Cerpen #190 Chance to Change

Tuk!

Veryl dengan santai melempar kaleng cola di genggamannya ke arah tong sampah yang ada di sudut ruang kelas. Meleset.

“Ck,” decaknya. Sebenarnya Veryl ingin langsung kembali ke tempat duduknya, tapi seseorang di belakangnya berdeham keras.

“Ehm, take it back, Miss Veryl” katanya. Veryl mendengus dan memutar bola matanya. Dengan malas, dia menyeret langkahnya dan memungut kaleng cola tadi, kemudian memasukkannya ke dalam tong sampah yang sudah hampir penuh itu.

Done” katanya setengah kesal, lalu berjalan ke tempat duduknya, menyenggol pundak orang itu dengan sengaja. Yang disenggol hanya menggeleng kepala heran.

“Adrian” decak Veryl kesal sambil mencoret-coret kertas yang ada di hadapannya.

“Kenapa?” tanya Aira yang duduk di sebelahnya.

“Engga,” jawabnya masih dengan tangan yang bergerak mencoret kertas dengan kasar. Aira hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya heran.

Sebenarnya, kekesalan Veryl ke Adrian adalah buntut dari perselisihan kecil mereka kemarin soal proyek kelas untuk ulangtahun sekolah. Biasanya, tiap tahun sekolah melalui OSIS akan meminta perwakilan kelas untuk menyusun proposal kegiatan yang ingin mereka lakukan dalam rangka ulang tahun sekolah ini. Untuk proyek terbaik, akan mendapatkan penghargaan khusus dari kepala sekolah. Dan untuk kali ini, Adrian dan Veryl terpilih sebagai perwakilannya.

“Kita yang gampang aja, Dri. Misalnya kayak ngumpulin buku perorang buat taman baca” 

“Ryl, ini buat ulangtahun sekolah, lho. Itu terlalu simple menurut gue”

“Terus pengennya lo gimana?”

“Gini, lo tau kan sungai ini?” tanya Adrian sambil memperlihatkan layar handphone-nya.

“Ya …, tau. Terus?”

“Gue kepikiran buat proyeknya, kita bakal kerja bakti di sana. Sekalian nanam bibit pohon di sekitaran sana”. Mata Veryl membulat setelah Adrian menyelesaikan kalimatnya, 

“Yang bener aja?! Itu ribet banget” komentarnya.

“Emang ribet Ryl. Tapi coba pikirin manfaatnya”

“Manfaat? Pohon dimana-mana juga udah banyak” balasnya. “Maksud gue ya Dri, ini makan waktu yang gak sebentar, bisa dua harian”

“Gak ada yang bilang ini makan waktu sebentar, Veryl”

“Ya maksud gue apa gak ada yang lebih gampang? Taman baca juga manfaatnya banyak”

“Di daerah yang bisa kita jangkau kebanyakan udah punya taman baca Ryl. Dan udah memadai juga”

“Ah gatau, terserah deh” kata Veryl kesal. Dia mengemasi barangnya dari bangku kantin tempat mereka duduk dan segera pergi. Adrian hanya menggelengkan kepalanya bingung.

Veryl menyobek kertas yang sudah penuh dengan coretannya itu menjadi sobekan yang sangat kecil. Memainkannya di antara kedua tangannya.

“Ck,” dia mengacak rambutnya frustasi. Ingatan soal kejadian kemarin masih membuatnya kesal.

Saat ini mereka sedang menunggu bel pulang berbunyi. Meskipun Mrs. Sean, guru Biologi mereka, sudah meninggalkan kelas semenjak sepuluh menit yang lalu, mereka tidak diperkenankan untuk pulang sebelum bel. Para siswa yang berada di kelas sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Mulai dari memainkan game online lewat handphone mereka, memutar lagu, mengobrol, dan tentu saja makan.

Kring! Kring!

Akhirnya bel yang ditunggu-tunggu berbunyi. Veryl merapikan alat tulisnya yang masih berantakan lalu dengan cepat menyandang tasnya di sebelah pundak, kemudian menyeret langkahnya menuju pintu keluar.

***

Veryl menghentikan langkahnya tepat di depan vending machine ‘langganan’nya. Dia mengeluarkan selembar uang dan memasukkannya ke mesin itu, memencet tombol favoritnya, nomor empat.

Klang!

Sekaleng cola meluncur dari vending machine itu. Veryl dengan cepat mengambilnya, lalu bergegas melanjutkan perjalanan pulangnya.

***

Kring! Kring!

Tangan Veryl mencoba meraih handphone-nya, mencoba mematikan alarm yang dia pasang. Ting!

Ting!

Bunyi notifikasi dari aplikasi pesan. Veryl mengucek matanya malas, mencoba bangkit dari posisi tidurnya. Wajah Veryl berubah malas saat melihat nama yang ada di notifikasi itu.

Adrian.

Ryl jadi gimana

Kita harus nyelesein proposal sementaranya bareng

Lusa kita udah harus ngasih tau anak kelas

Ryl

Veryl mendecak, menutup aplikasi pesan yang barusan dibukanya itu. Membiarkan pesan Adrian begitu saja. Dia segera berdiri dan keluar dari kamarnya, berniat menyantap sarapan.

“Ma?” Veryl mencoba memanggil mamanya saat berada di dekat dapur. Tidak ada balasan. Satu post it yang tertempel di kulkas membuat Veryl menghela nafasnya pasrah, seakan sudah tahu apa yang tertulis di sana.

“Seperti biasa, kerja di hari Minggu” kata Veryl kemudian setelah membaca isi post it itu. Dia memutar mata, mengambil satu bungkus mie instant yang ada di lemari dapur kemudian memasaknya cepat.

***

Veryl memencet tombol yang ada di remote TV-nya bergantian. Tidak ada yang menarik, pikirnya. Dia menguap bosan, mengambil handphone-nya kemudian berbaring di sofa, membiarkan televisi itu berbicara sendiri.

Kebakaran hutan baru saja terjadi di daerah …” 

Pats!

“Mati lampu?” gumam Veryl. Dia hanya bisa menghela nafas pendek. Hari Minggu kali ini akan jadi sangat membosankan. Veryl memilih untuk memainkan game yang ada di handphone-nya. Sesekali, Veryl menggeser posisi tidurnya, menyamankan diri.

***

Kruyuk!

Veryl meringis, memegangi perutnya. “Gak mungkin mie instant lagi,” keluhnya sambil mengubah posisinya menjadi duduk. Veryl melirik ke layar handphone-nya. Jam satu siang. Dia hanya tersenyum tipis, lalu berdiri dan menaiki tangga menuju kamarnya. Mengambil beberapa lembar uang dari sana kemudian kembali turun. Dia keluar dari rumah dan mengunci pintu.

***

Veryl melangkah santai ke restoran cepat saji ala Jepang kesukaannya. Tidak begitu ramai di sana.

“Kak, chicken katsu dua porsi ya, nanti aku balik ke sini” pesan Veryl. Kasir restoran itu mengangguk karena sudah hafal dengan pesanan Veryl.

“Terimakasih, kak” Veryl tersenyum, lalu berjalan keluar dari restoran itu, menuju tempat yang juga dikunjunginya kemarin.

Vending machine.

Veryl dengan cepat memasukkan selembar uangnya, lalu seperti biasa memencet tombol kesukaannya.

“Eh, habis?” tanyanya pada diri sendiri. Benar saja, cola favoritnya itu tidak ada di dalam vending machine. Veryl menghela nafasnya singkat, memperhatikan tiap minuman kaleng yang bersusun di dalamnya.

“Ini baru?” Veryl memfokuskan matanya pada minuman kaleng urutan ke-sembilan. Biasanya, nomor sembilan di vending machine itu selalu kosong, tidak pernah diisi.

“Kelihatannya ini mirip sama yang nomer empat deh” gumamnya pada diri sendiri. Veryl-pun setelah sedikit berpikir memencet tombol nomor sembilan dari mesin itu.

Klang!

Veryl dengan cepat mengambil kaleng cola yang baru meluncur, kemudian memutar kembali langkahnya menuju restoran cepat saji tadi.

***

“Kenyang” Veryl mengusap perutnya sendiri. Dua porsi chicken katsu benar-benar membuat perutnya penuh. Veryl meraih kaleng cola yang sudah dibukanya tadi, meneguknya hingga tetes terakhir.

“Lumayan enak juga,” katanya kemudian. Terakhir, Veryl meminum segelas air mineral sebelum meninggalkan meja makan.

“Ah …” Veryl kembali menghempaskan diri ke sofa. “Kok ngantuk ya,” ujarnya bingung. Veryl memang bukan tipe orang yang suka tidur siang, jadi ini sedikit aneh baginya. Tapi, Veryl benar-benar merasakan kantuk yang luar biasa sampai akhirnya dia tertidur di sofa itu.

***

Veryl mengucek matanya sambil perlahan meregangkan badannya. dia mencoba bangkit dari posisinya sekarang.

“Panas,” keluhnya menyeka dahinya yang berkeringat. Veryl mencoba meraih handphone-nya yang ada di atas meja. Pukul setengah empat sore.

Veryl berdiri, kemudian kembali melakukan peregangan. Entah mengapa badannya terasa sangat pegal.

“Serius, panas banget deh” Veryl mengambil remote AC yang ada di dekat TV, mencoba menyalakannya.

“Rusak?” Veryl mengipas-ngipas dirinya sendiri. Dia cukup heran karena biasanya lingkungannya tidak pernah sepanas ini, meskipun tidak menyalakan AC. Veryl mengambil sebotol air mineral dari kulkas dan dengan cepat meminumnya habis.

“Kurang dingin, ya. Apa lagi mati lampu?” katanya heran. Dia kembali menuju ruang tengah, menyalakan TV.

TV-nya menyala.

“Aneh ih,” gumamnya lagi. Kemudian dia duduk santai di sofa sambil tangannya memencet tombol yang ada di remote secara bergantian.

“Kekeringan parah terjadi di berbagai belahan dunia, ini disebabkan karena perubahan iklim ekstrim belakangan ini …”

Veryl mengernyit, “perubahan iklim?” gumamnya heran. “Memangnya perubahan iklim terjadi secepat itu?”

“Konsentrasi karbondioksida yang terus meningkat akibat asap kendaraan dan kebakaran hutan memperparah efek rumah kaca …”

“Hah?!” Veryl benar-benar bingung. Mengingat tadi pagi cuacanya sangat normal. “Masa tiba-tiba gini deh, aneh banget” dia kembali meraih handphone-nya. Ada yang janggal, pikirnya dalam hati.

“24 Oktober 2121?” dia membelalakkan matanya heran. “Gak, gak mungkin” Veryl menertawakan dirinya sendiri yang berpikiran dia tiba-tiba sampai ke seratus tahun yang akan datang. “Yang begituan cuma ada di film kartun” ucapnya. Tapi entah kenapa dia tiba-tiba mengetikkan keyword soal berita hari ini di browser yang ada di handphone-nya.

“Berita hari ini – Jakarta, 24 Oktober 2121 …” katanya membaca artikel yang berada di paling atas hasil pencarian. Veryl menelan ludahnya, “Ini … gak mungkin semua situs salah ketik, kan?” dia terus memperhatikan berita-berita yang ada di hasil pencarian itu. Semuanya sama-sama mencantumkan 24 Oktober 2121 sebagai tanggal. Veryl menggeleng, membuka aplikasi pesannya. Tak ada satupun kontak yang tertera di sana. Dia dengan cepat memencet nomor handphone mamanya. Tidak tersambung.

Veryl menggeleng, tidak mungkin yang tadi ia pikirkan benar-benar terjadi, kan? Dia merapikan rambut dan bajunya yang sedikit berantakan. Lalu keluar rumah dan mengunci pintu.

“Gak ada orang …” katanya sambil mengipasi diri. Cuacanya terasa sangat panas meskipun matahari tidak bersinar terlalu terik. Veryl melihat ke sekitarnya dan menyadari jalanannya sedikit berbeda dengan yang biasa dia lalui.

Aneh.

Veryl terus mempercepat langkahnya, berharap ada orang yang bisa ia temui sekarang.

Bruk!

“Ah, maaf”

Veryl terjatuh setelah bertabrakan dengan seseorang. Ia terlalu fokus sampai tidak memperhatikan apa yang ada di depannya.

“Tidak apa,” Veryl mencoba bangkit setelah orang itu mengulurkan tangannya untuk membantu dirinya berdiri.

“Kau dari 2021 kan” kata orang itu tiba-tiba. Veryl membelalakkan matanya, “Iya … dan sekarang masih 2021 kan?” tanyanya. Orang itu tidak merespons.

“Aku Seira,” katanya mengulurkan tangan. Veryl kemudian menjabat tangan orang itu, “Veryl” ucapnya.

“Veryl …,” kata Seira, “Sekarang 2121” lanjutnya.

“Jangan bercanda” Veryl masih tidak percaya. Mustahil menurutnya kalau seseorang bisa melakukan time travel.

“Aku tidak bercanda, Veryl. Sekarang 2121, dan inilah kondisi bumi kita sekarang. Hampir di seluruh dunia merasakan panas seperti ini” katanya mengetikkan sesuatu pada handphone-nya, “Kutub semakin mencair,” katanya memperlihatkan layar handphone-nya kepada Veryl.

“Pemanasan global makin parah dari tahun ke tahun” Seira terus memperlihatkan artikel-artikel berbeda pada Veryl. Semuanya membicarakan tentang kondisi bumi sekarang ini.

“Sampai beberapa tahun, kebakaran lahan sering tidak dihiraukan. Orang-orang terus menerus memakai kendaraan pribadi. Pabrik-pabrik yang mengeluarkan limbah asap …” lanjutnya.

“Jika begini terus, bumi kita akan semakin rusak”

“Seira,” panggil Veryl, “Ini benar-benar 2121?” tanyanya final.

“Iya” sahutnya singkat, “Ini 2121, jika orang-orang di tahun-tahun sebelumnya terus menerus tidak menghiraukan kebakaran hutan, penebangan lahan, asap pabrik dan kendaraan …” dia lanjut menjelaskan, “Jika orang-orang di tahun-tahun sebelumnya lebih menjaga alam …” katanya memberi jeda di kata-katanya. “Ayo kita duduk sebentar” ucapnya kemudian, menunjuk ke bangku kayu yang ada di pinggir jalan tempat mereka berdiri. Veryl mengangguk kecil, mereka berdua melangkah dan duduk di sana.

Seira menghela nafasnya berat, “Jika orang-orang di tahun-tahun sebelumnya lebih memperhatikan kondisi alam, mungkin bumi di tahun 2121 tidak akan jadi seperti ini”

Sebenarnya Veryl tidak ingin percaya, tapi situasi yang dialaminya kali ini memaksa pikirannya untuk mempercayai.

“Tahun 2021, katanya banyak kebakaran hutan di sana. Tapi tidak pernah ditanggulangi dan justru beberapa lahannya dibuat menjadi pemukiman. Semakin sedikit yang bisa mengolah gas karbondioksida. Belum lagi pabrik-pabrik terus bermunculan, orang-orang lebih memilih memakai kendaraan pribadi …” Seira lanjut bercerita. “Efeknya memang tidak bisa dirasakan langsung. Tapi semakin parah dari tahun ke tahun”

Veryl mengangguk. Memang belakangan dia sering mendengar berita soal pembukaan pemukiman baru dan juga kebakaran hutan.

“Dimulai dari kamu, Ryl” ucapnya kemudian. “Jika orang-orang di tahunmu, menanam lebih banyak pohon, mengurangi dan mendaur ulang sampah, mengurangi pemakaian kendaraan pribadi ..,” katanya, “Mungkin semua itu akan berlanjut sampai ke tahun-tahun berikutnya. Orang-orang lebih memperhatikan alam, bumi kita akan terus hijau bahkan sampai seribu tahun-pun”

Sejenak, Siera dan Veryl hanya terdiam, sampai akhirnya…

“Veryl,” panggil Seira kemudian. “Ini,” dia memberikan sesuatu ke tangan Veryl.

“Semuanya memang dimulai dari diri kita sendiri. Kalau kamu punya waktu, tolong tanam bibit pohon ini, ya!” katanya kemudian. Veryl hanya mengangguk pelan. “Terimakasih banyak, Seira” ucapnya. Ia memasukkan bibit tersebut ke dalam saku bajunya. “Ah, lalu … bagaimana caranya agar aku bisa …,” Veryl berhenti berbicara setelah menyadari jika Siera sudah menghilang. Veryl hanya menghela napasnya pelan dan berjalan pulang.

***

Semua percakapan tadi terasa tidak nyata bagi Veryl. Sebagian kecil dari diri Veryl masih percaya bahwa itu tidak mungkin terjadi. Mungkin dia sedang bermimpi? Selesai makan malam, Veryl beristirahat sebentar di ruang tengah sebelum akhirnya naik ke kamarnya.

“Selamat malam,” gumamnya lalu mematikan lampu.

***

Veryl mengerjapkan matanya karena cahaya matahari sudah masuk ke kamarnya. Seberkas ingatan tentang ‘pertemuannya’ dengan Seira itu masih melekat di ingatannya. Dengan cepat Veryl langsung meraih handphone-nya dan mengecek tanggal yang tertera; 25 Oktober 2021. Perlahan Veryl-pun menertawakan dirinya.

“Pfft … itu tadi mimpi yang cukup mengesankan. 2121? Yang bener aja,” tawanya lagi, merasa konyol tentang hal yang sudah dia ‘alami’.

“Aw …!” Veryl merasakan ada yang mengganjal di sekitar pinggangnya saat mencoba mengubah posisinya.

Tangannya segera merogoh saku bajunya dan ia menemukan sebuah benda yang tampak kecokelatan dan ditempeli sedikit tanah di beberapa titik.

“Hah … bibit?” Veryl sedikit terperangah dan mencoba mengingat ‘peristiwa’ kemarin.

“Jadi itu …” ujar Veryl masih berusaha mengolah apa yang ada di ingatannya tentang Seira dan juga bibit tanaman yang kini ia genggam.

Kalau kejadian kemarin itu tidak nyata, mana mungkin bibit itu ada di tangan Veryl sekarang? Setelah terdiam cukup lama, Veryl segera bangkit dan menuju meja belajarnya, mengambil beberapa lembar kertas dan mulai memenuhinya dengan coretan tentang hal yang sedang ia pikirkan.

Ting!

Sebuah notifikasi pesan masuk berbunyi, Veryl segera mengecek aplikasi berbalas pesan tempat notifikasi tersebut berasal. Adrian lagi.

Ryl

Membaca pesan yang sangat singkat itu, Veryl langsung terperanjat kaget dan berkata panik, “SEKARANG HARI SENIN?!” teriaknya kaget. Dengan cepat dia menyimpan kertas tadi dalam tasnya, kemudian bergegas mandi dan memakai baju seragam.

***

Veryl menggigit roti di mulutnya sambil mengikat tali sepatu, kemudian mengunci pintu rumah dan berlari secepat mungkin karena ada kemungkinan bahwa ia tidak akan terlambat sampai ke sekolah kali ini.

Hosh … hosh …” ucapnya ngos-ngosan. Dia sudah berada di depan gerbang sekolah yang hampir saja ditutup oleh satpam.

“Pak .. pak .. pak … eits” Veryl mencoba menghentikan kegiatan satpam yang sedang mendorong gerbang itu.

“Cepat, cepat!” panggil satpam sambil membuka gerbang lebih lebar.

“Terimakasih, Pak” ucapnya kemudian lalu dengan sekuat tenaga berlari ke gedung kelasnya. Benar-benar nyaris terlambat. Untung saja jam pelajaran belum dimulai.

Begitu selesai menaruh tasnya di atas mejanya, Veryl langsung menuju ke meja Adrian yang sedang sibuk menuliskan sesuatu di buku catatannya.

“Dri,” panggil Veryl singkat. Sebagai respons, Adrian hanya menoleh sambil menaikkan sebelah alisnya, menuntut penjelasan.

“Kita selesein proposal sementaranya hari ini. Gue bawa laptop” katanya. Sebenarnya Adrian agak heran karena tiba-tiba Veryl jadi cukup kooperatif setelah kemarin tidak menghiraukan pesannya, tapi Adrian memilih untuk mengangguk, menyetujui perkataan Veryl.

***

Adrian benar-benar dibuat kaget oleh kertas yang diserahkan Veryl kepadanya saat jam istirahat di kantin. Bagaimana tidak, di sana tertulis bahwa project yang akan mereka pilih adalah menanam pohon dan membersihkan sungai, ajuan Adrian yang ditolak mentah-mentah oleh Veryl sebelumnya. Bahkan, Veryl juga menambahkan beberapa ide untuk ikut kerja bakti di pemukiman yang ada di sekitar sungai dan mendaur ulang sampah plastik yang dikumpulkan.

“Ryl lo gak habis kepentok kan ya” ujar Adrian kemudian dengan nada bercanda. Veryl hanya tersenyum tipis lalu tertawa pelan.

“Gue baru sadar kalau ternyata dampaknya memang segede itu” balasnya, “Ternyata semuanya emang dimulai dari kita sendiri, seberapa besar kepedulian kita ke alam” lanjutnya kemudian. “Maaf ya kemarin-kemarin gue sempet nolak banget” ucapnya kemudian. Adrian hanya mengangguk, “Gak perlu minta maaf, gue seneng lo sadar” kata Adrian tersenyum tulus. Setelah itu, mereka dengan cepat menyelesaikan proposal sementaranya.

***

Proyek yang mereka rencanakan berhasil dilangsungkan dengan lancar. Mereka melakukan kegiatan itu selama tiga hari, dan mereka sangat puas dengan hasilnya. Adrian dan Veryl sangat senang karena warga kelasnya begitu bersemangat saat menjalankan proyek ini. Hari-hari mereka untuk ‘kerja bakti’ di sana terasa sangat menyenangkan. Mereka juga jadi semakin dekat satu sama lain.

Di hari pengumuman, kelas mereka terpilih sebagai proyek terbaik dan mendapat penghargaan dari sekolah. Selain itu, ada juga hadiah voucher restoran yang diberikan untuk mereka. Veryl sangat senang karena semuanya berjalan lancar. Dalam hati, Veryl berjanji akan terus menjaga alam agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan di masa depan nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *