Cerpen #183 Rasa Syukur

Aku duduk termenung menatap ke arah luar pintu. Awan menurunkan rintikan airnya. Suara air hujan saling bersahutan di genteng rumah. Suasana begitu sepi. Tak banyak aktivitas yang terlihat di luar rumah. Hanya sekumpulan anak sekolah yang berlalu lalang menggunakan jaket dan payung agar tidak kehujanan.

Aku menghela napas panjang. Seharusnya hari ini aku memiliki janji untuk pergi bersama Arya hanya sekedar menemaninya membeli kado untuk Claudya, keponakannya yang baru saja berulang tahun yang ke lima.

Langit semakin deras menumpahkan air hujan. Ia seakan cemburu melihatku yang telah berdandan rapi dan bersiap-siap serapi mungkin. Aku kembali melepas ikat tali sepatuku dan menghempaskan badan bersandar di tepi pintu. Aku mengutuk hari ini. “ Ah, mengapa aku begitu sial sih hari ini?” ucapku seraya melemparkan kaleng bekas minuman di depanku.

“Ada apa sih, Ca? Kelihatannya kesel banget” ucap seseorang di belakangku. Kepalaku menengadah ke atas. Tubuhnya yang jangkung memperhatikanku dari balkon atas.

Perkenalkan, namanya Kevin. Salah satu penghuni kos di daerah sini. Kami pergi ke Universitas yang sama, hanya saja memilih jurusan yang berbeda. Aku memilih jurusan seni sedangkan ia memilih ilmu teknik. Aku dan Kevin sudah saling mengenal satu sama lain selama 2 tahun belakangan ini.

“Ga ada sih, cuma sebel doang” jawabku setengah berteriak. Ia kembali masuk ke dalam kamarnya menutup pintu. Tak lama aku mendengar derap langkah kaki turun ke lantai atas. Kevin datang sambil membawa sebungkus makanan ringan di tangannya. “Nih, mau ngga?” ucapnya sambil menyodorkan bungkus makanan itu. Aku hanya diam memalingkan muka.

Kevin menghela napas panjang. Ia kemudian duduk bersila di sebelahku. “Lo kalo ada masalah, sini cerita sama gue” ucapnya. “Gue kesel doang sih, harusnya siang ini gue ada janji pergi bareng Arya mau cari kado buat keponakannya. Tapi di batalin karena hujan” jawabku lirih.

Langit kembali menurunkan hujan semakin deras. “Kayaknya hujan memang lagi engga ridhain lo deh pergi hari ini” ucapnya terkekeh. Aku kembali memasang muka kesal sambil memeluk lututku kedinginan. “Seharusnya lo bersyukur dengan hujan” ucapnya lagi.

“Kenapa?” jawabku ketus. “Pada masa sekarang seperti ini, dunia ini akan semakin menua” jawabnya. Aku yang tadinya tidak begitu tertarik mendengarnya kini memalingkan muka ke arah Kevin, mendengarkannya bak ilmuwan. “Dunia akan semakin menua dan akan semakin rusak apabila tidak dijaga. Contohnya saja para ilmuwan sudah memprediksi bahwa 100 tahun lagi, wajah bumi tidak akan dikenali” ucapnya.

“Oh, ya?” balasku penasaran. “Iya, banyak kerusakan di bumi yang telah terjadi, Ca. Contohnya saja ini ya seperti kemarau panjang yang berkepanjangan. Kemarau ini akan mengakibatkan banyak tanaman yang musnah, padahal tanaman itu memiliki peran vital dalam sumber kehidupan. Nanti kalau ga ada tanaman, lalu siapa lagi yang akan memproduksi oksigen? Belum lagi sumber air akan semakin menipis, sehingga kita tidak lagi memiliki pasokan air dan berakhir dehidrasi. Ada banyak akibat fatal apabila kemarau panjang ini terjadi. Jadi seharusnya dengan adanya hujan kita harus bersyukur, Ca. Bukannya selama ini lo ya yang suka ngeluh akhir-akhir ini kalau panas banget?” jawabnya sambil mengolokku.

Aku hanya tersipu malu saat tersadar dengan ucapan Kevin. “Suhu bumi yang terus meningkat juga menyebabkan berbagai masalah lingkungan yang bisa berdampak kepada masalah sosial. Nah, salah satu penyebabnya seperti efek rumah kaca, Ca” ucapnya kembali menjelaskan. “Lo tahu global warming engga?” tanyanya.

Global warming ya? Gue sering dengar istilah ini sih, tapi engga pernah tahu maksudnya apa, Vin” sahutku. “Jadi, global warming atau pemanasan global ini muncul karena efek rumah kaca tadi. Ini dikarenakan meningkatnya polusi seperti karbon dioksida dan metana. Meningkatnya polusi ini disebabkan oleh aktivitas yang dilakukan manusia. Contohnya penggunaan bahan bakar fosil, pembakaran sampah, hingga pembakaran hutan”.

Aku mengangguk paham mendengar penjelasan Kevin. “Terus kalo dampaknya buat kita apa, Vin?” tanyaku. “ Banyak dampak yang diakibatkan oleh pemanasan global ini, Ca. Memang tidak langsung terjadi dan terlihat, namun perlahan akan menyebabkan perubahan yang membawa kerugian untuk kehidupan makhluk hidup. Dampaknya sendiri sudah ada muncul seperti perubahan cuaca ekstrem, naiknya level ketinggian air laut, bahkan mencairnya es di kutub selatan dan utara”.

“Lo paham ga apa aja yang sudah gue jelasin dari tadi?” tanyanya. “ Ya, paham dong” ucapku dengan semangat. “Terus, menurut lo dengan pemanasan global seperti ini, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya?” tanya Kevin sambil menyuap kripik kentang di tangannya.

“Kalo menurut gue ini ya, beberapa upaya yang dapat kita lakukan itu seperti mengurangi sampah plastik, menggunakan produk ramah lingkungan, menggunakan alat transportasi umum untuk mengurangi polusi, atau kita bisa ikut kegiatan volunteering yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan” jawabku.

“Cakep, tumben otak lo paham yang beginian” ucapnya terkekeh. Aku membalas canda nya dengan mengepalkan tanganku seakan memberi isyarat untuk tidak terus mengolokku. Siang itu waktu berjalan dengan cepat, hingga tak sadar bahwa hujan telah reda.

“Eh, sudah reda ini hujannya. Lo tahu ga sekarang di bioskop lagi ada jadwal film apa?” tanyanya. “Ada film Marvel sih baru tayang, kenapa?” jawabku.

Ia segera bangkit dari duduknya dan berlari ke lantai atas. Tak lama kemudian ia kembali dengan penampilan yang rapi. Ia melemparkan jaket ke arahku. “Yuk, temenin gue nonton. Tenang saja, kali ini gue yang traktir” ucapnya dengan semangat. Ia berlari keluar menuju arah parkiran.

Aku terdiam sejenak. Kini aku tersadar maksud Kevin akan pentingnya bersyukur. Aku tak seharusnya meluapkan kekesalanku kepada Tuhan hanya karena hujan. Seharusnya aku lebih bersyukur karena hujan merupakan rahmat dari Tuhan. Bahkan di negara lain yang mengalami kemarau panjang berharap sekali akan turunnya hujan.

“Jadi ikut ga, Ca? Kalo engga gue pergi duluan ini” teriaknya yang kini sudah berada di luar pagar. “Iya, iya. Sabar, dong” balasku setengah berteriak. Ya, ternyata dibalik semua ini ada hikmahnya, layaknya Kevin yang mentraktirku hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *