Cerpen #184 Embun Musim Kering

Menggunakan telunjuk, aku meraba permukaan batu raksasa yang kududuki. Kering! Kataku dalam hati. Entah mengapa, kejadian ini seperti mengilhami sesuatu. Sesuatu yang begitu menyayat hati. Sangat pedih, sampai-sampai aku ingin segera menangkapnya, lalu kuremukkan agar tidak menyakitiku lagi. Di luar kehendakku, nyatanya semua itu tercuri oleh suara-suara gemuruh yang memekakkan telinga.

Suara itu bukanlah halilintar. Bukan juga sirene mercusuar yang ada di belakangku. Itu adalah huru-hara manusia-manusia yang menyebut dirinya mulia.

Mulia!

Aku sempat terbengong-bengong dengan kenyataan itu. Belum lagi bila menyandingkan kata itu dengan mulut mereka yang meracau. Menyumpah. Bahkan mengutuk.

Mereka tidak hanya memaki langit lantaran tiada hujan. Mereka menghujat lautan yang terus-menerus memuntahkan bangkai, juga menulahi tanah karena tidak lagi menumbuhkan tunas unggul.

Semua yang keluar dari mulut mereka membuatku terdiam. Sungguh ironi mendengar ocehan macam itu. Oleh karenanya, aku memilih untuk mengacuhkan suara-suara tersebut dan mencari ilhamku yang hilang.

Sambil memejamkan mata, aku menyusup jauh ke dalam pikiran-pikiranku. Menggalinya. Mengaisnya, sampai ilham itu perlahan tampak seperti abu. Abu yang bertaburan di atas kertas lukis yang kubawa.

Buru-buru aku meraih pensil, lalu menata abu itu agar membentuk lukisan. Dimulai dengan garis horizontal untuk memisahkan lautan dari cakrawala, lalu ditambah liukkan diagonal sebagai batas daratan.

Belum sempat aku membubuhkan garis lainnya, orang-orang tadi kembali bersuara. Kini mereka mengeluh karena panas. Udara memang panas, bahkan sangat panas! Tiba-tiba saja emosiku tersulut. Beruntung, mereka tidak mendengar ucapanku. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Aku tidak memungkiri bahwa dingin adalah sesuatu yang istimewa bagi kami. Hampir sepanjang tahun, panaslah yang menemani aktivitas kami. Bagiku, dingin hanya bisa diukur dengan hitungan jari. Bukan lagi dengan termometer. Lalu apa gunanya mereka mengeluh?

Aku menghembuskan napas kuat-kuat, dan saat itulah kepalaku terasa dingin. Paling tidak, itu harus kuperkatakan supaya aku mampu melukis dengan tenang.

Liukan diagonal mulai kutambah dengan arsiran tipis, tetapi tajam. Aku membuatnya dari sisi kiri, lalu turun. Setahap demi setahap, hingga bagian daratan membentuk pola seperti tanah yang terkelupas dan pasir yang beruap. Kering, di mana tak satu pun biji menumbuhkan tunasnya. Dan gambaran tersebut membuatku terdiam lagi cukup lama.

Bangkai!

Teriakan itu sekonyong-konyong membuatku melonjak kaget. Hampir saja kertas lukisku terlempar, untung segera kutangkap. Sambil mengerutkan kening, aku bertanya-tanya. Siapa yang bangkai?

Kulihat wajah-wajah mereka dengan saksama, tak satu pun menyiratkan informasi bahwa mereka sedang memaki. Yang ada, justru tangan mereka yang teracung ke bibir pantai di ujung cakrawala. Lantas aku menoleh, mataku langsung membulat.

Jauh di ujung sana, ada satu kompi bangkai ikan yang tersapu ombak. Aku tidak bisa melihat jelas bentuknya. Namun, aku meyakini satu hal. Ikan-ikan itu belum mau mati. Mereka terpaksa mati. Terpaksa.

Aku hanya bisa menelan ludah. Onggokkan tubuh mereka yang tertampar-tampar ombak begitu sulit dihempas dari pikiran. Bagiku, kejadian ini memberi ilham supaya aku mengabadikan kematian para ikan di atas kertas lukis. Itu sebabnya, aku mulai menambahkan guratan-guratan halus di antara liukkan diagonal. Lengkung-lengkungnya tipis, kemudian kuarsir agar tampak menggembung dan nyata.

Ketika melukiskan bulatan mata-mata ikan, masygullah hatiku. Bangkai, tidak. Mayat, bukan. Aku tak sanggup menyebut ikan-ikan itu sebagai mayat, apalagi bangkai. Sekalipun mereka tidak memiliki akal budi, nyatanya mereka itu mulia. Sudah berabad-abad, bahkan milenium demi milenium berlalu, mereka sudah mengabdikan diri kepada kami yang menyebut diri mulia.

Aku membayangkan mereka dengan gesit berenang memecah ombak. Mengarungi samudera raya nan luas. Menyelam hingga laut dalam untuk mencari makanan dan berkembang biak. Nyatanya,

Pukat menangkap mereka. Oh, pukat itu masa lalu. Mungkin saja bom, tetapi itu terlalu sadis. Bagaimana dengan gelombang listrik? Ah, aku terlalu tinggi memikirkan sesuatu yang jauh. Zaman ini, ikan-ikan tidak mati karena hal-hal yang demikian.

Alasan yang paling dekat dengan kematian mereka adalah meningkatnya suhu lautan. Perlahan tapi pasti, mereka seperti digiring masuk dalam perangkap mematikan yang jauh lebih sadis dari pada pukat maupun bom.

Di benakku langsung terlintas sekumulan ikan yang megap-megap. Mereka berenang miring-miring karena sekarat, dan akhirnya terkapar. Mereka mengambang, terdampar, lalu membusuk. Kejadian-kejadian itu bak putaran sebuah film. Terlalu jelas.

Aku menarik napas dalam-dalam. Kukuatkan hatiku untuk mengarsir bagian perut ikan sampai membentuk siluet. Siluet yang seharusnya menyiratkan indahnya kegelapan, tetapi justru kelam karena menggambarkan kematian.

Ah, sudahlah! Desahku pelan. Petang ini, aku hanya ingin menyelesaikan lukisanku. Sebab, tiada petang dapat kulewati tanpa sebuah lukisan. Sepanjang hidupku, aku ingin terus melakukannya. Meluangkan waktu dengan mengamati alam di mana aku hidup. Duduk untuk merasakan betapa kecilnya aku di bawah kolong langit. Kecil. Bagai titik. Persis seperti butiran pasir pantai yang menyusup di sela-sela kuku kakiku.

Kini mataku berpaling ke bagian bawah garis diagonal yang masih kosong. Dengan apa aku mengisinya? Aku menoleh untuk mencari gagasan, tetapi justru melihat manusia-manusia penghujat itu sedang menanggalkan kaus tipis yang mereka kenakan. Mau apa mereka?

Mereka berlomba-lomba mencapai bibir pantai dan bermain di sana. Mereka tertawa terbahak-bahak. Mencedok air laut dengan kedua tangan, lalu mengayunkannya. Mereka saling berteriak kegirangan saat air mengenai wajah, lalu balik membalas perlakuan teman yang lain. Begitu terus selama beberapa menit.

Bisa-bisanya, ya? Aku menggelengkan kepala. Jika aku lautan, akan kusuruh ombak menelan mereka hidup-hidup. Belum puaskah mereka menghujat lautan?

Sekali lagi aku melayangkan pandangan ke ikan-ikan yang berada jauh di sana, lalu menatap lautan beserta ombak-ombaknya yang menggulung ke tepian. Bersama denganku, mereka seolah-olah menyaksikan ulah manusia-manusia yang sedang berbahagia.

Di titik ini, aku menyadari mengapa hatiku tersayat. Pedih. Perih.

Untuk kesekian kalinya aku menghela napas. Lebih baik aku memalingkan pandangan, lalu meneruskan garis-garis yang belum terselesaikan.

Aku menggambarkan beberapa garis vertikal, lengkap dengan lengkungan-lengkungan yang membentuk sosok mahkluk mulia.

Mahkluk itu berdiri dengan telunjuk yang teracung ke langit. Wajahnya beringas, dan perawakannya berisi seperti tong. Ya, mereka yang hidup di zaman ini umumnya memang demikian. Gemuk itu sebagai penanda bahwa di dalam tubuh mereka, ada banyak kuman patogen.

Berbeda denganku. Aku ini sehat, tetapi kurus kering. Bukan karena aku tidak suka makan. Bukan. Tubuhku seperti ini karena memang dunia sedang kelaparan. Aku hanya bisa makan, bila nelayan pulang sambil membawa ikan dan hasil laut lainnya. Bila tidak, ikan-ikan di lautlah yang menjadi saksi bisu.

Sambil memandangi lukisan, aku mendapati diriku tersenyum kecut. Cakrawala, laut, bibir pantai dan daratan. Juga ada onggokan ikan-ikan serta manusia gemuk. Itulah yang sudah terlukis di atas kertas. Itulah kenyataannya.

Dan menurutku, kenyataan akan semakin lengkap bila aku membubuhkan gelora laut yang menggulung ke pantai. Tak lupa dengan matahari yang bentuknya seperti busur di barat cakrawala. Tak lupa pula pohon nyiur yang daunnya terhempas oleh angin kencang, disertai awan hitam yang menggumpal.

Seolah-olah mereka tertawa.

Bersukacita sambil menunjukkan gagahnya.

Membuat siapa pun takut melihatnya.

Memaksa siapa pun yang menantang, berlutut.

Emosi itu terus berkecamuk tidak hanya di hati, melainkan juga di pikiran. Mempengaruhi seluruh indraku, menjadi terpusat sepenuhnya pada lukisan pensil yang sedang kubuat. Tangan-tanganku pun bergerak semakin cepat. Menambahkan titik-titik di sebelah sini, dan mengarsir garis di sebelah sana. Sesaat ujung jariku menggesek kertas untuk menyamarkan guratan pensil agar objeknya tampak halus, tetapi kemudian aku perlu menambah guratan kasar.

Entah berapa lama aku tertunduk, tetapi setelah lukisanku jadi, aku sedikit merasakan kelegaan. Indraku pun mulai teralihkan. Bukan lagi pada lukisan, melainkan pada bau-bauan yang ….

Sekarang, manusia-manusia itu tidak lagi bermain air. Beberapa dari mereka duduk melingkar mengelilingi perapian. Sebagian sedang mengeringkan tangan, sebagian lagi membakar ikan menggunakan ranting-ranting.

Belum sempat aku memikirkan kapan dan bagaimana mereka memancing, tiba-tiba mereka bertepuk tangan. Menyoraki dua orang kawan yang berjalan ke arah mereka sambil menjinjing enam ekor ikan berukuran besar.

“Kita makan enak petang ini!” seru seorang yang perutnya buncit.

Seraya mencibir, rekan mereka menyahut. “Lebih-lebih karena kita tidak perlu bersusah payah seperti para nelayan yang tolol itu!”

“Ah, sudah. Nikmati dulu yang ini.” Seorang dari mereka menyela, sorot matanya tertuju pada onggokkan ikan-ikan yang mengapung di ujung cakrawala. “Persediaan kita masih banyak.”

Tiba-tiba saja perutku terasa mual usai menyaksikan drama konyol dari manusia-manusia mulia itu. Mualku bercampur dengan luka dan duka. Terlebih ketika aku membandingkan kejadian-kejadian petang ini dengan lukisanku yang sudah selesai.

Oleh karena kejadian ini, aku menyadari bahwa keputusanku melukis menggunakan pensil ternyata tepat.

Aku ingin generasi selanjutnya melihat betapa pedihnya kehidupan saat ini. Betapa panasnya udara di bumi. Betapa mengerikannya gelora laut. Betapa memilukan kondisi tanah serta mahkluk mulia yang hidup di atasnya. Namun, aku tidak ingin mereka mengetahui warna asli kehidupanku dan juga orang-orang yang hidup di zamanku. Biarlah mereka hanya melihat abunya, dan tidak menjadi mual karenanya.

Sekarang, cakrawala sudah menelan surya sepenuhnya. Lampu mercusuar pun juga sudah tersorot di atas kepalaku. Ketika aku menengadah, seketika aku menemukan ilham yang sesungguhnya.

Hanya teranglah yang membuat lukisanku menjadi terlihat dan bermakna. Begitu juga dengan embun. Dialah satu-satunya penyejuk hidup kami yang sudah kering bagaikan abu.

Sebelum aku pulang, aku mau menuntaskan lukisan ini dengan menamainya:

Embun Musim Kering, November 2121.

2 thoughts on “Cerpen #184 Embun Musim Kering

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *