Cerpen #192 Tidak Ada Lagi Langit yang Tertutup

Jika kau pernah mendengar kisah pohon yang tumbuh hingga menjulang ke langit lalu dipanjat oleh seorang laki-laki dan menemukan tempat tinggal raksasa yang menjalani kehidupan layaknya seorang manusia, akan kuceritakan sebuah kejadian yang sangat mirip dengan kisah pohon itu. Namun, di daerah Dul─seorang laki-laki yang heran dengan cerobong saat mengingat kisah pohon yang menjulang ke langit─pohon tersebut adalah cerobong asap yang saat ini sudah menjulang tinggi. Dul tidak tahu persis setinggi gedung-gedung apa atau sudah setinggi dengan menara yang pernah ia lihat di buku RPUL dan pada halaman tersebut tertulis “Tujuh Keajaiban Dunia”. Bagi Dul cerobong tersebut sudah menyalip tinggi-tinggi gedung yang berada di perkotaan, daerah yang pernah dikunjungi Dul ketika ingin membeli baju baru ataupun melihat karnaval. Kata orang-orang, cerobong itu bertambah ketika ada orang yang menanyakan: kapan cerobong itu tidak mengeluarkan asap yang pekat lagi? Sumber dari pernyataan tersebut belum jelas, tetapi bukti kebenaran sudah diperlihatkan sendiri di depan mata orang-orang. Warga sudah memercayai tentang ilmu sihir pada cerobong tersebut semenjak suatu kejadian, seperti Dul juga mempercayai kisah pohon yang menjulang ke langit pada waktu kecil hingga sekarang.

Pabrik tersebut berada jauh dari pemukiman, terpisah oleh bentang sungai dengan lebar hampir 70 meter. Asap itu perlahan-lahan mengusik perasaan nyaman warga dan warga merasa terganggu dengan asap pekat yang mengungkung di atas rumah mereka. Asap dari cerobong itu juga sangat berbeda dengan asap dari cerobong lainnya. Volume asap dari cerobong ini setara dengan asap yang dikeluarkan puluhan cerobong. Lalu mereka beramai-ramai datang ke pangkal cerobong asap berada. Mereka heran dengan pabrik yang terlihat sepi setelah mereka berhasil masuk dari gerbang utama─tanpa satpam berjaga, tidak ada tanda-tanda pabrik beroperasi. Setiap orang silih berganti mendongak melihat cerobong yang masih mengeluarkan asap. Setelah berhasil masuk lebih dalam lagi ke setiap ruangan-ruangan, mereka hanya menemukan bangunan terbengkalai dan cerobong yang masih mengeluarkan asap. Semenjak saat itu mereka beranggapan bahwa sedang berurusan dengan sebuah “pabrik hantu”. Dulunya orang-orang yang sedang memancing ataupun anak-anak kecil─termasuk Dul─yang sedang berada di tepi sungai dapat melihat pabrik ini dibangun dengan megah. Ketika tembok terluar dibangun, mereka tidak lagi dapat menduga-duga gambaran jelas apa yang ditutupi oleh tembok. Kabar burung mulai beterbangan dan membawa sebuah kalimat, bangunan itu adalah pabrik.

Perwakilan warga sudah melaporkan semua kejadian itu kepada pihak keamanan dan pihak keamanan menganggap cerita itu mengada-ada, bahkan mereka menganggap warga tersebut gila.

“Tidak ada cerobong asap satu pun yang bisa bertambah sendiri. Apalagi ketika orang-orang menanyakan kapan berhentinya asap yang keluar dari cerobong. Cerobong itu takdirnya mengeluarkan asap.”

Suatu kesia-siaan menimba sumur dengan ember yang bocor. Sama halnya dengan mereka, jauh-jauh datang hanya dianggap sebagai cerita takhayul. Seorang yang dianggap sebagai ketua di kumpulan warga tersebut bertaruh uang untuk pembuktian laporan tersebut, pihak keamanan menjabat tangan ketua tanda setuju. Sudah seminggu para warga menunggu pihak keamanan dan belum datang. Pada akhirnya mereka juga pasrah dan memang menganggap hal tersebut adalah kekuatan ilmu sihir. Keluhan tentang keberadaan asap pekat yang sering mengungkung juga seringkali mengiringi kepasrahan mereka. Mereka tidak berpikir jika cerobong akan sedekat langit jika mereka mengeluh terus-menerus.

Keruhnya warna sungai mirip warna pekat asap cerobong akibat limbah menambahi persoalan bagi warga, tetapi warga berpikir asap yang keluar dari pabrik itu telah masuk ke dalam tetes-tetes air di sungai dan mengubah warna air. Bagaimana juga asap itu terus keluar jika tidak ada kehidupan dalam pabrik tersebut? Pikir warga menjadi-jadi.

Pihak keamanan pun tidak pernah datang. Mereka putuskan untuk melapor kembali, tetapi ternyata hari itu banyak media massa datang untuk meliput kondisi. Perwakilan warga yang kemudian menjadi sebuah komunitas bernama “Kawal Hantu Asap” berpikir bahwa media massa dapat menyebarkan berita ke seluruh khalayak umum. Tidak perlu repot-repot lapor ke pihak keamanan, biarkan masyarakat umum tahu akan kondisi di daerah ini. Sejak saat itu, mereka mendapat empati dari masyarakat luas. Organisasi pencinta lingkungan pun turut menyuarakan keresahan mereka. Pihak keamanan akhirnya turun tangan dan mulai menindaklanjuti kejadian di pabrik yang akhirnya namanya diketahui semua orang, PT Langit Sejahtera, suatu nama yang sangat kontradiktif, pikir para masyarakat. Persoalan taruhan antara seorang yang dulu dianggap ketua─sekarang menjadi ketua komunitas Kawal Hantu Asap─dengan pihak keamanan pun dilupakan begitu saja karena masalah pembuktian cerobong asap yang bisa bertambah tidaklah lebih penting dari yang dikeluarkannya.

Masyarakat umum terus berempati dengan menyuarakan pertanyaan: kapan asap tersebut berhenti mengganggu warga pemukiman─juga ada seruan. Begitu juga warga lupa dengan peristiwa cerobong asap yang terus bertambah tingginya karena setiap melihat langit hanya berisi asap. Tidak disadari cerobong bertambah terus. Proses tindak lanjut yang dilakukan oleh pihak keamanan sudah memakan waktu hampir seminggu dan selama itu juga empati masyarakat terus berlangsung. Cerobong asap juga semakin bertambah tinggi tanpa disadari oleh siapa pun.

Kecuali Dul. Ia masih sering memerhatikan cerobong yang menjulang walaupun samar terlihat karena tertutup asap yang menyebar di langit. Dul juga tidak mengerti sudah pada ketinggian berapa cerobong tersebut, yang penting tinggi, pikirnya. Pikirannya tidak lepas dari cerobong juga disebabkan kisah pohon yang menjulang ke langit. Rasa-rasanya ia ingin memanjat cerobong itu dan berharap untuk mendapatkan harta apapun dari kehidupan di atas sana untuk diberikan kepada orang tuanya.

Namun, orang-orang di pemukimannya masih terlampau sibuk dengan urusan asap pekat dan limbah pabrik di sungai. Semua orang yang berempati mendesak pemerintah untuk memberikan tempat pengungsian bagi warga yang terkena dampak pabrik selagi pihak keamanan menindaklanjuti.

Sebuah pernyataan keluar dari pihak keamanan yang sebelumnya telah bernegoisasi dengan pabrik tersebut.

Untuk saat ini, pihak pabrik masih mengembangkan teknologi berdaya guna untuk mengatasi kesalahannya dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Maka dari itu, untuk warga dalam lingkup Kecamatan Narindum untuk tetap sabar. Sementara untuk menunggu hingga kembali normal, warga akan disediakan pengungsian.” ucap seorang Kepala Bagian menurut keterangan yang terpampang di televisi.

Semua warga desa sekitar pabrik terheran-heran. Saat mereka menghampiri pabrik tersebut mereka tidak menemukan siapa pun. Kelewat sepi untuk dikatakan sebuah pabrik. Namun, saat ini pihak keamanan mengeluarkan pesan dari pihak pabrik tersebut. Warga desa mulai berpikiran jika mereka semua hanyalah rakyat biasa yang berkedudukan lebih rendah dengan semua orang di pabrik sehingga mereka tidak bisa menemui bahkan melihat mereka yang berada di pabrik. Semua terlihat tidak ada apa-apa bagi warga pemukiman

“Jadi, sebenarnya kita dulu mendatangi “pabrik hidup”, ya? Mengapa kita melihatnya sepi?” celetuk orang-orang yang keheranan.

Berbeda dengan pihak keamanan yang mempunyai kedudukan yang berbeda dengan kedua pihak tadi. Walaupun sebelumnya pihak keamanan tidak pernah membantu warga Kecamatan Narindum untuk mengatasi permasalahan yang ada. Begitupun dengan Kepala Camat yang hanya bisa menyarankan untuk bersabar. Mungkin juga memang pihak keamanan mempunyai ilmu khusus dalam menangani persoalan yang tidak bisa masuk ke dalam akal. Semua pikiran-pikiran itu muncul secara tiba-tiba dan bagi mereka. Tidak baik rasanya ketika berpikiran terlalu jauh terhadap apa yang sudah menghibur hati masyarakat. Bagi mereka, persoalan yang ditangani lebih baik daripada tidak.

Semua persoalan itu bagi Dul tidaklah lebih penting dari perasaan ingin memanjat cerobong itu. Dul hanyalah bocah kecil berumur 12 tahun yang penasaran dengan apapun. Ia mempunyai teman di pengungsian bernama Nali. Nali juga tidak tahu-menahu semua perkara di pemukimannya, sama seperti Dul, tetapi Nali sering mendapati orang tuanya keluar rumah untuk melihat ke atas, sambil sesekali menggerutu saat kembali masuk ke rumah. Suatu waktu Nali kemudian ikut mendongak dan hanya melihat cerobong yang ujungnya tidak bisa dilihat karena tertutup asap pekat. Nali teringat dengan film kartun yang pernah dilihatnya, ia berpikir akan sangat hebat jika ia bisa melihat bumi dari luar angkasa.

Orang tua Nali sering mendapat permintaan Nali untuk diantarkan ke cerobong itu berada. Lalu Nali akan memanjatnya seperti yang biasa dia lakukan di pohon rambutan depan rumah. Tidak ada orang tua yang ingin menuruti permintaan yang tidak biasa dilontarkan oleh seorang anak. Begitu juga dengan orang tua Nali. Nali yang tidak tahu cara untuk pergi ke tempat cerobong berada hanya bisa merelakan angan-angannya itu.

Keinginan itu yang membuat Nali dan Dul mulai mengenal satu sama lain. Di pengungsian, cerobong terlihat kecil tidak seperti dilihat dari rumah mereka, tetapi mereka tetap memandangnya. Mereka berpikir, cerobong tersebut menembus langit, sebagai jalan ke dunia yang belum pernah dilihat mereka.

“Cerobong itu akan membawamu ke angkasa yang berwarna hitam, kita bisa melihat bumi dari luar. Dalam kartun, mereka naik roket, sekarang kita tinggal memanjat cerobong saja. Kita bisa bertemu makhluk luar angkasa. Apa itu namanya?” ucap Nali.

“Alien?”

“Ya! Itu!”

“Tidak, kau salah. Di sana ada raksasa dengan harta yang banyak, tidak seperti orang-orang di dunia ini. Kau tidak pernah mendengarkan kisah pohon yang menembus langit dan di atas pohon tersebut ada raksasa?” bantah Dul.

Mereka berdebat tentang apa yang di atas sana. Begitulah usia anak mendebatkan sesuatu, berbeda dengan orang dewasa, seperti orang tua mereka. Pada suatu pagi terjadi keramaian. Suasana pagi itu keruh dan pekat walaupun mereka tidak lagi berhadapan dengan asap, bahkan pikiran mereka sama pekatnya. Apa yang didebatkan oleh warga adalah perihal tempat tinggal mereka, rumah. Mereka ingin setidaknya dua kali dalam seminggu menilik rumah mereka yang sudah ditinggal sejak hari pertama mengungsi. Namun, mereka mendapat larangan dari pihak pengungsian dengan alasan kesehatan dan warga beralasan tentang harta benda mereka.

Nali dan Dul tidak menggubris peristiwa ramai-ramai pagi itu. Mereka hanya menginginkan cara untuk pergi ke cerobong itu berada. Cemas orang tua tidak mereka pikirkan, jauh jarak antara tempat pengungsian dengan pabrik tidak mereka pikirkan, ada hal apa di jalan juga tidak mereka pikirkan. Begitulah anak kecil, tidak memikirkan apa pun sebelum bertindak karena biasanya hal tersebut yang membuat tidak terjadi.

Sementara para warga mulai berganti menggerutu di hati masing-masing, juga ada yang membicarakan dengan sesama warga. Walaupun ini bukan di tempat sayur gerobak keliling atau pos ronda. Jika keributan tadi pagi adalah tentang rumah warga, kali ini keributan dimulai oleh orang tua Dul yang kehilangan anaknya. Setelah mereka berdua mencari ke mana saja dan tidak menemukannya. Disusul oleh orang tua Nali ikut mencari. Karena teman Nali datang ke kamar keluarga Nali untuk mengajak bermain di siang hari, sedangkan orang tuanya mengira Nali sudah bermain sedari pagi.

Dul dan Nali sudah sampai di desa tempat tinggal Dul─yang dapat dikatakan dekat dengan pabrik─dan tinggal menyeberangi sungai dengan jembatan. Desa menjadi sepi dan asap itu masih mengungkung pemandangan langitnya. Tidak ada perubahan sama sekali seperti pada saat warga belum mengungsi. Pekat. Hanya itu yang bisa dilihat jika ada yang mendongak ke atas dari desa tersebut.

“Kata bapakku, pabrik ini pabrik hantu.” kata Dul.

“Kata bapakku, pabrik ini malah pabrik setan.” balas Nali.

“Bedanya apa?”

“Entah, tapi bapakku sering marah-marah dengan pabrik itu. Biasanya begini, ‘Pabrik setan! Kapan asap itu berhenti?! Bisa-bisa dada jadi sesak! Keluar duit lagi!’ begitu, Dul.”

Bapak mereka berdua yang masih sibuk mencari anaknya masing-masing, sementara kedua anaknya pergi tanpa memberitahu

Mereka sudah sampai di depan pabrik. Mereka hanya melihat gerbang dan tembok yang tinggi.

“Pabrik ini sedang dalam proyek besar. Tidak bisa diganggu sementara waktu.”  Dul mengeja. “Artinya apa, Li?”

“Artinya kita tidak bisa mengunjungi pabrik ini.”

“Terus bagaimana dengan cerobongnya?”

“Lain waktu saja. Toh, pabrik biasanya masih bertahan sangat lama. Seperti pabrik rokok di pinggir kota itu.”

“Kita sudah sangat jauh berjalan sampai sini, masa kita mau balik?”

Sejurus kemudian Dul memukul gerbang besi itu dan berbunyi “Dungggg” sebagai tanda kesal. Bunyi itu kemudian dibalas dari balik gerbang dengan bunyi yang sama. Mereka berdua terkejut dan berpandangan satu sama lain. Bunyi itu datang tidak hanya satu kali, bahkan beberapa kali. Membuat mereka berdua sedikit merasa ketakutan, kaki mereka mulai mengambil langkah mundur pelan-pelan dari gerbang itu. Tidak ada siapa pun yang mereka kenal di sana, membuat ketakutan mereka semakin bertambah. Alhasil, mereka lari dan meninggalkan pabrik itu. Melarikan diri dari ketakutan yang mereka alami. Kaki mereka terhenti di mulut jembatan yang jauh dari pabrik juga dengan nafas yang terengah-engah.

“Hantu tadi, Dul?”

“Nggak tahu. Kenapa kita lari? Mungkin saja itu orang.”

“Tidak ada wujudnya. Bisa saja hantu, Dul. Persis kata bapakmu.”

Dul lalu mendongak ke atas lalu sejurus kemudian Nali mengikutinya.

“Kamu masih percaya cerobong itu menembus langit?” tanya Dul.

“Masih. Aku ingin bertemu alien.”

“Sudahlah. Kita balik saja. Tunggu hingga kita besar, lalu kita panjat lagi. Katamu biasanya pabrik bisa bertahan lama.”

Mereka berdua kembali ke tempat pengungsian melewati desanya Dul dan kembali dengan keadaan tempat pengungsian ramai mencari mereka. Sementara, cerobong itu masih berdiri di atas sana. Menunggu mereka untuk menjadi dewasa berarti cerobong itu bisa bertambah ukuran seiring waktu. Semakin mereka dewasa juga nantinya mereka tidak akan menggubris hal dibalik langit tersebut dan melupakan cerobongnya. Entah apa yang terjadi ketika mereka dewasa kelak. Jika benar cerobong itu akan bertambah tinggi dan menyerupai cerita pohon yang menjulang langit, nantinya cerobong yang terus bertambah tentunya akan menembus atmosfer dan lebih buruk, lapisan ozon. Lapisan ozon yang bocor karena tertembus adalah bahaya bagi masa depan manusia, termasuk warga Kecamatan Narindum, termasuk Dul dan Nali. Tidakkah mereka nantinya tidak akan bisa mewujudkan impian mereka? Sebagaimana kita, masihkah kita dapat hidup di kehidupan Bumi 100 tahun mendatang dengan ozon yang terbuka?

2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *