Cerpen #194 Kota Apung

Jogjakarta, 16 Januari 2018 di sebuah ruang mapala kampus swasta terbesar di Jawa Tengah sedang berkumpul empat orang mahasiswa yang tergabung dalam sebuah organisasi pencinta alam.

Wira yang merupakan ketua Mapala Kampus Senopati membuka keheningan

“Gimana, kalian semua diizinin ga sama orangtua buat naik gunung Sindoro?” Ujar Wira

“Dapet dong, bos” Kata Dirga

“Belom bilang nih, mepet aelah izinnya” Saut Gery

“Ah gimana si Ger, aku aja yang cewek sendiri wes izin sama ibuku” Kata Rindu, satu satunya mahasiswi yang ikut dalam kegiatan mapala kali ini

“terus, ibumu bilang apa” tanya Wira

“Ibu aku tanya, sama siapa aja perginya? aman ga?, yowis kubilang perginya sama kalian yang katanya mau melindungi aku sepenuh jiwa dan raga. Yaa terus ibuku bilang yaudah tapi hati hati ya, kalo ga kuat ga usah dipaksa, buat pengalaman aja” Jelas Rindu

“harusnya kamu bilang ndu, tenang aja bu, mas wira pasti akan melindungiku hahaaa” Saut Dirga

“hahaahaaa toss” Saut Gery sambil menjulurkan tangannya ke Dirga

Begitulah, perbincangan empat sekawan yang rencananya akan menaiki Gunung Sindoro di hari Senin, 22 Januari 2018. Mereka sengaja mengambil hari biasa agar bisa naik gunung dengan nyaman dan tidak perlu berebut oksigen dengan terlalu banyak pendaki di hari libur.

Dua minggu setelahnya mereka naik bis bersama dari Jogja menuju Terminal Wonosobo. Dari Terminal Wonosobo, mereka lalu mencarter mobil menuju Basecamp Sindoro via Kledung. Sesampainya di sana mereka mendaftar dan mengisi beberapa lembar formulir yang menjadi syarat untuk naik gunung. Di depan Basecamp dapat dilihat ada banyak ojek pangkalan yang siap untuk mengantar para pendaki menuju pos 1 supaya pendaki bisa menghemat energi dan tentunya bisa sedikit membantu ekonomi penduduk sekitar.

“gimana, kita mau jalan aja ke pos 1 atau naik ojek?” Wira bertanya kepada teman-temannya

“Jalan aja deh wi, biar irit, maklumlah mahasiswa” Kata Gery

“Iya, jalan aja” “Iya” saut Dirga dan Rindu

“Yaudah, kalo gitu kita berdoa dulu ya sebelum melakukan pendakian” kata Wira setelahnya.

Setelah berdoa, mereka mulai melakukan pendakian menuju pos 1. Waktu yang ditempuh menuju pos 1 kira kira sekitar 20-30 menit. Di jalur pendakian ini, pemandangan yang muncul adalah perkebunan dan perumahan warga Kledung. Setelah berjalan sekitar 30 menit mereka berempat sampai ke pos 1, setelah sampai pos 1 mereka langsung melangkahkan kaki menuju pos 2 untuk menghemat waktu. Menuju ke pos 2, perjalanan mulai menemui bebatuan besar dan jalanan yang cukup terjal, dari Pos 1 ke pos 2 perjalanan sekitar 1-1.5 jam. Sesekali mereka saling menanyakan kondisi rekannya.

“Gimana ndu, wes capek?” Tanya Dirga ke Rindu

“ Ya capek ga, namanya aja ndaki, tapi tanggung kalo berenti, nanti aja di pos 2” Jawab Rindu

“yaudah nanti kalo ga kuat bilang aja, mas wira siap membantu, hahaa” ledek Dirga

“ kamu nih ya, bawa bawa namaku terus” Saut Wira

“ Namanya juga sahabat sejati bro, saling membantu” kata Gery

Gery dan Dirga memang seringkali meledek Rindu dan Wira, mungkin supaya tidak kaku saja suasananya, entah nanti kejadian atau tidak, kita lihat saja bagaimana semesta berkehendak.

Akhirnya setelah mendaki santai sekitar 1.5 jam, sampailah mereka di pos 2, sesampainya di sana mereka kemudian duduk dulu untuk makan siang karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.35 siang.

Selepas Ishoma, mereka melanjutkan perjalanan menuju pos 3, Kondisi jalan dari pos 2 menuju pos 3 memang cukup menantang dengan kondisi jalan yang semakin sulit dan terjal, beberapa kali Rindu harus dibantu rekan rekannya untuk dapat melewati jalanan yang berbatu. Perjalanan menuju pos 3 memakan waktu cukup lama, langit mulai gelap dan sebentar lagi masuk waktu maghrib. Tiba-tiba, di depan mereka jalanan menjadi cukup gelap dan muncul kabut.

“kabutnya tebel juga ya wi” Kata Dirga

“Iya ga, kita pelan pelan aja ya jalannya temen-temen” Kata Wira

“duh, kok makin ga keliatan ya jalanan depan kita, kabutnya tebel banget nih” Ujar Rindu agak takut

Kemudian beberapa saat, terdengar teriakan dari keempat kawan tersebut

“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaargggghhh” keempat kawan tersebut terperosok

Blubub blubub blubub….

“Haaaaah,, rinduuu, Gaaaa, geeerr” Teriak Wira yang terombang ambing di tengah lautan air sembari mencoba berpegangan ke benda yang lewat.

Tiba-tiba wira merasa kakinya ditarik oleh beberapa tangan

“Aaaaah” sedikit tenggelam, kemudian Wira bisa melihat ketiga temannya yang mencoba untuk naik ke permukaan.

Setelah menolong ketiga temannya untuk naik ke permukaan, akhirnya keempat kawan tersebut kembali berkumpul dengan berpegangan ke sisi tembok yang mencuat di tengah tengah genangan air.

“walah ra, dimana nih kita, Samudra pacific ya” tanya Dirga

“ga tau Ga, apa kita tadi keperosok ke aliran air ya” Kata Wira

“Eh Ra, kayaknya tempat ini ga asing deh, kok banyak Gedung Gedung tinggi ya di tengah lautan” Rindu tersadar dengan keadaan di sekelilingnya

“Eh iya ya bener, kayak Gedung Gedung yang ada di Kawasan Jaksel” Kata Gery.

Gery dan Rindu memang berasal dari Jakarta dan saat ini sedang menempuh Pendidikan di Jogjakarta.

“Eh eh guys ada perahu lewat tuh, coba kita tanya” Kata Gery

Kemudian mereka melambaikan tangan ke arah perahu yang di bawa oleh pria paruh baya berumur sekitar 65 tahun.

“Paaaak, di siniiii” Kata Wira

“kalian ngapain berenang di sini, kenapa ga bawa kendaraan” tanya Bapak Tua

“Kendaraan?” Tanya Rindu

“Iya kendaraan, kalian korban pencurian?” bapak tua kembali bertanya

“haaa,, opo toh ikiii raaa” Kata Dirga merajuk

“Pak, maaf kami tersasar, sebelumnya kami sedang naik Gunung Sindoro kemudian kami terperosok dan sepertinya kami terbawa aliran air sampai ke sini” Jelas Wira

“pffft” Bapak tua terlihat menahan tawanya

“Jadi maksud kalian, kalian terbawa arus dari Jawa Tengah ke sini?” Tanya Bapak Tua

“Iya juga ya kok jauh banget kita kebawa arus” Gery berkata dengan ragu

“jangan jangan kita udh terombang ambing beberapa hari? Maaf pak, sekarang tanggal berapa ya?” Tanya Rindu

“oooh, ini 12 November ‘20” Kata bapak Tua

“hah 20, tp ini kan wes tahun 2021” kata Dirga”

“ 12 November 2120” Jelas Bapak Tua

“ooh dua ribu serratus, HHAAAAAAHHH, dua ribu serratus dua puluh?” Dirga kaget mendengar ucapan bapak tua

“ah bapak bercanda aja haahaaa” Kata Gery

Kemudian Bapak tua tersebut menunjukkan tanggal yang ada di ponselnya.

“Ini gimana si, kita mimpi kali ya, coba kita tutup mata terus kita buka lagi yuk” Kata Rindu

Wira yang sedari tadi terdiam, mencoba meresapi apa yang sedang terjadi.

“Yaudah yuk kalian naik perahu Bapak, nanti pada masuk angin berenang sore sore” Ujar Bapak Tua

Setelah mereka berempat naik ke perahu bapak tua, mereka kemudian bercerita kalau mereka sebenarnya berasal dari tahun 2021, dan sedang naik gunung tapi entah kenapa mereka malah tersasar ke tahun 2120. Bapak Tua mendengarkan dengan seksama, seolah tau kalau mereka berempat memang bukan berasal dari zaman tersebut.

“Kok Jakarta bisa jadi gini ya pak” tanya Gery

“Dari Bapak lahir, Jakarta memang sudah seperti ini” Jawab Bapak Tua

“Bapak memang lahir tahun berapa” Tanya Wira

“hmmmm, tahun 2055, sudah lama sekali yaaa” Bapak Tua menjelaskan sembari tertawa

“Jadi Ger, Kita ini lebih tua dari bapak tua ini” Bisik dirga

“Iya kita kakek buyutnya” Saut gery

“Hahaahaaa” Bapak Tua kembali tertawa

“Mau bapak ceritakan sejarah yang diceritakan ayah bapak tentang Jakarta?” tanya Bapak Tua

“Iya pak, tolong ceritakan kepada kami” Kata Wira

Bapak Tua mulai bercerita

“Jadi sekitar 1 Abad yang lalu, Jakarta adalah salah satu kota modern yang ada di Indonesia. Banyak gedung-gedung tinggi yang  megah dan mewah, tapi banyak juga kawasan penduduknya yang kumuh. Karena kawasannya yang berada di pesisir pantai maka Jakarat sering dilanda banjir, terlebih saat musim penghujan, hal ini diperburuk oleh buruknya sistem drainase dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Dulu masyarakat banyak yang suka membuang sampah sembarangan, apalagi yang tinggal di bantaran kali, mereka langsung membuang sampah ke sungai. Alhasil, setiap tahun Jakarta seringkali dilanda banjir. Sayangnya, di tahun 2045 terjadi pemanasan yang semakin parah, naiknya air laut karena mencairnya kutub utara terjadi sangat parah di tahun tersebut yang menyebabkan bencana di mana mana, bukan hanya di Jakarta, tapi di seluruh negara kepulauan termasuk Jepang dan Korea. Hanya saja, kondisi di Jakarta diperburuk dengan tersumbatnya aliran air serta sistem tata kota yang buruk. Di tahun tersebut, terjadi bencana banjir yang dahsyat di Jakarta, kondisi chaos terjadi di mana mana. Akhirnya banyak orang yang memutuskan pindah ke Kawasan yang lebih tinggi seperti Bandung dan seperti yang bisa kalian lihat, kini Jakarta bukan lagi kota modern seperti seratus tahun lalu tetapi berubah menjadi kota apung. Sistem pemerintahan juga sudah di pindah ke Kalimantan sejak lama. Bagaimana menurut kalian mendengar sejarah Jakarta?” Ujar bapak tua

“sedih banget liat Jakarta sekarang jadi kayak gini” Kata Rindu

“Iya ndu, tempat masa kecil kita yang indah, mall mall yang mewah sekarang udh kerendem air” Kata Gery

“Terus kondisi ini mungkin ga cuma terjadi di Jakarta, jangan jangan Jogja jugaa” Ujar Wira

“Waduh gimana nih ra, gak bisa makan pecel ae” Kata Dirga

“Kira kira Jogja juga apakah seperti ini pak?” tanya Wira

“Ehh kok perahunya goyang goyang ya” Gery berseru panik

“Jangan jangan ada gelombang pasang lagi” Kata Rindu

“Pegangan temen temen” Pimpin Wira

Perahu yang mereka tumpangi semakin bergoyang, kemudian dari arah depan tiba tiba muncul ombak yang sangat tinggi.

 

“Haaaaah” Dirga terbangun

Tinn tiiinnn, suara klakson yang kencang membuat mereka semua tersadar.

“Di mana lagi ini?” Kata Gery

“Ayo ayoo sudah sampaai terminal wonosobo” Teriak kenek bis kepada para penumpang

“jadi tadi mimpi?” kata Rindu

“Jadi kita belum mulai mendaki?” Kata mereka berempat kompak, yang sepertinya sudah lelah sebelum memulai perjalanan.

9 thoughts on “Cerpen #194 Kota Apung

  1. Pesan moral tersampaikan dengan baik! Sebagai pengingat bagi kita semua untuk mulai dari diri sendiri untuk lebih menjaga lingkungan yang mulai tidak baik-baik saja. Ada sindiran juga di bagian “sistem tata kota yang buruk”. Semoga ke depannya Jakarta bisa jadi kota hang lebih baik sehingga imajinasi penulis tidak terjadi di kemudian hari.

  2. Keren banget alur dan jalan ceritanya. Ceritanya ringan, fresh, mengalir dan enak dibaca. Menggunakan bahasa ringan yg dekat pd kehidupan sehari2 pembaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *