Cerpen #181 Di Bawah Pohon Tanjung

Meski dikelilingi oleh lima orang teman yang asyik berceloteh, perhatianku dihisap sepenuhnya oleh layar ponsel. Dibandingkan orang-orang ini, benda yang membiarkan dirinya diselimuti jari-jariku ini justru tampak lebih bersahabat. Orang-orang di sekitarku memang cantik dan manis. Tidak hanya lebih kurus dariku, ada juga yang lebih gemuk, dan yang ukuran tubuhnya sama dengan ukuran tubuhku. Mereka membicarakan makanan yang sedang kami makan, lawan jenis yang menarik dan menyebalkan, guru-guru killer, dan hal-hal lain yang biasa dibicarakan murid SMA.

Jika kau tanya apakah mereka teman-temanku, ya mereka memang temanku. Namun jika kau memintaku mengakui mereka sebagai sahabat, maaf aku tak mampu memenuhinya. Kami memang sedang menghabiskan waktu bersama. Tapi kau harus mengerti, ada orang-orang yang hanya muncul di hadapanmu saat tertentu saja dan ada orang-orang yang mampu menghadapimu saat kau berada dalam suka maupun duka. Bahkan, saat mereka sedang dalam duka aku tidak ingat ada salah satu dari mereka—yang duduk dan makan bersamaku sekarang—yang pernah datang dan meminta bantuanku.

Jadi, menurutku ada dua tipe manusia. Pertama adalah mereka yang datang padamu saat mereka dalam kesulitan dan sedang berduka. Mereka akan menghilang begitu mereka bersukacita dan menemukan kemudahan dalam hidupnya. Yang kedua, tentu saja mereka yang hanya datang saat diselimuti kebahagiaan dan kemudahan. Mereka akan menghilang begitu mereka sedang terlilit penderitaan.

Apakah manusia tipe kedua dapat merugikan kita? Tentu saja bisa, karena mereka hanya datang saat bahagia dan hidupnya mudah, tidak menutup kemungkinan mereka akan mencari-cari kesulitan dan kelemahan dari kehidupanmu. Pada akhirnya semua itu berujung pada pameran setiap aspek kehidupan mereka yang baik. Lalu sebagai penutup, mereka akan menertawakan dan menghinamu—baik secara langsung maupun tidak langsung. Tragis? Iya. Tapi dunia memang kejam, meski tidak menutup kemungkinan masih ada orang baik yang bisa kau temui.

“Lagi-lagi disisain Fel?”

Teguran mendadak itu memecah konsentrasiku. Mungkin ini terdengar tidak sopan, tapi menyenangkan lho, mengabaikan pertemuan yang membosankan dengan orang-orang palsu. Kau akan semakin menikmatinya bila sedang bertukar kondisi sekitar dengan mereka yang jaraknya jauh, namun lebih memahamimu.

“Ooh iya,” gumamku menyingkirkan ponsel. “Kalo habis kan nanti aku bisa gendut, jadi ya udah nyisa aja. Toh makanan murah.”

“Iih! Kalo semurah itu, bayarin punyaku gimana??” desak Gaby, gadis manis berwajah oriental yang baru saja memecah pikiranku.

“Hmm, gimana yaa aku lagi nggak bawa kartu nih,” desisku menyeringai, sambil menelengkan kepala. Niatku mengibaskan rambut keriting gantung dengan lembut, namun saking berhati-hatinya aku justru membuatnya terlihat bergoyang sekilas saja. Dia sudah kena. Gaby termakan pancinganku, sungguh gadis yang menyedihkan.

“Jangan gitulah Gab, model kan tanggal muda juga banyak tanggungan!” seru Dea sambil terkekeh. Suara tawanya itu terdengar jelas sedang meledek, sama sekali tidak ada yang ditutupi. Gadis berkacamata itu sudah kumasukkan dalam tipe manusia yang kedua lho.

“Kalo nggak bawa kartu, pake e-wallet juga bisa kan Fel,” Tania menimpali. “Yaah itupun kalo kamu niat nraktir sih.”

Apa-apaan ini? Kata nraktir yang diberi penekanan olehnya benar-benar sama tidak tahu malunya! Dengan siapa katamu? Tentu saja dengan mantan teman-teman yang sudah kucoret dari daftar hang out-ku. Dasar kalian orang-orang mata duitan! Kalian kira model majalah bisa kalian bodohi dan manfaatkan semudah ini? Memang, tidak semua dari kami, yang mampu menghipnotis pembicaraan setiap orang tua dengan nilai rapor kami. Namun kami sama sekali tidak sebodoh itu!

Ketika sudut-sudut bibirku mulai melengkung turun, aku bersyukur mendapat panggilan dari nomor papa. Aku segera melompat dari ‘kursi panas’ dan menyingkir untuk mengangkatnya.

“Halo Pa?”

“Pulang sekarang, Papa harus anter Adel ke rumah sakit dia pingsan mendadak. Mama masih ada rapat, rumah jadi gak ada orang tapi Tante Marsya dateng habis ini.”

Tante Marsya. Saat nama itu disebut, barulah aku ingat kalau hari ini wanita pemurung dan tukang sungkan itu akan datang berkunjung dan menginap untuk menghabiskan liburan akhir tahun di sini. Meski biasanya aku selalu menggigiti bibir setiap papa telepon—dan menyuruhku pulang—dan meski Tante Marsya adalah orang yang sangat membosankan dan menyebalkan—karena kesungkanannya yang akut—aku merasa sedang diselamatkan sekarang.

“Iya deh aku pulang sekarang, lagian udah pada selesai makan kok.”

Ya aku memang sedang berbohong. Bukankah menarik, berbohong seperti itu dan menjadi orang pertama yang meninggalkan pertemuan ‘palsu’ ini? Lagipula Adel adikku sedang sakit. Bagaimanapun juga aku tidak bisa membiarkan papa melakukan kesalahan bodoh dengan tetap di rumah sampai Tante Marsya datang, hanya untuk menyerahkan kunci rumah padanya.

Seketika itu koneksi telepon di antara kami terputus. Dibandingkan berkumpul dengan orang-orang palsu, lebih baik menunggu kedatangan penderita sungkan akut dan menyambutnya sejenak saja. Setelah itu, aku bisa kembali mengurung diri di kamar sampai papa atau mama kembali. Langkahku berderap saat menghampiri kembali kelompok bepergianku hari ini. Hang out hari ini gagal total, jadi aku akan mengakhirinya.

“Felicia diminta pulang ya?” tebak Yulia. Dia gadis berambut bob yang sederhana, namun tingkahnya jauh lebih manusiawi dibandingkan manusia-manusia lain yang duduk bersamaku hari ini. Dan percaya atau tidak, gadis ini saking observant-nya, dia sangat pandai dalam hal menebak dan tebakannya sangat jarang meleset.

“Iya nih adikku mendadak pingsan tapi tanteku mau dateng, kalo pas tanteku sampai nggak ada yang bukain pintu kan kasian,” jawabku bercerita singkat, sambil mulai memasang ekspresi sedih penuh kasihan. Padahal sebenarnya tante itu sama sekali tak kupedulikan.

“Yaah padahal kita belum pesen penutup nih,” desah Maria kecewa.

Apa yang mereka pikirkan sih? Karena gagal memaksaku mentraktir mereka hidangan utama, mereka mau menjebakku untuk membayarkan makanan penutup mereka? Dasar orang-orang gila! Aku bisa pastikan, hanya Yulia dan Stephanie yang benar-benar membawa uang entah dalam e-wallet atau dompet mereka.

“Maaf banget lho guys!” seruku meraih sling bag putih. “Nanti kapan kita sambung lagi oke?” Pungkasku, sambil melempar senyum ramah maksimal. Setelah melambaikan tangan, aku meninggalkan meja itu dengan langkah ringan. Tubuhku serasa sedang melayang. Booth kasir sama sekali tak tampak menyeramkan begitu aku membayar untuk apa yang kumakan dan kuminum saja.

Ucapanku untuk menyambung pertemuan lain kali memang sama sekali bohong, namun jika kita tidak melakukan basa-basi seperti itu, maka teman-teman perempuanmu akan dengan cepat menyebarkan gosip. Gosip itu mampu menipu banyak orang bahwa kau bukanlah orang yang ramah dan peduli. Yah, inilah duka dalam hal bekerja dalam sorotan kamera dan publik.

Mobilku memelesat riang meninggalkan area parkir. Menghirup udara luar jauh dari orang-orang tidak punya malu sungguh sangat melegakan. Sebenarnya aku hanya menyisakan makanan setiap aku makan di luar rumah. Sebagai model, kita tidak pernah bisa mengawasi kapan dan di mana kita akan tertangkap kamera. Hal itulah yang membuat manajerku selalu berisik, memaksaku untuk selalu menyisakan makanan saat makan di luar. Bahkan porsi makanan pun menjadi sorotan dan berita menarik bagi media. Mengerikan bukan?

Begitu lampu lalu lintas menyala merah, kakiku dengan sigap menginjak rem dan menjauhi pedal gas. Aku berhenti tepat di bawah pohon besar. Pohon itu dihiasi beberapa bunga putih yang unik. Daun-daunnya sedikit keriting. Melihat kekhasan tersebut, dengan cepat aku mampu mengenalinya. Ya, ini pohon bunga tanjung.

Mama dulu cerewet ingin menanam benihnya di depan rumah, namun kalah oleh kemauan papa untuk menanam pohon mangga saja. Kata mama, pohon ini dipercaya dapat menarik rezeki dan dikenal sebagai bunganya para dewa. Makanya mama sangat ingin menanamnya. Padahal, bisa saja semua itu hanya takhayul yang dibuat-buat si penjual benihnya. Hanya supaya benih itu laris bukan? Lampu merah dengan cepat digantikan oleh lampu hijau. Sekitarku saat itu masih terlihat normal dan jauh dari keanehan.

Pertokoan yang berjejer, para pejalan kaki yang lalu lalang di atas trotoar, lalu kendaraan yang lebih kecil dan lebih besar yang mengelilingi mobilku. Semua itu disusul dengan asap-asap kendaraan yang membuat suasana mendung tampak semakin kelabu, dan rumah-rumah yang saling bersaing dengan gedung-gedung pencakar langit. Begitu aku menginjak pedal gas, perlahan-lahan sekelilingku tampak berubah dengan cepat. Pohon-pohon dan tanaman di sekitar mendadak menghilang tanpa jejak. Trotoar rata oleh tanah yang gersang dan retak. Bangunan yang berdiri kokoh di sekitar mata memandang, berubah dalam jumlah yang dapat dihitung dengan jari.

Bahkan, langit berubah semakin merah dengan kombinasi warna kekuningan. Seolah-olah langit itu sedang terbakar, dan awan-awan pun tak tampak dengan jelas. Penanda jalan semakin sulit kutemukan, dan aku nyaris syok begitu menengok ke kiri. Beberapa senti dari roda mobilku adalah jurang. Begitu kuperhatikan kembali, rupanya itu bukan jurang.

Sepertinya itu danau yang sangat dalam, karena dasarnya masih sedikit terlihat saat aku memberanikan melongok dari jendela. Begitu melihat seorang anak kecil dengan tabung oksigen portabel, aku segera keluar dari mobil dan menghampirinya.

“Dik! Dik!” seruku, berlari menghampiri anak itu.

Anak itu menoleh, dan matanya terbelalak melihatku. Begitu dia membelalak, aku merasa tubuhku semakin lemah dan napasku seolah tercekik.

“Kak! Masuk mobil lagi Kak! Bahaya!” pekik anak itu, begitu melihat mobilku yang tidak jauh jaraknya dari kami.

Anak itu pun segera memapahku berjalan dengan tubuh mungilnya. Aku bersyukur masih memiliki sedikit tenaga, meski sama sekali tak mampu bernapas. Kami sampai di dalam mobil tepat waktu. Segera kututup seluruh pintu dan kaca jendela, menyalakan mesinnya, menyalakan AC, lalu mengemudikan mobil perlahan. Kupikir aku sudah pingsan.

Kutatap indikator bensin, dan napasku terasa semakin ringan melihatnya masih penuh. Sama sekali sulit dipercaya. Aku baru saja menyeruak masuk dengan kondisi megap-megap tak keruan. Begitu keluar mobil tadi, udara seolah-olah diserok habis dari seluruh tubuhku. Di sampingku ini seorang anak perempuan berambut keriting. Seluruh rambutnya diikat ke belakang sehingga aku bisa melihat wajahnya dengan mudah. Ia sudah melepas tabung oksigen portabelnya dan memandang takjub seisi mobil.

“Kak! Kakak kok hebat banget masih punya mobil? Bukannya udah dihancurin pemerintah dari 2050 ya?? Kakak kok bisa lolos sih?!” pekiknya mendongak.

Begitu napasku kembali membaik, aku bertanya heran. “Dua ribu… lima puluh? Sekarang 2019 kan?”

Anak itu menganga lebar. Bibirnya seperti corong saja. “Kak….!” Serunya dengan mata terbelalak. “Sekarang kan 2100! Kakak orang mana sih? Kok ngomongnya aneh gini?”

Sambil masih memegang setir, aku menatap sekeliling dengan perasaan tak percaya. Seluruh tubuhku kini gemetaran. Meski tubuh kami diliputi udara sejuk AC, namun aku merasakan peluh mulai membasahi keningku. Apa ini mimpi? Tapi kenapa senyata ini kalau ini memang mimpi? Kenapa sekelilingku yang tadinya mendung kelabu dalam sekejap berubah menjadi gersang dan panas, yang bahkan lebih terik dibandingkan cuaca paling terik yang biasa kualami?

“Dik, namamu siapa?”

“Rika Kak.”

“Rika ya…” gumamku, berusaha mendinginkan kepala. “Namaku Felicia, sekarang 2100… Terus ini kenapa ya alamnya kayak gini banget? Bisa ceritain semua yang kamu tahu sama kamu inget?”

Anak itu mengatupkan bibir, lalu mengalihkan pandangan ke depan. Ia meniruku yang masih menatap lurus ke depan.

“Aku kaget pas liat Kak Felicia barusan. Oksigen sekarang menipis banget Kak, jadi semua orang yang masih hidup harus pake tabung oksigen kayak punyaku gitu biar tetep bisa napas. Tapi ya gitu, gara-gara oksigen menipis jadinya harga tabung oksigen mahal banget. Terus banyak yang meninggal gara-gara nggak punya uang.”

Menurut cerita Rika, fenomena sampah makanan yang menumpuk menjadi penyebab utama kerusakan lapisan ozon dan atmosfer, membuat keduanya ringkih. Tahun 2049 es kutub sudah mencair dan lebur seluruhnya dengan air laut. Banyak pulau di seluruh dunia tenggelam. Bahkan pulau Indonesia yang awalnya berjumlah 17.000 menurun drastis hingga hanya 1000 pulau yang tersisa. Panas matahari semakin menguliti bumi dan kadar oksigen juga menipis. Banyak perairan yang kering dan tanah gersang. Dampaknya, persediaan makanan berkurang karena tidak ada tumbuhan yang dapat hidup di sini.

Bahkan untuk menanam pun sudah tidak memungkinkan. Populasi manusia semakin berkurang, karena semakin sulitnya untuk bertahan hidup di alam yang semakin rusak. Pulau-pulau yang tenggelam telah hancur. Peristiwa tenggelamnya pulau-pulau itu juga menelan banyak nyawa, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan yang menetap di dalamnya. Hujan yang turun pun tidak mampu memberi persediaan air yang cukup karena menguap oleh panas matahari. Maka, mereka membeli kontainer besar anti panas dan anti sinar matahari dari luar negeri, agar dapat menyimpan air lebih lama.

“Aku termasuk yang bisa selamat. Bapakku dulu konglomerat. Tapi gara-gara uang kami habis buat nyelamatin keluarga sama temen-temen, yang akhirnya mati juga gara-gara bahan makanan yang langka sama oksigen menipis, jadinya kami cuma punya rumah gubuk sekarang. Dibikin dari kayu sintetis. Tahun 2050 semua kendaraan dihancurin pemerintah, asepnya bikin kami tambah susah bertahan hidup.”

Begitu anak ini menyebut sampah makanan, jantungku berdebar terlalu kencang dan napasku kembali sesak. Sejauh mata memandang benar-benar tidak ada tumbuhan dan hewan apapun. Kalau benar semakin menurun populasi manusia, wajar saja tidak ada lagi rumah dan gedung pencakar langit yang kokoh. Pasti jumlah orang yang dapat membangun juga semakin berkurang. Tenaga mereka juga pasti tidak kuat untuk melakukannya, karena untuk bertahan hidup dan makan saja mereka sudah berusaha mati-matian.

“Kenapa rumah-rumahnya dikit banget? Gara-gara kekurangan bahan makanan ya jadi yang bangun juga gak ada?”

Tanganku masih dengan cekatan mengatur kendali setir.

“Nggak Kak,” Rika menggeleng. “Soalnya banyak kebakaran sama ledakan gara-gara sinar matahari kuat banget, tapi atmosfernya gak kuat lindungin bumi. Kan lapisan ozonnya udah rusak.”

Mendadak, beberapa kilometer dari mobil kami terdengar bunyi ledakan besar yang memekakkan telinga. Aku menoleh kaget hingga spontan menginjak rem. Karena pulau-pulau pun jumlahnya menurun, kalau kami masih di dalam mobil yang melaju tanpa kendali, bisa-bisa kami meluncur dan jatuh ke bekas-bekas danau serta laut yang mengering. Aku terkejut melihat mobil pemadam kebakaran yang jumlahnya lebih dari 10 di sudut yang baru meledak.

“Kok mobil pemadam kebakaran masih ada? Banyak banget lagi,” tanyaku mengernyit.

Rika menghela napas. “Ya gimana Kak, banyak kasus ledakan sama kebakaran gini kan sekarang udah biasa. Kalo gak pake mobil nanti gak bisa cepet, lagian bawa airnya juga susah jadinya kalo butuh banyak, cepet nguapnya. Jadi pemerintah ijinin khusus mobil pemadam kebakaran.”

“Pasti papa juga lagi di sana. Sekarang gaji pemadam kebakaran paling tinggi, lapangan kerjanya juga paling luas,” pungkas Rika, mengikuti arah pandangku.

Begitu anak itu membicarakan ayahnya, aku jadi teringat akan papa. Aku segera meraih ponsel di dalam sling bag seperti orang kesetanan. Sling bag itu kusimpan dalam laci dashboard. Namun, jaringan internet dan operatornya sama sekali tidak berfungsi. Meski bisa menyala, tetap saja benda itu tidak berguna.

“Ya iyalah Kak, kan sudah nggak ada lagi satelit. Sudah kebakar semua sama sinar matahari, gimana sih Kak Fel ini,” komentar Rika. Dia jadi terdengar jauh lebih pandai dariku yang berumur di atasnya.

“Kakak bisa punya semua barang yang udah dimusnahin gini, berarti Kak Fel bukan dari tahun sekarang ya?”

“Ya iyalah Rika, kalo aku dari tahun 2100 ya aku gak bakal lagi naik mobil sama masih punya HP gini,” balasku, mengomentari gadis kecil berkulit gelap itu.

Rika menatap lenganku dalam diam. “Kak Fel kulitnya mulai merah-merah, hebat cuma merah-merah gitu padahal sinar mataharinya keras banget. Mana Kakak gak pake baju khusus tahun ini yang anti sinar matahari.”

“Mungkin mukjizat!” sahutku asal, lalu kembali menyetir. “Memang kalo biasanya habis kena sinar matahari gak pake baju khusus bakalan gimana?”

“Ya jadi melepuh Kak, makanya banyak yang mati juga gara-gara pas itu belum dibuat baju khusus tangkal sinar matahari gini. Mana harus impor lagi, di Indonesia ilmuwannya juga berkurang banyak gara-gara bencana gini. Uang ya tambah susah,” jawab Rika. Gadis itu terguncang dan nyaris menabrak dashboard mobil. Aku menoleh dan berteriak bengis begitu melihatnya tidak mengenakan sabuk pengaman.

“Gimana sih kok naik mobil sabuknya gak dipake?! Pasang sekarang!”

Dengan wajah ketakutan dan tubuh gemetaran, gadis itu bertanya pelan. “Gi-gimana cara-nya…?”

Kemudian aku baru ingat. Di masa ini sama sekali tidak ada mobil. Mobil yang ada hanya mobil pemadam kebakaran. Tidak ada lagi polisi dan lampu lalu lintas, bahkan sepeda dan sepeda motor pun tidak terlihat di sekitar mereka. Anak ini pastinya sama sekali tak mengenali cara kerja mobil dan isinya. Mungkin sama sepertiku, yang waktu masih kecil hanya melihat dan membaca tentang dinosaurus dari buku.

“Sini, Tarik tali item itu,” suruhku. Ia mengoper sabuk pengaman yang tertarik keluar ke tanganku, sambil memandang takjub caraku memasangkan sabuk itu pada tubuhnya. Ia sudah berhenti gemetaran, sehingga aku bisa menyetir dengan tenang. Karena gadis kecil ini satu-satunya petunjukku untuk bisa kembali pulang, aku harus dapat informasi sebanyak mungkin darinya. Menurutku, ini sama sekali bukan mimpi.

Karena sebanyak apapun aku mencubit dan menyakiti diriku, rasanya selalu sakit. Dan saat kulihat jam di layar ponsel, rupanya kami sudah di dalam mobil selama sembilan jam, terhitung sejak aku meninggalkan tahun kehidupanku yang sebenarnya. Waktu tidurku di malam hari adalah delapan jam, dan waktu maksimal untukku tidur siang adalah tiga jam. Lebih dari itu, aku selalu sudah bangun secara otomatis.

“Kamu mau pulang? Nanti dicariin papamu ya?”

“Nggak Kak, selama papa belum kontak aku pake sensor ini, aku malah gak boleh pulang dulu soalnya gak ada yang jagain. Takutnya mendadak ada ledakan ato kebakaran di rumah.”

Aku menilik benda seukuran telapak tangan Rika. Bentuknya kotak dan berwarna putih, ada tombol merah kecil di bagian paling bawah di permukaannya, dan ada lampu bulat kecil di atas permukaannya. Benda yang aneh. Apa pada jaman ini semua orang berkomunikasi dengan benda itu ya? Karena satelit terbakar habis oleh sinar matahari yang keras, dan halangan lapisan ozon sudah tidak berguna banyak?

Sama sekali tak bisa kupungkiri bahwa aku sempat bingung dan kacau oleh penjelasan Rika, tapi sekarang tampaknya isi kepalaku mulai bisa beradaptasi—dengan mengingat-ingat pelajaran IPA yang kudapat sampai sebelum aku ke tahun 2100 ini. Kalau satelit sudah tidak ada lagi, aku juga tidak mungkin bisa menghubungi keluargaku. Ada satelit pun tidak menjamin aku bisa menghubungi mereka. Aku merasakan ban mobilku bergulat dengan jalanan yang semakin tidak halus.

Tanah-tanahnya penuh batu-batu. Dibanding memercayainya sebagai masa depan, aku pasti lebih memilih ini adalah masa lalu, kalau bocah bernama Rika ini tidak menceritakan apa-apa. Benar juga. Apa Rika bisa dipercaya? Dia kan hanya anak kecil, mungkin semua ini hanya khayalannya?

Tapi aku menyaksikan sendiri kondisi di sini. Dan masuk akal jika dihubungkan dengan penjelasannya. Lagipula, banyak yang mengatakan anak kecil selalu bicara jujur. Kecurigaan sejenakku pada Rika sama sekali tak mengarah ke mana pun, sehingga aku memutuskan untuk melupakannya. Meski kami sudah memutari pulau yang terasa sempit—untuk ukuran pulau—ini, aku masih tidak tahu cara untuk kembali pulang.

Apa aku dikutuk dan dihukum?

Karena aku suka menyisakan makanan dan menambah sampahnya?

Karena itu merusak lingkungan?

Lalu bagaimana caranya aku bisa bertahan hidup di sini?!

Apa aku akan mati begitu saja di tahun yang bukan kehidupanku, dan membiarkan diriku dinyatakan hilang oleh keluargaku, teman-teman, semua orang, bahkan oleh pemerintah?!

Sebelum pikiran kacau membunuh kami berdua, segera kuinjak pedal rem. Kepalaku langsung tertunduk. Rambut-rambut yang kutata model keriting gantung jatuh dan menyelimuti seluruh bagian wajahku. Hidung, pipi dan keningku bersentuhan dengan setir mobil yang baru saja lepas dari cengkeraman. Suasana berubah sunyi.

Hanya terdengar deru angin yang memelesat keluar dari AC.

“Kak Fel kenapa? Kakak laper?”

“Kamu…” gumamku pelan. “Kalo makan, terus gimana?”

Rika membisu sejenak. Kemudian, aku mendengar suaranya lagi, yang menyayat hati. “Makan makanan sintetis, harus impor dulu jadi harus hemat juga makannya.”

“Beda sama makanan instant?” tanyaku, tanpa mendongak ataupun menoleh.

Instant itu apa Kak?” Rika bertanya balik.

Sebelum menjawab, bibirku terkunci rapat untuk membiarkan otakku bekerja. Untuk anak kecil yang sepintar ini, tetap saja aku harus menjelaskan dengan penjelasan yang mudah untuk diterimanya. Dia kan sama sekali tidak pernah melihatnya, lihat pun mungkin hanya dari buku atau media lain. Tunggu, apa masih ada buku kalau pohon saja sudah punah begini? Lalu dia tahu mobil dari mana?

Televisi juga pasti sudah tidak ada karena satelitnya terbakar habis oleh matahari bukan? Kepalaku justru semakin sakit oleh segala pikiran yang muncul beruntun.

Instant itu!” seruku, sambil masih berpikir. “Makanan yang dibikin dari bahan makanan sungguhan, tapi gampang dimasaknya. Misalnya, mie dari tepung terigu sungguhan, terus biar bisa dimakan direbus dulu pake air panas!”

Suara Rika hilang sejenak.

“Beda Kak, kalo makanan sintetis itu dari bahan makanan yang bukan bahan makanan sungguhan. Jadi buatan orang dari awal sampe akhir pas kita makan.”

Aku lega mendengar dia mampu memahami penjelasanku.

“Masaknya juga pake api buatan, habisnya kalo langsung pake api bekas kebakaran ato ledakan ya gak sehat buat badan. Api buatannya masih bisa dibeli di Indonesia soalnya yang ahli kompor sama semacemnya ada yang masih hidup….”

Rika meneruskan ocehannya. Dia memang terlihat pintar, tapi aku sama sekali tidak tahu berapa umurnya. Informasi itu sepertinya juga tidak akan berguna untukku.

Tiba-tiba lampu sensor yang dibawa Rika berkedap-kedip. “Aku dicari papa!” sorak gadis itu. Wajar saja kalau dia tampak senang, dalam kondisi dunia yang mengenaskan seperti ini, lalu ayah yang merupakan satu-satunya keluarganya yang masih ada, dan ia yang sedang naik mobil yang sudah tidak ada di kehidupannya. Ditambah, dia di mobil bersamaku yang sama sekali asing dan berasal dari tahun kehidupan yang berbeda jauh. Sedikit atau banyak, pasti dia sedang takut dan bingung.

“Aku anter, kamu kasih arah rumahmu ya,” kataku menawarkan. Satu-satunya yang bisa kuberikan atas informasi darinya hanya dengan mengantarnya pulang seperti ini. Gadis kecil itu bersorak riang. Melihat mata bulatnya, aku jadi teringat Adel. Bagaimana caranya aku bisa pulang ya?

Apa aku tidak bisa bertemu papa, mama, dan Adel lagi? Apa aku bisa dapat bantuan dari papanya Rika dan orang-orang dari tahun 2100? Tapi bagaimana kalau mereka justru melempar perlawanan, memburuku atau semacamnya? Meski kepalaku diserbu beragam pertanyaan, aku kagum dengan diriku yang mampu mengemudikan mobil sampai ke rumah Rika. Kami sampai dengan selamat. Sebelum turun dari mobil, bocah itu menatapku lama.

“Kak Fel, kalo Kakak bisa balik ke tahunnya Kakak, janji ya… Janji buat nggak bakal ngelakuin hal-hal yang bakal bikin dunia jadi kayak neraka gini.”

Permintaan itu sama sekali tidak berlebihan. Aku memang tidak menyaksikan segala kesulitan dan penderitaan yang dialaminya selama ini untuk bertahan hidup. Namun, hanya dengan melihat apa yang bisa kulihat sekarang, meyakinkanku bahwa permintaannya ini yang paling tulus. Jantungku seperti dicabik-cabik. Bila aku berada di posisinya, mungkin aku bahkan sudah mati keesokannya karena gila.

Tidak bisa hidup tanpa internet, tidak bisa hidup tanpa AC, tidak bisa hidup bila tidak makan makanan lengkap empat sehat lima sempurna, tidak bisa hidup tanpa rumah dengan dinding-dinding dan atap yang kokoh, dan sebagainya. Kami manusia, memang sangat egois. Tidak. Manusialah makhluk paling egois di bumi. Saat Rika semakin mendekati pintu rumah gubuk itu, keluar seorang laki-laki paruh baya yang menghampirinya.

Tidak mungkin orang itu bukan ayahnya kan? Aku segera atret mundur. Namun tiba-tiba kaca jendela di sampingku berbunyi keras. Ayah Rika memukul-mukulnya, hingga aku khawatir kalau kaca itu bisa pecah kalau ia memukul sekeras itu. Buru-buru kuturunkan kaca jendelanya sebelum hancur oleh kepalan tangan bapak itu.

“Iya Pak?!” seruku, membuka kaca jendela dengan harapan ia bisa menolongku.

“KAMU BUKAN DARI TAHUN 2100 KAN?!”

Suaranya tinggi. Menyamai ketinggian suara orang-orang yang berdemo, yang biasa kulihat dalam tayangan berita.

“Pak!!” Rika berlari menghampiri kami, dan memekik. “Kak Fel baik Pak! Dia mau kok bikin dunia kita gak gini lagi!”

“DIEM!” Bapak itu menepis kasar lengan-lengan kecil anaknya. Anak kandungnya sendiri. Gadis kecil itu tersungkur di tengah-tengah panas yang menyengat. Tabung oksigennya pun terpental. Napasku segera terkuras kembali, sehingga cepat-cepat kututup kaca jendela mobil. Laki-laki paruh baya itu dengan cepat mengerahkan seluruh tenaganya. Siku, telapak tangan, punggung tangan, semua digunakannya untuk menghancurkan kaca jendelaku. Bahkan tabung oksigennya yang berharga, juga dibenturkan pada kaca jendelaku.

Aku segera menginjak pedal gas karena panik. Dalam kepanikan itu, entah bagaimana aku bisa berpikir logis. Bahwa wajar saja bila bapak itu hendak melakukan sesuatu padaku yang bukan berasal dari tahun 2100 ini. Bahwa mungkin saja dia hendak merebut mobilku untuk mendapatkan udara dari AC-nya. Bahwa mungkin aku akan ditangkap dan dituntut, atau mendapat perlakuan buruk lainnya.

Karena dibungkus rasa panik yang luar biasa, tanpa sengaja aku menginjak pedal gas tanpa henti. Saking kencangnya, aku merasa seolah sedang terbang. Tidak. Aku memang terbang bersama mobil ini. Dan kami sedang melayang-layang, bersiap jatuh menghantam cekungan tanah dalam dan luas, yang sepertinya bekas lautan.

Saat itu aku sama sekali pasrah. Mungkin, Tuhan hendak menghukumku yang tanpa sadar sudah sering merusak lingkungan dan iklim. Namun, saat masih melayang aku sempat berdoa. Bila aku selamat, dengan senang hati aku akan menepati janji pada Rika. Bahkan bila konsekuensinya aku harus berhenti bekerja sebagai model, itu sama sekali tidak buruk. Tidak ada anak SMA yang siap mati sebelum bisa bertemu keluarganya lagi bukan?

Dan… Bukankah terlalu tragis bila kematianku harus terjadi pada tahun yang terlalu jauh jaraknya dari tahun kehidupanku yang sebenarnya?

Tuhan…

Tolong aku.

Dari bawah mobil, terdengar bunyi ledakan besar. Rupanya terjadi kebakaran lagi. Dan aku yakin, api yang membara semakin mendekat, dan hendak melahapku yang masih di dalam mobil. Api itu seperti mulut singa, yang bersiap menyantap daging yang baru saja jatuh dalam kandangnya. Saat itu, aku bisa mengingat dengan sangat jelas. Kulit-kulitku mengelupas dan melebur dalam api, tulang-tulang dan dagingku pun sudah tak bisa kurasakan lagi.

Suaraku sama sekali tak keluar. Bahkan mungkin telingaku sudah hangus dan tak mampu mendengar apa-apa lagi. Semua itu terjadi begitu cepat, namun aku masih mengingatnya tanpa ada yang terlewat. Kemudian, semua yang berwarna merah, oranye dan kuning berubah menjadi hitam. Semuanya gelap.

Bunyi klakson yang garang, mendadak membuka kedua mataku. Aku terkejut masih bisa membuka mata. Kupikir kedua mata dan seluruh tubuhku sudah terbakar habis. Napasku megap-megap, hingga aku terbatuk-batuk dan muntah. Keringat membasahi sekujur tubuhku, seolah-olah aku habis kehujanan.

Bunyi klakson di belakangku semakin kencang. Orang yang membunyikannya pasti tidak peduli, meski aku bisa mati oleh bunyi itu. Yang paling penting baginya hanyalah mobil ini menyingkir dari hadapan mobilnya. Aku menengok ke depan, ke belakang, ke kanan dan ke kiri.

Sekitarku sudah kembali seperti semula, dan sesuai yang seharusnya. Pertokoan, rumah-rumah dan gedung pencakar langit yang berdiri gagah, trotoar, jalanan beraspal, sepeda, sepeda motor dan mobil serta truk-truk yang lalu-lalang. Semuanya sudah normal kembali. Sebelum gendang telingaku benar-benar terbakar oleh bunyi klakson dari belakang, aku segera memasukkan kopling dan menginjak pedal gas. Saat menatap dari kaca spion, hanya satu hal yang sangat mencolok perbedaannya.

Pohon bunga tanjung yang memayungi mobilku saat berhenti tadi. Sebelum aku ke tahun 2100, warna bunganya putih semua. Namun kini, bunga-bunga di pohon itu berubah menjadi berwarna merah. Seolah-olah, kelopak-kelopaknya ingin mengingatkanku, akan bara api yang baru saja melelehkanku tanpa sisa. Tampak tidak masuk akal, namun aku sama sekali tak mampu menyangkalnya. Kulajukan mobil setenang mungkin agar tidak melakukan kesalahan.

“MANA BISA FELICIA!!”

Suara manajerku sama sekali tidak ada bedanya dengan ketinggian suara bapak Rika di tahun 2100. Ya, aku baru saja menyatakan tidak akan menyisakan makanan saat makan di luar rumah lagi.

“Gimana image-mu di depan fans-fans ntar!! Gak! Pokoknya kalo kamu masih lanjut jadi model, KAMU HARUS NURUT!!”

Mereka sama-sama laki-laki menyebalkan.

“Oke hari ini juga aku berhenti,” ucapku tegas, mengumumkan keputusan yang sudah bulat.

“APA?!” pekik manajer semakin liar. “Kamu sudah gila ya?! Berhenti kamu bilang?! Kamu harus inget kalo kamu butuh lima tahun buat sampe sini!! Mau kamu RUSAK semua gitu aja?!”

Kedua lengannya direntangkan, membentuk pose sambutan, motivator, dan juga pose protes yang paling maksimal. Kata ‘rusak’ yang ditekankannya sampai seperti akan membelah lantai saja, dan itu benar-benar menggangguku. Namun, itu semua bukan urusanku lagi. Sebelum dia yang menyebutku gila justru menjadi lebih gila dari ini, kuseret tubuh pergi meninggalkan gedung. Inilah gedung agensi model yang sudah membesarkan namaku, dan menjatuhkanku dalam lubang kegelapan. Berkat pekerjaan ini, kedua mataku terbuka. Dapat kulihat dengan jelas dua tipe manusia menurut pengelompokanku.

Aku memang dapat uang dari sini, tapi aku juga kehilangan banyak hal. Selamat tinggal, Felicia Devi Wijaya, sang model. Entah itu dewa atau Tuhan, tapi aku telah diubahnya, menjadi Felicia Devi Wijaya sang aktivis lingkungan.

2 thoughts on “Cerpen #181 Di Bawah Pohon Tanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *