Cerpen #191 Juliet

Juliet, itulah namaku. Aku adalah korban keegoisan nenek moyangku. Karena mereka, aku terpaksa menjadi mutan demi membersihkan laut agar manusia bisa tinggal di laut. Sayangnya aku harus kehilangan suaraku sebagai akibat dari kegagalan dalam penyuntikan pertama. Daratan bumi sudah tidak bisa ditinggali lagi, karena es abadi yang berada di dua kutub mencair dan hampir semua daratan tenggelam dan menjadi bagian dari lautan.

Orang-orang pintar berkata bahwa ras kami akan dibagi dua, satu tinggal di Bumi dan satunya lagi pergi mengembara di langit untuk mencari RUMAH baru. Aku ingin ikut mencari rumah baru Bersama mereka, sayangnya aku sudah menjadi mutan yang habitatnya adalah air, bukan daratan apalagi langit.

Aku dikumpulkan Bersama mutan lainnya yang sama sepertiku, kukira hanya diriku saja yang terkena efek samping penyuntikan. Ternyata ada yang kehilangan tangan dan diganti dengan tangan robot tahan air. Ia menyapaku sebelum aku sempat bertanya kepadanya, ia memperkenalkan diri sebagai subjek tertua diantara yang lain. Ia menyulurkan tangannya padaku.

“ Aku Sei, kau? “

“….” Aku menjabat tangannya dan segera mengeluarkan notes berisi kata yang sering kugunakan,

“ Namamu Juliet… Kau terkena efek samping juga? “

‘ mengangguk ‘

“…. Kalau begitu, ak-“

Lab tiba-tiba berguncang, semua orang panik, air masuk dari dinding lab dan menggenangi lantai hingga setinggi lutut. Penjaga memerintahkan kami untuk ke hangar dan menunggu kapal disana. Sei segera menyambar tanganku dan pergi. Wajahnya terlihat tenang dan sedang serius berpikir, sepertinya ia mencari rute tercepat menuju hangar.

“ Lab ini sangat luas, aku pernah berkeliling 1 kali dan itu sangat melelahkan. Kita tidak bisa menggunakan lift karena banjir jadi kita menggunakan tangga darurat menuju hangar bawah, kau mengerti? “

‘ mengangguk ‘

“ Syukurlah kau paham, tapi siapa anak yang kau bawa dibelakangmu?! “

Tanpa sadar tangan kiriku memegang tangan orang lain…

‘ Ups ‘

“ Ups katamu?! “

Ah, dia pingsan..

“ Itu tangganya! Ayo! “

Air juga datang dari lantai atas, akan susah untuk menaiki tangga sambal melawan arus air dengan cepat..

‘ Tak ada cara lain ‘

Aku segera menyelam dan berenang melawan arus air, sangat mudah, aku bisa berenang dengan cepat ke atas.

‘ Sampai..’

“ Bagus! Kita sampai di depan hangar! “

‘ Tempat ini sangat luas ‘

“ Kita pakai yang itu saja!”

‘ Kau bisa menyetirnya? ‘

“ Sepertinya…”

Aku tidak bisa mempercayai anak ini… Saat sampai di kapal, Sei langsung kearah kokpit dan anak yang tak sengaja kubawa terbangun.

“ ugh… Ini diman- astagaaa!”

Anak itu berteriak dan membuatku kaget

“ Kenapa kau harus menarik tanganku?! Tolong pelajari lagi sopan santunmu “

‘ mengangguk ‘

“ tapi terima kasih telah membawaku ke sini… Mereka yang ada di dalam mati tenggelam… kecuali mereka..”

Dia menunjuk kearah jendela, dan yang kulihat mayat dimana mana dan ternyata yang melobangi dinding lab adalah para kelompok bersenjata, yang terdiri dari para korporat dan penjahat negara, mereka tidak terima uang para pejabat diambil begitu saja untuk membuat kapal luar angkasa dan mengubah anak-anak menjadi mutan.

Sungguh tak diduga, mereka mengambil simpati rakyat untuk memberontak dan mengambil Kembali uang mereka dari para ilmuan. Aku yakin rakyat yang terperangkap rayuan mereka tidak tahu bahwa mereka hanya mendapatkan angin, menyedihkan.

“ pergilah ke kokpit dan bantu temanmu..”

‘ apa? ‘

“ cepatlah! “

Aku segera ke kokpit dan melihat Sei mimisan dan setengah sadar, rupanya paru-parunya sudah diganti menjadi insang dan ia tak lagi bisa bernafas di daratan. Aku segera menurunkannya ke bawah dan menghadapkan wajahnya ke lantai yang tergenang air.

Aku tak pernah mengendalikan kapal sebelumnya, tapi aku pernah melihat bagaimana cara mengendalikan kapal.

‘ semoga berhasil ‘

Aku segera menekan semua tombol yang kuingat dan untungnya mesin kapal hidup. Sei yang sudah sadar langsung diurus oleh anak tadi.

“ Hei kau, siapa namamu…hhh…hh..”

“ Lazuli, boleh kutahu namamu? “

“ S-Sei.. “ tersipu

“ Duduklah biar ku sembuhkan luka dalammu “

‘ Apa bisa kupercaya gadis ini? Tapi…. Yah dia cantik sih ‘

“ Terima kasih atas pujian mu, sekarang kemarilah “

“ H-Hei! Kau membaca pikiranku?!”

“ bukan hanya kau yang bisa telepati”

‘….ugh….dilihat lihat dari dekat…. Dia-‘

Seketika kapal berguncang, ternyata air dari kebocoran mengenai generator lab. Tak lama kemudian seluruh lab meledak. Membuat kapal kami terpental sangat jauh hingga mesin kapal kami mati dan kapal tenggelam ke palung yang gelap dan dingin.

.

.

Aku terbangun dan merasa sesak. Aku dengan cepat menuju ke bawah memastikan sei dan gadis itu masih hidup. Aku sangat bersyukur mereka berdua masih hidup.

‘ mereka masih hidup…syukurlah, udara disini terasa sesak…’

Sesampainya di ruang mesin dibelakang kokpit, Aku segera mengecek tabung oksigen dan benar saja oksigennya tersisa 18%. Tak pikir Panjang, aku mencari persediaan tabung oksigen lain. Ditengah pencarian…

“ kepada seluruh orang di dunia agar segera menuju pesawat ulang alik dalam 5 jam kami akan meninggalkan bumi, bagi subjek penelitian segera menuju Antartika. Disana kalian akan tinggal hingga kami menjemput kalian lagi 108 tahun lagi. Semoga berhasil”

Pesan dari orang di hologram membuatku kaget, kami saja tak tau lagi dimana kami sekarang, dan mesin kami belum juga hidup. Padahal Sei bilang bahan bakar kapal ini masih penuh. Kesal, karena mesin kapal tak kunjung hidup, takut karena kapal kami berada di dinding palung yang dasarnya tak terlihat. Ingin rasanya menangis….

‘ Paman… ( hiks ) aku ingin pulang….( hiks ) ‘

“ kalau begitu berhentilah menangis “

Seseorang berusaha menghiburku dan ternyata ia gadis yang tangannya kutarik……aku terlihat memalukan

‘ tunggu…. DIA BUTA?!’

“ kau tak menyadarinya? Sepertinya… fufufu, hapuslah air matamu dan pasang tangki oksigen di belakang pintu mesin “

Dia tersenyum, senyuman tulus tapi, terlihat menakutkan. Aku menuruti kata gadis itu dan melihat tangki oksigen tepat di belakang pintu mesin yang sudah kulewati tadi.

‘ loh?! Kok bisa? padahal tadi disini kosong!… siapa gadis itu sebenarnya? ‘

Sambil berusaha menepis keraguanku terhadap gadis itu aku mengganti tangka ke yang baru. Udara segar Kembali mengisi kapal kami. Dan aku Kembali ke kokpit. Mesin Kembali hidup dan kami melanjutkan perjalanan ke Antartika.

“ Boleh aku tahu namamu?”

Dia menanyakan namaku, tapi aku bisu.

‘ Juliet ‘ Jawabku padanya, walaupun dia tak akan mendengarku setidaknya aku telah menjawab pertanyaannya.

“ Juliet…. Nama yang bagus, kalau boleh namaku Lazuli, senang bertemu denganmu fufu..”

‘ tunggu sebentar…. Dia juga bisa membaca pikiran?! ‘

“ Ya! Tentu saja, hamper semua yang menjadi kelinci percobaan bisa telepati fufufu “

Semua kejadian ini membuatku tak berkutik, akhirnya aku mengaktifkan auto-pilot dan mengajak Lazuli ke bawah. Ternyata Sei sudah bangun dan terlihat linglung.

“ Ugh…. Tadi nafasku terasa berat….”

“ Sudah bangun jagoan? Fufu”

“ Lazuli! Oh bidadari yang menyelamatkan ku tadi!”

‘ bidadari?…’

Apa anak ini tergila gila dengan Lazuli?…..

“ Oh MY ANGEL!

‘…….’

Sepertinya iya.

“ Karena auto-pilot sudah diaktifkan, kita bisa naik ke permukaaan dengan mudah, tapi akan memakan waktu lebih lama.”

Benar seperti kata Lazuli, aku sengaja mengaktifkan auto-pilot agar menghindari kesalahan saat menuju permukaan, dan aku tak lagi membiarkan Sei mengemudikan kapal.

“ Rasanya membosankan… hmm..”

Sei seketika melirikku dan melontarkan pertanyaan.

“ Julet! Saat aku melihatmu datang, tak ada satupun orang yang menjadi walimu. Yah disampingku tadi ada ayahku, tapi…”

‘….. Awalnya pamanku yang menjadi waliku, tapi sekitar 5 tahun yang lalu ia pergi. Saat itu aku berumur 11 tahun dan juga, panggil saja aku July ‘

“ July….”

“ Aku sudah memanggilnya July dari tadi, fufu”

WHAT?! Kau curang… “

‘ kalau Lazuli? Siapa walimu?’

“ kakakku yang menjadi wali. Yah walaupun dia tak ingin aku dikirim oleh ibuku kesini, dia tetap menjagaku hingga….”

Lazuli menghentikan kata katanya, kami berdua tahu apa yang terjadi selanjutnya..

“ Ah! Ayo kita bermain! “

“ Bermain apa? Memangnya ada permainan di kapal… ini…?”

Lazuli dengan senang menunjukkan sebuah papan permainan yang terlihat kusam. Aku tahu permainan ap aitu, paman pernah memainkannya bersamaku saat kecil.

“ Bagaimana cara memainkannya?”

“ Kau akan tahu nanti, fufu”

Kamipun memulai permainan, selama bermain kami sangat menikmati permainan dan kami tertawa Bersama hingga…

“ BRUK! “

Seketika KAPAL kami Terhenti karena ada kelompok pemberontak yang berusaha merebut kapal kami. Aku keluar dari kapal dan berusaha menanyakan apa maksud  mereka.

“ Apa yang kalian inginkan ?” …. TUNGGU aku bisa bicara lagi?! Sungguh keajaiban!

“ kenapa kau kegirangan, sialan,” mereka berkomunikasi padaku menggunakan alat aneh yang dipegang oleh salah satu rekan mereka

“ Bisakah kau memberikan kami tumpangan? Tenanglah kami akan mengembalikannya lagi nanti”

Mereka sangat mencurigakan, aku tak bisa percaya pada mereka.

“ Kumohon! Berikan kami tumpangan!” salah satu rekan mereka merebut mikrofon dari tangan orang yang meminta tolong tadi.

“ Cepatlah! Mereka akan meledakkan bumi”

‘ Tunggu, apa?! mereka akan meledakkan bumi?!’

“ Jika tak percaya lihatlah itu!” aku menoleh ke kananku dan benar saja, terlihat tanki besar yang ternyata berisikan nuklir. Mereka berencana meledakkan bumi saat mereka sudah berada di luar atmosfer bumi.

Ketakutan, aku segera Kembali ke kapal dan memberi tahu Lazuli dan Sei semuanya, meninggalkan orang-orang yang meminta pertolongan pada kami.

“ Kau bercanda….kan?”

Sei terlihat sangat ketakutan tangannya bergetar, ia tak bisa mengucapkan sepatah kata lagi.

“ Kalau itu benar, tamatlah kita sudah.”

Lazuli terlihat sangat pucat, putus asa, dan tak bisa memberika rahan kepadaku seperti biasanya. Mereka tak punya harapan lagi untuk hidup dan sekaligus kesal kepada orang tua yang tidak ingin menjaga bumi hingga semua beban ini ditanggung oleh anak-anak mereka, tanpa rasa kasihan dan tanggung jawab.

‘……. Aku akan pergi..’

“ jika kau sedang bercanda, ini bukan saat yang tepat..”

‘ Aku serius..’

“ Berhenti membuatku marah July! Ini kiamat taka da lagi cara untuk hidup! Tak ada….”

Sei menangis, tak kuat menopang tubuhnya lagi, melampiaskan semua yang terpendam dihatinya. Tidak untuk Lazuli, ia tahu meski dia memohon padaku, aku akan tetap pergi.

“ walau pertemuan kita sangat singkat tapi, aku akan mengenangmu. Kembalilah nanti…. July “

“ Kumohon jangan…. Laz… jangan biarkan ia pergi…”

Lazuli memeluk Sei dan berbisik bahwa aku tak bisa dihentikan, tekadku sudah bulat, tak lagi bisa diubah.

‘ Hei… kau satu satunya pria disini… berhentilah menangis, lihatlah! Aku saja tidak meneteskan air mata satupun!’

“… Curang…”

Sei berdiri dan memelukku, ia ingin aku berjanji akan Kembali suatu hari nanti. Kami berpelukan, pelukan untuk terakhir kalinya. Aku tak bisa menahan kesedihanku lagi dan langsung menuruni kapal.

Aku keluar, berenang menuju tangki yang dituju, tempat itu terletak sangat jauh dan beruntung ada arus laut yang dapat membantuku berenang lebih cepat kesana.

‘ Bumi akan meledak tak lama lagi, aku harus cepat!’ sayangnya aku tak bisa berenang dengan cepat. Kesal.

Sesampainya ternyata tempat itu adalah sebuah fasilitas sama seperti lab yang meledak tadi, tapi ditengahnya terdapat sebuah tangki yang sangat besar. Tanpa bas abasi aku segera mencari pintu masuk.

“ Itu dia!”

Tapi sayangnya, pintu itu terletak sangat jauh dari tempatku sekarang, akan memakan waktu sedikit lebih lama. Aku menyadari bahwa suhu disekitarku tiba tiba menurun, dan tanganku tersangkut di batu es yang mengelilingi diriku. Aku sadar bahwa tanganku dapat memanipulasi suhu.

‘yah walaupun itu hanya sebuah hipotesis liar, tapi tak ada salahnya mencoba’

“ Baiklah…”

Aku segera melepaskan tanganku dari es yang sudah mencair dan mengarahkan tanganku kebelakang, lalu….

“ Ahhhhhh!!”

Aku berteriak, ternyata dugaanku benar aku menggunakan kekuatanku untuk mengubah air dibelakangku menjadi es agar bisa mendorongku kea rah pintu.

Aku membuka pintu dan melihat ruangan di dalam fasilitas masih bersih, sepertinya tempat ini baru ditinggalkan.Aku segera mencari ruang mesin dengan membawa kartu pekerja yang kutemukan di meja dekat pintu.

Saat aku menggunakan kartu pekerja untuk menaiki lift menuju ruang mesin..

“ maaf kartu ini sudah tidak valid, mohon memperpanjang aktivasi segera dengan menghubungu devisi IT, terima kasih”

‘APA?! Tidak valid?! Dimana lagi devisi IT ? haduh…’

Aku merasa kesal dan mau tidak mau Kembali lagi ke lobby dan melihat denah fasilitas untuk mencari tempat yang berhubungan dengan devisi IT. Sayangnya ruang IT berada sangat jauh dari tempatku, aku menghapal jalannya dan berlari menuju ruang IT.

Sesampainya, aku meletakkan kartu pekerja dan duduk di sebuah bangku. Aku mendapati kertas berisi bahwa jika satu fasilitas mati saat pengisian daya ledak, maka semua fasilitas akan mati bersamaan dan pengisian daya dihentikan.

‘ Ini kabar yang bagus !…. Setelah selesai aku ingin bertemu dengan mereka lagi…’

“ Selesai, silahkan mengambil kartu pekerja anda, semoga harimu menyenangkan”

Aku bangun dan mengambil kartuku. Beruntungnya aku di ujung ruangan ada lift yang bisa kupakai.

.

.

Aku sampai di ruang mesin, disini sangat berantakan, meja yang tidak tersusun dan kertas dimana mana. Ditengah ruangan ada tabung kaca yang berisi bola putih, saat aku mendekatinya bola itu bergetar dan perlahan berubah menjadi hitam seperti mau meledak.

‘ bola inilah sumbunya, aku harus membawanya dari sini! ‘

Aku mengambil tabung itu, lalu menyiramnya dengan air dan membekukannya. Setelah itu aku melobangi dinding fasilitas dan berenang menjauhi tangka besar itu. Tapi bola ini walau sudah kulapisi dengan es tetap saja bergetar dan menghitam.

“ Berenang membuatku… Lelah…. “

Aku tak memiliki cukup energi untuk menyelimuti tabung ini dengan es, tapi aku masih mampu berenang menjauhi fasilitas.

‘ waktu tinggal sedikit, jika ku lempar, tetap saja batu sebesar ini ledakannya akan mengenai tangki penuh uranium…. Dan dunia akan meledak ‘

Seketika terlintas ide terakhir yang kupunya, membekukan diriku sendiri dan tenggelam ke dasar lautan. Aku akan membuat bola dengan diriku didalamnya sebagai beban. Ini seperti bunuh diri.

‘….. aku harus mengingkari janjiku….’

“ Ah… Sudahlah setidaknya semua orang yang tersisa selamat..”

Aku melihat bayangan pamanku yang menjagaku sejak ayahku bunuh diri, ia sudah seperti ibu dan ayahku dalam satu tubuh. Sayangnya ia meninggal, aku merindukannya. Sei dan Lazuli.. aku ingin bahagia bersama kalian.. lagi..

“….. kalau saja masih ada waktu….. Pft… haha…”

Aku mengenang masa indah tadi, kebahagiaan dan teman adalah keinginanku dari dulu.

“Aku menyelamatkan bumi… “

Seorang remaja yang terpaksa menjadi mutan karena yatim piatu yang tak memiliki semangat hidup, menjadi penyelamat bumi dari kerakusan rasnya sendiri…

Dulu aku hidup penuh penyesalan, terasingkan dan sendirian..Tapi .…kini aku merasakan kebahagiaan, aku Kembali tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama, meski hanya sebentar.

.

‘ Ayo pulang Austin.. Rienne dan Chandra menunggu…’ mengulurkan tangan.

.

Tersenyum 

“…. Maaf telah membuatmu menunggu…” meraih.

.

“Paman”

Fin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *