Cerpen #182 Mosinggani Mombangu Ri Bivi Talinti (Bersama Membangun di Pesisir)

“Om Bob, mau ba pancing dimana..? sampai  berangkatnya subuh-subuh begini”

Tanya Alvi seorang anak remaja yang hanya tamatan SMP, yang sedang mancing di pinggir pantai, namun dari semalam hingga subuh ini, hasil tangkapannya belum banyak.

“saya mau pigi cari terumbu karang, bukan pigi ba pancing” sahut om Bobi

“ehg, mau pake ba apa itu terumbu karang om bob..? tanya Alvi penasaran

“kau te liat itu so te ada ikan ba dekat di pinggir pantai, karena dia pe rumah so habis paska tsunami kemarin” dengan nada yang tegas.

“astaga iyo eee,, pantasan so jarang saya dapa ikan ini, oke dant om Bob, hati hati di jalan”

Sambil memanaskan mesin yang ada di perahunya, Om Bobi mempersiapkan segala peralatan penunjang untuk pengambilan terumbu karang seperti kompresor, selang, tang, gabus streofom, masker selam dan kaki katak. Peralatan sederhana inilah yang akan menjadi alat pendukung Om Bobi melakukan proses pengambilan terumbu karang.

Pada tanggal 28 September 2018, adalah salah satu sejarah kelam bagi Kota Palu dan sekitarnya. Pada tanggal itu terjadi bencana alam gempa, tsunami dan likuifaksi yang menelan ribuan korban jiwa. Selain korban jiwa, kerusakan lingkungan pun tak dapat di hindari seperti kerusakan ekosistem terumbu karang yang ada di sepanjang pantai teluk Palu.

Om Bobi bertempat tinggal di Kelurahan Mamboro, salah satu kelurahan yang berada di pesisir teluk Palu. Sebelum bencana, wilayah pesisir Mamboro merupakan salah satu tempat pemancingan yang banyak diminati orang. Hal ini dikarenakan kondisi ekosistem terumbu karang yang terjaga. Namun setelah bencana terjadi, ekosistem tersebut mengalami kerusakan hingga mengakibatkan hilangnya biota laut di sepanjang pesisir Mamboro. Om Bobi merupakan salah seorang penyintas yang masih tetap tegar menjalani runitasnya sebagai nelayan. Rumah, motor dan segala material laiinya telah hilang di terjang tsunami. Belum lagi keluarga yang telah meninggal akibat bencana tersebut. Dengan semua cerita pilu itu, Om Bobi tetap sabar dan perlahan menghilangkan rasa traumanya dengan melaut kembali. Om Bobi juga menjadi nelayan pertama yang sudah membangun huntara di pesisir Mamboro setelah 2 hari paska bencana, dengan bau mayat dan material yang masih berhamburan, Om Bobi dengan tegar sudah membangun huntara di sekitar pantai.

Pada bulan juli 2019, Om Bobi dengan peralatan seadanya mulai melakukan pengambilan terumbu karang lalu selanjutnya dibawa ke pesisir Mamboro untuk di tanam kembali. Om Bobi di temani seorang kawan yang akrab di sapa Johan. Johan merupakan seorang pemuda yang di juga berprofesi sebagai nelayan dan mempunyai visi yang sama dengan om Bobi.

Suara perahu Om Bobi memecah suasana sunyi di subuh ini, terik mentari perlahan mulai memerah, deburan ombak yang tenang sesekali menghantam perahu Om Bobi. Pria yang kini berusia 50 tahun itu, dengan kuliat kecoklatan, tubuh agak gempal, rambut ikal, menjadi simbol sosok manusia yang dengan peduli terhadap pemulihan ekosistem pesisir.

Perjalanan Om Bobi memakan waktu sekitar 1 jam menuju ke lokasi pengambilan terumbu karang. Sekitar pukul 07.15, mereka telah sampai di spot terumbu karang yang masih produktif. Daerah tersebut bernama Kelurahan Kabonga Besar, sebuah nama kelurahan yang ada di Kabupaten Donggala.

Om Bobi mulai mengarahkan Johan,…

“johan kase turun sudah itu jangkar” sambil mematikan mesin.

“ok Om Bob”, perlahan menurunkan jangkar.

Om Bobi pun bersiap siap untuk mengambil terumbu karang. Masker selam dan kaki katak pun di pasang. Kompresor dinyalakan. Kompresor ini berfungsi sebagai media penyuplai udara yang akan di alirkan melalaui selang sepanjang 30 meter dan di ujung selang ini terdapat alat bantu pernapasan sebagai penyaring udara.

Eksosistem terumbu karang yang masih bagus, memudahkan om Bobi mencari bibit terumbu karang yang potensial. Satu persatu terumbu karang di ambil menggunakan tang. Dalam proses pemilihan bibit terumbu karang pun perlu ketelitian dan membutuhkan pengalaman.

Johan di atas perahu tak luput untuk terus memperhatikan kompresor agar berfungsi normal, selain itu sesekali melihat om Bobi yang sedang sibuk mengambil bibit terumbu karang.

Tak lama berselang, om Bobi muncul di permukaan lalu mengarahkan johan..

“johan ambil ini bibit, terus simpan di didalam gabus itu, simpan pelan-pelan eee,,, apa kalau tidak hati-hati nanti stress itu terumbu karang”.

Satu per satu bibit terumbu karang di ambil lalu di simpan di gabus stereofom.

Mentari sudah semakin terik, menandakan hari semakin siang. Proses pengambilan terumbu karang telah dilakukan sekitar 90 menit. Sekali lagi om Bobi muncul di permukaan lalu mengarahkan Johan.

“coba kasih miring itu gabus johan, saya mau liat so berapa banyak kita kumpul. Hmmmm, ohhh… so boleh kayaknya itu. manjo pulang kita,” sambil naik ke perahu lalu merapikan semua peralatan yang ada.

Waktu menunjukan pukul 09.12, perahu om Bobi mulai berjalan kembali menuju pesisir teluk Palu. Deburan ombak yang sudah meninggi, angin yang sudah kencang, membuat sesekali perahu oleng.

“om Bob, te apa ini toh…” sapa Johan dengan muka sedikit cemas

“bahh, tenang saja kau, palingan kalau tabale perahu, kita berenang” sambil tertawa…

“bahh serius ini, tako saya le” . selidik punya selidik, johan belum mau lagi berenang. Sekalipun dia nelayan, ada rasa trauma dalam dirinya yang timbul akibat merasakan tsunami sehingga mentalnya belum pulih sepenuhnya untuk berenang kembali. Sehingga dalam proses pengambilan ini, dia belum mau untuk mengambil terumbu karang.

Setelah melewati rintangan ombak dan angin kencang, mereka tiba di pesisir Mamboro. Terumbu karang yang di ambil  berjumlah 200 batang, atau di tempatkan dalam 2 gabus. 200 batang ini nantinya akan di potong kecil-kecil lagi sesuai ukuran wadah penanaman terumbu karang nantinya.

Setelah perahu bersandar di tepi pantai, mereka pun menurunkan peralatan yang ada termaksud gabus stereofom tersebut.

marlah kita angkat semua ini alat, baru simpan di rumah. Ini juga gabus kita kase turun. Besok baru kita ikat di wadahnya”

Beberapa hari sebelum pengambilan terumbu karang, Om Bobi sudah menyiapkan wadah berupa cor beton persegi empat menyerupai balok kayu. Panjangnya 1-1,5 meter dan lebarnya sekitar 15 – 25 cm.

Setelah proses pemindahan perlengakapan selesai, om Johan pun pamit. ..

“om Bob, saya bale eee,” sahut johan untuk pamit,,

“jang dulu bale ranga, makan dulu kita ini so ada maitua (istri) ba bakar ikan ini”

“nanti saya makan di rumah saja om Bob” johan pura pura jaim, padahal sudah kelaparan…

“betul ini, jang ba bohong”

“hhmmmm, ok dant,” perlahan mendekat kembali ke rumah om Bobi.

Dalam hati johan berkata “dari tadi saya lapar leee,, alhamdulillah, hidup lagi hari ini”

Sambil menyantap ikan bakar dengan lahap, mereka pun berbincang seputar rencana penanaman terumbu karang yang dilakukan ke esokan harinya.

“besok panggil dorang Wawan, Muklis, Abdi juga eee, kita rame-rame ba tanam ini terumbu karang”..

“jadi tohh….. kalau kita so ba tanam terumbu karang, itu berarti kita so ba bantu nelayan dan pemancing lain, untuk tidak jauh-jauh dorang cari ikan, cukup di sekitar pantai sini saja. Mungkin belum sekarang dinikmati hasilnya, mungkin 3 tahun kedepan baru dilihat hasilnya. in shaa allah kalau so besar itu terumbu karang, ko liat nanti itu ikan-ikan ba dekat semua.  Jadi se tauh kita ba pancing to

“itulah om bob, saya harap juga nelayan lain, mau juga ba tanam terumbu karang di tempat lain, bukan hanya di sekitar mamboro dank”.

Tak terasa sudah sejam mereka ngobrol sambil menikmati santapan. Akhirnya mereka mengakhiri percakapan ini.

“ok dant, sampe jumpa besok ee,, jam 6 so harus ada disini, supaya agak lama kita ba kerja. Jank lupa kase tau yang lain”

“okk siap om Bob. saya bale om Bob, makasih makanananya le, narasa (enak)”.  Dengan perut kenyang dan pengetahuan baru, Johan pulang kerumahnya untuk melanjutkan aktivitas lainnya.

Tibalah keesokan harinya, setelah menunaikan sholat subuh, Om Bobi sudah mulai mempersiapkan segala peralatan untuk penanaman terumbu karang hari ini. Pukul 05.30 Om Johan pun telah tiba di rumah Om Bobi.

“apa yang bisa di bantu ini Om Bob..?”

“kau angkat itu alat selam, bawa ke perahu”

Alat yang digunakan adalah alat yang di pakai ketika melakukan pengambilan terumbu karang. Setelah semua alat telah berada di perahu, teman-teman yang lain baru tiba di lokasi.

“astaga sorry Om Bob, saya lambat lee” sahut Abdi

ee ranga…… janji terus saja kau ini”  dengan nada becanda

“apa lagi mau di angkat Om Bob..?”

“angkat jo itu tempatnya terumbu karang, simpan di dekat pantai (wadah terumbu karang berada 100 meter dari pinggir pantai), supaya tidak jauh ba angkat”

Pukul 06.30, Wawan dan Mukhlis juga sudah tiba dan saling membantu mengangkat wadah terumbu karang. Hari ini total ada 80 wadah terumbu karang yang akan di tanam di sekitar pantai Mamboro.

Om Bobi pun menyalakan perahunya, selanjutnya Johan, Abdi, Wawan dan Mukhlis, membantu mengangkat wadah terumbu karang tersebut keatas perahu. Setelah wadah tersebut di pindahkan di atas perahu, terumbu karang yang masih tersimpan di dalam gabus, di ambil satu per satu lalu di ikatkan di wadah terumbu karang tersebut menggunakan kabel tis. Dalam satu wadah terumbu karang terdapat pipa yang ditanam untuk dijadikan sebagai tempat tumbuhnya terumbu karang. Terumbu karang terlebih dahulu mesti di ikat di pipa agar tak terlepas. Dalam satu wadah terumbu karang terdapat 5-6 pipa yang ditanam. Dalam Proses pengikatan terumbu karang, untuk satu wadah membutuhkan waktu 3-5 menit. Proses di atas biasa kami sebut dengan istilah transplantasi terumbu karang. Perahu yang digunakan bisa menampung sampai 10 wadah terumbu karang.

Setelah proses pengikatan selesai, maka perahu akan menuju ke lokasi yang di tentukan. Jarak dari pinggir pantai menuju lokasi penanaman terumbu karang, berjarak sekitar 1 km. Setelah sampai di lokasi penanaman, Om Bobi akan menggukana alat selam dan satu per satu wadah terumbu karang di bawah ke dalam laut yang mempunyai kedalaman 10-15 meter.

Orang yang ikut dalam perahu hanya Om Bobi, Johan dan Abdi. Johan bertugas menjaga kompresor agar tetap berfungsi normal dan Abdi bertugas melakukan pengambilan dokumentasi di sekitar perahu dan di dalam laut.

Untuk Mukhlis dan Wawan menunggu di pinggir pantai. Tugas Johan dan Abdi hanya membantu om Bobi menurunkan wadah terumbu karang. Hanya om bobi seorang yang melakukan proses penanaman terumbu karang. Proses pemindahan ini pun membutuhkan pengalaman lebih agar terumbu karang yang berada di lingkungan barunya dapat hidup. Proses pemindahan dan penanaman ini di lakukan dari jam 07.00 hingga 12.00 siang.

“luar biasa memang om bob ini ee,, so jam 11 ini, masih sanggup di ba tanam terumbu karang, kita orang yang cape ba tunggu di perahu” sahut abdi setelah melihat om bobi mondar mandir di bawa perahu mengatur posisi terumbu karang.

“itulah, saya yang cape ba liat,, tapi betu juga om bobi bilang, siapa lagi yang mau mulai kalau bukan kita orang, rata rata orang hanya mau enak saja, tidak mau susah” balas johan

“itulaahh, semoga tahun depan kalau so besar ini terumbu karang, ikan ikan ba dekat semua” tak lama setelah percakapan itu, om bobi muncul di permukaan.

so habis….?”

“iye om bob so habis ini wadahnya”

“ok, marla kita pulang, so siang juga”

Johan pun mematikan kompresor dan om bobi perlahan naik di perahu. Misi memindahkan dan menanam terumbu karang hari ini berhasil. Setelah tiba di pinggir pantai kami pun membantu om bobi membereskan peralatan yang ada di dalam perahu, untuk di bawa kembali kerumah om bobi. Setelah semua peralatan tersimpan rapi, maka kami pun makan siang bersama, sambil berdiskusi terkait rencana tindak lanjut penanaman terumbu karang kedepannya.

bahh,, keren keren foto ini leee,, saya mau upload di FB dan IG ku ahh” kata abdi sambil diskusi bersama yang lainnya.

Setelah berdiskusi panjang lebar, kami pun sepakat untuk pekan depan melanjutkan kembali proses penanaman terumbu karang ini. setelah makan siang, kami pun kembali ke rutinitas kami masing masing.

Dokumentasi kegiatan diersebarkan di kanal media sosial milik Abdi dengan menandai akun media sosial milik Om Bobi, Johan, Wawan dan  Mukhlis. Hal yang tidak di sangka sangka pun terjadi yaitu kegiatan yang mereka lakukan ini mendatangkan komentar komentar positif dari berbagai akun. Mulai dari akun personal hingga akun lembaga atau organisasi. Salah satu jurnalis dari media nasional menghubungi Om Bobi untuk ikut terlibat dalam kegiatan penanaman terumbu karang pekan depan. Selain itu juga terdapat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal yang bersedia memberikan sumbangan dana untuk kelancaran kegiatan.

Pekan depan pun tiba, tim yang semula berjumlah 5 orang, kini telah bertambah lebih banyak, mulai dari jurnalis dan partisipator LSM lokal. Jurnalis yang hadir terdiri dari jurnalis media cetak, ataupun televisi. Jumlah wadah terumbu karang di perbanyak mencapai 200 wadah. Perahu yang di gunakan pun dari semula 1 unit kini menjadi 2 unit.

Proses pengambilan dokumentasi pun lebih beragam. Ada yang melakukan wawancara, penyelaman bersama dan ada juga menggunakan drone.

Pada hari ini, tak terasa waktu pun menunjukkan pukul 15.00, dan kegiatan pada hari ini berakhir dengan sangat memuaskan. Paska kegiatan, publikasi berita terkait kegiatan penanaman terumbu karang  dilakukan secara masif, mulai dari sosial media, koran, bahkan televisi. Hingga tak disangka sangka dengan pemberitaan tersebut kegiatan ini bahkan sama dilirik oleh media internasional dan mereka meminta izin untuk menyebarkan berita ini di berbagai negara. Selain itu bahkan BNPB pusat pun tertarik untuk bertemu dengan sosok Om Bobi.

Berbagai narasi terkait kegiatan ini pun beragam, hingga ada salah satu media nasional menarasikan bahwa kegiatan ini merupakan tindakan yang sangat kongkrit dalam menjawab tantangan penangan krisis iklim.

Om Bobi dan kawan kawan sangat berterimah kasih kepada berbagai pihak yang mendukung kegiatan ini baik yang mendukung langsung atau pun yang membantu mem-viralkan kegiatan ini.

Beberapa bulan berselang Om Bobi dan kawan kawan mendapat bantuan dari salah satu universitas di Kota Palu dalam hal pembiayaan kegiatan. Bahkan puncaknya 6 bulan kemudian, om Bobi di undang ke Jakarta oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendapatkan penghargaan terkait sosok inspiratif dalam pemulihan lingkungan paska bencana.

Hingga saat ini, Om Bobi masih aktif dalam melakukan proses penanaman terumbu karang atau yang lebih kenal dengan transplantasi terumbu karang. Sosoknya yang inspiratif membuat wilayah pesisir lainnya, mengundangnya untuk memberikan pelatihan kepada nelayan lainnya untuk melestarikan terumbu karang. Tak hanya di kalangan nelayan, kalangan anak muda pemerhati lingkungan pun sering megundang Om Bobi sebagai narasumber atau penggerak di lapangan dalam setiap kegiatan dilakukan.

Note : cerita ini merupakan kisah nyata yang terjadi di Kelurahan Mamboro, Kota Palu, Sulawesi Tengah. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *