Cerpen #189 Pasang yang Setiap Hari Bertamu

“Kenapa menatapnya seperti itu, Za?”

Suara perempuan membangunkanku dari lamunan. Aku menoleh ke arahnya tanpa sepatah kata. Hari ini adalah akhir pekan, artinya segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan bisa dilepaskan sementara, dan bagi tempat-tempat wisata, perbelanjaan, atau tempat berlibur lainnya akan menjadi pusat orang-orang yang harus akan liburan.

Ifa, nama perempuan itu. Dia mengajakku untuk mengunjungi galeri seni yang ada di kota. Aku mengiyakan karena tak ada pilihan lain untuk merefreshkan pikiran selain keluar saat weekend. Sebenarnya aku bisa saja mengajaknya ke wisata alam di kaki gunung atau tempat wisata yang sedang hits di kota. Katanya, justru itu yang membosankan, karena hampir setiap akhir pekan, kami jalan-jalan ke sana.

Kunjungan kali ini bukan untuk sesuatu yang baru bagi kami, tetapi, menjadi pertama kali setelah lebih dari satu tahun tak ke tempat seperti ini. Mungkin aku sudah hampir lupa rasanya berkunjung ke tempat galeri seni, seperti sunyi, sepi, hampa, sedih bercampur senang atau perasaan-perasaan lain yang hinggap dalam diriku.

“Menyesal, ya, sudah kuajak ke sini?” Ifa kembali bersuara dengan pertanyaan yang membuatku sedikit terkejut. Cepat-cepat kulihat ke arahnya dengan senyum tipis. “Kita pulang saja, ya, Za?” lanjutnya.

Ah, tidak begitu, Fa.

Aku menggeleng keras. Ifa melihatku tak mengerti. Ah, kenapa tiba-tiba aku penuh teka-teki seperti ini. Biasanya aku akan dengan mudah mengatakan apa yang kurasakan pada perempuan ini.

“Maaf, Za.” lirih Ifa melihat ke arahku juga sesuatu yang ada di depan kami.

Di hadapan kami, terbingkai rapi foto bocah laki-laki tersenyum lebar, dengan latar genangan yang lepas seperti menjadi lautan.

“Kamu sering bercerita tentang masa kecilmu, Za. Aku ingat itu.” Ifa yang tak lain adalah kekasihku. Aku melemparkan senyum ke arahnya lagi. Ah, ya-ya, aku ingat pernah bercerita sesuatu pada perempuan yang sangat kucintai ini. “Kamu pasti mengingatnya, serupa kamu di masa lalu, kan.” lanjutnya masih terdengar lirih. Aku malah tertawa lepas mendengar suaranya, seperti menyimpan perasaan bersalah telah membawaku ke tempat ini.

Galeri seni yang ada di kota pada bulan Juni tidak menampilkan lukisan-lukisan dari para seniman, tetapi, khusus untuk foto dari para fotografer. Foto-foto pada pameran kali ini mengangkat satu cerita yang telah hilang dalam pandangan. Namun, dalam ingatanku, cerita-cerita itu tidak akan pernah tenggelam.

“Kamu sengaja, ya, Fa?” tanyaku pada Ifa yang sedari tadi berdiri tak jauh dariku. Senyumnya mengembang, seperti aku sudah mengetahui maksudnya mengajakku ke tempat ini. “Terima kasih, ya, Fa.”

Bocah laki-laki itu seperti aku yang datang dan hidup dari masa lampau.

Kakiku seperti di awang-awang, antara menginjak tanah atau sesuatu yang lebih lembut dan hangat, tetapi, aku sedang tidak pipis di celana.

Byur!

“Tidak akan dimarahi ibumu, Za!” seseorang berteriak penuh semangat.

“Iya, ibumu tidak akan melihat, kan, katamu, hari ini bekerja!” sahut yang lain.

Mereka sesusiaku dan saling menimpali satu sama lain dengan teriakan. Teman-teman semakin banyak yang bergabung, menikmati genangan air yang tambah meninggi. Langkahku semakin mendekat pada kerumunan. Tampak keceriaan yang begitu jelas tergambar dari wajah teman-teman. Kami tertawa, berenang, memercikkan air satu sama lain, sampai menendangkan air ke berbagai arah. Semakin terik, kami tetap tersenyum lebar, sampai sinar matahari memantulkan cahaya yang menjadi silau dari gigi-gigi kami.

Sebenarnya genangan air yang kami gunakan untuk berenang adalah jalan utama desa, yang terkena banjir beberapa hari ini, kalau tidak salah ingat hampir satu minggu. Padahal tidak sedang turun hujan dan hari ini langit begiru cerah. Anehnya lagi, ketika adzan ashar berkumandang, genangan air yang memenuhi sepanjang jalan ini akan hilang. Ah, aku tidak peduli!

“Kolam renang gratis!”

Kami saling bergantian melompat. Papannya adalah batu besar yang diletakkan di pinggiran jalan. Lihatlah buktinya, kami bergiliran melompat dari sana! Kami saling berteriak. Di benak kami, rasanya lompatan kami seperti perenang profesional dalam olimpiade. Lucu sekali. Sepanjang bermain air di tengah terik, kami selalu tertawa. Tak jarang di antara kami saling menyahut, berkata-kata kotor, sampai menyumpahi air yang sangat asin, tetapi tidak akan pernah bosan.

Sampai di suatu siang, ibu melarangku untuk keluar rumah, dia mengatakan tidak bekerja dan melarangku keluar rumah dan jangan lagi bermain seperti biasanya karena akan hanyut. Aku terkejut.

“Waspada, rob akan lebih tinggi dari biasanya!”

Teriakan itu dari tetangga yang terus berjalan dan berulang, mengabarkan tentang rob yang lebih tinggi. Apakah banjir yang biasanya itu adalah rob? Aku mengernyitkan dahi. Ibu malah disibukkan dengan langkah kaki yang terus hilir mudik, dari ruang per ruang dalam rumah, mengangkuti barang-barang yang tergeletak di lantai, memindahkan kasur lipat ke atas lemari, melepaskan kabel-kabel alat elekronik yang terhubung dengan stopkontak, dan menyuruhku untuk tetap duduk di kursi ruang tamu.

“Ibu tahu kebiasaanmu selama banjir, Za,” ucapnya setelah mengamankan semua barang-barang ke tempat yang lebih tinggi, “Ibu tidak melarangmu, tetapi, untuk kesehatan dan keselamatanmu. Besok dan seterusnya jangan diulangi, lagi, ya.” Aku mengangguk.

“Bermain air saat rob seperti itu bukan hal yang menyenangkan. Bukan kolam renang seperti di televisi yang airnya jernih, Za.” Ibu kembali melanjutkan ucapannya. Aku mengangguk-angguk, walaupun sedikit kesal karena dalam tebakanku, ibu akan memberikan ceramah sampai satu jam sehingga menghilangkan waktu bermainku. “Air yang menggenang selama dua minggu dan hari ini adalah banjir rob, banjir yang dibawa dari laut.” Lagi-lagi aku mengernyitkan dahi.

“Pelajaran sekolahmu pasti pernah menjelaskan tentang air pasang, kan?” Ibu malah berbalik tanya kepadaku, “iya, seperti itu, Za.”

“Bu, bukankah air pasang akan tinggi pada malam hari dan saat bulan purnama? Tapi, kenapa ibu berkata seperti itu? Banjir itu disebabkan oleh air hujan dan luapan dari sungai yang ada di sana.” balasku yang coba mengelak dengan mengingat-ingat, bahwa tidak jauh dari tempat tinggal ada sungai besar yang melintasi beberapa desa.

Ibu tersenyum melihatku, “Za, dengar kata ibu. Kita tinggal di wilayah dekat laut, walaupun di ujung desa kamu tidak akan menemukan pantai.” Aku mengangguk, mengiyakan perkataan ibu. Aku ingat pernah mencari pantai di desa bersama teman-temanku, tetapi tidak ada, kami hanya melihat rumah-rumah dan laut lepas.

“Za, alam telah memberitahukan kepada kita bahwa banjir tidak hanya disebabkan air hujan yang deras, tetapi, ada yang disebabkan dari air laut. Kita mengenalnya air pasang atau di beberapa wilayah pesisir utara pulau Jawa menyebutnya sebagai rob atau banjir rob.” Aku mengangguk, mencoba menerima kata per kata yag dijelaskan oleh ibu.

“Banjir rob atau air pasang akan mengalami ketinggian saat terjadi purnama. Tetapi, alam berkata lain dan tahun telah berganti jauh. Faktor kerusakan alam yang disebabkan manusia juga akan mempengaruhi proses terjadinya banjir rob, Za.” jelas ibu. Aku mengangguk dan pandanganku jatuh pada air yang perlahan memasuki rumah kami.

Reza!

Seseorang memanggilku.

“Za, aku pernah mendengar cerita orang-orang yang hidup di sana, saat itu sedang ada tugas praktik lapangan. Mereka tahu kalau kami dari jurusan kesehatan, sehingga beberapa orang tua langsung bercerita tentang penyakit kulit yang diderita,” ucapmu dengan tatapan yang tak beralih dari foto itu, “setiap hari, mereka harus berhadapan dengan penyakit-penyakit yang datang tanpa permisi. Salah satu ibu paruh baya bercerita kalau gatal-gatalnya akan sembuh ketika tak bersentuhan dengan air rob, tetapi, pekerjaan harian membuatnya harus bersentuhan dengan air itu, sehingga mengharuskannya membeli obat. Aku merasa sedih mendengar cerita itu.” tutupmu dengan helaan napas yang terdengar berat.

Aku mendengarnya dan persis dengan yang dialami keluargaku dan orang-orang yang tinggal di desa saat itu. Ada kesedihan yang perlahan kembali tumbuh dalam hatiku.

Pandanganku kini beralih foto di sampingnya. Televisi hanya menyisakan bentuk tanpa suara dan gambar, kipas angin telah patah, dan kabel-kabel telah terputus. Sepeda dan motor bisa sakit, keluhan knalpot yang bocor, rantai mudah putus, dan yang akan berkarat pada waktunya. Sekarang, ceritanya telah berganti tetapi di ingatan para pemilik kenangan akan tetap sama.

Peninggian jalan dan perbaikan rumah terus dilakukan setiap tahun. Banjir rob terus datang dengan ketinggian yang semakin menjadi, sehingga rumah-rumah dan jalan utama desa akan saling berebut ketinggian agar tidak tergenang.

“Aku sudah tidak lagi bermain air usai banjir memasuki rumah siang itu, Fa,” lirihku. Ifa melihatku. “rasanya kangen, tetapi ada perasaan lain yang menyelinap, ya, takut akan hanyut,” lanjutku, “setiap hari banjir terus datang membawa isinya ke rumah, dari ikan, wideng, ular, sampai sampah-sampah. Apa saja, Fa.”

Selepas hari itu, telah berganti bulan, dan terus bertambah tahun. Air pasang dan banjir rob yang kukira akan berhenti seiring bertambahnya hari dan penanganan sana-sini, ternyata telah berakhir. Laut semakin luas, menyambut satu per satu hektar tanah menjadi bagian dari dirinya. Satu desa tak akan pernah kembali, ia tenggelam dalam gerusan ombak dan pasang yang setiap hari bertamu.

Rumah-rumah telah jauh ditinggalkan, menyisakan tembok-tembok yang keropos, besi-besi berkarat, kayu-kayu yang rapuh, atap-atap tanpa teduh. Rumah-rumah tidak lagi berwarna, telah pudar termakan cuaca, hujan, dan gelombang pasang. Bakau-bakau yang tumbuh setinggi orang dewasa telah menggugurkan daun-daunnya, akar yang terbawa ombak hingga terlepas dari tanah dan tumbang. Bambu-bambu yang menjadi pembatas dan penahan sementara gelombang tertinggal, menancap di sisa tanah yang sewaktu-waktu kan bergabung dengan sampah lainnya, dan pemecah ombak yang kini menyisakan kenangan.

“Perjalanan yang melelahkan. Terima kasih, ya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *