayah yang disebut hutan itu.

Kalaupun dahulu benar-benar ada, pasti hutan adalah aset negara. Tidak mungkin negara akan membiarkan penduduk biasa memasuki hutan, siapa yang tahu mereka akan merusaknya atau tidak? Negara tidak akan berani mengambil risiko seperti itu, negara pasti memutuskan membatasi akses menuju hutan agar dan menjaganya.

Aku bisa menebaknya dari melihat seberapa keras orang-orang kaya dan para pejabat menjaga pohon mereka, mereka lebih mementingkan pohon mereka dibandingkan segunung emas dan berlian.

Tetapi dia bilang para pengusaha dan pemerintah yang justru merusak hutan itu. Sangat tidak masuk akal mereka merusak hutan ketika mereka sangat menjaga pohon yang mereka miliki. Mereka memang rakus, tetapi mereka tidak gila.

Suatu ketika perusahaan tempatku bekerja mengadakan lomba untuk memperingati hari lahirnya perusahaan. Setiap tahun hadiahnya selalu menarik, ini satu-satunya hal baik yang bisa kuingat dari perusahaan tempatku bekerja.

Aku sangat terkejut ketika mengetahui hadiah utama lomba itu adalah syal! Barang semahal itu menjadi hadiah lomba? Apa para pimpinan perusahaan sudah kehilangan akalnya? Tanpa bertanya harganya, aku sudah tau bahwa syal adalah barang yang sangat mahal.

Domba adalah hewan yang hampir punah, mendapatkan bulunya sangat sulit bahkan bagi orang-orang kaya. Aku tahu bahwa perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan besar, tetapi kali ini sangat berlebihan. Belakangan aku tahu ada rencana licik dibalik pemberian hadiah itu.

Banyak media yang meliput sehingga beritanya tersebar sangat cepat, tidak sampai sehari semua orang di kota sudah mengetahui kabar mengejutkan tersebut. Harga saham perusahaan meroket, banyak perusahaan besar yang tertarik untuk menjadi sponsor lomba, dan yang paling penting mereka mendapatkan pujian karena dianggap menghargai jerih payah buruh.

Omong kosong! Mereka berbuat demikian karena skandal perusahaan yang terkuak baru-baru ini bahwa mereka mengeksploitasi buruh dengan sangat tidak manusiawi. Beberapa aktivis menuntut keadilan bagi para korban, nasib perusahaan sudah diujung tanduk ketika mereka mencetuskan ide tersebut demi menarik simpati publik. Skandal tersebut tenggelam dan mereka diagung-agungkan bak pahlawan.

Tiba-tiba aku terbayang olehnya yang selalu mengigil kedinginan di atas kereta ketika malam tiba, mungkin syal bisa membuatnya lebih hangat. Bahkan syal ini bewarna pink, aku yakin akan sangat cocok dengannya. Aku tersenyum tanpa sadar ketika membayangkannya memakai syal ini. Aku harus memenangkan lomba ini demi membalas kebaikannya.

Hari pertama lomba, aku sangat bersemangat membayangkan akan menang. Lomba di adakan selama 6 hari dari hari senin hingga hari sabtu. Pemenang ditentukan berdasarkan siapa yang dapat mengemas makanan paling banyak selama 6 hari kerja tersebut. Tentu saja lomba yang akan mereka adakan sangat eksploitatif, aku sudah bisa menebaknya dari awal. Bahkan kami harus menanda-tangani surat pernyataan, agar kami tidak bisa menuntut perusahaan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi aku tidak peduli dengan fakta tersebut, aku harus memenangkan lomba itu apapun yang terjadi.

Hari ketiga lomba, aku masih sanggup bertahan. Semua peserta diizinkan untuk lembur selama yang mereka mau, mereka bahkan diperbolehkan menginap di perusahaan. Strategi licik perusahaan sukses membuat semua orang bekerja lebih keras, termasuk aku. Aku bahkan hanya tidur maksimal 3 jam demi mengejar ketertinggalan. Aku belum masuk 10 besar teratas, aku harus bekerja lebih keras lagi.

Hari terakhir perlombaan, sudah banyak peserta yang pingsan kelelahan atau menyerah. Penglihatanku mulai buram, tanganku dan kakiku mati rasa dan berdarah, tetapi aku harus bertahan, aku harus menang. Aku tidak ingat berapa lama aku mengemas makanan, ketika akhirnya aku jatuh pingsan.

Aku membuka mataku, sepertinya aku berada di ruang kesehatan perusahaan. Aku menghela napas panjang, aku gagal. Aku beranjak bangun dari kasur tempatku tertidur untuk pulang, ketika aku melihat syal di atas meja yang terletak di sebelahku beserta selembar kertas dengan angka 1 dan namaku dibawahnya. Aku menang!

Spontan aku berlari menuju jembatan dengan sekuat tenaga, aku menghiraukan wartawan yang mencoba mewawancaraiku di depan pintu keluar perusahaan. Tentu saja mereka mencoba menghentikanku, tetapi mereka terlalu lambat untuk melakukan itu. Aku telah sampai di jembatan, tetapi dia belum datang. Tubuhku belum pulih sepenuhnya, aku pingsan untuk kedua kalinya.

Aku membuka mataku, hal yang pertama kulihat adalah wajahnya yang memandang bulan. Aku merasakan ada yang mengganjal dikepalaku, ternyata aku tidur dipangkuannya. Aku terlalu malu untuk berbicara, hingga ia sadar aku telah terbangun. Aku segera bangkit dan duduk di sampingnya.

“Kamu kenapa bisa pingsan?” dia bertanya sambil memandangku.

Aku tidak menjawabnya, aku melepas syal dileherku dan memakaikan syal itu kelehernya.

“Ini buat kamu” ucapku.

“Terima kasih” balasnya sambil tersenyum menatapku.

Sinar bulan menyinari wajahnya, dia terlihat sangat cantik. Seolah tersihir, aku tidak bisa berhenti menatap wajahnya.

Saat itu..

Aku tanpa sengaja melihatnya

Dia berbicara dan tersenyum kecil

Detik-detik paling berharga dalam hidupku

Saat itu..

Di tengah heningnya malam

Aku melihat sesuatu yang tidak tergantikan

Aku melihat dia dengan senyumnya

Senyum yang bagiku lebih berharga dibandingkan milyaran senyum di dunia

Saat itu..

Waktu seakan membeku

Dan tanpa sadar aku berharap selalu seperti itu.

“Jika kita terlahir beberapa dekade lebih awal, mungkin kita dapat melihat apa yang disebut hutan. Jika perubahan iklim bisa dicegah dan hutan tetap terjaga, mungkin milyaran orang tidak akan mati kelaparan. Jika orang-orang pada masa lalu berusaha lebih keras, mungkin nasib kita akan sepenuhnya berbeda. Kita dapat menjelajah berbagai tempat menakjubkan. Kita dapat berbincang hingga larut malam ditemani nyanyian serangga dan cahaya bulan. Kita bisa memilih ingin tinggal atau pergi. Kita dapat merasakan segarnya udara pagi dan gemerlapnya malam hari. Kita bisa melihat matahari pagi terbit tanpa takut dengan cahayanya. Kita dapat melihat matahari, bulan, bintang kapan pun dan dimanapun yang kita inginkan. Kita dapat merasakan semua itu” ucapnya suatu ketika.

Aku tidak mengetahui alasan mengapa dia berkata seperti itu. Aku sadar ada hal yang aneh pada dirinya. Kereta berhenti dan dia beranjak turun dari gerbong. Kutatap dirinya yang berjalan menjauh hingga hilang sepenuhnya.

Firasatku terbukti ketika minggu selanjutnya aku datang ke jembatan. Dia tidak ada, yang ada hanyalah liontin yang selalu ia pakai. Liontin itu tergeletak ditempat di mana dia biasa berdiri menungguku. Setiap pagi aku menunggunya, waktu berlalu tetapi tidak ada tanda-tanda kehadirannya.

Beberapa minggu sudah berlalu, aku tidak bisa berhenti memikirkan dirinya. Aku masih menyalahkan diriku sendiri yang saat itu diam saja melihatnya pergi. Mengapa aku tidak memegang tangannya? Mengapa aku tidak bertanya alasan dia berkata seperti itu? Mengapa aku tidak bertanya di mana aku bisa menemuinya? Berbagai macam penyesalan hinggap dipikiranku.

Aku mengingat saat-saat di mana aku pertama kali bertemu dengannya. Sontak hal itu mengingatkanku dengan liontin yang ia tinggalkan. Aku merogoh sakuku dan mengeluarkan liontin berbentuk pohon miliknya. Aku mengamati liontin itu dengan harapan mendapatkan petunjuk tentangnya.

Setelah beberapa hari mengamati liontin tersebut, aku masih belum mendapatkan petunjuk. Aku memutuskan naik kereta pada sore harinya, itu pertama kalinya aku naik kereta sendirian. Cahaya senja masih terlihat indah, tetapi kini terasa hampa. Aku kembali mengingat tentangnya, caranya tertawa, suaranya saat bercerita, sikapnya yang membuatku nyaman. Aku menyadari bahwa aku telah jatuh cinta kepadanya.

Put your head on my shoulder

Hold me in your arms, baby

Squeeze me oh-so-tight

Show me that you love me too

Alarm handphone membangunkanku dari tidurku. Sisa-sisa mimpi indah semalam masih terbayang dipikiranku, aku menutup mataku kembali berusaha mengingat-ingat mimpi indah itu, kadangkala mimpi lebih indah dari realitas.

Ketika aku selesai mengingatnya, aku menatap sekitarku. Tembok rumah yang rata, atap yang kokoh, dan udara yang segar sama seperti hari-hari pada umumnya. Yap.. aku yakin aku telah terbangun dari tidurku.

Aku beranjak bangun dari kasur tempatku tertidur dan menggosok gigi dengan air tawar di wastafel, rasa dari air tawar yang menyegarkan mengembalikan sisa-sisa jiwaku yang belum terkumpul.

Beberapa tahun belakangan kehidupanku sudah berubah drastis. Setelah sore di mana aku menaiki kereta itu sendiri, aku memutuskan untuk mengubah nasibku. Aku mulai menulis novel berdasarkan cerita yang kudengar darinya selama ini. Tentang segelintir orang yang tamak, tentang segelintir orang yang memperjuangkan hak orang banyak, dan tentang mereka yang mendoakan orang yang mereka cintai dalam diam.

Tidak peduli di mana pun, kapan pun, dan siapa pun. Manusia pada dasarnya adalah para pemimpi, mereka senang membayangkan hal-hal yang menakjubkan, aku menyodorkan mimpi-mimpi itu kepada mereka.

Segera setelah diterbitkan, novelku menduduki peringkat atas dalam banyak kategori, memenangkan banyak penghargaan bergengsi.

Co-Hiding. Inti cerita dari novelku, co berarti bersama dan hiding berarti bersembunyi. Keadaan di mana manusia bersembunyi dari ganasnya bencana alam yang timbul akibat ulah manusia yang merusak.

Aku diberikan rumah di daerah utara pusat kota, daerah yang diberikan khusus kepada orang-orang yang telah berjasa memberikan dampak positif bagi orang banyak. Orang-orang biasa dengan jasa yang luar biasa.

Tetapi aku menolaknya, aku memilih untuk menukarkannya dengan uang dan membeli lahan didaerah pinggiran, aku membangun rumahku sendiri. Banyak orang yang menyayangkan keputusanku itu, tetapi aku memiliki alasanku sendiri.

Aku membeli rumah di dekat jembatan itu agar aku bisa datang kesana setiap pagi. Aku mencari petunjuk seiring meluasnya relasiku. Seiring aku mendapatkan petunjuk, aku mulai sadar bahwa ia sangat jauh dari jangkauanku.

Dia bukan orang kaya biasa. Jenis pohon di liontin miliknya adalah pohon ulin, pohon itu adalah lambang keluarga yang mendirikan daratan di atas laut ini, salah satu yg paling berjasa sekaligus berkuasa didunia. Tidak masuk akal rasanya orang sepertiku ingin bersamanya selamanya. Tetapi seperti yg sudah kukatakan, manusia adalah para pemimpi dan aku salah satu yang terhebat dalam mewujudkannya.

Matahari menyapa, seperti biasa aku masih mengunjungi jembatan itu setiap pagi. Ingatan hari-hariku bersamanya mulai pudar, kini aku sudah tidak ingat rupa wajahnya. Ingatan terakhirku tentangnya adalah senyumnya yang membuatku jatuh cinta. Hari ini sama seperti hari-hari biasanya, harusnya seperti itu.

Aku mematung ketika melihat sesosok wanita berdiri di pinggir jembatan dengan pagar penghalang yang terbuka. Dia menatap ke bawah, tampak seperti orang yang ingin melompat. Sebelum otakku selesai mencerna apa yang terjadi, spontan aku berlari kearahnya.

Aku berhasil sampai tepat dibelakangnya sebelum dia sempat melompat. Aku sedang mengatur nafasku yang terengah-engah, ketika dia berbalik menghadapku.

“Apa kau ingin melihat apa yang ada dibalik tembok?” Ucapku sambil menatap wajahnya yang tersenyum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *