Cerpen #186 Gelora Sang Kekasih

Sudah tiga hari ini aku melihat keanehan pada tubuh kekasihku. Tubuhnya semakin menggembung tak tentu arah. Perasaanku mulai tidak enak. Aku hanya diam mematung, mengamatinya dengan cemas, dan bertanya-tanya dalam hatiku, ‘Adakah sesuatu yang tidak beres dengannya?’ Ini bukan pertama kalinya aku melihat asap membumbung tinggi dari kepalanya yang bermahkota. Aku sering melihat asap itu, tapi kali ini aku tidak bisa menyangkal perasaanku. Aku mengenalnya begitu lama. Aku tahu ada sesuatu yang akan terjadi dengannya.

Saat ini kegelapan begitu mencekam hingga membuat bulu kudukku berdiri. Semua terasa panas membara. Menyengat hingga ke ubun-ubun. Dia mulai terbatuk-batuk. Tubuhnya bergetar, berdentum, dan mengeluarkan suara yang memekikkan telinga. Membuat jantung berdetak semakin kencang. Malam semakin gelap. Bulan mulai diselimuti awan-awan, lalu menghilang dalam semburat warna merah darah. Burung-burung mengepakkan sayap menjauh, menghilang dalam hembusan angin barat.

Tiba-tiba, kkksssrrkkk … monyet-monyet bergelantungan di dahan. Mulut mereka menyeringai dan bersuara bersahut-sahutan, meneriakkan nada bingung, ketakutan, dan frustasi. Mereka mencoba berbisik, menyeruak petaka yang sebentar lagi berkunjung. Auman harimau memecah keheningan. Muncul satu … dua … dua pasang, lalu mereka berlarian turun. Berlari dengan peluh menetes. Panas … panas … terdengar rintihan harimau tua yang warna bulunya mulai terlihat kusam. Kaki kanannya terluka dan jalannya mulai terpincang-pincang. Semua menjauh dan terus menjauh, takut dengan pesona kekasihku yang berubah menjadi prahara.

Wahai kekasihku, sayangku, aku jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu. Begitu cantik, elegan, megah, dan memesona. Membuatku tergila-gila. Aku telah melihatmu tumbuh dewasa, tinggi menjulang dan tampak memukau. Kau terus bergejolak bak remaja puber yang sedang mencari jati diri. Kau terus berubah tak dapat ditebak. Kadang begitu jelita menawan hati, tapi kadang begitu garang menakutkan, kapan saja bisa berubah menjadi monster yang ganas yang melahap segala sesuatu yang ada di sekitarmu. Meski begitu, tak terhitung banyaknya yang jatuh cinta padamu. Mereka ingin bersamamu, terpikat dengan daya pesonamu. Jiwa-jiwa manusia bergantung padamu. Pria perkasa, gadis belia, nenek renta, hingga bayi tak berdaya. Semua bertekuk lutut di kakimu. Hidup karena belaian tangan dan hembusan nafasmu.

Ah, perasaan tidak enak ini kembali merundung jiwaku. Akankah seperti seribu tahun yang lalu, ketika kau menjadi raksasa bengis yang mengamuk? Kau menghancurkan segala sesuatu, melelehkan jiwa-jiwa berkayu dan berakar, membiarkan jiwa-jiwa lain berteriak dan berlari, seakan tak percaya kau telah berubah menjadi lautan api yang menyala-nyala, melemparkan bongkahan-bongkahan batu raksasa panas yang menggelinding dan melindas rumah-rumah. Kau membuat raja dan pasukannya kocar-kacir menyelamatkan diri, berbaris rapi dalam keputusasaan, mencari tempat lain untuk bernaung dan menghidupi diri. Lelehan panas yang kau muntahkan bercampur air segar, melaju dengan kuatnya, menutupi arca-arca, rumah, istana, perak, emas, dan segala sesuatu yang ada di atas bumi. Tak ada lagi yang berbekas, bahkan jiwa-jiwa yang saat ini tinggal bersamamu, mereka tak pernah tahu bahwa di bawah tanah yang mereka injak, ada dunia purba yang diam dan mati membisu, lenyap bersama kenangan tentangmu.

Aku pernah berkata padamu, jiwa-jiwa sangat takut padamu, takut pada geloramu yang meluap-luap. Kudengar keluh kesah dan tangis mereka.

“Aku mencintai mereka. Mereka akan hidup karenaku,” jawabmu dengan suaramu yang lembut dan menyejukkan hati.

“Ya, aku tahu,” balasku, “tapi jiwa-jiwa itu mungkin tak mengerti. Mereka menganggapmu jahat. Menganggapmu bagian dari hukuman Tuhan. Menganggapmu sebagai laknat yang menimpa jiwa-jiwa durjana.”

“Tidak,” kau membantah. Matamu tampak berkaca-kaca, air matamu mulai membasahi wajahmu yang begitu cantik sempurna.

“Aku memberi kehidupan bagi mereka,” katamu sendu sambil memandangi jiwa-jiwa itu.

“Aku yang menumbuhkan jiwa-jiwa hijau berkayu untuk mereka. Aku yang membuat rumput menghasilkan biji yang mereka makan setiap hari. Aku … mencintai mereka,” ujarmu sambil tersenyum, menghembuskan udara sejuk yang menenangkan jiwa, membuai mereka dalam alunan musik senja penggugah cakrawala.

Aku diam mendengarnya, menatap kekasihku sebagai seorang ibu yang merawat anak-anaknya dengan penuh cinta.

***

Suara berdebum terdengar dari perut kekasihku. Seperti bayi yang hendak keluar dari rahim ibunya. Mendesak, mendorong dengan perkasa, hingga kekasihku kepayahan menahannya. Terdengar bunyi kilat dan petir bersahut-sahutan.

Kekasihku bergoncang, bergetar, menghentak-hentakkan kaki, menahan gejolak tubuhnya dengan energi yang lebih kuat daripada bom atom. Sebagian punggungnya runtuh dan batu-batu raksasa berguguran. Kekasihku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dalam udara yang luar biasa panas. Nafas panas itu menukik ke langit. Sebelas kilometer tingginya, membawa material yang tak terhitung banyaknya dan sebagian turun dengan gemulai. Melelehkan segala yang dilewatinya. Jiwa-jiwa meraung saat awan panas itu mengejar mereka. Semua membara dan menyesakkan dada.

Terdengar jeritan histeris dari jiwa-jiwa yang bersimpuh di kaki kekasihku. Menjerit, meronta, dan berlari bagai di ujung kematian. Aku tak mampu melihat mereka dengan jelas. Semua gelap, tertutup debu dan abu. Jiwa-jiwa itu merangkak, meraung, dan menangis minta pertolongan. Tercium bau anyir. Daging terbakar. Kulit mereka terkelupas hingga berwarna merah jambu, melepuh. Yang lainnya menghitam dan tidak utuh lagi. Musnah bersama jiwa-jiwa hijau yang berubah menjadi arang. Masih kulihat jiwa-jiwa lain berlarian, mengais nafas yang tersisa. Berharap masih ada ampun untuk mereka.

Pandanganku beralih kepada kekasihku. Nafasnya terengah-engah. Perlahan surut dan mulai tenang, seperti seorang wanita yang baru saja melahirkan anaknya. Cairan merah menyala meleleh di wajahnya, menuju jalan-jalan bercabang yang terbentuk ratusan tahun yang lalu. Kulihat kekasihku berlinang air mata. Aku ingin memeluk dan menenangkannya.

“Aku tidak ingin membunuh mereka,” ratapnya pilu.

“Mereka terlalu mencintaimu. Rela mati untukmu,” kataku menatap wajahnya yang begitu sedih.

“Aku tahu … tapi seharusnya mereka tidak menjamah daerah terlarangku. Sekarang aku sudah tidak bisa mengembalikan jiwa-jiwa mereka.”

Sudah lama aku tahu mereka menjamah daerah terlarang kekasihku. Mereka membangun rumah dan berkembang biak di sana, berpikir bahwa kekasihku tidak seganas itu. Sekarang mereka meregang nyawa sebelum waktunya. Aku tidak tahu lagi apakah itu cinta? Atau itukah cinta yang sudah buta?

“Sayang, kenapa kau mengejutkan semua orang dengan luapan kemarahanmu yang tak terkendali?” tanyaku saat dia mulai tenang.

“Aku tidak marah,” kilahnya, “ini siklus alami. Teman-temanku yang ada dalam jalur yang sama juga mengalaminya.”

“Salah satu temanku meluapkan isi perutnya karena selubung yang mengelilinginya mulai mencair,” tambahnya.

Ya, aku pernah mendengar berita itu. Selubung es mereka mencair karena dunia ini semakin panas. Tekanan di permukaan akibat selubung yang mencair dan longsor membuat kekasihku dan teman-temannya lebih cepat memuntahkan energi mereka.

Jiwa-jiwa itu juga yang bertanggung jawab. Mereka telah membuat suhu dunia ini tidak bersahabat. Mereka sibuk dengan kepentingan diri sendiri. Jiwa-jiwa hijau yang seharusnya menaungi mereka, malah mereka bunuh seenaknya. Mereka juga membangun beton-beton dengan cerobong yang mengepulkan asap hitam hingga jiwa-jiwa lain sesak dibuatnya. Mereka membuang kotoran hasil karya mereka ke air biru sahabat kekasihku. Sungguh disayangkan.

Belum selesai aku berbicara dengan kekasihku, tiba-tiba Sang Hujan sudah tiba dengan kendaraan awan hitamnya. Dia membasahi tubuh kekasihku dan membawa pergi isi perut kekasihku begitu jauh melewati jalan-jalan bercabang dengan kecepatan lebih dari seribu tenaga kuda. Nun jauh di sana, kudengar jiwa-jiwa berteriak, kentongan dipukuli dengan mantapnya, alarm dibunyikan, dan wajah jiwa-jiwa itu ternganga memandang putra Sang Hujan dalam bentuk banjir lahar, yang mengebaskan ekornya menerpa harta milik mereka dan menguburkannya dalam lumpur lalu menghanyutkannya sambil diiringi tangis mereka.

Kekasihku menangis tersedu-sedu.

“Kenapa mereka membangun rumah-rumah di jalan bercabang yang telah kubangun? Itu adalah jalan bagi putraku dan putra Sang Hujan berlari bersama. Kalau saja mereka menjauh dari jalan-jalan itu … itu bukan milik mereka. Itu milikku, milik Sang Hujan, dan milik putra-putra kami.”

Aku hanya menatap kekasihku yang terus terisak. Lelah dan sedih, ingin istirahat yang panjang. Hingga gelora berikutnya.

“Istirahatlah Merapi kekasihku,” kataku meniupkan angin yang segar dan sejuk baginya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *