Cerpen #188 Omong Kosong Sejarah

Apakah benar jika tempat ini dulunya sejuk?

Pepohonan yang katanya rimbun serta burung ketilang yang kerap menampakkan diri. Gemercik air danau yang katanya menambah nikmatnya ikan nila bakar, ditambah cabai rawit halus dan asam. Beberapa kapal yang katanya siap membawa pengunjung ke desa seberang.

Ah, omong kosong.

Pernyataan-pernyataan di buku sejarah yang kubaca itu tampaknya hanya karangan fiksi. Mungkin saja manusia zaman dulu pandai mengarang dan seperti aku, mereka suka berharap lebih dan pandai menuangkan ide dalam bentuk tulisan. Serupa harapanku, mereka hanya ingin lingkungan yang asri layaknya di buku bertema lingkungan yang selalu menarik perhatianku.

Danau surut sudah seperti kolam, tidak ada ikan. Pohon meranggas dan hanya jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan. Burung ketilang, tampaknya burung pemakan arbei itu adalah burung langka yang mustahil untuk kulihat sekarang. Ikan nila, aku bahkan tidak tahu seperti apa bentuknya.

Omong kosong pengarang zaman dulu membuatku dilema.

Awan hitam menutup matahari yang sebelumnya membakar bumi tanpa ampun. Cuaca tidak stabil, tetapi aku yakin sebentar lagi akan ada korban jiwa. Angin sore menyerbu layaknya kapal tempur yang dikejar musuh. Pohon pinus yang menyendiri oleng ke kiri, beberapa rantingnya yang tua sampai patah dan jatuh di semen.

Tak!

Aku terperanjat. Pohon pinus yang lain tumbang dan menghantam semen yang baru saja dipoles. Akar pinus yang keras mengakibatkan semen retak dan tidak perlu khawatir, dua atau tiga hari lagi semen itu akan kembali dipoles serta tanah tempat pinus tumbuh akan benar-benar hilang.

Angin makin menggila. Jaket tebal yang sudah kusediakan sudah melekat di tubuhku yang tidak baik-baik saja. Gatal, ruam merah, dan nanah adalah hal yang wajar. Banjir beberapa hari yang lalu meninggalkan jejak, tidak hanya tubuhku, tetapi di tubuh hampir seluruh warga. Alergi, bakteri, jangan tanyakan lagi.

Karbon dioksida keluar dari mulut. Aku menyesal telah membantu orang jahat yang merusak bumi. Jika Tuhan tidak membiarkan aku hidup, maka lingkungan tidak akan separah ini. Kalau aku tidak mengeluarkan karbon dioksida, aku tidak akan bisa menikmati indahnya bukti omong kosong sejarah yang dituliskan manusia yang lahir jauh sebelum aku.

“Pulang sekarang, Tuan?”

Aku mengangguk lemah ketika Eggly, robot yang kujadikan asisten bersuara. Dia pandai menganalisis lingkungan dan aku yakin jika tempatku duduk tidak aman.

Eggly cukup cepat di depanku. Tubuh robotnya yang mirip telur tidak menyentuh tanah.

“Cepat, Tuan. Sesuatu yang biasa akan terjadi.”

Aku mengangguk kemudian mempercepat langkah. Kakiku bergerak lebih gesit untuk mengejar Eggly meskipun aku sadar aku tidak sanggup.

Brak!

Jantungku berdegup kencang serta karbon dioksida menyerbu dari mulut serta hidung. Pinus lain tumbang tepat di belakangku. Ah, jika saja …

“Ke rumah saja, Eg,” jawabku setelah Eggly menanyakan ke mana kami akan pergi.

Jarak dari rumah ke tempat ini lumayan jauh, tetapi berkat tombol merah pada kendaraan ini kami bisa sampai dalam waktu lima menit.

Eggly menyalakan lampu sorot berwarna kuning cerah untuk menembus awan yang menghadang kami. Rintik hujan mulai menyerbu. Petir menyambar ke mana-mana dan baru saja, lidahnya yang sangat berbisa terjun tepat di hadapan kami. Aku tersentak, beruntung Tuhan masih melindungi manusia penuh dosa sepertiku.

Doa memohon keselamatan berlomba-lomba keluar dari mulutku. Aku egois, dan bukan hanya aku. Sebelumnya aku memohon agar Tuhan memanggil sehingga aku tidak perlu mengotori dunia dengan karbon dioksida yang tiap saat keluar. Sekarang, aku memohon agar Sang Pencipta membiarkan aku hidup sehingga aku bisa melihat anak-anak tidak punya ayah yang kutinggalkan beberapa jam lalu.

“Mereka pasti ketakutan.”

“Sepertinya begitu, Tuan. Meskipun mereka sudah terbiasa dengan cuaca ekstrem seperti ini, mereka lebih terbiasa dengan ketakutan mereka sendiri.”

Benar karena sekali lagi, begitulah manusia. Nyaman adalah suatu kebiasaan dan mereka—termasuk aku—terbiasa dengan kekacauan yang tidak lazim ini.

“Tuan, aku dapat info mengenai burung yang Tuan ingin ketahui.”

Burung ketilang, burung langka yang hanya ada di buku sejarah.

“Burung itu benar-benar ada. Dulu, burung ketilang sering muncul di sawah dan bersarang di tanaman kopi milik petani.”

“Kopi?”

Tanaman yang sangat susah tumbuh di tanah tandus yang katanya sangat subur, dulu. Tanaman yang katanya merupakan sumber penghasilan utama penduduk di sini, dulu. Tanaman yang katanya menjadi ciri khas kabupaten ini, dulu. Tanaman, tempat burung ketilang bersarang, dulu.

Omong kosong sejarah.

Entah sudah berapa ribu tahun yang sudah kulewatkan sehingga fakta itu susah untuk ditemukan. Entah seperti apa manusia sebelum aku merawat tempat yang katanya ‘tanah kelahiran’ ini sehingga aku menerima hadiah bagus, tanah tandus.

“Kenyataan itu membuatku sakit hati,” jawabku asal.

Fakta bahwa aku adalah seseorang yang cinta lingkungan bersih adalah sebuah pengalihan. Aku adalah seseorang yang hanya menumpang, berharap banyak pada masa lalu agar menyisakan sedikit keasrian. Aku adalah seseorang yang ditakdirkan hidup di zaman paling akhir, yang menerima segala hadiah indah yang kenyataannya ‘terlalu indah’. Aku adalah seseorang yang dipaksa untuk menyaksikan hasil perbuatan manusia yang lahir sebelum aku.

Langit menggeram. Lidah-lidah yang berbentuk cahaya itu mendekat. Bukan kepada kami, karena Tuhan masih ingin aku menikmati lingkungan yang indah ini.

Ternyata kepada kami. Badanku bergetar setelah arus bertegangan tinggi merambat.

Aku mati. Ruam merah di tubuhku sudah sembuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *