Cerpen #185 Bumi Terlalu Mencintai Manusia

Dunia tidak lagi sama, bumi bahkan tidak mampu tersenyum ceria. Lengkungan bibirnya sudah mencembung, kedua sudut bibirnya yang semula ke atas, kini tertarik ke bawah. Hidup di tengah peradaban modern, tetapi tidak merasa benar-benar hidup. Alam menangis, manusia hanya acuh tak acuh. Sadar akan perbuatan, tetapi terus menyakiti bumi. Ada segelintir manusia yang sadar akan apa yang dirasakan bumi, tetapi tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Aku yang menyaksikan perubahan demi perubahan hanya mampu bungkam. Tahun 1250 Masehi, hutan sebagai paru-paru dunia terserang asma, pohon-pohon tidak lagi mampu memproduksi oksigen sesegar dan sebanyak dahulu. Pohon-pohon seakan kehilangan semangat hidup, menyaksikan teman-teman mereka ditebang tanpa pilih-pilih untuk keperluan teknologi.

Asap tipis mengepul dari teh yang tersaji, baru satu kali aku sentuh kehangatannya. Tetes hujan menjadi labuhan ternyaman memutar kembali kenangan berlalu. Warna kelabu pekat terlalu nyaman menutupi langit, membuat aku merindukan warna biru cerah yang terlukis.

“Jemurannya gak kering.” Ibuku mengeluh, menatap sendu pada langit. Mungkin sekarang, wanita paruh baya yang masih saja cantik di mataku itu tengah berharap agar hujan mau berhenti.

“Kenapa tidak pakai pengering baju saja, Bu?” tanyaku setelah menyesap hangatnya teh.

Ibuku memukul jidatnya dengan keluhan lagi. “Oh, iya, Ibu lupa, La.” Wanita itu langsung bergegas memasuki rumah sembari mendorong keranjang besi tempat baju-baju setengah kering.

Biar aku ceritakan sedikit mengenai iklim di tahun 2150 Masehi ini. Musim hujan menjadi tidak terkendali, tebakan seringkali meleset tidak sesuai prediksi. Walau gerimis, hujan memberikan pelukan dingin. Apalagi jika gerimis sudah berubah menjadi deras, dinginnya serasa berada di belahan dunia bersalju. Menurut artikel yang aku baca melalui internet, terbit beratus tahun yang lalu … dunia di masa depan akan kembali ke zaman es. Sepertinya benar saja. Air lebih mendominasi bumi tahun ini, daratan di setiap benua semakin berkurang. Dan yang paling parah lagi, kami menghirup oksigen bercampur racun.

“Kak, temanku minta tanda tangan Kakak.” Perempuan berjilbab hitam, usianya lima tahun lebih muda dariku menyodorkan lima eksemplar novel bersampul biru muda.

“Kenapa gak kamu saja, Put?”

Putri menggeleng. “Kenapa aku? Kan, yang diminta tanda tangan Kakak, bukan aku.”

Benar juga, sih. Pena menari di bawah judul novel, tanda tangan simpel yang adikku bilang terlampau sederhana. Penulis adalah profesi sampingan, kerja di waktu luang dengan ide liar yang menggelora. Aku mengembalikan novel-novel itu kepada Putri, menatap keluar jendela lagi. Walau mereda, hujan tetap tidak mau berhenti. Kadang kala, aku berpikir … adakah bumi tengah menumpahkan segala kesedihannya atas sakit yang ia derita?

Helaan napas panjang kulakukan, kebiasaan setiap sore pergi jalan-jalan bersama adikku tidak bisa dilakukan. Akan tetapi, melihat reda hujan yang benar-benar tipis memberikan secercah harapan. Aku masih percaya akan adanya pelangi setelah hujan, tetapi … bagaimana bisa pelangi itu muncul jika sinar matahari tidak ada membias rintik-rintik hujan? Sama halnya, aku percaya bumi akan menghijau lagi, tetapi … bagaimana bisa menghijau jika kesadaran akan kesehatan bumi hanya dimiliki dua dari sepuluh orang? Mustahil.

Teh yang hampir kehilangan kehangatannya tinggal sedikit lagi, aku meneguknya hingga tandas, kemudian beranjak dari kursi. Kelabu masih menutupi sebagian langit, tetapi warna biru sudah tampak. Transportasi udara juga sudah kembali ramai di atas sana, menimbulkan polusi yang lagi dan lagi membuat bumi terbatuk hebat. Aku bisa apa, Kawan?

“Putri, temenin Kakak jalan-jalan, yuk?”

Perempuan berjilbab hitam yang tengah video call dengan temannya itu menoleh, memberikan kode agar aku menunggu sebentar lagi. Nyanyian ibuku terdengar kala memasuki ruang pencucian, badannya ikut bergoyang heboh.

“Bu, izin pergi jalan-jalan, ya?”

Wanita yang sangat aku cintai itu menghentikan aktivitasnya, mengangguk kepadaku sambil mengacungkan tangan. Kuraih tangannya dan mencium dengan penuh kasih, tangan wanita yang telah membesarkanku hingga sampai sekarang ini.

“Ada tapinya! Beliin Ibu martabak yang pakai keju, oke?!”

“Oke, Bu. Ya udah, Akeyla pamit. As-salamu’alaikum,” pamitku padanya yang membalas salamku dengan senyuman terpatri. Ah … ibu, selalu tersenyum walau beban berat berada di pundaknya.

Aku melewati Putri yang masuk ke ruang pencucian, meminta izin kepada ibu. Hal yang bisa aku tebak adalah pertengkaran kecil antara ibu dan si bungsu, hal lumrah. Aku mengenakan jaket kulit, di mana bagian dalamnya dilengkapi penghangat tubuh. Ya, peradaban memang sudah semodern itu, dan itu pun manusia masih berlomba-lomba menemukan dan menciptakan hal baru.

“Idih, mulutmu udah kayak mulut ikan, Dek,” ucapku melihat Putri yang masuk mobil.

“Abis, Ibu niat banget ngeselinnya,” balas Putri menghela napas panjang.

Aku tertawa pelan dan melajukan mobil membelah angin yang menerpa. Kusetel radio yang membahas mengenai iklim, lagi. Aku bukan penikmat berita, juga bukan pendengar setia radio … hanya saja aku suka sesuatu yang membahas klimatologi.

“Seperti apa, ya, Kak … iklim beratus tahun yang lalu?” tanya Putri.

Aku meliriknya sebentar, memutar sedikit setir ke kanan. “Yang pasti jauh berbeda dari iklim sekarang, Dek. Mungkin dahulu bumi masih mampu tersenyum walau tipis, pemandangan tidak segersang saat ini,” jawabku sesuai dengan pengetahuan yang masih minim. Lagian, aku hidup di tahun 2150 Masehi, bukan 2000 Masehi.

Hujan mengkristal padat, fenomena hujan es yang sudah berulang kali terjadi pada zaman ini. Dahulu, mungkin hujan es bukanlah suatu hal yang lazim. Namun, sekarang tentu saja hujan es adalah hal yang biasa walau kadang datang mengagetkan. Bahan pelapis kendaraan serta bangunan sudah tahan es sehingga tidak memungkinkan untuk bolong dihantam butiran es berbagai ukuran.

Aku menginjak rem karena di depan tengah macet, kelihatan di atas sana terdapat gumpalan asap hitam tebal disertai percikan api. Mobil yang aku kendarai otomatis bergerak mundur, mobil yang menyesuaikan keadaan. Kecelakaan jalur udara memang rentan, tetapi mereka masih menggunakan jalur tersebut.

“Kita ubah tujuan?” tanyaku pada Putri yang membalas dengan anggukan.

Berkendara saat hujan seperti ini rawan kecelakaan, tetapi tetap tidak ada peraturan melarang. Berdasarkan kesadaran masing-masing, seperti aku yang mengabaikan keamanan dan keselamatan. Yah, aku memang suka seperti itu. Manusia memang bersikap seperti demikian, bukan?

Butiran es masih menghantam … menimbulkan nada tidak beraturan, mengalahkan suara radio yang masih menyala. Putri mengaktifkan lapisan kedap suara, suara radio kembali mendominasi. Karena butiran es semakin banyak turun, kutepikan mobil karena tidak mau ambil risiko.

“Apa kita berhak menyalahkan manusia seratus atau dua ratus tahun yang lalu tentang keadaan bumi yang kritis sekarang, Kak?”

Adikku itu sudah belajar banyak hal, selalu ingin tahu dan tahu. “Entahlah, Dek. Menurutmu bagaimana?”

Putri menatap lurus ke depan, mungkin menerawang jauh ke tahun-tahun yang tidak pernah kami jamah. “Aku tidak tahu, Kak. Pasti beruntung orang-orang yang hidup seratus atau dua ratus tahun yang lalu, menghirup udara segar, jika musim hujan tidak terlalu dingin, jika musim kemarau tidak terlalu panas dan sumber air masih jernih dan segar. Namun, sayang … mengeksplorasi sumber daya alam tanpa mempertimbangkan kehidupan generasi selanjutnya.”

Putri benar, pemikirannya sama sekali tidak bisa aku sangkal. “Akan tetapi, Putri … tidak semua orang seperti itu. Benar walau satu atau dua dari sepuluh orang yang hanya sadar, tetap akan berdampak buruk bila delapan orang lainnya mengeruk sumber daya tanpa mempertimbangkan apa akibat yang muncul setelahnya.”

Aku memberi jeda, menatap lurus dan menyalakan mesin mobil, melaju di jalanan karena hujan es telah berhenti dan mencair. Ban mobil tidak akan terpeleset akibat licinnya jalanan, ya, seperti yang aku bilang … kemajuan teknologi semakin modern dan meningkat. Apa pun sekarang serba bisa dan siap saji.

“Putri bingung aja, kenapa gak ada kesadaran mereka? Bahkan, apa yang mereka lakuin berdampak untuk masa selanjutnya. Apa mereka gak belajar? Apa mereka gak diajar? Apa mereka gak memikirkan dampak buruk seterusnya? Apa mereka gak peduli sama generasi berikutnya?” Pertanyaan yang beruntun diiringi nada kesal seorang adik Akeyla.

Aku tersenyum tipis, langit membiru dan terlihat matahari muncul tanpa malu-malu menyuguhkan silau sore yang keorenan.

“Mereka belajar, mereka diajar, hanya saja mereka lebih cenderung menghabiskan tanpa menyisakan. Bukan maksud menghakimi, mereka tahu dan sadar, tetapi candu akan sebuah manfaat hingga lupa pada dampak buruk setelahnya. Sama seperti kita di peradaban sekarang, kita sadar akan yang diperbuat, tetapi karena candu … kita ditarik untuk melakukannya lagi dan lagi tanpa pernah berniat berhenti. Semoga Putri paham apa yang Kakak sampaikan.”

Kutepikan mobil dan memasukkan pada jejeran mobil yang terparkir. Hujan sepenuhnya telah berhenti, menyisakan genangan di beberapa cekungan. Aku dan Putri menautkan jemari, berjalan beriringan menuju sebuah café. Iklim memang tidak lagi sama, terlihat semua di peradaban modern ini serba canggih … nyatanya bumi tengah sekarat. Rindu pada peradaban di mana bumi mampu tersenyum tanpa beban, walau tidak pernah aku jejaki.

Kutub utara dan selatan mencair, air naik drastis, dan daratan bertambah kecil. Termasuk negaraku, negara yang dahulunya kepulauan ini tidak lagi memiliki banyak daratan. Aku bisa apa, Kawan? Hanya merenung dan menghela napas panjang. Angkat bicara, menyuarakan ketidakadilan terhadap yang kami terima akibat perbuatan manusia-manusia tidak berperasaan di tahun-tahun dahulu? Hey, aku ini siapa?

2150 Masehi saja sudah seperti ini, bagaimana tahun-tahun ke depan? Akankah kembali ke zaman es? Seratus tahun atau dua ratus tahun lalu sudah diprediksi akan iklim sekarang, mengenai zaman yang kembali ke zaman es, munculnya jenis ekosistem baru dan hilangnya ekosistem lama.

“Kak, kenapa kita tidak hidup seratus atau dua ratus tahun yang lalu?”

“Takdir Tuhan siapa yang bisa menebak, Dek?”

Sudahlah, semua yang terjadi telah terjadi. Semua yang akan terjadi mungkin tidak dapat terelakkan, ingin merasakan hidup di seratus atau dua ratus tahun yang lalu? Takdir berkata lain. Wajah bumi sama dengan makhluk hidup, berproses dan terus berproses tanpa henti. Sayangnya, proses wajah bumi ke arah yang sangat buruk.

***

Penggunaan bahan bakar berupa fosil yang semakin meningkat di beratus tahun lalu, memicu terjadinya perubahan iklim … bahkan sampai sekarang, kebutuhan akan bahan bakar fosil sama sekali tidak mengalami banyak pengurangan.  Yang terjadi sekarang, semua bermuara dari dampak eksplorasi dan eksploitasi bahan yang telah disediakan alam. Aku tidak ada maksud teruntuk membenci segala aktivitas manusia, hanya saja kecewa pada mereka yang tidak memikirkan kami generasi setelah mereka.

Pada angin yang bertiup, tiada henti memberikan sentuhan … menjadi saksi bisu akan tangis pilu sang bumi. Pada matahari yang menyinari dari pagi sampai senja, kadang kala harus rela wajahnya ditutupi awan hitam pekat … menjadi saksi atas apa yang manusia lakukan pada alam. Dan pada bentangan kanvas malam, menyediakan ruang bagi bulan dan bintang meramaikan sunyinya malam … menjadi saksi atas tidak berdayanya bumi terhadap apa yang manusia lakukan. Mereka semua hanya mampu menjadi saksi, berharap menjadi hakim dan menyudutkan manusia … tetapi mereka sama sekali tidak mau melakukan hal itu.

“Bumi terlalu mencintai manusia, bumi terlalu mencintai manusia, bumi terlalu mencintai manusia.”

Aku tersenyum miris mendengar penuturan rekan kerja, menghentikan pekerjaan dan memutar kursi menghadap ke kubikel lelaki yang mengucapkan kalimat yang sama sebanyak tiga kali. Semua rekan kerja kini menatap ke arahnya, meminta lanjutan akan apa yang dia katakan. Sosok yang berpikiran kritis, mengatakan apa saja tanpa sekat dan pikir panjang. Dia menggemari hal berbau politik, ekonomi, serta fenomena yang terjadi di bumi.

“Aku mendapat naskah yang mengulas mengenai ‘Bumi Tengah Sekarat’.” Dia berhenti, aku menyandarkan punggung. “Isinya sangat menarik, tentang fenomena yang terjadi di bumi. Alur maju dan mundur, juga menggunakan perbandingan dari tahun ke tahun. Pokoknya kalian harus baca setelah aku edit,” lanjutnya.

“Bukankah semua naskah yang mengangkat fenomena bumi memang menarik bagimu, Wiliam?” celetuk rekan kerjaku yang lain diiringi tawa pelan semua rekan.

Wiliam mengangguk setuju. “Kembali ke kata ‘bumi terlalu mencintai manusia’. Bukankah itu benar, Kawan-kawan? Bumi bahkan tidak peduli seberapa sering manusia menyakitinya. Bumi selalu menyediakan apa yang manusia inginkan, tetapi manusia tidak pernah menghargai. Yah, kutip dua bagi mereka yang sadar. Kita hidup menghirup udara yang alam sediakan, tetapi kenapa kita malah merusak alam?”

“Ya, karena manusia sudah bosan hidup.”

Aku mengangguk setuju saja tanpa ingin menanggapi.

“Mungkin itu perumpamaan kejamnya, Niko. Menurut kaca mataku, manusia terlalu naif. Sia-sia berilmu pengetahuan tinggi jika tidak pernah menghargai dari mana ‘ia’ belajar. Bumi terlalu mencinta manusia sampai masih ingin terus bertahan, padahal … manusia sama sekali tidak menghargai perjuangannya. Aku tidak yakin bumi akan bertahan lebih lama lagi.”

Terdiam, semua bermain dengan pikiran masing-masing. Kami memang manusia yang tidak tahu balas budi, bukan?

“Untuk itu, Wiliam … berangsur-angsurlah meminta maaf kepada kami karena dosamu pada kami tidak bisa dihitung dengan butiran pasir.”

Wiliam tergelak sinis. “Cih, kau membuat perumpamaan dari pekerjaan yang sia-sia.”

Entah kenapa perdebatan mereka malah mengundang tawa di ruang pengeditan naskah. Setelah pintu ruang terbuka menampilkan sosok atasan, kami bergegas memperbaiki posisi dan cepat-cepat mengedit naskah cerita yang menjadi tanggung jawab.

Bumi terlalu mencintai manusia walau tahu manusia selalu mengabaikan kebaikannya. Syukur yang terlalu jauh atau kesadaran itu yang memang minim? Tanya selalu punya jawab, masalah selalu punya solusi, tetapi sabarnya bumi tidak akan bertahan lebih lama. Apakah bumi yang sekarang masih mencintai manusia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *